Tag Archives: cianjur

Ini Gereja Berusia 1 Abad di Cianjur, Lokasinya di Kampung Kristen Tertua



Cianjur

Sebuah gereja berusia lebih dari satu abad berdiri di Cianjur, Jawa Barat. Gereja itu terletak di permukiman kristen tertua di Cianjur.

Gereta tua berusia nyaris 100 tahun itu adalah Gereja Kristen Pasundan (GKP) Palalangon. Gereja itu pertama kali didirikan B.M Alkema, salah seorang zendeling (penyebar Injil) dari lembaga Pekabaran Injil dari Belanda bernama Nederlandsche Zendings Vererniging (NZV), pada 1902.

Dia dibantu juga tujuh keluarga perintis, yakni Miad Aliambar, Jena Aliambar, Hasan Aliambar, Akim Muhiam, Naan Muhiam, Yusuf Sairin, dan Elipas Kaiin.


“Bersama BM Alkema, tujuh orang ini kemudian menghimpun kembali keluarganya. Sehingga terkumpul 21 jemaat. Orang-orang ini lah yang disebut jemaat mula-mula berdirinya salah satu gereja protestan tertua dan permukiman kristen tertua di Cianjur,” kata Pengurus GKP Palalangon Vikaris (Vik) Ricki Albett Sinaga, Minggu (24/12/2023).

Gereja itu dinamai sesuai dengan lokasinya berada, yakni Palalangon. Palalangon berarti menara. Tetapi, nama itu bukan diambil dari kata menara di gereja, tetapi merujuk pada lokasi kampung yang berada di atas perbukitan.

Pada saat itu, Kampung Palalangon berada di atas ketinggian. Namun setelah adanya pembangunan Waduk Cirata, kampung ini bak turun dari ketinggiannya dan seolah berada di dataran rendah.

“Iya diambilnya namanya dari nama kampung ini. Bukan karena ada menara. Karena kan menara gereja dibangun setelah kampung ini ada,” kata dia.

Vik Ricki mengungkapkan awal mulanya, bangunan GKP Palalangon hanya sebuah tempat ibadah darurat dah dibuat dari eurih atau ilalang. Namun, kemudian dibuat menjadi bangunan permanen dengan desain gereja khas Eropa kala itu.

“Dibangun pertama dari ilalang, sangat sederhana. Kemudian dibangun menjadi bangunan gereja yang lebih kokoh. Dari dulu bangunannya pun masih seperti ini, kita jaga keaslian bentuk bangunannya,” kata dia.

Uniknya, penyangga bangunan ini pun bukan tiang beton tetapi masih menggunakan balok kayu yang sangat keras.

Kendati begitu, bangunan tua yang usianya lebih dari 100 tahun ini tetap kokoh berdiri dan menjadi tempat ibadah bagi penganut kristen di sana.

Berita selengkapnya baca di detikJabar.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

The Ranch Puncak, Area Wisata Ramah Anak dengan Mini Zoo di Berhawa Sejuk


Jakarta

Tempat wisata di Puncak Bogor kerap jadi pilihan berlibur warga Jabodetabek. Salah satu destinasi wisata ramah anak dan keluarga yang dapat dikunjungi yaitu The Ranch Puncak.

The Ranch Puncak menawarkan wisata berkuda dan wahana. Tempat ini juga menyuguhkan view asri memanjakan mata, suasana tenang dan nyaman, serta udara segar yang menyejukkan. Bisa dibilang, lokasi ini cocok untuk healing tipis-tipis.

Tertarik berlibur ke objek wisata Puncak satu ini? Temukan info wahana, lokasi, jam buka, harga tiket masuk, dan fasilitas The Ranch Puncak di bawah ini.


Ada Apa Saja di The Ranch Puncak?

Di The Ranch Puncak terdapat sejumlah spot dan aktivitas yang dapat traveler lakukan. Berikut penjelasannya.

1. Mini Zoo

Terdapat mini zoo di The Ranch Puncak. Kamu dapat menjumpai taman kelinci, domba, sapi, ikan, dan burung. Di sini traveler bisa berinteraksi lebih bersama hewan-hewan dengan memberi mereka makan. Ada juga kuda poni dan kuda besar yang dapat pengunjung tunggangi di sini.

2. Wahana Permainan

Sejumlah wahana seru tersebar di The Ranch Puncak. Kamu dan anak dapat menaiki barrel train. Kalau ingin berkeliling area tempat wisata ini, traveler bisa menyewa berbagai jenis sepeda seperti sepeda gandeng, renteng, tandem, dan listrik. Untuk anak juga tersedia sepeda balita ya.

Cobalah VR atau 4 dimensi dan panahan jika ingin wahana yang lebih seru. Terdapat pula wahana perahu air kalau tertarik mengelilingi danau.

Selain outdoor, ada wahana indoor di The Ranch Puncak. Tepatnya di Puncak Fantasyland, kamu bisa berseluncur di perosotan besar yang di bawahnya terdapat kolam bola. Selain itu tersedia flying fox, sepatu roda, dan spot foto Instagramable.

3. Sentra Kuliner

Setelah seharian bermain, kamu bisa mendatangi sentra kuliner The Ranch Puncak. Di sana terdapat deretan tenant makanan yang menyajikan berbagai menu lezat. Mulai dari ayam bakar, sambal bakar, seblak, siomay, batagor, bakso, hingga kupat tahu susu tersedia di sana.

Traveler dapat menyeruput secangkir kopi di kedai kopi yang tersedia. Tenang saja, di sana terdapat banyak tempat duduk indoor maupun outdoor kok.

