Tag Archives: bandung

Staycation Paket Lengkap Bandung, Ada Destinasi Wisata Juga



Bandung

Bandung jadi tempat staycation favorit warga Jakarta. Di sini traveler tak cuma staycation tapi juga dekat dengan destinasi wisata.

Kota Bandung tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang indah tapi juga beragam destinasi wisata menarik. Salah satu rekomendasi terbaik untuk staycation adalah mengunjungi Trans Studio Bandung dan menginap di Ibis Bandung Trans Studio Hotel.

Ada beberapa keunggulan yang bisa dirasakan oleh traveler:


1. Menjelajahi Trans Studio Bandung

Liburan tak lengkap tanpa mengunjungi wahana hiburan terkenal, Trans Studio Bandung. Rasakan sensasi kegembiraan di setiap sudutnya! Dari atraksi penuh adrenalin hingga wahana yang cocok untuk keluarga, Trans Studio memiliki semuanya. Yang tak kalah seru, nikmati Trans Snow World untuk merasakan dinginnya salju di tengah tropis Bandung. Pastikan kamera siap mengabadikan momen seru bersama sahabat!

2. Kenyamanan Menginap di Ibis Bandung Trans Studio Hotel

Setelah sehari penuh petualangan, tempat menginap yang nyaman adalah kunci untuk mendapatkan istirahat yang sempurna. Ibis Bandung Trans Studio Hotel menjadi pilihan ideal dengan desain modern dan fasilitas lengkap. Kamar yang nyaman akan membuatmu merasa seperti di rumah sendiri. Selain itu, lokasinya yang strategis memudahkan akses menuju destinasi wisata populer di Bandung.

Fasilitas Trans Studio Bandung sangat lengkap, ada Wi-Fi kencang, kolam renang, dan layanan kamar 24 jam. Hotel ini juga dilengkapi dengan restoran mewah. Traveler bisa menikmati hidangan lezat di restoran hotel yang menawarkan pemandangan kota Bandung. Kemudahan lainnya adalah akses ke Trans Studio, hanya beberapa langkah dari pintu hotel traveler sudah sampai di Trans Studio Bandung.

3. Kulineran Seru di Sekitar Hotel

Saat lapar melanda, jangan khawatir! Di sekitar Ibis Bandung Trans Studio Hotel, terdapat deretan tempat makan yang menarik untuk dieksplorasi bersama sahabat. Lapar malam-malam dan malas keluar hotel? Trans Studio Mall berada tepat di sebelah gedung hotel! Kamu bisa menemukan berbagai brand makanan favorit, pastinya lebih hemat karena nggak perlu pesan makanan online!

Seluruh kebutuhanmu dapat dengan mudah ditemukan di sekitar area Trans Studio Bandung karena letaknya yang strategis! Dengan mengunjungi Trans Studio Bandung dan menginap di Ibis Bandung Trans Studio Hotel, staycationmu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ayo rencanakan staycation seru dan pesan tiket Trans Studio Bandung di www.transentertainment.com!

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

5 Destinasi Long Weekend untuk Keluarga di Bandung



Bandung

Liburan long weekend tiba, Bandung tentunya menjadi tempat menarik dikunjungi bersama keluarga. Itu karena ibu kota Parahyangan ini memiliki beragam wisata menarik, berikut listnya.

Libur long weekend akan terselenggara pada 8 hingga 11 Februari 2024. Libur tersebut karena perayaan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW pada Kamis (8/2/2024) serta perayaan Imlek yang jatuh pada Sabtu (10/2/2024). Sedangkan untuk hari Jumat (9/2/2024) akan diadakan cuti bersama menjelang Imlek.

Sudah merencanakan wisata ke Bandung tetapi masih bingung ingin berkunjung ke mana? Berikut kami rangkum 5 destinasi wisata ramah keluarga di sini.


1. Kiara Artha Park

Sejak dibuka 17 Agustus lalu, ruang publik Kiara Artha Park, Kota Bandung, selalu ramai dikunjungi. Begini keseruannya saat menikmati Kiara Artha Park di malam hari.Kiara Artha Park. Foto: Rico Bagus

Kiara Artha Park adalah taman tengah kota yang menarik untuk dikunjungi. Taman ini memiliki berbagai wahana seperti skuter listrik, sepeda listrik, hingga bus wisata keliling. Taman ini juga kerap kali menjadi spot olahraga bagi para masyarakat.

Menariknya lagi, pada malam hari terdapat atraksi air mancur dan lampu warna warni yang memanjakan mata.

Untuk menemani wisata traveler ke sini, traveler juga bisa berwisata kuliner, karena terdapat berbagai jajanan di kawasan ini.

Alamat: Jalan Banten, Kebonwaru, Kecamatan Batununggal, Bandung
Buka: 9.00-21.00 WIB
Biaya: Rp 10 ribu

2. Noah’s Park

Noah's Park menyimpan berbagai aktivitas menarik.Noah’s Park menyimpan berbagai aktivitas menarik. Foto: Weka Kanaka/detikcom

Salah satu spot wisata di bandung yang cocok disambangi bersama keluarga adalah Noah’s Park. itu karena taman bermain yang berada di kawasan Lembang ini memiliki banyak fasilitas wisata menarik.

Wahana permainan di sini misalnya flying fox, luge kart, gokart, ATV, panahan, dan lain sebagainya. Selain itu, spot ini berada di perbukitan lembang, sehingga memiliki nuansa yang syahdu dan tak terik.

Alamat: Jalan Sukanagara No.20, Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Buka: 09.00-17.00 WIB (weekday) dan 08.00-17.00 WIB (weekend)
Biaya: Gratis (masuk), wahana (bervariasi).

