Tag Archives: cagar budaya

Rumah Tahanan Bung Hatta di Sukabumi Resmi Jadi Cagar Budaya



Sukabumi

Rumah dimana Bung Hatta dan Sutan Sjahrir pernah ditahan di Sukabumi resmi berstatus menjadi Cagar Budaya.

Status itu ditetapkan dalam Sidang Penetapan Objek Diduga Cagar Budaya menjadi Cagar Budaya Kota Sukabumi pada 5 Desember 2023 lalu.

Rumah tahanan Bung Hatta dan Sjahrir itu dibangun pada tahun 1926. Lokasinya berada di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi.


Bentuknya seperti layaknya rumah tua di zaman Belanda. Di depannya terdapat pohon besar menjulang tinggi yang menutupi bagian depan rumah.

Bangunan bergaya twin-house kolonial itu cukup unik. Dari luar terlihat seperti satu rumah. Namun ternyata, di dalamnya terdapat dinding pemisah yang bisa ditempati oleh dua keluarga berbeda.

Rumah itu dibagi dua dengan penyekat permanen dari tembok. Deretan dapur yang berada di belakang rumah menjadi penghubung dua bagian rumah itu.

Masing-masing bagian yang dipisahkan oleh sekat itu ditempati oleh Hatta dan Sjahrir. Sjahrir tinggal di rumah tahanan bersama ketiga anak angkatnya yaitu Lila, Mimi dan Ali dari Banda Neira.

Bung Hatta dan Sutan Sjahrir menempati rumah tahanan tersebut mulai dari 3 Februari 1942 hingga 22 Maret 1942. Meski singkat, banyak pergerakan yang lahir saat keduanya menempati rumah tahanan tersebut.

Sebelum menjadi rumah tahanan Hatta dan Sjahrir, rumah itu merupakan rumah dinas inspektur Belanda. Pada masanya rumah tersebut berada di paling ujung kompleks

Jalan tersebut kemudian menjadi jalan utama yang disebut Dr. Vogelweg, yang saat ini berubah namanya menjadi Jalan Bhayangkara.

Rumah Tahanan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di SukabumiRumah Tahanan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar

Rumah Tahanan Bung Hatta-Sjahrir Bakal Jadi Tempat Wisata

Ke depan, pihak Pemkot Sukabumi akan menjadikan rumah tahanan (rutan) Bung Hatta dan Sjahrir menjadi objek wisata sejarah. Selain menjadi edukasi bagi warga masyarakat, pemanfaatan cagar budaya menjadi objek wisata juga dapat menumbuhkan perekonomian Kota Sukabumi.

“Harus (jadi objek wisata). Kita akan coba pemanfaatan BMD (Barang Milik Daerah) ini. Seyogyanya ada inovasi agar mempermudah untuk mendapatkan sumber pendapatan yang sah terutama nanti mungkin kunjungan-kunjungan ke Kota Sukabumi semakin tambah banyak karena spesifik ada cagar budaya yang sangat luar biasa,” ujar Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Rumah Pejabat Zaman Belanda, Kini Jadi Tempat Penampungan Gelandangan



Demak

Dulu, bangunan ini adalah rumah pejabat Demak di zaman kolonial Belanda. Namun kini, bangunan ini berubah fungsi menjadi tempat penampungan gelandangan.

Inilah Rumah Pelayanan Sosial (Rumpelsos) Dinas Sosial di Demak, Jawa Tengah. Bangunan ini ternyata merupakan sebuah cagar budaya.

Di zaman kolonial Belanda, bangunan Rumpelsos Demak merupakan eks kantor Kawedanan Demak. Kawedanan ini merupakan tempat tinggal wedana atau wedono yang merupakan pejabat setingkat kepala wilayah yang diangkat oleh Kolonial Belanda.


“Rumpelsos itu dulunya bangunan eks Kantor Kawedanan Demak. Bangunan eks Kawedanan Demak itu ditinggali oleh Wedana Demak,” kata Staf Pelaksana Subkoor Analis Sejarah dan Cagar Budaya Dindikbud Demak, Roni Sulfa Ali saat ditemui di kantornya, pekan lalu.

Roni menjelaskan, wedana merupakan sistem administrasi yang dibentuk pemerintah Kolonial Belanda. Pejabat wedana ini pun difasilitasi dengan sebuah rumah dinas.

“Wedana atau kawedanan itu adalah sistem administrasi pada saat Pemerintah Kolonial Belanda, posisinya di bawah bupati atau kabupaten. Jadi kabupaten, wedana, kemudian desa-desa. Dulu belum ada kecamatan, tapi kalau wedana itu kalau sekarang di atas kecamatan, lebih luas dari kecamatan,” terang Roni.

Dibangun Pada Tahun 1909

Bangunan gedung Rumpelsos Demak ini dibangun pada tahun 1909. Proses pembangunan rumah dinas wedana ini konon membutuhkan waktu tiga tahun.

“Dibangun sekitar 1909. Itu berdasarkan catatan Pemerintah Kolonial Belanda. Waktu itu ada. Kalau ibarat sekarang Dinas Pekerjaan Umum, dan itu selesai sekitar 1912,” terangnya.

Dari catatan sejarah, ada beberapa versi tentang Wedana Demak. Salah satunya menyebutkan ada tiga kawedanan.