4. Pusat Oleh-oleh

Di samping itu, kamu bisa mengunjungi pusat oleh-oleh The Ranch Puncak kalau ingin membeli buah tangan khas Kota Hujan. Berbagai camilan ringan dan jajanan manis, asin, hingga pedas tersedia di sana. Traveler dapat mencicipi aneka keripik, roti unyil, kue bolu susu, dodol, sampai tahu susu yang lembut.

The Ranch Puncak terletak di Jl. Raya Puncak Gadog KM 77, Cisarua, Bogor. Dari Jakarta, destinasi wisata ini ditempuh sekitar 1-1,5 jam, tergantung kondisi jalan. Traveler dapat menjangkau tempat ini menggunakan mobil ataupun motor.

Bila mengendarai mobil, kamu bisa mengambil akses Tol Jagorawi dan keluar menuju Taman Safari/Puncak. Lanjut perjalanan ke Jl. Labuan-Cianjur atau Jl. Raya Puncak-Cianjur dan teruskan ke Jl. Raya Puncak Gadog. Jika bingung, traveler dapat mengikuti arahan online maps.

Jam Buka The Ranch Puncak

Kalau tertarik ke sini, The Ranch Puncak buka setiap harinya. Pada Senin-Jumat, traveler dapat datang mulai pukul 09.00-20.00 WIB. Sementara pada Sabtu-Minggu dibuka dari jam 08.00-21.00.

Ada baiknya mengunjungi The Ranch Puncak sedari pagi jika ingin menikmati pemandangan indah, suasana nyaman, dan udara sejuk menyegarkan di sana. Disarankan juga datang saat cuaca cerah dan tidak hujan.

Harga Tiket Masuk The Ranch Puncak

Harga tiket masuk The Ranch Puncak bervariasi. Berikut harga tiketnya:

  • Rp 10.000 = tiket masuk
  • Rp 25.000 = tiket masuk + segelas susu sapi segar
  • Rp 25.000 = tiket masuk + kasih makan kelinci
  • Rp 30.000 = tiket masuk + kasih makan domba
  • Rp 35.000 = tiket masuk + menunggangi kuda poni
  • Rp 40.000 = tiket masuk + menunggangi kuda besar
  • Rp 40.000 = tiket masuk + sepeda listrik (20 menit).

Kalau tertarik menjajal berbagai wahana lain di sini, kamu dapat mengeluarkan biaya tambahan ya.

Fasilitas The Ranch Puncak

Fasilitas yang tersedia The Ranch Puncak sudah cukup lengkap. Di sana terdapat area parkir luas, toilet umum, sentra kuliner, kedai kopi, hingga toko oleh-oleh yang menawarkan berbagai makanan dan jajanan untuk dibawa pulang.

Nah, itu tadi informasi objek wisata The Ranch Puncak yang dapat kamu kunjungi. Untuk informasi lebih lanjut bisa cek Instagram resminya di @theranchpuncakbogor. So, kamu tertarik berlibur ke sini nggak?

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Jalan-jalan di Kebun Raya Cibodas, Bisa Lihat Bunga Bangkai hingga Sakura


Jakarta

Kebun Raya Cibodas adalah tempat wisata alam sekaligus edukasi di Cianjur. Kebun ini tidak hanya terkenal dengan koleksi tanaman yang beraneka ragam, tetapi juga keindahan alamnya.

Dilansir dari situs resmi Kebun Raya Cibodas, kebun ini awalnya bernam nama Bergtuin të Tjibodas (Kebun Pegunungan Cibodas), didirikan pada 11 April 1852 oleh Johannes Ellias Teijsmann. Tujuan awalnya untuk tempat aklimatisasi jenis-jenis tumbuhan dari luar negeri yang bernilai penting dan ekonomi yang tinggi, seperti pohon kina (Cinchona calisaya).

Kebun raya ini memiliki beberapa fungsi, antara lain untuk konservasi tumbuhan, edukasi, penelitian, hingga wisata alam. Simak artikel ini untuk mengetahui berbagai daya tarik Kebun Raya Cibodas, spot menarik, fasilitas, harga tiket masuk, lokasi dan jam bukanya.


Daya Tarik Kebun Raya Cibodas

Berikut ini sejumlah daya tarik dari Kebun Raya Cibodas yang dirangkum dari situs resminya.

Koleksi Tanaman Beragam

Bunga sakura mekar di Kebun Raya CibodasBunga sakura mekar di Kebun Raya Cibodas (Ismet Selamet/detikcom)

Koleksi tanaman di Kebun Raya Cibodas beraneka ragam, mulai dari anggrek, bunga kuku macan dari New Guinea. Tanaman ini dibagi menjadi beberapa zona, yaitu:

1. Taman Sakura

Bunga sakura tak hanya bisa dijumpai di Jepang. Kebun Raya Cibodas juga memiliki beberapa jenis sakura, seperti Prunus arborea dari Jawa, Prunus costata dari Papua, dan Prunus cerasoides dari Himalaya.

Bunga sakura ini bersemi pada waktu tertentu, yakni antara Januari-Februari dan Juli-Agustus.

2. Taman Rhododendron

Taman Rhododendron berisi beberapa jenis tanaman azalea jawa (Rhododendron javanicum) yang merupakan ikon Kebun Raya Cibodas. Beberapa jenis azalea di kebun ini, adalah Rhododendron javanicum, Rhododendrom macgregoriae, dan Rhododendron mucronatum.

3. Taman Obat

Indonesia terkenal dengan tanaman obatnya. Tanaman-tanaman ini juga menjadi koleksi Kebun Raya Cibodas, yakni di Taman Obat. Ada sekitar 164 jenis tanaman obat di taman ini, salah satunya Centella asiatica atau pegagan yang sering digunakan untuk produk kecantikan dan perawatan kulit.

