Tag Archives: bentuk

Makam Gaya Eropa yang Penuh Misteri di Pinggir Jalan Kuningan



Jakarta

Makam dengan gaya bangunan gaya Eropa masih menyimpan misteri hingga kini. Lokasinya di pinggir sebuah jalan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Lokasi persisnya di Jalan Raya Cigugur-Palutungan, Kabupaten Kuningan. Konon, banyak yang menyebut bangunan berada di samping markas Koramil 1515 Cigugur itu merupakan makam pembesar Belanda bernama Van Beck.

Meski demikian, tak banyak warga yang mengetahui silsilah ataupun rekam jejak meneer Belanda yang konon tinggal di daerah Cigugur itu. Hal itu jugalah yang ada di benak Iim Wakim.


Juru pemelihara situs makam tersebut mengaku hanya mendapat sedikit informasi mengenai sosok Van Beck.

Makam Van Beck di Kuningan.Makam Van Beck di Kuningan (Foto: Mohamad Taufik/detikJabar)

“Bangunan ini adalah makam Jenderal Van Beck yang meninggal pada tahun 1912. Tapi tidak ada catatan sejarah ataupun informasi dari warga sini siapa sosok Van Beck tersebut, apakah dia seorang tentara Belanda atau saudagar kaya waktu itu,” ungkap Iim kepada detikJabar, belum lama ini.

Termasuk makam Van Beck yang mana, Iim tak mengetahui. Sebab, di dalam bangunan berbentuk bulat bak Igloo di Kutub Utara ini terdapat dua makam yang saling berdampingan.

“Ada dua makam, kondisi satu makam di sebelah Barat sudah terbongkar sedangkan satu lagi di sebelahnya sudah bolong. Tidak ada keterangan makam Van Beck yang mana, dan makam siapa yang satu lagi, apakah istrinya atau siapa saya tidak tahu,” ujarnya.

Pastinya, kata Iim, di lokasi tersebut dulunya memang area pemakaman yang didominasi warga Belanda yang tinggal di daerah Cigugur. Ini terlihat dari beberapa makam yang tersisa di dekat makam Van Beck mempunyai bentuk makam bergaya Eropa.

Baca artikel selengkapnya di detikJabar

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Bekantan, Maskot Ancol, Ada di Faunaland



Jakarta

Siapa bilang harus pergi jauh ke Kalimantan untuk melihat bekantan? Di Faunaland Ancol pengunjung dapat menikmati pengalaman dekat dengan bekantan.

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata langka yang berasal dari Kalimantan. Lewat hidungnya, traveler akan langsung mengingat maskot tempat wisata di Dufan.

Bekantan memiliki warna bulu yang bervariasi yaitu coklat kemerahan hingga orange. Bukan cuma memiliki pembeda pada hidung panjangnya, ternyata primata ini pandai berenang lho!


Faunaland Berlokasi di Ecovention Building – Ecopark, Jalan Lodan Raya, Pademangan, Ancol, Jakarta Utara, dekat juga dengan Stasiun KRL Ancol.

detikTravel datang ke sana, Selasa (24/09/2024) untuk bertemu langsung dengan primata endemik Kalimantan itu. Saat tiba, kami menyebrangi jembatan berwarna coklat tua dengan nuansa keasrian pohon-pohon, menjadikan perjalanan menuju primata unik ini semakin mengesankan.

Saat tiba, bekantan sedang santai. Di sini traveler bisa mengamati perilaku, karakteristik, warna bulu, cara makan, dan bentuk fisiknya secara lebih dekat.

Bekantan di Faunaland, Ancol, Jakarta UtaraBekantan di Faunaland, Ancol, Jakarta Utara (Amalia Novia Putri/detikcom)

“Ciri fisik khas bekantan ada di hidungnya, perbedaan fisik terlihat jelas pada 1 bekantan jantan bernama Simon memiliki hidung yang besar dan panjang, 2 bekantan betina bernama Melani dan Stephani anaknya memiliki hidung cenderung lebih pendek. Hidung pada bekantan jantan jika semakin besar dan panjang menjadi daya tarik lebih bagi bekantan betina,” kata Febri, dokter hewan di Faunaland.

Selain memiliki ciri fisik yang mencolok yaitu hidung besar dan panjang yang khas, bekantan juga memiliki kemampuan luar biasa dalam hal berenang. Mereka hidup di sepanjang sungai dan hutan bakau, menjadikannya primata yang sangat terampil menyelam di dalam air.

