Tag Archives: angker

Jangan Biarkan Rumah Kosong Terlalu Lama, Dampaknya Lebih Ngeri dari Angker!



Jakarta

Sebisa mungkin jangan pernah membiarkan rumah kosong tak berpenghuni terlalu lama. Bukan karena takut rumah itu jadi angker, tapi ada dampak yang jauh menyeramkan dari pada hal mistis, yakni rumah kamu bisa ambruk.

Memang salah satu dampak yang akan timbul bila rumah tak berpenghuni adalah kondisinya akan cepat rusak. Rumah yang lama tak ditinggali akan cepat rusak, cepat tumbuh ilalang, lembap dan tembok akanretak hingga lama kelamaan akan ambruk.

Lantas, kenapa rumah kosong atau tak berpenghuni lebih berisiko rusak lebih cepat. Jawabannya yakni karena faktor sirkulasi udara.


Dikutip dari detikFinance, sirkulasi udara yang tak bagus di dalam rumah mempercepat kerusakan. Saat rumah kosong, kondisi udara lembap.

Kemudian rumah yang kosong atau tidak ditempati, pasti tidak pernah dibersihkan. Hal ini juga memicu kerusakan lebih cepat dibandingkan rumah yang ditempati dan dirawat oleh penghuninya.

Kondisi akan berbeda jika rumah ditempati atau dihuni. Karena, rumah akan terawat. Kondisi sirkulasi udara pun bagus. Rumah juga bersih. Sehingga, tidak mempercepat kerusakan dinding rumah.

Nah, detikters kalau sudah memiliki rumah dan belum ditempati ada baiknya dijenguk dan dibersihkan minimal satu minggu sekali. Misalnya disapu atau dipel sampai mengelap kaca-kaca dan membuka pintu jendela agar aliran udara lebih baik.

Selain sirkulasi udara dan kebersihan, adanya makhluk hidup lain seperti serangga sejatinya dapat mempercepat kerusakan. Rumah kosong biasanya jadi tempat sarang laba-laba. Atau bisa menjadi sarang hewan pengerat, seperti tikus.

Kemudian, perabotan yang terbuat dari kayu juga bisa alami pelapukan karena udara yang tak bagus. Selain itu, perabotan yang terbuat dari besi juga akan mudah berkarat.

(das/das)



Sumber : www.detik.com

Gedung Megah Jadi Tempat Uji Nyali, Dulu Mau Jadi Tempat Kremasi



Medan

Sebuah gedung megah berwarna kuning di Medan kondisinya terbengkalai. Gedung ini pun kerap jadi lokasi uji nyali warga. Dulunya, sempat mau jadi tempat kremasi.

Gedung ini terletak tak jauh dari Simpang Glugur dan jembatan yang baru direvitalisasi Pemkot Medan. Lokasi tepatnya berada di Jalan Adam Malik, Medan.

Setiap wisatawan, maupun warga yang lewat, pasti akan bertanya-tanya tentang gedung megah berwarna kuning yang kondisinya terbengkalai itu. Gedung ini bak bangunan misterius yang dibiarkan teronggok begitu saja.


Salah satu warga Medan yang mengaku penasaran dengan gedung tersebut adalah Karina. Padahal, dia sering melintasi Jalan Adam Malik dan melihat gedung yang sekelilingnya dipenuhi semak belukar itu.

“Sering lah lewat sini kalau kerja, kalau dulu penasaran ini gedung apa kok besar kali, tapi kok enggak ada yang menempati,” kisah Karina.

Konon Gedung Itu Angker

Konon katanya, gedung kuning itu angker. Tak heran jika banyak warga Medan yang menjadikan lokasi gedung itu sebagai tempat untuk menguji nyali mereka.

Karina mendengar desas-desus, kalau gedung tua itu dulunya sempat mau dijadikan tempat kremasi alias untuk pembakaran mayat manusia.

“Katanya udah puluhan tahun gedung ini enggak dilanjuti, dulunya mau jadi tempat kremasi orang mati, tapi enggak dikasih warga, tapi enggak tahu lah betul enggaknya,” ujarnya.

Selain Karina, warga Medan lainnya, Wanin pun sering penasaran dengan kondisi bangunan yang dulunya sering ia lewati. Ia pun bercerita dulunya sering melihat para tukang saat membangun gedung tersebut.

“Sebenarnya gedung apaan sih ini, aku dari kecil terus melihat pengerjaan tukangnya, tapi jadi malah enggak ditempatin,” tuturnya.

Pengalaman Horor Warga

Dibiarkan kosong selama puluhan tahun, membuat gedung ini diliputi hawa seram. Para netizen pun berbagi cerita tentang pengalaman horornya saat melintasi gedung yang diduga sudah mangkrak selama 25 tahun lalu.

“Sering lewat situ kalau pulang kerja. Aku pernah ngerasa di sudut bangunan itu macam ada putih-putih rambut panjang, kalau malam dekat tengah malam itu hawanya agak beda,” kata Danang.

Sementara itu, Camat Medan Barat, Roby Chairi membenarkan bahwa gedung tersebut dulunya sempat ingin dijadikan gedung kremasi.

“Setahu saya dulunya rencana tempat kremasi, tapi tidak jadi,” ucap Roby.