4. Taman Liana

Ada berbagai jenis liana yang merambat hingga ke pepohonan tinggi di taman ini. Tanaman ini berakar di dalam tanah dan pucuknya terus merambat ke tempat yang lebih tinggi. Koleksi liana di sini adalah hasil eksplorasi di kawasan Aceh, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, hingga Sulawesi Tengah.

5. Taman Paku-pakuan

Kebun Raya Cibodas memiliki 101 jenis tumbuhan paku dari berbagai daerah di Indonesia. Tanaman paku biasa dimanfaatkan untuk bahan pangan, tanaman hias, kerajinan tangan, dan bahan baku obat.

6. Taman Lumut

Di taman seluas 1.500 meter persegi, wisatawan bisa melihat habitat lumut yang memiliki lebih dari 100 jenis lumut.

7. Rumah Kaca

Kebun raya ini juga memiliki rumah kaca di dalamnya terdapat berbagai tanaman unik, antara lain 98 jenis kaktus, 262 jenis anggrek, dan 71 jenis sukulen.

Bisa Melihat Bunga Bangkai Mekar

Salah satu Bunga Bangkai di Kebun Raya Cibodas BRIN, mekar. Ini merupakan momen langka yang bisa dinikmati 2-3 tahun, bahkan lebih.Salah satu Bunga Bangkai di Kebun Raya Cibodas BRIN, mekar. Ini merupakan momen langka yang bisa dinikmati 2-3 tahun, bahkan lebih. (Dok. BRIN)

Salah satu daya tarik yang banyak ditunggu-tunggu wisatawan adalah momentum bunga bangkai mekar. Bunga bangkai raksasa pada waktu tertentu akan mekar sempurna dengan ketinggian lebih dari 2 meter.

Bunga bangkai di Kebun Raya Cibodas mekar sekitar 4-5 tahun sekali. Namun ada 13 spesimen yang ditanam di sekitar lokasi, sehingga hampir setahun sekali wisatawan bisa menikmati momen ini.

Spot Wisata Alam Menarik

Kebun Raya CibodasDanau Kebun Raya Cibodas (Ismet Selamet/detikcom)

Ada beberapa spot wisata alam menarik di dalam Kebun Raya Cibodas, antara lain sebagai berikut:

1. Danau Besar KRC

Di dalam Kebun Raya Cibodas terdapat sebuah kolam besar yang biasa disebut Danau Besar KRC. Di tengah danau terdapat air mancur mempercantik lokasi, selain itu terdapat ikan hias yang berenang dan sering muncul ke permukaan. Traveler bisa bersantai di bawah pohon-pohon besar di sekitar danau atau duduk di hamparan rumput

2. Air Terjun Cibogo

Ada juga Curug Cibogo, yaitu air terjun yang berada di kawasan Taman Sakura. Meski tidak besar, air terjun ini menjadi spot menarik yang sering dikunjungi wisatawan untuk bersantai maupun berfoto-foto.

3. Jalan Air

Tak jauh dari Curug Cibogo, traveler bisa bermain di jalan air. Jalan air ini adalah aliran sungai yang dijadikan sebagai jalan, namun tetap dialiri air dangkal. Tempat ini sering dipakai untuk berfoto.

Bersepeda Keliling Kebun

Traveler juga bisa berkeliling naik sepeda agar tidak terlalu capek. Bahkan saat weekday, sepeda motor diperbolehkan masuk. Kamu bisa menyewa sepeda, skuter, atau naik shuttle bus di sini.

Harga Tiket Masuk dan Fasilitas

Traveler bisa membeli tiket secara langsung di loket atau lewat online di situs Kebun Raya. Harga tiket dibedakan berdasarkan weekday dan weekend, alat transportasi yang dipakai, dan asal wisatawan (WNI atau WNA). Harganya di kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 25.500 per orang.

Fasilitasnya antara lain:

  • Mushola
  • Tempat makan (Cafe Gardenia, Raffles Cafe, Raffles Kitchen, dll)
  • Katering
  • Sepeda, e-bike, e-scooter, shuttle bus
  • Toilet
  • Meeting room
  • Villa dan penginapan

Lokasi dan Jam Buka

Lokasi Kebun Raya Cibodas berada di Jalan Kebun Raya Cibodas, Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dari pusat kota Cianjur, jaraknya sekitar 24 km atau ditempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Jam operasional Kebun Raya Cibodas yakni setiap hari pada pukul 08.00-16.00 WIB (Senin-Jumat), dan pukul 07.00-16.00 WIB (weekend dan hari libur).

Nah, itulah tadi informasi mengenai Kebun Raya Cibodas, mulai dari daya tarik, spot menarik, fasilitas, harga tiket masuk, lokasi, dan jam bukanya.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Mau Liburan ke Gunung Mas Puncak? Ini Rutenya dari Jakarta


Jakarta

Agrowisata Gunung Mas merupakan salah satu tempat wisata favorit yang ada di sekitar Kawasan Puncak, Bogor. Kebanyakan pengunjung yang datang pun berasal dari Jakarta.

Salah satu alasan kenapa banyak warga Jakarta yang datang ke Agrowisata Gunung Mas karena ingin liburan sambil healing. Lokasinya juga tidak begitu jauh dari Jakarta, sehingga objek wisata ini dipadati pengunjung terutama saat weekend dan musim liburan.

Bagi travelers yang tinggal di Jakarta dan ingin liburan bareng teman, keluarga, atau pasangan ke Agrowisata Gunung Mas, bisa banget kok! Cara paling mudah untuk bisa sampai ke tempat wisata ini adalah dengan mengendarai kendaraan pribadi.