“Tak hanya bergelantungan di ranting-ranting pohon maupun di pagar kandang, bekantan juga pandai berenang karena memiliki selaput di sela-sela jari kakinya,” ujar Febri.

Selain adanya edukasi kepada pengunjung, Faunaland juga mengambil langkah dalam menjaga kelestarian bekantan, dari ancaman kepunahan melalui upaya konservasi. Itu sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup bekantan yang terancam punah, dengan memantau dan menjaga perkembang-biakan bekantan dengan teknologi USG, agar memastikan kesehatan dan pertumbuhan janin bekantan.

“Kita mencoba untuk mengembangbiakan bekantan. kita terus pantau perkembangannya, biasanya saat sudah satu bulan kemungkinan perkembangbiakan berhasil, kita terus pantau dan USG untuk menjaga kehamilan bekantan betina” kata Febri.

Dikutip dari WWF.id masa depan bekantan berada dalam keadaan yang bisa dibilang kritis. Satwa khas dari Kalimantan ini banyak diburu untuk dikonsumsi dagingnya karena dipercaya dapat menambah stamina. Selain itu, bekantan banyak diperdagangkan untuk dipelihara. Karena inilah populasi bekantan di habitatnya terus menerus dan terancam punah (9/01/2024).

Faunaland Ancol bisa dikunjungi mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 16.30 WIB setiap hari. detikTravel menyarankan datanglah pagi karena selain bisa melihat primata bekantan traveller juga bisa melihat siamang putih di pulang amang dengan menaiki sampan di perairan Faunaland.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kembali ke Zaman Batu di Situs Megalit Meghibu



Pagar Alam

Kota Pagar Alam di Sumatera Selatan punya situs-situs megalit bersejarah. Traveler akan diajak kembali ke zaman batu di Situs Megalit Batu Beghibu.

Situs Megalit Batu Beghibu atau Batu Beribu (dengan ibu) itu berada di desa Tegur Wangi, Kelurahan Pagar Wangi Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, Sumsel.

Lokasi tepatnya berada di tengah persawahan milik warga setempat. Situs Megalit Batu Beghibu ini menjadi salah satu dari 67 situs yang didaftarkan ke UNESCO oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pagar Alam.


Dikutip dari situs Pemkot Pagar Alam, seorang peneliti bernama Van der Hoop pernah meneliti situs-situs bersejarah di Pagar Alam. Berdasarkan studi peneliti berkebangsaan Belanda ini, ditemukan 22 kawasan di Pagar Alam yang diyakini sudah ada dari zaman prasejarah atau zaman batu.

Terdapat 4 Megalit berdekatan seperti orang yang sedang menggendong bakul padi. Tidak jauh dari megalit tersebut, ada tiga rumah batu atau rumah dalam tanah yang semuanya terbuat dari batu.

Pemilik tanah, Suriana (70), mengatakan situs megalit tersebut terletak di bawah pohon besar dan dipenuhi rerumputan sebelum dijadikan tempat wisata. Saat ini, area itu sudah diberi pagar agar tidak rusak.

“Tanah ini tanah warisan dari nenek. Saya kurang tahu kapan ini dijadikan wisata tapi saat anak saya masih kecil (sekitar tahun 80-an) itu sudah ada turis-turis yang ke sini dan para peneliti,” katanya saat diwawancarai, Minggu (17/11/2024).

Suriana menjelaskan keempat megalit tersebut dulunya memiliki bentuk yang sangat jelas dan kecil. Saat ini ukurannya sedikit membesar. Suriana memperkirakan hal itu disebabkan jarak antara keempat megalit. Dulunya jarak itu berjauhan, kini sudah sempit.

“Kayaknya itu (sambil menunjuk Megalit Batu Beghibu) seperti orang memikul bakul padi dari panen. Dulu kelihatan tangkai padinya dipegang dan diletakkan di bakul. Kalau sekarang sudah tidak jelas lagi. Itu yang bentuk wajah asli tidak di rubah. Perkiraan itu pada zaman Majapahit tapi saya kurang tahu pastinya,” ujarnya.

Semenjak situs Megalit Batu Beghibu menjadi tempat wisata, pengunjung tidak dapat memegang megalitnya sebab diberi kandang. Saat itu pernah salah satu megalitnya terjungkit ke bawah dan diletakkan ke tempat semula.