“Wedana sendiri berdasarkan catatan kami tapi ini ada banyak versi dan kita masih kroscek keabsahannya. Jadi, Demak dulu ada beberapa wedana atau beberapa kawedanan. Salah satunya itu adalah Kawedanan Demak Kota, Grogol, Dempet. Kalau nggak salah lebih dari tiga kawedanan,” jelasnya.

Dibangun Dengan Biaya 12 Ribu Gulden

Roni menuturkan, biaya pembanungunan kantor kawedanan konon menghabiskan uang 12 ribu gulden. Rumah tersebut juga sempat menjadi Panti Wreda sebelum menjadi Rumpelsos.

“Bangunan eks kawedanan Demak itu dibangun dengan biaya sekitar 12 ribuan gulden, kalau sekarang sudah berapa ratus juta,” seloroh Roni.

Roni menambahkan, seiring berjalannya waktu, fungsi wedana mengalami perubahan-perubahan. Pada akhirnya, penghapusan sistem administrasi wedana di Demak dilakukan pada tahun 1960.

“Wedana dihapus itu sekitar 1967 tapi secara totalnya itu 1990-an. Di Demak sendiri tahun 1960-an masih ada wedana, tapi tidak seefektif zaman kolonial Belanda,” terangnya.

Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya

Kini, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya lewat Keputusan Bupati Demak Nomor 438/123 Tahun 2023 pada 17 Mei 2023.

Bangunan itu kini difungsikan sebagai rumah sementara bagi gelandangan, lansia, orang gila yang berkeliaran di wilayah Demak.

Lorong pendek yang menghubungkan bangunan cagar budaya dengan bangunan baru di Rumpelsos Demak. Foto diambil Selasa (16/1/2024).Rumpelsos Demak Foto: Mochamad Saifudin/detikJateng

Ada dua kamar yang difungsikan untuk menampung lansia perempuan. Sedangkan di bangunan baru, ada empat kamar berjeruji yang difungsikan untuk menampung orang gila.

Bangunan Rumpelsos yang ditetapkan sebagai cagar budaya berbentuk joglo. Bangunan itu dominan dengan cat warna hijau, putih, dan merah muda atau pink.

Bagian lantai di area aula dipasangi keramik berwarna putih. Namun berbeda dengan area aula, bagian dalam bangunan itu masih asli dengan tegel warna gelap.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

2 Meriam Bekas Perang Dunia II di Kupang yang Kini jadi Cagar Budaya



Kupang

Berwisata ke Kupang, traveler bisa melihat dua buah meriam peninggalan Perang Dunia II masih berdiri kokoh. Sejarahnya, meriam itu merupakan peninggalan dari tentara Kerajaan Inggris.

Dua meriam ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dua meriam ini juga dilindungi dengan cara dipagar.

“Bukti sejarah meriam ini ada dua unit. Meriam masih berdiri kokoh pada dua (tempat) yang kini berada di dalam pemukiman warga di Jalan Karya Kencana II, Kelurahan Kelapa Lima,” ujar penjaga Cagar Budaya Meriam PD II Rafael Nyale, Minggu (4/2/2024).


Kata Rafael, berdasarkan cerita para orang tua, dua unit meriam itu ditempatkan oleh tentara Inggris untuk melawan tentara Jepang pada 1942. Sebagai bukti, terdapat cap kepemilikan dari Kerajaan Inggris pada bagian bodi meriam dengan tahun pembuatan pada 1908.

Lokasi penempatan dua meriam bukanlah wilayah permukiman kala Perang Dunia II. Tempat itu menjadi lokasi bagi tentara Inggris untuk memantau pergerakan tentara Jepang yang akan muncul melalui jalur laut.

“Saat itu belum ada pemukiman penduduk sehingga pergerakan tentara Jepang dipantau dari ketinggian, dan jika musuh muncul maka akan langsung diserang dengan menggunakan dua meriam tersebut,” jelas Rafael.

Namun dua meriam itu akhirnya tidak digunakan oleh tentara Inggris karena jalur perang dialihkan ke Timor Raya dari Babau hingga Oesao. Dua meriam itu kemudian ditinggalkan di lokasi.

“Dua meriam ini tidak digunakan untuk perang kemudian ditinggalkan begitu saja hingga Indonesia merdeka. Dan sampai sekarang pemerintah menetapkan sebagai cagar budaya,” terang Rafael.

Dua meriam milik tentara Inggris itu kini diberi nama Cagar Budaya Meriam PD II. Lokasi meriam saat ini menjadi media belajar dan penelitian dari berbagai kalangan, baik pelajar, mahasiswa, hingga ahli sejarah.

“Kami membuka ruang bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah dari Meriam PD II, bukan sekedar besi tua, melainkan bukti sejarah jejak penjajah di wilayah Kota Kupang.” tegas Rafael.

Artikel ini telah tayang di detikbali

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Kelam Asrama TNI di Medan, Kini Jadi Cagar Budaya



Medan

Di Medan, ada sebuah bangunan Asrama TNI yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Di zaman dulu, asrama ini diliputi oleh sejarah kelam. Bagaimana kisahnya?

Bangunan cagar budaya yang dimaksud itu adalah Asrama TNI Glugur Hong yang berada di Jalan Karantina Ujung, Lingkungan XI, Kelurahan Sidorame Barat I, Kecamatan Medan Perjuangan, Medan.

Kawasan itu ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2023 silam. Penetapannya diteken oleh Wali Kota Medan Bobby Nasution berdasarkan surat keputusan Wali Kota Medan nomor: 433/29.K.


