Tag Archives: bajo

8 Tempat Wisata Labuan Bajo yang Menawarkan Pemandangan Indah


Jakarta

Labuan Bajo merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi para turis lokal hingga mancanegara. Sebab, ada banyak tempat wisata yang menawarkan pemandangan alam indah.

Salah satu daya tarik dari Labuan Bajo adalah keberadaan komodo di Pulau Komodo. Namun tak hanya itu, ada sejumlah daya tarik lain dari Labuan Bajo yang memukau, mulai dari keindahan bawah laut hingga view matahari terbenam. Bakal menyesal deh kalo nggak datang!

Lalu, apa saja tempat wisata di Labuan Bajo yang menawarkan pemandangan indah? Simak ulasannya dalam artikel ini.


Tempat Wisata Labuan Bajo yang Punya Pemandangan Indah

Ada sejumlah tempat wisata di Labuan Bajo yang memiliki pemandangan indah. Biar nggak penasaran, simak pembahasannya di bawah ini yang telah dirangkum detikTravel.

1. Pulau Komodo

Pulau Komodo di Taman Nasional Komodo, NTTKomodo, satwa endemik di Labuan Bajo (Suci Risanti Rahmadania/detikcom)

Kalau berkunjung ke Labuan Bajo, rasanya kurang lengkap jika tidak mampir ke Pulau Komodo. Di pulau ini terdapat hewan komodo, yakni kadal berukuran raksasa yang masih hidup sejak zaman pra sejarah.

Selain melihat komodo dari dekat, kamu juga bisa menikmati keindahan alam mulai dari hamparan pepohonan, perbukitan yang hijau, dan pantai yang bersih.

Pulau Komodo termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola Pemerintah Pusat. Agar bisa sampai ke sana, kamu dapat menggunakan kapal, speedboat, atau kapal phinisi mewah agar sampai di Taman Nasional Komodo.

Harga tiket masuk ke Taman Nasional Komodo dipatok sebesar Rp 250.000 hingga Rp 300.000 untuk turis lokal. Sedangkan untuk turis mancanegara dikenakan tarif Rp 400.000 sampai Rp 450.000.

2. Pulau Rinca

Selain ke Pulau Komodo, travelers juga bisa melihat komodo di Pulau Rinca. Selain melihat kadal raksasa, kamu juga bisa menikmati suasana alam yang begitu menakjubkan dari pulau ini.

Hamparan padang rumput yang luas, pasir pantai yang putih, dan barisan bukit yang indah membuat para wisatawan betah berlama-lama di sini. Jika kamu suka mendaki, disarankan datang menjelang sore hari agar bisa melihat sunset.

Sebagai informasi, Pulau Rinca didominasi oleh padang savana. Dengan cuaca yang terik, komodo di pulau ini memiliki sifat yang lebih ganas. Jadi, hati-hati selama di sana, ya.

Tertarik ke Pulau Rinca? Jika iya, maka siapkan uang sebesar Rp 50.000 per orang untuk tiket masuk. Perlu diingat, harga bisa berubah sewaktu-waktu.

3. Pulau Padar

Pulau Padar di TN Komodo, Manggarai Barat, NTTPulau Padar (Suci Risanti Rahmadania/detikcom)

Pulau Padar merupakan pulau terbesar ketiga di kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Pulau ini menawarkan pemandangan alam yang begitu indah dengan gugusan bukit yang artistik, hamparan pasir putih, dan laut biru.

Pulau Padar dapat dikunjungi wisatawan saat pagi dan sore hari. Waktu terbaiknya adalah di pagi hari, sebelum terik matahari menyengat. Jika beruntung, kamu bisa melihat gerombolan rusa di bibir pantai ketika turun dari kapal. Tenang saja, rusa-rusa tersebut jinak kok.

Salah satu spot terbaik untuk menikmati pemandangan alam di Pulau Padar terletak di puncaknya. Namun, detikers harus treking dahulu dengan menaiki sekitar 840 anak tangga. Siapkan stamina yang fit agar kamu tidak kelelahan di tengah perjalanan.

Wisatawan yang berkunjung ke Pulau Padar dikenakan tiket masuk sebesar Rp 120.000 per 1-5 wisatawan. Perlu diingat, harga bisa berubah sewaktu-waktu.

4. Pulau Kelor

Pulau selanjutnya yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke Labuan Bajo yakni Pulau Kelor. Di pulau ini, travelers bisa menikmati hamparan laut biru, pasir putih, dan hamparan bukit yang indah.

Kamu juga bisa menyaksikan seluruh keindahan alam dari atas bukit. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk bisa sampai di puncak. Namun hati-hati selama trekking karena jalannya licin dan tanjakannya cukup curam.

Untuk tiket masuk ke Pulau Kelor dikenakan biaya sebesar Rp 50.000 per orang. Terdapat juga tour guide yang akan menemanimu berkeliling Pulau Kelor dengan biaya mulai dari Rp 250.000.

