Tag Archives: angkot

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di Karawang



Karawang

Rumah Djiaw Kie Song di Karawang adalah destinasi wisata sejarah yang menyimpan kisah penculikan Soekarno-Hatta. Akses mudah dan tanpa tiket masuk.

Peristiwa bersejarah itu terjadi di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada 16 Agustus 1945 atau sehari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada hari itu, dua tokoh penting Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta, diculik oleh golongan muda, di antaranya Soekarni, Shodancho Singgih, dan Jusuf Kunto. Mereka mendesak agar segera dilakukan proklamasi kemerdekaan.

Sukarno dan Hatta dibawa ke rumah seorang petani keturunan Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong. Rumah Djiauw Kie Siong itu berada dii Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.


Rumah itu sudah ditempati Djiauw Kie Siong sejak 1920. Tetapi, rumah itu sudah tidak berada di tempat aslinya. Rumah itu telah dipindahkan dari tepi Sungai Citarum pada 1957

Kini, rumah Djiaw Kie Song itu tidak jauh dari pusat kota Karawang, hanya berjarak sekitar 19,9 km. Kendati telah dipindahkan, banyak elemen asli seperti bata merah, dinding kayu, dan genteng tradisional masih dipertahankan, menambah daya tarik bagi pengunjung.

Kini rumah itu masuk dalam daftar cagar budaya.

Ramai Setiap Agustus

Kini, rumah itu menjadi destinasi wisata. Menurut pemilik rumah, yang merupakan istri dari cucu Djiaw Kie Song, yang akrab disapa Bu Yanto, rumah itu biasa menerima pengunjung. Jam operasional dimulai dari pukul 08.00 hingga 17.00, tetapi jam tersebut dapat diperpanjang saat ada acara komunitas, terutama pada Agustus.

Ya, di bulan Agustus, banyak acara yang digelar di sini. Mereka menjadikan rumah itu tidak hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai tempat ngumpul bareng menjelang 17 Agustus.

“Ramainya biasanya di bulan Agustus. Banyak sekali acara di sini pada bulan Agustus dan September, karena banyak peristiwa yang diperingati. Terakhir, komunitas pecinta alam sempat mengadakan acara di sini,” kata Bu Yanto dalam perbincangan dengan detikTravel.

Di bulan itu para pedagang di sekitar rumah turut ketiban rejeki. Mereka senang penjualan berlipat.

Mengenai perizinan untuk mengadakan acara, Bu Yanto menjelaskan, bahwa komunitas yang mengadakan acara di rumah bersejarah ini biasanya mengurus izin sendiri kepada RT dan RW, serta izin keramaian ke kepolisian.

“Tahapan untuk mengadakan acara di sini biasanya dimulai dengan izin dari saya atau suami. Namun, untuk perizinan di luar, seperti izin RT, RW, hingga izin keramaian ke kepolisian, itu mereka urus sendiri,” kata Bu Yanto.

Traveler tidak perlu khawatir mengenai biaya masuk, karena tidak ada biaya tiket yang dikenakan alias gratis. Pengunjung hanya pelru berdonasi sukarela yang digunakan untuk pemeliharaan bangunan.

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di KarawangRumah Djiaw Kie Song, hidden gem wisata sejarah di Karawang (Asti Azhari/detikTravel)

Bangunan Tradisional

Bagi para traveler yang menyukai fotografi, rumah ini juga menawarkan banyak spot menarik. Struktur bangunan tradisional dengan bata merah dan atap genteng membuatnya sangat fotogenik, terutama saat matahari mulai terbenam.

Interior rumah yang kaya akan ornamen sejarah, seperti foto-foto lama dan replika kamar Soekarno, menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin menangkap momen unik melalui lensa kamera.

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di KarawangRumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di Karawang (Asti Azhari/detikTravel)

Lokasi Rumah Djiaw Kie Song sangat strategis di Karawang. Meskipun awalnya terletak di tepi Sungai Citarum, saat ini rumah ini berada di Kalimati, sebuah area yang telah berkembang pesat.

