Tag Archives: budget a

Mengenal Salak Khas Jakarta yang Langka di Cagar Buah Condet



Jakarta

Maskot Jakarta ternyata bukan hanya ondel-ondel dan Monumen Nasional (Monas). Ternyata, di masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin salak condet menjadi salah satu ikon kota ini.

Salak condet ditetapkan sebagai maskot Jakarta karena keberadaannya yang langka dan hanya ada di kota ini.

Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1796 Tahun 1989, yang menyebutkan penetapan salak condet (Salacca zalacca) dari jenis flora dan burung elang bondol (Haliastur indus) dari jenis fauna sebagai identitas atau maskot Jakarta.


Saat ini, salak condet memang sudah jarang untuk ditemui di pasar-pasar bahkan boleh dibilang sulit untuk menjumpainya, tak seperti jenis salak lainnya, seperti salak pondoh. Pusat budidaya salak condet pun satu-satunya hanya terdapat Agrowisata Cagar Buah Condet di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Cagar Buah Condet menjadi titik terakhir perkebunan buah asli Jakarta ini, keberadaannya yang langka membuat tempat ini begitu spesial. Karena masyarakat bisa langsung melihat dan merasakan bagaimana kekhasan buah dengan kulit bersisik ini.

Di Cagar Buah Condet terdapat ribuan pohon salak dan beberapa pohon salak di sini telah berumur puluhan tahun. detikTravel berkesempatan untuk menyambangi kebun salak ini, Selasa (28/5/2024).

Kebun yang luasnya kurang lebih 3,5 hektar itu tak hanya ditanami pohon salak saja tetapi terdapat beberapa pohon lainnya seperti Duku Condet (yang sama-sama buah khas Jakarta), pohon buah kecapi, durian, alpukat, buni, dan masih banyak lainnya.

Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Tentunya yang menjadi fokus agrowisata ini adalah pohon salak condet dan duku conder. Dua buah itu merupakan buah endemik yang hanya ada di Kota Jakarta. Menyoal rasa, memang salak condet memiliki rasa unik dan berbeda dengan jenis salak lainnya.

Syahrudin, koordinator petugas di Cagar Buah Condet, menyebutkan terdapat rasa yang khas dari salak condet. Dia menerangkan kalau rasa buahnya memiliki rasa yang berbeda-beda dengan sensasi rasa kesat yang minim.

“Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

Rasa penasaran pun hadir untuk mencoba buah Salak Condet ini, namun sayang pohon salak condet saat detikTravel sambangi belum semuanya berbuah. Hanya beberapa pohon saja yang sudah mulai berbuah dan belum matang, Syahrudin pun memberikan salak condet yang tingkat kematangannya baru 40% untuk menghilangkan rasa penasaran.

Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Terpikir sejenak buah salak yang belum matang maksimal pasti memiliki rasa yang super asam dengan rasa pahit dan kesat. Tapi ternyata saat mencicipi, salak condet yang belum matang maksimal itu memiliki rasa yang dominan manis.

Untuk kamu warga Jakarta yang penasaran dengan buah asli kota ini bisa langsung datang untuk melihat dan mencicipi jika sudah ada yang berbuah. Syahrudin menjelaskan tak bisa memastikan kapan pohon-pohon salak ini berbuah karena tergantung cuaca, ia hanya bisa memperkirakan panen Salak Condet akan tiba pada akhir tahun nanti.

“Ya paling ini sekitar enam bulan dari sekarang dah,” ujar Syahrudin.

Agrowisata Cagar Buah Condet

Jam Operasional : Buka setiap hari, pukul 07.00 – 16.00 WIB

Tiket Masuk : Gratis

Lokasi : Jalan Kayu Manis No. 37, RT 7/RW 5, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cagar Buah Condet, Benteng Terakhir Salak Condet Khas Jakarta



Jakarta

Salak condet merupakan buah asli Jakarta, tetapi justru semakin langka dan sulit ditemukan. Agrowisata Cagar Buah Condet yang masih membudidayakannya.

Sejak dulu pamor salak condet sudah masyhur, khususnya di kawasan Jakarta. Namun, yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah tak banyak tempat yang membudidayakan buah tersebut.

Kini, salak condet hanya terdapat di Agrowisata Cagar Buah Condet yang terletak di Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Berada di tengah perkampungan padat, kebun salak itu memang tak tampak dari jalanan.


Pengunjung perlu jeli untuk menemukan pintu masuk kebun salak tersebut. Setelah berhasil masuk ke kawasan itu, jangan heran jika belum melihat secara langsung pohon-pohon salak.

Sedikit menuruni beberapa anak tangga, di situlah tempat pohon-pohon buah khas Jakarta itu bertempat. Sekitar 3,5 hektar luas kebun ini penuh dengan pohon-pohon berduri, salak condet-lah yang jadi bintang utamanya agrowisata itu.

Karena penasaran dengan salak condet, detikTravel pun menyambangi dan menjelajahi kebun yang luas itu pada Selasa (28/5/2024). Sejauh mata memandang terlihat pohon-pohon berduri di sekeliling, namun tak terlihat sedikit pun tanda-tanda buah salak condet yang muncul.

Setelah masuk lebih dalam lagi di area perkebunan ini, tampaklah tiga orang petugas yang sedang ngaso. Dari tiga orang petugas itu di antaranya adalah Bapak Syahrudin, yang merupakan koordinator petugas di Agrowisata Cagar Buah Condet.

Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Budidaya salak condet di di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Bersama Syahrudin, detikTravel diajak berkeliling melihat-lihat pepohonan yang ada di Cagar Buath Condet. Selain buah salak, di tempat ini ternyata memiliki beberapa pohon-pohon buah yang sudah jarang ditemui, seperti pohon buah kecapi, buni, dan duku condet, yang sama seperti salak condet, menjadi buah khas Jakarta.

Ia bercerita sedari kecil memang tumbuh besar di kawasan in. Dan, sejak ia kecil pun kawasan itu sudah menjadi kebun salak condet. Syahrudin mengatakan beberapa pohon salak di Cagar Buah Condet sudah berusia puluhan tahun.

“Sejarahnya ini bahkan kata orang tua saya dulu denger-denger dari cerita, zaman presiden kita yang pertama tuh Bung Karno sempet jadi hidangan ke istana,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

Lahan kebun itu dulu memang dimiliki oleh warga, Syahrudin mengatakan kebun itu dulu milik sang kakek yang dibebaskan dan dialih kelola oleh pemerintah pada tahun 2006. Kawasan perkampungan sekeliling Cagar Buah Condet ini dulu memang merupakan kebun salak, namun seiring waktu mulai berganti menjadi rumah-rumah.

“Kebanyakan orang kan jualin (tanah) tahu sendiri orange Betawi kan, apa-apa pengen naik haji atau pengen ngawinin anak terus pesta dengan cara gimana? Ya, jual tanahnya. Nah, dari pihak Pemda dan Pemprov DKI khususnya gimana caranya maskot DKI Jakarta tuh jangan sampai musnah, ya sisanya ini alhamdulilah 3,5 hektar dibebasin,” kata dia.

Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Salak Condet makin sulit ditemui di pasar, berbeda dengan salak pondoh yang ada di mana-mana. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Di hamparan yang luas kebun Cagar Buah Condet, Syahrudin menyebut terdapat sekitar 1.500 pohon salak condet, 150 pohon duku condet, dan beberapa pohon buah lainnya.

Ia menerangkan keistimewaan salak condet tersebut dengan menyebut rasanya yang berbeda dari salak-salak lainnya.

Syahrudin kemudian membawa detikTravel ke pohon yang ia sebut sebagai pohon andalan ketika ada tamu yang berkunjung. Selayaknya pohon salak yang lain, tak ada yang membedakan dengan pohon salak pilihannya, tapi ia berucap bahwa salak di pohon ini rasanya lebih enak dibandingkan salak dari pohon lain.

