Tag Archives: bali utara

Mengejar Lumba-lumba di Laut Bali Utara



Jakarta

Aktivitas seru yang selalu diminati wisatawan di Bali Utara adalah melihat lumba-lumba. Dari atas kapal, traveler bisa melihat mamalia pintar itu berenang berkelompok, lho.

Traveler datang saja ke Pantai Lovina. Bila ditempuh dari Bandara i Gusti Ngurah Rai, butuh waktu sekitar 2,5-3 jam dengan jarak hampir 100 km dengan mobil menuju titik ini.

Adapun waktu untuk melihat lumba-lumba berenang ini adalah pagi hari. detikTravel berkesempatan juga naik kapal dari Lovina Beach Club.


Kami berangkat pada pukul 06.00 Wita di hari Sabtu (11/8/2024) pagi. Setelah 10 menit kapal melaju, kami melihat puluhan perahu lain juga datang dari arah berbeda menuju titik melihat lumba-lumba.

Kagetnya saya ternyata ramai sekali yang bersemangat melihat lumba-lumba di Lovina. Mungkin saat itu lebih seratus perahu motor melaju membawa turis.

Perahu yang kami naiki ini mampu membawa 15 orang. Mengenakan life jacket, kami berpegangan ke perahu supaya tetap stabil melewati ombak.

Pantauan detikTravel, perahu lain yang datang juga membawa 2-7 turis di dalamnya. Jadi bisa bayangkan betapa ramainya ratusan kapal ini ‘berburu lumba-lumba’ yang menggemaskan itu.

Setelah 25 menit di laut, barulah kami melihat titik punggung beberapa ekor lumba-lumba. Teriakan turis yang terlalu bersemangat saling bersautan di tengah deru kapal.

Namun lumba-lumba ini hanya muncul sekilas saja. Ya hanya 3 detik lalu tak muncul lagi.

Perahu kami pun terus melaju, begitu juga dengan ratusan perahu lain. Para pengemudi mencoba mencari titik lain untuk memuaskan penumpang nya yang haus menonton lumba-lumba.

Sekitar 10 menit kemudian, muncullah beberapa lumba-lumba di belakang perahu kami. Sungguh kami excited dan merasa beruntung sekali mendapatkan momen ini. Namun 3 detik kemudian, kawanan lumba-lumba itu hilang.

Dari ratusan perahu yang melaju, kami salah satu penumpang yang beruntung bisa bertemu lumba-lumba. Tak patah arang, perahu-perahu lain pun masih mencoba menuju titik lain.

Namun setelah 10 menit, tak jua ada penampakan kawanan lumba-lumba tersebut. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke pantai.

Berapa biaya Dolphin tour di Lovina Beach Club?

Traveler yang ingin merasakan sensasi yang sama, hanya perlu membayar Rp 125.000 nett/pax, untuk dewasa dan minimal 10 pax ( untuk 1 kapal). Bagi yang membawa anak-anak 1-2 tahun gratis.

Selain melihat lumba-lumba, di sini juga ada aktivitas seru lainnya seperti snorkeling, jet ski, shark boat hingga frenzy boat dan memancing.

Untuk pemesanan traveler bisa melakukan secara online. Untuk kemudahan, disarankan traveler untuk menginap juga di hotel terdekat karena kapal berangkat pagi hari.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Oleh-oleh Bali Utara: Arak dan Gula Lontar



Jakarta

Traveler pecinta minuman beralkohol, bisa nih merasakan arak lokal di Bali Utara, tepatnya di Desa Les. Desa yang masuk ke dalam nominasi ADWI 2024 ini punya rumah penyulingan arak yang bisa kita datangi.

Dapoer Bali Moela di Desa Les bisa jadi pilihan traveler bila berkeliling Bali Utara. Tak hanya menyajikan masakan khas Bali nan otentik, namun di sini juga ada penyulingan arak Bali lho.

Beberapa waktu lalu detikcom bersama Kemenparekraf datang ke Desa Les dan melihat langsung bagaimana proses pembuatan arak dari buah lontar.


“Selamat datang di Dapoer Moela. Kami adalah restoran tradisional Bali yang menyajikan masakan Bali, terutama khas Desa Les. Di sini konsepnya rumahan dan apa yang didapat nelayan, itulah yang kami masak,” Sri, salah satu staf di Dapoer Molea, menyapa rombongan kami.