Ingin tahu rute perjalanan dari Jakarta menuju Agrowisata Gunung Mas Puncak? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

Rute Jakarta – Agrowisata Gunung Mas Puncak

Agrowisata Gunung Mas Puncak berlokasi di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ada sejumlah rute yang bisa ditempuh jika travelers ingin healing ke tempat wisata ini.

Misalnya kamu berangkat dari kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Jika mengendarai mobil, detikers bisa melalui Jalan Tol Dalam Kota, kemudian masuk ke Jalan Tol Jagorawi.

Setelah itu keluar di pintu tol menuju Taman Safari/Puncak/Bandung, kemudian lanjut melalui Jalan Raya Puncak – Cianjur hingga sampai di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Waktu perjalanannya sekitar 1,5 jam.

Lain halnya jika mengendarai sepeda motor, ada dua opsi rute perjalanan yang bisa kamu pilih. Simak selengkapnya di bawah ini:

1. Via Jalan Raya Bogor

Dari Mampang Prapatan, detikers mengambil arah ke Jalan Raya Pasar Minggu, lalu masuk ke Jalan Margonda Raya, kemudian dilanjutkan ke Jalan Raya Jakarta – Bogor.

Setelah itu, travelers diarahkan menuju Jalan Sukaraja hingga sampai di Jalan Raya Pasir Angin. Sekitar 300 meter, detikers mengambil jalan menuju Jalan Raya Puncak – Cianjur dan terus saja hingga tiba di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjalanan.

2. Via Jalan Raya Parung

Rute ini terbilang lebih jauh karena detikers melalui Parung dan Kota Bogor. Jadi, dari Mampang Prapatan ambil arah ke Jalan Pangeran Antasari, lalu Jalan TB Simatupang, kemudian belok ke Jalan R.A Kartini.

Setelah itu, ambil arah ke Jalan Raya Parung dan terus sampai memasuki Jalan Jakarta – Bogor. Setibanya di Kota Bogor, detikers ikuti jalan menuju Jalan Raya Pajajaran hingga Jalan Raya Bogor – Sukabumi.

Di ujung jalan travelers akan menemukan pertigaan, ambil ke arah kanan menuju Jalan Raya Puncak – Cianjur. Kemudian lurus terus mengikuti jalan hingga sampai di Agrowisata Gunung Mas. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam.

Harga Tiket Masuk Agrowisata Gunung Mas Puncak

Pengunjung yang datang ke Agrowisata Gunung Mas Puncak dikenakan tiket masuk sebesar Rp 15.500/orang saat weekday. Sementara saat akhir pekan tiket masuknya dibanderol Rp 20.000/orang.

Harga tiket tersebut belum termasuk tarif bermain di sejumlah wahana yang ada di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Simak rincian harga tiket wahananya berikut ini:

  • Berkeliling kebun teh: Rp 10.000/orang.
  • Menaiki kuda: Rp 60.000/1 kilometer.
  • Rainbow slide: Rp 25.000/orang.
  • Flying fox: Rp 60.000/orang.
  • Berenang: Rp 10.000/orang.
  • ATV: Rp 160.000 (weekday) dan Rp 210.000 (weekend).

Untuk jam operasionalnya sendiri, Agrowisata Gunung Mas Puncak buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Disarankan datang sejak pagi hari agar bisa merasakan udara segar khas pegunungan sekaligus mencoba banyak wahana permainan karena belum ramai pengunjung.

Demikian penjelasan mengenai rute perjalanan dari Jakarta menuju Agrowisata Gunung Mas Puncak. Semoga dapat membantu travelers.

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Indahnya Kebun Teh Malabar Dilihat dari Bianglala Raksasa



Kabupaten Bandung

Kesejukan dan keindahan kebun teh Malabar makin menarik ketika wisatawan melihatnya dari atas bianglala raksasa yang baru buka di sana.

Destinasi bianglala yang saat ini ramai dikunjungi tersebut adalah Nimo Eye. Wisata tersebut merupakan sebuah wahana bianglala raksasa dengan sajian pemandangan hamparan kebun teh Malabar yang indah.

Wahana tersebut terletak di kawasan Nimo Highland, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Dengan ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut (MDPL).


Bagi yang memiliki rasa takut ketinggian, menaiki wahana tersebut bisa menjadi tantangan dan memacu adrenalin. Namun masyarakat tidak lerlu khawatir, pasalnya wahana tersebut telah dipastikan memenuhi standar keamanan yang baik

“Deg-degan banget, jantung hampir mau copot. Tapi seru, soalnya ini pengalaman pertama naik bianglala,” ujar salah satu pengunjung asal Cianjur, Ula (19), Minggu (13/10/2024).

Ula mengaku naik wahana tersebut bersama ketiga teman-temannya. Saat berada di dalam kabin wahana Ula tak lupa langsung banyak mengabadikan melalui layar ponselnya.

“Katanya kan ini terbesar di Asia ya. Terus tadi bikin konten juga di sini, pastinya videoin waktu naik bianglala,” katanya.

Ula mengatakan telah lama merencanakan liburan di wahana tersebut. Ia langsung berangkat dari Cianjur bersama beberapa temannya.

“Sudah lama mau ke sini, soalnya penasaran liat di TikTok. Jadi janjian sama teman-teman ke sininya. Rekomendasi pokoknya main ke Nimo Eye,” jelasnya.

Nimo Eye BandungNimo Eye Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Salah satu Staff Nimo Eye, Opik Hermansyah mengklaim wahana tersebut merupakan yang tertinggi di Asia. Pasalnya wahana tersebut berdiri di dataran tinggi Gunung Nini Pangalengan.

“Wahana Nimo Eye ini kita ada wahana Bianglala dengan evarasi tertinggi se-Asia. Dengan ketinggian 1400 MDPL,” kata Opik.

