Tag Archives: ciamis

Liburan Murah Meriah di Kaki Gunung Sawal



Ciamis

Menghabiskan libur panjang long weekend di bulan Mei 2025, traveler bisa mencoba wisata curug Jami yang murah meriah di kaki gunung Sawal, Ciamis.

Curug Jami menjadi salah satu tempat wisata yang cukup ramai dikunjungi di Kabupaten Ciamis. Destinasi ini menawarkan wisata alam yang murah meriah.

Curug Jami berada di Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Jarak dari pusat perkotaan Ciamis sekitar 27 kilometer atau 40 menit perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.


Meski berada di Ciamis, namun wisata alam ini lebih dekat ke Kota Tasikmalaya yang jaraknya hanya sekitar 20-30 menit saja. Akses jalan hot mix yang mulus membuat tempat destinasi ini mudah dikunjungi.

Curug Jami menawarkan panorama alam Gunung Sawal yang hijau. Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter tersebut berasal dari mata air gunung. Curug ini menjadi tempat favorit wisatawan untuk berfoto ria.

Suasana di destinasi wisata Curug Jami, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis di hari terakhir long weekend, Selasa (13/5/2025).Suasana di destinasi wisata Curug Jami Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Di sekitar lokasi Curug terhadap fasilitas yang tersedia seperti tempat parkir sepeda motor, mobil, Musala, toilet, gazebo (sewa Rp 5 ribu) untuk makan dan bersantai serta sejumlah warung makanan.

Tidak ada tiket masuk alias gratis untuk menikmati keindahan air terjun ini, pengunjung hanya dikenakan tarif parkir Rp 3 ribu.

Pengunjung yang ingin merasakan sensasi berenang di alam liar, bisa juga mengunjungi Sungai Cibaruyan yang lokasinya tak jauh dari Curug Jami. Pengunjung cukup berjalan kaki ke bawah sekitar 5-10 menit. Tiket menuju area Sungai Cibaruyan tersebut hanya Rp 2 ribu per orang.

Di tempat tersebut pengunjung bisa merasakan dingin dan segarnya mata air pegunungan asli. Arus airnya yang cukup deras serta jernih membuat aktivitas berenang di alam bersama keluarga menjadi lebih seru dan asyik.

Pengunjung juga dimanjakan dengan sejumlah fasilitas yang disediakan oleh warga setempat. Mulai dari saung-saung untuk bersantai, kamar bilas, warung jajanan, hingga tempat duduk untuk nongkrong.

Dari pantauan di lokasi, terlihat ratusan pengunjung dari Ciamis dan Tasikmalaya memadati destinasi Curug Jami dan Sungai Cibaruyan. Mereka mengisi liburan dengan menikmati suasana alam sambil makan bersama. Beberapa di antaranya bermain air dan berenang di Sungai.

Suasana di destinasi wisata Curug Jami, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis di hari terakhir long weekend, Selasa (13/5/2025).Suasana di destinasi wisata Curug Jami Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

“Tahu curug Jami dari medsos, lagi cari-cari tempat wisata di Ciamis untuk ngisi libur panjang Minggu ini. Ketemu Curug jami, penasaran di medsos tempatnya sepertinya bagus jadi didatangi bersama anak dan keluarga,” ujar Ratna, pengunjung asal Linggasari, Ciamis.

Menurutnya, destinasi Wisata Alam Curug Jami ini sangat cocok untuk healing. Lokasinya di bawah Gunung Sawal dengan pemandangan hijau membuat pikiran menjadi tenang, di tambah dengan suasana sejuk dan teduh.

“Lokasinya pas untuk healing, tidak jauh dari kota juga murah apalagi aksesnya mudah, murah dan jalannya mulus,” katanya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Situs di Ciamis Ini Sakral, Banyak yang Datang untuk Ziarah- Minta Naik Jabatan



Ciamis

kabupaten Ciamis punya banyak gelar ternyata. Selain dipanggil dengan nama Kota Galendo, Kabupaten Ciamis juga dijuluki sebagai Kota Seribu Situs. Alasannya, tercatat ada 1.200 situs dalam inventarisir Disbudpora Ciamis. Banyak banget, ya?

Salah satunya adalah Situs Dalem Dungkut Ranggayunan di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis. Di dalam situs terdapat makam Dalem Dungkut yang merupakan utusan pertama dari Kesultanan Cirebon ke wilayah Galuh Kawali untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam Dungkut tercatat sebagai pemimpin Galuh Kawali. Pada masa itu Kerajaan Galuh pindah ke Bogor yang menjadi Kerajaan Padjajaran. Konon, Kerajaan Galuh Kawali kemudian diteruskan oleh Prabu Jayadiningrat.


Putri dari Prabu Jayadiningrat kemudian dinikahkan dengan Dalem Dungkut. Setelah masa kepemimpinan Prabu Jayadiningrat berakhir, kemudian Dalem Dungkut pun memimpin Galuh Kawali. Ketika wafat, Dalem Dungkut pun dimakamkan di situs saat ini di pinggir Sungai Cimuntur.