Saat disinggung tentang alasan pembatalan tersebut, Roby mengaku harus mencari datanya dulu.

Meski tampak tak terawat, bangunan gedung kuning itu tampak berdiri kokoh. Gedungnya terdiri dari beberapa lantai yang menjulang ke atas.

Di sekitar bangunan tersebut tampak pedagang bunga yang berjualan. Namun traveler tidak dapat memasuki gedung kuning itu secara sembarangan, lantaran di sekitar bangunan ditutup oleh seng dan dikunci.

Traveler berani uji nyali di sini?

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Hutan Angker Gunungkidul Punya Mata Air Berbentuk Kelopak Mata



Gunungkidul

Sebuah hutan yang dikenal angker di Gunungkidul memiliki sebuah mata air tersembunyi. Uniknya, mata air itu memiliki bentuk seperti kelopak mata.

Hutan Tlawah di Kalurahan Natah, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul, punya mata air tersembunyi. Untuk menuju ke posisi mata air itu dibutuhkan waktu setidaknya 30 menit dengan berjalan kaki.

Mata air tersebut terletak di semak-semak, sehingga tak tampak mata jika tidak paham betul posisinya. Mata air tersebut masih tertutup sedikit tanah, sehingga tidak terlalu tampak seperti kelopak mata manusia. Meski disebut dengan mata air, tidak terlihat ada air yang mengalir.


Awalnya saat tanah tersibak mata air yang konon tampak seperti mata manusia itu tak tampak persis jika dilihat dari arah timur. Namun, mata air itu tampak mirip dengan kelopak mata jika dilihat dari arah barat.

Di tengah mata air tersebut terdapat sebuah batu berukuran sedikit lebih besar dari genggaman dua tangan orang dewasa. Sedangkan di permukaan luar terlihat berbentuk seperti kacang almond dengan panjang kurang lebih 60 cm dan lebar 40 cm. Mata air tersebut memiliki kedalaman sekitar 10 cm.

Jika dilihat dengan saksama, maka bagian mata tersebut seakan melirik ke selatan. Bola mata yang terlihat seperti pupil manusia itu berasal dari batu yang sudah agak lapuk sehingga mudah tergerus saat dicongkel menggunakan sebatang kayu.

Sumber Mata Air Itu Terbentuk Secara Alami

Ngadimo (58), warga sekitar menjelaskan mata air tersebut terbentuk secara alami, tidak ada campur tangan manusia. Dulunya mata air tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk minum.

“Ini bukan buatan manusia. Dari saya kecil ya memang begini. Dari alamnya sudah begitu. Dulu biasanya orang-orang minum di sini kalau lewat hutan,” jelas Ngadimo.

Mata air berbentuk kelopak mata di tengah alas angker Tlawah, Gunungkidul. Foto diambil Jumat (10/5/2024).Mata air berbentuk kelopak mata di tengah hutan Tlawah yang angker Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Mata air tersebut sudah lama dilupakan oleh warga. Malah disebut sebagai mitos sampai sumber air itu ditemukan lagi oleh komunitas Resan Gunungkidul pada 2022 lalu.

“Warga sudah banyak yang nggak tahu. Dianggap mitos juga kok karena sudah lupa mata air ini. Tapi pas komunitas Resan ke sini ngajak saya untuk cari, ketemu lagi mata airnya,” katanya.

Asal Usul Hutan Tlawah

Ngadimo mengatakan, nama tlawah diambil dari mata air yang berbentuk kelopak mata manusia tersebut. Ngadimo menyebut tlawah dalam bahasa Jawa yakni lubang kecil dengan batu di tengahnya.

“Asal usul nama tlawah ya itu. Ada lubang kecil, ada batu, namanya tlawah,” jelas Ngadimo.

“Tlawah itu tahunya cuma nama. Tapi saya ingat kalau batu di mata air itu ya itu namanya asal usul tlawah,” lanjutnya.

Ngadimo mengungkapkan, masyarakat setempat meyakini adanya sesosok makhluk gaib penjaga alas Tlawah. Sosok tersebut bernama Mbah Sostrowono.

“Di alas ini ada penunggunya namanya Mbah Sostrowono. Bukan manusia dia. Dia istilahnya makhluk gaib,” sebutnya.

Dari kepercayaan masyarakat setempat Mbah Sostrowono itu konon ditaklukkan oleh para wali. Dia kemudian ditugaskan menjaga alas Tlawah.

Batu berwarna hitam di bawah mata air itu pun diyakini milik Mbah Sostrowono. Oleh karena itu, orang tak boleh sembarangan mengambil batu di area kelopak mata air tersebut.

“Batunya itu tidak boleh diambil memang ada pusaka milik Mbah Sostrowono,” jelas Ngadimo.

Hutan Tlawah Dikenal Angker

Di sisi lain, Ngadimo menceritakan banyak orang yang masuk ke alas Tlawah tanpa izin akhirnya tersesat. Tak hanya itu, diyakini banyak cerita warga yang diganggu makhluk tak kasat mata.

“Sudah banyak yang bingung masuk ke sini. Bahkan ada masyarakat yang bingung pas masuk ke sini. Kalau yang belum pernah masuk sini itu izin dulu ke warga sekitar,” ungkap Ngadimo.

