Tag Archives: alih

Pengertian Sistem Cessie: Skema, Manfaat, dan Kekurangannya


Jakarta

Dalam dunia transaksi jual beli rumah lewat bank, ada skema pembelian yang diberi nama sistem cessie. Bank memiliki skema pengalihan hak pembayaran apabila debitur bermasalah dalam pelunasan pencicilan misalnya dalam pembelian rumah.

Mengutip dari Kementerian Keuangan pada Jumat (15/3/2024), sistem cessie merupakan perjanjian pengalihan piutang yang dilakukan oleh pihak perbankan untuk mengalihkan hak tagih kepada pihak lain dan atau pihak ketiga untuk menjamin fasilitas kredit atau dana yang diberikan oleh bank.

Sistem cessie ini salah satu cara bank agar uang kredit yang diberikan kepada debitur dapat kembali jika di tengah jalan pelunasan tidak bisa dipenuhi. Sistem cessie membutuhkan pihak ketiga yakni calon pembeli baru yang bisa membayar lunas rumah dari pemilik lamanya.


Dalam perjanjian cessie, yang dialihkan adalah piutang atas nama atau kebendaan tidak bertambah lainnya sebagaimana diatur dalam Pasal 613 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan, penyerahan atas piutang-piutang atas nama dan kebendaan tidak bertambah lainnya, dilakukan dengan jalan membuat sebuah akta otentik atau di bawah tangan dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain.

Piutang atas nama atau tagihan atas nama adalah tagihan yang krediturnya tertentu dan diketahui dengan baik oleh debitur. Hal ini berbeda dengan tagihan atas tunjuk (aan toonder) yang merupakan tagihan-tagihan yang krediturnya (sengaja dibuat, demi untuk memudahkan pengalihannya) tidak tertentu.

Skema Sistem Cessie

Dalam sistem cessie ini yang akan terlibat di dalamnya adalah pihak bank sebagai kreditur, pembeli rumah atau benda melalui sistem cicilan kepada bank atau pihak yang berutang, dan pihak ketiga yang mau membeli rumah atau benda dari pembeli pertama yang tidak sanggup melunasi cicilan kepada bank.

Nantinya pembeli rumah yang memiliki masalah dalam pelunasan cicilan kepada bank akan dipertemukan dengan pihak ketiga yang tertarik untuk membeli rumah yang cicilannya macet. Pihak bank juga perlu memberitahukan perihal peralihan ini kepada pembeli rumah yang bermasalah.

Pihak ketiga nantinya akan mendapatkan surat-surat piutang atau benda tak berwujud lainnya yang melekat seperti hak tanggungan, hipotik, dan lainnya disertai dengan endosmen.

Berdasarkan Pasal 613 KUH Perdata pihak bank akan membuat akta otentik atau akta bawah tangan ketika mengalihkan hak tagih cicilan rumah kepada pihak ketiga. Pembuatan akta otentik ini perlu diketahui oleh pembeli lama yang tidak mampu melakukan pelunasan. Akta otentik atau akta bawah tangan ini dibuat secara tertulis, diakui, disetujui oleh pembeli lama dan hanya untuk tagihan yang sudah ada.

Dengan begitu pembayaran oleh pihak ketiga akan dianggap sah. Sementara untuk pembeli lama yang memiliki utang kepada bank atas cicilan rumahnya tetap harus membayar utang tersebut sesuai kesepakatan di awal.

Manfaat Sistem Cessie

Sistem Cessie ini tentu memudahkan pihak bank agar layanan cicilan yang sudah diberikan kepada debitur dapat kembali beserta dengan bunganya.

Untuk pihak debitur yang cicilannya terkendala, mereka memiliki harapan untuk menjual rumah tersebut kepada pihak ketiga yang juga ikut melunasi sisa cicilan yang macet. Meskipun debitur tetap melunasi utangnya.

Bagi pihak ketiga yang mengambil alih sisa pelunasan cicilan rumah pembeli lama mereka akan ditawarkan harga rumah atau benda yang lebih murah.

