Tag Archives: cirebon

Menengok Masjid Tempat Berkumpulnya Wali Songo di Cirebon



Cirebon

Masjid Jagabayan merupakan salah satu masjid bersejarah di Cirebon. Masjid ini pernah menjadi tempat berkumpulnya Wali Songo.

Masjid Jagabayan terletak di Jalan Karanggetas, Kota Cirebon. Ketika detikJabar datang ke sana, juru kunci Masjid Jagabayan, Muhammad Faozan, menjelaskan sejarah berdirinya masjid ini.

Masjid Jabayan rupanya dibangun Pangeran Nalarasa. Dia merupakan utusan Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran.


Awalnya, Pangeran Nalarasa diperintahkan untuk mencari putra Prabu Siliwangi yakni Pangeran Walangsungsang. Pencarian dilakukan setelah beredar kabar ada kerajaan baru yang berdiri tanpa seizin Padjajaran.

Akan tetapi, begitu sampai di Cirebon, Pangeran Nalarasa tak menemukan kerajaan itu. Pangeran Nalarasa malah menemukan pondok tempat santri belajar agama.

“Ternyata cuma ada pondok-pondok tempat orang mengaji dan secara tidak sengaja bertemu dengan Pangeran Walangsungsang tetapi Pangeran Nalarasa tidak menyadari bahwa yang ia temui adalah Pangeran Walangsungsang yang ia cari,” kata Faozan.

Pertemuan tersebut malah membuat Pangeran Nalarasa tertarik terhadap ajaran islam. Sehingga, Pangeran Nalarasa masuk islam di bawah bimbingan Pangeran Walangsungsang.

“Jadi bukannya membawa Pangeran Walangsungsang pulang, Pangeran Nalarasa malah masuk islam,” ujarnya.

Setelah masuk Islam Pangeran Nalarasa bertemu dengan Sunan Gunung Jati. Oleh Sunan Gunung Jati Pangeran Nalarasa diberikan sebuah gelar Tumenggung Pangeran Jagabayan yang arti seorang yang menjaga dari bahaya.

“Pada masa itu beliau langsung mendirikan sebuah Pos Penjagaan yang nantinya menjadi sebuah masjid dengan bentuk persegi,” katanya.

Pos itu jadi cikal bakal berdirinya masjid pada tahun 1437. Menurut Faozan, masjid Jagabayan juga kerap digunakan untuk berkumpulnya para Wali Songo.

“Masjid yang didirikan oleh Pangeran Jagabayan tersebut konon sering digunakan oleh para Wali Sanga untuk berkumpul karena pada masa itu masjid Sang Cipta Rasa yang ada di Keraton masih belum didirikan,” katanya.

Berita ini sudah tayang di detikJabar.

(pin/pin)



Sumber : travel.detik.com

Hadiah Raffles untuk Sultan Cirebon, Pernah Jadi Penanda Waktu Salat



Cirebon

Tahukah kamu, Thomas Stamford Raffles pernah memberikan hadiah kepada Sultan Cirebon sebuah lonceng. Lonceng itu pernah jadi penanda waktu salat.

Menurut Pustakawan Wangsakerta Keraton Kanoman Cirebon, Farihin lonceng di atas bangunan bernama Gajah Mungkur tersebut merupakan pemberian dari Thomas Stamford Raffles kepada Kesultanan Kanoman.

Dikisahkan, saat Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda, beliau pernah mendatangi Keraton Kanoman yang pada masa itu dipimpin oleh Sultan Komaruddin I atau Sultan Kanoman ke VI.


Saat itu, Raffles datang dengan membawa tiga hadiah yaitu mesin jahit, kacip atau alat pemotong cerutu dan sebuah lonceng besar.

Oleh Sultan Komaruddin I lonceng tersebut diletakkan di atas bangunan Gajah Mungkur. Karena diletakan di bangunan Gajah Mungkur dan merupakan pemberian dari Raffles, lonceng tersebut sering dikenal sebagai lonceng Gajah Mungkur atau lonceng Raffles yang dinamai dari nama tempat dan pemberi lonceng.

Ditempatkannya lonceng tersebut di bangunan Gajah Mungkur bukan tanpa alasan. Farihin mengatakan, ditaruhnya lonceng pemberian Raffles tersebut di bangunan Gajah Mungkur menandakan Sultan Komaruddin I kurang menyukai Raffles yang notabene merupakan antek Belanda.

“Gajah itu binatang, Mungkur itu belakang. Jadi ibaratnya walaupun mukanya menghadap, tapi hatinya tidak suka,” tutur Farihin.

Gajah Mungkur jika diartikan dalam bahasa Indonesia, berarti pantatnya atau belakangnya gajah. Simbol pantat gajah ini diibaratkan meskipun Sultan mukanya menghadap Raffles, tapi tidak dengan hatinya.

Sikap Sultan Komarudin I yang seperti ini bukan tanpa alasan. Selain karena Raffles seorang penjajah, pada masa itu, oleh sebagian masyarakat, lonceng sering dikaitkan dengan kepentingan kolonial di wilayah Keraton Kanoman.

“Lonceng itukan identik dengan agama Kristen, adanya lonceng ini ditafsirkan oleh sebagian orang sebagai upaya kristenisasi di kalangan keraton,” kata Farihin.

Difungsikan Sebagai Penanda Waktu Salat

Pada saat masih berfungsi, lonceng itu sering digunakan sebagai penanda waktu sholat. Namun sejak tahun 1970 kondisi lonceng sudah mulai rusak, sehingga tidak digunakan lagi sebagai penanda waktu sholat.

Traveler yang berminat untuk melihat secara langsung lonceng Raffles atau lonceng Gajah Mungkur dapat mendatangi Keraton Kanoman yang berada di Jalan Kanoman, Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Tengger Ciut, Lahan yang Terlarang di Cirebon



Cirebon

Selain warganya pantang jualan nasi, desa Slangit di Cirebon masih menyimpan sebuah mitos lain. Ada lahan yang terlarang untuk dimanfaatkan warga. Kenapa?