Situs Dalem Dungkut Ranggayunan di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis.Situs Dalem Dungkut Ranggayunan di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Sebagian masyarakat menganggap Situs Dalem Dungkut Ranggayunan termasuk tempat sakral. Bahkan konon tempat tersebut memiliki aura magis hingga mitos di dalamnya. Situs tersebut juga kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Pegiat Budaya Kawali Atus Gusmara yang juga warga Winduraja membenarkan hal tersebut. Hingga saat ini Situs Dalem Dungkut Ranggayunan kerap dikunjungi peziarah. Mulai dari wilayah Jawa Barat, hingga luar pulau seperti Sumatera hingga Kalimantan.

“Sejak dulu sampai sekarang masih sering didatangi oleh peziarah,” ujar Atus Gusmara, Rabu (29/11/2023).

Atus menyebut kebanyakan peziarah yang datang ke sini untuk meminta kenaikan pangkat atau jabatan. Namun menurutnya, bukan berarti permintaan itu ditujukan ke keramat melainkan hanya tempat saja. Meminta tetap kepada sang pencipta dengan tawasul.

“Konon untuk kepangkatan. Datang dari mana-mana. Dulu beberapa tahun lalu Bupati Ciamis sebelumnya juga sering ke sini. Intinya menghormati karuhun (orang terdahulu), ini hanya syareat saja,” ungkapnya.

Atus menjelaskan tidak ada malam khusus atau ritual khusus ketika berziarah ke Situs Dalem Dungkut Ranggayunan. Warga yang datang biasa bertawasul di lokasi makam setelah itu pulang.

Di lokasi situs juga terdapat sebuah batu yang menyerupai seperti kursi. Warga menyebutnya batu korsi yang konon menjadi tempat penunggu situs keramat tersebut, dulu pernah dipakai untuk menyimpan sesaji. Ada juga warga yang pernah melihat yang menduduki batu itu adalah sosok harimau.

“Di sini juga tidak boleh mengambil ranting pohon atau yang ada di dalamnya apalagi untuk kayu bakar. Mitosnya yang tidak percaya bakal mendapat malapetaka sakit sampai meninggal,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di detikJabar

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Isinya 8 Rumah Saja, Tidak Lebih



Ciamis

Di Ciamis, ada sebuah kampung terpencil yang unik. Isi kampung itu hanya 8 rumah saja, tidak lebih. Kenapa?

Kampung Rumah 8, begitu warga mengenalnya. Kampung unik itu berada di desa Bunter, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis.

Lokasi kampung ini sangat terpencil, tepatnya di tengah hutan. Meski akses jalannya sangat sulit, warga Kampung Rumah 8 sudah berada puluhan tahun dan tidak mau pindah.


Sejarah Kampung Rumah 8

Ketua RT setempat, Eli Yuliana menjelaskan, Kampung Rumah 8 ini awalnya bernama blok Cidahu, Dusun Cibangban. Kampung ini hanyalah kampung biasa, bukan kampung budaya seperti Kampung Kuta atau Kampung Naga.

Warga yang tinggal saat ini, merupakan pewaris dari orang tuanya sejak puluhan tahun lalu. Ceritanya, orang tua zaman dulu membuat rumah yang lokasinya dekat dengan ladang, sawah dan perkebunan supaya lebih mudah menggarapnya.

Mereka pun memutuskan untuk membuat sebuah perkampungan. Awalnya rumah itu pisah-pisah, tapi pada akhirnya memutuskan membuat komplek perkampungan yang isinya ada 8 rumah.

“Memang sejak dulu tidak bertambah. Menurut cerita ada sejak masa kolonial. Sebetulnya mau ditambah juga tidak apa-apa, tapi tetap bertahan jumlahnya sampai sekarang,” jelasnya.

Naik Daun di Kalangan Offroader

Seiring berjalannya waktu, kampung ini banyak dikunjungi offroader dari berbagai daerah. Rupanya, di wilayah desa Bunter, terdapat track off-road di kawasan hutan jati yang jadi tujuan para offroader, baik lokal maupun luar daerah.

Lokasi Kampung Rumah 8 ini ternyata berada di tengah jalur off-road tersebut. Sehingga para offroader kerap memilih kampung itu menjadi rest area. Mereka beristirahat, makan, salat dan menjalani aktivitas lainnya di kampung tersebut.

Nama Kampung Rumah 8 itu juga dicetuskan oleh offroader yang kerap singgah di kampung tersebut sekitar 5 tahun yang lalu.

“Jadi kampung ini sering disinggahi oleh para offroader, rest areanya, makan siang di sini. Di Desa Bunter kan ada rute off road. Kemudian offroader itu memberi nama Kampung Rumah 8. Sehingga di kalangan offroader nama kampung ini sudah cukup terkenal. Mereka juga membantu untuk membuat musala,” ujar Eli.

Saat ini, ada 9 kepala keluarga dengan 28 jiwa yang menghuni Kampung Rumah 8 itu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ada sebuah warung yang menyediakan dagangan yang cukup komplet, terutama sembako.