Kekurangan Sistem Cessie

Sistem Cessie ini memiliki sejumlah risiko karena pihak ketiga ketika membayar rumah yang mengalami kredit macet tidak langsung mendapatkan hak milik rumah tersebut. Pihak ketiga perlu melakukan balik nama atas sertifikat rumah terlebih dahulu.

Proses balik nama ini juga perlu negosiasi antara pembeli lama dengan pihak ketiga terkait harga beli rumah yang sama-sama mereka lunasi.

Jika pembeli lama tidak mau menyerahkan rumah tersebut kepada pihak ketiga ketika dua-duanya berhasil melunasi cicilan rumah tersebut, pihak ketiga berhak mendapatkan pengembalian uang yang dia keluarkan saat mengikuti sistem Cessie ini.

Dengan begitu, pihak ketiga tidak akan mendapatkan rumah tersebut dan perlu menunggu uangnya kembali. Sehingga membutuhkan waktu lagi sampai modalnya kembali.

(aqi/zul)



Sumber : www.detik.com

Gedung Arsip Nasional Ternyata Dulu Rumah Gubernur Jenderal Hindia Belanda



Jakarta

Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang berada di Jalan Gajah Mada No. 111, Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat, sangat mencolok di antara bangunan lain di sekitarnya. Ternyata, dulu rumah tinggal gubernur jenderal Hindia Belanda.

Merujuk catatan sejarah, bangunan tersebut milik seorang Belanda yang bernama Gubernur Jenderal Reiner de Klerk. Sebelum diangkat menjadi gubernur jenderal, ia adalah anggota Raad van Indie atau organisasi pusat Pemerintah Hindia-Belanda. Dan, saat masih menjadi anggota Raad van Indie, di tahun 1755, itulah ia membeli tanah di Jalan Gajah Mada itu.

Kemudian, pada 1760 bangunan megah dengan arsitektur khas tersebut berdiri.


Kini, setelah 264 tahun, bangunan utama rumah pribadi itu masih kokoh. Bangunan itu bisa dilihat dari pinggir jalan ketika melintasi jalanan Gajah Mada.

Selain bangunan utama, di kedua sisinya juga terdapat paviliun-paviliun yang digunakan untuk menyambut tamu sebelum masuk ke dalam rumah.

detikTravel menyambangi bekas kediaman sang Belanda tersebut dan melihat keindahan bangunannya secara langsung, Kamis (18/7/2024). Pada tahun 1777 diangkatlah Reiner menjadi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda dan rumah pribadinya pun berubah menjadi istana negara.

Menurut salah satu pemandu di Gedung Arsip Nasional mengatakan bahwa Reiner merupakan seorang pejabat yang agamis. Itu bisa dilihat dari ukiran-ukiran yang berada di atas pintu-pintu rumah itu (loster angin) seperti perempuan yang sedang memegang salib, perempuan memegang jangkar, perempuan di atas kerbau, vas bunga, dan lelaki di atas singa

“Ornamen-ornamen di rumah ini tuh memiliki simbol, punya filosofi bukan hanya sekadar pemanis ruangan seperti ini perempuan megang salib itu filosofinya adalah si Tuang Reiner itu orang yang taat terhadap agama. Terus pintu utama itu perempuan memegang jangkar itu adalah ucapan selamat datang,” kata pemandu yang enggan disebutkan namanya tersebut.

“Terus ada vas bunga itu filosofinya tuh si Tuan Reiner itu berharap rumah ini berkembang, harum, dan ini wanita di atas kerbau jadi harapannya si Tuan Reiner VOC atau Belanda itu tidak kekurangan pangan. Sebelah sini ada lelaki di atas singa, singa kan salah satu simbol kekuatan jadi Belanda atau VOC itu bisa menguasai dunia,” ujar dia sambil berjalan.

Dari ceritanya gedung bersejarah ini masih terjaga sekitar 90% keasliannya mulai dari pintu, lantai, hingga langit-langit atapnya masih terawat hingga sekarang. Bekas kediaman Reiner ini memiliki dua tingkat.

Gedung Arsip Nasional di JakartaGedung Arsip Nasional di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Selain agamis, dari bangunan rumah itu, Reiner juga merupakan sosok yang senang berkumpul bersama teman dan kolega-kolega. Tinggalan itu berupa lantai dua yang berfungsi untuk menjamu kedatangan tamu-tamu Reiner.