Di desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon ada banyak mitos yang dipercayai oleh warga setempat. Larangan untuk berjualan nasi bagi warganya adalah salah satunya.

Di desa Slangit, ada satu mitos lagi yang dipercaya oleh masyarakat setempat, yaitu sebuah lahan yang konon tidak boleh digunakan atau dimanfaatkan oleh siapapun.


Warga desa setempat mengenal lahan ‘terlarang’ itu dengan nama Tengger Ciut. Lokasinya berada di antara area persawahan yang ada di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.

Hingga kini, lahan tersebut tidak ada yang memanfaatkan dan hanya dibiarkan begitu saja. Kondisinya hanya dipenuhi oleh rumput maupun tanaman liar.

Adi Sucipto (55), salah seorang warga setempat mengatakan, tengger ciut merupakan sebuah lahan milik pemerintah desa setempat. Lahan tersebut memiliki luas sekitar 2,4 Hektare.

“Tanahnya (lahan tengger ciut statusnya) punya desa. Luasnya kurang lebih 2,4 Hektare,” kata Adi di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, belum lama ini.

Sepintas, tidak ada yang aneh dari lahan tersebut. Namun, tidak ada padi ataupun sayuran yang ditanam di lahan tersebut. Padahal, di sekitarnya banyak lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk menanam padi maupun sayuran-sayuran.

Adi yang pernah menjabat sebagai perangkat Desa Slangit itu mengatakan, lahan tersebut sebenarnya sempat beberapa kali digunakan untuk berbagai keperluan. Seperti digunakan untuk membangun rumah, dipakai sebagai lapangan olahraga, hingga dimanfaatkan untuk mendirikan kandang ternak milik warga.

Namun, penggunaan lahan tersebut selalu tidak berlangsung lama. Berbagai keanehan selalu muncul ketika lahan tersebut mulai digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat.

Tengger Ciut di Desa Slangit Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.Tengger Ciut di Desa Slangit Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ony Syahroni/detikJabar

Seperti contohnya ketika lahan tersebut digunakan untuk membangun rumah. Saat menempati rumah yang dibangun di atas lahan tersebut, para penghuninya pun selalu mengalami kejadian-kejadian aneh.

“Sekitar tahun 1970-an di lahan itu pernah dibangun rumah khusus untuk orang tidak mampu. Tapi apa yang terjadi. Selama menempati rumah itu banyak gangguan-gangguan gaib. Akhirnya mereka ngga kuat,” kata Adi.

Pernah Jadi Lapangan Bola, Banyak yang Cedera

Selain itu, berbagai kejadian juga kerap muncul ketika lahan tersebut dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai lapangan sepak bola. Selama digunakan, tidak jarang ada pemain yang mengalami cedera maupun luka.

“Lahan itu pernah dicoba juga digunakan untuk lapangan sepak bola. Dan sama, banyak kejadian juga. Sering ada yang keseleo dan patah tulang. Akhirnya tidak digunakan lagi,” kata Adi.

Pernah Juga untuk Kandang Kerbau

Selanjutnya beragam peristiwa di luar nalar pun sering terjadi ketika lahan yang dikenal dengan nama Tengger Ciut itu digunakan untuk mendirikan kandang peternakan kerbau milik warga.

“Di Desa Slangit itu dulu ada peternak kerbau. Kalau jaman dulu kan sebelum ada traktor, membajak sawah itu masih pakai kerbau. Jadi dulu di Desa Slangit itu banyak peternak kerbau. Dan waktu itu oleh desa difasilitasi (lahan),” kata dia.

“Jadi (pemerintah) desa mempersilakan para peternak kerbau (menggunakan lahan). Gratis. Di lahan itu juga, namanya Tengger Ciut,” ucap Adi menambahkan.

Setelah digunakan untuk mendirikan kandang peternakan kerbau, berbagai kejadian aneh pun sering terjadi. Para peternak kerap mendapati kerbau milik mereka yang keguguran.

“Kalau bahasa sini sih kerbaunya itu runtuh. Kalau bahasa Indonesianya itu kerbaunya keguruan. Pokoknya banyak kejadian-kejadian tidak normal,” kata dia.

Akibat banyaknya kejadian-kejadian aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan logika di Tengger Ciut, hingga kini tidak ada yang memanfaatkan lahan tersebut. Saat ini, lahan itu hanya dibiarkan begitu saja.

Kondisinya pun terlihat banyak ditumbuhi oleh rumput maupun berbagai tanaman liar lainnya. Warga desa hanya menggunakan lahan tersebut sebagai tempat menggembala hewan ternak maupun mengambil rumput.

“Sekarang (Tengger Ciut) paling dimanfaatkan buat gembala (hewan ternak) atau buat ngambil rumput aja. Kalau itu nggak apa-apa,” kata Adi.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah 2 Kepala Harimau di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon



Cirebon

Di Cirebon, ada masjid kuno berusia ratusan tahun, yaitu Masjid Sang Cipta Rasa. Di bagian mimbarnya, ada 2 kepala harimau bermakna filosofis. Seperti apa?

Imam Besar Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon, KH Muhammad menuturkan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang hingga kini masih berdiri tegak dibangun oleh para Wali Songo dengan tempo sehari semalam pada tahun 1480.

“Masjid ini sudah berusia ratusan tahun yang dibangun oleh para wali dibantu 500 orang dari kerajaan Demak, Majapahit dan Cirebon,” terangnya, Rabu (13/3/2024).


Secara arsitektur, ia menjelaskan, bila bangunan masjid ini sudah berkonstruksi anti gempa. Hal itu ditandai dengan tidak ada cabang pada pondasi masjid.

“Kalau melihat dari pondasi yang tidak memiliki cabang bangunan masjid ini anti gempa,” ucapnya.

Selain itu, terdapat banyak juga ornamen dari berbagai etnis di masjid ini sebagai tanda pluralisme mulai dari negara Arab, Cina, dan Portugis.

“Masjid ini punya beberapa ornamen mulai dari negara Arab, Cina, sama Portugis. Sudah sejak lama Cirebon dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi ditandai dengan sejumlah ornamen yang ada di rumah ibadah,” terangnya.