Akses menuju rumah ini cukup mudah dengan kendaraan pribadi, dan area parkir di sekitar rumah juga luas, sehingga nyaman bagi para pengunjung.

Bagi yang ingin membawa pulang oleh-oleh, rumah ini bersebelahan dengan warung yang menjual makanan dan minuman ringan, sehingga traveler dapat beristirahat sejenak sambil menikmati suasana sekitar.

Warung-warung kecil di sekitar lokasi juga menjadi tempat bertemunya pengunjung dan warga lokal, menciptakan suasana yang hangat dan autentik.

Traveler yang ingin belajar lebih banyak tentang sejarah juga akan menemukan bahwa rumah ini menyimpan banyak cerita yang jarang diungkapkan dalam buku sejarah.

Pemandu lokal, seperti Bu Yanto, cucu dari Djiaw Kie Song, siap memberikan wawasan mendalam mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di rumah ini, termasuk penculikan Soekarno-Hatta dan bagaimana rumah ini digunakan sebagai tempat merumuskan strategi perjuangan oleh para pemuda.

Bagi keluarga atau rombongan wisata yang berkunjung, rumah ini menawarkan suasana yang tenang dan nyaman untuk dijelajahi bersama. Lokasinya yang luas membuatnya ideal untuk berjalan-jalan, dan suasana pedesaan yang masih terasa memberikan pengalaman wisata yang berbeda dari hiruk-pikuk kota.

Dengan segala daya tariknya, Rumah Djiaw Kie Song tidak hanya penting dari segi sejarah, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang memperkaya pengetahuan traveler.

Jika Anda seorang traveler yang tertarik dengan wisata sejarah dan ingin memahami lebih dalam perjuangan bangsa Indonesia, rumah ini adalah destinasi yang wajib ada dalam daftar kunjungan traveler di Karawang.

Cara Menuju ke Rumah Djiaw Kie Song

Bagi yang memilih transportasi umum, traveler dapat naik angkot 07 atau 17 dari Stasiun Karawang menuju Tanjung Pura, dengan pemberhentian di daerah Bojong atau lampu merah menuju Rengasdengklok.

Waktu yang ditempuh jika menggunakan kendaraan roda 4 sekitar 40 menit, tetapi menyesuaikan juga dengan keramaian dan kondisi jalan menuju destinasi.

Rumah Djiaw Kie Song bukan hanya sekadar saksi sejarah penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta pada 16 Agustus 1945, tetapi juga telah menjadi destinasi wisata yang menarik bagi para traveler.

Dengan akses yang mudah dan nilai sejarah yang kaya, rumah ini ideal bagi wisatawan yang ingin menjelajahi cerita kemerdekaan Indonesia. Traveler yang tertarik dengan sejarah akan menemukan pengalaman unik di rumah ini, di mana atmosfer perjuangan terasa di setiap sudutnya.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cara ke Mall Alam Sutera dengan Transportasi Umum dari Jabodetabek


Jakarta

Mall Alam Sutera bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Terutama bagi detikers yang tinggal di Kota Tangerang atau Tangerang Selatan, mal ini mudah dijangkau, yakni di Jalan Jalur Sutera Barat, Kecamatan Pinang, Tangerang, Banten..

Bagi detikers yang tinggal di kawasan Jabodetabek, tidak usah bingung. Kalian bisa hangout ke Mall Alam Sutera naik transportasi umum. Cara ke Mall Alam Sutera dengan transportasi umum yang paling mudah adalah menggunakan kereta rel listrik (KRL).

Dalam artikel ini akan kita ulas cara ke Mall Alam Sutera dengan transportasi umum KRL dari Jakarta, Bogor/Depok, dan Cikarang/Bekasi.


Rute ke Mall Alam Sutera Naik KRL

Jika naik KRL, detikers nantinya harus turun di Stasiun Tanah Tinggi atau Stasiun Rawa Buntu. Setelah itu dapat melanjutkan perjalanan naik angkutan umum lainnya.

