Tag Archives: brin

5 Fakta Harimau Jawa yang Punah dan Kini Muncul Tanda-tanda Kehidupannya



Jakarta

Harimau jawa (Panthera tigris sondaica), subspesies harimau yang dilaporkan punah, kini dilaporkan muncul kembali. Berikut fakta tentang harimau jawa.

Penemuan harimau jawa itu diungkapkan peneliti Pusat Riset Biosistematikan dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wirdateti baru-baru ini. Dia mengungkap temuan itu muncul dari sehelai rambut yang diduga milik harimau jawa yang ditemukan di pagar pembatas kebun warga di Desa Cipeundeuy, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

“Rambut tersebut ditemukan oleh Kalih Reksasewu atas laporan Ripi Yanuar Fajar yang berpapasan dengan hewan mirip harimau jawa yang dikabarkan telah punah, pada malam hari 19 Agustus 2019,” kata Wirdateti, mengutip siaran pers BRIN, Senin (25/3).


Temuan Wirdateti dan kawan-kawan itu sudah dipublikasikan dalam jurnal Onyx terbitan Cambridge Universit Press berjudul “Is the Javan tiger Panthera tigris sondaica extent? DNA analysis of a recent hair sample” yang terbit 21 Maret 2024.

Dari serangkaian analisis DNA, Wirdateti dan tim menyimpulkan sampel rambut harimau yang ditemuka di Sukabumi Selatan adalah spesies Panthera tigris sondaica atau harimau jawa. Itu termasuk dalam kelompok yang sama dengan spesimen harimau jawa koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) pada 1930.

Selain rambut, dari lokasi tersebut juga ditemukan bekas cakaran mirip harimau yang semakin menguatkan tim untuk melakukan penelitian.

Berkurangnya habitat dan aktivitas perburuan yang kian meningkat membuat Harimau jawa menjadi subjek konservasi. Pada tahun 1980-an, harimau jawa telah dinyatakan punah oleh otoritas berwenang.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) selaku lembaga konservasi internasional juga sudah menyematkan status punah (extinct) untuk sang loreng asal tanah Jawa ini.

Meskipun telah dinyatakan punah, kehadiran Harimau Jawa masih menyimpan daya tarik yang memukau.

Berikut fakta mengenai si raja rimba asli Pulau Jawa ini:

1. Tradisi Rempogan Macan

Pengurangan drastis populasi Harimau Jawa telah dihubungkan dengan praktik Rampogan Macan, sebuah pertunjukan adu harimau yang merupakan bagian dari tradisi di kalangan pejabat Kerajaan Jawa.

Dalam Rampogan, kerbau atau manusia bersenjatakan tombak berhadapan dengan harimau atau kucing besar lainnya. Binatang buas tersebut seringkali diperlakukan dengan kejam dan akhirnya disiksa hingga mati.

Rampogan Macan telah menyebabkan penurunan signifikan dalam populasi Harimau Jawa. Akibat dari praktik seperti Rampogan Macan, Harimau Jawa telah menjadi langka hingga akhirnya punah.

2. Ada 3 Subspesies

Di Indonesia terdapat tiga jenis harimau yang berbeda, yaitu harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), dan harimau Bali (Panthera tigris balica).

Namun, hanya harimau Sumatra yang masih tersisa dan menjadi spesies langka yang dilindungi di Indonesia. Sementara itu, harimau Jawa dan harimau Bali telah diumumkan sebagai punah, yang berarti tidak ada lagi populasi mereka baik di habitat alaminya maupun di penangkaran.

3. Ukurannya yang Tergolong “Kecil”

Harimau Jawa, sebuah subspesies harimau yang ukurannya kecil jika dibandingkan dengan varietas lain di Benua Asia. Memiliki panjang tubuh sekitar 2,2 hingga 2,5 meter dengan ekor sekitar 25 hingga 45 cm.

