Tag Archives: bps

Fakta-fakta Aceh, Tuan Rumah PON XXI yang Tengah Disorot



Banda Aceh

Penyelenggaraan PON XXI di Aceh-Sumut tengah disorot publik karena banyak kontroversi. Berikut fakta-fakta menarik tentang Aceh, salah satu tuan rumah PON 2024.

Mulai dari venue pertandingan yang bobrok hingga makanan untuk para atlet yang dinilai tidak layak membuat Aceh tengah banyak diperbincangkan publik.

Dikenal dengan sebutan ‘Tanah Rencong’, Aceh memiliki karakteristik unik dan berbeda dari daerah lain di Nusantara. Provinsi ini terletak di ujung paling barat gugusan pulau Indonesia.


Aceh menjadi salah satu provinsi yang kaya akan sejarah, budaya, dan tradisi. Baik dari segi kuliner, budaya, hingga ragam sukunya. Aceh juga menawarkan pesona tersendiri yang patut untuk kita telusuri.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Aceh luasnya sekitar 56.839,09 km2. Menempati posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas di bagian barat Indonesia.

Berikut fakta-fakta unik yang perlu kamu ketahui tentang Aceh:

1. Dijuluki Sebagai Serambi Mekah

Sebagai provinsi paling barat di Pulau Sumatera, Aceh merupakan salah satu daerah pertama masuknya Islam di Indonesia. Selain itu, kota Aceh dikenal dengan tradisi Islam yang kuat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari laman resmi Pemerintahan Provinsi Aceh, Dosen Ilmu Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) Supriyatno mengatakan Aceh merupakan bagian wilayah Indonesia pertama yang memeluk agama Islam.

Berdasarkan penuturannya, pada abad ke-7 Masehi wilayah Aceh pertama kali menerima kedatangan Islam yaitu Pasai, Aceh Utara dan Peurelak.

Pengaruh Islam terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh, termasuk dalam seni, musik dan arsitektur. Simbol budaya Aceh salah satunya adalah tari tradisional Saman yang dinamis dan penuh energi yang menjadi budaya keagamaan Islam di Aceh.

2. Kampung Bule di Desa Lamno

Kampung Bule di Indonesia ternyata ada lho di Aceh. Suku unik ini dikenal dengan Suku Lamno yang terletak di desa Lamno, pesisir barat Aceh.

Suku ini sangat istimewa karena warga Lamno memiliki ciri fisik berbeda dari kebanyakan orang Indonesia, yaitu hidung mancung, berpostur tinggi seperti orang Eropa, memiliki mata biru dan berambut pirang.

Warga desa Lamno adalah hasil kawin campur bangsa Portugis yang berdagang di Aceh dan menikahi penduduk setempat. Hal inilah menjadi saksi bisu dari percampuran budaya dan warisan genetik yang langka.

3. Bubur Memek dari Simeulue

Jika mendengar kata “memek”, kamu mungkin mengira ini adalah kata yang berkonotasi negatif. Namun di Aceh, khususnya di pulau Simeulue, “memek” adalah nama hidangan tradisional berbentuk bubur yang terbuat dari campuran pisang, beras ketan, santan, dan gula.

Bubur ini sering disajikan untuk menyambut tamu penting yang berkunjung ke Simeulue serta pada upacara adat. Salah satu warga Simeuleu, Almawati mengatakan mamemek memiliki arti mengunyah atau menggigit.

Memek, salah satu makanan khas Aceh.Memek, salah satu makanan khas Aceh. (Agus Setyadi)

Sejak zaman dahulu, nenek moyang mereka sering mengunyah beras ketan yang diolah dan dicampur pisang. Perlahan-lahan masyarakat menyebut makanan khas ini dengan sebutan memek.

“Masyarakat Simeuleu sejak zaman dahulu membuat bubur memek untuk disantap bersama keluarga, Hal inilah mewariskan makanan khas Simeuleu warisan leluhur,” Kata Almawati seorang warga Simeuleu.

Kuliner khas Pulau Simeulue ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia di tahun 2019. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuat bubur memek menjadi salah satu kuliner kebanggaan masyarakat Simeulue.