“Iya di sini gratis tidak di pungut biaya, biasanya hari weekend banyak orang yang berwisata ke sini. Kalau penyebutannya itu Batu Beghibu tapi ada yang bilang ada Batu Beribu. Ada juga Batu Beranak tapi sering disebut Batu Beghibu,” tuturnya.

Selain situs Megalit Batu Beghibu, berjarak sekitar 100 meter terdapat situs Rumah Batu. Dimana menurut cerita rumah batu tersebut dijadikan tempat tinggal masyarakat zaman dulu.

“Iya, kalau rumah batu ini ketahuannya sekitar tahun 80-an, soalnya setiap membajak sawah air di atasnya selalu kering. Setelah dibongkar di dalamnya terdapat lukisan seperti orang yang memegang cangkul dan lukisan lainnya, tapi saat ini sudah tidak ada karena lumut,” ujarnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Profil Gunung Padang, Situs Megalitik Tertua di Indonesia



Cianjur

Situs Gunung Padang merupakan punden berundak terbesar di Indonesia. Situs megalitikum tertua ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional (CBN).

Walaupun namanya Gunung Padang, tapi gunung tersebut tidak berlokasi di Padang, Sumatera Barat. Gunung ini justru berada di Cianjur, Jawa Barat.

Lokasi Gunung Padang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Gunung ini memiliki ketinggian 885 meter di atas permukaan laut (MDPL).


Situs Gunung Padang adalah bukti peradaban kuno Indonesia. Situs ini penting untuk diteliti lebih lanjut. Menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, kolaborasi dengan BRIN diperlukan guna menyibak sejarah situs Gunung Padang.

“Banyak yang berpendapat Situs Gunung Padang ini sudah ada sejak belasan hingga puluhan ribu tahun lalu. Situs ini membutuhkan penelitian lebih dalam untuk mengungkap sejarah dan jejak peradaban nenek moyang kita. Kolaborasi dengan BRIN diharapkan mampu mengungkap lebih dalam tentang sejarah situs ini,” ujar Fadli Zon seperti dikutip dari Antara, Kamis (2/1/2025).

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX, Retno Raswaty, menambahkan Situs Gunung Padang adalah salah satu aset budaya yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Untuk itu, upaya pelestarian dan pengembangan situs ini terus dilakukan.

“Kami di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX berkomitmen mendukung pelestarian dan pengembangan situs ini agar generasi mendatang dapat terus menikmati dan mempelajari warisan budaya kita. Harapan kami, Situs Gunung Padang dapat dinobatkan sebagai Warisan Dunia UNESCO, karena nilai sejarah dan arkeologinya yang luar biasa,” imbuh Retno.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon berkunjung ke Situs Gunung PadangSitus Gunung Padang Foto: (dok. Istimewa)

Menteri Kebudayaan pun berharap situs ini tidak hanya dilihat sebagai artefak, tetapi juga menjadi sumber informasi yang akan menambah kecintaan masyarakat terhadap budaya Indonesia.

“Kita ingin Situs Gunung Padang menjadi tempat yang memberikan banyak informasi tentang peradaban masa lalu,” tambah Fadli.

Sejarah Gunung Padang

Gunung Padang pertama kali ditemukan oleh Nicolaas Johannes Krom. Ia adalah orang yang pertama melaporkan keberadaan situs Gunung Padang pada tahun 1914.

Kisah Nicolaas menemukan gunung Padang dimuat dalam tulisannya yang berjudul Rapporten Oudheidkundige Dienst (Buletin Dinas Kepurbakalaan).

Gunung Padang bukan gunung yang aktif. Kawasan Gunung Padang tercatat sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Bentuk punden berundak situs ini mencerminkan zaman megalitikum yang terdiri dari lima teras dan tersusun dengan berbagai ukuran.

Dengan luas sekitar 291.800 meter persegi, Situs Gunung Padang telah diakui sebagai salah satu warisan budaya yang penting di Indonesia.

Dinamakan gunung Padang karena kata ‘Padang’ merupakan sebuah akronim dari beberapa kata. “Pa” berarti tempat, “Da” artinya besar atau agung, dan “Hyang” bermakna leluhur.

Ketika ketiga kata tersebut disusun, maka akan menjadi kata “Padang” yang artinya “Tempat Agung Para Leluhur”.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Berkonsep Unik di Bandung, Bentuknya Seperti Lumbung Padi



Bandung

Di Soreang, Bandung ada bangunan masjid yang unik. Bukannya memiliki arsitektur Timur Tengah, tapi bentuk masjid ini malah seperti lumbung pagi atau leuit.