Meskipun lebih besar daripada Harimau Bali, Harimau Jawa memiliki ukuran tubuh yang serupa dengan Harimau Sumatra. Harimau Jawa jantan biasanya memiliki berat antara 100 hingga 140 kg, sementara betina cenderung lebih ringan dengan berat antara 75 hingga 115 kg. Panjang kepala dan tubuh Harimau Jawa jantan berkisar antara 200 hingga 245 cm, sedangkan yang betina sedikit lebih kecil.

4. Habitat Harimau Jawa

Sesuai dengan namanya, keberadaan Harimau Jawa hanya tersebar di ruas Pulau Jawa saja. Harimau Jawa biasanya ditemukan menetap di hutan-hutan dataran rendah dan semak belukar.

Harimau Jawa jarang menjelajah ke wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut. Mangsa utama Harimau Jawa termasuk babi hutan, rusa Jawa, banteng, serta kadang-kadang reptil dan burung air.

5. Diyakini Belum Punah

Walau sudah dinyatakan punah sejak 1980-an, hingga kini sebagian peneliti dan masyarakat masih mempertahankan keyakinan bahwa Harimau Jawa masih ada di alam liar dan keberadaannya belum punah.

Pendapat ini didukung oleh bukti-bukti konkret seperti jejak yang menunjukkan keberadaan Harimau Jawa serta laporan dari para pemanen hasil hutan yang mengklaim telah berjumpa dengan binatang tersebut. Namun, belum ada verifikasi lebih lanjut terkait temuan ini.

Sudah tau kan fakta hewan endemik khas tanah Jawa ini. Meskipun telah dinyatakan punah, semoga keberadaan Harimau Jawa bisa segera terkonfirmasi ya traveler.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jejak Manusia Purba di Gua Braholo, Dipercaya Peradaban Tertua



Gunungkidul

Gua Braholo menyimpan jejak prasejarah yang cukup penting. Goa ini dipercaya menjadi bukti peradaban tertua di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Gua Braholo terletak di Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya berada di atas sebuah bukit karst di seberang jalan dekat dengan pemukiman warga.

Untuk menuju ke sini, traveler harus melewati puluhan undakan tangga dari jalan masuk. Setelah menaiki puluhan anak tangga, kita akan disambut dengan bagian depan Gua Braholo seluas kurang lebih 30 meter dengan tinggi sekitar 15 meter.


Pemandangan puluhan stalaktit meruncing ke bawah di dinding atas gua pun terpampang jelas. Di permukaan gua tampak setidaknya empat lubang bekas ekskavasi dengan ukuran bervariatif.

Tanah di permukaan gua tersebut terasa gembur. Terdapat kotoran kelelawar tercecer di atas tanah. Gua Braholo tidak begitu dalam, hanya sekitar 20 meter.

Dari muka gua pun tampak tembok alami berupa bebatuan karst berwarna putih. Sebagian lainnya sudah dipenuhi lumut sehingga tampak menghitam.

Juru pelihara Gua Braholo, Marsono mengungkapkan, gua itu sudah diteliti sejak 1995. Dia mengatakan masyarakat sekitar sudah mengetahui keberadaan goa tersebut sejak lama dan dulunya sering digunakan untuk bertapa.

“Penelitian pertama (Goa Braholo) di (tahun) 95,” jelas Marsono saat ditemui di rumahnya seberang Gua Braholo.

Marsono menjelaskan GUa Braholo menjadi tempat persinggahan karena luas dan memiliki sirkulasi udara yang bagus. Selain itu, goa tersebut memiliki penerangan yang mumpuni.

“Dari Balai Pelestari Cagar Budaya menganalisa bisa menjadi tempat tinggal karena Goa Braholo luas, sirkulasi udaranya bagus,” katanya.

Proses ekskavasi di Goa Braholo dilakukan hampir setiap tahun hingga pandemi COVID-19 merebak pada tahun 2020 dan masih belum dilanjutkan hingga kini. Saat dilakukan ekskavasi pertama, pada penggalian beberapa meter ditemukan tulang hewan sisa makanan manusia prasejarah.

“Dari beberapa meter ditemukan tulang (hewan) sisa makanan (manusia prasejarah),” sebutnya.