Sri pun mengajak kami menuju dapur pembuatan arak Bali. Terlihat beberapa tungku menyala mendidihkan arak-arak yang berada di dalam kuali besar. Kami juga melihat panci-panci besar yang tertutup rapat tersambung dengan bambu.

Penyulingan arak di Desa LesAir nira yang sudah difermentasi dididihkan Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Sri menjelaskan bahwa mereka memproduksi arak dari lontar.

“Pohon lontar ada dua, jantan dan betinanya. Nah keduanya sama-sama boleh diproses menjadi tuak manis maupun tuak wayah. Namun yang membedakan adalah prosesnya. Yang lontar jantan itu sudah enak rasanya, namun yang lontar betina itu lebih enak lagi rasanya. Tapi kami di sini pakai lontar jantan,” kata Sri.

Setelah air nira didapatkan, dilanjutkan dengan fermentasi dengan kayu kesambi dan cuka. Setelah seharian, air nira pun diangkat lalu dimasak hingga menjadi kental. Nah, ini adalah proses pembuat gula lontar.

“Bila ingin membuat arak, air niranya difermentasi dengan sabuk kelapa, lalu diletakkan di dalam bambu. Air nira didiamkan selama 24 jam, setelah itu barulah dimasak hingga mendidih,” kata Sri.

“Setelah buih-buihnya hilang, air niranya ditutup rapat sekali. Nah, dalam proses ini, uap nya inilah yang menjadi tetesan arak yang kita tampung di dalam botol,” ujar Sri kemudian menunjukkan botol kaca yang menampung arak dari bambu yang terhubung dengan panci.

Penyulingan arak di Desa LesPenyulingan arak di Desa Les (Syanti Mustika/detikcom)

Untuk memenuhi arak sebotol, butuh waktu sekitar satu jam. Serta kadar alkohol dalam tiap botol ternyata bisa berbeda-beda lho.

“Dalam 30 liter air nira yang menjadi arak hanya 4 botol saja, atau sekitar 3 liter. Nah, dalam botol pertama (sulingan awal) kadar alkoholnya yang paling tinggi, yaitu 45%-55%. Di botol kedua kadarnya akan turun 40%-45%. Hingga nanti botol keempat kadar alkoholnya Rp 20%. Nah, setelah itu kita setop,” dia menambahkan.

Penyulingan arak di Desa LesPenyulingan arak di Desa Les (Syanti Mustika/detikcom)

Sri mengatakan api dari tungku juga harus dijaga demi menjaga rasa dari arak. Butuh kesabaran dalam membuat arak yang berkualitas.

“Untuk mengetahui kadar alkohol, kita menggunakan alkohol meter. Masih manual,” ujarnya.

Bisakah arak Bali ini dibawa pulang?

Sri memaparkan bahwa arak produksi mereka juga dijual kepada tamu-tamu yang datang. Setiap turis yang datang akan diajak ke tempat penyulingan sebagai kegiatan experience.

Sebotol arak Bali ini dijual mulai Rp 150 ribu per botolnya (750 ml). Semakin tinggi kadar alkoholnya, semakin mahal.

Sedangkan gula lontar atau juruh dijual Rp 70 ribu (600 ml).

“Untuk nikmatnya, arak semakin lama di simpan, semakin enak. Simpan saja disuhu ruang. Juga bisa tambahkan es batu bila ingin minum dingin. Bila kamu tambahkan garam, rasanya nanti mirip tequila. Coba juga dicampur gula lontar, makin enak lagi,” kata Sri.

Bagi traveler yang tak minum alkohol, gula lontar bisa juga nih jadi pilihan dibawa pulang. Gula lontar bisa digunakan untuk masak dan juga pengganti gula pasir.

“Gula lontar bisa digunakan banyak hal, salah satunya bisa pengganti gula pasir. Bisa dicampur teh, kopi dan lainnya. Juga, bisa digunakan untuk pengganti MSG. Kami di sini menggunakan garam dan gula lontar saja sebagai penyedap, tak pakai MSG,” ujar Sri.