Masjid tersebut adalah Masjid Salman Rasidi yang terletak di Desa Sekarwangi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Tempat ibadah tersebut memiliki ruang tempat salat yang berada di lantai 2.

Bangunan masjid tersebut didominasi dengan warna abu-abu. Kemudian dari tampak depan arsitekturnya dominan dengan kaca-kaca yang besar.


Masjid tersebut memiliki udara yang sejuk yang membuat para jemaah nyaman untuk beribadah. Nampak terlihat di berbagai sisi bangunan dibuat miring sama halnya seperti bentuk asli dari lumbung padi.

Masjid Salman Rasidi ini dibangun pada tahun 2019, tepatnya tanggal 20 Mei 2019. Pembangunan selesai dalam waktu kurang lebih 1 tahun, kemudian diresmikan pada tanggal 9 April 2020.

Ketua Harian DKM Masjid Salman Rasidi, Andri Mulyadi (45) mengatakan, masjid tersebut dibangun dengan konsep ramah lingkungan. Sehingga jemaah yang beribadah bisa dengan nyaman dan khusuk.

“Jadi memang ini desainnya kita sangat memperhatikan lingkungan. Ini terlihat seperti di dalam kondisi kaca-kaca yang termasuk ventilasinya, cahayanya juga. Sehingga memang jemaah merasa nyaman, merasa khusuk, yang tagline-nya dari kita itu adalah aman, nyaman dan mengesankan,” ujar Andri, Senin (3/3/2025).

Andri mengatakan jemaah yang datang ke masjid tersebut kerap terpada dengan bangunan masjid tersebut. Maka tak jarang para jemaah kerap mengabadikan momen di masjid tersebut.

“Masyaallah banyak sekali kegiatan-kegiatan di samping kegiatan-kegiatan, mereka juga berfoto ria gitu ya, selfie kemudian menikmati kenyamanan yang ada di Masjid Salman Rasidi ini,” katanya.

Pihaknya mengungkapkan masjid tersebut memiliki konsep bangunan sama seperti leuit atau lumbung padi. Kata dia, hal tersebut dilakukan disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada di Soreang.

“Ini disesuaikan dengan warga sekitar di sini itu kan masyarakat agraris. Yang kedua memang memiliki filosofi yang sangat tinggi, yang masyarakat agraris yaitu karena rata-rata di wilayah sini adalah mereka bercocok tanam, terutama padi. Makanya kita simbolkan yaitu dengan seperti bentuk lumbung padi,” jelasnya.

Area masjid tersebut memiliki ukuran 15 meter X 15 meter. Kemudian untuk area pelataran atau parkiran yang memiliki ukuran 19 meter X 20 meter.

“Kalau daya tampung semuanya itu sekitar 400 jemaah, termasuk yang di bawah. Kalau misalnya meluber, kita ada yang di bawah, karena yang inti adalah di lantai yang pertama dan dua,” ucapnya.

Penampakan Masjid Salman Rasidi yang berbentuk leuit atau lumbung padi.Penampakan Masjid Salman Rasidi yang berbentuk leuit atau lumbung padi. Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Menurutnya yang membuat masjid tersebut terasa sejuk adalah dengan adanya AC yang diletakan pada bagian pinggir lantai. Kata dia, dengan itu masyarakat akan merasakan angin yang sejuk.

“Kan orang pakai AC di atas ya. Ini di bawah. Jadi seperti merasakan seperti ada ombak, seperti ada angin kan begitu. Kemudian juga alhamdulillah ada fasilitas seperti air minum gratis. Kemudian juga fasilitas tempat parkir juga nyaman, alhamdulillah luas,” tuturnya.

Masjid tersebut kerap menjadi tempat istirahat bagi warga yang akan berwisata ke wilayah Bandung Selatan. Makanya masjid tersebut kerap disinggahi oleh para wisatawan.

“Alhamdulillah mereka sangat nyaman. Bahkan sudah informasi mulut ke mulut, dan ternyata kalau mereka mau wisata ke arah Ciwidey, mereka transit dulu di Masjid Salman Rasidi ini,” bebernya.