Lebih lanjut, Marsono mengatakan kerangka manusia ditemukan pada penggalian selanjutnya. Sayangnya, Marsono tidak paham betul kerangka manusia yang ditemukan itu dari zaman apa. Dia hanya menjelaskan kerangka yang ditemukan merupakan sisa manusia yang hidup di zaman prasejarah.

“Semacam alat dan semuanya terbuat dari batu dan tulang,” sebutnya.

Pada ekskavasi terakhir sebelum pandemi COVDI-19, lanjut Marsono, ditemukan sisa kerang dan tulang makanan manusia prasejarah. Dia mengatakan letak ditemukannya sisa makanan itu terpisah dengan tulang manusia.

“Sisa makanan itu ditemukan di tengah. Kalau tulang manusia ditemukan di pinggir,” terangnya.

Disebut Peradaban Tertua

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Gunungkidul, Andi Riana, menerangkan Goa Braholo merupakan tempat persinggahan manusia masa prasejarah. Dia mengatakan manusia di goa tersebut belum mengenal konsep penguburan. Andi menyebutkan goa Braholo peradaban tertua di DIY.

“Itu memang tertua untuk wilayah se-DIY,” katanya.

Lebih lanjut, Andi menerangkan jenis goa yang bisa dihuni secara temporal merupakan tempat yang terbuka seperti Goa Braholo. Goa tersebut merupakan jenis goa yang tidak menjorok ke dalam, hanya di permukaan.

“Kalau di goa-goa bisa dihuni tentunya goanya terbuka di muka,” jelasnya.

Adapun alasan lain goa Braholo dijadikan tempat persinggahan karena bisa untuk berlindung. Selain itu Goa Braholo yang terbuka itu dimungkinkan untuk mendapatkan pencahayaan matahari yang cukup.

“Yang utama fungsinya itu untuk berlindung,” tuturnya.

Temuan di Goa Braholo berlapis-lapis dari permukaan tanah hingga beberapa kedalaman. Dia mengungkapkan temuan di goa tersebut merupakan sampah atau sisa dari masa prasejarah.

“Temuan itu merupakan sampah atau buangan dari kehidupan masa itu. Jadi berlapis-lapis temuannya dan kebetulan banyak sekali di setiap lapisan tanah,” ungkapnya.

Andi menjelaskan temuan spesifik di Goa Braholo adalah jarum dari tulang masa prasejarah. Selain itu ditemukan pula kapak, sudip dan lain sebagainya. Selain dari tulang, dia mengungkapkan alat manusia prasejarah berbahan batu.

Adapun ukuran alat yang ditemukan tidak lebih besar dari telapak tangan manusia dewasa. Andi menerangkan peralatan tersebut tajam. Tujuannya untuk menguliti hewan.

“Peralatan mereka amat sangat sederhana, yang penting tajam bisa untuk menguliti binatang untuk bekal makan mereka,” jelasnya.

Andi mengatakan pihak yang pernah meneliti goa Braholo yakni Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) kini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Arkeologi Jogja, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogja. Dia mengatakan Prof Truman Simanjuntak merupakan orang Puslit Arkenas yang mengekskavasi goa Braholo pertama kalinya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Eksplorasi Sejarah di Pasar Baru, Cek 4 Bangunan Ikonik di Sana


Jakarta

Pasar Baru bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang buat traveler di Jakarta. Ada apa saja ya?

Ternyata di pusat perbelanjaan tradisional yang legendaris di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu tersimpan banyak cerita menarik tentang masa kejayaannya sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta.

Traveler bisa merasakan nuansa kolonial yang masih terasa kental sambil menelusuri bangunan-bangunan bersejarah, toko-toko tua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Selain itu, jejak-jejak penting yang mencerminkan perjalanan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kota ini dari masa ke masa.