Betul saja, saat mencicipi salaknya, yang belum matang sempurna, ternyata salak dari pohon tersebut terasa manis dan hanya sedikit rasa asam. Selain itu, tekstur yang renyah membuat Salak Condet itu semakin nikmat.

Kemudian, ia mengajak detikTravel ke pohon selanjutnya dan kembali menyodorkan salak untuk dicicipi agar mengetahui perbedaannya.

“Coba rasain apa yang bikin beda? Ini tuh (kematangan) sama kaya salak yang tadi belum terlalu mateng,” kata dia.

Rasa salak condet yang kedua memang berbeda dengan yang pertama. Kali ini, rasa asam dan sensasi kesat bercampur aduk di dalam mulut. Rasa manis pun terasa tipis yang diakhiri dengan pahit, itulah keistimewaan Salak Condet khas Jakarta.

“Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah, itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata dia.

Saat ini, dengan banyaknya macam buah-buahan, eksistensi salak condet memiliki tantangan ekstra. Tetapi, dengan Agrowisata Cagar Buah Condet masih akan terus terjaga.

Tetapi, rasanya pilu saat Syahrudin mengatakan fakta tentang salak condet.

“Banyak sampai saat ini orang Jakarta yang nggak tahu kalau Salak Condet tuh masih ada,” kata Syahrudin.

Cagar Buah Condet ini terbuka untuk umum, tujuannya untuk mengenalkan lebih luas kepada masyarakat tentang buah yang pernah menjadi maskot Kota Jakarta.

“Tujuannya kan pemda bebasin ini supaya anak-anak sekarang, terutama di DKI Jakarta, jangan cuman pernah denger cerita ‘dulu punya maskotnya buah salak’. Alhamdulilah kurang lebih 3,5 hektar ini masih ada jadi mereka bisa tahu,” kata dia.

Dengan adanya Cagar Buah Condet menjadi suatu pengharapan agar buah khas Jakarta itu bisa terus lestari dan bisa dinikmati di masa mendatang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

This Is Bali, Kafe di Ubud, Nyentrik dan Unik Sejak di Pintu Masuk



Ubud

Kafe nyentrik yang satu ini berada di Jalan Goutama, Ubud. Desainnya estetik dan mencolok dengan dominasi warna oranye.

Jika sedang berlibur di Ubud, traveler wajib mampir ke salah satu kafe yang sedang viral. Kafe itu namanya This Is Bali.

Oliver, pemilik This Is Bali, menyebut pemilihan nama kafe itu berawal dari kecintaannya terhadap Pulau Bali dan berbagai makanan tradisional yang ada di Pulau Dewata.

Dia memang amat mengagumi Bali dan menyebut Bali sebagai tempat yang kaya akan budaya, keindahan alam, dan kelezatan kulinernya. Makanya, dia betah tinggal di Bali. Sudah 10 tahun dia berada di sana.

“Saya sudah lama tinggal di Bali, dan mengagumi keindahan Bali terutama dari segi kulinernya. Akhirnya dipilih nama Bali, untuk menggabungkan antara kualitas, budaya, dan kelezatan kuliner dalam satu tempat, yaitu di This Is Bali,” kata Oliver.

Bangunan yang terlihat mencolok, dengan warna putih bercampur oranye membuat traveler mudah menemukan This Is Bali di antara puluhan bangunan di Jalan Goutama. Kesan estetik dan hangat menjadi kesan pertama saat traveler masuk ke kafe ini.

This is Bali, kafe nyentrik di Ubud, BaliThis is Bali, kafe nyentrik di Ubud, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Kafe yang baru dibuka selama delapan bulan ini memiliki dekorasi instagramable dengan sentuhan Bali yang terkesan modern. Oliver menceritakan konsep unik dari kafe ini. Ia ingin membuat sebuah kafe yang hangat dan nyaman bak rumah sendiri. Komplit dengan desain unik khas Bali dengan sentuhan modern.

“Di Ubud sudah banyak kafe, namun saya punya mimpi untuk membangun kafe seperti home sweet home. Tentu dikolaborasikan dengan konsep khas Bali dan western, mulai dari desain dan menu makanan,” ujar Oliver.

Di sini traveler akan menemukan tempat duduk yang dibuat dengan konsep anti mainstream. Dari bentuk yang tidak simetris hingga ada yang dibuat bak melayang di udara.

Memiliki desain yang unik nan estetik membuat This Is Bali juga menjadi spot yang sip untuk berburu foto instagramable. Oliver menyebut, sebagian besar pengunjung pasti mengabadikan momen ketika berkunjung ke kafe ini. Tempat duduk yang dibuat melayang menjadi salah satu spot favorit pengunjung di This Is Bali.

Soal menu makanan, This Is Bali memadukan menu khas Bali dan western. Mulai dari dessert, signature bowls, hingga minuman yang siap menggoyangkan lidah.

Beberapa menu favorit khas This Is Bali yaitu Real Balinese Bowl, Coconut Brownies, dan Refreshing Tangerine. Semua menu dibanderol dengan harga mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 97 ribu.

This Is Bali juga menghadirkan pengalaman unik bagi traveler ketika ingin memesan menu. Traveler akan diberikan kartu dan sebuah stempel yang berisi beberapa pilihan menu dessert di This Is Bali.


This is Bali, kafe nyentrik di Ubud, BaliThis is Bali, kafe nyentrik di Ubud, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Step 1, traveler diminta untuk mengambil selembar kartu. Step 2, traveler wajib memilih dessert yang ingin dipesan. Setelah menentukan pilihan, traveler bisa langsung menstempel menu pilihan di atas kartu. Unik ya!

Karena tempatnya yang estetik dan menunya yang tak kalah lezat membuat kafe ini selalu ramai. Setiap harinya, This Is Bali bisa dikunjungi lebih dari 100 orang.

Oliver juga menyarankan untuk traveler yang ingin berkunjung bisa melakukan reservasi terlebih dahulu agar tak kehabisan kursi. This Is Bali buka setiap hari, mulai pukul 12.00 hingga 23.00 WITA.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bangunan Megah bak Kastil di Gang Sempit Kotagede



Yogyakarta

Membayangkan bagaimana indahnya jika arsitektur budaya Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dipadukan maka Rumah Pesik-lah jawabannya. Lokasinya di Kotagede, Yogyakarta.

Berdiri kokoh masuk ke dalam gang sempit kawasan tua Kotagede, traveler tidak akan menyangka jika ada sebuah bangunan kuno dengan sentuhan arsitektur eksotis yang magical. Namanya adalah Rumah Pesik. Saat ini difungsikan sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

“Awalnya buat keluarga aja sih, untuk ayah saya, lebih ke untuk pribadi, keluarga, kawan-kawan. Kadang kadang ada pejabat atau teman dari luar negeri datang, kita ajak ke sini,” kata Roky, anak dari Rudy J Pesik yang sekarang mengelola Rumah Pesik.


Ya, bangunan itu adalah rumah milik pengusaha ternama Rudy J Pesik. Dia pemimpin perusahaan jasa logistik DHL Indonesia.

Atas kecintaannya pada seni budaya, Rudy yang juga dikenal sebagai kolektor menyulap Rumah Pesik menjadi bangunan yang tiap sudutnya dihiasi ornamen bernilai seni tinggi.

Rumah Pesik dikelola menjadi sebuah hotel sejak sebelum pandemi covid-19. Namun, terhenti akibat Covid dan baru dibuka kembali sekitar 1 tahun.

Dituturkan oleh Roky, dari awal bangunan ini memang tidak didesain sebagai hotel, sehingga jumlah kamar yang banyak bukanlah suatu kesengajaan.

Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Setelah tutup bertahun-tahun, kini Rumah Pesik dibuka untuk umum. Jika hanya ingin berfoto-foto dan melihat saja, maka pengunjung dikenai biaya masuk Rp 25.000, namun jika menghabiskan waktu di kafenya dan membeli makan atau minuman maka biaya masuknya gratis.