“Warga di sini hampir semuanya petani, beternak atau perikanan. Penghuninya ada yang usianya sudah 90 tahun paling tua. Warga yang merantau ada, tapi anak-anaknya seperti ke Jakarta dan Bekasi,” ucapnya.

Eli menyebut meski jauh dari perkampungan lainnya dan terpencil, tapi warga di Kampung Rumah 8 tidak ada yang mau pindah. Mereka sudah merasa nyaman dan tidak ingin jauh dengan lahan yang sudah menjadi penghidupan mereka selama ini.

Cara Menuju ke Kampung Rumah 8

Setelah sampai kawasan hutan jati di desa Bunter, perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor dengan ban khusus seperti motor trail.

Selain melewati hutan, akses jalannya masih tanah dan bebatuan. Ditambah lagi dengan jalannya yang kecil dan juga terjal naik turun, membuat perjalanan menjadi lebih menantang. Perjalanan menggunakan motor tersebut membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis.Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Sesampainya di Kampung Rumah 8, ternyata memang benar, cuma ada 8 rumah dalam satu kompleks di kampung itu. Ditambah ada sebuah musala kecil yang baru beberapa waktu lalu dibangun.

Kondisi rumahnya tidak jauh berbeda seperti rumah pada umumnya. Ada yang terbuat dari tembok, ada juga yang semi permanen terbuka dari kayu. Suasana kampung tersebut sangat nyaman dan adem, jauh dari hiruk pikuk atau pun suara kendaraan.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kampung Terpencil di Ciamis Punya Pantangan: Jangan Ngomong Sembarangan!



Ciamis

Ada sebuah kampung terpencil yang unik di Ciamis. Kampung itu hanya terdiri dari 8 rumah dan lokasinya di tengah hutan. Kampung itu juga punya pantangan.

Pantangannya adalah dilarang ngomong sembarangan atau dalam bahasa Sundanya, dilarang sompral alias mengucapkan hal-hal yang negatif dan menyinggung orang.

Jika melanggar pantangan tersebut, maka pengunjung itu bisa-bisa tidak akan pulang. Mereka tiba-tiba saja akan kesasar di tengah hutan dan tidak dapat menemukan jalan keluar.


Ya, mitos tersebut dipercayai oleh warga Kampung Rumah 8, sebuah kampung terpencil nan unik di Ciamis. Pengunjung yang datang atau melintas di kawasan hutan di Kampung Rumah 8 ini harus bersikap baik.

Jangan sesekali menyampaikan ucapan atau hal-hal yang tidak sopan, sehingga dapat menyinggung pihak yang tidak ingin disinggung.

Beberapa pemburu hewan atau pun pengunjung yang melakukan aktivitas off-road di hutan sekitar Kampung Rumah 8 mengaku pernah mengalami hal itu.

Namun beruntung, mereka berhasil menghubungi warga yang ada di Kampung Rumah 8 dan langsung diantar ke luar dari hutan jati yang mengelilingi kampung tersebut.

“Jadi memang di sini aura mistisnya masih ada. Orang luar yang datang ke sini sering nyasab (kesasar). Itu mungkin bicara tidak sopan. Seiring terjadi seperti itu,” ujar Eli Yuliana, Ketua RT di Kampung Rumah 8, Sabtu (10/2/2024).

Kejadian pengunjung kesasar di tengah hutan jati itu tidak tergantung pada waktu. Bisa terjadi pada siang hari atau pun malam hari.

Eli pun mewanti-wanti bila memasuki kawasan hutan di kampungnya untuk senantiasa bersikap sopan dan berdoa terlebih dahulu.

“Jadi niatnya harus baik-baik, kalau ada pikiran negatif itu kemungkinan akan sasab (tersasar),” ucapnya.

Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis.Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Menurut cerita Eli, beberapa waktu lalu ada pemburu yang malam-malam kesasar di wilayahnya. Kemudian ada juga ada orang yang sedang trail adventure di siang hari tidak dapat menemukan jalan keluar dari hutan.

“Jadi yang naik motor trail itu mengaku hanya kuar-kuir (bolak-balik) saja di tempat yang sama. Kemudian orang itu menghubungi warga di Kampung Rumah 8. Akhirnya ditunjukkan jalan ke luar,” ucapnya.

Eli menyebut dengan adanya kisah mistis ini, Kampung Rumah 8 pun aman dari hal-hal kejahatan seperti pencurian.

“Paling yang ada di sini hewan seperti babi, monyet, landak, tapi selama tidak mengganggu Insyalloh aman tidak menyerang,” tutupnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Negeri di Atas Awan Ciamis yang Menakjubkan



Ciamis

Bukan fiksi, negeri di atas awan beneran ada di Ciamis. Tak percaya? Coba saja mampir ke wisata Puncak Bangku yang pemandangannya menakjubkan.

Fenomena negeri di atas awan merupakan hamparan awan atau embun yang menyelimuti sebuah wilayah yang bisa dilihat dari atas ketinggian. Di Ciamis, ada satu destinasi wisata yang memiliki fenomena itu. Namanya Puncak Bangku.