Setidaknya terdapat empat bangunan bersejarah di kawasan Pasar Baru yang ditetapkan oleh Anies Baswedan, di antaranya ialah Vihara Sin Tek Bio, Toko Tio Tek Hong, bangunan Toko Kompak dan bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Berikut empat bangunan bersejarah di Pasar Baru:

1. Vihara Sin Tek Bio

Umat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek BioUmat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek Bio (Tsarina Maharani/detikcom)

Vihara Sin Tek Bio dengan nama Vihara Dharma Jaya merupakan salah satu vihara yang menjadi bagian dari sejarah di Jakarta diperkirakan sejak 1698. Terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, wihara itu menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Ibu Kota.

Vihara Sin Tek Bio menjadi pusat spiritual sekaligus simbol penting bagi masyarakat Tionghoa yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Di dalam vihara ini, terdapat beberapa altar pemujaan yang dihiasi dengan beberapa patung dewa-dewa dan leluhur, menambah suasana sakral dan penuh khidmat di setiap sudut ruangan.

Wihara ini didominasi oleh nuansa merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara lilin-lilin besar yang terus menyala memenuhi ruangan utama, menyebarkan cahaya hangat dan menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam, di mana umat datang untuk berdoa, memohon berkah, dan mencari ketenangan batin.

“Banyak jemaat datang dari mana-mana, jika nanti masuk banyak sekali dewa-dewanya karena disumbangkan dari si jemaat-jemaat itu. Tapi, setiap klenteng itu punya dewa utama. Nah, dewa utama di sini yang diangkat sebagai tuan rumahnya. Ini adalah dewa bumi, kenapa dewa bumi, karena ada hubungan dengan pendiri-pendirinya adalah petani karena petani mereka berdoa ke dewa bumi supaya subur,” kata Farid Mardhiyanto, cofounder Jakarta Good Guide, pada Sabtu (5/10/2024).

“Altar utama itu yang di tengah. Biasanya kalau jemaat sembahyang, pertama di altar itu untuk menaruh dupa, kemudian itu yang kedua yang altar utamanya si tuan rumahnya. Itu wajib. Kemudian, barulah mereka berkeliling untuk milih dewa Kwan Im, dewa kesehatan, dewa jodoh kah, keberuntungan kah dan sebagainya,” Farid menambahkan.

Walaupun Pasar Baru kini dipadati oleh gedung-gedung, toko-toko yang menjual barang-barang dan elektronik, serta kafe kontemporer Vihara Sin Tek Bio tetap mempertahankan kesederhanaan dan keagungannya. Banyak orang yang mengunjungi vihara ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan sentuhan sejarah di setiap sudut vihara.

2. Toko Tio Tek Hong

Toko Tio Tek Hong ditetapkan melalui Kepgub Nomor 239 tahun 2022 dan diperkirakan sudah ada sejak 1900. Toko Tio Tek Hong didirikan oleh Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang inovatif.

Pada saat itu, Batavia sedang berkembang sebagai pusat perdagangan yang ramai, dengan pengaruh kolonial Belanda yang kuat. termasuk Tio Tek Hong memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang melayani kebutuhan masyarakat luas.

“Nah toko Tio Tek Hong pertama didirikan oleh beliau, gedung itu berubah menjadi toko populer. Dulu adalah toko Tio Tek Hong. Dia jual yang pertama alat kelontong sampe kemudian akhirnya beliau menjual chronograph, dan juga gramofon, dan piringan hitam,” kata Farid.

“Kemudian, pada 1940-an gedung itu dijual karena Tio Tek Hong mulai turun gara-gara krisis ekonomi. Akhirnya, beliau mulai menjual tokonya, terus kemudian balik nama. Tokonya dibeli oleh perusahaan rekaman dan di situlah tempat direkam pertama kalinya lagu Indonesia Raya. Jadi lagu Indonesia Raya direkam ke piringan hitam untuk pertama kalinya di rekaman toko populer ini. Namun, kepemilikan bukan Tio Tek Hong lagi,” ujar Farid.

3. Toko Kompak

Bangunan bersejarah itu didirikan di kawasan Jalan Pasar Baru, No 18A, Jakarta Pusat. Selain sejarah, bangunan itu memiliki daya tarik arsitektur yang kuat.

