Tag Archives: bank bri

Craftofe, Kopi Durian dan Galeri Seni Jadi Satu



Jakarta

Usaha kedai kopi menjadi tren belakangan ini. Kalau yang lain berakhir di pandemi, kedai kopi ini malah tenar.

Adalah Craftote, sebuah galeri yang menjadi satu dengan kedai kopi di jalan Tomang Rawa Kepa No.37, Tomang, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Menariknya, Craftote tidak hanya memberikan suasana nyaman dan unik untuk nongkrong. Thio Siujinata (50) dan Rika Chistina membangun usaha pada 2020 itu untuk membuka lapangan kerja.


“Sekitar 2019, menjelang pandemi awal-awal itu, kita suka bantu panti asuhan di Bintaro, namanya Abimata,” kata Thio pada Selasa (4/2).

Setiap hari, Thio menjual barang secara online, mulai dari mainan sampai frozen food. Koneksinya dengan panti asuhan juga semakin erat karena kerap memberikan bantuan di sana.

Suatu ketika, pemilik panti asuhan bertanya apakah Thio dan Rika memiliki koneksi untuk menyalurkan anak-anak panti asuhan yang sudah lulus sekolah. Thio mengakui bahwa anak-anak tersebut memiliki nilai dan bakat yang tak bisa dipandang sebelah mata.

CraftoteCraftote (Bonauli/detikcom)

“Istri kepikiran, ‘eh kita bikin usaha yuk, karyawannya anak panti asuhan’. Saya bilang that’s a good idea gitu,” dia menambahkan.

Ide itu betul-betul diwujudkan. Thio dan Rika dibantu dengan salah seorang keluarga membuka jalan bagi anak-anak panti asuhan itu.

Thio menggabungkan kepiawaiannya dengan tempat berkumpul. Thio seorang lulusan seni rupa dari Institut Kesenian Jakarta memadukan seni kriya dengan kedai kopi. Soal namanya, Thio tidak bisa melupakan pesan saudaranya yang meminta agar dia memakai brand sendiri.

Hingga kemudian, perpaduan kecintaannya akan seni kriya, kopi, dan pesan agar memiliki brand sendiri, serta upaya untuk membantu membuka lapangan pekerjaan bagi penghuni panti asuhan itu terwujud dalam Craftote.

Craft artinya kerajinan tangan dan tote artinya dijinjing, sehingga Craftote berarti bisnis kesenian yang bisa dibeli langsung oleh konsumen. Crafttote berdiri pada Mei 2021.

CraftoteCraftote (Bonauli/detikcom)

Bagi pebisnis, permulaan adalah yang terberat. Itu pula yang dirasakan Thio. Ia memulai usaha dengan pendanaan pribadi dengan jumlah yang tentu saja terbatas.

Craftote menjual produk-produk rumah tangga yang terbuat dari bahan ramah lingkungan, seperti pelepah pisang, bambu sampai eceng gondok. Ia dibantu oleh perajin-perajin di banyak desa, ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Putar otak, Thio akhirnya menemukan solusi dengan sumber dana tambahan, kedai kopi. Craftote kemudian menjadi sebuah kedai kopi yang berada di dalam galeri, ini mengapa suasana tempat itu terasa nyeni dan memanjakan mata.

“Kita bikin kopi untuk uang cepat, sementara galeri untuk uang besar,” kata dia.

CraftoteCraftote (Bonauli/detikcom)

Craftote yang berada di pinggir jalan itu, mulai ramai oleh pengunjung. Popularitas Craftote bahkan tersiar sampai ke Direktur UMKM Bank Bri saat itu. Thio tentu saja kaget, ia bahkan masih ingat dengan jelas hari itu adalah Kamis.

“Besoknya (Jumat) beliau datang lagi bersama tim, foto-foto. Saya pikir ‘enggak papalah kan namanya kostumer’,” ujar Thio sambil mengekspresikan kebingungannya saat itu.

Sebelum pulang, ia mendapat tantangan dari Bank BRI berupa konsistensi dalam usaha. Jika Craftote dapat mempertahankan produk yang dihasilkan maka Bank BRI akan menghadiahkan kedai kedua di Rumah BUMN Jakarta.