Dia menambahkan pada ramadan kali ini berbagai program kajian telah diselenggarakan. Apalagi kajian tersebut kerap dihadiri oleh muda-mudi yang ada di Soreang.

“Tentunya masjid juga ingin di dalamnya itu memiliki nilai-nilai. Salah satu nilainya adalah memberikan sebuah kebermanfaatan untuk masyarakat dan menjadi berkah lah adanya masjid ini,” pungkasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Kapal Pesiar yang Unik di Mojokerto, Ini Filosofi di Baliknya



Mojokerto

Di Mojokerto, Jawa Timur berdiri sebuah masjid berbentuk unik. Masjid itu dibangun menyerupai kapal pesiar. Ternyata, ada arti filosofis di baliknya.

Masjid Ar Rahman di Dusun Belor, Desa Kembangbelor, Pacet, Mojokerto dibangun menyerupai kapal pesiar. Di balik keunikan arsitekturnya, masjid ini mempunyai filosofi sebagai bahtera penyelamat berbagai masalah sosial.

Masjid milik Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Vila Durian Doa Yatim Sejahtera itu terletak persis di halaman panti asuhan. Luas masjid unik ini mencapai 45×25 meter persegi.


“Masjid ini desainnya kapal pesiar. Harapannya menjadi bahtera penyelamat persoalan sosial karena penghuninya di sini beragam penyandang masalah sosial,” kata Ketua LKSA Vila Durian Doa Yatim Sejahtera, Muhammad Mukhidin (44), Senin (3/3/2025).

Bentuk masjid ini memang mirip kapal pesiar, baik eksterior maupun interiornya. Banyak jendela di sisi kanan dan kirinya membuat masjid ini selalu terang. Uniknya lagi, tempat imam salat dan mimbar khatib didesain layaknya ruang kemudi kapal.

Tempat imam dan khatib berhiaskan setir kapal asli, kompas berdiri, beberapa kompas kecil, monitor kemudi, jangkar, derek jangkar, serta lukisan lautan pada dindingnya. Tempat salat ini berada di lantai 2 masjid.

Lantai 1 masjid disulap menjadi asrama putri dan balita. Posisinya di bawah tanah layaknya lambung kapal yang tenggelam di lautan. Sebelah kirinya merupakan area wudu. Lantai 3 menjadi aula, sedangkan lantai 4 dan 5 penginapan para tamu panti asuhan.

“Pembangunan lantai 3, 4 dan 5 tinggal daun pintu dan daun jendela, tapi sudah bisa ditempati,” terang Mukhidin.

masjid kapal pesiar mojokertoMasjid kapal pesiar di Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto

Selama bulan Ramadan, masjid kapal pesiar ini tak pernah sepi dari berbagai kegiatan keagamaan. Jemaah datang dari LKSA, warga sekitar, juga para pelancong.

Mereka menunaikan salat 5 waktu, salat Jumat, Salat Tarawih, tadarus, mengaji, burdah, hingga buka bersama di masjid berbentuk unik tersebut.

Saat ini, kata Mukhidin, LKSA Vila Durian Doa Yatim Sejahtera mengasuh 57 orang. Terdiri dari 9 lansia dan 48 anak.

“Ada anak-anak yatim, piatu, korban pelecehan seksual, korban KDRT, ada juga anak dari wanita ODGJ yang dilecehkan,” ungkapnya.

Pembangunan masjid unik ini atas masukan dari Gus Amirul Mukminin dari Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah, Lamongan. Sosok inilah yang juga memotivasi Mukhidin mendirikan LKSA Vila Durian Doa Yatim Sejahtera.

Pembangunannya sendiri menghabiskan lebih dari Rp 2,5 miliar tahun 2016-2021. Mukhidin berencana menambah panjang area masjid untuk salat setidaknya 10 meter lagi. Sehingga kapasitasnya lebih besar menampung jemaah.

“Kami masih menabung untuk melanjutkan pembangunan,” tandasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Das Wisata Kelawi, Green Canyon-nya Lampung Ini Lee…



Jakarta

Desa Kelawi di Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan dijuluki Green Canyon-nya Lampung. Selain itu, inovasi agrowisata menjadi daya tarik.

Berkat itu pula Desa Kelawi diganjar penghargaan Desa Brilian Hijau 2023 oleh BRI. Keunggulan lainnya, Desa Kelawi mudah dijangkau dari Pelabuhan Bakauheni. Jarak Desa Kelawi dengan Pelabuhan Bakauheni tidak sampai 10 kilometer atau sekitar 15 menit berkendara melalui jalur lintas Sumatera.