Bangunan itu dikenal dengan nama Sin Siong Bouw, kemudian diganti menjadi Toko Kompak akibat kebijakan pelarangan nama Tionghoa. Bangunan itu merupakan contoh arsitektur China selatan asli dengan interior warna merah.

Dikutip dari banner dipajang di besi Toko Kompak, bangunan itu didirikan pada abad ke-19, bahkan lebih tua dari Pasar Baru. Toko ini dahulu merupakan kediaman Majoor der Chinezen keempat Batavia yaitu (Tio Tek Ho).

4. Bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

Dikutip dari buku ‘Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Mut Romusha 1944-1945’ ditulis oleh J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki pertama kali didirikan pada tahun 1888. Pendirinya merupakan peneliti dari Belanda yang populer pada saat itu yaitu Christiaan Eijkman.

Bangunan Lembaga Eijkman terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan berarsitektur kolonial ini awalnya lembaga ini berfokus pada penelitian penyakit tropis seperti malaria, beri-beri, dan kolera.

Temuan penting Eijkman mengenai penyebab dan pencegahan penyakit beri-beri hingga soal asal-usul manusia Indonesia. Memberikan beberapa sumbangsih penelitian di bidang biologi dan kedokteran.

Selama pandemi COVID-19, LBM Eijkman memainkan peran penting dalam penelitian terkait virus covid-19 dengan pengembangan vaksin Merah Putih. Namun, pada 2022, lembaga ini mengalami restrukturisasi, dan fungsinya digabungkan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu ketua BRIN Dr Laksana Tri Handoko, M.Sc.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Profil Gunung Padang, Situs Megalitik Tertua di Indonesia



Cianjur

Situs Gunung Padang merupakan punden berundak terbesar di Indonesia. Situs megalitikum tertua ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional (CBN).

Walaupun namanya Gunung Padang, tapi gunung tersebut tidak berlokasi di Padang, Sumatera Barat. Gunung ini justru berada di Cianjur, Jawa Barat.

Lokasi Gunung Padang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Gunung ini memiliki ketinggian 885 meter di atas permukaan laut (MDPL).


Situs Gunung Padang adalah bukti peradaban kuno Indonesia. Situs ini penting untuk diteliti lebih lanjut. Menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, kolaborasi dengan BRIN diperlukan guna menyibak sejarah situs Gunung Padang.

“Banyak yang berpendapat Situs Gunung Padang ini sudah ada sejak belasan hingga puluhan ribu tahun lalu. Situs ini membutuhkan penelitian lebih dalam untuk mengungkap sejarah dan jejak peradaban nenek moyang kita. Kolaborasi dengan BRIN diharapkan mampu mengungkap lebih dalam tentang sejarah situs ini,” ujar Fadli Zon seperti dikutip dari Antara, Kamis (2/1/2025).

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX, Retno Raswaty, menambahkan Situs Gunung Padang adalah salah satu aset budaya yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Untuk itu, upaya pelestarian dan pengembangan situs ini terus dilakukan.

“Kami di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX berkomitmen mendukung pelestarian dan pengembangan situs ini agar generasi mendatang dapat terus menikmati dan mempelajari warisan budaya kita. Harapan kami, Situs Gunung Padang dapat dinobatkan sebagai Warisan Dunia UNESCO, karena nilai sejarah dan arkeologinya yang luar biasa,” imbuh Retno.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon berkunjung ke Situs Gunung PadangSitus Gunung Padang Foto: (dok. Istimewa)

Menteri Kebudayaan pun berharap situs ini tidak hanya dilihat sebagai artefak, tetapi juga menjadi sumber informasi yang akan menambah kecintaan masyarakat terhadap budaya Indonesia.

“Kita ingin Situs Gunung Padang menjadi tempat yang memberikan banyak informasi tentang peradaban masa lalu,” tambah Fadli.

Sejarah Gunung Padang

Gunung Padang pertama kali ditemukan oleh Nicolaas Johannes Krom. Ia adalah orang yang pertama melaporkan keberadaan situs Gunung Padang pada tahun 1914.

Kisah Nicolaas menemukan gunung Padang dimuat dalam tulisannya yang berjudul Rapporten Oudheidkundige Dienst (Buletin Dinas Kepurbakalaan).