Opik menjelaskan wahana tersebut menjadi wisata favorit bagi masyarakat. Sehingga bagi yang akan mengunjungi Nimo Highland pasti akan mencoba wahana tersebut.

“Kemanannya sudah safety sekali. Udah ada rekor muri juga dan ada fasilitas mobil kesehatan kalau ada apa-apa. Ada juga monitor HT juga di dalam kabinnya. Jadi kalau ada apa-apa bisa hubungi pakai itu,” tegasnya.

Menurutnya adanya Nimo Eye tersebut adalah demi membuat para wisatawan terus berdatangan ke Pangalengan.

“Alasan adanya Nimo Eye ini adalah supaya wisatawan itu tidak jenuh itu-itu aja. Jadi ada wahana baru lagi gitu. Soalnya setiap tahun kita suka ada beberapa wahana lagi,” ucapnya.

Dengan menaiki wahana bianglala tersebut masyarakat ditawarkan pemandangan yang indah. Apalagi jika naik wahana tersebut pada terbit atau terbenamnya matahari.

“Bisa melihat hamparan kebun teh yang indah. Dengan sunsetnya, sunrise nya juga,” bebernya.

Nimo Eye BandungNimo Eye Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Opik menyebutkan terdapat beberapa paket harga tiket masuk ke Nimo Eye. Di antaranya paket reguler, paket VIP dan paket Family.

“Reguler itu satu putaran dan dicampur orang lain. Durasinya satu kali putaran. Kalau VIP dua kali putaran, private kabin, dan free minuman. Reguler di weekday Rp 40 ribu, weekend Rp 50 ribu. Kalau VIP Rp 155 ribu weekday, Rp 185 untuk weekend,” tuturnya.

Objek wisata tersebut kerap menjadi daya tarik masyarakat. Pasalnya para masyarakat ingin merasakan melihat pemandangan hamparan kebun teh Malabar yang indah.

“Pengunjung per harinya weekend ada sekitar 300 orang. Weekend bisa bisa sampai 500 orang,” ucap Opik.

Wahana bianglala raksasa tersebut memiliki 48 kabin. Setiap satu kabin memiliki kapasitas sebanyak empat orang.

“Satu putaran sekitaran 10 menit. Satu kabin maksimal 4 orang. Dengan maksimal berat badan 400 kg,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Curug Kubang yang Tersembunyi di Cianjur buat Healing di Akhir Pekan



Cianjur

Akhir pekan ini, mari bertualang ke pelosok Cianjur. Di sana ada sebuah curug cantik yang tersembunyi dengan aliran air deras dan menyejukkan.

Cianjur menyimpan segudang permata tersembunyi berupa destinasi yang cantik dan indah. Setelah ramai rumah ‘surga’ Abah Jajang, ternyata ada Curug Kubang di Kecamatan Cibinong yang tak kalah indah bak ‘surga’ di dunia.

Curug Kubang berlokasi di pelosok Kabupaten Cianjur, tepatnya berada di Kampung Liung Gunung, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong.


Untuk sampai ke Curug Kubang yang memiliki tinggi 100 meter ini, kita dapat melalui Jalur Selatan Cianjur dengan jarak tempuh sejauh 96 kilometer dari pusat Kota Santri.

Selain itu, wisatawan juga bisa melalui jalur Ciwidey yang jarak tempuhnya sekitar 86 kilometer dari Kota Bandung.

Curug ini juga tidak jauh dengan lokasi Curug Citambur, yakni sekitar 12 kilometer. Namun lantaran aksesnya masih rusak, waktu tempuh dari Citambur menuju Curug Kubang dapat memakan waktu hingga 1 jam lebih.

Pesona Curug Kubang sangat indah, tingginya air terjun tersebut membuatnya begitu indah dengan butiran embun yang mengitari dasar curug.

Curug ini juga dikelilingi gunung-gunung dan hutan yang asri. Tak hanya itu, hamparan persawahan juga makin mempercantik curug itu.

Apalagi, curug ini juga dekat dengan pemukiman warga dengan rumah panggung yang masih tradisional. Wisatawan dapat menikmati pesona curug dari halaman rumah warga yang hanya berjarak kurang dari 100 meter dari curug.

Pengelola curug Kubang Suhendra mengatakan, pesona curug Kubang memang sangat indah dan akan memanjakan mata pada wisatawan.

“Alamnya juga masih asri, sehingga curug dengan alam di sekitarnya yang indah memang layaknya surga dunia dan permata tersembunyi di pelosok Kota Santri,” kata dia, Selasa (3/12/2024).

Dia menjelaskan, curug Kubang juga masih belum setahun ditata dan dikelola, sehingga kawasannya masih sangat alami.

“Ini baru ditata sekitar setahun lalu. Masih sangat baru. Tapi wisatawan yang datang sudah banyak, sehari bisa sampai 100 lebih wisatawan dari dalam kota, Bandung, hingga Jakarta,” kata dia.

Bahkan saat ini wisatawan tidak dikenakan karcis ataupun tiket masuk. Begitupun untuk menginap, warga tidak mematok harga bagi wisatawan yang ingin menginap di rumah-rumah tradisional di sekitar curug.

“Untuk saat ini masih free, di sini juga ada homestay yang bayar seikhlasnya,” kata dia.

Meski begitu, fasilitas di curug Kubang sudah cukup lengkap, mulai dari spot foto, wahana perahu di danau alami, hingga flying fox.