Tantangan itu membuatnya termotivasi, ia menyebut kata ‘nothing to lose‘ untuk menggambarkan perasaannya yang campur aduk saat itu.

Waktu berlalu, tanggal pengumuman pemenang dari Bank BRI sudah tiba yaitu 1 Desember 2021. Kebahagiaan masih terlihat di wajahnya setiap kali teringat momen kemenangan itu. Namun sesaat mimiknya berganti serius selaras dengan perubahan perasaan.

“Setelah diumumkan menang, kita diberitahu bahwa opening kedai itu tanggal 15 Desember, tapi baru masuk ke sana tanggal 13. Wah, cepet banget, dalam dua hari bikin coffee shop, itu dewa banget tuh ,” katanya.

Singkat cerita, Craftote laris manis. Dari dua kedai beranak menjadi empat, lokasinya di Post Blok dan Rumah Sakit Pelni. Thio sendiri tak menyangka bahwa kedai kopinya akan laku keras di masa-masa pandemi, bahkan ia menyebut bahwa usahanya itu ‘kebablasan’.

CraftoteBianca, pengunjung Craftote (Bonauli/detikcom)

Bianca (38), ibu dua anak, menjadi salah satu pelanggan setia Craftote. Ia bercerita bahwa dirinya kerap nongkrong selagi menunggu anaknya pulang sekolah.

“Rumah saya kebetulan di seberang sini, enak di sini suasananya tenang dan unik,” Bianca melontarkan pujian.

Bayangkan saja, kedai kopi itu lebih mirip galeri seni daripada tempat nongkrong. Lampu-lampunya estetik dari bahan ramah lingkungan yang didesain sendiri oleh Thio, mejanya dari bekas kaki mesin jahit. Tak ada alasan untuk tidak jatuh cinta pada Craftote.

Menu andalannya berupa kopi durian. Thio ingin agar konsumennya tetap sehat, ia pun menggunakan resep yang terbilang unik. Bukan cuma durian, kopi-kopi lainnya juga diracik dengan buah-buahan lain seperti buah naga dan stroberi. Rasanya di luar dugaan, sangat nikmat dan ringan. Harganya Rp 45 per gelas.

CraftoteCraftote (Bonauli/detikcom)

Peran BRI untuk Craftote

Selama ikut dan aktif di Rumah BUMN, Thio mengaku mendapat banyak sekali manfaat. Ia mendapat berbagai pelatihan yang menunjang usahanya. Mulai dari pelatihan manajemen sampai digitalisasi.

“Bermanfaat sekali ikut Rumah BUMN,” senyum merekah di wajahnya.

Tiap kali mengingat perjalanan bersama BRI, Thio menunjukkan ekspresi yang bahagia. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih kepada BRI.

“Sangat, sangat berterima kasih kepada BRI,” kata dia.

Thio juga mengajukan pinjaman KUR kepada BRI dengan jumlah Rp 100 juta. Saat ini Craftote memiliki omzet Rp 50 juta per bulan.

Jajang Rohmana (23), fasilitator dari Rumah BUMN Jakarta, menyebut bahwa Craftote adalah UMKM Best Seller, artinya badan usaha ini memiliki produk yang diminati oleh masyarakat.

Kalau dulu Thio menjadi peserta pelatihan UMKM, kini ia kerap diundang sebagai narasumber untuk pelatihan di Rumah BUMN Jakarta. Jajang berkata bahwa kehadiran Thio menjadi penyemangat bagi UMKM yang sedang berjuang untuk maju.

“Harapannya dengan menghadirkan Craftote sebagai narasumber mereka biar jadi termotivasi buat belajar dan ikut pelatihan,” ujar dia.

(bnl/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Saung Ciburial, Dulu Miskin, Kini Mendunia!



Jakarta

Dari pelosok terpencil hingga panggung nasional, Desa Sukalaksana di Garut, Jawa Barat menulis ulang kisahnya. Sebuah desa yang dulu menjadi kantong kemiskinan, kini menjelma menjadi destinasi wisata ‘Desa BRILian’ yang menginspirasi. Bagaimana bisa?