3. Taman Lembah Dewata

Taman Lembah Dewata, Lembang, BandungTaman Lembah Dewata, Lembang, Bandung Foto: Weka Kanaka/detikcom

Masih berada di kawasan Lembang, ada spot wisata yang menarik dikunjungi bersama keluarga, yakni Taman Lembah Dewata.

Spot satu ini memiliki panorama ikonik dengan pura di tengah danau yang mirip seperti di kawasan Bedugul, Bali.

Selain itu, tempat ini juga memiliki hal menarik lainnya seperti spot foto dengan berbagai patung Pandawa Lima, mini candi, hingga hewan seperti kuda poni atau alpaca.

Traveler juga bisa menikmati suasana dengan piknik di pinggir danau, sehingga cocok untuk dinikmati bersama keluarga.

Alamat: Jalan Raya Tangkuban Parahu, Kecamatan Lembang, Kabupaten Barat.
Buka: 8.00-17.00 WIB
Biaya: Rp 20 ribu – Rp 25 ribu (biaya masuk)

4. Orchid Forest Cikole

Golden Pine, kafe bernuansa Eropa di Orchid Forest Cikole LembangGolden Pine, kafe bernuansa Eropa di Orchid Forest Cikole Lembang Foto: detikFood/Yenny Mustika Sari

Kawasan Lembang memang tak habis-habisnya menyuguhkan wisata yang menarik. Salah satu yang sudah terkenal yakni Orchid Forest Cikole.

Berkunjung ke sini, traveler akan disuguhi rumah anggrek dan hutan pinus yang syahdu. Ada juga kafe estetik yang dipenuhi bunga Golden Pine.

Ada juga rabbit house dan orchid castle yang bisa dimasuki anak-anak. Untuk dewasa, traveler bisa menjajal flying fox lho.

Alamat: Jalan Raya Tangkuban Perahu KM 8, Cikole, Lembang, Bandung Barat.
Buka: 8.00-16.00 WIB.
Biaya: Rp 40 ribu.

5. Toko Tahilalats Braga

Toko Tahilalats di Jalan Braga BandungToko Tahilalats di Jalan Braga Bandung (Putu Intan/detikcom)

Salah satu spot wisata ikonik di Bandung adalah Jalan Braga. Jalan ini terkenal sebagai berbagai spot otentik dan bersejarah.

Namun begitu, ada juga destinasi baru yang menarik, ialah Toko Tahilalats. Tempat ini merupakan toko berkonsep karakter Tahilalats, yakni komik buatan Nurfadli Mursyid.

Di dalamnya traveler dapat melihat-lihat suasana toko yang unik dengan berbagai karakter dalam bentuk stiker 2D hingga patung 4D. Selain itu, traveler juga dapat menikmati hidangan cemilan di sini. Misalnya saja hotdog berisi daging cincang dan es krim.

Bagi traveler yang ingin mengabadikan momen liburannya, bisa juga berfoto di photobooth dengan membayar biaya Rp 50 ribu.

Selepas puas berkunjung ke sini, traveler juga bisa langsung menyusuri jalan Braga yang ikonik.

Alamat: Jalan Braga Nomo 35 Kota Bandung, Jawa Barat.
Buka: 12.00-21.00 WIB (Senin-Kamis), 11.00-21.00 WIB (Jumat-Sabtu) dan 9.00-21.00 WIB (Minggu).
Biaya: Gratis (Masuk).

(wkn/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Butuh Pemandangan Hijau-Hijau tapi Nggak Mau Capek? Yuk ke Gunung Pangradina



Bandung

Traveler yang sedang mencari ide mengisi liburan weekend di Bandung, coba deh datang ke Gunung Pangradina ini. Pemandangan di sini diibaratkan mirip dengan hamparan sabana di Merbabu lho.

Namanya Gunung Pangradina. Gunung yang berada di Bandung Timur yang sekarang ini sedang digandrungi para pendaki karena mudah dijangkau oleh pendaki pemula.

Gunung Pangradina berada di Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pemandangan yang sangat menakjubkan dengan hamparan sabana atau padang rumput menjadikan gunung ini mendapatkan julukan Merbabu Van Bandung. Ya, kata Merbabu merujuk pada keindahan Gunung Merbabu yang berada di Jawa Tengah.


Gunung Pangradinda.Gunung Pangradinda. Foto: Wisga Putra Julian

Gunung Pangradina memiliki ketinggian 1.236 mdpl dan trek pendakiannya cukup mudah. Dari Pos Kandang Ayam menuju puncak gunung ini hanya membutuhkan waktu 30 menit.

“Kebetulan diajak teman katanya ada gunung yang mirip Merbabu di daerah Bandung timur. Treknya juga mudah di lalui buat pemula,” ucap Dani salah satu pengunjung kepada detikJabar belum lama ini.

Dengan keindahan yang sangat memukau ini banyak pengunjung juga yang berdatangan untuk kamping maupun hiking. Ya, sekadar naik gunung untuk menikmati keindahan alam Bandung.

Belum ada pengelola khusus untuk masuk ke gunung ini, tetapi pengunjung dapat menitipkan kendaraan di sekitar rumah warga sebelum memasuki trek berbatuan. “kalau mau simpan kendaraan mah di sini aja dijagain sama saya, aman soalnya sudah terbiasa ada yang nyimpen kendaraannya di sini,” ujar Suryono warga setempat

Artikel ini telah tayang di detikJabar

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Kawasan Pecinan yang Tersembunyi di Kota Bandung



Bandung

Tahukah kamu, di kota Bandung ada sebuah kawasan Pecinan yang tersembunyi. Namanya Komplek Jap Loen. Begini penampakan dan lokasi tepatnya:

Meskipun tidak ada wilayah yang bisa dikatakan kampung Pecinan secara spesifik di Kota Bandung, akademisi sekaligus Pengamat Pecinan di Kota Bandung, Sugiri Kustedja melihat Komplek Jap Loen menjadi titik yang paling mendekati pecinan.