Setelah melewati jalan berbukit dan berliku sambil dimanjakan hamparan perkebunan, pengunjung akan langsung disambut hamparan pasir putih di Pantai Minang Rua, Desa Kelawi. Pantai ini memiliki pasir putih yang lembut.


Soal kebersihan, warga bikin terobosan program Bank Sampah yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kelawi Mandiri. melalui program itu, warga Desa Kelawi bergotong royong memastikan kebersihan Pantai Minang Rua dan seluruh wilayah desa.

Warga mengumpulkan sampah dan bisa dijual dan uangnya masuk ke rekening BRI warga. Nah, sampah-sampah itu dikelola BuMdes.

Kehadiran Bank Sampah menjadi penyemangat warga Kelawi dalam menjaga alam. Tidak hanya meningkatkan kesadaran soal kebersihan, mereka juga bentuk nyata hadirnya literasi dan inklusi keuangan yang secara positif dijalankan BRI.

Selain itu, desa Kelawi memiliki air terjun Jemara dan air terjun Khaja Saka.

Selain keindahan pariwisata, Desa Kelawi juga memiliki keunggulan dari sisi agrowisata. Melalui inovasi pertanian, mereka berhasil melahirkan varietas alpukat terbaru, yakni alpukat sipit kelawi yang telah memiliki hak paten dan sertifikasi.

Warga diajak untuk menanam jenis alpukat itu. Sementara, potensi wisata dikembangkan dengan mengajak pengunjung merasakan langsung kenikmatan alpukat asli dari desanya.

Direktur Utama BRI Sunarso dalam acara BRI Microfinance Outlook 2025 pada 30 Januari menyampaikan telah memberikan pendampingan dan pembinaan kepada desa-desa potensial produktif melalui Desa Brilian. Sebanyak 4.327 Desa Brilian di Indonesia sejauh ini telah didorong untuk mengoptimalisasi keunggulan yang dimiliki dan menumbuhkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Desa Brilian merupakan program inkubasi desa yang diselenggarakan oleh BRI bekerjasama dengan pihak ketiga sebagai komitmen perusahaan dalam mengembangkan potensi desa binaan BRI.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Lempar Koin di Situs Ini Dipercaya Membawa Keberuntungan



Pangandaran

Warga Pangandaran percaya jika melempar koin di Situs Batu Kalde, maka wisatawan akan mendapatkan keberuntungan. Percaya atau tidak?

Jika Anda berkunjung ke Taman Wisata Alam (TWA) Cagar Alam Pangandaran, jangan lupa mampir ke Situs Batu Kalde. Ada mitos unik yang menyelimuti situs ini. Mitos itu melibatkan uang koin.

Situs Batu Kalde adalah bangunan cagar budaya yang disebut-sebut sebagai petilasan Prabu Jaya Pakuan, pangeran dari Kerajaan Pajajaran. Konon, sang pangeran pernah singgah di situs ini.


Situs ini dinamakan Situs Batu Kalde karena terdapat sebuah arca berbentuk sapi. Meski berbentuk sapi, namun oleh masyarakat setempat dianggap menyerupai ‘kalde’, bahasa Sunda untuk keledai.

Namun, dalam mitologi Hindu, arca tersebut sebenarnya merupakan Nandi, wahana atau kendaraan Dewa Siwa. Biasanya, keberadaan Nandi menandakan di tempat itu dulunya terdapat arca Dewa Siwa dalam bentuk lingga yoni, simbol kesuburan dalam kepercayaan Hindu.

Situs Batu Kalde di PangandaranSitus Batu Kalde di Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Lingga melambangkan kejantanan dan sumber kehidupan. Sedangkan yoni adalah simbol kesuburan yang dihubungkan dengan Dewi Parwati, istri Dewa Siwa. Penyatuan lingga dan yoni diyakini sebagai filosofi keseimbangan alam yang menciptakan kehidupan baru.

Kembali ke mitos yang dipercaya oleh warga setempat, mereka percaya jika orang yang berhasil melemparkan uang koin ke dalam lubang batu yoni yang tersisa, maka dia akan mendapatkan keberuntungan.

Yogi Saputera, juru penunggu Situs Batu Kalde, mengatakan mitos tersebut telah ada sejak lama.