Masuk ke Gang Soka, Kotagede, Rumah Pesik tidak akan sulit ditemukan. Jika dilihat dari luar bangunan ini mencolok dengan cat warna tembok hijaunya. Kemudian, masuk melewati salah satu dari ketiga pintu yang terbuka, traveler akan disambut bak terlempar ke dalam lorong waktu masa kerajaan.

Di salah satu pintu terdapat prasasti yang berisi daftar nama-nama tokoh penting dunia yang pernah menginap di sana, termasuk Lech Walesa, mantan Presiden Polandia pada tahun 1990-1995 dan penerima Nobel Perdamaian tahun 1993.

Sekilas jika dilihat dari luar, Traveler tak akan sangka jika di balik benteng hijau itu menyembunyikan bangunan-bangunan tinggi megah dengan arsitektur kental akan budaya. Terlihat bangunan dengan gaya arsitektur Thailand di dalamnya traveler bahkan akan menemukan patung arca buddha. Dari lantai duanya, pemandangan saat sunset begitu menakjubkan.

Bergeser ke sebelahnya, berdiri bangunan dua lantai dengan dominasi warna putih dengan gaya da vinci. Di pintu masuknya dijaga oleh dua patung ksatria Romawi yang membawa tombak. Untuk naik ke lantai duanya, traveler harus meniti tangga yang disekeliling temboknya dipenuhi foto keluarga besar Rudy J Persik.

Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Beralih ke bangunan ketiga, tepat berdiri di belakang kolam air mancur, bangunan dengan arsitektur Jawa penuh pahatan kayu. Lalu di seberangnya terdapat kafe dan resto.

Terdapat rumah kalang, yang diketahui ternyata menjadi bangunan utama yang bentuknya masih dipertahankan sejak awal berdirinya Rumah Pesik. Rumah itu menjadi mini museum dan memuat koleksi koleksi Rudy mulai dari keris, patung, arca, hingga barang-barang antik peninggalan dari berbagai negara. Museum hanya dibuka by request pengunjung dan harus membayar tiket masuk Rp 25.000

Setiap sudutnya begitu menawan dengan konsep yang unik dan artistik. Traveler bebas bisa berswaphoto di setiap sudutnya, karena tidak ada pembatasan area bagi pengunjung kecuali masuk ke dalam kamar hotelnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems untuk Foto Kasual sampai Pre-wedding di Rumah Pesik



Yogyakarta

Traveler tau nggak sih ada spot menarik tersembunyi di Jogja yang biasa dipakai untuk foto pre-wedding bahkan yearbook, nih. Rumah Pesik jadi andalan photo hunter, baik untuk keperluan formal atau pun kasual, karena lokasinya yang unik.

Rumah Pesik sejatinya adalah rumah tinggal milik Rudy J. Persik yang kini dikomersilkan sebagai kafe, hotel, dan mini museum. Alasan tempat itu diburu banyak traveler sebagai spot foto karena gaya arsitekturnya yang unik.

Rumah di tengah permukiman Kotagede, Yogyakarta itu memiliki perpaduan antara ornamen Jawa dan Eropa, dihiasi arca patung bak era Yunani serta Romawi. Ada pula nuansa Thailand yang mencolok.


“Iya di sini hampir setiap hari ada yang sewa untuk Pre-wedding atau yearbook, jadi walaupun tidak ada tamu hotel tetap selalu ada pengunjung, apalagi akhir-akhir ini lumayan rame yang datang untuk sekadar foto-foto,” kata Slamet, staff Rumah Pesik Art and Heritage Hotel.

Biaya masuk ke Rumah Pesik cukup murah. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 25.000 atau membeli produk minuman atau makanan di kafe dan restonya. Tetapi jika ingin melihat koleksi keris dan arca lainnya milik Rudy di museum Rumah Kalang, pengunjung perlu menyiapkan Rp 25.000 lagi.

Meski dari luar terlihat seperti rumah biasa, namun ketika masuk pengunjung serasa dibawa melintasi berbagai benua di abad pertengahan. Dimulai dari atap bangunan Thailand yang mencolok hingga ornamen patung Buddha di dalamnya yang menawan.

Di area outdoor, traveler dapat langsung melihat kolam air mancur yang dikelilingi patung-patung Yunani bak masuk ke museum di Athena. Uniknya, di belakangnya persis berdiri pintu kayu Jawa gebyok dengan pahatan kayunya yang eksotis.

Rumah Pesik menyediakan beberapa pilihan paket social event package untuk traveler yang menginginkannya. Mulai dari Pre-wedding package, family photo package, graduation package, yearbook package, gathering package, dan weddings & engagement package. Seluruh paket itu dapat Traveler pesan melalui akun Instagram resmi @rumahpesik

Tidak hanya untuk formal occasion, casual pun boleh sangat di tempat ini. Pelayanan staffnya bintang 5, ditambah tempatnya yang mendukung untuk berfoto ria. Poin plusnya lagi, Rumah Pesik memiliki spot yang luas sehingga tidak usah khawatir mengantri jika ingin berfoto.

Jika lelah berkeliling dan berfoto, ada kafe dan restoran dengan berbagai menu yang tidak menguras kantong. Tersedia pula karaoke untuk pengunjung yang ingin bernyanyi melepas penat di situ.

Tempat ini untuk staycation bersama orang-orang tersayang cocok sekali. Namun, jangan kaget jika harga dibandrol cukup di atas rata-rata.

Dituturkan oleh Roky melalui catatan penelitian mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, anak Rudy J Persik, Hotel Rumah Persik memang ditargetkan untuk golongan menengah ke atas agar setiap detail ornamen barang antik di Rumah Persik tetap terjaga.

Jadi tunggu apalagi? Datang dan kunjungi Rumah Pesik sekarang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Angker, Justru Decak Kagum Saat Menyusuri Museum Taman Prasasti



Jakarta

Kesan angker saat menjejak bekas lahan pemakaman lawas memang tak terhindarkan karena mitos dan urban legend-nya selalu melekat. Namun sedikit berbeda dengan bekas pemakaman orang-orang asing yang tinggal di Batavia ini, di Museum Taman Prasasti.

Dahulu kala saat Belanda berada di Indonesia, area ini merupakan sebuah pemakaman modern. Makam itu dibangun pada 28 September 1795.

Kerennya, pemakaman modern itu disebut-sebut menjadi pemakaman modern pertama di dunia.


Saat menjajaki kawasan museum, detikTravel dipandu oleh Eko Wahyudi sebagai guide untuk mengelilingi museum dengan konsep open air ini, Rabu (29/5/2024).

‘Dibangun di atas tanah seluas 5,5 hektar pemakaman ini menjadi pemakaman yang prestisius akhirnya orang Belanda menyebutnya Kerkhof Laan atau pemakaman gereja. Kalau orang kita menyebutkan Kebon Jahe Kober,” kata Yudi pada detikTravel.

Pemakaman itu masih benar-benar menjadi pemakaman selama kurang lebih 180 tahun hingga kemudian perubahan dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1975.

Ali memerintahkan untuk memindahkan seluruh jenazah di pemakaman ini ke Pemakaman Menteng Pulo, Tanah Kusir, dan ada juga yang dibawa oleh keluarga.

Dari situlah cikal-bakal Museum Taman Prasasti hadir hingga saat ini.

Museum Taman Prasasti di JakartaMuseum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Yudi kembali meneruskan ceritanya. Dia bilang setelah pemindahan seluruh jenazah di tahun 1975, dua tahun kemudian prasasti nisan yang ada di pemakanan ini ditata ulang dalam area 1,3 hektar serta diresmikan menjadi museum pada 9 Juli 1977.

“Awalnya sih kalau tidak salah hanya untuk taman, (untuk) serapan karena kan di Jakarta susah ya mencari tanah serapan. Tetapi, di dalamnya ada benda-benda cagar budaya yang harus dilestarikan dan dilindungi, kemudian baru diresmikan jadi Museum Prasasti,” kata Yudi.