Surat tersebut ditandatangani Bobby pada 1 Februari 2023. Salah satu pertimbangan Bobby dalam menetapkan cagar budaya itu adalah surat rekomendasi dari Tim Cagar Budaya pada 12 Desember 2022.

Sejarah Kelam Asrama TNI Glugur Hong

Asrama TNI Gloegoer Hong dibangun pada tahun 1913. Kawasan tersebut diketahui menyimpan sejarah kelam saat masa pengembangan industri perkebunan di daerah Sumatera Timur, khususnya di Medan.

“Dulunya tempat karantina buruh kontrak sebelum bekerja di perkebunan di pesisir timur Sumatra,” kata Andi Winata Sitorus, Katim Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Kamis (22/2) lalu.

Asrama TNI Glugur Hong terbagi menjadi 2 kawasan, yakni asrama Glugur 1 dan asrama Glugur 2. Pada tanggal 12 April 1942-29 Mei 1942, asrama Glugur 1 merupakan bagian selatan pusat karantina buruh kontrak.

“Ketika berfungsi sebagai asrama penduduk sipil, isinya itu terdiri dari kalangan wanita dan anak-anak,” ucap Andi.

Pada tahun 1943-1945, Glugur I dan II menjadi tempat interniran untuk para tahanan perang atau Prisoners of War (POW). Kaum sipil yang tadinya bertempat di Glugur 1 kemudian dipindah ke kamp Poelaubrajan D.

“Jadi, masa itu kamp punya pimpinan dan pimpinan kamp Glugur I bernama Suster Bernardine,” sebutnya.

Sementara itu, Glugur II merupakan kamp untuk tahanan perang dari tanggal 26 Juni 1842 hingga Juni 1944. Selanjutnya, digunakan sebagai kamp bagi tahanan sipil pada tanggal 6 Juni 1944 hingga 17 Juni 1945.

Tahanan perang Glugur II berasal dari kamp Unie Kampong di Belawan yang terdiri dari barak keluarga, barak rumah sakit, dan bangunan luar dikelilingi tembok batu tinggi yang di atasnya diberi pecahan kaca.

“Setelah tawanan perang itu pergi, barak kuli yang ditinggalkan difungsikan sebagai kamp kaum wanita,” jelasnya.

Gedung Asrama Glugur Hong TNI berjarak kurang lebih 1 km ke arah timur jalan utama. Awalnya, bangunan tersebut dibangun pada 1913 untuk buruh kontrak AVROS di dekat jalan utama dan jalur kereta api menuju Belawan.

“Pada pertengahan Juli 1945, asrama Glugur Hong ini dikosongkan,” tuturnya.

Masih Ada Peninggalan Belanda di Asrama Glugur Hong

Menurut Fitri Sinaga, salah seorang warga di Asrama Glugur Hong, ada beberapa peninggalan yang masih bisa dilihat wisatawan di tempat itu.

“Ada peninggalan Belanda berupa tong air, rumah tinggi yang dulunya rumah sakit gila, dan kuburan di tanah kosong bagian belakang,” kata Fitri.

Menurut Fitri, terdapat beberapa perubahan di kawasan Glugur Hong TNI tetapi tidak meninggalkan keasliannya. Bangunan tidak sepenuhnya dipugar dan tong air di kawasan itu menjadi peninggalan asli dari zaman dahulu.

“Cucu-cucu penjajah kita dari Belanda datang ke sini dan melihat peninggalan kakeknya baru-baru ini,” ungkapnya.

Meski kawasan Asrama Glugur Hong TNI sudah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Medan. Namun, sebagian besar warga ternyata masih belum tahu jika kawasan tempat tinggal mereka telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

“Kalau bisa Pemkot melirik kemari atau dibuat plakat cagar budaya biar masyarakat tahu, minimal diberi arahan dari instansi terkait,” pinta Fitri.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

3 Museum-Cagar Budaya yang Dapat Dikunjungi saat Libur Lebaran



Magelang

Momen libur Idulfitri bisa traveler manfaatkan untuk berkunjung ke 3 museum dan cagar budaya berikut ini. Apa saja pilihannya?

Berbagai tempat wisata menjadi pilihan favorit untuk dikunjungi selama libur lebaran ini. Indonesia memiliki beberapa lokasi ikonik yang kerap menjadi destinasi favorit saat libur Lebaran tiba.

Berikut 3 rekomendasi museum dan cagar budaya yang dapat dikunjungi bersama teman dan keluarga di momen libur Idulfitri tahun ini:


1. Candi Borobudur

Candi Borobudur, sebuah ikon pariwisata Indonesia yang megah, menjadi tujuan utama wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Terletak di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, candi ini menawarkan pengalaman wisata edukatif dan rekreasi yang tak tertandingi, terutama selama libur Lebaran.

Selain menjadi latar belakang untuk menikmati keindahan arsitektur kuno, pengunjung juga dapat mengeksplorasi kawasan sekitar Borobudur yang indah.

Diapit oleh Gunung Merapi dan Merbabu di timur, serta Gunung Sindoro dan Sumbing di utara, serta Bukit Menoreh di selatan, Borobudur memiliki lokasi yang memukau secara geografis.

Pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Dunia pada tahun 1991 menegaskan pentingnya Candi Borobudur sebagai situs bersejarah dan budaya yang penting bagi umat manusia. Dengan memenuhi tiga kriteria Nilai Universal Luar Biasa (OUV), yaitu keunikan, keaslian, dan keberlanjutan.