Ada beberapa opsi menuju ke sana, tergantung daerah asalmu. Berikut rute ke Mall Alam Sutera naik KRL dari berbagai daerah:

1. Dari Jakarta Pusat (Tanah Abang)

  • Dari Jakarta Pusat, detikers bisa naik KRL dari Stasiun Tanah Abang jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung.
  • Turun di Stasiun Rawa Buntu, yakni stasiun keenam setelah Stasiun Tanah Abang.
  • Dari Stasiun Rawa Buntu, detikers keluar menuju halte Rawa Buntu untuk naik angkot B04 dan turun di Warung Mangga 1, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Rawa Buntu dengan jarak sekitar 13 km.

2. Dari Jakarta Barat (Duri)

  • Dari Jakarta Barat, detikers bisa naik KRL dari Stasiun Duri dengan jurusan Duri-Tangerang.
  • Turun di Stasiun Tanah Tinggi, yakni stasiun kesembilan setelah Stasiun Duri.
  • Dari Stasiun Tanah Tinggi, detikers bisa jalan kaki 450 meter ke Pasar Induk Tanah Tinggi, kemudian naik angkot B07 dan turun di Warung Mangga 2, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Tanah Tinggi dengan jarak sekitar 10 km.

3. Dari Jakarta Selatan/Timur (Jatinegara/Manggarai)

  • Dari Jakarta Timur, detikers bisa naik KRL dari Stasiun Jatinegara yang mengarah ke Stasiun Manggarai.
  • Jika kalian dari Jakarta Selatan, bisa langsung naik KRL dari Stasiun Manggarai.
  • Selanjutnya kalian bisa transit di Stasiun Tanah Abang naik KRL jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung.
  • Turun di Stasiun Rawa Buntu.
  • Dari Stasiun Rawa Buntu, detikers keluar menuju halte Rawa Buntu untuk naik angkot B04 dan turun di Warung Mangga 1, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Rawa Buntu dengan jarak sekitar 13 km.

4. Dari Jakarta Utara

  • Dari Jakarta Utara, detikers bisa naik KRL dari Stasiun Tanjung Priok atau Ancol.
  • Turun di Stasiun Kampung Bandan, pindah ke KRL arah Manggarai.
  • Turun di Stasiun Duri, pindah ke KRL jurusan Duri-Tangerang.
  • Turun di Stasiun Tanah Tinggi.
  • Dari Stasiun Tanah Tinggi, detikers bisa jalan kaki 450 meter ke Pasar Induk Tanah Tinggi, kemudian naik angkot B07 dan turun di Warung Mangga 2, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Tanah Tinggi dengan jarak sekitar 10 km.

5. Dari Bogor/Depok

  • Jika berangkat dari arah Bogor/Depok, detikers bisa naik KRL Lintas Bogor jurusan Bogor-Jakarta Kota.
  • Turun di Stasiun Manggarai, pindah ke KRL arah Tanah Abang. Turun di Stasiun Tanah Abang.
  • Selanjutnya kalian bisa naik KRL jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung.
  • Turun di Stasiun Rawa Buntu.
  • Dari Stasiun Rawa Buntu, detikers keluar menuju halte Rawa Buntu untuk naik angkot B04 dan turun di Warung Mangga 1, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Rawa Buntu dengan jarak sekitar 13 km.

6. Dari Cikarang/Bekasi

  • Jika detikers berangkat dari arah Cikarang/Bekasi, maka naiklah KRL Lintas Cikarang jurusan Jatinegara-Manggarai, lanjutkan hingga Tanah Abang.
    Turu
  • n di Stasiun Tanah Abang, lanjutkan dengan naik KRL jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung.
  • Turun di Stasiun Rawa Buntu.
  • Dari Stasiun Rawa Buntu, detikers keluar menuju halte Rawa Buntu untuk naik angkot B04 dan turun di Warung Mangga 1, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Rawa Buntu dengan jarak sekitar 13 km.

Nah, itulah tadi cara ke Mall Alam Sutera dengan transportasi umum KRL. Jangan segan bertanya kepada petugas KRL mengenai rute kalian untuk memastikan kalian tidak salah jalan.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Rute Perjalanan Jakarta-Ciwidey Naik Kereta dan Transportasi Lain


Jakarta

Jakarta-Ciwidey bisa ditempuh dengan kereta lebih dulu menuju Bandung, lalu angkot dan transportasi online menuju kawasan wisata pilihan.