Di pemakaman itu banyak sekali orang-orang penting di zamannya mulai dari para pejabat-pejabat VOC hingga pelaku sejarah. Notabene nisan prasasti yang berada di sini memiliki nama-nama orang asing, namun ada juga dua orang Indonesia, yakni Soe Hok Gie dan Miss Riboet.

Sembari mengelilingi kawasan, Yudi bercerita tentang berbagai prasasti nisan yang ada di sini. Pertama adalah nisan berbentuk patung yang disebut crying lady. Cerita kelam membaluti prasasti nisan ini karena patung tersebut merupakan ilustrasi dari kesedihan seorang perempuan yang ditinggal mati oleh pasangannya, tak kuat menahan kesedihan itu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Patung crying lady ini dibuat langsung oleh pemahat yang bernama Antonio Carminati dari Milan, Italia. Dia mendapatkan pesanan bahwa ada seorang dari keluarga yang meninggal, untuk mengenang putrinya yang tewas karena bunuh diri,” kata Yudi.

Tak ayal kemegahan nisan-nisan di Museum Taman Prasasti ini begitu keren karena merupakan mahakarya seni yang dibuat oleh para pemahat Eropa. Yudi juga menyebut ini lah yang membuat museum ini begitu unik dan istimewa karena terdapat koleksi nisan yang begitu indah.

“Ya kalau di sini sih kita menampilkan batu-batu nisan yang merupakan karya seni orang-orang Eropa di tahun itu, dibuat antara tahun 1600-an sampai 1900-an. Dan mungkin untuk saat ini agak sulitnya untuk menemukan hal-hal seperti itu karena batu nisan sendiri bahanya merupakan bahan marmer Carrara yang diimpor langsung dari Pegunungan Carrara di Italia, untuk orang-orang Hindia-Belanda atau yang lebih mayoritas beragama Katolik,” kata dia.

Museum Taman Prasasti di JakartaMakam Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Ia juga menambahkan kalau untuk orang-orang VOC yang mayoritas menganut agama Protestan nisan yang digunakan masih berbahan baku batu andesit yang diimpor langsung dari India Selatan.

Kembali menyusuri nisan demi nisan, prasasti nisan tokoh penting lainnya adalah nisan Direktur STOVIA (School Tot Opleiding Van Indlandshe Arsten atau Sekolah kedokteran Bumi Putera) pertama yang bernama Dr. Hermanus Frederik Roll dan di makam yang sama dengan H.F Roll terdapat juga makam sang anak, yakni Frits Roll.

Adapun prasasti nisan dari pencetus berdirinya Kebun Raya Bogor yaitu Olivia Marianne Raffles yang merupakan istri pertama dari Gubernur Letnan Thomas Stamford Raffles. Olivia begitu gemar dengan tumbuhan-tumbuhan yang memutuskannya untuk tingga di Buitenzorg atau Bogor bersama sang suami.

Olivia meninggal karena penyakit malaria yang diidapnya, diketahui bahwa penyakit malaria saat itu memang tengah merajalela. Kepindahannya ke Bogor juga saat Olivia sedang dalam masa pemulihan penyakitnya dan Raffles pun membawa ahli taman dari Inggris untuk membuat dan menata ulang taman di pekarangan rumahnya.

Dan tempat yang paling disukai oleh Olivia adalah danau di depan rumahnya, yang kini dikenal sebagai danau yang berada di depan Istana Bogor.

“Sampai akhirnya kesehatan Olivia semakin memburuk, enam bulan menjelang kematiannya Olivia meminta suaminya untuk menemani full di area Istana Bogor. Sampai dia menghembuskan nafas terakhir di bulan November 1814 ya,” ujar Yudi.

Masih banyak lagi prasasti nisan dan peninggalan tokoh-tokoh yang berkaitan erat dengan sejarah Indonesia, museum ini memang terkesan menyeramkan karena memamerkan sekira 1.100 prasasti nisan. Namun ketika masuk dan mendapatkan informasi terkait sejarahnya, kesan tersebut menjadi hilang dan berubah jadi decak kagum.

Museum Taman Prasasti yang terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat ini buka dari hari Selasa-Minggu. Mulai dari jam 09.00-15.00 WIB. Dengan biaya masuk dewasa Rp 10.000 (weekend naik jadi Rp 15.000), mahasiswa Rp 5.000, anak-anak Rp 5.000, dan wisatawan asing Rp 50.000.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum Sejarah Jakarta Pernah Jadi Kantor Gubernur Jabar-Tempat Eksekusi Mati



Jakarta

Museum Sejarah Jakarta yang terletak di kawasan Kota Tua itu ternyata pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat. Gedung putih itu juga menjadi saksi perkembangan Jakarta dari masa ke masa.

Gedung itu dibangun pada tahun 25 Januari 1707 dan diresmikan pada tahun 10 Juli 1710 kendati belum rampung secara keseluruhan. Di tahun 1712 lah gedung yang bergaya Neoklasik itu utuh. Gedung itu dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.

Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara, juga area eksekusi hukum mati.


Tanggal 10 Juli 1710 gedung balai kota itu diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck sesuai dengan Prasasti yang ada di Museum Sejarah Jakarta. Pada awal berdirinya, gedung ini berfungsi sebagai” StadHuis” (balai kota) dan ” Raad Van Justitie ” (Dewan Pengadilan)

Saat detikTravel berkunjung ke museum itu ada hal menarik yang didapat, ternyata gedung itu Ternyata, tidak hanya pernah menjadi balai kota Batavia, tetapi juga pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat pada saat Belanda berada di Nusantara.

Didik Cahyono, pemandu yang mengajak detikTravel berkeliling, menceritakan kisah itu.

Di masa kekuasaan Belanda dan sebelum Jepang menduduki tanah ini bangunan tersebut pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat.

“Mulai 1925 sampai 1942 (gedung ini) digunakan untuk kantor gubernur Provinsi Jawa Barat, ini masih zaman Belanda. Jadi kantor gubernur Provinsi Jawa Barat nah itu masih zaman kekuasaan Belanda, terus Jepang masuk 1942 sampai 1945 gedung ini dijadikan kantor logistik Dai Nippon (kekaisaran Jepang),” kata Didik, Kamis (6/6/2024).

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memiliki kebijakan untuk menyatukan Banten, Batavia, Cirebon, dan Priangan menjadi satu wilayah atau yang disebut provinsi. Di masa peralihan balai kota yang baru itulah bangunan tersebut dijadikan sebagai kantor gubernur Jawa Barat.

Hingga Jepang datang, kantor gubernur Jawa Barat itu kembali beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan logistik Kekaisaran Jepang.

Dan pada 30 Maret 1974, gedung itu diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta diresmikan oleh Gubernur DKI Bapak Ali Sadikin.

Interior Gedung Terjaga Keasliannya

Selain itu, di Museum Sejarah Jakarta juga banyak segudang informasi yang telah tersaji bagi pengunjung. Bagaimana perjalanan dari mulai zaman prasejarah, masa emas Sunda Kelapa, era penjajahan Belanda-Jepang, hingga setelah kemerdekaan.

Didik pun membawa detikTravel ke setiap ruangan yang ada di gedung ini, semua interior dalam gedung pun masih terjaga keasliannya.

“Ini ya aslinya seperti ini kalau interior 90 persen lebih masih asli karena kayu-kayu ini nggak kena panas dan hujan jadi awet bisa ratusan tahun jadi ini juga dikonservasi. Kalau ngepel juga pake minyak lopi jadi ada minyak khusus supaya nggak dimakan serangga,” kata dia.

Dengan lantai yang terbuat dari kayu dan pintu-pintu besar yang kokoh membuat bangunan ini masih terasa seperti dulu kala saat masih berfungsi sebagai kantor pemerintahan. Terdapat bangku, meja, lemari hingga lukisan zaman dulu tersimpan baik jadi menambah kesan yang mendalam.