Kapan Bisa Melihat Negeri di Atas Awan Ciamis?

Fenomena negeri di atas awan di Puncak Bangku Ciamis hanya dapat dilihat pada pagi hari, antara pukul 06.00 sampai 08.00 WIB.


Untuk itu, bagi yang lokasinya berada di perkotaan Ciamis, pengunjung harus berangkat sangat pagi sekitar pukul 05.00 WIB menuju ke Puncak Bangku.

Itu pun kalau beruntung dapat melihat pemandangan fenomena hamparan awan di atas ketinggian. Ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dapat menyaksikan fenomena tersebut.

Selain harus pagi, harus diperhatikan kondisi cuaca juga. Fenomena itu muncul ketika pada sore hari sebelumnya ada hujan cukup lebat. Kemudian ada kondisi angin yang berhembus.

Kalau hembusan anginnya stabil, maka fenomena itu dapat terlihat. Tapi kalau anginnya kencang, maka pengunjung hanya akan melihat embun yang sangat tebal.

Sebelum berkunjung ke Puncak Bangku, alangkah baiknya mengontak pengelola yang tercantum pada media sosial. Atau kalau ada keluarga dan teman di sekitar lokasi yang bisa memastikannya.

Cara Menuju ke Wisata Puncak Bangku

Wisata Puncak Bangku Ciamis ini berada di Desa Situmandala, Kecamatan Rancah, Ciamis. Jaraknya sekitar 26 kilometer dari pusat perkotaan Ciamis, atau dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, baik itu motor atau mobil.

Dari Alun-alun Ciamis ambil ke arah Kawali. Nanti sebelum SPBU Baregbeg, belok kanan menuju Kecamatan Rancah. Di pertigaan Rancah, dekat Polsek Rancah, ambil jalur lurus menuju Kadupandak. Nanti di pinggir jalan, ada petunjuk jalan menuju Puncak Bangku.

Meski berada di ketinggian, Puncak Bangku ini dapat diakses langsung menggunakan kendaraan, karena berada di pinggir jalan desa.

Tidak ada tiket untuk memasuki kawasan tersebut. Pengunjung hanya membayar parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil.

Fasilitas yang tersedia di sini seperti tempat parkiran luas, mushala, toilet, tempat duduk, saung-saung, spot selfie dan sejumlah warung yang menyajikan aneka kuliner.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Siapa Bisa Angkat Batu di Ciamis Ini, Keinginannya Akan Terkabul



Ciamis

Di Situs Astana Gede, Ciamis ada satu batu ‘sakti’ yang punya mitos tersendiri. Siapa bisa mengangkat batu itu, keinginannya akan terkabul. Bagaimana kisahnya?

Situs yang berada di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis itu menyimpan sejumlah prasasti dan peninggalan sejarah Kerajaan Galuh. Salah satunya adalah Batu Palinggih.

Konon batu tersebut digunakan untuk melantik para Raja Galuh saat memerintah di wilayah Kawali. Batu Palinggih atau juga Batu Korsi merupakan peninggalan Kerajaan Galuh yang paling besar di antara prasasti yang lain.


Bentuknya panjang dan pipih. Di bagian tengahnya, terdapat batu yang berdiri sebagai sandaran raja saat menjalani prosesi pelantikan.

Letak Batu Palinggih berada di bagian tengah Situs Astana Gede paling awal di antara prasasti lainnya. Konon dulunya batu tersebut adalah lempengan besar, namun pecah oleh masyarakat.

Kang Enno, Budayawan Kawali menjelaskan, masyarakat Kawali menyebut batu itu Palinggih, sedangkan secara arkeologi disebut Batu Korsi atau tempat penobatan raja.

“Jadi setiap calon raja di Kerajaan Galuh kalau mau dilantik duduk di batu itu untuk melaksanakan prosesi pelantikan,” ujar Enno, Sabtu (15/6) akhir pekan lalu.

Enno menjelaskan, Batu Palinggih berbeda dengan Singgasana. Di beberapa situs atau kabuyutan, biasanya terdapat batu untuk pengobatan raja. Sedangkan singgasana hanya ada di keraton.

“Situs-situs di Galuh khususnya mempunyai batu untuk penobatan. Di Karangkamulyan ada, di Bogor juga ada peninggalan Padjajaran,” ungkapnya.

Batu Palinggih itu pertama digunakan saat pelantikan Raja Galuh Prabu Ajiguna Linggawisesa pada tahun 1333. Prabu Ajiguna Linggawisesa merupakan raja pertama yang memerintah di Kerajaan Galuh Kawali.

Sedangkan batu itu terakhir digunakan untuk pengobatan Raja Prabu Jayadewata atau masyarakat menyebutnya Prabu Siliwangi.

“Jadi Batu Palinggih ini dipakai penobatan 7 raja. Dari tahun 1333 raja pertama sampai tahun 1482 raja terakhir,” katanya.