“Selain menikmati curug bisa menikmati berbagai wahana yang ada. Dan curug ini tidak pernah surut meskipun di musim kemarau, pesona dan pemandangannya tetap indah,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Profil Gunung Padang, Situs Megalitik Tertua di Indonesia



Cianjur

Situs Gunung Padang merupakan punden berundak terbesar di Indonesia. Situs megalitikum tertua ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional (CBN).

Walaupun namanya Gunung Padang, tapi gunung tersebut tidak berlokasi di Padang, Sumatera Barat. Gunung ini justru berada di Cianjur, Jawa Barat.

Lokasi Gunung Padang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Gunung ini memiliki ketinggian 885 meter di atas permukaan laut (MDPL).


Situs Gunung Padang adalah bukti peradaban kuno Indonesia. Situs ini penting untuk diteliti lebih lanjut. Menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, kolaborasi dengan BRIN diperlukan guna menyibak sejarah situs Gunung Padang.

“Banyak yang berpendapat Situs Gunung Padang ini sudah ada sejak belasan hingga puluhan ribu tahun lalu. Situs ini membutuhkan penelitian lebih dalam untuk mengungkap sejarah dan jejak peradaban nenek moyang kita. Kolaborasi dengan BRIN diharapkan mampu mengungkap lebih dalam tentang sejarah situs ini,” ujar Fadli Zon seperti dikutip dari Antara, Kamis (2/1/2025).

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX, Retno Raswaty, menambahkan Situs Gunung Padang adalah salah satu aset budaya yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Untuk itu, upaya pelestarian dan pengembangan situs ini terus dilakukan.

“Kami di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX berkomitmen mendukung pelestarian dan pengembangan situs ini agar generasi mendatang dapat terus menikmati dan mempelajari warisan budaya kita. Harapan kami, Situs Gunung Padang dapat dinobatkan sebagai Warisan Dunia UNESCO, karena nilai sejarah dan arkeologinya yang luar biasa,” imbuh Retno.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon berkunjung ke Situs Gunung PadangSitus Gunung Padang Foto: (dok. Istimewa)

Menteri Kebudayaan pun berharap situs ini tidak hanya dilihat sebagai artefak, tetapi juga menjadi sumber informasi yang akan menambah kecintaan masyarakat terhadap budaya Indonesia.

“Kita ingin Situs Gunung Padang menjadi tempat yang memberikan banyak informasi tentang peradaban masa lalu,” tambah Fadli.

Sejarah Gunung Padang

Gunung Padang pertama kali ditemukan oleh Nicolaas Johannes Krom. Ia adalah orang yang pertama melaporkan keberadaan situs Gunung Padang pada tahun 1914.

Kisah Nicolaas menemukan gunung Padang dimuat dalam tulisannya yang berjudul Rapporten Oudheidkundige Dienst (Buletin Dinas Kepurbakalaan).

Gunung Padang bukan gunung yang aktif. Kawasan Gunung Padang tercatat sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Bentuk punden berundak situs ini mencerminkan zaman megalitikum yang terdiri dari lima teras dan tersusun dengan berbagai ukuran.

Dengan luas sekitar 291.800 meter persegi, Situs Gunung Padang telah diakui sebagai salah satu warisan budaya yang penting di Indonesia.

Dinamakan gunung Padang karena kata ‘Padang’ merupakan sebuah akronim dari beberapa kata. “Pa” berarti tempat, “Da” artinya besar atau agung, dan “Hyang” bermakna leluhur.

Ketika ketiga kata tersebut disusun, maka akan menjadi kata “Padang” yang artinya “Tempat Agung Para Leluhur”.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Simbol Perjuangan, Toleransi, dan Kemanusiaan



Cianjur

Di Jalan Moch Ali No. 64, Cianjur terdapat sebuah rumah berwarna hijau yang berusia hampir satu setengah abad. Lokasinya agak menjorok sekitar 10 meter dari jalan raya dan dikelilingi pepohonan yang cukup rimbun sehingga seperti tersembunyi.

Rumah yang dibangun pada 1886 ini merupakan kediaman Bupati Cianjur ke-10 RAA Prawiradiredja II yang berkuasa pada 1864-1910. Sejak 2010 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan rumah ini sebagai Benda Cagar Budaya Nasional.


“Di masa pendudukan Jepang menjadi basis pergerakan PETA (tentara Sukarela Pembela Tanah Air). Tokohnya antara lain Gatot Mangkoepraja dan Raden Ayu Tjitjih Wiarsih (anak dari Bupati Prawiradiredja II) selaku pemilik waris rumah in,” kata Rachmat Fajar, cucu buyut Prawiradiredja II saat menerima rombongan Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Bogor, Rabu (20/8/2025).

Rachmat Fajar, cucu buyut Prawiradiredja II saat menerima rombongan Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Bogor, Rabu (20/8/2025).Rachmat Fajar, cucu buyut Prawiradiredja II saat menerima rombongan Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Bogor, Rabu (20/8/2025). (Sudrajat)

Pada 1963, Bumi Ageung Cikidang pernah menjadi tempat singgah dan perlindungan ratusan warga Tionghoa. Umumnya mereka para orang tua, perempuan, dan anak-anak.

Kala itu terjadi kerusuhan yang bermula dari keributan di kampus Institut Teknologi Bandung. Entah kenapa dan siapa yang menggerakkan lalu pecah menjadi kerusuhan di Cirebon yang merembet ke tempat lain seperti Bogor, Cianjur, Sukabumi, Garut, Cipayung, dan beberapa daerah di provinsi lain.

Kala itu,kata Fajar, warga pribumi mengeluarkan barang-barang milik dari pertokohan di sekitar Pecinan lalu membakarnya. Tidak ada yang menjarah dan tindakan kriminal lainnya, orang-orang Tionghoa juga tidak menjadi sasaran amuk massa. “Namun karena ketakutan banyak warga Tionghoa akhirnya memilih bermalam di rumah ini,” kata Fajar.