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikcom

Bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini memberikan pengalaman yang menarik tentang perjalanan panjang Kota Jakarta. Di bagian atas, Didik menunjukkan salah satu spot yang pernah dipakai oleh orang-orang penting zaman dahulu untuk memantau dan melihat eksekusi mati.

Terletak di area balkon yang menghadap ke area terbuka di tengah-tengah kawasan Kota Tua, di sinilah para tokoh saat itu melihat eksekusi mati yang berada di area bawa balkon tersebut.

“Ini digunakan untuk para hakim dan gubernur jenderal untuk melihat proses eksekusi hukuman mati dan,” ujarnya sembari menunjukkan tempat di mana eksekusi dilakukan.

Selagi detikTravel berkeliling gedung ini, terlihat wisatawan tak henti-hentinya mendatangi gedung ini. Beberapa rombongan wisatawan mancanegara pun penasaran dengan sejarah yang terdapat di Museum Sejarah Jakarta.

Menurut Didik banyak wisatawan mancanegara yang datang ke museum ini, terutama wisatawan mancanegara yang berasal dari Belanda. Alasannya karena ada ikatan emosional, sekaligus napak tilas nenek moyangnya yang dimakamkan di Indonesia.

“Kalau di sini pengunjung (asing) kebanyakannya dari Belanda karena ada hubungan emosional ya dengan Belanda jadi banyak yang ke sini. Banyak juga orang Belanda yang datang ke sini nyari makam-makam leluhurnya, saya pernah ketemu generasi ke-6 Antonio van Diemen (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ke-9). Jadi pengen lihat jejak-jejaknya gitu loh,” katanya.

Jam Operasional dan Harga Tiket Masuk

Ternyata memang museum ini menjadi salah satu museum yang banyak didatangi oleh wisatawan setiap harinya, dari Senin sampai Minggu. Didik mengatakan sebelum pandemi lalu kunjungan ke Museum Sejarah Jakarta bisa mencapai 15 ribu orang.

“Weekdays itu kalau lagi ramainya bisa dua ribu lebih, kalau musim liburan lebih rame lagi. Dan weekend itu pernah waktu sebelum pandemi sampai 15 ribu satu hari, nah kalau setelah pandemi ini paling-paling lima ribuan lah,” ujar dia.

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Untuk kamu yang penasaran dengan Museum Sejarah Jakarta waktu yang pas untuk datang ke sini adalah ketika hari kerja karena tak begitu ramai. Jam operasional museum ini dimulai pukul 09.00 – 15.00 WIB pada Selasa sampai Minggu.

Untuk biaya masuk museum di hari kerja berkisar Rp 5.000 untuk mahasiswa, pelajar, dan anak-anak, sementara untuk dewasa dikenakan biaya Rp 10.000, dan untuk wisatawan mancanegara dibanderol Rp 50.000. Kemudian, jika berkunjung di hari libur biaya masuk untuk dewasa naik menjadi Rp 15.000, sementara yang lainnya harga normal.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Upgrade Ide Kencanmu dengan Bikin Pizza di Kopi Wongso



Yogyakarta

Ada satu kafe menarik di sudut Jogja yang menawarkan pengalaman membuat pizza langsung bersama pemiliknya. Lokasinya masih asri dekat dengan alam, cocok untuk ide ngedate traveler bareng pasangan.

Namanya Kopi Wongso, lokasinya di Sewon, Bantul. Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Lokasinya menjadi viral karena tempatnya yang estetik dan langsung disuguhi pemandangan alam berupa persawahan dan gunung.

“Saya senang mengelola Kopi Wongso ini awalnya bersama istri, bagaimana mensinergikan alam dan knowledge saya tentang art, dan pengalaman dulu sering berinteraksi dengan customer saat jadi pemandu,” kata Ali Wongso, pemilik Kopi Wongso.


Kopi Wongso di Yogyakarta jadi rujukan tempat nongkrong anak muda. Ternyata kedai kopi ini adalah cara sang owner Ali Wongso memaknai hidupnya.Kopi Wongso di Yogyakarta jadi rujukan tempat nongkrong anak muda. Ternyata kedai kopi ini adalah cara sang owner Ali Wongso memaknai hidupnya. (Arawinda Dea Alisia)

Kopi Wongso sendiri telah berdiri sejak tahun 2010. Dulu saat masih berada di Bangunharjo, Ali mengandalkan kopi luwak alami sebagai signature-nya.

Sejak 2020 kedai dipindah ke Sewon dan di tahun kedua pembukaan, Ali menyediakan pizza sebagai menjadi salah satu menu andalan. Uniknya lagi, pengunjung diajak untuk membuat pizza sendiri.

Ya, Kopi Wongso menawarkan pengalaman membuat pizza sendiri yang cukup unik ditemani oleh owner langsung. Selain itu, lokasi yang asri dan masih sejuk, membuat suasana outdoor tidak begitu panas di siang hari.

Dengan merogoh kocek Rp 105.000, traveler akan disediakan satu loyang pizza lengkap dengan bahan, dan diajarkan cara membuatnya. Pizza akan dimasak dengan menggunakan tungku api tradisional, sehingga cita rasanya begitu otentik.

Di sini juga tersedia tripod untuk traveler yang hobi bikin konten video. Bahkan, tidak perlu sungkan jika ingin meminta tolong petugasnya mengabadikan moment traveler bersama pasangan.

Kopi Wongso di Sewon, Bantul, YogyakartaKopi Wongso di Sewon, Bantul, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Di Kopi Wongso, traveler tidak perlu melakukan reservasi jika ingin membuat pizza. Pengunjung akan dilayani secara bertahap sesuai antrian.

“Kadang-kadang antrenya sampai 4 jam. Kalau ga couple ga akan tahan, yang bikin betah karena ada pasangannya. Sengsara membawa nikmat. Vibes menunggu lama itu juga suatu kelebihan menurut saya,” kata Ali.

Tidak perlu takut bosan jika menunggu di sini karena tersedia berbagai menu lain yang wajib banget traveler coba seperti kopinya. Mulai dari harga Rp 15 ribu, traveler bisa menikmati suasana nongkrong di Kopi Wongso yang syahdu abis. Ada pula persewaan sepeda mulai dari Rp 10 ribu dan kolam renang anak Ro 15 ribu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

16 Wisata Solo Terbaik, Sensasi Seru Jelajah Budaya-Kuliner dengan Keluarga


Jakarta

Wisata Solo terkenal dengan destinasi budaya Jawa yang sangat kental. Namun tahukah kamu jika kota ini menyimpan banyak objek wisata menarik lainnya?

Selain objek wisata sejarah dan edukasi yang lengkap, ternyata Kota Solo mempunyai wisata kuliner dan religi. Berlibur disini disebut sebagai wisata lengkap dan hemat karena biayanya yang murah bahkan beberapa juga gratis.

Berikut rekomendasi wisata Solo dan sekitarnya yang wajib dikunjungi bareng keluarga dikutip dari laman Pariwisata Kota Solo dan laman media sosial tiap destinasi liburan.


Wisata Budaya di Kota Solo dan Sekitarnya

Bagi detikers dan keluarga yang memilih jelajah budaya kota Solo, spot wisata berikut bisa jadi pilihan:

1. Puro Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran adalah wisata favorit turis mancanegara karena sejarah dan budayanya. Terdapat koleksi benda bersejarah sejak tahun 1926 mulai dari topeng, perhiasan, wayang, alat musik, dan buku lama era Majapahit dan Mataram yang tersimpan di museum serta Rekso Pustoko Perpustakaan. Wisatawan juga bisa menikmati suguhan latihan tari Gaya Karawitan setiap Rabu dan karawitan setiap hari Sabtu.

Destinasi terbaru yang tidak boleh dilewatkan adalah pengalaman makan dengan nuansa kerajaan Jawa di Pracima Tuin. Pengunjung akan dimanjakan dengan menu yang telah diuji coba oleh KGPAA Mangkunegoro X dengan pemandangan air mancur, taman, dan kolam dengan arsitektur khas Puro Mangkunegaran.