“Memang katanya kalau berhasil melempar koin ke batu yoni, bisa mendapatkan keberuntungan. Tapi aturannya, harus melempar dari jarak tiga langkah mundur dari batas yang ditentukan,” ujar Yogi belum lama ini.

Konon, jika seseorang berhasil memasukkan koin ke dalam lubang candi yang tinggal satu umpak, maka harapannya akan terkabul. Menurut Yogi, uang koin yang digunakan juga tidak boleh sembarangan.

“Harus pakai uang receh pecahan Rp 500 atau lebih kecil. Tidak boleh terlalu besar nilainya,” tambah dia.

Sampai sekarang mitos ini tetap lestari, bahkan semakin populer, terutama saat musim liburan. Setiap harinya, Yogi mengaku menerima 20 hingga 30 wisatawan yang datang khusus untuk mencoba peruntungan mereka dengan melempar koin.

“Pas libur panjang, jumlahnya bisa lebih banyak. Rata-rata 30 orang datang ke sini setiap hari,” katanya.

Wisatawan Dibuat Penasaran

Bagi sebagian pengunjung, melempar koin ke Situs Batu Kalde bukan hanya soal mitos, tetapi juga bagian dari pengalaman seru selama berwisata. Seperti yang dialami Aprilian (24), seorang wisatawan yang mengunjungi situs ini bersama temanya.

“Awalnya sih cuma ikut rute yang diberikan pemandu. Terus dia bilang ini tempat bersejarah dan ada mitos kalau bisa lempar koin ke dalam lubang, harapan kita bisa terkabul. Jadi ya coba aja,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan Fazar Sidiq, yang datang liburan ke Situs Batu Kalde bersama dengan Aprilian.

“Karena penasaran, ya ikut coba aja. Tadi sampai nukerin uang Rp 2.000 jadi koin receh. Dari empat koin yang saya lempar, dua berhasil masuk,” katanya.

Terlepas dari mitos yang berkembang, Situs Batu Kalde tetap menjadi destinasi menarik di Cagar Alam Pangandaran. Selain menyimpan nilai sejarah dan budaya, tempat ini juga menjadi daya tarik wisata yang unik dengan tradisi lempar koinnya.

Bagi yang percaya, ritual ini bisa menjadi simbol harapan. Namun, bagi yang hanya sekadar mencoba, melempar koin ke Batu Kalde tetap memberikan pengalaman seru yang tak terlupakan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jelang Waisak, Lihat Lagi Patung Buddha Tidur Raksasa di Mojokerto



Mojokerto

Menjelang perayaan Hari Raya Waisak, mari melihat lagi kemegahan patung Buddha tidur berukuran raksasa yang berada di Mojokerto, Jawa Timur.

Di bekas jantung Kerajaan Majapahit, berdiri megah Patung Buddha Tidur raksasa yang kini menjadi ikon wisata religi umat Buddha di Kabupaten Mojokerto.

Patung berlapis warna emas ini tak hanya memancarkan aura spiritual, tapu juga menjadi magnet wisatawan karena kemegahannya. Bahkan, patung ini termasuk daftar tiga patung Buddha terbesar di kawasan Asia Tenggara.


Patung Buddha Tidur yang berada di kawasan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur tersebut juga ditetapkan sebagai patung Buddha tidur terbesar di Indonesia. Patung Buddha ini memiliki ukuran panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter.

This aerial picture shows a giant Buddha statue at the Maha Vihara Mojopahit temple in Mojokerto on June 4, 2023, as Buddha devotees celebrate Vesak day. (Photo by BAGUS SARAGIH / AFP) (Photo by BAGUS SARAGIH/AFP via Getty Images)Patung Buddha Tidur di Mojokerto (Bagus Saragih/AFP/Getty Images)

Patung raksasa tersebut terletak di dalam kompleks Maha Vihara Majapahit, tepatnya Kampung Mojopahit, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Berkat ukurannya yang fenomenal, patung ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2021 silam, sebagai patung Buddha tidur terbesar di tanah air, dan menempati peringkat ketiga terbesar se-Asia Tenggara.

Sejarah Patung Buddha Tidur

Patung Buddha Tidur dibangun pada tahun 1993 oleh seniman patung dari Jawa Tengah dan warga lokal Desa Bejijong. Sosok Buddha digambarkan berbaring ke sisi kanan, posisi yang dikenal sebagai Parinirvana, melambangkan momen menjelang wafatnya Siddharta Gautama di Kusinara.