Enno pun belum mengetahui secara pasti prosesi penobatan raja di Batu Palinggih tersebut. Mengingat tidak disebutkan secara detail dalam naskah-naskah kuno.

“Tapi yang jelas sistem pemerintahannya itu memiliki pola Tritangtu yaitu ada Rama, Resi dan Ratu,” ungkap petugas di Astana Gede Kawali ini.

Mitos Batu Palinggih Bisa Kabulkan Keinginan

Setiap peninggalan atau benda tertentu biasanya memiliki cerita mitos yang melekat di masyarakat, termasuk juga Batu Palinggih. Konon masyarakat Kawali dulu percaya apabila mampu mengangkat Batu Palinggih itu maka segala keinginannya cepat terkabul.

“Sebelum Astana Gede Kawali ini diresmikan oleh pemerintah, dulu masyarakat Kawali mempercayai siapa saja yang ke Astana Gede dan mencoba mengangkat batu itu maka keinginannya cepat tercapai,” ucapnya.

Enno menerangkan ternyata masyarakat salah mengartikan kata diangkat dari batu itu. Padahal orang terdahulu memberitahukan diangkat itu adalah pengangkatan raja.

“Tapi itu kebanyakan salah arti, jadi malah mengangkat batu tersebut. Padahal memberitahukan bahwa itu pengangkatan raja,” jelasnya.

Akibat cerita mitos tersebut, Batu Palinggih tersebut yang tadinya lempengan menjadi pecah beberapa bagian. Tapi sekarang masyarakat sudah tidak ada lagi yang mencoba mengangkat batu itu setelah dijaga dan dilindungi pemerintah.

“Awalnya batu itu satu lempengan tapi terbelah-belah. Mitos memang ada sisi baik dan sisi buruk. Sekarang urang yang datang ke sini didampingi, dipandu dan dijelaskan. Kalau di Sunda itu jangan langsung menyimpulkan karena leluhur kita memakai bahasa-bahasa sastra jadi harus dibedah dahulu,” pungkasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bendungan yang Baru Diresmikan Jokowi Itu Jadi Tempat Wisata Dadakan



Ciamis

Bendungan Leuwikeris di Ciamis yang baru diresmikan oleh Presiden Jokowi pada Kamis (29/8) kemarin itu langsung jadi tempat wisata dadakan bagi warga.

Setelah penggenangan seminggu lalu, Bendungan Leuwikeris di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat jadi tempat wisata dadakan. Sejumlah warga hampir ramai-ramai mendatangi area green belt di samping bendungan.

Setiap harinya, serombongan warga mendatangi bagian tepi bendungan dengan menggunakan sepeda motor, mobil hingga odong-odong wisata. Mereka penasaran dengan wujud Bendungan terbesar yang ada di wilayah Ciamis dan Tasikmalaya tersebut.


Selain melihat pemandangan yang indah, sejumlah warga sengaja membawa bekal dari rumah dan botram di pinggir bendungan.

Menggunakan alas tikar yang dibawa dari rumah, warga pun berkumpul dan makan bersama. Warga yang datang ternyata bukan hanya dari Ciamis saja, melainkan dari Banjar dan sejumlah daerah tetangga lainnya.

Untuk menuju lokasi itu, warga menempuh jalur darat dari Jalan Lingkar Selatan Ciamis, kemudian masuk ke wilayah Desa Handapherang, kemudian ke Dusun Guha hingga sampai di jalan proyek Bendungan Leuwikeris.

Belakangan ini, Bendungan Leuwikeris menjadi viral di media sosial dan jadi pembicaraan. Selesainya Bendungan Leuwikeris memang sangat ditunggu masyarakat setelah memakan waktu pembangunan hingga 7 tahun.

“Tau dari media sosial sudah selesai dibangun dan sedang digenangi. Penasaran ingin lihat langsung dari dekat, sebelum kawasannya ditutup pagar,” ujar Via Oktaviana, warga Ciamis yang datang ke Bendungan Leuwikeris bersama temannya menggunakan sepeda motor.

Sejumlah warga mengunjungi sisi Bendungan Leuwikeris di wilayah Ciamis sebagai tempat wisata dadakan. Mereka foto-foto sambil botram.Sejumlah warga mengunjungi sisi Bendungan Leuwikeris di wilayah Ciamis sebagai tempat wisata dadakan. Mereka foto-foto sambil botram. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Anto, warga Banjar, rela jauh-jauh datang ke area Bendungan Leuwikeris karena penasaran ingin melihat langsung dari dekat. Selama ini, Anto mengaku hanya melihat dari live atau video di tiktok saja.

“Cuma penasaran ingin lihat langsung sambil bikin konten juga, sekarang sedang viral. Ternyata bendungannya memang besar. Airnya juga sudah mulai terlihat menggenang,” jelasnya.

Selain menjadi tempat wisata dadakan, Bendungan Leuwikeris juga memberikan berkah bagi para pedagang keliling. Seperti pedagang cilok, cendol, pedagang minuman dingin dan juga kopi.