Di bagian atas setelah menaiki tangga yang ikonik akan terlihat ruang luas yang di tengahnya terdapat meja makan kayu yang panjang. Di tempat inilah Reiner akan menikmati hari bersama rekan dan koleganya, ada cerita menarik dari ruang perjamuan ini.

Pemandu itu bercerita ketika Reiner dan rekan serta koleganya sudah masuk ke dalam ruang tersebut maka pintu utama yang berada di tengah akan di tutup.

Untuk itu, para pelayan tak boleh melewati pintu utama selagi Reiner dan yang lainnya sudah di dalam. Akses masuk para pelayan berada di pintu samping dekat tangga untuk masuk ke dalam ruangan.

“(Pintu) ini ketika acara sudah dimulai dia lewat situ jadi ketika si tuan sudah ready dan perjamuan makan sudah di mulai, (pintu) ini ditutup, pintu itu ditutup, nah yang ini dibuka. Jadi ini dibuka khusus pelayan yang menyajikan makanan,” kata pemandu itu sambil menutup pintu.

Selain terdapat berbagai furniture yang sudah ratusan tahun, di area ini juga terdapat beberapa peta dan lukisan-lukisan jadul. Reiner juga merupakan ketua organisasi sejarah Hindia-Belanda yang oleh karenanya terdapat banyak koleksi peta-peta zaman dahulu.

Beranjak dari bangunan utama, di belakang yang terdapat halaman luas itu berdiri deretan ruangan di setiap sisi yang dulu dipakai untuk tempat tinggal para pelayan di rumah Reiner. Adapun replika lonceng yang digunakan untuk menentukan jam kerja para pelayan.

Reiner meninggal pada tahun 1780 dan sepeninggalnya bangunan ini diwariskan kepada sang cucu Franz Reiner. Mulai dari peristiwa inilah bangunan tersebut banyak berganti kepemilikan dan berganti fungsi.

Setelah Tak Didiami Reiner: Rumah Yatim Piatu, Gedung Arsip

Satu tahun setelah Reiner meninggal, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda beralih kepemimpinan di bawah Johannes Siberg. Dia membeli rumah Reiner itu pada 1786.

Kemudian, ia meninggal pada 1817. Di tahun yang sama rumah itu pun kembali beralih kepemilikan ke tangan Ketua Dewan Keuangan Hindia-Belanda, Lambertus Zeegers.

Hanya satu tahun memegang kuasa penuh rumah ini, Leendert Miero, berhasil membeli rumah dengan arsitektur Closed Dutch Style itu. Puluhan tahun berlalu, tepatnya 1844 bangunan itu kemudian dibeli oleh College van Diakenen dari Gereja Protestan.

Oleh diakenen, bangunan itu digunakan sebagai rumah yatim piatu.

Gedung Arsip Nasional di JakartaGedung Arsip Nasional di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Di tahun 1900 Pemerintah Hindia-Belanda mengambil alih bagunan tersebut karena dianggap sudah tak layak digunakan. Setelah itu dialihfungsikan kembali menjadi kantor Dinas Pertambangan kala itu.

Kemudian, mulai 1925 Pemerintah Hindia-Belanda kantor Dinas Pertambangannya menjadikan rumah itu sebagai kantor arsip milik pemerintah.

Dari sinilah silsilah kantor arsip miliki Hindia-Belanda menjadi kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Kini, gedung itu tidak lagi berfungsi sebagai gedung arsip, karena semua arsipnya dipindahkan ke Gedung ANRI yang berada di Jalan Ampera.

Selain daya tarik tentang bangunan bersejarah itu, di kawasan tersebut juga terdapat Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan. Pusat studi itu ,menyimpan arsip tentang perjalanan Presiden Soekarno.

Jam Operasional dan Tiket masuk

Masyarakat yang ingin berkunjung dan melihat bangunan bekas rumah Reiner de Klerk bisa berkunjung setiap harinya mulai dari jam 09.00 hingga 15.00 WIB, tanpa dipungut biaya.