2. Museum Batik Indonesia

Jika Anda berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah, pastikan untuk meluangkan waktu mengunjungi Museum Batik Indonesia yang menawarkan pengalaman yang memukau bagi pengunjung dengan memperkenalkan keindahan dan koleksi batik Indonesia yang kaya.

Sebagai destinasi wisata edukasi yang menarik, museum ini memamerkan pameran yang mengagumkan tentang kekayaan budaya batik Indonesia, menarik minat para pecinta seni dan budaya.

Sebagai pusat pelestarian batik yang terkemuka di Indonesia, Museum Batik Indonesia tidak hanya menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi wadah yang penting dalam melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat lokal maupun internasional.

Pameran di Museum Batik IndonesiaMuseum Batik Indonesia Foto: (dok. BLU-MCB)

Dengan suasana yang elegan dan inspiratif, museum ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung yang ingin merasakan keindahan dan makna yang terkandung dalam setiap motif batik yang dipamerkan.

Selama libur Lebaran, Museum Batik Indonesia akan tetap beroperasi reguler pada hari Selasa sampai Minggu dan tutup pada Hari Raya Idulfitri tanggal 10 dan 11 April 2024.

3. Museum Manusia Purba Sangiran

Berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran adalah sebuah pengalaman yang memikat, mengingat museum ini adalah penjaga warisan prasejarah yang tak ternilai dari situs arkeologi Sangiran, yang dianggap salah satu situs terpenting untuk penemuan fosil manusia purba.

Artefak yang dipamerkan di museum ini bukan hanya merupakan yang tertua di Indonesia, tetapi juga menjadi saksi bisu evolusi manusia dan kehidupan di zaman prasejarah.

Sebagai sebuah situs warisan dunia UNESCO di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, museum ini memungkinkan pengunjung untuk secara langsung menyaksikan replika Homo erectus Sangiran 17 (S-17), sebuah fosil Homo erectus unik yang dikenal sebagai satu-satunya fosil di Asia yang masih memiliki ‘wajah’ saat pertama kali ditemukan.

Museum SangiranMuseum Sangiran Foto: Display Homo erectus di Museum Manusia Purba Sangiran (Wahyu/detikTravel)

Para pengunjung dapat mengunjungi Klaster Krikilan sebagai titik awal, yang merangkum keseluruhan narasi museum dan memperkenalkan pengunjung kepada Homo erectus Sangiran, kemudian berlanjut ke Klaster ke Ngebung, Bukuran, Manyarejo, dan Dayu.

Setiap klaster menyajikan bagian dari puzzle besar evolusi manusia. Melalui fosil dan artefak yang dipamerkan, pengunjung diundang untuk memahami kisah-kisah tentang bagaimana nenek moyang kita beradaptasi, berkembang, dan berinteraksi dalam lingkungan mereka.

Selama libur lebaran, Museum Manusia Purba Sangiran akan tutup sementara pada tanggal 10 April 2024, dan dibuka kembali pada 11 April 2024.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Bondo Loemakso, Cagar Budaya di Solo yang Dijual Rp 15,5 Miliar



Solo

Bangunan peninggalan Paku Buwono X, Bondo Loemakso jadi sorotan. Cagar budaya itu dijual di marketplace seharga Rp 15,5 Miliar. Begini sejarah bangunan bersejarah itu:

Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni menjelaskan Bondo Loemakso berasal dari kata ‘Bondo’ yang berarti harta dan ‘Loemakso’ berasal dari kata memberdayakan.

Menurut Dani, Bondo Loemakso dulunya merupakan kantor pegadaian khusus sentono dan abdi dalem Keraton Solo. Bondo Loemakso sendiri dibentuk pada awal tahun 1900-an, pada saat Paku Buwono X menjadi Raja Keraton Solo.


“Sejarah Bondo Loemekso itu dulu dipakai untuk pegadaian, pegadaian khusus Sentono dan abdi dalem Keraton Kasunanan. Itu tahun sekitar 1900 awal. Itu untuk Bondo Loemakso ya, bukan bangunannya,” kata Doni, Rabu (5/6).

Pada awal tahun 1900, Bondo Loemakso sempat numpang di perkumpulan Habiproyo di daerah Timuran. Tak berselang lama, saat perkumpulan Societeit Habiproyo pindah gedung yang terletak di utara Pasar Singosaren, Kantor Bondo Loemakso juga ikut pindah.

“Habis itu perkumpulan bisa bangun gedung di Singosaren (utara Pasar Singosaren) Bondo Loemakso juga pindah di situ,” ujarnya.

Lalu pada tahun 1917, kantor Bondo Loemakso mendirikan kantornya sendiri di Kelurahan Kedung Lumbu, Pasar Kliwon atau di dekat Alun-alun Utara Keraton Solo.

Lebih lanjut, Dani mengatakan Bondo Loemakso mempunyai fungsi untuk mengatasi Sentono dan Abdi Dalem yang terjerat utang piutang dengan rentenir.

“Ya memang fungsi untuk pegadaian khusus Keraton saja, Sentono dan Abdi dalem. Era Paku Buwono X Bondo Loemakso Itu untuk mengatasi sentono dan abdi dalem tidak terjerat ke urusan utang piutang dengan rentenir. Karena waktu itu banyak terjadi pegawai Keraton itu terkena kasus pengadilan yang disebabkan kasus utang piutang yang dilaporkan oleh rentenir karena mereka tidak bisa bayar utang,” bebernya.

