Tag Archives: ara

Cara Simpel Cek Kemiringan Lantai Kamar Mandi, Cuma Butuh 1 Benda



Jakarta

Bentuk lantai kamar mandi berbeda dengan lantai di ruangan lain. Jika lantai di ruangan lain dibuat rata, lantai kamar mandi justru dibuat agak miring sekian derajat.

Fungsinya adalah agar tidak ada genangan di dalam kamar mandi. Air yang bercecer di kamar mandi bisa langsung mengalir ke lubang air atau floor drain. Lantai yang miring juga membantu sisa-sisa sabun, rambut, dan kotoran di kamar mandi bisa langsung terbuang terbawa air.

Secara kasat mata, lantai yang miring ini biasanya tidak akan terlihat karena kemiringinnya tidak ekstrem. Namun, calon pemilik rumah tetap dapat mengecek bagian ini dengan cara yang sederhana.


Menurut Profesional Kontraktor di PT Gaharu Konstruksindo Utama, Panggah Nuzhulrizky cara mengeceknya adalah dengan memakai kelereng. Benda kecil yang kerap dipakai sebagai mainan anak kecil ini, sangat mudah bergerak pada permukaan yang miring. Apabila lantai kamar mandi benar-benar dibuat miring, kelereng bisa bergerak ke sisi yang sama.

Cara mengeceknya hanya membutuhkan beberapa kelereng yang dibiarkan bergerak dari berbagai sisi. Kemudian, lihat apakah arah gerakannya ke ara yang sama, yakni floor drain. Apabila benar berarti kemiringinnya sudah tepat.

“Sebar kelereng di lantai kamar mandi. Nantinya kelereng akan menuju arah floor drain. Jika semua kelereng menuju titik yang sama, dapat disimpulkan bahwa aliran air sudah sesuai menuju titik yang dituju dan pemasangan keramik bisa dikatakan sudah benar.” Kata Panggah saat dihubungi detikcom, Kamis (14/9/2023).

Apabila kelereng tidak menuju ke titik floor drain, terdapat kesalahan pada pemasangan keramik dan harus segera diperbaiki sebelum rumah tersebut benar-benar dihuni. Proses perbaikan sendiri dimulai dari pengecekan leveling keramik lalu jika ada bagian yang tidak sesuai maka dilakukan pembongkaran dan pemasangan kembali.

“Pertama yang harus dilakukan adalah pengecekan leveling keramik menggunakan alat waterpass, leveling laser. Jika ada bagian yang tidak sesuai, area tersebut dapat dibongkar dan dipasang kembali dengan menyesuaikan kemiringan area yang sudah benar,” terangnya.

Apabila tidak memiliki kelereng, coba gunakan air yang disiram agak jauh dari floor drain. Kemudian, lihat ke mana air tersebut mengalir atau area mana yang menggenang.

Dilansir Ideal Home, kemiringan lantai kamar mandi yang ideal menurut Direktur Bathroom Mountain Shamila Iqbal adalah 1,5-2 persen menuju floor drain.

Begitu cara untuk mengecek kondisi kemiringan lantai dan memastikan tidak ada genangan di kamar mandi. Semoga bermanfaat.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/das)



Sumber : www.detik.com

Kisah Rumah Sakit Haji Zaman Belanda di Pulau Cantik Seberang Jakarta



Jakarta

Keindahan Kepulauan Seribu memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Tapi soal sejarah, tak banyak yang tahu jika ada rumah sakit zaman Belanda di sini.

Beragam pulau di kepulauan ini menawarkan keindahan pantai hingga kecantikan alam bawah lautnya. Selain menyuguhkan keindahan alam, sejarah di belakang pulau-pulau di sana juga layak untuk dinikmati.

Salah satunya adalah Pulau Cipir atau Pulau Kayangan yang pernah menjadi rumah sakit haji pada zaman kolonial Belanda.


Rumah sakit ini bisa disebut juga dengan rumah sakit yang memiliki fasilitas cukup komplet. detikTravel berkesempatan untuk melihat sisa-sisa bangunan di sana dalam kegiatan famtrip bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, beberapa waktu lalu.

Di Pulau Cipir seperti komplek rumah sakit, terdapat beberapa bangunan di sana seperti bangunan utama rumah sakit, toilet untuk pasien hingga laboratorium dan ruang bedah.

Puing-puing bangunan rumah sakit itu pun masih terbilang utuh sehingga masih bisa terbayang situasi dan kesibukan kala itu.

“Tahun 1911 mereka (Belanda) membangun asrama haji, jadi semua keberangkatan haji diberangkatkan dari Pulau Onrust. Mereka dikarantina dulu baru diberangkatkan ke Tanah Suci, setelah kembali mereka akan dibawa ke Pulau Cipir,” ucap pemandu wisata, Ara.