“Warga belum tentu berani masuk alas di siang, sore, malam. Hanya orang tertentu yang berani. Saya buktikan sendiri banyak yang sering mengganggu,” sambung dia.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini 7 Gunung yang Disebut Paling Angker di Jawa Timur, Penasaran?


Jakarta

Saat berakhir pekan, tak ada salahnya untuk mencoba hal baru seperti mendaki gunung. Selain menikmati pemandangan alam dan udara segar, kamu juga bisa healing sejenak.

Meski begitu, ternyata ada sejumlah gunung di Jawa Timur yang disebut angker. Hal itu berdasarkan cerita horor dari para pendaki yang terkadang sulit diterima akal sehat.

Dari cerita tersebut, akhirnya kerap disangkut-pautkan dengan mitos atau legenda masyarakat setempat. Alhasil, tersebar cerita mistis tentang sejumlah gunung angker di Jawa Timur.


Penasaran, apa saja sih gunung di Jawa Timur yang disebut paling angker? Simak ulasannya dalam artikel ini.

Gunung Paling Angker di Jawa Timur

Ada sejumlah gunung di Jawa Timur yang disebut paling angker. Biar nggak penasaran, simak daftarnya di bawah ini yang telah dirangkum detikTravel.

1. Gunung Kelud

Gunung Kelud merupakan gunung berapi paling aktif yang terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Ketinggian Gunung Kelud mencapai 1.731 mdpl.

Kawasan gunung ini dijadikan sebagai objek wisata dengan atraksi utama kubah lava. Akan tetapi, beberapa orang menyebut kalau Gunung Kelud tergolong sebagai gunung angker.

Soalnya, jika kamu melihat seorang manusia berkepala kerbau, konon katanya hal itu menjadi pertanda gunung tersebut akan meletus. Berdasarkan legenda masyarakat setempat, makhluk tersebut dipercaya sebagai Lembusura.

Ada juga kisah mistis lainnya tentang Gunung Kelud, yaitu keberadaan Keris Mpu Gandring yang dikubur di dalam Gunung Kelud. Sebab, keris itu dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat mempengaruhi seseorang untuk bertindak jahat.

2. Gunung Bromo

Panorama kawasan di Gunung Bromo.Foto: Weka Kanaka/detikcom

Gunung Bromo menjadi salah satu destinasi wisata alam favorit ketika berkunjung ke Malang. Salah satu daya tarik utamanya adalah melihat pemandangan sunrise yang memukau dari atas bukit.

Akan tetapi, ada kisah mistis yang cukup terkenal mengenai Gunung Bromo, yakni keberadaan kerajaan gaib yang dipercayai sebagai tempat berhuninya dewa-dewi dalam ajaran Hindu.

Lalu, ada juga kisah tentang pasir hisap yang dipercaya memiliki kekuatan hisap yang dapat menenggelamkan siapapun ke dalamnya. Hiii seram!

Akan tetapi, lokasi pasir hisap ini hanya diketahui para tetuah Suku Tengger. Selain itu, Suku Tengger juga disebut-sebut kerap membuang benda pusaka di sekitar Gunung Bromo.

3. Gunung Ijen

Kawah Gunung IjenFoto: Ardian Fanani/detikJatim

Selain Bromo, Gunung Ijen juga merupakan salah satu destinasi wisata alam favorit di Jawa Timur. Gunung ini terkenal dengan fenomena alam yang disebut blue fire atau api biru di dalam kawahnya.

Meski punya keindahan alam yang mempesona, terdapat kisah mistis di balik Gunung Ijen. Sejumlah pendaki mengaku melihat penampakan sosok nenek yang suka menolong, penampakan segerombolan tentara pejuang, dan tanah para pemberontak berdasarkan legenda Kerajaan Blambangan.

4. Gunung Arjuno

Gunung Arjuno merupakan gunung berapi kerucut yang terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Gunung Arjuno memiliki ketinggian sekitar 3.339 mdpl.

Ada tiga jalur pendakian yang cukup terkenal di Gunung Arjuno, mulai dari Lawang, Tretes, dan Batu. Di sepanjang jalur pendakian, travelers bisa menemukan banyak petilasan peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singasari.

Nah, mitos yang beredar mengatakan kalau daerah petilasan dijaga oleh Bambang Wisanggeni. Lalu, orang-orang yang bertapa di tempat tersebut akan menghilang dengan jasadnya.

Selain itu, ada kisah mistis lain mengenai Pasar Setan atau Pasar Dieng. Menurut kisah para pendaki, saat terdengar suara ramai dan gamelan itu artinya kamu sudah memasuki kawasan Pasar Setan.

Gunung Arjuno juga memiliki kawasan yang disebut Alas Lali Jiwo. Sejumlah warga setempat percaya kalau pendaki yang memiliki niat jahat akan tersesat di area ini. Sebab, Alas Lali Jiwo dipercaya sebagai tempat hunian makhluk halus dan golongan jin.

5. Gunung Kawi

Gunung Kawi merupakan gunung berapi tidak aktif yang memiliki ketinggian 2.551 mdpl. Gunung ini terletak di sebelah barat daya Kabupaten Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Blitar.

