Tag Archives: cangkul

4 Cara Ampuh Membasmi Gulma dari Paving Block


Jakarta

Menyingkirkan gulma dari paving halaman rumah menjadi pekerjaan yang tidak ada habisnya. Namun tidak perlu khawatir karena ada cara untuk membasminya.

Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di sekitar tanaman lain, biasanya gulma tumbuh secara liar sehingga sulit untuk dikendalikan. Gulma taman yang ditakuti akan mencuri ruang akar, cahaya, air, dan nutrisi dari tanaman lain. Gulma juga menjadi tempat berkembang biaknya hama, penyakit, dan bakteri, sehingga bahaya apabila tidak disingkirkan.

Melansir Homes & Gardens, berikut beberapa cara menghilangkan gulma dari paving block dengan mudah dan efektif.


Gunakan Cangkul

Membuang gulma dari paving block dengan cangkul cukup efektif dan ramah lingkungan. Sebelum mencangkul, pastikan permukaan tanah cukup kering sehingga gulma tercabut hingga akarnya.

Gulma yang berakar dalam memerlukan pencabutan akar tunggangnya. Hal ini membuat pekerjaan lebih sulit saat dilakukan di celah atau retakan paving block.

Tuangkan Air Panas ke Gulma

Bukan hanya gulma yang perlu disingkirkan dari paving block, tetapi juga lumut dan alga yang menumpuk dapat membuat teras atau dek kamu licin serta berlendir. Kamu bisa menggunakan air panas.

Air mendidih akan membunuh serangga, cukup tuangkan air panas langsung ke gulma yang membandel. Pastikan untuk mengenakan pelindung untuk mencegah luka bakar.

Bakar Gulma di Antara Paving Block

Penyembur api bisa menjadi alat pembasmi gulma yang tersedia secara luas yang dapat memancarkan api langsung ke gulma yang tidak diinginkan. Hal ini akan mengatasi masalah gulma yang tumbuh di celah-celah paving block.

Namun, saat kamu menggunakan cara ini, panas dari udara dapat merusak tanaman di sekitarnya. Sehingga hal ini tidak dapat digunakan untuk rumput di halaman rumah.

Gunakan Cuka untuk Membunuh Gulma

Cuka bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk membunuh gulma dari paving block. Namun meskipun cara ini efektif, metode ini menyingkirkan gulma bersifat sementara.

Sebaiknya hindari cuka dan garam di dekat hamparan bunga karena asamnya dapat mengubah kadar PH tanah dan dapat membunuh hewan di sekitarnya. Namun, menggunakannya di antara celah-celah paving bisa menjadi ide yang mudah dilakukan.

(abr/abr)



Sumber : www.detik.com

Mudah! 4 Bahan di Rumah Ini Bisa Bersihkan Karat


Jakarta

Peralatan yang terbuat dari logam bisa berkarat kalau terkena air terlalu lama. Kalau menemukan benda berkarat jangan langsung dibuang ya karena masih bisa dibersihkan kok.

Karat muncul ketika permukaan logam terkena atau tergenang air selama berhari-hari. Akibatnya, proses oksidasi dapat terjadi dan membuat perkakas berkarat.

Benda-benda yang bisa berkarat di rumah seperti sekrup, cangkul, atau pisau. Selain nggak enak dilihat, karat juga bikin peralatan di rumah sulit digunakan.


Misalnya gunting berkarat menjadi tumpul. Namun, bukan berarti benda itu rusak dan tak bisa dipakai lagi ya. Penghuni bisa coba menggunakan bahan-bahan yang biasa ditemukan di rumah, lho.

4 Cara Bersihkan Karat Pakai Bahan Rumahan

Dilansir dari Apartment Therapy, inilah cara membersihkan karat pada peralatan logam menggunakan bahan yang ada di rumah.

1. Soda Kue

Soda kue cocok untuk karat yang tidak terlalu parah, seperti pada loyang dan logam tipis. Menggunakan soda kue adalah cara mudah dan murah menghilangkan karat pada logam.

Caranya dengan membilas benda logam dan dikibas kering. Kemudian, taburkan soda kue pada benda tersebut. Bubuk soda kue akan menempel pada bagian yang lembap.

Pastikan semua permukaan berkarat tertutup dengan soda kue. Biarkan selama sejam, lalu gosok permukaan dengan sikat. Terakhir, bilas dan keringkan barang itu.

2. Cuka

Rendaman cuka bekerja paling baik pada peralatan yang kondisi karatnya parah. Namun, ingat jangan gunakan metode ini pada apa pun yang permukaannya dicat karena cuka dapat merusak lapisannya.

Rendam barang berkarat dengan cuka putih selama semalam. Lalu, bersihkan lapisan karat menggunakan sikat. Jika barangnya tidak dapat direndam, rendam kain lap dalam cuka putih dan bungkus area yang berkarat.