Seperti dialami Nana, pedagang cendol yang mengaku sudah berjualan di kawasan tersebut sejak dimulainya penggenangan Bendungan Leuwikeris. Ia mampu meraup untung hingga Rp 400 ribu setiap harinya.

“Alhamdulillah, sekarang jualannya di sini dulu bisa dapet Rp 400 ribu sehari. Setiap hari banyak pengunjung dari siang sampai sore, datang dan pulang bergantian. Banyak yang botram juga di sini. Tapi ke depannya katanya ini mau dipagar tapi gak tahu kapan,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Namanya Karang Hantu, tapi Penampakannya Malah Mirip Sungai Amazon



Ciamis

Nama obyek wisata di Ciamis ini Karang Hantu, tapi penampakannya tak seseram namanya. Justru pemandangan di sini malah mirip sungai Amazon.

Setelah Bendungan Leuwikeris diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Kabupaten Ciamis kini memiliki destinasi wisata baru. Pesona keindahan bendungan Leuwikeris itu bisa dilihat dari obyek wisata Karang Hantu, Ciamis.

Genangan Bendungan Leuwikeris itu meliuk-liuk bak Sungai Amazon yang diapit dengan pepohonan hijau. Destinasi ini pun cocok untuk healing hingga kemping anak-anak muda.


Lokasi Karang Hantu

Obyek Wisata Karang Hantu berada di Lingkungan Sinar Mawar, Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis. Lokasinya memang cukup tersembunyi, namun cukup dekat dari pusat perkotaan Ciamis.

Untuk menuju lokasi, dari perkotaan Ciamis ambil jalur menuju Kelurahan Cigembor. Setelah di simpang Jalan Sinar Cigembor, masuk dan ikuti jalan tersebut hingga melihat petunjuk arah yang telah dipasang oleh warga.

Sayangnya, untuk menuju lokasi hanya bisa diakses menggunakan sepeda motor. Sedangkan yang menggunakan mobil harus berjalan kaki beberapa ratus meter untuk sampai di lokasi obyek wisata Karang Hantu.

Pihak Kelurahan Cigembor pun rencananya akan mengajukan pembangunan jalan beton untuk menuju akses obyek wisata Karang Hantu di tahun 2025 mendatang. Mengingat saat ini akses jalan ke lokasi tersebut masih tanah.

“Rencana akan diajukan untuk pembangunan jalan beton di tahun 2025. Warga juga sudah membentuk pokdarwis,” ujar Nandro, Lurah Cigembor.

Destinasi Ini Mulai Ditata Warga

10 Hari setelah penggenangan bendungan Leuwikeris dilakukan, destinasi ini langsung ditata oleh warga setempat. Masyarakat sekitar pun nampak antusias menata area wisata hingga memperbaiki akses jalan menuju lokasi secara gotong royong.

Bahkan warga juga kini telah membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Sedikit demi sedikit sarana prasarana di obyek wisata tersebut mulai dibangun.

Mulai dari spot selfie, menara Selfie yang terbuat dari bambu dengan latarbelakang waduk Leuwikeris. Ada juga sarana lainnya seperti toilet, tempat duduk di sejumlah titik hingga warung-warung dan area parkir. Namun bangunan tersebut dibangun secara semi permanen.

Warung-warung di obyek wisata tersebut juga menyediakan paket nasi liwet dengan harga mulai dari Rp 100 ribu tergantung pesanan. Ada juga jajanan makanan ringan dan aneka minuman.

Tidak ada tarif tiket untuk masuk ke area wisata tersebut. Pengunjung cukup mengeluarkan uang parkir sebesar Rp 2 ribu atau memberikan sumbangan di kotak sumbangan yang tersedia di lokasi.

Nampak puluhan pengunjung sudah berada di lokasi tersebut untuk menikmati keindahan genangan dari bendungan terbesar di Ciamis itu.

Meski proses penggenangan baru berjalan setengahnya, keberadaan Bendungan Leuwikeris sudah menunjukan manfaatnya bagi masyarakat.

“Tau ada tempat wisata ini dari medsos. Tempatnya enak, adem banyak pohon-pohon. Pemandangan waduknya bagus seperti Sungai Amazon,” ujar Desi, warga Handapherang yang berkunjung bersama keluarganya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wajah Baru Alun-alun Ciamis yang Cantik dan Estetik



Ciamis

Alun-alun Ciamis kini punya wajah baru yang cantik dan estetik. Traveler bisa puas foto-foto Instagramable di sini!

Beberapa hari terakhir ini, Kawasan Alun-alun Ciamis kembali menjadi viral di media sosial dan menjadi perbincangan. Salah satu daya tarik terbaru adalah jembatan penyeberangan sebagai penghubung Alun-alun dengan area food court yang baru selesai dibangun di awal tahun 2025.

Area food court yang dilengkapi dengan jembatan penyeberangan yang menghubungkan dengan area taman itu begitu kesan estetik. Pada malam hari jembatan itu dilengkapi lampu LED warna kuning yang menambah kesyahduan.