Menurut Dani, modal awal untuk mendirikan Bondo Loemakso digelontorkan oleh Paku Buwono X dari kantong pribadinya sebesar Rp 130 ribu.

“Modal awalnya Bondo Loemakso yang digelontorkan oleh PB X pertama kali sebesar Rp 130 ribu. Dulu pegawainya juga dari orang Keraton Solo” ucapnya.

Bondo Loemakso Adalah Bank Pribumi Pertama

Sementara itu, dosen prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS, Dr. Susanto, M.Hum mengatakan adanya Bondo Loemakso menjadikan kantor tersebut menjadi bank pribumi pertama.

Ia mengatakan keberadaan Bondo Loemakso itu sempat kalah besar dengan de Javaneshe yang sekarang menjadi Bank Indonesia.

“Iya betul dulu menjadi bank pribumi pertama khususnya untuk abdi dalem dan kerabat Keraton Solo. Namun, karena kalah besar dengan dengan lembaga keuangan perbankan yang dikelola sendiri. Mungkin ada lembaga lain misalnya kayak bank kerakyatan di depan Pasar Gede,” tuturnya.

Susanto menambahkan, Bondo Loemakso bisa disebut sebagai bank pribumi karena dipergunakan oleh abdi dalem dan sentono Keraton Solo.

“Karena dipergunakan peminjaman terutama pengadaan rumah bagi kerabat dan abdi dalem. Ya sementara itu digunakan kerabat Keraton dan abdi dalem. Kalau masyarakat besar menggunakan bank Jawa,” bebernya.

Namun menurut Susanto, Bondo Loemakso sudah tidak berfungsi sejak lama atau sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

“Sudah berakhir sebelum kemerdekaan atau era PB X atau PB XI, dulu juga pernah jadi radio kalau tidak salah kantornya, nggak bertahan lama karena kalah dengan radio yang lebih populer,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Aktivitas Seru dan Jam Buka


Jakarta

Kota Tua termasuk wisata favorit di Jakarta. Kawasan ini kental dengan nilai sejarah, terlihat dari arsitektur sejumlah bangunannya. Di sisi lain, gedung-gedung bergaya vintage itu terbilang estetik dan kerap jadi spot foto para wisatawan.

Berbagai aktivitas seru lainnya yang dapat dilakukan di Kota Tua, mulai dari mengunjungi museum, berkeliling dengan sepeda, hingga nongkrong di tempat bersejarah. Penasaran? Simak panduan berwisata ke Kota Tua Jakarta di bawah ini.

Aktivitas Seru di Kota Tua Jakarta

Berikut sejumlah spot dan aktivitas seru yang dapat kamu lakukan di Kota Tua Jakarta:


1. Belajar Sejarah di Museum

Kawasan Kota Tua dikelilingi oleh sejumlah museum yang memperkenalkan banyak koleksi bersejarah. Kalau tertarik berwisata edukasi, maka museum-museum di kawasan ini boleh banget dikunjungi. Berikut beberapa museum di area Kota Tua Jakarta:

  • Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)
Museum Sejarah Jakarta dikenal juga dengan nama Museum Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. (Tripa Ramadhan)

Dilansir situs Asosiasi Museum Indonesia (AMI), museum ini patut didatangi jika ingin mengetahui sejarah panjang Kota Jakarta sejak masa prasejarah, kolonial, hingga masa kini. Bangunan museumnya sendiri telah dibangun sedari 1707.

Jika ingin mengenal sejarah bank sentral di Tanah Air, maka dapat mengunjungi museum satu ini. Selain itu, traveler bisa mengetahui perkembangan ekonomi serta mata uang Indonesia dari masa ke masa di sini.

Di museum ini tersimpan berbagai koleksi kesenian wayang yang ada di Indonesia. Mulai wayang yang terbuat dari kayu, kulit, boneka, dan bahan lainnya. Kabarnya terdapat lebih dari 6.800 buah koleksi wayang di sini lho.

Museum BahariMuseum Bahari (Almadinah Putri Brilian/detikcom)

Museum ini menampilkan koleksi kebaharian dan kenelayanan seluruh bangsa Indonesia bisa dilihat di museum ini. Koleksi yang ada berupa berbagai perahu tradisional, miniatur kapal, perlengkapan pelayaran, hingga alat navigasi kapal. Terdapat juga koleksi biota laut sampai tokoh-tokoh maritim Nusantara.

Kalau mau tahu informasi dan melihat koleksi aktivitas perbankan tempo dulu dan perkembangannya, kamu bisa datang ke museum ini. Ditampilkan berbagai koleksi operasional bank, seperti peti uang, mesin hitung uang, surat berharga, hingga mata uang kuno.

2. Membuat Gerabah di Museum Keramik

Museum Seni Rupa dan Keramik JakartaMuseum Seni Rupa dan Keramik Jakarta (Weka Kanaka/detikcom)

Selain sejumlah museum sebelumnya, ada pula Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan Kota Tua. Sesuai namanya, museum ini menyimpan sejarah seni di Tanah Air hingga menampilkan berbagai koleksi keramik dan karya seni.

Menariknya, traveler dapat mengikuti pottery class di sana. Cukup mengeluarkan kocek Rp 50.000, kamu akan belajar membuat tembikar atau gerabah dengan bimbingan ahlinya. Nantinya, karya yang berhasil dibuat itu bisa traveler bawa pulang.