Udara segar pegunungan menyambut di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat. Desa itu berjarak sekitar 10 km dari jantung kota Garut. Dikenal sebagai Desa Wisata Saung Ciburial, tempat ini menawarkan ketenangan dan keindahan alam yang asri. Keasrian desa itu dulu tidak bikin warganya berkecukupan.

Ya, Desa Sukalaksana adalah desa tertinggal dulu. Namun, berkat ide kreatif Kepala Desa Oban Sobana dan dukungan berbagai pihak, termasuk Bank BRI, desa tersebut bertransformasi menjadi destinasi wisata yang memikat.


“Dulu desa ini bisa disebut desa miskin di Garut,” kata Siti Julaeha, pengelola Bumdes Desa Sukalaksana, kepada detikcom.

Desa itu merupakan pemekaran, namun bukan berada di sisi jalan utama. Nah, Kades Oban menyadari desa itu harus mampu membiayai operasional dengan potensi yang dimiliki. Dia berguru ke Yogyakarta, tepatnya ke Desa Petingsari. Pulang dari Desa Petingsari, Oban langsung mempraktikkan apa yang didapatkan dari Jogja itu; membangun Desa Sukalaksana menjadi desa wisata.

“Desa wisata enggak usah kita buat yang aneh-aneh, sesuatu yang diada-adakan, kenapa kita tidak coba kalau di sini (memiliki potensi desa) dan kita kembangkan, itu sebenarnya inspirasi pertamanya,” ujar Siti.

Oban dan Bumdes serta warga lokal menyepakati untuk memanfaatkan rumah khas desa itu, rumah palupuh, yang kemudian dibangun sebagai ikon desa komplet dengan sumber mata air bernama mata air Ciburial di belakangnya.

Desa Seukalaksana itu kemudian juga dikenal sebagai Desa Saung Ciburial. Untuk mengembangkan pariwisata, desa itu mengusung konsep natural. Kemudian, dikembangkan pula kearifan lokal yang autentik, mulai dari perkebunan sawi yang terkenal, budidaya domba Garut, hingga teh kewer dan kopi.

“Lebih pure menyajikan tentang desa,” kata Siti.

Pengunjung juga bisa menyaksikan permainan tradisional anak-anak, pencak silat Gajah Putih yang mendunia, dan berbagai kerajinan lokal.

Kini, Desa Wisata Saung Ciburial dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukalaksana.

BRI turut berperan penting dalam pengembangan desa wisata ini. Bantuan yang diberikan berupa peralatan, dana, dan pendampingan.

“BRI mulai datang sekitar sebelum pandemi 2019-an,” kata Siti.

Dukungan ini sangat membantu, terutama dalam pengembangan fasilitas dan pemberdayaan masyarakat. Istimewanya lagi, Desa Sukalaksana menyabet predikat juara 1 Desa BRILian 2021.

Desa Sukalaksana memiliki luas wilayah 203.426 hektare dengan jumlah penduduk 4.991 jiwa (data 2021). Keberhasilan Desa Wisata Saung Ciburial menjadi bukti bahwa potensi desa dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(fem/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Disangka, Kuliner Favorit Bule di Pulau Tidung Adalah…



Jakarta

Wisata kuliner berupa seafood umumnya menjadi favorit di Pulau Tidung. Tapi ternyata, ada soto yang jadi favorit Bule-bule.

Nama kedainya Soto Lamongan Sugiono, pemiliknya adalah Ibu Kukut Wijawati (49). Asli Lamongan, Jawa Timur, ibu dua anak itu dulu bisa sampai ke Pulau Seribu karena paksaan keadaan. Dirinya yang takut dengan laut, harus mampu terbiasa dengan lingkungan karena sang suami bekerja sebagai pengantar galon ke sana.

Berjalannya waktu, ia mulai mencintai laut, tepatnya Pulau Tidung. Tahun 2013, ia mendirikan usahanya, Soto Lamongan jadi pilihan karena kuliner itu berasal dari kota kelahirannya.


Usaha pertama tentu butuh modal besar, ia kemudian memutuskan untuk melakukan pinjaman KUR kepada BRI sebanyak Rp 100 juta. Dewi Fortuna berpihak padanya, usahanya laris manis di tengah gempuran makanan laut.