Sama halnya dengan Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan pengujung tidak perlu mengeluarkan biaya dan bisa datang di jam yang serupa, namun hanya bisa dikunjungi dari hari Senin sampai Jumat.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Gedung Candra Naya Bertahan Dipeluk Gedung-gedung Modern nan Menjulang



Jakarta

Jakarta Barat memiliki kawasan Pecinan terluas di Indonesia. Salah satunya ditandai dengan bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa, salah satunya Gedung Candra Naya.

Gedung Candra Naya berada di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat. Gedung itu dulu merupakan rumah tinggal milik Mayor Khouw Kim An dan didirikan pada abad ke-19.

Gedung Candra Naya tak terlihat dari jalan raya. Gedung itu diapit oleh bangunan-bangunan tinggi seperti hotel, perkantoran, dan apartemen.


Gedung Candra Naya memiliki tiga bangunan asli. Satu bangunan utama dekat lobi hotel sedangkan dua lainnya berada di kedua sisi bangunan utama tersebut. Sebetulnya dulu ada empat bangunan namun kini sudah berubah menjadi apartemen.

Petugas keamanan yang berjaga di Gedung Candra Naya, Lutfi mengatakan bangunan tersebut merupakan ruangan selir dan bangunan itu memiliki dua tingkat.

Jakarta Barat memang terkenal dengan Pecinan Glodoknya, di area tersebut berjejal berbagai makanan hingga bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa. Namun beranjak sedikit dari kawasan tersebut ada bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang telah melegenda. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya.Gedung Candra Naya di Glodok, bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang melegenda. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat detikTravel berkunjung Gedung Candra Naya, Rabu (17/7/2024) Lutfi menceritakan beberapa hal tentang gedung yang telah menjadi cagar budaya itu.

“Ini bangunan ada tiga bangunan, sisi selatan sama sisi utara, nah ini bangunan induknya. Ini rumah Khouw Kim An, dulu dibelakang ada (bangunan) dua lantai nah itu tempatnya para selir, sekarang udah dibongkar dimakan sama apartemen,” kata Lutfi.

Dari catatan sejarah yang berada di gedung tersebut, belum ada tahun pasti kapan bangunan ini resmi didirikan, yang pasti bangunan ini sudah ada sebelum Khouw Kim An lahir. Jadi entah sang kakek Khouw Kim An (Khouw Tjeng Tjoan) atau sang ayah (Khouw Tian Sek), anggapannya bangunan ini dibangun tahun 1807 oleh Khow Tjeng Tjoan untuk merayakan kelahiran anaknya yakni ayah dari Khouw Kim An di tahun 1808.

“Yang dari sejarah itu kemungkinan sekitar 1800-an ini bangunan dibangun, sekarang yang orang tahu tuh rumahnya Mayor Khouw Kim An. Nah itu Khouw Kim An sendiri adalah penerus, dia sebagai cucu bukannya sebagai yang punya (pendiri) bangunan ini jadi ini peninggalan rumah kakeknya,” ujar Lutfi.

Jakarta Barat memang terkenal dengan Pecinan Glodoknya, di area tersebut berjejal berbagai makanan hingga bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa. Namun beranjak sedikit dari kawasan tersebut ada bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang telah melegenda. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya.Gedung Candra Naya, bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang melegenda. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Khouw Kim An sendiri lahir pada 5 Juni 1879, berjalannya waktu rumah peninggalan keluarganya itu ditempati olehnya. Melanjut dari catatan di Gedung Candra Naya, Khouw Kim An menempati bangunan ini pada tahun 1934.

Khouw Kim An diberikan jabatan oleh Pemerintah Belanda kala itu untuk mewakili etnis Tionghoa di Batavia, tahun 1905 karena karirnya dianggap mumpuni alhasil pangkat letnan disematkan kepadanya. Dan kurang dari sepuluh tahun Khouw Kim An sudah dua kali naik jabatan, di tahun 1908 menjadi kapten dan 1910 menjadi mayor.

Ketika Bangsa Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, dalam catatan Khouw Kim An ditahan oleh Jepang dan meninggal dalam tahanan pada 13 Februari 1945. Sepeninggal Khouw Kim An bangunan ini pun beberapa kali beralih fungsi.