Ada sejumlah kisah horor mengenai Gunung Kawi, salah satunya yang terkenal adalah terdapat makam dua tokoh yang dipercaya memiliki kekuatan magis.

Selain itu, di sekitar makam juga terdapat pohon dewandaru yang dianggap sebagai pohon keramat. Lokasi itu kerap dijadikan sebagai tempat pengadaan ritual pesugihan bagi sebagian orang dengan sejumlah tujuan, salah satunya mendapatkan kekayaan.

6. Gunung Wilis

Selain Gunung Kawi, terdapat juga gunung berapi non-aktif di Jawa Timur, yaitu Gunung Wilis atau Pegunungan Wilis. Gunung yang memiliki ketinggian mencapai 2.563 mdpl terletak di enam kabupaten dan satu kota di Jawa Timur.

Konon katanya, banyak cerita mistis yang menyelimuti Gunung Wilis, mulai dari penampakan ular raksasa tak kasat mata, lalu ada penampakan sosok putri Kerajaan Mataram yang mengenakan pakaian khas kerajaan.

Tak hanya itu, ada juga penampakan sosok lelaki berwajah hitam dan menyerupai monyet yang sedang bertapa di goa gaib yang dipercaya terletak di bawah puncak bagian barat Gunung Wilis.

7. Gunung Raung

Daftar gunung paling angker di Jawa Timur yang terakhir adalah Gunung Raung. Sedikit informasi, Gunung Raung merupakan gunung berapi kerucut yang terletak di tiga kabupaten di Jawa Timur, yakni Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.

Gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur ini memiliki ketinggian mencapai 3.344 mdpl. Gunung yang kerap menjadi tujuan pendakian ini ternyata memiliki sejumlah cerita mistis.

Salah satu mitos yang beredar adalah keberadaan Kerajaan Macan Putih yang dipimpin oleh Pangeran Tawangulun. Beberapa pendaki mengaku pernah melihat Kerajaan Macan Putih di malam hari saat Jumat Kliwon.

Itu dia tujuh gunung di Jawa Timur yang disebut paling angker. Meski banyak kisah mistis, jangan membuat travelers jadi patah semangat untuk mendaki gunung, ya!

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Masa Lalu Kelam Jalan Gandhi di Medan: Pernah Jadi Lokasi Pembantaian



Medan

Setiap sudut kota Medan menyimpan cerita sejarah. Salah satunya di jalan Gandhi yang disebut pernah menjadi lokasi pembantaian.

Mendengar nama jalan Gandhi, warga Medan pasti tahu cerita-cerita yang beredar di baliknya. Konon, jalanan ini dikenal angker karena jadi lokasi penyiksaan tahanan.

“Dulu saya sering lewat situ tahun 1990-an lah karena saya pengantar obat ke apotek-apotek Jalan Gandhi. Memang dulu jalan ini terkenal angker karena jadi lokasi penyiksaan para tahanan-tahanan pemberontak,” ungkap warga Medan bernama Aan.


Aan mendapat cerita dari para pegawai apotek, dahulu saat melintasi jalan ini sering tercium bau menyengat dan juga suara teriakan halus dari dalam gedung.

“Sebenarnya nggak ramai dan sepi karena kan penjara dan itu kan tertutup ya, sering lah dengar nangis sama teriak-teriak. Tapi kalau malam nggak ada yang berani lewat, kalau dari cerita orang tua dulu, itu memang tempat penjara G30SPKI,” ujarnya.

Kabarnya penjara atau tempat penyiksaan di Jalan Gandhi itu sudah berubah menjadi sebuah gedung yayasan suatu komunitas etnis Tionghoa.

Pada masa dulu, Jalan Gandhi Medan ini akan ditutup portal pada sore hari dan akan kembali dibuka pada ke-esokan harinya.

“Malam itu di Jalan Gandhi itu tutup, dulu ada portalnya jadi kalau yang bisa masuk itu pagi sampai jam 1-2 siang nah dari sore jam 3 udah tutup portal, memang nggak boleh masuk lagi,” ucapnya.

Warga Medan lainnya, Indri juga mengenang masa-masa dulu saat dirinya mendengar cerita dari sang ayah tentang kelamnya Jalan Ghandi tersebut.

“Penjara Gandhi ini masih beroperasi sampai masa Presiden Soeharto. Tetangga saya tahun 1983 masih ditahan di situ sekitar 1 tahun. Dulu itu penjara paling sadis penyiksaannya, kalau masuk situ habis disiksa seluruh badan, ada bak air tapi airnya bau kali dengan segala macam kotoran, para tahanan direndam di situ,” tutur Indri.

Sejarawan Medan Buka Suara

Sejarawan Kota Medan M Azis Rizky Lubis membenarkan bahwa Jalan Gandhi pada tempo dulu menyimpan kenangan kelam oleh masyarakat Kota Medan. Ia menyebutkan bahwa lokasi penyiksaan ini sudah ada saat zaman penjajah.

“Pada masa orde baru, Jalan Gandhi ini termasuk jalan yang ditakuti masyarakat karena kalau sudah tertangkap oleh zaman rezim orde baru ya nanti akan dibawa ke Jalan Gandhi itu. Jadi bangunan ini penjara atau tempat penyiksaannya bukan seperti umumnya tapi lebih tepatnya bangunan ini jadi tempat penyiksaan,” kata Aziz.