“Gula lontar itu tak hanya manis saja, namun juga ada rasa asam dan pahitnya. Jadi cocok bila dijadikan penyedap masakan,” dia menegaskan.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tahu Nggak, Rumah Ibu Bung Karno Ada di Bali Utara



Jakarta

Mungkin tak banyak orang tahu, jika ibu presiden pertama RI, Bung Karno berada di Bali. Rumah kecil itu sekarang telah menjadi cagar budaya.

Ibu Sukarno, Ni Nyoman Rai Serimben, berasal dari Buleleng, tepatnya berada di Dusun Bale Agung, Desa Paket Agung. detikcom berkesempatan datang ke kawasan Soekarno Heritage dan bertemu dengan Made.

Dia mengatakan di kawasan itu terdapat beberapa keluarga yang hidup seperti biasanya. Tidak ada pengamanan khusus atau larangan masuk kawasan cagar budaya ini. Namun, kawasan Soekarno Heritage tidak dibuka untuk umum.


Andai traveler ingin datang, harus ada pemberitahuan sebelumnya.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng (Syanti Mustika/detikcom)

Sembari berkeliling, detikcom melihat beberapa rumah dan penghuninya saling bercengkrama. Juga terdapat lumbung padi yang masih berdiri kokoh dan digunakan masyarakat untuk menyimpan di musim panen.

Terlihat sebuah rumah panggung, yang dikatakan sebagai rumah tinggalnya kakek Soekarno yaitu Nyoman Pasek bersama istrinya Ni Made Liran, serta Made Pasek dan Nyoman Rai Srimben.

Naik ke rumah ini, kita bisa melihat silsilah lengkap dari keluarga ibunya Bung Karno. Terdapat sebuah papan yang menampilkan foto dan pohon silsilah keluarga mereka.

Di dinding-dinding rumah juga terpampang foto-foto Bung Karno bersama ibunya. Traveler juga bisa melihat patung Ni Nyoman Rai Serimben dengan pose duduk. Patung ini posisinya dekat dinding, namun berada di tengah-tengah.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng (Syanti Mustika/detikcom)

Made pun menceritakan asal mula pertemuan ibu Bung Karno dengan ayahnya. Berasal dari keluarga beradat dan mengurus keagamaan, Serimben tak bisa sembarangan menikah. Sebagaimana adat Bali, tak boleh orang luar Bali mempersunting dirinya.

Rai Serimben di mata masyarakat sekitar dikenal sebagai wanita santun, gemar menari, dan punya keahlian menenun. Rai Serimben merupakan anak kedua dari pasangan I Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Diperkirakan ibunda Bung Karno itu lahir sekitar tahun 1881.

Pertemuan kedua orang tua Bung Karno

Singkat cerita, pada tahun 1890, Nyoman Rai Serimben bertemu dengan Raden Soekeni Sosrodiharjo, yang dia saat itu ditugaskan sebagai guru di Sekolah Rakyat (SR) 1 Singaraja (kini SDN 1 Paket Agung) oleh pemerintahan kolonial. Dia jatuh hati melihat Serimben menari.

” Dia jatuh cinta pada Serimben saat melihat Serimben menari rejang di Pura Bale Agung, tepat saat umanis galungan. Namun, mereka berdua sadar ada adat yang tidak bisa dilawan,” kata Made.

Lanjutnya, dua sijoli yang dimabuk cinta ini memutuskan untuk kawin lari. Tindakan Serimben ini sudah jelas melanggar aturan Bale Agung dimana tidak boleh menikah dengan ‘orang luar’.

Dikutip dari website Kemendikbud, pernikahan itu pun menyebabkan Raden Sukemi harus menjalani persidangan.

Pemerintah Belanda menganggap Sukemi menyebabkan kegaduhan di masyarakat, kegelisahan para tokoh, dan kekacauan pada sistem tatanan adat di Bale Agung. Dia dijatuhi sanksi denda sebesar 40 ringgit dan denda itu akhirnya dibayar Nyoman Rai Serimben dengan perhiasan yang ia miliki.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Sejak kawin lari, Serimben pun tak pernah pulang ke rumah gadisnya di perbekelan Bale Agung. Soekeni dan Serimben akhirnya tinggal di wilayah perbekelan Banjar Paketan tepatnya di rumah Pan Sedana Mertia.