3. Nongkrong di Toko Merah

Ada kafe di Toko Merah Kota Tua JakartaToko Merah Kota Tua Jakarta (Weka Kanaka/detikcom)

Terdapat bangunan berbata merah di kawasan Kota Tua yang berusia hampir tiga abad, yaitu Toko Merah. Dilansir Historia, gedung ini dibangun pada 1730. Setelahnya bangunan ini berganti-ganti pemilik.

Pada 1998, Toko Merah ditetapkan sebagai cagar budaya. Gedung ini dimiliki oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sejak 2003. Usai sekian lama tidak difungsikan, Toko Merah kini menjadi kafe untuk nongkrong aesthetic bernuansa vintage bernama RODE Winkel.

RODE Winkel menawarkan aneka kopi dan menu makanan nusantara yang lezat. Kafe ini juga menyajikan berbagai pastry, camilan, dan minuman non kopi. Tempat nongkrong ini buka setiap hari dari jam 10.00-22.00 WIB pada Senin-Jumat dan 07.00-22.00 pada Sabtu-Minggu.

4. Berkeliling dengan Sepeda

Area Kota Tua Jakarta cukup luas, karena itu traveler dapat mengelilinginya dengan bersepeda. Pengunjung bisa menyewa sepeda ontel di sekitar kawasan tersebut dengan harga cukup terjangkau.

Kamu pun dapat berkeliling Kota Tua sesukamu tanpa lelah, bahkan ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi.

5. Hunting Foto

Objek wisata baru di Kota Tua JakartaKali Besar Kota Tua Jakarta (detikcom)

Berfoto merupakan aktivitas yang tidak boleh dilewatkan saat ke Kota Tua. Pasalnya, setiap sudut di kawasan ini bisa jadi spot foto Instagramable. Gedung-gedung kuno yang terawat memiliki vibes vintage yang estetik.

Jalan sedikit ke area Kali Besar Kota Tua terdapat bekas dermaga di masa lalu yang dominan berwarna putih jadi spot favorit berfoto pengunjung. Selain itu, bisa pergi ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang terkenal pada abad ke-5 untuk melihat kapal dan perahu-perahu bersandar. Atau ke Jembatan Kota Intan yang dulunya untuk lalu lintas perahu dan dibangun pada 1628.

6. Wisata Kuliner

Kalau lapar setelah seharian bermain di Kota Tua Jakarta, kamu dapat mengunjungi restoran, kafe, serta tenant makanan yang terdapat di sana.

Bisa mampir ke Cafe Batavia ikonik yang bangunannya masih berdiri kokoh sejak 1805. Menu yang disuguhkan otentik makanan nusantara seperti Rujak Kepiting, Nasi Goreng Roa, Putri Mandi, dan Ronde.

Terdapat Kedai Seni Djakarte yang gedungnya juga bergaya tempo dulu. Kamu dapat mencicipi aneka menu makanan berat, camilan, dan minuman. Kalau ingin mencoba berbagai pizza ala New York City, bisa datang ke NYPD Pizza.

Kawasan Kota Tua Jakarta terletak di Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat. Dari pusat kota Jakarta, tempat ini berjarak dekat dan bisa ditempuh dalam waktu 15-20 menit.

Lokasi Kota Tua mudah diakses dengan kendaraan pribadi dan umum seperti KRL, Transjakarta, atau transportasi online. Bisa turun di Stasiun Jakarta Kota bagi pengguna KRL. Keluar dari stasiun maka traveler sudah berada di sekitar kawasan Kota Tua.

Jika naik Transjakarta maka kamu dapat berhenti di Halte Kota yang berlokasi di sebelah Stasiun Jakarta Kota. Bus Transjakarta yang melayani rute melewati atau ke kawasan ini, antara lain:

  • Koridor 1: Blok M – Kota
  • Koridor 1A: Pantai Maju – Balai Kota
  • Koridor 3H: Stasiun Pesing – Kota
  • Koridor 12: Pluit – Tanjung Priok
  • Koridor 12A: Kota – Kali Adem
  • Koridor 12B: Pluit – Senen

Kalau menggunakan transportasi online, kamu dapat memesan langsung menuju kawasan Kota Tua Jakarta. Sementara bila menaiki kendaraan pribadi, traveler bisa mengandalkan online maps jika tidak tahu rutenya ya.

Tiket Masuk Kota Tua Jakarta

Untuk masuk ke kawasan Kota Tua tidak dikenakan biaya alias gratis. Kamu barulah akan dikenakan tiket jika mengunjungi sejumlah museum. Tapi tenang saja, tiket masuk museum rata-rata sangat terjangkau, sekitar Rp 5.000-15.000 saja.

Jam Buka Kota Tua Jakarta

Kawasan Kota Tua, tepatnya Taman Fatahillah dapat diakses setiap hari mulai jam 06.00-22.00 WIB. Waktu operasional sejumlah museum lebih singkat lagi. Berikut jam buka beberapa museum di Kota Tua Jakarta:

  • Museum Fatahillah: Selasa-Minggu (09.00-15.00 WIB)
  • Museum Bank Indonesia: Selasa-Minggu (08.00-15.00 WIB)
  • Museum Bank Mandiri: Selasa-Minggu (09.00-15.00 WIB)
  • Museum Seni Rupa dan Keramik: Selasa-Minggu (09.00-15.00 WIB)
  • Museum Bahari: Selasa-Minggu (08.00-15.00 WIB)
  • Museum Wayang: Selasa-Minggu (09.00-15.00 WIB).