“Orang-orang mendengar namanya saja takut apalagi melintasi ke situ. Bahkan tahun 1970-an itu muncul lagu yang menggambarkan betapa seramnya melintasi jalan tersebut,” lanjutnya.

Azis kemudian menggambarkan beragam penyiksaan yang diterima oleh tahanan di bangunan tersebut seperti dipukuli dengan sadis, kemudian direndam di dalam air kotor.

“Cukup sadis saat itu ya, mereka juga nggak langsung dieksekusi tapi diserang dulu mentalnya kemudian fisiknya. Nah biasanya sore itu sudah tidak diperbolehkan masuk untuk melintas karena untuk penyiksaan biasanya dilakukan pada tengah malam,” tutup Azis.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ternyata Bekas Kuil yang Dirobohkan



Medan

Draco Waterpark sudah lama terbengkalai. Dulu, wahana air di Medan ini pernah populer pada tahun 2013. Namun sekarang, berubah jadi terbengkalai dan angker.

Wahana Draco Waterpark ini berlokasi di Jalan Mongonsidi, Kecamatan Medan Polonia, Medan. Berdasarkan pantauan di lokasi, hanya tersisa semak belukar di balik gedung eks Hermes Plaza. Tidak ada puing-puing sisa bangunan waterpark tersebut.

Desas-desus cerita mistis eks Draco Waterpark ramai beredar di masyarakat. Konon, waterpark ini sempat memakan korban seorang pegawai yang meninggal akibat kecelakaan kerja di sana.


“Udah tutup lah sekitar lima tahunan lebih lagi. Dulu itu ada yang meninggal pegawai di situ gara-gara mau menyelamatkan kalung pengunjung, dia yang merasa bertanggung jawab namun dia tersedot mesin pembuat gelombang. Dari situ mulai berkurang pengunjung di situ,” ungkap warga setempat Amel, Kamis (18/7/2024).

Warga setempat menilai waterpark tersebut menjadi angker lantaran dahulu ada kuil umat Hindu yang dirobohkan di sekitar bangunan Hermes Plaza.

“Dulu ada kuil yang dirobohkan dekat parkiran belakang Hermes, katanya ada juga yang bilang gara-gara dirobohkan itu jadi angker wahananya itu,” ujarnya.

Beberapa warga menyebut pernah mendengar pengalaman mistis seperti mendengar suara-suara aneh dan juga penampakan misterius.

“Ada yang pernah dengar suara aneh samar-samar terus ada yang pernah lihat bayangan yang buat takut pengunjung,” kata Amel.

Kenangan Indah Warga Medan di Draco Waterpark

Namun begitu, banyak warga Medan yang memiliki kenangan indah saat berkunjung ke Draco Waterpark.

“Dulu pernah masuk waktu tahun 2012-an, seru sekali ajak anak-anak main wahana tapi ya harga lumayan ya Rp 100 ribuan per orang. Jadi paling cuma sekali dua kali lah ke sana,” kata warga Medan, Indah mengenang momen tersebut.

Sementara itu, sejarawan Azis Rizky Lubis mengakui bahwa benar adanya kuil yang dirobohkan dalam pembangunan Draco Waterpark ini. Tak hanya itu, tragedi meninggalnya pegawai di Draco Waterpark ini turut membuat masyarakat enggan untuk berkunjung ke wahana tersebut.

“Robohnya kuil itu kemungkinan penyuaraan masyarakat hindu tidak terlalu ditanggapi serius padahal begitu banyak masyarakat etnis Hindu yang bermukim di situ. Kalau ada kaitannya mistis dengan kuil yang dirobohkan juga beredar di masyarakat. Apalagi dengan adanya kasus meninggal pegawai di sana membuat penurunan pengunjung,” kata Azis.

Tak hanya waterpark, Azis menyebut banyak kasus-kasus mistis yang terjadi di Hermes Plaza.

“Suasana mencekam ini tak hanya di wahana airnya saja tapi misalnya dari arena permainan di malnya yang sempat mencekam, jadi ya terdengar angker dari tanggapan masyarakat begitu,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



Sumedang

Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

“Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

“Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

“Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

“Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

“Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

“Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

“Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

Sejarah Jembatan Cincin

Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

“Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

“Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

“Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bekas Tempat Eksekusi, Ini Pulau di Jakarta yang Paling Ditakuti



Jakarta

Satu-satunya bank terapung dunia, Teras BRI Kapal berlayar ke berbagai pulau di Nusantara. Mereka tentu punya pengalaman berbeda dari pekerja bank lainnya.

Teras BRI Kapal ‘Bahtera Seva I’ melayani inklusi keuangan di Kepulauan Seribu. Setiap minggu, mulai Senin-Jumat, kapal ini bergantian ke lima pulau yaitu Pramuka, Panggang, Kelapa-Harapan, Tidung dan Untung Jawa.

Setiap pulau memiliki cerita yang berbeda, termasuk kisah yang membuat bulu kuduk merinding, bahkan masa lalu kelam Indonesia. Saat berlayar ke Pulau Panggang bersama bank terapung BRI, detikTravel mendengar langsung tentang seramnya Pulau Karya.