Komplek Jap Loen saat ini lebih dikenal dengan Jalan Ikan Asin di Pasar Andir, Kota Bandung. Sebutan Jalan Ikan Asin merujuk pada penamaan masing-masing jalan, yakni Jalan Kakap, Jalan Teri, Jalan Gabus, dan Jalan Pepetek.


Tak banyak yang tahu, bahwa wilayah tersebut juga disebut dengan Komplek Jap Loen, karena dibangun oleh penduduk etnis Tionghoa yang kaya raya bernama Yap Loen.

“Daerah pasar itu yang bangun orang kaya dulu, namanya Yap Loen. Makanya komplek Yap Loen. Sebaliknya, Yap Loen itu rumahnya di antara Gang Luna sama Jalan Sudirman. Saya bilang Komplek Yap Loen itu paling cocok kalau dikatakan pecinan, meski kecil. Sebab bangunannya itu masih ada sisa-sisa gaya Tiongkok. Di jalan ikan asin itu, Gabus, Pepetek,” kata Sugiri yang juga merupakan dosen Arsitektur di Universitas Maranatha tersebut.

Dalam penelitiannya yang berjudul Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung, Sugiri menuliskan Yap Loen adalah seorang pengusaha tekstil dan properti. Ia aktif pada banyak organisasi Tionghoa, THHK (pendidikan), Siang hwe (perdagangan), Hong Hoat Tong (paguyuban), dan anggota dewan regentschapsraad Bandoeng.

“Yap Lun pada awalnya sebagai pedagang kain keliling. Yap Lun menjadi kaya raya ketika pecah Perang Dunia ke-1 (1914-1918). Ia kaya karena usaha impor kain dalam jumlah besar dari Jepang pada saat Eropa berperang. Sehingga Eropa tidak mampu menyuplai barang ke Hindia Belanda,” kisahnya dalam penelitian itu.

Menelusuri 'Pecinan' di Kota Bandung.Menelusuri ‘Pecinan’ di Kota Bandung. Foto: Anindyadevi Aurellia

Yap Lun menjadi developer Gg Luna (Lun-An; Yap Lun & Kok An), di daerah jalan Waringin, Pasar Andir. Daerah itu kemudian dikenal juga sebagai kompleks Yap-lun, Yaploen straat, Yaploen plein. Perusahaan pengembangnya adalah ‘Jap Loen & Co.’ dan ‘NV Bow Mij Tjoan Seng’.

Dulunya, di daerah itu terdapat sekitar 130 buah ruko satu lantai khas Tionghoa. Sugiri menyebut ruko tersebut mulanya berderet dan seragam. Saat ini wajah pertokoan tersebut sudah berubah, tapi masih ada satu hal yang menjadi ciri khas pecinan di sana.

“Yakni Thiam Tang. Bagian dinding depan ruko yang terdiri dari 3 bidang lembaran konstruksi kayu. Itu menjadi ciri paling khas di situ. Dinding depannya dari kayu, ada tiga segmen. Itu gaya dari Tiongkok Selatan. Pintunya juga kayu dan terbelah dua gitu. Dulu berderet seragam. Kalau dibuka kan, ada yang dia buka atasnya saja, ini artinya publik umum (pembeli) di luar aja,” kata Sugiri sambil memperagakan Thiam Tang tersebut.

Kayu bagian teratas biasanya ditarik agar matahari bisa masuk ke dalam toko, namun tidak sepenuhnya karena terhalang kayu tersebut. Namun jika para pedagang itu welcome, kata Sugiri, kayu bagian bawah pun akan diangkat sehingga mempermudah akses orang keluar masuk.

Pantauan di lokasi, pertokoan dengan jendela kayu yang khas tersebut masih mudah ditemui dari sepanjang Jalan Kakap menuju ke Jalan Pepetek (pasar basah tempat berjualan sayur dan ikan di belakang Pasar Andir).

Kondisi Komplek Jap Loen tersebut ramai oleh pedagang yang berjualan mayoritas kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, jajanan, ikan asin, daging ayam, sayur, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka menggelar lapak di luar ruko, ada beberapa ruko yang dibuka untuk berjualan tapi ada pula yang tidak.

“Kalau yang tutup mah ya untuk penyimpanan stok biasanya. Kalau yang dibuka bisa untuk transaksi. Ada juga yang memang sudah kosong,” kata salah seorang pedagang yang memberikan keterangan singkat.

Sayangnya, komplek yang bisa menjadi titik pecinan di Kota Bandung ini kurang begitu terawat. Kondisi jalannya tak mulus, lapak-lapak di gelar di pinggir jalan agar memudahkan pembeli membuatnya terkesan kurang rapi. Terlebih jika menengok ke area Jalan Pepetek yang sudah padat kios dan beratapkan seng atau terpal.

Di sisi lain, Jalan Cibadak menjadi ruas jalan yang lebih dikenal sebagai pecinan di Kota Bandung. Hal ini karena mayoritas penduduknya etnis Tionghoa, serta jalanan ini dikenal dengan kulinernya yang beragam dan mudah ditemui kuliner khas atau akulturasi Tiongkok.

Namun, dikatakan Sugiri, wilayah Cibadak dirasa kurang pas jika dikenal sebagai wilayah pecinan.

“Kalau Cibadak itu sudah model arsitektur Belanda semua. Kalau populasinya (Cibadak) memang benar, tapi bangunannya sudah bangunan Belanda semua,” ucapnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ada Perpustakaan Mini di Tengah-tengah Pasar



Bandung

Di tengah-tengah pasar Cihapit, Kota Bandung tersembunyi satu hidden gem yang patut didatangi. Ada sebuah perpustakaan mini yang menarik untuk dikunjungi.

Perpustakaan mini yang berbentuk persegi dengan dominan warna putih. Meskipun tempatnya mungil, namun di sini terdapat banyak buku mulai dari buku ilmiah, novel hingga komik.