Kawasan Ciwidey di Jawa Barat memiliki banyak destinasi wisata dengan pemandangan indah dan hawa sejuk. Tidak heran, berbagai destinasi piknik di Ciwidey selalu ramai dikunjungi masyarakat termasuk yang berasal dari Jakarta.

Perjalanan Jakarta-Ciwidey bisa ditempuh dengan berbagai pilihan kendaraan. Buat traveler yang ingin piknik dengan kendaraan umum, berikut urutannya


Rute Perjalanan Jakarta-Ciwidey

Saat ini belum tersedia transportasi umum dengan akses langsung Jakarta-Ciwidey tanpa transit. Perjalanan diawali dengan perjalanan Jakarta-Bandung dilanjutkan rute menuju Ciwidey yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

1. Jakarta-Bandung Naik Kereta

Perjalanan diawali naik kereta menuju Stasiun Bandung atau Kiaracondong. Dikutip dari aplikasi KAI, berikut pilihan kereta yang bisa digunakan

Gambir-Bandung

  • Papandayan: Rp 145 ribu
  • Parahyangan: Rp 195 ribu
  • Parahyangan Luxury: Rp 530 ribu
  • Pangandaran: Rp 145 ribu
  • Pangandaran Panoramic: Rp 425 ribu
  • Parahyangan: Rp 195 ribu
  • Parahyangan Priority: Rp 385 ribu
  • Parahyangan: Rp 145 ribu
  • Pangandaran Fakultatif: Rp 195 ribu.

Gambir-Kiaracondong

  • Papandayan: Rp 145 ribu
  • Pangandaran: Rp 145 ribu
  • Pangandaran Panoramic: Rp 425 ribu
  • Papandayan Panoramic: Rp 425 ribu.

Pasarsenen-Bandung

Pasarsenen-Kiaracondong

  • Serayu: Rp 63 ribu
  • Cikuray: Rp 45 ribu.

Traveler bisa menggunakan transportasi online menuju Terminal Leuwipanjang dari Stasiun Bandung atau Kiaracondong. Beberapa situs menyebutkan ada pilihan angkot menuju Leuwipanjang, tapi traveler wajib update informasi lebih dulu.

Traveler bisa menggunakan angkutan umum Colt L300 menuju Terminal Cibeureum di Ciwidey. Tarifnya adalah Rp 20 ribu dengan waktu tempuh sekitar 40-50 menit. Jika ragu, traveler bisa bertanya lebih dulu pada petugas terminal atau pihak lain yang kompeten.

Setelah turun di Terminal Cibeureum, traveler bisa memilih angkutan umum selanjutnya menuju kawasan wisata pilihan. Traveler juga bisa memilih jasa traveling yang memudahkan perjalanan wisata selama di Ciwidey.

Sebelum piknik Jakarta-Ciwidey, traveler sebaiknya menyusun perencanaan dan membawa uang cash secukupnya. Sehingga, traveler tidak perlu khawatir jika jasa angkutan umum hanya menerima uang cash. Perencanaan juga memungkinkan traveler berwisata aman, nyaman, dengan pilihan angkutan umum terbaik.

Reaktivasi Jalur Kereta Bandung-Ciwidey

Pemerintah berencana mengaktifkan kembali jalur kereta Cikudapateuh (Bandung)-Ciwidey sepanjang 37,8 kilometer. Rencana ini diawali dengan sejumlah kajian untuk memastikan ketersediaan lahan, biaya, serta dampak dengan adanya reaktivasi jalur kereta Bandung Ciwidey.

Pengaktifan kembali jalur kereta Bandung-Ciwidey diharapkan bisa mempermudah akses kawasan wisata, distribusi logistik, dan mobilisasi warga. Hasil akhirnya adalah perekonomian masyarakat yang makin kuat dengan transportasi mudah dan murah.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Wisata Alam di Pinggir Kota buat Recharge Otak



Ciamis

Liburan tak perlu ambil cuti banyak-banyak dan macet-macetan, coba saja ke 5 wisata alam di pinggir kota ini untuk recharge otak.