Tips Berkunjung ke Kota Tua Jakarta

Kota Tua JakartaKota Tua Jakarta (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Kalau tertarik mengunjungi kawasan Kota Tua, ada sejumlah tips yang bisa kamu ikuti nih. Dilansir Jakarta Tourism, berikut tips berkunjung ke Kota Tua Jakarta:

  • Pastikan kondisi badan fit
  • Tentukan tujuan wisata yang ingin dikunjungi sebelum berangkat
  • Kenakan pakaian yang nyaman
  • Datang di waktu pagi agar belum terlalu ramai
  • Tidak datang di waktu sore karena sejumlah museum sudah tutup
  • Gunakan sunblock karena cuaca panas menyengat di siang hari
  • Bawa payung dan alas duduk
  • Tidak buang sampah sembarangan.

Nah, itu tadi panduan lengkap berwisata ke Kota Tua Jakarta. Jadi, apakah kamu berminat mengunjungi kawasan wisata ini?

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

Saksi Bisu Banjir Besar di Kampung Halaman Jokowi Tahun 1966



Solo

Solo, kampung halaman mantan presiden Jokowi ternyata pernah dilanda banjir besar pada tahun 1966. Saksi bisu peristiwa itu ada di sebuah bangunan gereja.

Berdiri sejak 1832, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Penabur Solo menjadi saksi bisu terjadinya banjir besar di Kota Solo 1966.

Bangunan yang masih berdiri kokoh itu baru saja ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.


Sekretaris Panitia Pembangunan Perbaikan Atap Gereja, Neftali Saekoko, mengatakan GPIB dulunya dibangun era Belanda. Di mana saat itu, lantaran tentara Belanda yang biasanya beribadah di Benteng Vastenburg.

“Kenapa gereja ini dibangun, ketika itu tentara Belanda yang sebelumnya gereja di dalam Benteng Vastenburg merasa sudah aman dengan kondisi sekitar, sehingga buatlah gereja ini,” katanya ditemui awak media di GPIB, Jalan Jendral Sudirman, Solo, Jumat (6/12).

Dirinya menyebut, dulunya GPIB mempunyai nama De Protestansche Kerk in Nederlandsch Indie atau Gereja Protestan di Indonesia. Gereja tersebut dulunya hanya diperuntukkan bagi tentara Belanda dan keluarga. Namun seiring berjalannya waktu, GPIB dibuka untuk masyarakat umum.

“Untuk yang ditujukan di sini adalah tentara Belanda kolonial dan keluarga yang bertempat tinggal di Benteng Vastenburg, mereka dipersiapkan bergereja di sini. Tahun berjalan, masyarakat sekitar ikut bergereja di sini,” jelasnya.

Menurutnya, selain jemaat GPIB, jemaat yang di Gereja Purbayan yang merupakan Gereja Katolik menggunakan tempat di GPIB. Ia menyebut, Gereja Purbayan baru berdiri sekira tahun 1910

“Jemaat dari Gereja Purbayan juga pernah beribadah di sini, mereka pinjam gereja untuk ibadah. Kenapa dibangun, karena tentara Belanda sudah merasa aman di luar. Maka dibuat gereja ini untuk beribadah,” bebernya.

Ia mengatakan, GPIB mengalami perubahan bentuk karena terkena banjir besar pada 1966 di Kota Solo. Sehingga merusak bagian besar bagian yang ada di depan.

“Dulu tidak seperti ini, kenapa ini berubah karena terjadi banjir besar pada tahun 1966 di Kota Solo, itu yang merusakkan besar bagian depan gereja ini,” ungkapnya.

Bahkan, kata Neftali, kursi-kursi besar yang ada di gereja tersebut ikut hanyut hingga ke Pasar Gede. Sedangkan jarak gereja dengan Pasar Gede 300 meter.

“Bahkan kursi besar hanyut sampai tugu jam pasar Gede. Sehingga yang depan Gereja tidak asli lagi, yang asli hanya bagian belakang serta ubinnya masih asli,” bebernya.

“Dari mimbar ke belakang itu masih asli, restorasi sudah kita lakukan 1902 dan 1904. Terakhir 1978 yang dilakukan sendiri,” lanjutnya.

Dirinya mengaku tidak tahu apakah ada barang yang hanyut saat banjir besar tahun 1966 itu.

“Kalau itu belum tahu ada yang terbawa atau tidak. Yang jelas kursi itu hanyut sampai tugu jam Pasar Gede,” terangnya.

Selain itu yang masih menjadi saksi banjir besar di Kota Solo yakni lonceng di GPIB. Menurutnya, lonceng tersebut sebelumnya berada di depan Gereja.

“Lonceng itu menurut sejarah dibuat dua unit. Satu ada di sini dan satu ada di Jakarta atau di mana. Sejak awal berdiri, dulu berada di samping, tapi dirubah lonceng berada di menara gereja,” ucapnya.

“Lonceng itu dibunyikan setiap mau ibadah, sebagai bentuk panggilan untuk beribadah, jam 8 pagi setiap hari Minggu,” lanjutnya.

Menjadi gereja tertua di Solo, ia mengaku jemaat yang bergabung kebanyakan juga sudah berusia senja alias sudah sepuh-sepuh.