Rumah yang ditinggali Soekeni dan Serimben sempat roboh karena usianya yang sudah terlampau tua. Namun rumah itu kembali dibangun dalam bentuk yang persis sama, hanya bahan bangunannya yang berbeda.

Semasa tinggal di rumah tersebut, Nyoman Rai Serimben melahirkan anak pertamanya, yakni Soekarmini. Raden Soekeni Sosrodiharjo, Nyoman Rai Serimben, dan Soekarmini akhirnya pindah ke Surabaya pada tahun 1900. Hingga akhirnya ia melahirkan Sukarno pada 6 Juni 1901.

Serimben pun tak pernah kembali lagi ke rumah gadisnya hingga mangkat pada Jumat Kliwon, 12 September 1958.

Megawati dan Puan Maharani pernah berkunjung

Made juga mengatakan putrinya Bung Karno, Megawati pernah datang ke rumah neneknya ini, Begitu juga Puan Maharani.

“Dulu. Sudah lama sekali Megawati datang ke sini. Puan juga pernah datang,” kata Made.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Konservasi Penyu di Bali Utara, Ada Ratusan Bayi Penyu!



Jakarta

Biar liburan di Bali Utara semakin seru, cobain deh datang ke penangkaran penyu yang ada di Desa Pemuteran ini. Kamu bisa melihat bagaimana telur-telur penyu itu diselamatkan hingga dilepaskan.

Tempatnya tidaklah besar. Lokasinya berada di Reef Seen Diver’s Resort Desa Pemuteran, Gerokgak. Di sana terdapat beberapa kolam yang berisi ratusan anak-anak penyu yang berenang ke sana ke mari.

‘Proyek Penyu’ tertulis besar di papan yang berada di tengah-tengah kawasan kolam. Yap, sudah lebih 30 tahun proyek ini berjalan di Desa Pemuteran.


“Kita di sini ada tiga jenis penyu, yaitu penyu hijau, penyu olive dan penyu sisik. Penangkaran ini telah ada sejak tahun 1991 dan setiap tahunnya ribuan penyu yang kita lepas dari sini,” kata Ina, salah satu tim Proyek Penyu, kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Proyek Penyu di Desa Pemuteran, BulelengKepala Desa Pemuteran bersama Chris Brown dan Ina (Syanti Mustika/detikcom)
Proyek Penyu di Desa Pemuteran, BulelengProyek Penyu di Desa Pemuteran, Buleleng (Syanti Mustika/detikcom)

Proyek Penyu ini diinisiatif pertama kali oleh Chris Brown, warga Australia yang datang ke Bali di tahun 1990-an. Dia resah melihat telur-telur penyu dijual belikan tanpa masyarakat tahu nilai hidup dari penyu yang masuk ke dalam daftar terancam punah ini.

Lina pun mengatakan bahwa di sini terdapat dua cara penetasan telur, yaitu dengan ditanam di pasir dan inkubator.

“Kita dari dulu menetaskan telur dengan menanamnya di pasir. Dan tingkat keberhasilan dari telur yang menetas adalah 65% saja. Namun, bila menggunakan inkubator, keberhasilan telur mentas mencapai 95%. Kita menggunakan inkubator baru 2 tahun ini, dan bila inkubator penuh, sebagiannya akan kita tanam di tanah,” kata Lina.

Telur-telur penyu ini didapatkan dari nelayan-nelayan yang datang langsung ke sini. Nanti, para nelayan akan mendapatkan insentif terhadap telur yang mereka serahkan.

“Jadi kita ambil telur dan kasih santunan ke nelayan. Lumayan banyak yang kita dapatkan, tahun ini bulan Januari sampai Juli kita udah dapat 2.500 telur,” dia menambahkan.

Proyek Penyu di Desa Pemuteran, BulelengTelur-telur penyu di dalam inkubator (Syanti Mustika/detikcom)

Setelah telur-telur menetas, mereka pun dipindahkan ke dalam kolam-kolam dan dirawat di sana. Setelah 2-3 bulan, barulah tukik ini dilepaskan ke laut.

“Biasanya, di kehidupan alaminya tukik yang menetas akan langsung berenang ke laut. Namun daya survival mereka sangat rendah dan rentan di makan predator. Karena itulah kita rawat dia hingga usia bisa mencari makan sendiri,” kata dia.