3. Kentang dan Sabun Cuci Piring

Kombinasi kentang dan sabun cuci piring bagus untuk permukaan yang hanya memiliki sedikit karat. Metode ini merupakan cara yang mudah dan relatif cepat untuk menghilangkan karat.

Potong kentang menjadi dua bagian dan lapisi bagian ujung yang terbuka dengan sabun cuci piring. Gunakan kentang seperti sabut gosok. Karat akan memudar saat bereaksi dengan sabun dan kentang.

4. Lemon dan Garam

Metode penghilangan karat dengan lemon dan garam bekerja paling baik pada noda karat yang tidak terlalu membandel. Metode ini cocok untuk pisau dapur yang memiliki sedikit karat.

Taburkan garam secukupnya pada area yang berkarat. Potong lemon menjadi dua, lalu peras airnya di atas garam.

Diamkan campuran tersebut selama sekitar 30 menit, lalu gosok karatnya. Jika karat masih ada, ulangi prosesnya dan biarkan garam dan airnya meresap selama satu atau dua jam lagi hingga karat benar-benar hilang. Bilas, lalu keringkan.

Itulah beberapa cara membersihkan karat menggunakan bahan rumahan. Semoga membantu!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(dhw/abr)



Sumber : www.detik.com

Kembali ke Zaman Batu di Situs Megalit Meghibu



Pagar Alam

Kota Pagar Alam di Sumatera Selatan punya situs-situs megalit bersejarah. Traveler akan diajak kembali ke zaman batu di Situs Megalit Batu Beghibu.

Situs Megalit Batu Beghibu atau Batu Beribu (dengan ibu) itu berada di desa Tegur Wangi, Kelurahan Pagar Wangi Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, Sumsel.

Lokasi tepatnya berada di tengah persawahan milik warga setempat. Situs Megalit Batu Beghibu ini menjadi salah satu dari 67 situs yang didaftarkan ke UNESCO oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pagar Alam.


Dikutip dari situs Pemkot Pagar Alam, seorang peneliti bernama Van der Hoop pernah meneliti situs-situs bersejarah di Pagar Alam. Berdasarkan studi peneliti berkebangsaan Belanda ini, ditemukan 22 kawasan di Pagar Alam yang diyakini sudah ada dari zaman prasejarah atau zaman batu.

Terdapat 4 Megalit berdekatan seperti orang yang sedang menggendong bakul padi. Tidak jauh dari megalit tersebut, ada tiga rumah batu atau rumah dalam tanah yang semuanya terbuat dari batu.

Pemilik tanah, Suriana (70), mengatakan situs megalit tersebut terletak di bawah pohon besar dan dipenuhi rerumputan sebelum dijadikan tempat wisata. Saat ini, area itu sudah diberi pagar agar tidak rusak.

“Tanah ini tanah warisan dari nenek. Saya kurang tahu kapan ini dijadikan wisata tapi saat anak saya masih kecil (sekitar tahun 80-an) itu sudah ada turis-turis yang ke sini dan para peneliti,” katanya saat diwawancarai, Minggu (17/11/2024).

Suriana menjelaskan keempat megalit tersebut dulunya memiliki bentuk yang sangat jelas dan kecil. Saat ini ukurannya sedikit membesar. Suriana memperkirakan hal itu disebabkan jarak antara keempat megalit. Dulunya jarak itu berjauhan, kini sudah sempit.

“Kayaknya itu (sambil menunjuk Megalit Batu Beghibu) seperti orang memikul bakul padi dari panen. Dulu kelihatan tangkai padinya dipegang dan diletakkan di bakul. Kalau sekarang sudah tidak jelas lagi. Itu yang bentuk wajah asli tidak di rubah. Perkiraan itu pada zaman Majapahit tapi saya kurang tahu pastinya,” ujarnya.

Semenjak situs Megalit Batu Beghibu menjadi tempat wisata, pengunjung tidak dapat memegang megalitnya sebab diberi kandang. Saat itu pernah salah satu megalitnya terjungkit ke bawah dan diletakkan ke tempat semula.

“Iya di sini gratis tidak di pungut biaya, biasanya hari weekend banyak orang yang berwisata ke sini. Kalau penyebutannya itu Batu Beghibu tapi ada yang bilang ada Batu Beribu. Ada juga Batu Beranak tapi sering disebut Batu Beghibu,” tuturnya.

Selain situs Megalit Batu Beghibu, berjarak sekitar 100 meter terdapat situs Rumah Batu. Dimana menurut cerita rumah batu tersebut dijadikan tempat tinggal masyarakat zaman dulu.

“Iya, kalau rumah batu ini ketahuannya sekitar tahun 80-an, soalnya setiap membajak sawah air di atasnya selalu kering. Setelah dibongkar di dalamnya terdapat lukisan seperti orang yang memegang cangkul dan lukisan lainnya, tapi saat ini sudah tidak ada karena lumut,” ujarnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com