“Jemaat dari mana saja dipersilakan, tapi kalau yang sudah di sini 125 hingga 150 kepala keluarga. Karena gereja tua, jemaat juga sudah sepuh-sepuh, biasanya satu kepala keluarga satu orang, misal tinggal bapaknya saja, tinggal ibunya saja,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cagar Budaya di Bantul Kondisinya Memprihatinkan, Terancam Proyek Jalan Tol



Bantul

Kondisi bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu yang berstatus cagar budaya sangat memprihatinkan. Bangunan itu tampak tak terurus dan terkesan angker.

Dari pantauan di lokasi, nampak bangunan dengan atap limasan di pinggir jalur kereta api, Gubug, Argosari, Sedayu, Bantul itu dindingnya penuh dengan coretan dan tampak sangat tidak terurus.

Bahkan, bangunan tersebut tertutup tingginya tumbuhan dan semak belukar. Oleh sebab itu, bangunan dengan arsitektur Eropa ini malah terkesan angker dan sangat sepi.


Pecinta Cagar Budaya Jogja, Hanif Kurniawan, mengatakan bahwa kondisi bangunan yang dulunya Rumah Dinas Stasiun Sedayu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 2018. Namun, saat ini kondisinya memang memprihatinkan dan terkesan tidak terawat.

“Dan anehnya lagi di sekitar situ sudah ada patok-patok tol. Nah, itu mau dikemanakan, apakah kemudian perhatian dari pemerintah setempat hanya menetapkan tanpa ada tindak lanjut apa mau dirawat,” katanya di Bantul, Senin (12/5).

Pecinta Cagar Budaya Jogja pun khawatir bangunan itu akan terdampak proyek jalan tol Jogja-Solo.

‘Nah, khawatirnya kita lagi, ketika terjadi pematokan tol, ini besok jadi tumbal. Karena secara riil cagar budaya juga bisa jadi tumbal, nah kalau semuanya diam terus gimana, apakah kita akan kehilangan sejarah kita yang dihilangkan menjadi sejarah tol,” lanjut Hanif.

Selain itu, Hanif menyebut jika tidak ada pelang penanda bahwa bangunan tersebut merupakan cagar budaya. Padahal, seharusnya setelah penetapan harus ada plang di bangunan cagar budaya.

“Jadi plang di bangunan cagar budaya itu seharusnya setelah ditetapkan ada. Minimal, selemah-lemahnya iman ada plang cagar budaya dan tulisan tidak boleh dilakukan perusakan dan sebagainya,” ujarnya.

Dinas Kebudayaan Bantul Buka Suara

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan Bantul, Elfi Wachid Nur Rachman menjelaskan, bahwa bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu memang berstatus cagar budaya. Semua itu mengacu keputusan Bupati Bantul nomor 601 tahun 2018 tentang rumah dinas stasiun Sedayu sebagai bangunan cagar budaya.

“Jadi Rumah Dinas Stasiun Sedayu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Bupati Bantul sejak tanggal 31 Desember 2018,” ucapnya.

Bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu menghadap ke arah barat dan atap menggunakan model limasan. Rumah dinas memiliki dua bangunan yang terpisah dan dihubungkan dengan doorloop di sisi timur.

Suasana bangunan rumah dinas stasiun Sedayu yang merupakan cagar budaya di Gubug, Argosari, Sedayu, Bantul, Senin (12/5/2025).Suasana bangunan rumah dinas stasiun Sedayu yang memprihatinkan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Bangunan bagian utara menghadap ke arah barat, arsitektur bergaya Indis. Ciri khas dapat dilihat pada atap bangunan, dinding bangunan dilapisi batu kerikil tempel dan doorloop.

Denah berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 10,1 m x 13,8 m. Denah bangunan doorloop berbentuk persegi panjang dengan ukuran 13,1 m x 2,3 m dan atap bangunan doorloop model kampung.

Sedangkan terkait bangunan tersebut apakah terdampak pembangunan tol Solo-Jogja, Elfi menyatakan tidak. Pasalnya, bangunan tersebut berada di daerah penyangga.

“Posisi aman tidak kena tol karena berada di zona penyangga,” katanya.

Semak belukar dan rumput yang tinggi menutupi bangunan rumah dinas stasiun Sedayu.Semak belukar dan rumput yang tinggi menutupi bangunan rumah dinas stasiun Sedayu. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Menyoal belum ada pelang penanda bangunan tersebut merupakan cagar budaya, Elfi mengaku karena pihaknya memprioritaskan pemasangan plang di bangunan cagar budaya yang rentan untuk diubah.

“Belum semuanya kami kasih plang, karena pengajuan anggaran untuk papanisasi disetujuinya juga terbatas. Sementara kami prioritaskan papanisasi di cagar budaya milik pribadi yang sangat rentan untuk dirubah,” ujarnya.

“Dari 213 cagar budaya yang telah ditetapkan, baru sekitar 40 objek yang telah dipasang papanisasi,” lanjut Elfi.

Sedangkan Panewu (Camat) Sedayu, Anton Yulianto, menjelaskan bahwa ada dua Kalurahan yang terdampak pembangunan tol Solo-Jogja. Adapun kedua Kalurahan itu adalah Argomulyo dan Argosari.

“Di Argomulyo itu yang terkena pembangunan tol Pedukuhan Samben, Srontakan dan Panggang. Kalau di Argosari di Pedukuhan Gubug dan Jurug, tapi dari semua itu tidak ada bangunan cagar budaya yang terkena pembangunan tol,” ucapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com