Bayi-bayi penyu ini diberi makan setiap harinya sekali sehari. Kolam mereka pun juga dibersihkan berkala hingga mereka tidak asing bila dipindahkan ke laut.

Untuk bisa melihat penyu-penyu ini dan belajar tentang mereka, traveler hanya perlu membayar Rp 20 ribu saja (untuk domestik) dan Rp 40 ribu (untuk mancanegara). Tiket ini berlaku untuk seminggu, jadi kamu bisa bolak-balik datang ke sini selama satu minggu.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Rekomendasi Wisata di Bali utara



Jakarta

Bali Utara punya banyak destinasi wsiata ciamik yang ingin liburan seru. Mulai dari bawah lautnya yang memukau hingga desa wisatanya yang kaya.

detikcom telah merangkum pada Jumat (23/8/2024) ragam tempat wisata di Bali utara yang bisa kamu kunjungi dan pamerkan di media sosial.

1. Handara Gate


Gerbang Handara BaliGerbang Handara Bali (Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Handara Gate berada di Jln. Raya Singaraja-Denpasar, Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Bila ditempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai butuh waktu empat jam untuk ke sini.

Handara Gate yang ikonik ini begitu viral di media sosial. Saking ciamiknya foto di sana, sering kali netizen menyebutkan ‘Gate to the Heaven’ atau Gerbang Surga.

Sejatinya, Gerbang ini merupakan pintu masuk menuju Handara Golf & Resort. Sesuai dengan namanya, ini adalah tempat ciamik untuk para pecinta golf bermain dan menginap.

Bila traveler hanya ingin berfoto di gerbangnya, cukup membayar Rp 30 ribu untuk durasi foto selama tiga menit. Di saat weekend, sangat ramai turis yang mengantre untuk hunting foto di sini.

Tidak ada jam operasional, traveler bisa datang kapanpun karena diizinkan foto ‘semenjak terang hingga gelap’ di sana.

2. Desa Wisata Pemuteran

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Desa Pemuteran lho. Mulai dari snorkling hingga trekking.

Di desa ini terdapat konservasi terumbu karang yang pastinya membuat bawah lautnya menjadi cantik. Kamu yang suka snorkling cocok banget nih datang dan belajar tentang terumbu karang di sini.

Di desa ini juga ada Proyek Penyu, penangkaran penyu yang dikelola sebuah organisasi yang menggandeng masyarakat lokal. Telur-telur penyu yang didapatkan nelayan akan dikumpulkan di sini hingga dikembangbiakkan. Nanti setelah berumur 2-3 bulan, tukik-tukik ini dilepaskan ke laut. Bila kamu beruntung, bisa nih berpartisipasi dalam pelepasan tukik. Sayang sekali, tidak ada waktu khusus untuk aktivitas pelepasan ini.

Desa Pemuteran memiliki pantai berpasir hitam. Walau begitu, sore-sore di sini bersantai juga bisa jadi keigatan seru. Setelah puas snorkling melihat aneka terumbu karang, kamu bisa bersantai menikmati es kelapa di pinggir pantai yang tenang.

Nah, traveler yang tak bisa snorkling, bisa nih trekking ke Bukit Batu Kursi. Tempat ini rumah bagi kawasan suci bernama Pura Batu Kursi yang berada tepat di puncak bukit. Bukit ini memiliki ketinggian sekitar 800 meter. Traveler dapat menyusuri jalan setapak berupa susunan tangga batu untuk mencapai puncak bukit.

3. Desa Les

Penyulingan arak di Desa LesPenyulingan arak di Desa Les (Syanti Mustika/detikcom)

Banyak desa wisata yang bisa kita kunjungi di Bali Utara, salah satunya adalah Desa Les. Di sini traveler bisa juga snorkling, trekking hingga melihat penyulingan arak Bali.

Desa Les di Tejakula, Buleleng masuk ke dalam 50 besar ADWI 2024. Desa ini kaya akan produksi pertanian seperti lontar, aneka buah-buahahn, hingga kaya akan hasil ikan lautnya.

Dari dulu, Desa Les memang ramai dikunjungi oleh turis asing. Namun dengan berkembangnya informasi dan sosial media, Desa Les mulai ramai dikunjungi turis domestik.