Di tengah-tengah perpustakaan itu terdapat empat kursi dan satu meja kaca berwarna hitam. Tempat ini pun cocok untuk dikunjungi karena bisa membaca buku dengan suasana seperti di pasar.


Bila ingin mengunjungi perpustakaan, anda bisa masuk ke gang Masjid Istiqamah Cihapit Bandung kemudian ikuti jalan sampai masuk ke pasar, tak jauh dari situ tempatnya berada di sebelah kanan, depan kedai Batagor Kahuripan.

Saat berkunjung ke sana, tidak ada yang menjaga perpustakan ini. Setelah menunggu beberapa menit, terlihat ada pria lansia di dalam kedai kopi. Saat bertanya, ternyata ia adalah salah satu penjaga perpustakaan tersebut bernama Bayu (62).

Setelah berbincang-bincang, perpustakaan ini sudah berdiri selama empat tahun. Adanya perpustakaan ini berawal dari ide teman-temannya yang sering nongkrong di kedainya, kebetulan ada tempat kosong alhasil dibuatlah taman baca itu.

“Awalnya sih dari teman-teman yang suka ke sini, mereka itu ada yang dari pecinta buku segala macem, karena ada tempat kosong tercetus lah, saya coba bikin seperti taman baca gitu, ya sederhana aja gitu,” kata Bayu, Sabtu (20/4/2024).

Kedai kopi Los Tjihapit di Pasar Cihapit, Kota Bandung.Kedai kopi Los Tjihapit di Pasar Cihapit, Kota Bandung. Foto: Shafa Aulia Nursani/detikJabar

Mengapa memilih tempatnya di dalam pasar, menurutnya selain ada tempat yang kosong juga sebelumnya ia sudah berjualan terlebih dahulu sehingga teman-temannya suka ngopi di kedainya.

“Kalau tempat di sini karena saya udah jualan duluan di sinu, ini jualan kopi. Jadi mereka itu memang teman-teman yang suka ngopi di sini,” ucap pria yang memakai kacamata tersebut.

Untuk motivasi diadakannya perpustakaan ini ingin membuat antusias orang untuk membaca lagi. “Motivasinya sih sederhana sebenarnya bikin gairah membaca lagi, soalnya kan sekarang itu udah terlalu banyak bacaan dari elektronik, kita pingin orang pinjem buku lagi,” ucapnya.

Perpustakaan mini ini buka dari pukul 06.00-13.00 WIB, bisa sampai sore dengan mengikuti kedai kopinya. Buku-buku yang dipajang di sini, bisa anda pinjam dengan kemudian di catat oleh pemilik kedai kopi. Waktu peminjaman buku ini selama satu minggu dan bisa meminjam satu buku.

Buku yang tersedia di perpustakaan diberi oleh teman-temannya yang mempunyai niatan untuk bisa

“Saya tambahkan aja buku-buku ini juga kebanyakan donaturnya ya teman-teman juga, mereka juga sama-sama punya niatan untuk orang kembali membaca,” pungkasnya.

Setelah membuat perpustakaan ini, Bayu juga mengatakan ada hasilnya sedikit demi sedikit orang membaca buku.

“Alhamdulillah sih yang baca udah mulai ada, udah ada perkembangannya, mulai dari iseng sambil dia ngopi membaca sampai akhirnya tertarik lagi,” turur Bayu.

Orang yang berkunjung ke perpustakaan dari mulai mahasiswa hingga orang tua. Sekedar mengetahui jika perpustakaan ini bekerjasama dengan perpustakaan Ajip Rosidi yang berada di Jalan Garut.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Spot Healing Ijo Royo-royo di Tebing Keraton Bandung



Bandung

Bandung punya segudang tempat healing yang tak jauh dari pusat kota. Salah satunya adalah hamparan hutan pinus yang menyegarkan, Tebing Keraton.

Tebing Keraton berada di ketinggian 1200 Mdpl, Tebing ini menawarkan keindahan alam serta hamparan hutan pinus di atas ketinggian. Tempat ini sangat cocok untuk anda yang suka dengan pemandangan alam yang masih asri.

Mengenai Tebing Keraton, merupakan gawir atau lembah sesar (fault scarp) dengan dinding gawir menghadap ke arah utara. Terbentuk sekitar 500.000 tahun lalu, masih berhubungan dengan ambruknya Gunung Sunda. pendapat lainnya menyebutkan hasil kegiatan tektonik yang mengakibatkan terangkatnya sebagian lembah sehingga membentuk pegunungan tebing yang curam.


Akses untuk menuju tempat ini jika anda dari pusat Kota Bandung bisa mengambil rute ke arah Jalan Dago, setelah itu anda akan menemui dua cabang jalan, pilih cabang kanan yang menuju ke bukit Dago Pakar. Setelah melewati bukit Dago Pakar anda akan menemui sebuah pertigaan belok lah ke kiri menuju arah Taman Hutan Raya Juanda.

Setelah itu ambil jalan sebelah kanan saat berada di simpang dua dan jalan terus hingga bertemu warung bandrek. Tak jauh dari warung bandrek anda akan menemui lagi simpang dua beloklah ke kiri hingga kemudian menemukan pintu masuk ke Tebing Keraton. Estimasi perkiraan kurang lebih 30 menit untuk sampai ke tempat ini jika lalu lintas lancar.

Wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam di kawasan wisata ini, akan dikenakan biaya. Harga tiket masuk cukup terjangkau Rp. 12.000 dan biaya asuransi Rp 2.000. Tiket ini sudah termasuk ke Tahura Maribaya dan Tebing Keraton.