Pulau ini berada tepat di seberang dermaga Pulau Panggang. Saat Bahtera Seva I bersandar di dermaga, satu sisi kapal otomatis menghadap ke pulau itu. Jaraknya tak sampai satu kilo.

Teras BRI KapalTeras BRI Kapal ‘Bahtera Seva I’ Foto: (bonauli/detikcom)

Salah satu mantri BRI yang bernama Ryan (35) mendapat jadwal ke pulau itu. BRI memiliki dua tim yang bergantian untuk melayani ke Pulau Seribu, tim ini akan berganti setiap minggu.

Ia bercerita bahwa pernah sekali waktu ia masih terjaga sampai pukul 01.30 WIB. Masih asyik dengan telepon genggamnya, sayup-sayup ia mendengar suara berupa ketokan di dinding kamar.

Beberapa ketukan ia abaikan. Ia masih terpaku dengan layar handphone. Namun kali kedua, jantung Ryan seakan berhenti berdetak.

“Kamar itukan posisinya menghadap ke laut Pulau Karya. Langsung tahu, nggak bener nih. Langsung tidur saat itu,” kenangnya sambil memeragakan di depan kru kapal.

Yang lain ikut menimpali sambil tertawa, mereka belum pernah merasakan pengalaman yang horor, tapi sering mendengar cerita-cerita gaib dari warga Pulau Panggang.

“Iya, tau pulau itu horor,” kata yang lain bersahutan.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

detikTravel bertanya langsung pada seorang warga asli Pulau Panggang, Sopyan Hadinata (38). Leluhurnya termasuk tokoh agama terpandang di pulau itu.

Iyan (sapaan akrab) mengakui bahwa Pulau Karya memang angker. Sejak dulu, ia sudah mendengar cerita-cerita horor sampai jadi terbiasa dengan hal itu.

“Dulu itu bilangnya tempat buat latihan menembak tentara. Jadi warga nggak boleh ke sana kalau ada latihan,” katanya memulai cerita.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Sebelum jadi pulau khusus pemakaman (TPU) seperti sekarang ini, Pulau Karya hanyalah hutan belantara. Ada berbagai macam tumbuhan, buah-buahan dan tentu saja pantai yang indah sana.

“Di era pemerintahan Soeharto itu, kalau ada tentara yang ke sana warga langsung tahu mau ada latihan menembak. Karena orang tua kita zaman dulu banyak juga yang jadi pahlawan, mereka bilang kita harus hormat sama tentara,” katanya.

Mandat untuk menjauhi pulau saat ada tentara tidak pernah dilanggar oleh warga Pulau Panggang. Yang mereka tahu, suara tembakan selalu terdengar saat tentara tiba. ‘Oh sedang latihan’, pikiran itu akan otomatis muncul tanpa kecurigaan. Dua atau tiga kapal tentara muncul jika waktu ‘latihan’ tiba.

Sampai kerusuhan tahun 1998 terjadi. ‘Latihan menembak’ semakin sering, barulah warga sadar apa arti letusan bedil, yaitu eksekusi. Lalu terbentuklah reformasi dan ‘latihan menembak’ tak pernah terjadi lagi.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Iyan tidak ingat jelas kapan, tapi sekitar tahun 2000-an, pembangunan Pulau Karya dimulai. Warga bahu-membahu membantu pembangunan rumah dinas untuk pejabat dan unit lainnya seperti polres dan pemadam kebakaran.

Saat menggali tanah, ditemukan puluhan tengkorak. Tak ada identitas, hanya tulang belulang. Masa lalu Pulau Karya terkuak, diceritakan turun-temurun sampai sekarang.

“Orang sini udah nggak asing lagi sama cerita horor. Dulu polisi sering cerita digangguin kalau tidur. Tadinya tidur di dalem kantor, bangun-bangun udah ada di luar,” ungkapnya.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Tak hanya polisi, narapidana yang dikirim ke Pulau Karya juga merasa sengsara. Kata Iyan, jumlah napi seringkali bertambah, mereka terus minta pindah karena diganggu oleh makhluk halus.

“Pernah mereka lagi tidur, terus dinampakin ada jari-jari segede pisang ambon. Pokoknya digangguin terus sampai mereka bilang lebih mending di Cipinang daripada di sini,” jawabnya.

Iyan sendiri pernah mengalaminya langsung. Bapak beranak empat itu ingat betul dirinya membawa lima teman kampus UNINDRA untuk kemping di Pulau Karya. Sebelum kemping, Iyan mengajak teman-temannya untuk ziarah, meminta izin untuk masuk ke pulau.

Lelaki lulusan Teknik Informatika itu mengatakan ada sebuah aturan untuk bisa kemping di sana. Mereka tidak boleh berkata kasar dan berbuat mesum saat kemping. Teman-temannya mengiyakan.

“Setelah puas main di pantai, mereka kecapean lalu tertidur di tenda,” katanya.

Dua perempuan dan tiga pria tentu membuat kemah cukup sesak. Tak mau mengganggu temannya yang kelelahan, Iyan pun ngungsi ke rumah dinas pemadam kebakaran.

Tak berapa lama angin kencang muncul, awan gelap seakan jadi pertanda akan hadirnya badai. Iyan khawatir akan teman-temannya. Dari ujung pulau ke ujung satunya, ia berlari untuk mendapati kawan-kawannya.