Meski belum dibuka, namun para pengunjung Alun-alun Ciamis tertarik dengan jembatan penyeberangan tersebut. Pada malam hari, lokasi tersebut menjadi sangat bagus dan menjadi daya tarik warga untuk berfoto ria.

Ditambah lagi dengan megahnya area food court yang dibangun dari APBD Provinsi Jabar senilai Rp 34,5 miliar. Area food court tersebut dikhususkan untuk para PKL Alun-alun Ciamis sebanyak 102 kios.

Dilengkapi dengan area parkir motor di lantai dua dengan kapasitas 309 unit dan di lantai bawah untuk area parkir 45 mobil.

Kini hampir setiap malam Alun-alun Ciamis ramai didatangi warga. Padahal biasanya, Alun-alun Ciamis ramai dikunjungi hanya pada akhir pekan Sabtu-Minggu atau hari libur saja.

Mereka asyik berfoto ria di kawasan jembatan penyebrangan itu untuk diunggah di media sosial masing-masing. Jembatan tersebut menambah nilai estetika kawasan Alun-alun Ciamis.

Wajah baru alun-alun CiamisWajah baru alun-alun Ciamis Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Lampu LED yang dipasang di sepanjang jembatan memberikan efek cahaya yang indah menciptakan suasana yang syahdu dan romantis. Tak heran, jembatan itu kini menjadi spot favorit baru pada pengunjung Alun-alun Ciamis.

Namun sayangnya, kawasan food court Alun-alun Ciamis belum dibuka. Akses jembatan hanya sampai tengah, sedangkan pintu masuk ke area food court masih ditutup pagar. Belum diketahui pasti kapan area food court itu dibuka.

“Menurut saya, Alun-alun Ciamis jadi lebih keren. Terutama di bagian jembatan ini sangat estetik, saya tertarik ke sini karena memang lagi viral. Biasanya jarang ke Alun-alun, kecuali kalau ada acara,” ujar Ikah, salah seorang pengunjung, Selasa (4/2/2025).

Pengunjung lainnya, Safira mengaku bangga sebagai warga Ciamis memiliki Alun-alun yang sangat bagus dibanding dengan daerah lainnya. Bukan hanya spot baru jembatan penyeberangan, ada beberapa fasilitas lainnya yakni untuk fitnes dan juga arena bermain anak.

“Kayaknya Alun-alun Ciamis yang paling bagus dari daerah tetangga, tentunya bangga. Fasilitasnya juga cukup lengkap. Cuma kalau bisa ini area food court segera dibuka, sebentar lagi mau bulan puasa bisa untuk buka bersama,” jelasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

5 Pantai Tersembunyi di Jawa Barat yang Bisa Disambangi Seharian


Jakarta

Jawa Barat mempunyai banyak pantai yang bisa menjadi pilihan untuk liburan. Beragam aktivitas yang bisa dilakukan, mulai berenang hingga naik ragam wahana seru. Yuk jelajahi.

Jawa Barat tidak hanya dikenal dengan keindahan pegunungan, tetapi juga menyimpan deretan pantai menawan yang tersebar dari pesisir utara hingga selatan.

Setiap pantai menawarkan daya tarik tersendiri, mulai dari ombak besar yang cocok untuk berselancar hingga pantai berpasir putih yang tenang dan nyaman untuk bersantai. Tak hanya pemandangan, beragam aktivitas seru bisa dilakukan, seperti berenang, bermain pasir, naik banana boat, hingga menikmati kuliner laut segar yang menggoda selera.


Pantai-pantai seperti Pangandaran, Santolo, dan Ujung Genteng sudah lama menjadi favorit wisatawan, tetapi masih banyak surga tersembunyi seperti Pantai Karang Tawulan di Tasikmalaya atau Pantai Rancabuaya di Garut yang belum banyak dijelajahi.

Dengan akses yang kini semakin mudah dan fasilitas wisata yang terus berkembang, pantai-pantai di Jawa Barat menjadi pilihan ideal untuk melepas penat dan menikmati keindahan alam tropis tanpa harus jauh-jauh keluar pulau. Yuk, rencanakan liburanmu dan jelajahi pesona pantai Jawa Barat yang memikat!

5 pantai di Jawa Barat pas buat liburan

1. Pantai Pangandaran

Walaupun menuju Pangandaran membutuhkan waktu yang cukup panjang, namun bagi traveler yang pecinta pantai pasti akan senang saat sampai di sana.

Pantai Pangandaran terletak di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Lokasinya sekitar 92 km dari Kota Ciamis ke arah selatan. Rute menuju Pantai Pangandaran juga terbilang cukup mudah karena dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Untuk tiket masuk, terdapat beberapa kriteria di Pantai Pangandaran, mulai dari pengunjung pejalan kaki, hingga mobil berpenumpang. Bagi yang berjalan kaki Rp 6.000, sepeda motor Rp 15.000, kendaraan model sedan atau jeep Rp 35.000, kendaraan model carry Rp 65.000 dan mobil berpenumpang besar Rp 93.000.