Alih Fungsi dari Pusat Perkumpulan Warga Tionghoa hingga Pusat Pendidikan Candra Naya

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir di tahun 1946, bangunan ini dipakai menjadi tempat bagi Asosiasi Xin Ming (perkumpulan sosial) yang memiliki tujuan sebagai pusat informasi bagi etnis Tionghoa kala itu. Berbagai kegiatan banyak asosiasi ini lakukan di antaranya membuat klinik diagnostik yang menjadi awalan dari Rumah Sakit Sumber Waras.

Selain itu juga beberapa kegiatan olahraga seperti biliar, bulu tangkis hingga kungfu. Dan gedung tersebut juga sempat jadi pusat pendidikan SD, SMP, SMA yang bernama Candra Naya, di tahun 1965 atas permintaan Organisasi Persatuan Etnis untuk mengganti nama gedung menjadi Gedung Candra Naya.

Kini di area belakang bangunan utama Gedung Candra Naya terdapat sebuah kolam ikan yang indah. Menurut Lutfi kolam tersebut bukan bawaan dari bangunan lama.

Ia mengetahui setelah bertanya kepada salah satu pengunjung yang ternyata sempat mengenyam pendidikan di SD Candra Naya.

“Kolam ikan itu baru, dulu lapangan tempat latihan kungfu. Soalnya saya dapat informasi ini semuanya itu memang dari alumni SD dulu yang di sini, saya tanya umurnya udah berapa? Udah 60 tahunan,” kata dia.

Gedung Candra Naya saat ini seperti tak lekang dimakan zaman, walaupun sudah ratusan tahun berdiri daya tarik bangunannya masih terus terjaga. Arsitektur China klasik terlihat dari berbagai ukiran yang ada di setiap bangunan tersebut, Lutfi juga menyebut juga kerap datang arsitek yang ingin melihat bangunan Candra Naya.

“Ada beberapa arsitek yang datang ke sini, liat-liat bangunan ini katanya buat referensi dia gitu,” ujar Lutfi.

Bangunan yang statusnya sudah menjadi cagar budaya ini tetap bertahan di tengah gempuran gedung tinggi di sekelilingnya. Jika ingin langsung melihat keindahan bangunan ratusan tahun ini, kamu bisa datang setiap harinya mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

12 Tempat Wisata Dulu Ramai dan Terkenal, Kini Tutup Jadi Kenangan


Jakarta

Seiring waktu, tempat wisata ada yang tutup dan berubah menjadi fasilitas lain sesuai kebutuhan masyarakat. Sayang beberapa di antaranya jadi terbengkalai dan menjadi tempat syuting konten horor.

12 Tempat Wisata yang Dulu Ramai

Berikut beberapa lokasi wisata yang sempat fenomenal dan sejarah singkatnya serta nasibnya kini, dikutip dari arsip berita detikcom dan situs traveling:

1. Kampung Gajah Wonderland


Kampung GajahKampung Gajah (Whisnu Pradana/detikJabar)
  • Buka/tutup: 2009-2018.
  • Alamat: Jalan Sersan Bajuri, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat.

Pada masanya, Kampung Gajah adalah destinasi wisata keluarga yang berdiri di lahan seluas 45-64 hektar. Kampung Gajah menyediakan berbagai atraksi dari hewan besar ini dan wahana permainan.

Saat ini, jejak-jejek kejayaan Kampung Gajah masih bisa ditemui di lokasi tempatnya berdiri. Namun bangunan dan fasilitas yang tersedia tidak terawat menimbulkan kesan angker. Lahan Kampung Gajah dibiarkan begitu saja dipenuhi tanaman liar dan semak belukar.

2. Teater Mobil Ancol

  • Buka/tutup: 1970an-1990an.
  • Alamat: Kompleks Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

Indonesia sempat punya drive-in cinema yang memungkinkan pengunjung nonton bioskop dari mobilnya masing-masing. Drive-in cinema ini bahkan menjadi yang pertama di Asia Tenggara, seperti tertulis dalam laporan detik X.