Alasan penamaan masjid tidak menggunakan bahasa Arab, Jumhur menyampaikan karena sebagai simbol nilai pluralisme yang dijunjung tinggi oleh para wali.

“Penamaan masjid pun tidak menggunakan bahasa Arab karena mengikuti zamannya karena sebagai bukti pluralisme,” ujarnya.

Sedangkan di sudut lain, tepatnya pada bagian mimbar, terdapat dua kepala harimau yang memiliki makna filosofi tersendiri.

“Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki keunikan dimana terdapat dua kepala harimau yang terletak di bawah mimbar. Hal ini sebagai bila sudah berbicara harus berani untuk mempertanggungjawabkan,” tegasnya.

Inilah sepenggal bukti akan penyebaran agama islam di kota Udang dan romantisme Sunan Gunung Jati terhadap sang istrinya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa.Masjid Agung Sang Cipta Rasa Foto: Sudirman Wamad

Uniknya lagi, jumlah pintu di masjid ini tidak hanya satu. Melainkan terdapat sembilan pintu dengan desain sederhana namun mempunyai makna yang cukup dalam.

“Kenapa ada 9, karena setiap wali memiliki pintu masuk masing-masing,” paparnya.

Masjid yang didesain langsung oleh Sunan Kalijaga ini banyak memiliki keunikan lainnya. Seperti rendahnya ukuran pintu masjid, ia menuturkan karena memiliki pesan untuk merendahkan diri sebelum menghadap sang kuasa.

“Makna pintu rendah itu jangan sombong kepada sang kuasa apalagi kalau mau menghadap-Nya,” bebernya.

Aktivitas di Masjid Sang Cipta Rasa Selama Bulan Ramadan

Selama bulan Ramadan, biasanya masjid ini selalu dipadati oleh jamaah yang melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah.

Tidak sedikit juga jamaah yang melakukan tadarus Al Qur’an selama bulan suci Ramadan. Biasanya pada sore hari dan setelah menjalankan ibadah shalat tarawih.

Bilamana sudah masuk pada malam Lailatul Qodar biasanya masjid ini lebih padat lagi dibandingkan sebelumnya. Pasalnya banyak dari jamaah yang melakukan itikaf di masjid yang satu ini.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Anak Sunan Gunung Jati Nyaris Dihukum Mati karena Sujud 7 Hari



Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid legendaris yang ada di Cirebon. Berdiri pada tahun 1480, dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati yang dibantu oleh Sunan Kalijaga bersama Raden Sepat dari Majapahit sebagai arsiteknya.

Meski sudah berusia ratusan tahun, Masjid Agung Sang Cipta Rasa masih kokoh berdiri. Selain arsitekturnya yang unik, Masjid Sang Cipta Rasa juga memiliki segudang kisah yang menarik untuk diulas lebih jauh.

Salah satu adalah kisah tentang Pangeran Jaya Kelana yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati yang hampir dihukum mati.


Pegiat sejarah dan naskah kuno, Farihin bercerita, Pangeran Jaya Kelana merupakan saudara dari Pangeran Brata Kelana yang tewas di lautan. Mereka berdua merupakan anak Sunan Gunung Jati dari istrinya yang bernama Syarifah Baghdad. Adik dari Pangeran Panjunan.

Berbeda dengan saudaranya, Pangeran Jaya Kelana dikenal sebagai anak yang memiliki kemampuan khusus alias majdub. Majdub diartikan sebagai seseorang yang dekat dan cinta dengan Allah SWT. Hal ini membuat beberapa sikap dari Pangeran Jaya Kelana yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.

Salah satu sikap Pangeran Jaya Kelana yang membuat bingung masyarakat Cirebon adalah ketika Pangeran Jaya Kelana menjadi imam di Masjid Sang Cipta Rasa. Ketika melakukan gerakan sujud, Pangeran Jaya Kelana tidak kunjung bangun dari sujudnya. Konon, selama tujuh hari Pangeran Jaya Kelana tidak bangun dari sujudnya.

“Dalam situasi masyarakat ataupun orang-orang baru masuk Islam dihadapkan dengan kasus seperti itu, ini kan membingungkan umat,” tutur Farihin belum lama ini.

Melihat sikap Pangeran Jaya Kelana yang membingungkan umat, Sunan Gunung Jati dan para jaksa Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Kejaksaan, hampir menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Jaya Kelana.

Padahal, Pangeran Jaya Kelana statusnya putra mahkota yang akan melanjutkan takhta Kesultanan Cirebon setelah Sunan Gunung Jati wafat. Namun, hukuman mati tersebut diurungkan, mengingat beliau melakukan hal tersebut dalam kondisi tidak sadar.

“Tapi karena mempertimbangkan beliau mengimami seperti itu bukan karena kesadaran beliau. Tapi karena ketidaksadaraan, yang masuk dalam posisi fana. Akhirnya hukuman mati dibatalkan,” tutur Farihin.

Sebagai ganti dari hukuman mati. Setelah bermusyawarah, para jaksa Kesultanan Cirebon bersepakat agar Pangeran Jaya Kelana, diwajibkan untuk membayar diyat atau denda berupa emas seberat badan Pangeran Jaya Kelana. Hukuman yang diberikan kepada Pangeran Jaya Kelana didasarkan pada kitab hukum bernama Kitab Adilullah.

Menurut Farihin, tegasnya sikap Sunan Gunung Jati kepada anak sendiri, karena ditakutkan sikap Pangeran Jaya Kelana yang seperti itu akan ditiru oleh masyarakat umum.

“Sementara kalau Sunan Gunung Jati mazhabnya Syafii yang sangat begitu ketat dengan urusan syariat. Sehingga, hampir dihukum mati yah karena parah. Meskipun tidak sengaja, tapi tidak bisa lepas dari hukum juga,” tutur Farihin.