Semacam prasasti menyambut begitu tiba di Tebing KeratonSemacam prasasti menyambut begitu tiba di Tebing Keraton Foto: detik

Pembelian tiket bisa langsung dibeli di loket pembelian. Untuk parkir kendaraan bermotor dikenakan biaya parkir Rp 5.000, dan untuk kendaraan Roda empat bisa disimpan di bawah sebelum kawasan kurang lebih harus berjalan dulu 1 km.

Untuk jam buka tersendiri objek wisata ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB. Jika anda ingin mendapatkan pemandangan yang lebih bagus bisa pergi pagi maupun sore untuk melihat sunrise dan sunset di tebing ini.

Saat anda memasuki area Tebing pertama-tama akan diajak untuk menyusuri jalan setapak dengan pohon-pohon di sampingnya. Tetapi pengunjung harus berhati-hati saat melangkah karena tekstur jalan yang agak curam dan licin.

Tak jauh dari itu dapat dilihat kawasan tebing yang indah dan cantik sejauh mata memandang, tak hanya itu jika ada beruntung akan ada kawanan monyet yang akan menghampiri anda. Pengunjung dianjurkan berhati-hati dan menjaga barang bawaan serta tidak memberi makan hewan. Tak hanya itu kawasan ini dipakai juga untuk memantau burung Elang.

Di Kawasan ini anda juga bisa melihat langsung sesar lembang serta ada papan penjelasan mengenai informasi tersebut. Banyak juga pohon yang diberi tanda nama serta spesiesnya agar pengunjung lebih mengenal nama-nama tumbuhan yang ada di kawasan Tebing Keraton.

Sedikit mengenai Sesar Lembang yaitu merupakan patahan besar di Jawa Barat yang mengelilingi tepi utara Bandung. Memiliki panjang 29 km dan merupakan sesar oblique dengan komponen geser mengkiri dan komponen sesar naik.

****

Baca berita selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

7 Fakta Jalan Braga, Kawasan Ikonik di Paris Van Java



Jakarta

Jalan Braga merupakan kawasan legendaris di Bandung. Kini, tiap akhir pekan Jalan Braga bebas kendaraan, dinamai Braga Beken.

Dibangun sejak zaman Hindia Belanda, Jalan Braga disebut sebagai saksi bisu perkembangan zaman. Jalan sepanjang 850 meter itu merupakan pusat perbelanjaan dan tempat berkumpul pada masa Hindia Belanda.

Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat komplek toko yang memiliki arsitektur kuno pada masa Hindia Belanda. Kini, di sepanjang Jalan Braga terdapat berbagai restoran, kafe, penginapan, hingga apotek, dan sejumlah kantor.


Jalan Braga juga masih menjadi salah satu jalur utama di jantung kota Bandung. Jalan itu padat dengan lalu lalang kendaraan dan para pejalan kaki, juga pedagang, serta mobil dan motor yang parkir.

Akhir pekan lalu, Jalan Braga memiliki wajah berbeda. Pemerintah Kota Bandung menjadikan Jalan Braga bebas kendaraan. Rencananya setiap Sabtu dan Minggu Jalan Braga bakal bebas kendaraan.

Berikut lima fakta tentang Jalan Braga:

1. Mulanya Disebut Pedatiweg

Jalan Braga dulu dikenal sebagai Pedatiweg merupakan jalur yang vital di masa kolonial Belanda. Mulanya merupakan jalan becek dan berlumpur yang kerap dilewati oleh pedati pengangkut kopi.

Nama Pedatiweg berasal dari kata “pedati,” sejenis kereta kuda yang banyak digunakan pada zaman itu dan “Weg” dalam bahasa Belanda bermakna “jalan”.

Baru sekitar tahun 1882, Pieter Sijthoff, asisten residen Bandung, mengubah nama Pedatiweg menjadi Bragaweg. Diambil dari nama seorang penulis drama Theofila Braga.

Para ahli sastra Sunda menyebut bahwa nama Braga merujuk pada kata “Baraga” yakni jalan di tepi sungai, dimana Jalan Braga memanglah terletak di tepi Sungai Cikapundung.

Penamaan Braga juga disebut-sebut berasal dari minuman keras khas Rumania yang sering disajikan di Societeit Concordia (sekarang Gedung Merdeka) di bagian selatan Bragaweg.

Dalam bahasa Sunda, nama Braga juga berasal dari kata “Ngabaraga” yang memiliki arti bergaya memamerkan tubuh, nampang, atau mejeng.

2. Dahulu Disebut “Jalan Culik”

Tak seperti sekarang, dahulu Jalan Braga dikenal sebagai jalan yang kecil dan sepi yang rentan terhadap aksi penculikan. Membuatnya kerap mendapat julukan “Jalan Culik”

Jalan Braga yang sepi membuat reputasinya sebagai tempat yang mengerikan di mana banyak orang terluka dan bahkan meninggal karena kegiatan kriminalitas. Jalan Braga menjadi tempat patroli tentara kolonial, yang mengakibatkan banyak pembantaian.

3. Asal Mula Julukan Kota Kembang

Meskipun Bandung juga terkenal dengan keberagaman taman bunganya, namun julukan “Kota Kembang” tidak berasal dari kesejukan bunga-bunga itu. Sebaliknya, julukan merupakan sebuah kiasan berkonotasi negatif di era Belanda.

Bersamaan dengan ramainya Jalan Braga sebagai tempat pertemuan para bangsawan, kehadiran hiburan malam di sudut remang-remang, membuatnya juga dikenal oleh turis mancanegara yang mencari wanita-wanita cantik di kota ini. Sejak saat itulah, Bandung dijuluki sebagai “Kota Kembang”.

Walau begitu, Jalan Braga tetap menjadi simbol sejarah dan budaya yang mencerminkan perubahan zaman dan peranannya dalam perkembangan kota Bandung.

Wisatawan kini dapat menjelajahi Jalan Braga untuk menikmati perpaduan antara sejarah dan gaya hidup kontemporer yang menarik.