Lokasi:

  • Jl. Ronggowarsito, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Jam Operasional:

a. Puro Mangkunegaran

  • Senin-Jumat: 08.30-14.00 WIB
  • Sabtu-Minggu: 09.00-13.00 WIB

b. Pracima Tuin

  • Setiap Hari: 10.00-21.00 WIB (4 sesi di 10.00 WIB, 12.00 WIB, 14.30 WIB, dan 19.00 WIB)

Harga Tiket:

  • Wisatawan lokal: Rp 20.000/ orang
  • Wisatawan mancanegara: Rp 40.000/ orang
  • Restoran Pracima Tuin: minimal memesan Rp 100.000 dengan reservasi di Instagram @pracima.mn.

2. Keraton Surakarta Hadiningrat

Keraton Kasunanan Surakarta ini adalah pengganti Keraton Kartasura yang porak poranda di tahun 1743 akibat Geger Pecinan. Keraton Surakarta Hadiningrat didirikan tahun 1744 oleh Susuhunan Pakubuwana II dan masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan hingga sekarang.

Bangunannya didominasi warna biru dan putih khas sentuhan istana tradisional Jawa. Pengunjung dapat melihat koleksi zaman dahulu berupa pusaka, gamelan, kereta kencana hingga pemberian raja Eropa di museumnya. Setiap malam 1 Suro terdapat arakan Kebo Bule oleh Kyai Slamet ke seluruh Kota Solo lengkap dengan ritual pembersihan pusaka.

Lokasi:

  • Jl. Kamandungan, Baluwarti, Kecamatan Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 09.00-14.00 WIB
  • Sabtu-Minggu: 09.00-16.00 WIB

Harga Tiket:

  • Wisatawan lokal: Rp 10.000
  • Wisatawan mancanegara: Rp 15.000
  • Membawa kamera profesional: Rp 3.500.

3. Kampung Batik Kauman Solo

Kampung Batik Kauman Solo menjadi destinasi lengkap untuk mengenal dan melestarikan budaya Jawa. Terdapat spot estetik di sepanjang jalan desa yang dapat diabadikan saat tour kampung di pagi hari. Pengunjung dapat mengikuti workshop membatik dan melihat pameran batik karya 30 pengrajin disini.

Tersedia rumah batik, galeri batik, dan museum koleksi batik yang berpatokan pada motif keraton. Pengunjung juga bisa membeli oleh-oleh di toko suvenir, toko buku, dan kerajinan tangan lainnya yang hanya bisa dibeli dengan uang tunai.

  • Lokasi: Jalan Wijaya Kusuma no 17 Kampung Batik Kauman, Surakarta.
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-18.00 WIB)
  • Harga Tiket: gratis

4. Ndalem Hardjonegaran

Ndalem Hardjonegaran adalah kediaman Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hardjonegaran atau Go Tik Swan. Rumah ini menjadi cagar budaya yang menyimpan 45 arca zaman Borobudur dari abad 8-15 yang didesain oleh presiden Soekarno.

Rumah ini dialihfungsikan sebagai rumah produksi batik dan galeri benda budaya koleksi Hardjonegaran. Batik disini adalah gabungan teknik batik Solo Jogja dari Sogan dan Pesisir. Sang Pemilik dari keturunan Tionghoa berhasil mendapatkan Satya Lencana Pejuang Budaya dan berperan juga dalam menghidupkan pembuatan keris di Indonesia.

  • Lokasi: Jl.Yos Sudarso no 176, Surakarta.
  • Jam Operasional: Setiap hari (09.00-18.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis dengan reservasi lewat WhatsApp 0878-3605-0077 (KRRA. H. Hardjosuwarno).

5. Ndalem Djojokoesoeman

Destinasi baru di Kota Solo ini adalah cagar budaya untuk menikmati arsitektur Jawa dan koleksi zaman kerajaan. Ndalem Djojokoesoeman ditujukan untuk kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Uniknya pada beberapa hari tertentu, pengunjung dapat memainkan gamelan guna melestarikan budaya Jawa. Bangunan ini memiliki nilai sejarah perkembangan Surakarta di masa Kerajaan Mataram Islam yang bisa disewa untuk pre wedding atau acara umum lainnya.

  • Lokasi: Jalan Gajahan, Gajahan, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-16.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis kecuali untuk acara pre wedding atau keperluan komersial lainnya.

Wisata Sejarah

Kota Solo dikenal dengan sejarah panjang dengan jejaknya yang masih terjaga dengan baik. Bagi pengunjung yang ingin mengetahui atau mengenang kembali sejarah Solo, destinasi berikut bisa menjadi pilihan:

1. Benteng Vastenburg Solo

Benteng Vastenburg memiliki peranan penting bagi Belanda dalam mengawasi pergerakan di Keraton Surakarta. Terdapat parit di sekeliling benteng lengkap dengan jembatan di pintu depan dan belakang sebagai perlindungan wilayah.

Di sekitarnya masih terdapat puing bangunan pemukiman Eropa yang dominan dengan warna putih. Keberadaan barak dan bastion di sudut benteng menambah estetika ketika tertangkap di kamera. Selain sebagai spot foto yang estetik, Benteng Vastenburg juga digunakan untuk tempat upacara beberapa hari besar.

  • Lokasi: Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah
  • Jam Operasional: Setiap hari selama 24 jam
  • Harga Tiket: Gratis.

2. De Tjolomadoe

De Tjolomadoe adalah kompleks pabrik gula tua yang saat ini digunakan sebagai objek wisata bersejarah dan pusat konvensi di Solo. Bangunannya telah ada sejak tahun 1861 dengan revitalisasi dan berhasil dibuka untuk umum tahun 2018.

Objek wisata ini terdiri dari museum, aula konser Tjolomadoe, aula serbaguna Sarkara, restoran, dan toko suvenir. Pengunjung dapat menjelajah waktu di masa Eropa melalui mesin-mesin jadul untuk produksi gula lengkap dengan bangunan vintage yang estetik.

Lokasi:

  • Jalan Adi Sucipto No. 1 Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Jam Operasional:

a. Besali Cafe

  • Selasa-Minggu: 09.00-14.00 WIB
  • Museum De Tjolomadoe: Selasa-Kamis: 10.00-17.00 WIB dan Jumat-Minggu: 10.00-17.00 WIB

Harga Tiket: Museum Rp 40.000.

3. Gedung Djoeang 45

Gedung Djoeang 45 adalah bangunan penuh perjuangan dalam merebut kemerdekaan RI tahun 1945. Pemerintah Hindia Belanda membangunnya di tahun 1876-1880 untuk kebutuhan kantin VIP tentara Belanda (cantienstraat). Gedung ini juga digunakan untuk klinik tentara Belanda sebelum direbut oleh Jepang.

Setelah merdeka, Gedung Djoeang 45 sempat dijadikan sebagai pusat kegiatan kemanusiaan, fasilitas pendidikan, dan markas militer Brigade Infanteri 6. Namun saat ini, bangunan tersebut digunakan untuk cagar budaya yang memiliki Monumen Laskar Putri Surakarta sebagai penanda keikutsertaan kaum wanita. Wisata Solo ini menyimpan banyak spot instagrammable yang cocok dipajang di media sosial.

Lokasi:

  • Jl. Kapten Mulyadi No.113, Kedung Lumbu, Kecamatan Ps. Kliwon, Kota Surakarta.

Jam Operasional:

  • Gedung Djoeang 45: 17.00-00.00 WIB
  • Kantinestraat_ : Sabtu-Kamis (12.00-21.00 WIB) dan Jumat (14.00-21.00 WIB)
  • Gelatokusolo_ : Setiap hari (10.00-22.00 WIB)
  • Bobakusolo_ : Selasa-Minggu (13.00-21.00 WIB)

Harga Tiket: Rp 15.000.