Kisah Jaya Kelana yang sujud tidak bangun-bangun. Membuat ada satu pesan Sunan Gunung Jati yang sampai sekarang masih dipercayai, yakni jangan menjadi imam di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut Farihin, pesan itu keluar dalam konteks membicarakan anaknya Pangeran Jaya Kelana.

“Nah mungkin waktu itu konteksnya anaknya beliau Jaya Kelana,” pungkas Farihin.

Artikel ini telah tayang di detikJabar

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Alun-alun Sangkala Buana, Tempat Paling Menakutkan bagi Warga Cirebon



Cirebon

Zaman dahulu, Alun-Alun Sangkala Buana jadi tempat yang sangat ditakuti oleh warga Cirebon, karena jadi lokasi eksekusi para narapidana. Bagaimana kisahnya?

Alun-Alun Sangkala Buana terletak di depan keraton Kasepuhan Cirebon. Karena letaknya di bagian depan keraton, alun-alun ini sering disebut sebagai Alun-Alun Kasepuhan.

Setelah direnovasi pada tahun 2022, Alun Alun Kasepuhan berubah menjadi lebih ciamik. Di setiap sisi alun-alun terdapat gapura dengan susunan bata merah.


Setiap hari, Alun-Alun Kasepuhan menjadi destinasi favorit warga Cirebon untuk menghabiskan waktu luang. Di Alun-Alun terdapat banyak pedagang dan permainan yang bisa pengunjung nikmati. Hampir setiap waktu, alun-alun Kasepuhan tidak pernah sepi pengunjung.

Namun di balik ramainya Alun-Alun Kasepuhan sekarang, dahulu pada zaman kolonial Hindia Belanda, Alun-Alun Kasepuhan jadi tempat yang ditakuti oleh masyarakat Cirebon.

Hal itu terlihat dalam berita yang ditulis oleh koran Belanda De Avondpost Edisi 5 Juni 1926.

Aan de noordzijde van het plein van Kasepochan te Cheribon, nog geen 20 meters van de straat en bijna recht tegen- over den ingang van den Kraton, zijn twee zware, stevig ingemetselde djati- houten palen, die een hoogte hebben van ongeveer anderhalven meter. Deze palen, waarvoor sommige Cheribonners van inlandsche nationaliteit nog een hei- lige vrees koesteren, waarheen velen elen op den, malem djoemahat” en andere heilige dagen kleine offers brengen, zijn onder het volk bekend onder den naam van,, tiang hoekoem sara’,” tulis koran Avondpost.

Dalam bahasa Indonesia berarti, Di sisi utara Alun-Alun Kasepuhan, kurang dari 20 meter dari jalan raya dan hampir berhadapan langsung dengan pintu masuk Keraton. Terdapat dua tiang kayu jati yang berat dan terbuat dari batu bata, tingginya sekitar satu setengah meter.

Tiang-tiang ini, yang masih ditakutkan oleh sebagian penduduk Cirebon yang berkewarganegaraan asli, dan banyak yang melakukan pengorbanan kecil pada malam jumat dan hari-hari suci lainnya, dikenal di kalangan masyarakat sebagai tiang hukum syariat.

Selanjutnya, dalam koran Belanda yang sama, juga menyebutkan, tentang kondisi tiang yang kayu yang digunakan untuk hukuman bagi masyarakat yang melanggar hukum syariah. Tertulis, meski tiang kayu tersebut sudah lapuk, tetapi karena bahan yang digunakan sangat keras, tiang kayu masih bisa bertahan di tengah angin dan cuaca. Diperkirakan tiang kayu masih dapat bertahan selama beberapa tahun mendatang.

Tidak diketahui secara pasti, sejak kapan tiang-tiang tempat eksekusi narapidana pelanggar hukum syariat berada di alun-alun. Tapi menurut cerita bangsawan keraton Kasepuhan, tiang tersebut diduga, didirikan sejak era Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran.

Diceritakan pula, bagaimana proses eksekusi terpidana berlangsung, yakni dengan diikat tangan dan kaki di salah satu tiang dalam posisi berdiri. Ada pula yang menanggalkan pakaiannya terlebih dahulu, lalu bagian tubuhnya seperti jari dipotong.

Di sampingnya terdapat pejabat dari keraton, yang berdiri di dekat narapidana yang akan dieksekusi. Setelah di eksekusi, luka akibat pemotongan kemudian dioleskan garam dan air asam jawa, oleh pejabat keraton yang ada di dekatnya.

Dalam koran Belanda yang lain, Delf edisi 6-9 -1926 juga disebutkan, pasca Hindia Belanda mulai merampas kekuasaan sultan di Cirebon. Mereka mencoba untuk menghapuskan hukuman mati kepada narapidana, menurut mereka hukuman mati kepada narapidana adalah hal yang kejam dan barbar.

Ketika pemerintah Hindia Belanda akan membangun perumahan di dekat alun-alun. Pemerintah Hindia Belanda memberi kabar kepada sultan Kasepuhan untuk menghilangkan kedua pilar tempat eksekusi.

Sebagian masyarakat ingin tiang itu segera dihilangkan, tapi sebagian masyarakat khususnya penduduk asli, menuntut agar tiang hukum syariat tetap berdiri sampai angin dan cuaca menghancurkannya. Dan tentunya membutuhkan waktu yang lama.

Men heeft deze palen willen doen ver- dwijnen, doch de Inlanders willen van het wegdoen niets weten en eischen, dat ze zullen blijven staan tot weer en wind ze zullen hebben vernietigd. En dat zal nog wel een tijdje duren,” tulis koran Delf edisi 6-9-1926.

Sebagai upaya agar tidak terlihat menakutkan, pemerintah kota Hindia Belanda membersihkan lapangan Kasepuhan dan memasang hamparan bunga di sebelah utara tiang. Sehingga tiang-tiang tersebut terlihat lebih baik.

Kepala Bagian Informasi dan Parawisata Keraton Kasepuhan Cirebon Iman Sugiman membenarkan jika dulu alun-alun pernah menjadi tempat eksekusi bagi para narapidana yang melanggar hukum syariah.