Sayang, stok film yang kebanyakan untuk dewasa dan tindakan tak senonoh pengunjung akhirnya berujung pada penutupan destinasi wisata legenda ini. Sekarang, arena teater mobil menjadi stasiun gandola bagi pengunjung kompleks hiburan Ancol.

3. Snowbay Waterpark TMII

Snowbay Waterpark TMIISnowbay Waterpark TMII (Putu Intan/detikcom)
  • Buka/tutup: 2009-2022.
  • Alamat: Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Kelurahan Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Sesuai namanya, Snowbay Waterpark menyediakan wahana hiburan berkonsep salju seperti di negara subtropis. Konsep ini dipadukan dengan wahana permaianan air dan kolam renang yang bisa dinikmati bersama keluarga.

Ketika Pandemi COVID-19 melanda tahun 2020-2022, Snowbay Waterpark terabaikan selama dua tahun hingga berhenti menyediakan alternatif hiburan. Saat ini arena Snowbay berubah menjadi arena parkir terpusat dan fasilitas lain bagi pengunjung TMII.

4. Taman Remaja Surabaya (TRS)

Taman Remaja Surabaya dan THRTaman Remaja Surabaya dan THR (Esti Widiyana)
  • Buka/tutup: 1971-2018.
  • Alamat: Jl. Kusuma Bangsa Nomor 110, RT 005/RW 04 Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur.

Dalam sejarahnya seperti ditulis detikJatim, TRS hadir sebagai sarana pemulihan warga yang trauma akibat G30S/PKI. Meski namanya menggunakan kaya remaja, semua penduduk bisa bersenang-senang di tempat hiburan ini.

Seiring waktu, minat mengunjungi arena ini menurun dengan banyaknya alternatif wisata di Surabaya dan sekitarnya. Saat ini TRS menjadi arena konser dengan kapasitas 35-40 ribu penonton.

5. Taman Festival Bali

Taman Festival BaliTaman Festival Bali (dok denpasarkota.go.id)
  • Buka/tutup: 1997-2000an.
  • Alamat: Jl. Padang Galak Nomor 3, Kesiman, Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali.

Ketika masih beroperasi, destinasi wisata seluas 8,98 hektar ini mengundang rasa kagum pengunjung. Taman Festival Bali berdiri di lokasi yang sangat strategis dengan wahana megah dan mewah, misal bioskop 3D.

Sayang setelah beroperasi dua tahun, Taman Festival Bali mengalami kebakaran hingga jatuh pailit. Saat ini lokasi Taman Festival Bali dibiarkan hingga menjadi kompleks angker. Sekarang, lokasinya menjadi tempat untuk konten horor dan misteri.

6. Taman Ria Senayan

  • Buka/tutup: 1970an-2010.
  • Alamat: Jalan Gerbang Pemuda Nomor 3, RT 01/RW 03, Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Taman Ria Senayan telah melewati empat dekade sebelum dibongkar tahun 2010. Komplek hiburan ini dibongkar tahun 1997 untuk modernisasi wahana permainan. Pada tahun 1999, sempat ada kejadian roller coaster berhenti mendadak akibat aliran listrik terputus. Para pengunjung tertahan di wahana itu selama dua jam sebelum diselamatkan petugas.

Seiring waktu, pengunjung Taman Ria Senayan menurun dengan banyaknya pilihan wisata. Saat ini arena Taman Ria Senayan menjadi Senayan Park (SPARK) yang resmi dibuka pada 2021. Senayan Park adalah pusat perbelanjaan sekaligus hiburan dengan konsep lifestyle.

7. Depok Fantasi Waterpark (Aladin Waterpark)

Depok Fantasi WaterparkDepok Fantasi Waterpark (Depok Fantasi Waterpark)
  • Buka/tutup: 2008-2020.
  • Alamat: Jl. Boulevard Grand Depok City, Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Wahana ini dianggap sebagai pionir tempat hiburan bagi warga Depok dan sekitarnya. Hal ini tak berlebihan, karena wahana di arena permainan air ini tak pernah sepi pengunjung.

Namun masa kejayaan Depok Fantasi Waterpark pudar saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020-2022. Arena permainan ini ditutup dan perlahan berubah menjadi kompleks perumahan. Semua jejak bangunan dan fasilitas arena permainan berubah menjadi cluster Grand Depok City (GDC) serta fasilitas pendukungnya.