Wisata Edukasi dan Instagramable Keluarga

Tentunya bagi detikers yang ingin memperkaya wawasan atau memori bersama keluarga, Solo menyediakan pilihan tempat wisata sebagai berikut:

1. Solo Safari

Kebun binatang ini adalah revitalisasi dari Taman Satwa Taru Jurug yang berdiri diatas lahan seluas 13,9 hektar. Anak-anak dapat memberi makan hewan jinak dan mendapatkan wawasan tentang hewan liar lainnya.

Wisatawan juga bisa berinteraksi langsung dengan hewan seperti berfoto atau menunggang kuda. Koleksi hewan endemik Indonesia terbilang sangat lengkap mulai dari hewan air, unggas, hingga mamalia raksasa dirawat dengan baik disini.

Lokasi:

  • Jl. Ir. Sutami No.109, Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 08.30-16.30 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Hari Besar: 08.00-16.30 WIB

Harga Tiket:

a. Weekday Tiket Reguler

  • Anak-anak (di bawah 2 tahun): gratis
  • Anak-anak (2-6 tahun): Rp 45.000
  • Dewasa: Rp 55.000

b. Weekday Tiket Premium

  • Anak-anak (di bawah 2 tahun): gratis
  • Anak-anak (2-6 tahun): Rp 65.000
  • Dewasa: Rp 90.000

c. Weekend Tiket Reguler

  • Anak-anak (di bawah 2 tahun): gratis
  • Anak-anak (2-6 tahun): Rp 60.000
  • Dewasa: Rp 75.000

d. Weekend Tiket Premium

  • Anak-anak (di bawah 2 tahun): gratis
  • Anak-anak (2-6 tahun): Rp 80.000
  • Dewasa: Rp 110.000.

2. Cepogo Cheese Park

Destinasi ini terletak diantara Gunung Merapi dan Merbabu yang menyediakan paket wisata edukasi dan kuliner untuk keluarga. Anak-anak dapat menikmati serunya membuat keju, melihat susu perah, dan mencoba menyusui anak sapi.

Tersedia kebun binatang mini dan berbagai spot estetik yang cocok bagi orang tua sembari menunggu anak beraktivitas. Tidak hanya itu, terdapat persewaan ATV dan wahana play ground yang dapat melatih ketangkasan anak.

Lokasi:

  • Cepogo Cheese Park, Dusun II, Genting, Kec. Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah

Jam Operasional:

a. Senin-Jumat

  • Wisata: 08.00-18.00 WIB
  • Toko suvenir: 09.00-18.00 WIB
  • Restoran: 10.00-18.00 WIB

b. Sabtu-Minggu

  • Wisata: 08.00-18.00 WIB
  • Toko suvenir:08.00-19.00 WIB
  • Restoran: 09.00-18.00 WIB

Harga Tiket:

a. Weekday

  • Cheese Park: Rp 20.000
  • De Windmills: Rp 20.000
  • Paket 2 Wahana: Rp 35.000

b. Weekend

  • Cheese Park: Rp 25.000
  • De Windmills: Rp 25.000
  • Paket 2 Wahana: Rp 40.000
  • Deposit: Rp 10.000/orang.

3. Wahana Soko Alas

Wahana Soko Alas adalah galeri seni kerajinan kayu dengan spot yang sangat instagrammable. Wisata Solo ini memiliki embung, taman, dan resto Joglo yang siap merefresh pikiran saat liburan.

Wisatawan dapat berenang dengan latar pemandangan indah khas pegunungan. Tersedia gazebo di beberapa titik untuk duduk santai yang berada di dekat kolam ikan.

Lokasi: Jl. Delanggu-Polanharjo, Area Kebun/Swah, Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 09.00-17.00 WIB
  • Sabtu-Minggu: 08.00-18.00 WIB

Harga Tiket: Rp 10.000/ orang

Wisata Kuliner dan Belanja

Nah, rekomendasi berikut cocok buat detikers dan keluarga yang ingin makan-makan dan shopping barang-barang lucu di Solo.

1. Pasar Gede Hardjonagoro Solo

Pasar ini adalah pusat kuliner dan jajanan tradisional yang telah berdiri sejak tahun 1927. Pasar Gede menjadi salah satu pasar tertua di Solo yang tidak jauh dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Berbagai kuliner legendaris Solo mulai dari gempol pleret, tahok, cabuk rambak, hingga es dawet ada disini. Wisatawan juga bisa membeli oleh-oleh dan kerajinan lainnya disini.

  • Lokasi: Jl. Jend. Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Gratis.

2. Pasar Antik Triwindu

Sesuai dengan namanya, Pasar Antik Triwindu menawarkan berbagai koleksi barang antik seperti guci, keramik, lampu antik, topeng, hingga uang kuno era 1800-an. Lokasinya terbilang strategis karena berada di tengah kota Solo dekat Candi Mangkunegaran.

Pasar ini sendiri dibangun untuk merayakan kenaikan tahta Adipati Sri Mangkunegara VII ke-24 yang disebut tiga windu (triwindu). Gen Z berbondong-bondong kesini untuk melakukan thrift kebaya untuk melengkapi outfit estetik saat di wisata budaya Solo.

  • Lokasi: Jl. Diponegoro, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah
  • Jam Operasional: Setiap hari jam 09.00-16.00 WIB
  • Harga Tiket: Gratis kecuali untuk pre wedding dikenakan sewa Rp 125.000 per 2 jam.

Wisata Alam dan Religi

Tentunya, Solo menyediakan beberapa lokasi bagi wisatawan yang memenuhi kebutuhan rohaninya. Lokasi wisata tentu dilengkapi berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

1. Kemuning Sky Hills

Kemuning Sky Hills menjadi daya tarik wisata Solo untuk menikmati pemandangan teh yang sejuk. Terdapat jembatan kaca di atas kebun teh sepanjang 65 meter dan tinggi 60 meter yang estetik untuk diabadikan.

Tidak hanya itu, wisatawan juga dapat menjelajahi bukit teletubbies yang berada di area tersebut. Beberapa aktivitas mengasyikkan lain yang bisa dilakukan seperti menaiki Jeep, ATV, paralayang, flying fox, dan giant swing.

Lokasi:

  • Jl. Karangpandan-Ngargoyoso, Sumbersari, Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Jam Operasional:

  • Setiap hari 09.00-18.30 WIB

Harga Tiket:

  • Tiket Masuk: Rp 10.000
  • Lewat Jembatan: Rp 30.000

2. Masjid Syeikh Zayed Solo

Masjid Raya Syeikh Zayed Solo adalah ikon baru wisata religi yang mirip seperti Masjid Sheikh Zayed Grand di Abu Dhabi. Fakta uniknya, masjid ini adalah hibah dari Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, putra mahkota UEA kepada presiden Joko Widodo.

Keindahan masjid tampak semakin megah ketika di malam hari dengan detail lampu biru di setiap kubah. Masjid Syeikh Zayed Solo dapat menampung 10.000 jamaah dengan berdiri di tanah seluas 8.000 meter persegi. Selain itu, terdapat wisata religi muslim lainnya seperti Masjid Agung Keraton Solo, Makam Ki Gede Sala, dan Makan Raden Ngabehi Yosodipuro.

  • Lokasi: Jl. Surya IV, Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah
  • Jam Operasional: Setiap hari (04.00-21.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis.

3. Candi Putih

Candi putih adalah kompleks Vihara Dhamma Sundara yang memiliki bangunan estetik dengan atap limasan. Di gerbang utama, wisatawan akan disambut dengan patung sepasang singa hitam di kanan dan kiri.

Sebagai tempat ibadah yang aktif digunakan saat ini, tersimpan berbagai Arca Buddha, stupa, dan patung Sang Pendiri, Sundara Husea. Uniknya kompleks candi putih memiliki arsitektur yang mirip seperti bangunan di Thailand.