Menurutnya alun-alun sudah ada sejak abad 15. Selain digunakan sebagai tempat eksekusi, alun-alun juga digunakan sebagai tempat latihan prajurit keraton setiap hari sabtu, atau Sabtonan.

“Alun-Alun Sangkala Buana sudah ada sejak abad ke 15. Letaknya berada di depan utara Siti Inggil. Dahulu fungsinya untuk upacara kebesaran dan acara Sabtonan,” tutur Iman belum lama ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Eksplorasi Wisata Cirebon, Mulai dari Wisata Religi hingga Sports Tourism



Jakarta

Cirebon memiliki beragam destinasi wisata, mulai dari wisata religi, budaya, hingga sports tourism. Kuliner di Cirebon juga tidak bisa diabaikan.

Dikutip dari situs kemendikbud, menurut P.S. Sulendraningrat dalam Sejarah Cirebon (1985), nama Cirebon diambil dengan pendekatan terminologi ekonomi, yakni Cai Rebon, yaitu air produksi udang rebon atau terasi. Bahkan, produksi terasi sampai kini masih dipertahankan masyarakat Cirebon terutama di Pesisir Kecamatan Harjamukti dan Mundu.

Udang rebon hasil tangkapan kemudian diolah menjadi berbagai makanan termasuk terasi dan petis. Kini, olahan itu menjadi salah satu ciri khas olahan udang asal Cirebon dan menjadi oleh-oleh setelah pelesiran dari kota itu.


Sebagai penghasil udang, Cirebon pun dijuluki sebagai kota udang.

Wisata Kuliner

Cirebon memiliki banyak kuliner khas. Mulai dari empal gentong, nasi jamblang, pedesan entog, nasi lengko, hingga es cuwing.

Di antara kuliner itu, empal gentong yang amat lekat dengan Cirebon. Salah satu warung makan empal gentong legendaris di Cirebon adalah Empal Gentong Mang Darma (EGMD) yang sudah berdiri sejak 70 tahun lalu.

Dikutip dari laman resmi Empal Mang Darma, ada tiga lokasi Empang Gentong Mang Darma, cabang satu di Jalan Inspeksi Nomor 7 depan stasiun kereta api. Kemudian, cabang kedua di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 23 Cirebon (pindahan dari sebelah Bank BTN Krucuk) dan cabang tiga di Jalan Jendral Sudirman Nomor 236 Ciperna, Kecamatan, Talun, Kabupaten Cirebon (Samping SD 2).

Selain terkenal karena penghasil udang, Cirebon juga terkenal dengan sebutan lainnya yakni Kota Wali. Sebutan ini merujuk pada dahulu Cirebon menjadi salah satu titik penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya kawasan Jawa Barat.

Wisata Religi

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Cirebon, Senin (27/5/2024), tokoh yang berperan besar dalam persebaran agama Islam di Jawa Barat adalah Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal Sunan Gunung Jati. Lahir di Mekah pada tahun 1448 dari ayah yang bernama Syarif Abdullah dan ibu bernama Nyai Rara Santang, sang ibu merupakan putri dari Raja Pajajaran.

Singkatnya, Syekh Syarif Hidayatullah menjadi Raja Cirebon kemudian mendapatkan gelar Maulana Jati dan sampai saat ini dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Beliau wafat di tahun 1568, peninggalannya pun hingga kini menjadi magnet untuk destinasi wisata religi.

Berikut beberapa wisata religi yang bisa kamu coba saat melancong ke Kota Cirebon.

1. Makam Sunan Gunung Jati

Makam sang penyebar agama Islam ini terletak di Jalan Alun-alun Ciledug No. 53, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Lalu lalang pengunjung yang ingin berziarah ke makam Sunan Gunung Jati ini tak pernah sepi setiap harinya dan makam tersebut jadi salah satu destinasi wisata religi yang paling sering dikunjungi di Kota Cirebon.

2. Masjid Agung Cipta Rasa

Masjid ini dibangun pada saat kepemimpinan Sunan Gunung Jati di tahun 1498, masjid ini berada di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. Masjid Agung Cipta Rasa ini juga disebut sebagai masjid tertua di Cirebon, selain itu bangunan tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang begitu kental.

Peranan penting Sunan Gunung Jati dalam memprakarsai pembangunan masjid ini tak lepas dari bantuan beberapa pihak seperti penunjukan Sunan Kalijaga oleh Sunan Gunung Jati yang ditunjuk sebagai arsiteknya.

Konon, masjid itu dibangun hanya dalam satu malam saja dan dulu masyarakat Cirebon juga menamai masjid ini dengan sebutan Masjid Pakungwati karena terletak dalam komplek Keraton Pakungwati.

Wisata Budaya

Salah satu peninggalan sejarah yang tak boleh luput dari Kota Cirebon salah satunya adalah Keraton Kasepuhan. Keraton Kasepuhan dulu menjadi pusat pemerintahan bagi Kesultanan Cirebon.

Di dalam bangunan itu masih menyimpang berbagai pusaka-pusaka bersejarah warisan budaya Cirebon. Di dalam keraton ini terdapat banyak bangunan dan memiliki nama dan fungsi masing-masing. Di antaranya bangunan di bagian depan keraton yang dinamai Mande Semar Tinandu, Mande Malang Semirang, Mande Karesman, dan Mande Pandawa Lima.

Selain itu, terdapat dua buah patung macam putih. Dua patung macan putih itu merupakan simbol bagi Kesultanan Cirebon.

Selain itu, Keraton Kasepuhan juga memiliki sebuah museum yang menyimpan berbagai macam pusaka bersejarah peninggalan Kesultanan Cirebon. Salah satunya adalah Kereta Singa Barong.

2. Goa Sunyaragi atau Taman Sari Sunyaragi

Goa ini berada di tengah kota Cirebon. Fasadnya mencolok di antara permukiman dan di tepi jalan raya.

Fasad goa ini merupakan perpaduan dinding batu dengan alam pepohonan di sekitarnya yang berwarna hijau.