5. Pantai Pink

Wisatawan melihat komodo di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.Pink Beach (Rivan Awal Lingga/Antara Foto)

Kalau berkunjung ke Pulau Komodo, sempatkan diri untuk datang ke Pantai Pink. Sesuai namanya, pasir pantainya berwarna merah muda atau pink, sehingga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.

Warna pink tersebut terbentuk secara alami oleh makhluk mikroskopis bernama foraminifera. Makhluk tersebut yang memberi pigmen warna merah pada koral, sebelum koral-koral tersebut hancur dan membawa warna merah menyatu dengan warna putih pasir, sehingga menciptakan kelir merah muda.

Selain bermain di area pantai, travelers juga bisa berenang di air laut yang biru. Tetap hati-hati saat berenang, ya!

6. Pulau Gili Lawa

Pulau Gili Lawa merupakan salah satu pulau yang berada di gugusan Pulau Komodo. Pulau tak berpenghuni ini memiliki view yang sangat indah, terutama saat sore hari.

Dari atas bukit, detikers bisa melihat pemandangan laut yang luas, hamparan bukit, dan matahari terbenam. Untuk bisa sampai ke puncak bukit, travelers harus trekking sekitar 30-60 menit.

Meski lelah, namun semua itu terbayar tuntas sesampainya di atas bukit. Dijamin, kamu nggak akan mau pulang karena pemandangan alamnya begitu menakjubkan!

7. Pulau Manjarite

Labuan Bajo Hari PertamaPulau Manjarite (Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Rasanya kurang lengkap kalau pergi ke Labuan Bajo namun tidak menikmati keindahan bawah laut. Jika detikers ingin snorkeling, cobalah datang ke Pulau Manjarite.

Air laut di sekitar pulau ini sangat jernih, sehingga wisatawan dapat dengan mudah melihat aneka ikan dan terumbu karang. Oh ya, terumbu karang di perairan ini juga cantik-cantik lho.

Selain melihat keindahan laut, kamu juga bisa menikmati pasir pantai yang putih. Cocok untuk kamu yang ingin menghabiskan waktu bersantai setelah snorkeling.

8. Bukit Sylvia

Satu lagi destinasi wisata di Labuan Bajo yang menawarkan pemandangan alam indah, yaitu Bukit Sylvia. Penamaan bulan ini didasari oleh nama hotel yang mencakup kawasan tersebut, yakni Sylvia Resort.

Pada awalnya, bukit ini hanya diperuntukan untuk tamu hotel yang menginap, tapi kini siapapun bisa berkunjung ke Bukit Sylvia. Dari atas bukit, travelers bisa menikmati pemandangan alam yang indah dan luas, hamparan rumput hijau, dan perbukitan.

Jaraknya juga tidak begitu jauh dari Bandara Internasional Komodo, yakni hanya sekitar 5 kilometer atau 10 menit dengan berkendara mobil. Jadi, sebelum berlayar ke Pulau Komodo, tak ada salahnya melipir sebentar ke Bukit Sylvia.

Labuan Bajo masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada dua cara menuju ke Labuan Bajo, yakni melalui pesawat terbang atau kapal laut.

Jika menaiki pesawat, detikers akan mendarat di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo. Harga tiketnya cukup bervariasi, tergantung dari waktu keberangkatan.

Misalnya berangkat dari Jakarta menuju Labuan Bajo saat akhir pekan, harga tiket pesawatnya mulai dari Rp 1,6 jutaan per orang. Apabila berangkat dari Denpasar, harga tiketnya mulai dari Rp 1,1 jutaan di hari yang sama.

Cara lainnya adalah dengan menggunakan kapal laut. Harga tiketnya memang jauh lebih murah, namun butuh waktu perjalanan yang lebih lama dibandingkan naik pesawat.

Jika ingin pergi ke Labuan Bajo dengan kapal laut, disarankan berangkat dari Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Harga tiketnya mulai dari Rp 280 ribuan per orang.

Itu dia delapan tempat wisata Labuan Bajo yang menawarkan pemandangan indah. So, apakah travelers tertarik berkunjung ke Labuan Bajo?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Pulau Babi, Pernah Tenggelam ‘Ditelan’ Tsunami



Sikka

Di sebelah utara pulau Flores, ada pulau bernama unik. Namanya pulau Babi. Tak banyak yang tahu pulau ini pernah tenggelam ‘ditelan’ tsunami.

Pulau Babi merupakan sebuah pulau kecil yang berlokasi di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau ini menyajikan berbagai keindahan alam yang belum banyak dieksplorasi orang.

Lokasi Pulau Babi

Pulau Babi berlokasi di desa Parumaan, kecamatan Alok Timur, kabupaten Sikka. Meski seperti tak berpenghuni, namun Pulau Babi ternyata ditinggali oleh 30 kepala keluarga.