Lima wisata alam ini bisa jadi destinasi buat kabur dari stressnya kehidupan kota. Mulai dari desa wisata sampai hutan pinus yang sejuk dan bikin betah.

1. Desa Wisata Cibeureum

Yang pertama, ada Desa Wisata Cibeureum di Ciamis yang cocok dikunjungi bagi wisatawan yang ingin benar-benar healing dan menikmati alam.


Di destinasi ini, pengunjung selain bisa melihat lanskap desa yang indah juga bisa bisa mengikuti banyak aktivitas. Seperti melihat sekaligus mencoba mengurus sapi, perikanan, pertanian dan perkebunan bersama masyarakat.

Desa Wisata Cibeureum ini letaknya strategis, hanya 90 menit dari Bandara Kertajati dengan akses jalan yang bagus. Kemudian dari Jalan Nasional Gentong hanya ditempuh dalam waktu 30 menit saja.

Desa Wisata Cibeureum memiliki alam yang eksotis. Memiliki daya tarik konservasi seperti Sapi Pasundan. Kemudian secara geografis mudah ditempuh dekat dengan Jalan Nasional.

2. Telaga Biru Cicerem

Telaga Biru Cicerem.Telaga Biru Cicerem. Foto: Bima Bagaskara/detikJabar

Saatnya memanjakan mata di tempat wisata yang berlokasi di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat ini. Telaga Biru Cicerem dengan luas areal 900 meter persegi berada di ketinggian 315 meter di atas permukaan laut menawarkan danau berwarna biru nan cantik.

Pesona keindahan air sebening kristal, daya pikatnya yakni gradasi indah air telaga dengan warna hijau tosca dan biru akan menggoda wisatawan untuk berenang di sana.

Tidak usah khawatir kelaparan saat berada di tempat ini. Warung-warung tersedia, begitu juga fasilitas penunjang seperti musala, toilet serta gazebo untuk santai menikmati pemandangan.

3. Bumi Perkemahan Sukamantri

Buper SukamantriBuper Sukamantri Foto: (Kharina Windi/d’Traveler)

Suasana Bogor yang sejuk dan asri memang jadi incaran untuk liburan akhir pekan tanpa cuti. Kamu mau yang mau kemping bisa datang ke Bumi Perkemahan Sukamantri.

Traveler bisa ke Bumi Perkemahan Sukamantri dengan naik angkot sewaan dari Stasiun Bogor sampai ke plang hijau bertuliskan Kujang Raider Sukamantri. Dari titik itu, perjalanan dilanjut dengan berjalan kaki sekitar 20 menit untuk mencapai area perkemahan.

Deretan pohon pinus di sekitar area perkemahan seakan memanggil-manggil. Tak lengkap rasanya kalau tidak memasang hammock sambil menghirup udara segar di sini.

4. Puncak Sunan Ibu

Kawah Putih.Kawah Putih. Foto: Cindy Marsella/detikJabar

Sunan Ibu adalah salah satu puncak dari Gunung Patuha, berada di ketinggian 2.343 mdpl. Tempat ini merupakan titik terbaik untuk menyaksikan keindahan Kawah Putih dari ketinggian, apalagi saat matahari mulai terbit.

Dari puncak ini, kita bisa melihat hamparan kawah dengan air berwarna putih kehijauan yang diselimuti kabut, dihiasi cahaya keemasan dari matahari pagi di sisi timur.

5. Hutan Pinus Guci

Kemping Asyik di Guci ForestKemping Asyik di Guci Forest Foto: Imam Suripto/detikTravel

Daya tarik dari Guci Forest adalah menawarkan tempat penginapan dengan view pemandangan alam yang indah. Selain itu, travelers juga bisa berkeliling kawasan Guci Forest sambil menghirup udara segar khas pegunungan.

Di lokasi ini, wisatawan bisa menginap di kemping ground yang berada di bawah lebatnya hutan pinus sambil menikmati hawa sejuk alam pegunungan. Cocok untuk meredakan stress kota besar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com