“Saya kaget, kok mereka udah nunggu di dermaga. Pas saya tanya, mereka jawab ‘kan tadi kamu udah bangunin katanya suruh siap-siap’,” ucapnya.

Dalam hati Iyan paham, yang tadi datang bukan dirinya. Namun makhluk gaib yang menyerupai dirinya. Tak ingin membuat temannya panik, ia kemudian membawa mereka pulang ke Pulau Panggang.

“Di sini itu udah biasa, pokoknya kita hidup berdampingan dan tidak saling mengganggu, itu aja,” pungkasnya.

Teras BRI Kapal terjadwal hadir di Pulau Panggang setiap Selasa. Pulau pemukiman dengan penduduk terpadat di Pulau Seribu itu memiliki jumlah penduduk 6.260 jiwa menurut sensus tahun 2017. Berbeda dengan pulau-pulau lainnya yang sangat erat dengan kegiatan pariwisata, Panggang murni pemukiman. Kebanyakan nasabah BRI yang melakukan transaksi di kapal terapung berupa setoran tabungan, peminjaman, pembuatan tabungan dan penarikan ATM.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Makam Misterius di Jalur Pantura Lasem, Konon Milik Intel Zaman VOC



Lasem

Jalur Pantai Utara (Pantura) Lasem menyimpan makam yang sederhana namun misterius. Konon, makam itu milik ‘agen rahasia’ pada zaman VOC.

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalur Pantura yang membelah wilayah Lasem di kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersembunyi sebuah makam sederhana penuh misteri.

Terletak tidak jauh dari badan jalan. Tepat di sebelah utara Jalur Pantura masuk Dukuh Caruban, Desa Gedongmulyo, Lasem. Tak jauh dengan lokasi Sungai Kiringan atau Kairingan, atau sebelah timurnya, makam ini dikenal masyarakat sebagai makam Mbah Galio atau Mbah Sedandang.


Tidak sedikit yang percaya, ia bukan orang biasa, melainkan seorang inteligen sekaligus pengawal setia Raden Panji Margono, tokoh perlawanan terhadap VOC Belanda dalam Perang Kuning di Lasem.

Sepintas melihat, makam ini nyaris tidak mencolok. Diteduhi pohon tua dan dilindungi cungkup kayu yang sangat sederhana. Keberadaannya seolah terlupakan oleh modernitas. Namun, bagi sebagian masyarakat Lasem, makam ini adalah saksi bisu perjuangan heroik di masa lampau.

“Nama Mbah Galio memang tidak muncul dalam buku-buku sejarah resmi, tapi dalam penuturan masyarakat tua, beliau adalah orang kepercayaan Raden Panji Margono. Perannya cukup penting dalam Perang Kuning melawan VOC yang terjadi sekitar abad ke-18,” ujar Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Forkmas) Lasem, Ernantoro, Minggu (4/5/2025).

Menurut Ernantoro, Mbah Galio bukan sekadar pengawal. Ia disebut-sebut sebagai mata-mata ulung, sebagai seorang intelijen pemberi informasi dalam mengatur strategi perang.

Makam misterius di Pantura Lasem, Rembang, Minggu (4/5/2025). Konon makamnya Mbah Galio (Mbah Sedandang) pengawal Raden Panji Margono, tokoh pemimpin Perang Kuning.Makam misterius di Jalur Pantura Lasem Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ia mampu menyamar dengan sangat baik, bahkan hingga dianggap orang biasa oleh masyarakat umum. Karena kesederhanaan dan kemisteriusannya, ia dijuluki Mbah Sedandang, sosok yang selalu membawa dandang (panci tradisional untuk mengukus) dan berpakaian seperti rakyat jelata.

“Konon, beliau sering muncul tiba-tiba di tempat berbeda. Ini yang membuatnya dijuluki sebagai intelijen. Dia suka nyamar dengan memikuk dandang tiap ke mana-mana. Namun, hingga kini, keberadaan dan identitas aslinya tetap menjadi teka-teki,” tambah Ernantoro.

Perang Kuning sendiri merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan lokal Lasem terhadap kolonialisme Belanda.

Dipimpin oleh Raden Panji Margono, perang ini melibatkan jaringan perlawanan rakyat yang tersebar hingga ke pelosok desa. Banyak tokoh penting yang gugur, dan sebagian jejaknya terkubur oleh waktu, salah satunya adalah Mbah Galio.

Meski tidak tercatat dalam arsip resmi kolonial, makam Mbah Galio tetap dihormati oleh warga sekitar. “Tempat ini sering dianggap angker, tapi sebenarnya tidak,” ungkap Ernantoro.

Forkmas Lasem kini tengah mengusulkan agar situs makam Mbah Galio dijadikan cagar budaya lokal, sebagai upaya pelestarian sejarah lisan yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Sejarah tidak selalu harus tertulis. Selama masih hidup dalam ingatan kolektif, ia layak dihormati dan dilestarikan,” pungkasnya.