Traveler di sini juga bisa melihat proses penyulingan arak dan gula lontar di Dapoer Moela. Kamu bisa melihat banyak kendi-kendi arak yang siap diminum para tamu yang datang.

Setiap turis yang datang akan diajak ke tempat penyulingan sebagai kegiatan experience. Sebotol arak Bali ini dijual mulai Rp 150 ribu per botolnya (750 ml). Semakin tinggi kadar alkoholnya, semakin mahal. Sedangkan gula lontar atau juruh dijual Rp 70 ribu (600 ml).

4. Pantai Lovina

Lumba-lumba di Pantai LovinaLumba-lumba di Pantai Lovina (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Pantai Lovina dikenal sebagai tempat konservasi lumba-lumba liar. Adapun atraksi wisata yang ditawarkan adalah melihat kawanan lumba-lumba ini berenang di lautan.

Bila ditempuh dari Bandara i Gusti Ngurah Rai, butuh waktu sekitar 2,5-3 jam dengan jarak hampir 100 km dengan mobil menuju titik ini. detikcom pun beberapa waktu lalu berangkat dari Lovina Beach Club.

Traveler bisa menyewa perahu nelayan atau membeli paket wisata tur lumba-lumba ini. Adapun harganya Rp 125 ribu per pax, dan satu kapal itu bisa membawa 10 penumpang.

Traveler yang ingin merasakan sensasi yang sama, hanya perlu membayar Rp 125.000 nett/pax, untuk dewasa dan minimal 10 pax ( untuk 1 kapal). Bagi yang membawa anak-anak 1-2 tahun gratis.

Selain melihat lumba-lumba, di sini juga ada aktivitas seru lainnya seperti snorkeling, jet ski, shark boat hingga frenzy boat dan memancing.

Untuk pemesanan traveler bisa melakukan secara online. Untuk kemudahan, disarankan traveler untuk menginap juga di hotel terdekat karena kapal berangkat pagi hari.

5. Air Terjun Banyumala

Air Terjun Banyumala, Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Foto: Made Wijaya KusumaAir Terjun Banyumala, Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng Bali. (Made Wijaya Kusuma Foto)

Banyak spot air terjun yang bisa didatangi di Bali Utara, dan salah satunya adalah Air terjun Banyumala. Destniasi ini berada di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Bila ditempuh dari Ubud hampir 2 jam berkendara motor. Dan bila ditempuh dari Pura Ulun Danu Beratan hanya 30 menit saja.

Adapun tiket masuk ke air terjun Rp 20 ribu per orang. Untuk sampai ke air terjun kamu harus trekking sekitar 15-20 menit, tergantung kekuatan kaki mu.

Walau sedikit melelahkan, percayalah lelahmu terbayarkan dengan indahnya air terjun ini. Air terjun setinggi 20 meter ini mengalir deras di antara rerumputan hijau yang menghiasi tebing air.

6. Pura Ulun Danu Bratan

Pura Ulun Danu merupakan salah satu pura yang populer di kalangan wisatawan di Bali. Pura ini berada di Danau Beratan, Tabanan. Bila ditempuh dari Ubud sekitar 50 menit perjalanan berkendara.

Adapun daya tarik dari pura ini adalah keindahan lokasi pura yang dikelilingi pegunungan dan danau. Serta lokasinya yang ada di dataran tinggi membuat udara di sini terasa sejuk di saat siang hari. Adapun tiket masuk ke pura yaitu Rp 40 ribu saat weekeday, Rp 50 ribu saat weekend.

Sejarahnya, Pura Ulun Danu Beratan dibangun pada tahun 1634 oleh I Gusti Agung Putu. Fungsinya sebagai tempat pemujaan Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa).

Selain melihat pemandangan indah ini, aktivitas lain yang bisa kamu lakukan di sini adalah menikmati wahana air. Kamu bisa berkeliling Danau Beratan dengan speed boat atau bebek air. Di sini juga ada penyewaan perahu lho.

7. Danau Buyan

Danau Buyan adalah salah satu danau terbesar di Bali. Terletak di dataran tinggi Bedugul, danau ini dikelilingi oleh hutan lebat dan barisan bukit, menciptakan latar belakang yang indah dan menyegarkan.