Gunung Padang bukan gunung yang aktif. Kawasan Gunung Padang tercatat sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Bentuk punden berundak situs ini mencerminkan zaman megalitikum yang terdiri dari lima teras dan tersusun dengan berbagai ukuran.

Dengan luas sekitar 291.800 meter persegi, Situs Gunung Padang telah diakui sebagai salah satu warisan budaya yang penting di Indonesia.

Dinamakan gunung Padang karena kata ‘Padang’ merupakan sebuah akronim dari beberapa kata. “Pa” berarti tempat, “Da” artinya besar atau agung, dan “Hyang” bermakna leluhur.

Ketika ketiga kata tersebut disusun, maka akan menjadi kata “Padang” yang artinya “Tempat Agung Para Leluhur”.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Gunung Batu Spot Ikonik Bukti Gempa Sesar Lembang-Makam Keramat



Cimahi

Gunung Batu di Cimahi, Jawa Barat memang tak termasuk gunung tinggi di Indonesia, namun di sini berbagai aktivitas monumental dilakukan. Rupanya, gunung ini adalah bagian dari Sesar lembang yang paling mencolok.

Gunung Batu memiliki ketinggian 1.228 mdpl. Gunung itu berada di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Bandung Barat.

Di gunung itu berbagai aktivitas monumental dilakukan, mulai dari pembentangan bendera merah putih raksasa pada bulan Agustus, latihan panjat tebing dan vertical rescue, hingga berkaitan dengan bencana alam.


Gunung Batu memang spesial. Gunung itu juga merupakan titik paling terlihat dari Sesar atau Patahan Lembang, sumber gempa bumi yang membentang sepanjang 29 kilometer dari ujung utara di Jatinangor sampai Padalarang di belahan baratnya.

Gunung Batu memiliki ketinggian 1.228 Mdpl yang ada di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Bandung Barat.Gunung Batu memiliki ketinggian 1.228 Mdpl yang ada di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Bandung Barat. (Whisnu Pradana)

“Jadi Gunung Batu ini merupakan bagian dari Sesar Lembang. Dulu ini satu level yang sama, namun kemudian naik ke atas, terangkat oleh aktivitas tektonik,” ujar Peneliti Gempa Bumi pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mudrik Rahmawan Daryono dilansir detikjabar, Kamis (28/8/2025).

Merujuk informasi dari badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada sebuah plang informasi di puncak Gunung Batu, Gunung Batu terbentuk akibat membekunya magma yang menerobos daratan atau intrusi sekitar 510 ribu tahun yang lalu atau bertepatan pada kala Pleistosen.

Catatan gempa besar akibat Sesar Lembang terjadi sekitar tahun 1400-an. Sesar Lembang bergerak 1,95 sampai 3,45 milimeter per tahun. Periode keberulangan gempa tersebut diperkirakan 170 sampai 670 tahun.

Sementara itu, Mudrik menyebut berdasarkan penelitian tinggi Gunung Batu terus mengalami peningkatan di setiap event gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang terjadi.

“Studi kita itu Gunung Batu sudah bergeser sekitar 120 sampai 450 meter, tapi yang paling muda itu 120 meter. Dari penelitian terakhir, Gunung Batu ini naik 40 sentimeter akibat gempa dengan magnitudo 6,5 sampai 7. Jadi 1 kali event gempa itu bisa bergeser naik 1 meter sampai 2 meter, tapi yang terakhir 40 sentimeter,” kata Mudrik.

Makam Keramat di Puncak Gunung Batu

Bagian puncak Gunung Batu Lembang tak sulit didaki. Jalurnya sudah terbentuk berupa jalan setapak, ketinggiannya tak terlalu ekstrem, sehingga banyak menjadi destinasi berolahraga maupun jalan-jalan warga sekitar.

Di puncak, beragam aktivitas biasa dilakukan. Mulai dari sekadar duduk santai, berfoto, penelitian lantaran terdapat pos pengamatan pergerakan tanah Sesar Lembang milik BMKG, hingga pelaksanaan ritual.