4. Toko Senjata Api Jadi yang Pertama Berdiri di Jalan Braga

Bukan kafe atau toko pakaian, melainkan toko senjata api adalah toko pertama di Jalan Braga didirikan pada tahun 1894 oleh C.A. Hellerman. Selain menjual senjata api, toko tersebut juga menawarkan berbagai macam barang seperti sepeda, kereta kuda, dan melayani sebagai bengkel reparasi senjata api.

Namun, bangunan pertama tempat toko tersebut berdiri, yang sekarang dikenal sebagai bangunan tua nomor 51, telah runtuh dan ditinggalkan oleh pemiliknya.

5. Tempat Komersil dan Hiburan

Dalam e-book Mengembalikan Citra Kawasan Jalan Braga Bandung disebutkan pada 1910 Jalan Braga dirancang oleh pemerintahan kolonial menjadi pusat perbelanjaan bagi orang-orang Eropa di Hindia Belanda. Bahkan, kawasan ini disebut pula sebagai Het meest Europeesche Winkelstraat van Indiƫ, atau kawasan pertokoan Eropa terkemuka di Hindia Belanda.

Jalan Braga kemudian ramai diisi oleh pengusaha Belanda dengan membangun toko, bar, hingga tempat hiburan. Tak hanya menjadi trendsetter mode pakaian, pada 1931 salah seorang anggota Komisi Loggemann, Ir. Thomas Karsten membuat Stadsvormings Ordonantie (SVO) memberi panduan perencanaan kota di Hindia Belanda.

Bersama sejumlah profesor lainnya, ada sejumlah hal yang ingin ditata dari kawasan Braga, antara lain: bangunan langsung berhadapan dengan tepi jalan, tanpa adanya halaman teras, antara satu bangunan dengan bangunan lainnya harus saling berdampingan, tanpa ada ruang kosong sedikit pun, ketinggian bangunan hanya 2 lantai, yakni lantai pertama untuk komersial dan halaman belakang dan lantai atas untuk hunian, dan bangunan harus memberi kesan yang selaras baik secara horizontal maupun vertikal.

Lantai pertama dilengkapi pintu masuk dan dinding kaca etalage. Jendela kaca boven-licht untuk penerangan ruang dalam yang dilengkapi lubang ventilasi alami, alias gesloten bebouwing.

6. Mati Suri

Masa kejayaan Braga tidak berlangsung terus-menerus. Jalan Braga mati suri akibat situasi politik dunia yang bergejolak di tahun 1942.

Yakni, saat Jepang memulai ‘kisah’-nya di Tanah Air, kawasan ini seperti ditinggalkan hanya meninggalkan jejak-jejak bangunan bergaya Indische Style saja.

7. Bangunan Bersejarah yang Tersisa

Braga kembali bangkit usai ditetapkan sebagai historical district oleh Pemerintah Kota Bandung lewat Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2009. Sejumlah bangunan kolonial masih tersisa.

Dari Jalan Asia-Afrika, terdapat Hotel Savoy Homann dan Gedung Merdeka yang menjadi saksi terjadinya Konferensi Asia-Afrika pertama di tahun 1955 silam. Lalu, ada pula Bioskop de Majestic dengan bentuk unik menyerupai kaleng biskuit. Serta, Sarinah Braga yang kini beralih fungsi menjadi tempat penginapan berkelas di Bandung.

Bergeser sedikit ke arah utara, terdapat Gedung Gas Negara hingga restoran Braga Permai eks Maison Bogerijen yang pernah menyajikan makanan istimewa bagi kaum Belanda. Terakhir, ada pula Gedung Bank Indonesia dan Gereja Katedral St. Petrus Bandung dengan menyimpan sejarah perkembangan umat Katolik di Kota Kembang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sisi Gelap Cikapundung Riverspot: Bau Pesing-Air Berwarna Cokelat



Bandung

Bandung punya Cikapundung Riverspot yang sempat tenar. Namun sayang, aliran sungai di sini kini kondisinya bau pesing dan berwarna keruh kecokelatan.

Setelah membenahi kawasan Taman Cikapundung di Jalan Siliwangi, Pemkot Bandung kini menyasar perbaikan Cikapundung Riverspot di Jalan Dr Ir Sukarno.

Terlihat sejumlah pekerja tengah membersihkan dan memoles kembali area ruang terbuka hijau itu. Tak ada yang salah dari wajah Cikapundung Riverspot yang masih berbenah.


Namun, jika menengok ke bagian sungai, sisi gelap Sungai Cikapundung yang sedang surut pun terlihat. Di sungai yang dangkal, mudah ditemukan sampah-sampah bercampur dengan tanah yang mengendap di dasar sungai.

Padahal, terlihat jelas peraturan dilarang membuang sampah terpasang di area pagar sungai. Wajah Cikapundung yang seharusnya terbingkai sempurna dengan kecantikan Jalan Asia Afrika jadi tak terlihat menawan.

Sungai Cikapundung BandungSungai Cikapundung Bandung Foto: Wisma Putra/detikJabar

Jika berjalan ke area Jalan Dr Ir Sukarno menuju ke arah Jalan Asia Afrika, tercium aroma tak sedap seperti aroma pesing kencing dari sisi pagar sungai.

Dadang (39), salah satu petugas kebersihan di sekitar Cikapundung Riverspot mengaku sampah yang terdapat di sungai merupakan kiriman sehari-hari dari pedagang sekitar. Menurutnya, hal tersebut sudah jadi kebiasaan, sehingga meski sudah diingatkan sampah akan terus mudah ditemukan.

“Saya biasa nyapu di sini dari pagi sampai malem, kalau sampah itu bukan cuma ditemukan di pinggir jalan tapi juga sungai aja banyak sampah. Itu biasanya pedagang, jurig (cosplayer) juga buang sampah ke situ,” kata Dadang, Senin (27/5/2024).