Kawasan wisata Danau Buyan berlokasi di Desa Pancasari, tepatnya di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Akses menuju Danau Buyan sangat mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jika traveler berangkat dari Denpasar, jarak tempuhnya sekitar 57 km dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam.

Adapun kegiatan menarik yang bisa dilakukan di sini yaitu kemping, memancing, trekking, hingga piknik.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Agar Bali Utara Tidak Lagi Menjadi Nomor Dua



Jakarta

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama pemerintah Bali berusaha meratakan penyebaran turis dengan cara memperkenalkan Bali utara. Salah satu faktor yang menyebabkan tidak meratanya wisatawan ini adalah akses menuju lokasi.

Bali masuk dalam daftar destinasi wisata favorit dunia yang dinyatakan mengalami overtourism. Salah satu fakta yang mencolok adalah macet parah di jalan menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada akhir tahun lalu.

Tetapi, pemerintah RI dan Bali tidak sepakat. Mereka kompak menyebut kondisi itu disebabkan wisatawan yang tidak merata di Pulau Dewata. Turis-turis lebih menyukai pelesiran dan berwisata di kawasan Bali selatan, mulai dari Seminyak, Kuta, Legian, Jimbaran, Benoa, Nusa Dua, Uluwatu, hingga Pecatu.


Area itu memang lebih mudah dijangkau dari bandara. Hanya diperlukan waktu tempuh satu jam dari gerbang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan berkendara.

Fasilitas juga lebih komplet. Banyak pilihan beach club, hotel, kafe, dll.

Nah, kini pemerintah sedang mengupayakan pemerataan wisata di Bali. Sejumlah pembangunan dikebut.

Destinasi wisata di bali utara diklaim tidak kalah dari Bali selatan. Di antaranya, Pantai Lovina dengan konservasi lumba-lumbanya, Handara Gate dengan gerbang eksotisnya, dan Desa Pemuteran dengan konservasi penyu dan karangnya.

Infografis wisata Bali utara 1Infografis wisata Bali utara 1 (infografis detikcom)

Tetapi, satu kelemahan Bali utara yang bikin wisatawan menomorduakan kawasan itu adalah jarak yang jauh dari bandara. Sudah begitu jalanan sempit.

“Tentu kita harapkan ada aksesibilitas yang lebih cepat. Sekarang kan sedang dibangun apa namanya tol yang sedang dalam proses Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi, nanti ini bisa mempercepat,” kata Gede Dody Sukma Aktiva Askara, kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, beberapa waktu lalu

“Kemudian untuk mempercepat aksesibilitas kita di Bali Utara juga dari sisi angkutan darat itu sudah dibangun jalan pintas dari Bedugul menuju kota Singaraja dalam kawasan Lovina. Jadi jalan yang berkelok itu sudah dipangkas-pangkas kelokannya, tikungan itu beberapa dipangkas dari 16 tikungan menjadi 5 tikungan dengan derajat yang landai. Nah ini akan terus sampai dengan ke bawah dibangun, mudah-mudahan berkelanjutan sehingga sampai Kota Singaraja penumpang tidak mabuk,” ujar Dody.

Andai rencana pemerintah dijalankan, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono memastikan proyek Tol Gilimanuk-Mengwi akan dilanjutkan pada September 2024.

Ramai didatangi turis Eropa

Berbeda dengan kawasan Bali Selatan yang ramai hiburan, Bali utara lebih cenderung tenang dan berfokus kepada wisata konservasi. kegiatan hiking, diving dan planting pun menjadi andalan mereka untuk menarik turis ke sana.

Faktanya, wisata Bali Utara ternyata diminati oleh wisatawan Eropa. Dari tahun ke tahun, turis asing paling banyak datang dari Eropa.

“Paling banyak turis Eropa. Kalau yang tertinggi saat ini adalah dari Prancis. Selanjutnya diikuti turis China. Bulan ini saja jumlah turis Prancis 9.000, sedangkan turis China ada 6.000 orang,” kata Gede Dody

Angka itu diakui Dody sangat kecil jika dibandingkan dengan kedatangan turis asing ke Bali.

“Kalau kita bandingkan dengan kedatangan wisatawan melalui Bandara Ngurah Rai itu kita ada pada posisi 8%. Kemudian dari yang menginap Land of stay-nya itu rata-rata 2,5 persen saka,” kata dia.