Menariknya, ada satu bangunan di puncaknya yang papan namanya bertuliskan ‘Makam Patilasan Mbah Mangkunagara Mbah Jambrong’. Makam dua nama yang lazim digunakan pada zaman kerajaan itu ada di dalam bangunan berupa bedeng berdinding triplek.

detikjabar menengok pusara berkeramik biru muda. Nisannya ditulis menggunakan cat hitam, font yang digunakan asal-asalan, cuma demi menegaskan bahwa itu merupakan makam Mbah Jamrong atau Mbah Jambrong dan Mbah Mangkunagara.

Di sebelahnya, ada batu berukuran besar. Makam keramat itu terkunci dari luar. Penjaganya alias juru kunci makam keramat ialah Lasmana alias Abah Ujang. Pria warga Lembang yang dipercaya menjaga makam keramat itu melanjutkan orangtua dan leluhurnya.

“Sejarahnya seperti diceritakan oleh orang tua abah dan sesepuh, Gunung Batu ini dulunya itu tempat berkumpulnya para dalem, pemimpin suatu wilayah,” kata Abah Ujang.

Gunung Batu memiliki ketinggian 1.228 Mdpl yang ada di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Bandung Barat.Gunung Batu memiliki ketinggian 1.228 Mdpl yang ada di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Bandung Barat. (Whisnu Pradana)

Lantas siapa Mbah Mangkunagara dan Mbah Jambrong? Berdasarkan penjelasan yang ia terima sebelum dipercaya sebagai kuncen, kedua nama itu merupakan kepala negara dan wakilnya. Mbah Mangkunagara sebagai kepala negara dan Mbah Jambrong ialah wakilnya.

Mbah Mangkunagara juga dikenal sebagai Aki Gul Wenang, sementara Mbah Jambrong dikenal sebagai Eyang Jagawalang. Mbah Mangkunagara bukan kepala negara dalam konteks seperti presiden, melainkan pemimpin di wilayahnya di masa itu. Sementara Mbah Jambrong merupakan pendampingnya.

“Ya seperti sekarang itu gubernur, bupati, kalau dulu kan dalem. Jadi dari Gunung Batu ini, mereka sering mengadakan pertemuan dengan kepala negara daerah lain, di sini semedi raganya sementara jiwanya bisa terbang kemana-mana. Itu dilakukan kalau mereka sedang rapat,” kata Abah Ujang.

Gunung Batu di Kecamatan Lembang yang diyakini sebagai bagian dari Patahan Lembang yang paling jelasGunung Batu di Kecamatan Lembang yang diyakini sebagai bagian dari Patahan Lembang yang paling jelas (Whisnu Pradana/detikcom)

Kebijaksanaan dan kesaktian kedua orang itu, kemudian tersebar kemana-mana. Keduanya diyakini tilem atau meninggal dunia dengan raganya berada di suatu tempat yang orang biasa tahu. Sementara pusara di puncak Gunung Batu, sebagai manifestasi atas tilemnya dua tokoh yang bisa diyakini sebagai hikayat ataupun mitos.

“Saya mulai jadi kuncen di sini sejak tahun 1992, kalau awalnya keluarga saya jadi kuncen di tahun 1940-an,” kata Abah Ujang.

Banyak orang yang datang ke makam keramat itu. Maksud dan tujuannya berbeda satu sama lain. Ada yang datang demi meraih kesuksesan, ada yang datang ingin meminta ini dan itu, namun selalu ditekankan bahwa upaya itu hanya sebagai syariat.

“Saya selalu sampaikan meminta tetap pada Allah SWT, jangan menduakan dengan meminta di makam keramat ini. Cuma kita harus yakini, bahwa ketika berdoa itu ada syariatnya, dan makam ini jadi syariatnya,” kata Abah Ujang.

“Banyak yang datang ketika mendekati pemilu, kemudian mau ujian, mau menikah, mau sukses bisnis. Ada yang dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, jadi enggak cuma dari Lembang saja,” dia menambahkan.

***

Selengkapnya klik di sini.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com