Sepanjang jalan tersebut, juga tak ditemukan adanya tong sampah. Tapi, Dadang mengatakan hal itu bukan jadi penyebab pedagang sekitar buang sampah sembarangan. Sebab, tong sampah kerap dicuri oknum tak bertanggung jawab.

“Dulu ada tong sampah di dua titik, sekarang udah nggak boleh. Jadi cuma titik di pinggir jalan gitu, soalnya tong sampah itu suka diambil (dicuri),” ceritanya.

15 tahun menjadi petugas kebersihan, Dadang juga mengaku kerap menjumpai tingkah jorok para turis maupun warga lokal. Katanya, banyak orang yang kencing sembarangan di trotoar jalan itu. Jangan heran jika aroma tak sedap tercium saat berjalan-jalan di sekitar Jalan Asia Afrika.

“Toilet itu (Cikapundung Riverspot) soalnya nggak ada airnya. Jadi pada kencing sembarangan di deket sungai itu, di ke sanain (ke sungai). Terus kalau pagi itu orang mabok, muntah-muntah di jalan. Jadi saya biasanya bersihin pagi-pagi,” kata Dadang.

Kini, dari perbaikan yang berusaha Pemkot Bandung lakukan, Dadang berharap ada yang bisa berubah dari kota tempatnya lahir. Sebab menurutnya, warga Bandung pun akan malu jika wajah buruk kota dilihat para wisatawan.

“Ini kan baru mau diperbaiki lagi, ya semoga toilet sarana apapun semuanya ada, terus juga bebersih sungai mungkin, sama pedagang lebih teratur. Soalnya dibilangin gitu suka susah,” ujarnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Wajah Baru Teras Cikapundung yang Kini Lebih Segar



Bandung

Pemkot Bandung telah menata ulang Teras Cikapundung. Mari lihat wajah barunya yang kini terasa lebih segar!

Program reaktivasi Teras Cikapundung diberi nama Gemericik (Gelaran Mengekspresikan Rindu Cikapundung). Program tersebut diinisiasi oleh Pj Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono yang kemudian diresmikan bersama Pj Gubernur Jawa Barat, Bey Triadi Machmudin pada Sabtu (25/5).

Dalam program reaktivasi tersebut, Pemkot Bandung berambisi memperbaiki fasilitas Teras Cikapundung, serta menaruh beragam kegiatan dan acara setiap minggunya.


Rencananya, Disbudpar Kota Bandung bakal rutin menggelar acara musik tradisional setiap minggunya. Kemudian diikuti dengan reaktivasi kawasan Babakan Siliwangi Forest Walk dan Teras Cihampelas.

Harapannya, langkah tersebut dapat meningkatkan indeks kebahagiaan warga Kota Bandung, objek wisata ini tak berbayar dan bisa jadi wisata murah meriah bagi warga.

Wajah Teras Cikapundung setelah direaktivasi.Wajah Teras Cikapundung setelah direaktivasi. Foto: Anindyadevi Aurellia/detikJabar

Sekilas, tak banyak yang berubah dari reaktivasi taman tersebut. Namun terlihat seluruh bagian di ruang terbuka hijau itu dicat kembali dan diwarnai ulang.

Pijakan kayu pada jembatan yang rusak telah diperbaiki, serta dibangun pagar agar lebih aman bagi pengunjung anak-anak.

Perubahan ini pun dirasakan oleh Risna (20), mahasiswi yang tengah rehat berolahraga bersama temannya. Namun, kata dia, masih ada beberapa hal yang belum dioptimalkan.

“Iya sering olahraga di sini, jadi tahu kalau dicat ulang. Ditambah pagar juga, bagus biar aman kalau ada anak kecil. Cuma belum terasa banyak berubahnya di sarana, kayak tempat sampah. Soalnya tadi mau buang sampah bingung tempatnya di mana, ternyata ada tapi di ujung dan nggak kelihatan,” katanya.

Selain itu, bagian seberang amphitheater terdapat warung gorengan dan mi dadak. Sayangnya, bagian ini tampaknya belum sempat dibenahi oleh Pemkot Bandung. Sebab terlihat kursi makan ditutup spanduk seadanya dan terdapat bagian kursi yang rusak.

Area tamannya pun terlihat belum rapi. Sehingga terlihat seperti jalan buntu. Padahal menurut Badig (47), warga setempat, jalan setapak tersebut sebetulnya bisa jadi akses pejalan kaki dari arah Babakan Siliwangi Forest Walk.

“Kami sudah sampaikan di sini masih ada yang belum ditata lagi. Itu kan sebetulnya akses juga ke arah sana, jadi pejalan kaki itu nggak perlu dari depan, bisa dari akses yang ini juga. Tapi jalannya belum dibenahi, jadi sepertinya nggak bisa dilalui,” ucap Badig.

“Terus kursinya ini sebetulnya kursi sekrup, tapi kami baru bisa beri tali supaya bisa untuk duduk nyaman. Kursinya juga sudah agak rusak. Jadi mungkin yang sebelah sini juga bisa diperhatikan,” lanjutnya.

Badig yang juga menjadi Pengurus Komunitas Cikapundung, mengapresiasi langkah Pemkot Bandung dan menyambut baik penataan Teras Cikapundung. Hanya saja, sebagai pegiat alam ia memberikan masukan terkait beberapa hal.

“Sebetulnya desain awal itu kan nggak dipagar, sekarang dipagar biar aman ya itu betul. Tapi sebetulnya ada alasan kenapa nggak dipagar, itu supaya warga bisa lebih mudah ngambil dan naikkan kalau ada sampah nyangkut, atau musibah kemarin ada yang hanyut,” kata dia.