Gua Sunyaragi merupakan sebuah situs bersejarah di Kota Cirebon. Nama Sunyaragi berasal dari kata sunya yang berarti sepi dan ragi artinya raga. Sebab, goa ini dulu digunakan oleh para Sulta Cirebon untuk meditasi mengatur strategi perlawanan terhadap Belanda.

Jika ingin berkunjung, lokasi Goa Sunyaragi berada di Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat. Jaraknya dari pusat Kota Cirebon sekitar 2,4 kilometer (km) atau 8 menit berkendara

Sports tourism

Dikutip dari Antara, Pemerintah Kota Cirebon saat ini sedang mengembangkan sports tourism yang ditandai dengan ajang balap sepeda ‘Cycling de Jabar 2024’ (25/5). Pj Wali Kota Cirebon Agus Mulyadi mengatakan perhelatan itu sebagai ajang promosi bagi pariwisata di Cirebon karena mampu memperkenalkan destinasi menarik melalui sajian olahraga.

Para pegowes start dari Balai Kota Cirebon, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon dan finis di Pangandaran. Dengan ajang balap sepeda itu, setidaknya jalan raya Cirebon wajib mulus agar peserta tidak terhambat saat gowes.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Berburu Kuliner di Cirebon Saat Libur Long Weekend



Cirebon

Bingung menghabiskan libur long weekend Idul Adha? Kota Cirebon bisa menjadi tujuan untuk mencoba berbagai macam kuliner legendaris khas Kota Udang.

Hanya dua jam dari Jakarta, Cirebon menjadi salah satu alternatif kota yang dapat dikunjungi untuk berlibur di long weekend kali ini. Pengunjung dapat menikmati berbagai macam kuliner khas Cirebon hingga mengunjungi lokasi wisata yang sedang hits di Kota Cirebon.

Nasi Jamblang Mang Dul adalah salah satu kuliner khas Cirebon yang bisa dicoba oleh wisatawan. Nasi yang dengan isian lauk seperti ikan, ayam, tauco ataupun tahu tempe dengan sambal pedas khas Cirebon dan dibungkus menggunakan daun jati yang membuat aromanya khas dan wangi.


Ketika mendengar nama Cirebon, Empal Gentong akan selalu terngiang di kepala. Dengan sentuhan santan yang gurih, dan disajikan dengan gentong yang membuat empal gentong terlihat unik.

Salah satu Empal Gentong yang terkenal di Cirebon adalah Empal Gentong H. Apud. Ada juga Empal Gentong Mang Darma (EGMD) yang sudah berdiri sejak 70 tahun lalu.

Sebagai variasi, ada nasi lengko. Sebenarnya hidangan ini mirip ketoprak atau toge goreng di Jakarta. Bedanya ini pakai nasi dan kuah kacangnya sangat banyak. Masih ditambahi lagi irisan daun kucai yang harum dan gurih.

Ada pula mie Mie Koclok, menu khas Cirebon yang satu ini merupakan paduan antara mie kuning basah, suwiran ayam, irisan kol, tauge, potongan telur rebus, daun bawang, bawang goreng dan tentunya kuah putih kental yang terbuat dari seduhan kaldu

Untuk melengkapi kulineran di Cirebon, traveler dapat menginap di salah satu hotel favorit yaitu Patra Cirebon Hotel & Convention. Terletak di lokasi strategis yaitu Jl. Tuparev No 11, hotel ini menghadirkan nuansa budaya khas Cirebon yang kental dengan sentuhan batik Megamendung pada kamar dan desain interiornya.

“Dengan menginap di Patra Cirebon, para tamu dapat berwisata kuliner dengan mudah. Wisatawan dapat mencicipi kuliner khas Cirebon, seperti Empal Gentong H. Apud, Nasi Lengko H. Barno, Nasi Jamblang Mang Dul dan Ketan Bumbu Bu Yudi,” ujar I Gusti Made Juniarta, GM Patra Cirebon Hotel & Convention.

Hotel Patra CirebonHotel Patra Cirebon Foto: (dok. Istimewa)

Sebagai informasi, Patra Cirebon merupakan satu-satunya hotel di Cirebon memiliki fasilitas infinity pool yang terletak di rooftop dengan pemandangan kota Cirebon dan Gunung Ciremai yang menawan.

Terdiri dari 12 lantai dan 168 kamar, hotel ini juga punya fasilitas kamar khusus difable dengan ukuran pintu masuk, kamar mandi dan tempat tidur yang lebih luas dibandingkan kamar lainnya.

Fasilitas lain di hotel ini ada restoran, kafé dan Gym Corner. Ada juga aktivitas anak seperti Kids Corner, aktivitas mewarnai dan Ball Bath, serta penyewaan sepeda yang terletak di sebelah resepsionis.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Tua Al Mubarok, Berumur Ratusan Tahun, Tempat Sejuk buat Karyawan Jaksel



Jakarta

Di Jakarta Selatan terdapat salah satu masjid yang berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. Masjid Tua Al Mubarok.

Masjid itu berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Dari sejarahnya, masjid tersebut merupakan peninggalan dari Syekh Arkanuddin atau Pangeran Adipati Awangga yang memiliki gelar Pangeran Kuningan yang berasal dari Cirebon.

Di masjid itu terdapat sebuah prasasti yang memastikan usia bangunan tersebut. Di sana tertulis masjid tersebut dibangun pada 1527.


Tahun tersebut bukan merujuk kepada bangunan mushola yang didirikan oleh Pangeran Kuningan bersama pasukannya, yang saat itu menempati kawasan tersebut. Tetapi, tahun itu merupakan pembangunan Masjid Tua Al Mubarok oleh warga di sekitar masjid. Lokasinya pas di mushala Pangeran Kuningan.

Musala yang dibangun Pangeran Kuningan dan pasukannya itu

Bendahara Masjid Tua Al Mubarok, Budi Raharjo, menceritakan kepada detikTravel, Jumat (19/7/2024) ada hal menarik dari pembangunan awal masjid tersebut, yakni berasal dari sebuah mimpi.

Konon, masjid yang dibangun oleh Pangeran Kuningan itu hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana.