4. Bahasa Aceh yang Singkat dan Efisien

Bahasa Aceh juga memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam hal singkatan beberapa kata yang digunakan sehari-hari. Contohnya kata “air kelapa” dalam bahasa Aceh diucapkan sebagai “Ie (air) dan Uk (Kelapa).”

Bahasa Aceh cenderung menggunakan kata-kata pendek namun tetap efektif dalam menyampaikan makna. Hal ini menunjukkan keefisienan komunikasi dalam budaya Aceh, dimana masyarakatnya terbiasa berbicara dengan cepat dan lugas.

5. Budaya Tarek Pukat

Budaya “Tarek Pukat” merupakan tradisi menangkap ikan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat pesisir Aceh. Dalam tradisi ini, para nelayan menarik pukat atau jaring besar ke daratan bersama-sama.

Setelah ikan-ikan berhasil ditangkap, hasilnya akan dibagi rata di antara para nelayan. Selain sebagai mata pencaharian, budaya ini juga mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat Aceh, terutama di komunitas pesisir.

Dengan kekayaan budaya dan tradisinya, Aceh bukan hanya sekedar provinsi di ujung barat Indonesia, tetapi juga simbol keberagaman dan kearifan lokal yang tetap hidup dan dihormati sampai hari ini.

Dari kuliner, suku, bahasa, hingga budaya gotong royong, Aceh menawarkan pesona unik yang membuatnya istimewa dan patut kita lestarikan.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rahasia di Balik Kebahagiaan Warga Maluku



Ambon

Di balik lanskap kepulauan yang tersebar bak untaian zamrud di timur Nusantara, Maluku menyimpan lebih dari sekadar panorama menakjubkan.

Provinsi yang wilayahnya didominasi 97% oleh air ini berhasil memberikan rasa bahagia yang melimpah bagi warganya.

Tak terkecuali bagi seorang Zidane Bachmid, saat kami temui Kamis pagi (17/7/2025), di rumahnya yang berlokasi di tengah laut Seram; dengan nama Keramba Cinta itu.


Pagi masih pukul 07.50 WIT, tapi tidak menyurutkan semangat Zidane saat menyambut kami yang baru saja tiba di depan ‘teras’ rumahnya itu.

Dengan sigap, Zidane membantu kami keluar dari speedboat dan langsung mengajak ke spot-spot menarik di Keramba Cinta. Tampaknya apa yang dilakukan Zidane sudah dia lakukan beratus-ratus kali tiap orang-orang memilih singgah di rumahnya tersebut.

Zidane BachmidZidane Bachmid Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom

Keramba Cinta tidak dibangun sebagai destinasi wisata, hanya sesederhana rumah di tengah laut saja. Namun seiring ramainya orang yang berwisata ke Negeri Saleman, para turis juga melirik tempat ini hingga dijadikan salah satu spot berwisata saat mengunjungi Pantai Ora.

Keramba Cinta juga tidak memungut biaya masuk. Siapapun bisa datang ke Keramba Cinta dengan akses dari Pantai Ora sekitar 20 menit menggunakan speedboat.

“Pada prinsipnya ini kayak rumah nelayan, dan setiap orang yang datang itu kayak orang bertamu ke rumah kita.” kata Zidane.

Keramba Cinta dibangun di atas laut, berupa kolam yang dibentuk seperti simbol hati atau cinta, dengan luas 50×50 meter. Usut punya usut, Keramba Cinta ini dibangun sejak 2019 oleh ayah Zidane; Taha Bachmid.

Taha Bachmid merupakan seorang pria kelahiran Saparua, Maluku, yang menempuh pendidikan hingga ke Jepang, sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya ini mendirikan Keramba Cinta; rumah impian masa kecilnya.

“Memang cita-cita beliau dari dulu pengin punya rumah buat hari tua di tengah laut.” kata Zidane.

Saat itu Taha tidak ada di lokasi. Zidane bilang, ayahnya tengah membantu proses pendidikan sang adik yang akan kuliah di Jepang.

Jembatan pandang di TanusangJembatan pandang di Tanusang Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom

Zidane mengaku sudah satu tahun terakhir menghabiskan waktu di Keramba Cinta. Pria kelahiran Banyuwangi 22 tahun yang lalu ini sejatinya masih berkuliah di Rusia, mengambil jurusan desain arsitektur lingkungan.