Keindahan patung ini kian mencolok berkat warna emasnya yang berkilau, memberi kesan agung dan elegan. Di bagian bawah patung terdapat relief yang sarat makna. Relief sisi timur yang tersambung ke utara menggambarkan perjalanan Siddharta menuju Kusinara.

Patung Buddha Tidur di Mojokerto dimandikan jelang peringatan WaisakPatung Buddha Tidur di Mojokerto (Enggran Eko Budianto/detikJatim)

Sementara relief pada sisi selatan yang mengarah ke barat mengisahkan tentang hukum sebab-akibat atau kamma. Kini, Patung Buddha Tidur di Mojokerto tak hanya menjadi simbol spiritual umat Buddha, tapi juga menjadi destinasi religi dan ikon wisata yang membanggakan Mojokerto.

Menjelang perayaan hari Tri Suci Waisak, Maha Vihara Majapahit rutin menggelar ritual pemandian patung yang sarat makna. Ritual ini dilakukan para pengurus vihara dengan menggunakan air yang telah dicampur bunga-bunga berbau harum seperti mawar, melati, kenanga, dan kantil.

Selain itu, debu dan kotoran di permukaan patung juga dibersihkan dengan sikat khusus. Tradisi ini menyiratkan makna pembersihan lahir dan batin, sebagai bentuk refleksi spiritual menjelang Hari Raya Waisak.

Maha Vihara Majapahit sendiri terbuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuk pun cukup terjangkau, yakni Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ini Masjid Unik di Bandung, Bentuk Mirip Lumbung Padi dan Tanpa Kubah



Bandung

Masjid unik bisa ditemukan di beberapa kota di Indonesia, salah satunya di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bangunan masjid terinspirasi dari leuit (bahasa Sunda) atau lumbung padi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat agraris Jawa Barat.

Konsep tersebut jelas berbeda dengan masjid pada umumnya yang menggunakan atap berkubah dan gaya bangunan ala Timur Tengah. Masjid Salman Rasidi ini merupakan bagian dari Rumah Sakit Salman yang bisa digunakan pasien dan penunggunya, serta masyarakat umum.

“Alhamdulillah para pengunjung mereka nyaman. Jika mau ke arah Ciwidey bisa transit dulu di sini,” kata Ketua Harian DKM Masjid Salman Rasidi Andri Mulyadi seperti dikutip.dari detikJabar.


Tampilan keseluruhan Masjid Salman Rasidi memang sekilas mirip bangunan lumbung padi, dengan atapnya yang runcing. Lengkap dengan tangga menuju pintu leuit yang berada agak jauh dari permukaan tanah. Pintu leuit sengaja tidak dibuat sejajar tanah untuk mencegah kebanjiran atau didatangi hewan.

Di berbagai sisi, bangunan masjid dibuat miring sama halnya seperti bentuk asli dari lumbung padi. Dari luar, bangunan Masjid Salman Rasidi didominasi warna abu-abu dan banyak jendela.

Adanya jendela memungkinkan cahaya matahari masuk bagian dalam masjid, sehingga ruangan tampak terang meski tak ada lampu. Beberapa jendela bisa dibuka yang memungkinkan sirkulasi udara. Hasilnya pengunjung betah berlama-lama untuk menunaikan ibadah atau berfoto di sudut-sudutnya yang estetis.

Masjid Salman Rasidi juga terasa sejuk dengan langit-langit yang tinggi. Menurut Andri, masjid ini dilengkapi pendingin udara namun tidak diletakkan di atas dinding seperti penempatan AC umumnya. Posisi AC berada di bagian pinggir lantai.

“Ini di bawah. Jadi seperti ada angin kan begitu. Ada fasilitas air minum juga dan tempat parkir nyaman, Alhamdulillah,” kata Andri.

Secara keseluruhan, Masjid Salman Rasidi didesain memperhatikan keseimbangan lingkungan. Posisi kaca, jendela, dan ventilasi diatur agar jamaah merasa nyaman serta khusuk beribadah. Masjid tidak butuh banyak energi listrik untuk lampu dan AC karena sudah terang serta sejuk.

Masjid Salman Rasidi,Soreang, Kabupaten BandungBagian dalam Masjid Salman Rasidi di Soreang, Kabupaten Bandung (Yuga Hassani/detikJabar)

Artikel ini sudah naik di detikJabar. Baca selengkapnya di sini

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com