“Nyi Imeh itu mimpi, dulu masjid ini terkenal dengan nama Masjid Rusak karena ya udah nggak terurus gitu. Di Masjid Rusak itu banyak orang datang pake jubah, pake pakaian putih ini dalam mimpinya, dia ngeliat banyak yang sembahyang di sini, itu akhirnya ngomong sama keluarga atau masyarakat di sini akhirnya dibangun lah masjid lagi,” kata Budi.

Masjid itu dibangun pada 1850 oleh Guru Simin dan Guru Jabir. Seiring berjalannya waktu, masjid itu kembali dimakan oleh zaman, sekiranya tahun 1915. Masjid Rusak kembali mengalami renovasi karena kala itu bangunannya masih terbuat dari kayu.

“Akhirnya di tahun 1925 itu digunakan sholat berjamaah rame-rame, kalau dulu kan mungkin hanya terbatas. Nah di tahun itu bangun untuk orang-orang banyak lah,” sambungnya.

Budi juga menerangkan kala pembangunan masjid pada 1925, bangunan masih kayu meskipun jamaah sudah banyak. Dan, secara terus menerus bangunan ini selalu diperbaiki oleh masyarakat.

Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan.Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. (Muhammad Lugas Pribady)

Barulah di tahun 1996 bangunan masjid diperbaiki dan menggunakan beton hingga bisa berdiri hingga saat ini. Pembangunan tersebut dikatakan oleh Budi atas inisiasi pengurus masjid kala itu di antaranya adalah Haji Wardi.

“1925 yang dibangun sama guru itu ya masjid dari kayu aja tapi besar, nah dari kayu pun itu udah berubah-ubah kan mulai dari zamannya siapa diperbaiki. Jadilah pengurus terakhir itu zamannya Haji Wardi dibangunlah masjid ini, ya sampai sekarang,” kata dia.

“Dari zaman dulu posisinya di sini zaman dulu nggak berubah titiknya di sini,” ujar Budi.

Kini, peninggalan lawas masjid itu tidak banyak lagi. Budi mengatakan satu barang yang tersisa hanya jam yang berada di dekat mimbar. namun ia juga tak yakin jam tersebut berada di dalam masjid sejak tahun berapa.

Makam Pangeran Kuningan

Selain membahas tentang perjalanan Masjid Tua Al Mubarok, Budi juga menjelaskan kenapa nama wilayah ini Kuningan adalah untuk mengenang Pangeran Kuningan yang berada di kawasan ini dari 1527 hingga meninggal pada 1579. Budi juga menjelaskan letak makam yang letaknya bukan di area masjid.

“Meninggalnya itu 1579 kalau dia datang 1527, dia meninggal dan sekarang makamnya ada di (area perkantoran) Telkom,” sebut dirinya.

detikTravel pun penasaran dengan keberadaan makam sang pangeran yang berada di tengah perkantoran. Merujuk cerita dari Budi dan informasi dar penjaga, Makam Pangeran Kuninganberada di dekat lobi gedung dan dekat dengan sebuah mini market.

Dengan sejarah yang membersamai masjid ini jadi cerita sendiri bagi para jemaah. Selain sebagai tempat beribadah, tempat ini juga kerap dipakai untuk tempat istirahat para karyawan-karyawan di sela pekerjaan mereka.

Suasana yang rindang dan sejuk menjadi idaman di tengah-tengah panas matahari dan bisingnya jalanan Ibu Kota. Masjid Tua Al Mubarok dan makam Pangeran Kuningan oleh pemerintah daerah telah ditetapkan sebagai Monumen Ordonansi No 238 tahun 1931 melalui Lembaran Daerah No 60 tahun 1972 dan juga menjadi situs sejarah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kerajaan-kerajaan di Jawa yang Bisa Dijumpai hingga Sekarang



Jakarta

Indonesia memiliki sejarah panjang dari era kerajaan, kolonial, hingga era modern. Saat ini, masih ada kerajaan di Jawa yang masih eksis.

Di Pulau Jawa pernah berdiri beberapa kerajaan besar. Dari Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Singasari, Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kerajaan Mataram Islam, Kesultanan Cirebon, hingga Kesultanan Banten.

Di antara kerajaan tersebut, masih ada kerajaan yang eksis dengan dipimpin oleh seorang raja. Tetapi, di antara kerajaan itu, hanya Kesultanan Yogyakarta yang masih memiliki fungsi pemerintahan.


Kerajaan-kerajaan di Jawa dan kerajaan lain di Indonesia masih berkumpul dalam sebuah Majelis Agung Raja dan Sultan (MARS) Indonesia. Di antara yang masih eksis itu adalah Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo, Puro Mangkunegaran, Keraton Cirebon, dan Kasultanan Banten. Kesultanan Yogyakarta satu-satunya yang memiliki hak istimewa mengelola pemerintahan. Sedangkan yang lain memiliki fungsi kebudayaan.

Berikut beberapa di antara kerajaan di Jawa yang masih eksis hingga kini:

1. Kesultanan Yogyakarta

Kesultanan Yogyakarta atau Ngayogyakarta Hadiningrat ini berdiri sejak 1755 dan raja pertama yang menjabat di kesultanan itu adalah Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwono 1.

Kerajaan itu mulanya merupakan pecahan dari Kerajaan Mataram Islam yang terpecah menjadi dua. Pembagian wilayah itu tertuang pada Perjanjian Giyanti. Pecahan lainnya menjadi Kasunanan Surakarta.

Di tahun 1950, Kesultanan Yogyakarta resmi berubah menjadi yang kita kenal saat ini yakni Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan hingga saat ini gelar untuk pemimpin-pemimpin daerah tersebut masih menggunakan gelar Hamengkubuwono.

Saat ini, Kasultanan Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

2. Kasunanan Surakarta

Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah sebuah kerajaan di Pulau Jawa bagian tengah yang berdiri pada tahun 1745. Kasunanan itu merupakan penerus dari Kesultanan Mataram yang beribu kota di Kartasura dan selanjutnya berpindah di Surakarta.