Beragam kegiatan menarik yang bisa kamu lakukan di sana, diantaranya menikmati pemandangan, mencoba ragam wahana bermain seperti ATV hingga surfing, belanja oleh-oleh hingga mencicipi racikan kuliner laut,

2. Pantai Batu Karas

Lokasi pantai ini tidak jauh dari Pangandaran dan menawarkan suasana yang lebih tenang dan cocok untuk berselancar, terutama bagi pemula. Tentu saja traveler bisa belajar selancar di sini.

Pantai Batukaras berada di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Lokasinya bisa ditempuh sekitar 1 jam 14 menit menggunakan kendaraan dari Bunderan Marlin Pangandaran.

Harga tiket masuk Pantai Batukaras tergolong ramah di kantong. Berikut ini daftar harga tiketnya:

1. Orang Rp10.000
2. Sepeda Motor Rp20.000
3. Jeep/Sedan dan sejenisnya Rp60.000
4. Minibus kecil dan sejenisnya Rp95.000
5. Minibus Besar dan sejenisnya Rp135.000
6. Bus Kecil dan sejenisnya Rp205.000
7. Bus sedang dan sejenisnya Rp295.000
8. Bus besar dan sejenisnya Rp 515.000

3. Pantai Sawarna

Pantai ini terkenal dengan keindahan alamnya yang masih asri dan formasi batuan karangnya yang eksotis, seperti Goa Langir dan Tanjung Layar. Para pecinta fotografi harus banget sih ke sini.

Pantai Sawarna berada di Desa Wisata Sawarna yang memiliki berbagai objek wisata. Pantai Sawarna terdiri dari beberapa pantai dengan panorama yang berbeda satu sama lain. Mulai dari Pantai Karang Taraje Sawarna, Pantai Tanjung Layar Sawarna, Pantai Karang Seupang Sawarna. Pantai Ciantir Sawarna. Pantai Teluk Legon Pari Sawarna, hingga Pantai Karang Bokor Sawarna.

Tiket masuk Pantai Sawarna adalah Rp 5.000 untuk weekdays dan Rp 15.000 untuk weekend.

4. Pantai Santolo

Pantai Santolo terletak di sebelah selatan pusat kota Garut. Berjarak sekitar 88 km dan dapat ditempuh dalam waktu 3,5 jam.

Pantai ini dikenal dengan garis pantai yang panjang, memiliki pasir putih yang halus dan bersih. Serta pantai juga dikelilingi perbukitan hijau serta pemandangan tumpukan batu karang.

Air di kawasan bibir pantai Santolo termasuk dangkal dan tenang jadi cukup aman untuk kamu yang ingin berenang. Meskipun dangkal, pantai selatan ini tetap berarus dan kamu harus hati-hati.

Adapun kegiatan yang bisa kamu lakukan di Pantai Santolo diantaranya, berenang dan bermain air di pantai, kuliner, elajahi Pulau Santolo, menaiki banana boat, menikmati sunset dan sunrise, camping di pinggir pantai dan enikmati fenomena Cilauteureun.

5. Pantai Rancabuaya

Pantai Rancabuaya terletak di Kabupaten Garut. Pantai ini merupakan salah satu pantai paling dekat dari Kota Bandung, dengan durasi perjalanan kurang lebih 3 jam 50 menit via Jalur Ciwidey-Cidaun atau 4 jam via Jalur Pangalengan.

Pantai Rancabuaya memiliki ciri khas batuan karang yang unik dan ombak yang besar. Cocok untuk menikmati deburan ombak, berfoto, atau sekadar bersantai menikmati suasana pantai.

6. Pantai Ujung Genteng

Terletak di ujung selatan Kabupaten Sukabumi, Pantai Ujung Genteng menjadi salah satu destinasi wisata yang menawarkan ketenangan dan keindahan alam yang masih alami.

Pantai ini memiliki pembeda dengan garis pantainya yang panjang, air laut jernih, serta kombinasi pasir putih dan batu karang yang menawan. Meski akses ke lokasi memerlukan perjalanan cukup jauh dari pusat kota, rasa lelah akan terbayar tuntas saat mata disuguhi panorama laut lepas yang memukau.

Pantai Ujung Genteng cocok bagi wisatawan yang ingin menjauh sejenak dari keramaian dan menikmati suasana tenang. Ombaknya relatif tenang di beberapa titik, membuatnya aman untuk bermain air atau berenang.

Di sisi lain, ada juga bagian pantai yang berbatu dan cocok untuk menikmati matahari terbenam dari balik karang. Salah satu daya tarik utama di kawasan ini adalah penangkaran penyu, tempat wisatawan bisa melihat proses pelepasan tukik ke laut-pengalaman unik yang jarang ditemukan di pantai lain di Jawa Barat.

Selain itu, kawasan sekitar Ujung Genteng juga menyimpan pesona lain seperti Air Terjun Cikaso, Pantai Pangumbahan, dan spot-spot snorkeling yang belum banyak tersentuh wisata massal. Fasilitas penginapan dan warung makan tersedia dengan harga terjangkau, cocok untuk backpacker maupun wisatawan keluarga.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com