Teras Cikapundung Harus Dirawat

Badig mengaku, meskipun langkah reaktivasi ini dinilai masih bersifat seremonial, ia berharap pemerintah bisa lebih peka dengan kondisi Sungai Cikapundung dan berkoordinasi dengan komunitas yang terjalin antara Kecamatan Cidadap dan Coblong tersebut.

“Ya jujur ini seperti seremonial aja, ya kalau saya mangga selama tidak merugikan atau mengubah tata letak dan lainnya. Tapi warga kepeduliannya bukan ke arah situ. Kita ingin tetap ada perawatan, yang memang sekarang disupport dana oleh BBWS, tapi juga komunitas dilibatkan dalam diskusi serta adanya perhatian pada relawan yang nunggu atau bersih-bersih di sini,” ucap Badig.

Teras Cikapundung, Bandung.Teras Cikapundung, Bandung. Foto: Wisma Putra

Sebetulnya, Badig ingin warga kembali peduli dengan sampah di Sungai Cikapundung melalui sosialisasi dengan turun ke sungai dan bebersih bersama. Namun, Pemkot Bandung tak memberi izin dan sudah memasrahkan kebersihan sungai dengan petugas terkait.

Meskipun begitu, Badig berharap langkah awal dari Pemkot Bandung ini bakal terus terjaga konsistensinya. Teras Cikapundung mampu menarik wisatawan, sosialisasi sungai bebas sampah terus terjalankan, serta kemauan warga di sekitar sungai untuk menjaga kebersihannya juga terus terjaga.

“Ya kami menyambut baik, meski mungkin kemarin sempat komunikasi yang kurang bagus karena tiba-tiba ada pengecatan, peresmian, dll. Tapi kami berharap ini konsisten, terjaga kebersihannya, kegiatannya juga lebih aktif, fasilitasnya ditambah terutama tempat sampah,” kata dia.

“Silakan anggota kami juga bisa dilibatkan, kasih fasilitas alat kebersihan yang memadai. Kami cuma takut perawatannya tak diperhatikan lagi. Kalau saya bandingkan itu takutnya seperti Taman Regol yang diurus Pemkot Bandung dan jadinya kumuh,” harap Badig.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tenang dan Syahdu, Melawat ke Pemakaman Orang Belanda di Bandung



Bandung

Bagi pendamba ketenangan, berkunjung ke pemakaman orang Belanda alias Ereveld Pandu di Bandung sangat disarankan. Syahdu dan khidmat, itulah yang dirasakan.

Ereveld dalam bahasa Belanda berarti ‘ladang kehormatan’. Ereveld merujuk kepada kompleks pemakaman Belanda yang ada di Indonesia, umumnya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para tentara Belanda yang gugur selama perang, terutama Perang Kemerdekaan di Indonesia.

Salah satu Ereveld di Indonesia adalah Makam Kehormatan Belanda Pandu di Bandung. Tempat ini menjadi saksi bisu bagi jasa para militer yang berdinas di Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dan Angkatan Darat Kerajaan Belanda.


Di Makam Kehormatan Belanda Pandu, terdapat beberapa monumen yang mencerminkan hubungan antara Bandung dan KNIL. Selain militer, di sini juga dimakamkan warga sipil yang meninggal di kamp-kamp konsentrasi Jepang di Bandung dan sekitarnya, serta korban yang gugur pada masa revolusi.

Ereveld Pandu merupakan salah satu dari dua Ereveld di Jawa Barat, selain Ereveld Leuwigajah di Cimahi. Kompleks ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 4.000 tentara Belanda yang gugur selama Perang Dunia II dan Perang Kemerdekaan Indonesia.

Selain tentara, terdapat juga beberapa warga sipil Belanda yang menjadi korban perang dan dimakamkan di sini.

“Sudah ada 4.000 ribuan yang dimakamkan di sini, dari berbagai kalangan dan agama. Namun, ada beberapa yang belum diberi nama karena masih menunggu hasil dari Pemerintah Belanda, soalnya di sini data-data yang dimakamkan benar-benar datanya jelas,” ucap penjaga makam Ereveld Pandu, Dedi, belum lama ini.

Dibangun pada tahun 1946, Ereveld Pandu memiliki luas sekitar 10 hektare dan terbagi menjadi beberapa blok berdasarkan agama dan kewarganegaraan.

Ereveld Pandu, komplek pemakaman Belanda di Bandung.Ereveld Pandu, komplek pemakaman Belanda di Bandung. Foto: Wisga Putra Julian/detikJabar

Kompleks ini ditata dengan sangat asri, dengan deretan batu nisan putih yang tertata rapi. Di bagian tengah terdapat sebuah monumen yang menjulang tinggi sebagai simbol penghormatan bagi para korban perang.

“Yang berkunjung ke sini biasanya anak SMA atau mahasiswa yang sedang mencari sejarah, banyak monumen juga di dalam sini yang dibangun untuk tugas mereka. Kalau keluarga, biasanya mengirim bunga pada waktu-waktu tertentu lewat web, jadi bisa request mau seperti apa,” lanjutnya.

Makam Ereveld Pandu buka setiap hari dari jam 07.00-17.00 WIB dan tidak memungut biaya masuk. Di setiap makam kehormatan Belanda terdapat pendopo, di mana para pengunjung bisa dengan tenang melihat daftar nama para korban dan informasi lainnya yang tersedia.

Seluruh karyawan di sini selalu siap membantu untuk menemukan makam yang dicari oleh traveler.

“Untuk mengunjungi Ereveld Pandu tinggal tekan bel saja, nanti saya atau penjaga lain akan membuka gerbang. Biasanya ada yang izin dulu ke kedutaan untuk masuk ke sini,” ujarnya.

Ereveld Pandu tidak hanya menjadi tempat peristirahatan bagi para korban perang, tetapi juga menjadi pengingat sejarah kelam masa penjajahan Belanda di Indonesia. Kompleks ini terbuka untuk umum dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Bandung.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com