Di tengah lalu lintas kendaraan berat dan debu jalanan Pantura, makam Mbah Galio berdiri diam, menyimpan cerita tentang keberanian, pengabdian, dan misteri yang belum terpecahkan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cagar Budaya di Bantul Kondisinya Memprihatinkan, Terancam Proyek Jalan Tol



Bantul

Kondisi bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu yang berstatus cagar budaya sangat memprihatinkan. Bangunan itu tampak tak terurus dan terkesan angker.

Dari pantauan di lokasi, nampak bangunan dengan atap limasan di pinggir jalur kereta api, Gubug, Argosari, Sedayu, Bantul itu dindingnya penuh dengan coretan dan tampak sangat tidak terurus.

Bahkan, bangunan tersebut tertutup tingginya tumbuhan dan semak belukar. Oleh sebab itu, bangunan dengan arsitektur Eropa ini malah terkesan angker dan sangat sepi.


Pecinta Cagar Budaya Jogja, Hanif Kurniawan, mengatakan bahwa kondisi bangunan yang dulunya Rumah Dinas Stasiun Sedayu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 2018. Namun, saat ini kondisinya memang memprihatinkan dan terkesan tidak terawat.

“Dan anehnya lagi di sekitar situ sudah ada patok-patok tol. Nah, itu mau dikemanakan, apakah kemudian perhatian dari pemerintah setempat hanya menetapkan tanpa ada tindak lanjut apa mau dirawat,” katanya di Bantul, Senin (12/5).

Pecinta Cagar Budaya Jogja pun khawatir bangunan itu akan terdampak proyek jalan tol Jogja-Solo.

‘Nah, khawatirnya kita lagi, ketika terjadi pematokan tol, ini besok jadi tumbal. Karena secara riil cagar budaya juga bisa jadi tumbal, nah kalau semuanya diam terus gimana, apakah kita akan kehilangan sejarah kita yang dihilangkan menjadi sejarah tol,” lanjut Hanif.

Selain itu, Hanif menyebut jika tidak ada pelang penanda bahwa bangunan tersebut merupakan cagar budaya. Padahal, seharusnya setelah penetapan harus ada plang di bangunan cagar budaya.

“Jadi plang di bangunan cagar budaya itu seharusnya setelah ditetapkan ada. Minimal, selemah-lemahnya iman ada plang cagar budaya dan tulisan tidak boleh dilakukan perusakan dan sebagainya,” ujarnya.

Dinas Kebudayaan Bantul Buka Suara

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan Bantul, Elfi Wachid Nur Rachman menjelaskan, bahwa bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu memang berstatus cagar budaya. Semua itu mengacu keputusan Bupati Bantul nomor 601 tahun 2018 tentang rumah dinas stasiun Sedayu sebagai bangunan cagar budaya.

“Jadi Rumah Dinas Stasiun Sedayu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Bupati Bantul sejak tanggal 31 Desember 2018,” ucapnya.

Bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu menghadap ke arah barat dan atap menggunakan model limasan. Rumah dinas memiliki dua bangunan yang terpisah dan dihubungkan dengan doorloop di sisi timur.

Suasana bangunan rumah dinas stasiun Sedayu yang merupakan cagar budaya di Gubug, Argosari, Sedayu, Bantul, Senin (12/5/2025).Suasana bangunan rumah dinas stasiun Sedayu yang memprihatinkan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Bangunan bagian utara menghadap ke arah barat, arsitektur bergaya Indis. Ciri khas dapat dilihat pada atap bangunan, dinding bangunan dilapisi batu kerikil tempel dan doorloop.

Denah berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 10,1 m x 13,8 m. Denah bangunan doorloop berbentuk persegi panjang dengan ukuran 13,1 m x 2,3 m dan atap bangunan doorloop model kampung.

Sedangkan terkait bangunan tersebut apakah terdampak pembangunan tol Solo-Jogja, Elfi menyatakan tidak. Pasalnya, bangunan tersebut berada di daerah penyangga.

“Posisi aman tidak kena tol karena berada di zona penyangga,” katanya.

Semak belukar dan rumput yang tinggi menutupi bangunan rumah dinas stasiun Sedayu.Semak belukar dan rumput yang tinggi menutupi bangunan rumah dinas stasiun Sedayu. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Menyoal belum ada pelang penanda bangunan tersebut merupakan cagar budaya, Elfi mengaku karena pihaknya memprioritaskan pemasangan plang di bangunan cagar budaya yang rentan untuk diubah.

“Belum semuanya kami kasih plang, karena pengajuan anggaran untuk papanisasi disetujuinya juga terbatas. Sementara kami prioritaskan papanisasi di cagar budaya milik pribadi yang sangat rentan untuk dirubah,” ujarnya.

“Dari 213 cagar budaya yang telah ditetapkan, baru sekitar 40 objek yang telah dipasang papanisasi,” lanjut Elfi.

Sedangkan Panewu (Camat) Sedayu, Anton Yulianto, menjelaskan bahwa ada dua Kalurahan yang terdampak pembangunan tol Solo-Jogja. Adapun kedua Kalurahan itu adalah Argomulyo dan Argosari.

“Di Argomulyo itu yang terkena pembangunan tol Pedukuhan Samben, Srontakan dan Panggang. Kalau di Argosari di Pedukuhan Gubug dan Jurug, tapi dari semua itu tidak ada bangunan cagar budaya yang terkena pembangunan tol,” ucapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com