Rachmat Fajar, cucu buyut Prawiradiredja II saat menerima rombongan Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Bogor, Rabu (20/8/2025).Potret Prawiradiredja II (Sudrajat)

Sebelum dikenal dengan sebutan Bumi Ageung Cikidang, rumah seluas 510m2 di atas lahan lebih dari 3.000 m2 itu, lebih dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Rumah Dokter Toki Syamsudin. Di rumah ini lah warga yang sakit datang untuk berbobat dengan ongkos sangat murah.

“Jadi Ayah saya itu tidak pernah menetapkan tarif berobat, seikhlasnya saja. Karena itu bisa disebut ini rumah kemanusiaan. Ayah prakek di rumah ini dari 1970an – 2015, beliau juga salah seorang pendiri RSUD Cianjur,” kata Fajar.

Rumah ini dominan terbuat dari kayu. Bukan kayu Jati, tapi Rasamala. Maklum, kayu yang juga populer dengan sebutan Gadog ini di Jawa Barat banyak ditemukan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Untuk dinding luar, kusen pintu dan kusen jendela, tiang struktur utama dan balok struktur terbuat dari kayu Rasamala.

Meski kualitasnya masih di bawah kayu Jati tapi Rasamala tergolong tahan rayap. Teksturnya yang cenderung halus membuatnya tak perlu lagi diamplas terlalu lama sehingga cukup baik digunakan untuk dinding.

Untuk dinding ruangan dalam utama, menurut Fajar, terbuat dari anyaman pohon kajang yang dimensinya lebih kecil dan teksturnya lebih halus daripada bilik. Sementara langit plafon terbuat dari anyaman bambu (bilik).

Jendela dan pintu rata-rata memiliki tinggi sekitar tiga meter dengan ventilasi krepyak khas era Belanda. Untuk lantai sudah menggunakan tegel bermotif seperti batik.

Sebelum ke Bumi Ageung Cikidang, detikTravel bersama Komunitas Japas yang dipimpin ‘Kuncen Bogor’ Johnny Pinot dan Abdullah Abubakar Batarfie mengunjungi Pabrik Tauco Cap Meong yang legendaris, Pabrik Roti Tan Keng Cu yang khusus melayani para tentara Belanda di era kolonial, dan Istana Cipanas.

(jat/ddn)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Mitos Ikan Raksasa Penguasa Sungai Citarum



Jakarta

Di balik derasnya arus Sungai Citarum, yang terbentang sejak Kabupaten Bandung-Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tersimpan sebuah kisah yang turun-temurun diceritakan warga sekitar. Konon, di dasar sungai itu hidup seekor ikan raksasa, makhluk gaib yang dipercaya sebagai penguasa Sungai Citarum.

Kisah itu bermula dari Desa Cihea. Di desa itu di bagian Sungai Citarum ada sebuah leuwi atau bagian sungai yang dalam bernama Leuwi Dinding. Karena dalam, air di Leuwi Dinding nyaris selalu dalam keadaan tenang. Airnya juga bersih.

Leuwi itu ada penunggunya. Dia Kiai Layung.


Kiai Layung adalah makhluk air berupa ikan kancra raksasa. Jika umumnya kancra berukuran kecil-sedang, maka Kiai Layung adalah pengecualian. Dia berukuran jumbo, dibilang sebagai ikan raksasa.

Dikutip dari detikjabar, dalam “Asal-usul Hayam Pelung jeung Dongeng-dongeng Cianjur Lianna” tulisan Tatang Setiadi (2011), disebutkan mitos Kiai Layung, kancra raksasa penguasa Sungai Citarum itu.

Siapa Kiai Layung?

Kiai Layung dipercaya sebagai orang sakti yang kena hukuman dari dewata karena orang tersebut berambisi menjadi yang terkuat di bumi dan ingin menguasai surga. Dalam masa hukuman itu, Kiai Layung Harus menjalani ritual berjemur di bawah sinar matahari senja atau dalam bahasa Sunda disebut layung.

Maka, tiap pagi hingga petang, Kiai Layung muncul ke bawah permukaan air dan berjemur di dekat batu pipih di sana. Bertahun-tahun, dia hidup tenang di leuwi itu bersama ikan-ikan kancra.

Diganggu Badak

Hingga kemudian petaka itu muncul. Kiai Layung dan ikan kancra terusik dengan kehadiran badak-badak yang berenang dan berkubang tanpa etika di sekitar Leuwi Dinding. Akibatnya, banyak ikan-ikan kancra mati terinjak, tempat berenang ikan-ikan itu juga menjadi keruh ulah para badak.

Meskipun bekas orang sakti, Kiai Layung yang kini berwujud ikan tidak kuasa untuk mengusir badak-badak bertubuh besar dan memiliki tenaga yang kuat. Dia pun kemudian meminta bantuan kepada manusia. Dengan “Aji Panggentra” yang masih dimiliki, Kiai Layung yang ikan kancra itu memanggil manusia bernama Kiai Padaratan.

Bantuan Orang Sakti

Kiai Padaratan merespons dan bergegas menuju Leuwi Dinding. Setelah berada di Leuwi Dinding, Kiai Padaratan segera menyadari bahwa yang meminta pertolongan kepadanya adalah ikan kancra raksasa yang sedang berjemur di dekat batu. Mereka pun berbincang dan Kiai Padaratan bersedia mengusir badak-badak itu.

Sebelum menjalankan misi itu, mereka membuat kesepakatan. Kiai Layung minta kehidupan yang tenang sebagai ikan kancra sedangkan Kiai Padaratan mendapatkan air dan segala kehidupan yang terkandung di dalam sungai itu untuk kelangsungan hidup manusia.