Namun di tengah sisa dua semester yang harus dia jalani, Zidane memilih kembali ke Maluku untuk berlibur, menghabiskan waktu di tengah laut, menyambut setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya itu.

“Enaknya di sini, tiap hari dapat teman baru, koneksi baru, kenalan baru. Dan most of them orang top semua. Kayak misalnya Dirut Grab sudah ke sini, rektor UI.” jelas Zidane.

Di rumah itu, dia memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik, dan sisanya alam yang menjadi teman. Laut yang penuh dengan ikan menjadi sumber makanannya sehari-hari.

Jika ingin kelapa muda tinggal menepi ke pulau di sekitarnya, atau menanti nelayan yang dia sebut biasa bersinggah di malam hari untuk istirahat, ngopi, dan nongkrong.

Apa yang dijalankan Zidane sedikit banyak menggambarkan bagaimana warga Maluku bisa menemukan kebahagiaan paripurna dalam sebuah kesederhanaan.

Indeks Kebahagiaan Maluku

Tak heran, Maluku menjadi satu-satunya provinsi yang terus berada dalam top 3 indeks kebahagiaan menurut wilayah di Indonesia sejak 2014. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Kebahagiaan Maluku pada 2021 sebesar 76,28, melebihi rata-rata nasional sebesar 71,49.

Indeks Kebahagiaan ini diukur dari beberapa dimensi, yaitu dimensi kepuasan hidup (life satisfaction), dimensi perasaan (affect), dan dimensi makna hidup (eudaimonia).

Artinya, seseorang dapat merasa bahagia bukan cuma karena faktor ekonomi, tetapi juga adanya rasa puas terhadap kehidupan, pengalaman emosional yang positif, serta makna yang mendalam dalam hidup mereka.

Masyarakat Maluku memiliki sikap, cara hidup, dan aktivitas tersendiri yang memberikan rasa bahagia, meskipun kemiskinan masih jadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu dibereskan.

Maluku punya masalah di bidang ekonomi, di mana persentase penduduk miskinnya masuk dalam 10 besar terbanyak di Indonesia. BPS pada 2024 mencatat, Provinsi Maluku memiliki persentase penduduk miskin sebanyak 15,78%, jauh di atas rata-rata nasional yang sebesar 8,57%.

Pertumbuhan ekonomi Maluku juga tak sekencang provinsi lainnya di Indonesia. Pada 2022, laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) provinsi Maluku hanya berada di angka 5,31. Angka tersebut kalah jauh dibandingkan Maluku Utara yang PDB-nya tumbuh 22,94% pada periode serupa.

Tapi alam, budaya, dan seni barangkali cukup jadi sumber kebahagiaan bagi warga Maluku, termasuk Zidane. Meski lahir dan besar di Banyuwangi, Zidane mengaku betah menghabiskan waktu bersama alam dan orang-orang yang mengagumi kesederhanaannya di Keramba Cinta.

“Nggak ada trauma sih (bisa ada di sini). Setelah ngerasain di tempat lain juga, katakan Eropa atau papa yang ada di Jepang, ya biasa saja. Ujungnya bisa dinikmati atau nggak.” kata Zidane.

Tebing HatupiaTebing Hatupia Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom

Keramba Cinta hanyalah satu dari banyak titik-titik ‘surga’ yang tersembunyi lainnya di Maluku. Dalam perjalanan menyusuri Ambon, Pulau Seram, hingga Pulau Geser, kami juga menemui surga tersembunyi lainnya di Maluku.

Mulai dari Bukit Teletubbies di Negeri Latea, Kecamatan Seram Utara Barat, pasir timbul Tanusang di Pulau Geser, atau Tebing Hatupia di Desa Sawai.

Surga-surga tersembunyi inilah yang barangkali menjadi rahasia di balik senyum warga Maluku. Kebahagiaan mereka lahir dari keindahan alamnya yang memesona – dari pasir putih di Pantai Ora, gemuruh ombak di Banda, heningnya Pulau Kei, atau sesederhana menemukan ketenangan di Keramba Cinta.

(eds/wsw)



Sumber : travel.detik.com