Destinasi berwisata

Bali Utara punya banyak destinasi wisata ciamik yang ingin liburan seru. Mulai dari bawah lautnya yang memukau hingga desa wisatanya yang kaya.

1. Handara Gate, gerbang iknoik yang viral di media sosial

Handara Gate berada di Jln. Raya Singaraja-Denpasar, Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Bila ditempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai butuh waktu empat jam untuk ke sini.

Handara Gate yang ikonik ini begitu viral di media sosial. Saking ciamiknya foto di sana, sering kali netizen menyebutkan ‘Gate to the Heaven’ atau Gerbang Surga.

2. Desa Wisata Pemuteran

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Desa Pemuteran lho. Mulai dari snorkling hingga trekking.

Di desa ini terdapat konservasi terumbu karang yang pastinya membuat bawah lautnya menjadi cantik. Kamu yang suka snorkling cocok banget nih datang dan belajar tentang terumbu karang di sini.

Di desa ini juga ada Proyek Penyu, penangkaran penyu yang dikelola sebuah organisasi yang menggandeng masyarakat lokal. Telur-telur penyu yang didapatkan nelayan akan dikumpulkan di sini hingga dikembangbiakkan. Nanti setelah berumur 2-3 bulan, tukik-tukik ini dilepaskan ke laut.

Desa Pemuteran memiliki pantai berpasir hitam. Walau begitu, sore-sore di sini bersantai juga bisa jadi kegiatan seru.

3. Desa Les

Desa Les juga punya banyak aktivitas seru, mulai snorkling, hingga melihat penyulingan arak.

4. Pantai Lovina

Lumba-lumba di Pantai LovinaLumba-lumba di Pantai Lovina (aRifkianto Nugroho/detikcom)

Pantai Lovina dikenal sebagai tempat konservasi lumba-lumba liar. Adapun atraksi wisata yang ditawarkan adalah melihat kawanan lumba-lumba ini berenang di lautan.

Bila ditempuh dari Bandara i Gusti Ngurah Rai, butuh waktu sekitar 2,5-3 jam dengan jarak hampir 100 km dengan mobil menuju titik ini. detikcom pun beberapa waktu lalu berangkat dari Lovina Beach Club.

5. Air Terjun Banyumala

Banyak spot air terjun yang bisa didatangi di Bali Utara, dan salah satunya adalah Air terjun Banyumala. Destniasi ini berada di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Bila ditempuh dari Ubud hampir 2 jam berkendara motor. Dan bila ditempuh dari Pura Ulun Danu Beratan hanya 30 menit saja.

6. Pura Ulun Danu Bratan

Pura Ulun Danu di BaliPura Ulun Danu di Bali Foto: (Teguh Tofik Hidayat/d’Traveler)

Pura Ulun Danu merupakan salah satu pura yang populer di kalangan wisatawan di Bali. Pura ini berada di Danau Beratan, Tabanan. Bila ditempuh dari Ubud sekitar 50 menit perjalanan berkendara.

Adapun daya tarik dari pura ini adalah keindahan lokasi pura yang dikelilingi pegunungan dan danau. Serta lokasinya yang ada di dataran tinggi membuat udara di sini terasa sejuk di saat siang hari. Adapun tiket masuk ke pura yaitu Rp 40 ribu saat weekeday, Rp 50 ribu saat weekend.

7. Danau Buyan

Danau Buyan adalah salah satu danau terbesar di Bali. Terletak di dataran tinggi Bedugul, danau ini dikelilingi oleh hutan lebat dan barisan bukit, menciptakan latar belakang yang indah dan menyegarkan.

Catatan nih untuk traveler, tak cukup semalam atau dua malam saja berkunjung ke Bali Utara. Karena jarak tempat wisatanya cukup memakan waktu.

Namun, bila kamu ingin datang, dan merasakan semua keseruan di Bali Utara, setidaknya kamu bisa menginap satu minggu di sana. Tapi, bila hanya bisa satu malam atau 2 malam saja, traveler harus tentukan mau wisata apa.

Misalnya mau snorkling saja, bisa datang ke Desa Pemuteran atau Desa Les. Bila ingin melihat lumba-lumba, ke Pantai Lovina saja dan menginap di sekitar sana.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com