Kiai Padaratan berhasil mengusir badak-badak itu. Hingga kini, diyakini Kiai Layung bisa berjemur setiap hari dengan damai di Leuwi Dinding di Sungai Citarum itu. Sementara itu, warga sekitar bisa mengambil air dan memanfaatkan isi leuwi di sana.

(fem/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Berproduksi Selama 140 Tahun, Cap Meong Jadi Legenda Tauco Cianjur



Jakarta

Kelezatan tauco Cap Meong bertahan sejak 1880 hingga sekarang. Dirintis suami – istri asal Tionghoa, usaha ini dikelola generasi kelima.

Saat traveler pelesiran ke Cianjur, Jawa Barat tak afdol kiranya bila tak menjadikan tauco sebagai oleh-oleh. Sebab, di kota inilah bumbu masak berbahan dasar fermentasi kacang kedelai ini pertama kali diproduksi, yakni sejak 1880.

Tak heran bila pemerintah daerah setempat sampai membuatkan tugu khusus berupa empat botol tauco berukuran jumbo di persimpangan Jalan Dr Muwardi dan Jalan HOS Cokroaminoto.

Orang yang pertama kali memperkenalkan tauco adalah pasangan imigran asal tionghoa, Tan Kei Hian (Babah Tasma) dan Tjoa Kim Nio. Suami istri itu memulai usaha tauconya dari industri rumahan.


Nah, setelah masyarakat mulai menggemari, barulah produksi diperbanyak. Uniknya, Tan dan Tjoa membuat tauco dengan rasa berbeda. Kalau Babah Tasma rasa tauconya cenderung manis, Ny. Tasma lebih menyerap selera lokal, menyuguhkan rasa asin.

Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

“Saat mereka bercerai, Babah Tasma memberi label produksi tauconya Cap Gedong, sedangkan Nyonya Tasma menggunakan Cap Meong,” tutur Rachmat Fajar saat memandu 50 anggota Komunitas Japas (Jalan Pagi Sejarah) Bogor yang berkunjung ke toko tauco Cap Meong di Jalan HOS Cokroaminoto No 160 Cianjur, Rabu (20/8/2025).

Sejak bertahun lalu, Cap Gedong sudah jarang ditemui di pasaran. Mungkin sudah tak diproduksi lagi. Begitu juga dengan tauco merek lain seperti Biruang, Badak, dan Harimau. yang meredup sejak beroperasinya jalan tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) pada 2005.

Bentuk bangunan toko Cap Meong tampak sederhana, khas rumah toko milik orang Tionghoa tempo dulu. Di depannya terpampang papan nama bertuliskan ‘Tauco No. 1 buatan Nyonya Tasma Cap Meong’. Penggunaan kata dan gambar Meong menurut cerita turun-temurun warga sekitar, kata Fajar, karena pada suatu hari di kediaman Babah dan Nyonya Tasma terdapat bekas tapak hewan tersebut.

“Meong itu sebetulnya bukan kucing, dia ukurannya lebih besar tapi juga tidak sebesar macan atau harimau,” kata Fajar yang merupakan cucu buyut Bupati Cianjur ke-10, RA Aria Prawiradiredja.

Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

Terkait asal usul tauco di Nusantara, Darma Ismayanto menuliskannya dalam Majalah Historia No. 11 Tahun I yang terbit pada 2013. Ia antara lain merujuk ‘History of Miso and Soybean Chiang’ karya William Shurtleff and Akiko Aoyagi. Di Nusantara, referensi pertama mengenai tauco dapat dirunut dari tulisan seorang ilmuwan Belanda, Prinsen Geerligs pada 1895-1896. Geerligs menyebutnya tao tsioe dalam artikel Belanda pada 1895 dan tao tjiung dalam artikel Jermannya pada 1896.

Dalam tulisannya, Shurtleff and Aoyagi juga mengatakan kalau tauco masih berhubungan dengan jiang, bumbu masak asal Tiongkok. Diperkirakan berasal sebelum Dinasti Chou (722-481 SM), jiang diklaim sebagai bumbu tertua yang diketahui manusia. Awalnya dikembangkan sebagai cara melestarikan makanan kaya protein hewani untuk digunakan sebagai bumbu.

Dari situ, bangsa-bangsa Asia Timur juga menemukan bahwa ketika seafoods dan daging (kemudian kedelai) yang asin atau direndam dalam campuran garam dan anggur beras (atau air), protein mereka dipecah oleh enzim menjadi asam amino, yang pada gilirannya dapat merangsang selera makan manusia, serta dapat digunakan sebagai penambah rasa makanan lain.

Cap Meong, legenda Tauco CianjuCap Meong, legenda Tauco Cianjur (Sudrajat/detikcom)

Saat ini manajemen pengelolaan tauco Cap Meong sudah oleh generasi kelima. Namanya Stefany Tasma, putri Harun Tasma (generasi keempat) yang lebih banyak tinggal di Tangerang. “Tapi dia lebih sering tinggal di Tangerang,” kata Abdul Raup, yang mengaku telah 35 tahun bekerja di Nyonya Tasma.

Sebagai generasi penerus berlatar pendidikan manajemen perguruan tinggi, Stefany disebut memberikan sentuhan kekinian dalam pemasaran, seperti kemasan yang berwarna, desain label yang lebih modern, diversifikasi produk olahan berbahan tauco, membuka outlet baru yang lebih luas dan strategis di Gn Lanjung Km 5, Cugenang, memperkenalkan sistem penjualan online, hingga mempromosikan seluk belum tauco lewat media sosial seperti Instagram.

(jat/fem)



Sumber : travel.detik.com