Pulau CipirRumah sakit zaman Belanda di Pulau Cipir Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

“Di Pulau Cipir akan diperiksa kesehatannya. Fasilitasnya paling lengkap di Batavia itu adalah rumah sakit di Pulau Cipir pada saat itu, di Batavia ada rumah sakit tapi nggak selengkap yang ada di Pulau Cipir ada laboratorium, ruang operasi semuanya ada di Pulau Cipir,” lengkap Ara.

Lanjut Ara, di masa itu Belanda untuk mencari pemasukan lain bagi pihaknya adalah dengan memberangkatkan masyarakat Indonesia ke Tanah Suci.

Rumah sakit haji di Pulau Cipir ini jadi tempat para jamaah cek kesehatan sebelum pergi ke Mekkah dan tempat karantina setelah pulang dari Mekkah.

Setelah usai cek kesehatan para jemaah itu akan kembali ke Pulau Onrust terlebih dahulu untuk berangkat ke Tanah Suci, waktu tempuh dari Pulau Onrust ke Tanah Suci kurang lebih hingga satu bulan.

Selepas pulang, jika tidak bisa membayar uang karantina sebagai konsekuensinya para jemaah harus menjadi budak. Kemudian, Ara menjelaskan penamaan gelar haji itu merupakan sebuah tanda yang dilakukan oleh Hindia-Belanda kepada masyarakat Indonesia.

Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust merupakan gugusan pulau yang berada di wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta. Pulau-pulau itu menyimpan jejak sejarah masa kolonial.Pulau Cipir Foto: Muhammad Lugas Pribady

Karena menurut mereka orang-orang yang telah berangkat ke Tanah Suci itu dianggap sudah terdoktrin oleh bangsa luar khususnya ketika di sana.

“Title haji ini untuk memudahkan karena kan saat itu udah mulai kan masuk kerajaan Islam yang menyebar ajarannya dan ditakutkan yang melakukan kudeta itu kebanyakan Muslim. Makanya nanti kalau ada kudeta yang dicari adalah haji dan hajah terlebih dahulu,” terangnya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Taman Wisata Alam Gunung Pancar, Akses Sempit dengan Beragam Destinasi



Sentul

Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Pancar, Sentul, Bogor jadi sasaran wisatawan yang ingin healing dari hiruk-pikuk Jakarta. Sayang, jalanan menuju Gunung Pancar sempit.

Dengan banyaknya destinasi di kawasan tersebut memudahkan pengunjung untuk memilih destinasi mana yang akan mereka pilih. Destinasi di wilayah Sentul itu memang jadi pilihan alternatif masyarakat di wilayah sekitar untuk berlibur dengan waktu terbatas.

detikTravel berkunjung ke TWA Gunung Pancar pada Sabtu (5/10/202) pagi. Saat itu, jalan tol Jakarta – Bogor lancar sehingga hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan.


Sesampainya di gerbang masuk TWA Gunung Pancar banyak pengunjung yang melakukan trekking. TWA Gunung Pancar memang banyak diminati pengunjung sebagai destinasi untuk trekking santai.

Untuk traveller yang ingin berkunjung ke kawasan itu dan mencoba beberapa destinasi di sana perlu berhati-hati saat dalam perjalanannya, terlebih menggunakan kendaraan roda empat. Karena, jalanan yang kecil serta kontur jalanan yang berkelok-kelok, juga naik-turun diperlukan ekstra konsentrasi.

Saat detikTravel berada di kawasan itu pun beberapa kali harus menepikan kendaraan sejenak untuk memberikan jalan pada kendaraan dari arah berlawanan. Di sepanjang jalan di TWA Gunung Pancar itu juga terdapat beberapa destinasi seperti pemandian air panas hingga area hutan pinus.

Di sana juga terdapat deretan warung-warung yang bisa didatangi pengunjung untuk menikmati alam Gunung Pancar. Selain pemandian air panas serta hutan pinus, di kawasan juga terdapat gua yang biasa jadi tujuan trekking oleh pengunjung atau ke Bukit Paniisan.

“Kalau Gunung Pancar tahu, tapi kalau daerah ini baru pertama ke sini. Lihat dari sosial media juga bagus tempatnya buat foto,” kata Ara, salah satu pengunjung, kepada detikTravel di area Gua Agung Garunggang.

Bagi pengunjung yang ingin bermain air juga di kawasan ini pengunjung bisa menikmatinya semisal di area Curug Leuwi Asih. Atau bisa sekadar bermain air di aliran Sungai Ciherang.

Selama perjalanan pemandangan alam di kawasan tersebut cukup hijau, banyak pepohonan serta kebun-kebun milik warga. Udara sejuk juga menjadi kenikmatan tersendiri bagi pengunjung yang datang ke kawasan ini.

Untuk bisa masuk ke kawasan Taman Wisata Alam Gunung Pancar ini pengujung akan dikenakan biaya Rp 5.000 per orang di hari kerja dan Rp 7.500 di akhir pekan serta hari libur. Kemudian untuk bisa menikmati destinasi lainnya pengunjung akan dikenakan biaya yang berbeda.

(upd/fem)



Sumber : travel.detik.com