8. Taman Wonderia Semarang

Taman Wonderia SemarangTaman Wonderia Semarang (Google Street View)
  • Buka/tutup: 2004-2007.
  • Alamat: Tegalsari, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Destinasi wisata di tengah kota Semarang ini sempat jadi favorit warga yang tinggal di sekitarnya. Berdiri di lahan seluas 9 hektar milik Pemerintah Kota Semarang, pengunjung bisa mengunjungi aneka wahana atraksi dan permainan.

Sayang di tahun 2007, Wonderia ditutup setelah adanya kecelakaan di wahana plane tower. Penutupan dilakukan dalam rangka penyelidikan bencana yang sempat terjadi juga di 2006. Di tahun 2024, lahan ini ditawarkan Pemkot Semarang pada investor dan sempat juga direncanakan menjadi hutan kota.

9. Kafe Tenda Semanggi (KTS)

  • Buka/tutup: 1990an-2000an.
  • Alamat: Kompleks SCBD, Jakarta.

Kafe Tenda Semanggi adalah tempat wisata bergengsi pada masanya dengan aneka kuliner dan hiburan. KTS juga ramai didatangi para selebriti yang juga pemilik kafe tenda di lokasi tersebut.

Setelah 10 tahun, kafe tenda mulai ditinggal pengunjung seiring makin banyaknya pilihan hiburan dan kuliner. KTS akhirnya dibongkar menjadi bar dan resto yang menjadi alternatif hiburan bagi pengunjung.

10. THR Sriwedari Solo

THR SriwedariTHR Sriwedari (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
  • Buka/tutup: 1985-2017.
  • Alamat: Jl. Slamet Riyadi, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Komplek Taman Hiburan Rakyat (THR) adalah destinasi wisata legendaris di Solo selama tiga dekade. THR Sriwedari semula direncanakan pindah tempat, namun urung dilakukan karena ketidaksepakatan harga sewa.

Pemkot Surakarta rencananya hendak menjadikan Lahan THR Sriwedari masjid yang menjadi ikon kota. Namun pembangunan masjid belum selesai karena sengketa kepemilikan lahan dengan ahli waris.

11. THR Lokasari

  • Buka/tutup: 1985-2017.
  • Alamat: Lokasari Square, Jakarta Barat.

Selain wisata hiburan, lokasi yang dulu bernama Prinsen Park ini juga pas disebut destinasi sejarah. Pemprov Jakarta mengambil alih THR Lokasari pada tahun 1985an dan menyediakan aneka pertunjukan seni serta hiburan bagi warga.

Di tahun 1990an THR Lokasari mulai menyediakan hiburan malam dan restoran. Tantangan ekonomi menjadikan THR Lokasari terbengkalai hingga akhirnya tutup pada 2017. Saat ini, jejak taman budaya THR Lokasari resmi menjadi Lokasari Square yang merupakan pusat perbelanjaan.

12. Hotel Gantung Purwakarta

Hotel Gantung Purwakarta Skylodge Padjadjaran AnyarHotel Gantung Purwakarta Skylodge Padjadjaran Anyar (Instagram @skylodge.indonesia)
  • Buka/tutup: 2017 dan dikabarkan tutup pada 2024.
  • Alamat: Tebing Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Barat.

Hotel Gantung Purwakarta atau Skylodge Padjadjaran Anyar pernah digadang-gadang menjadi hotel tertinggi di dunia. Pengunjung bisa menikmati fasilitas skylodge setelah naik tebing dengan berbagai sarana yang disiapkan hotel.

Kamar yang tergantung di sisi tebing dibangung dengan dinding tembus pandang, sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan sekitar hotel dari ketinggian. Saat ini, pengunjung masih bisa naik Gunung Parang meski tak lagi dapat menikmati sensasi hotel gantung.

Memori dan fenomena di tujuan wisata yang dulu sempat terkenal ini tentu layak untuk terus dikenang. Tentu akan lebih baik jika lahan dan jejaknya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak.

(row/wsw)



Sumber : travel.detik.com