Kebanyakan dari mereka bekerja mengolah lahan perkebunan dengan bertani, beternak, dan juga bekerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Pulau Babi Ditelan Tsunami Dahsyat Tahun 1992

Pada 12 Desember 1992, pulau Babi pernah tenggelam akibat bencana tsunami dan gempa bumi dahsyat yang terjadi di pulau Flores bagian timur.

Akibat bencana alam tersebut, 263 orang meninggal dari 700 penduduk di pulau tersebut. Pasca bencana tsunami terjadi, pemerintah pun mengosongkan pulau tersebut.

Seluruh warga pulau Babi lantas dipindahkan ke desa Nangahale, kecamatan Talibura. Namun banyaknya lahan kosong di pulau Babi, membuat beberapa warga akhirnya kembali menghuni pulau itu.

Masyarakat yang kembali tinggal di pulau Babi akhirnya membangun kembali rumah mereka yang letaknya tidak jauh dari pesisir pantai.

Namun sekarang, mereka membuat rumah tempat tinggal dengan bentuk rumah panggung sebagai ciri khas masyarakat Bajo. Rumah itu dibangun menggunakan bahan-bahan lokal.

Daya Tarik Wisata Pulau Babi

Bencana tsunami dan gempa bumi yang melanda Pulau Babi pada 1992 silam merusak kehidupan laut di daerah tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, laut pun mulai pulih kembali.

Patahan laut di perairan Pulau Babi akibat bencana alam tersebut mulai ditumbuhi terumbu karang dan hidup ikan-ikan yang indah. Sehingga pulau Babi sekarang menjadi salah satu destinasi menyelam yang menakjubkan di Kabupaten Sikka.

Berikut 3 Daya Tarik Wisata Pulau Babi:

· Akibat bencana alam gempa bumi dan tsunami, tercipta patahan yang berbentuk jurang dengan panjang 100 meter dan kedalaman 10 hingga 20 meter. Patahan ini bisa dilihat jelas dari atas perahu motor

· Keindahan alam bawah laut, di mana pada dasar laut terdapat koral-koral berwarna, serta biota laut menarik lainnya.

· Pulau ini sangat cocok bagi penggemar olahraga air karena Anda bisa melakukan kegiatan snorkeling dan diving. Dengan jernihnya air laut dan kekayaan bawah laut, tentunya menjadikan tempat ini populer di kalangan wisatawan

Pesona bawah laut Pulau Babi juga pernah menjadi lokasi pengibaran bendera pada peringatan HUT RI yang ke-75, dengan melibatkan 22 penyelam lokal yang bersertifikat.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Labuan Bajo Hanya Ramai di Libur Musim Panas, Perlu Event Besar



Manggarai Barat

Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) NTT, Oyan Kristian, menyoroti kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo yang cenderung ramai hanya pada bulan Juni hingga Agustus setiap tahunnya. Ia menyebut kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi semua pihak.

“Kita melihat trennya sama dari tahun ke tahunnya, bahwa destinasi kita ini kunjungan hanya terfokus di bulan Juni, Juli, Agustus atau kalaupun di September. Ini PR besar, kita hidup bukan hanya di bulan itu,” kata Oyan dalam Musyawarah Cabang (Muscab) Asita Manggarai Barat di Labuan Bajo, Sabtu (21/6/2025).

Kegiatan itu dihadiri Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat Stefanus Jemsifori, Plt. Direktur BPOLBF, Kepala Balai Taman Nasional Komodo Hendrikus Rani Siga, serta sejumlah asosiasi pelaku pariwisata.


Menurut Oyan, pelaku pariwisata, pemerintah daerah, BPOLBF, dan seluruh pemangku kepentingan harus duduk bersama mencari solusi. Salah satunya dengan menggelar event besar di luar periode musim panas wisatawan Eropa.

“Jadi kita perlu duduk bersama membahas. Asita, Pemda, BPOLBF mungkin kita perlu membuat event besar, kegiatan yang menginisiasi destinasi ini agar tidak hanya ramai dikunjungi pada periode summer holiday itu,” ujarnya.

Oyan menjelaskan wisatawan Eropa masih menjadi pasar utama Labuan Bajo. Mereka cenderung datang saat musim liburan musim panas di Eropa, yakni antara Juni hingga September. Karena itu, perlu ada upaya mengisi kekosongan kunjungan di luar periode tersebut.

“Pariwisata kita ini marketnya Eropa, katakanlah yang menjadi main market. Jadi mereka akan datang di periode Juni, Juli, Agustus dan September, paling tinggi Juli dan Agustus,” jelas Oyan.

Ia mendorong agar upaya promosi dan pengembangan event juga menyasar bulan-bulan lain seperti Januari hingga Maret, agar okupansi hotel, kapal wisata, hingga restoran tetap terisi.

“Kita perlu duduk bersama bagaimana agar Januari, Februari, Maret dan bulan-bulan lain itu keterisian hotel, kapal-kapal wisata, restoran itu tetap ramai,” lanjutnya.

Artikel ini sudah tayang di detikBali. Klik di sini untuk membaca selengkapnya.

(dpw/ddn)



Sumber : travel.detik.com