  • Lokasi: Jl.Ir.H.Juanda Nomor 223B, Pucangsawit, Jebres
  • Jam Operasional: Setiap hari (07.00-17.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis.

Selain rekomendasi wisata Solo untuk liburan keluarga yang murah dan lengkap ini, tentu masih banyak lokasi lain untuk menghabiskan masa libur. Sebelum liburan pastikan telah update informasi terbaru tentang tujuan wisata, misal harga tiket dan rute, sehingga liburan bisa makin nyaman serta menyenangkan.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

10 Wisata Gunung Bromo yang Bisa Dikunjungi saat Libur Idul Adha


Jakarta

Gunung Bromo di Jawa Timur termasuk tempat wisata pilihan yang dapat dikunjungi, terlebih saat libur panjang seperti waktu libur Idul Adha nanti. Di sana, ada sejumlah destinasi wisata menarik yang patut dikunjungi.

Gunung Bromo masuk ke dalam area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan menjadi satu-satunya gunung berapi aktif di sana. Wisatawan bisa menyaksikan panorama matahari terbit (sunrise) dari berbagai spot yang ada hingga melakukan aktivitas seperti menunggangi kuda dan naik mobil jip.

Penasaran? Temukan rekomendasi objek wisata Gunung Bromo yang bisa dikunjungi saat libur Idul Adha 2024 pada uraian di bawah.


Rekomendasi Objek Wisata Gunung Bromo

Berdasarkan catatan detikcom, berikut objek wisata di Gunung Bromo yang patut dikunjungi wisatawan.

1. Penanjakan 1

Penanjakan Bromo 1Panorama Gunung Bromo dari Penanjakan 1. (Faiq Azmi/detikcom)

Kalau ingin menyaksikan matahari terbit, Penanjakan 1 bisa jadi spot pilihan. Lokasi ini merupakan titik tertinggi di antara lainnya yang pas sekali untuk melihat sunrise. Letaknya di ketinggian sekitar 2.770 mdpl (meter di atas permukaan laut).

Penanjakan 1 bisa dibilang spot terbaik dan paling populer bagi para pemburu sunrise Gunung Bromo. Dari sini, pesona matahari terbit bisa terlihat sangat cantik nan eksotis dengan masih tertutup kabut di sekelilingnya.

2. Penanjakan 2

Penanjakan 2 merupakan spot tertinggi kedua di TNBTS. Lokasinya sekitar di ketinggian 2.400 mdpl. Dan Penanjakan 2 termasuk spot alternatif untuk menikmati matahari terbit. Selain itu, di sini juga biasa menjadi tempat untuk menyaksikan sunset Gunung Bromo.

3. Pasir Berbisik

Pesona Pasir Berbisik Bromo.Naik mobil jip di Pasir Berbisik Bromo. (M Rofiq/detikJatim)

Kawasan Gunung Bromo terkenal dengan hamparan pasirnya yang luas. Area ini dikenal dengan sebutan Pasir Berbisik. Di sini terkenal sebagai spot bagus untuk berfoto maupun swafoto yang instagramable.

Di samping itu, traveler juga bisa melakukan aktivitas seperti naik mobil jip, mengendarai motor trail, hingga menunggang kuda.

4. Bukit Cinta

Bukit Penanjakan sedang direnovasi, kini wisatawan yang ingin menikmati terbitnya matahari (sunrise) di kawasan Gunung Bromo pun beralih ke Bukit Cinta, Probolinggo, Jatim.Wisatawan menikmati matahari terbit (sunrise) di Bukit Cinta. (Ari Saputra/detikcom)

Lagi-lagi untuk menikmati matahari terbit, wisatawan dapat mendatangi Bukit Cinta. Di spot ini, panorama Gunung Bromo yang indah juga tampak dengan jelas. Selain itu, pemandangan gunung lain yakni Semeru dan Arjuno bisa terlihat pula dari sini. Kalau ke Bukit Cinta, tentunya traveler tidak boleh melewatkan untuk berfoto ya.

5. Bukit Mentigen

Tidak jauh dari pintu masuk TNBTS, Bukit Mentigen bisa ditemukan. Meski tidak setinggi Penanjakan 1 dan Penanjakan 2, bukit ini juga termasuk spot berburu sunrise yang bagus di Cemoro Lawang, Ngadisari, Probolinggo.

Untuk ke sini, wisatawan tidak usah naik jip melainkan bisa cukup trekking atau berkendara motor. Lokasinya sekitar 1 km dari gapura selamat datang objek wisata Seruni.

6. Bukit Kingkong

Spot lain untuk melihat matahari terbit yaitu Bukit Kingkong. Bukit ini berada di ketinggian sekitar 2.700 mdpl. Panorama sunrise di sini cukup berbeda dari lainnya, walau begitu tidak kalah bagus lho.

Disebut Bukit Kingkong lantaran salah satu sisinya menyerupai kepala kingkong jika dilihat dari kejauhan. Bukit ini dikenal juga dengan nama Bukit Kedaluh, yang artinya penghargaan akan kesuburan tanah wilayah Tengger. Sebutan tersebut diberikan langsung oleh masyarakat Tengger di sekitar Gunung Bromo.

7. Pura Luhur Poten

Pura Agung Poten Luhur yang berada di lautan pasir Gunung BromoPura Agung Poten Luhur yang berada di lautan pasir Gunung Bromo. (Budi Sugiharto)

Di Gunung Bromo ternyata juga terdapat pura yang bisa dikunjungi lho, yakni Pura Luhur Poten. Pura ini merupakan tempat ibadah pemeluk agama Hindu di sekitar sana. Meski begitu, wisatawan dapat mendatangi pura ini.

Pura Luhur Poten dikatakan sudah berdiri sejak awal abad ini. Saat perayaan Nyepi, pura ini selalu ramai oleh orang yang hendak beribadah.

8. Bukit Teletubbies

Awal mulanya keindahan Bromo hanya dikenal dengan dua destinasi favorit yakni menikmati Sunrise dan Kawah Bromo saja. Tapi, sejak dibuka pintu masuk lewat Malang, kini bertambah tujuan wisatanya.Lautan pasir Bromo, Bukit Teletubbies dan padang savana yang terbentang luas.Bukit Teletubbies dan padang savana yang terbentang luas. (Rachman_punyaFOTO)

Walau terkenal dengan hamparan pasirnya, di kawasan Gunung Bromo juga ada padang rumput hijau kok yaitu Bukit Teletubbies. Dahulunya dinamakan Lembah Jemplang. Padang savana ini memiliki luas sekitar 382 hektare.

Bukit Teletubbies termasuk spot di Bromo yang tidak boleh terlewatkan. Terlebih, wisatawan wajib berfoto karena spot perbukitannya yang tak biasa.

9. Pos Dingklik

Letak Pos Dingklik di ketinggian 2.463 mdpl. Ini juga merupakan spot alternatif untuk menyaksikan matahari terbit di Gunung Bromo. Di samping itu, traveler juga akan menikmati panorama Gunung Batok yang tampak sejajar dengan kita.

10. Kawah Bromo

kawah gunung bromoKawah Gunung Bromo. (Devy Rizkillah/d’Traveler)

Gunung Bromo bukan hanya menyediakan spot bagus untuk melihat sunrise nih. Tapi gunung ini menawarkan objek wisata yang tak kalah menarik. Ada Kawah Bromo yang pesonanya tak boleh diabaikan.

Untuk ke sini, wisatawan perlu berjalan kaki terlebih dulu dan menaiki ratusan anak tangga. Meski harus berlelah-lelah dahulu, rasa letihnya bakal terbayarkan kok dengan pemandangan Kawah Bromo yang eksotis.

Nah, itu tadi sederet wisata Gunung Bromo yang tidak boleh terlewatkan kalau traveler sedang berkunjung ke sana. Jadi, tempat mana nih yang tertarik kamu kunjungi?

(azn/inf)



Sumber : travel.detik.com