Saat weekend, tempat duduk di kedai makannya selalu sesak oleh wisatawan. Kebanyakan mereka datang karena tak sengaja melewati kedai makan itu, karena biasanya wisatawan yang datang mendapat katering dari operator tur yang membawanya.

Soto Lamongan Sugiono di Pulau TidungIbu Kukut pemilik Soto Lamongan Sugiono di Pulau Tidung (bonauli/detikcom)

Namun, rejeki sudah ada yang atur. Ibu Kukut berbisnis dengan sukacita. Di musim libur panjang seperti lebaran, ia buka sejak pagi sampai tengah malam. Wisatawan ramai, warga yang sudah bosan dengan menu lebaran mampir untuk mencari pilihan.

“Kemarin jam 8 malam udah habis, tapi masih banyak orang. Jadi bikin kuah lagi dibantu sama keluarga,” katanya terkekeh.

Dua hari lebaran membuat Ibu Kukut dan keluarga kewalahan, tapi tentu saja cuan. Kebanyakan datang saat malam, makan kuat-kuat sehabis berenang di pantai.

Soto Lamongan Sugiono di Pulau TidungSoto Lamongan Sugiono di Pulau Tidung (bonauli/detikcom)

Dalam perjalanan bisnisnya, pelanggan bule tentu jadi yang paling mudah diingat. Dari banyaknya bule yang berkuliner ke sana, ia ingat akan seorang wanita, tak tahu asalnya darimana. Perawakannya yang tinggi, putih dan berbahasa Inggris membuatnya yakin, pelanggan ini datang dari negeri seberang.

“Bule itu setengah bulan makan ke sini setiap hari,” katanya singkat, sambil mencoba mengingat.

Hari pertama biasa saja, karena si bule bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Di hari ketiga, si bule mulai mengajak Ibu Kukut ngobrol. Ia tentu panik.

“Katanya enak, mantep,” ucapnya sambil tertawa.

Soto Lamongan Sugiono di Pulau TidungSoto Lamongan Sugiono di Pulau Tidung (bonauli/detikcom)

Bule ini kemudian datang setiap hari selama hampir setengah bulan. Ia rutin mampir setelah habis dzuhur.

“Selalu pesan soalnya aja, nggak pake nasi. Datang sehari sekali,” katanya.

Setiap hari warung ini menghabiskan sekitar 500 porsi soto kalau ramai seperti long weekend dan 30 porsi jika sepi. Satu porsi diberi harga Rp 15.000 sudah dengan nasi. Selain soto ayam, ada pula bakso yang melengkapi menu di rumah makan itu.

Meski harganya murah, tapi rasa soto ini sungguh menggoyang lidah. Santannya legit dan porsinya banyak. Di makan dengan nasi panas, membuat masuk angin bablas keluar dari tubuh. Wajar saja, kalau si bule sampai kepincut makan tiap hari di sini.

Cerita lain datang dari seorang anak SMP yang sedang study tour. Bocah lelaki itu ketinggalan kapal fery. Ibu Kukut memberikan seporsi soto ayamnya kepada si bocah.
“Saya bilang makan nggak usah bayar, anak laki-kan bisa tidur di masjid. Kasian banget dia,” ceritanya.

Anak itu pulang keesokan harinya saat kapal fery datang. Ia berterima kasih dengan kebaikan pemilik warung soto yang mau memberinya makan cuma-cuma.

Soto Lamongan Sugiono di Pulau TidungPembayaran digital di soto Lamongan Sugiono di Pulau Tidung (bonauli/detikcom)

“Saya senang dibantu BRI, pokoknya terima kasih lah, saya jadi bisa membantu orang lain,” katanya lembut.

Mantri BRI Ryan (35) mengatakan bahwa Soto Lamongan Sugiono memang tiada dua. Sebagai wakil dari BRI dirinya mendukung perkembangan usaha Ibu Kukut dan siap membantu saat butuh modal tambahan.

“Apalagi warungnya ramai dan sudah digitalisasi, kita harus dukung UMKM pulau ini,” katanya.

Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI adalah program pembiayaan bersubsidi dari pemerintah yang disalurkan oleh Bank BRI untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) . Tujuan KUR BRI adalah mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dengan memberikan akses pinjaman yang lebih mudah bagi UMKM yang produktif namun belum memiliki agunan yang cukup.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com