Pada tahun 1755, sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti yang disahkan pada tanggal 13 Februari 1755 antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dengan Pangeran Mangkubumi, disepakati bahwa wilayah Mataram dibagi menjadi dua pemerintahan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.

Awalnya, 1745 hingga peristiwa Palihan Nagari pada 1755, Kesunanan Surakarta yang beribu kota di Surakarta merupakan kelanjutan dari Kesultanan Mataram yang sebelumnya berkedudukan di Kartasura, baik dari segi wilayah, pemerintahan, maupun kedudukan penguasanya.

Setelah Perjanjian Giyanti dan diadakannya Pertemuan Jatisari pada tahun 1755 menyebabkan terpecahnya Kesunanan Surakarta menjadi dua kerajaan; kota Surakarta tetap menjadi pusat pemerintahan sebagian wilayah Kesunanan Surakarta dengan rajanya yaitu Susuhunan Pakubuwana III, sedangkan sebagian wilayah Kesunanan Surakarta yang lain diperintah oleh Sultan Hamengkubuwana I yang berkedudukan di kota Yogyakarta, dan wilayah kerajaannya kemudian disebut sebagai Kesultanan Yogyakarta.

Kemudian dibuat Perjanjian Salatiga tanggal 17 Maret 1757, yang membuat wilayah Kesunanan makin kecil. Sebagian wilayah, yakni Nagara Agung (wilayah inti di sekitar ibu kota kerajaan) diserahkan kepada Raden Mas Said yang kemudian bergelar Adipati Mangkunegara I. Saat ini, Mangkunegaran masih eksis.

3. Mangkunegaran

Mangkunegaran adalah kadipaten yang posisinya di bawah kasunanan dan kasultanan, sehingga penguasa tidak berhak menyandang gelar Sunan ataupun Sultan.

Penguasa Keraton Kasunanan Surakarta bergelar Sunan Pakubuwono, sedangkan gelar penguasa Kadipaten Mangkunegaran adalah Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro.

Antara tahun 1757 sampai dengan 1946, Kadipaten Mangkunegaran adalah kerajaan otonom yang berhak memiliki tentara sendiri yang independen dari Kasunanan Surakarta.

Wilayahnya mencakup bagian utara Kota Surakarta, di antaranya adalah Kecamatan Banjarsari, kemudian seluruh Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, dan sebagian wilayah Kecamatan Ngawen serta Semin di Gunung Kidul, Yogyakarta. Keseluruhan wilayah Mangkunegaran tersebut hampir mencapai 50 persen wilayah dari Kasunanan Surakarta.

Saat ini, Mangkunegaran dipimpin oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X atau Gusti Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo merupakan raja.

Sejatinya, pemimpin Mangkunegaran bukanlah raja, namun adipati atau pangeran miji atau pangeran mandiri, yang memimpin sebuah kadipaten di bawah Keraton Kasunanan Surakarta bernama Mangkunegaran.

Meskipun kedudukan pemimpin Mangkunegara yang sebenarnya adalah adipati, namun kerap dianggap raja dalam memori masyarakat Mangkunegara. Itu dipengaruhi oleh Mangkunegara yang dulu sempat berkuasa atas beberapa wilayah, yakni Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri.

4. KadipatenPakualaman

Dulu Kadipaten Pakualaman merupakan sebuah negara dependen yang berbentuk kerajaan. Tetapi pada 1950, status negara dependen Kadipaten Pakualaman diturunkan menjadi daerah istimewa setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Kadipaten Pakualaman berdiri pada 1813, kekuasaan Inggris dengan penyerahan kekuasaan oleh Hamengku Buwono II kepada adiknya, Pangeran Natakusuma dengan status Pangeran Merdika. Pangeran Natakusuma kemudian mendapatkan gelar sebagai KGPAA Paku Alam I dengan kediaman di Puro Pakualaman yang berada di sisi timur Kasultanan Ngayogyakarta.

Status kerajaan ini mirip dengan status Praja Mangkunagaran di Surakarta.

Saat ini, Pakualaman dipimpin oleh Sampeyan Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X dengan nama lahir Raden Mas Wijoseno Hario Bimo.

5. Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon ini disebut sebagai jembatan untuk kebudayaan di Jawa Tengah dan Jawa Barat, Kesultanan Cirebon ini memiliki corak Islam yang begitu mahsyur di abad 15-16 Masehi. Memiliki letak yang cukup strategis menjadi kesultanan ini sebagai jalur perdagangan dan pelayaran yang cukup vital antar pulau di masa itu.

Kesultanan Cirebon didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang atau Haji Abudllah Imam pada tahun 1430. Ia sangat aktif dalam penyebarluasan agama Islam dan Kesultanan Cirebon meningkat kejayaannya ketika dipimpin oleh Sunan Gunung Jati.

Saat ini, Keraton Cirebon dipimpin Sultan Sepuh Aloeda II atau Raden Rahardjo.

6. Kesultanan Kanoman

Kesultanan Kanoman ini didirikan oleh Pangeran Muhamad Badrudi Kertawijaya atau Sultan Anom 1 di tahun 1678. Sebelumnya, Kesultanan Kanoman ini merupakan pecahan dari Kesultanan Cirebon pada tahun 1666.

Di masa kekosongan 1666 hingga 1678 itu Kesultanan Cirebon diambil alih kekuasaannya oleh Kerajaan Mataram. Berjalannya waktu dan tak puasnya pengambilahinan tersebut hingga menimbulkan konflik.

Akhirnya Kesultanan Cirebon dipecah dan salah satunya Kesultanan Kanoman yang diberikan Pangeran Muhamad Badrudin Kertawijaya.

Jejak-jejak peradaban kerajaan-kerajaan di atas masih bisa dilihat hingga sekarang di setiap wilayahnya. Masih terdapat keraton atau tempat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja yang menduduki kursi kekuasaan.

Peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut kini menjadi sebuah destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin melihat dan menggali informasi tentang sejarah kerajaan tersebut.

Saat ini, Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Sultan Anom XII Mochamad Saladin.

Jadi keraton mana saja yang sudah kamu datangi?

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com