Tag Archives: desa lamajang

4 Wisata Rafting di Pangalengan yang Seru dan Menantang, Wajib Dicoba!


Terletak di kawasan pegunungan di Jawa Barat, Pangalengan, dikenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan serta sungai-sungai yang cocok untuk kegiatan rafting (arung jeram).

Ada banyak wisata rafting di Pangalengan yang bisa jadi tujuan travelers. Bagi yang ingin merasakan adrenalin seru dengan berpetualang air, simak rekomendasi tempat untuk rafting air di bawah ini yuk.

Rekomendasi Wisata Rafting di Pangalengan

1. Situ Cileunca (Sungai Palayangan)

Tempat rafting di Sungai Palayangan terletak di Jalan Situ Cileunca, Wanasari, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Tepatnya, di sekitar Situ Cileunca.


Traveler akan melakukan rafting di Sungai Palayangan dengan durasi sekitar 2 jam. Sungai Palayangan sendiri termasuk lokasi rafting populer di Bandung, karena memiliki sumber air yang relatif stabil dan tidak ada banjir bandang.

Bagi pemula, tak perlu khawatir! Karena akan ada rescue team yang selalu siaga di jeram-jeram tertentu. Makannya, sungai ini bisa diarungi oleh peserta pemula dengan umur minimal 8 tahun.

Menariknya, di sepanjang sisi sungai pengunjung bisa menikmati keindahan hutan pinus, perkebunan kopi, dan perkebunan teh.

Harga Paket Rafting

Dilansir dari salah satu jasa rekreasi lokal, Palayangan River, berikut adalah biaya rafting di Sungai Palayangan:

1. Rafting only (minimal 5 orang): Rp 150 ribu per orang.

Fasilitas:

  • Rafting 5 Km
  • Guide
  • Rescue
  • Perlengkapan rafting river
  • Free foto (syarat minimal 20 peserta)
  • Minuman hangat
  • Asuransi
  • P3K standar
  • Water heater, shower, dan closet duduk

2. Rafting trip (minimal 5 orang): Rp 190 ribu per orang.

Fasilitas:

  • Rafting 5 Km
  • Guide
  • Rescue
  • Perlengkapan rafting river
  • Free foto (syarat minimal 20 peserta)
  • Makan siang 1 kali (prasmanan)
  • Snack 1 kali
  • Local transport
  • Asuransi
  • P3K standar
  • Free foto (syarat minimal 20 peserta)
  • Water heater, shower, dan closet duduk

2. Sungai Cisangkuy

Sungai Cisangkuy berada di daerah Desa Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Rafting di sungai ini bisa dibilang cukup menantang, yaitu 3+.

Panjang jalur rafting di Sungai Cisangkuy kurang lebih 11-20 kilometer, dengan lebar yang mencapai kisaran 20 meter.

Harga Paket Rafting

Ada banyak layanan jasa rekreasi yang menawarkan beberapa paket, dengan fasilitas dan akomodasi untuk kegiatan rafting. Dari catatan detkJabar, harga rafting di Sungai Cisangkuy ada kisaran Rp 185 – 200 ribu per orang.

3. Glamping Mutiara Rahong Hills

Muara Rahong Hills adalah destinasi wisata yang menawarkan konsep glamping di tepi sunga jernih yang dikelilingi hutan pinus. Lokasinya ada di Jl. Rahong, Pulosari, Kec. Pangalengan, Kabupaten Bandung.

DIkutip dari akun Instagram @muararahonghills (18/07/2024), wisatawan perlu merogoh kocek sekitar Rp 175 ribu per orangnya untuk rafting di Glamping Mutiara Rahong Hills.

Muara Rahong Hills memiliki buka setiap hari dengan jam operasional 08.00 – 18.00 WIB.

Selain rafting, tempat ini juga menawarkan wahana lainnya seperti paintball, ATV, Flying Fox, hingga off road.

4. Pineus Tilu Riverside Camping

Pineus Tilu Riverside Camping berlokasi di kawasan Hutan Pinus Rahong, Pulosari, Pangalengan, Bandung Selatan, Jawa Barat. Dari pusat kota Bandung perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam.

Selain terkenal dengan tempat berkemah, wisatawan juga bisa mencoba wahana rafting di di di sini. Traveler akan diajak menyusuri Sungai Palayangan, dengan jarak dari start ke finish kurang lebih 4,5 km dengan waktu tempuh 1,5-2 jam.

Sepanjang rafting, kita akan melewati belasan jeram-jeram yang cukup menantang. Harga paket tenda di sini berkisar dari Rp 650 ribu sampai Rp 3,2 jutaan per malam dengan kapasitas standar 2-5 orang.

Selain perlu membayar camping, traveler juga perlu bayar parkir ke pengelola saat sampai di lokasi.

Itu tadi beberapa rekomendasi tempat wisata rafting di Pangalengan beserta harganya.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Konon, Batu ‘Sakti’ di Bandung Ini Tahan Bom



Bandung

Di Bandung, ada sebuah spot wisata menarik. Namanya Batu Eon. Konon, batu ‘sakti’ ini tahan bom. Percaya tidak?

Jika ada rencana liburan ke Kabupaten Bandung, Jawa Barat mari berkunjung ke Pangalengan. Bukan melihat kebun teh, di kecamatan yang lokasinya di selatan Bandung ini, ada sebuah situs bersejarah berupa sebongkah batu.

Bongkahan batu itu dinamai ‘Batu Eon’ yang berdiri kokoh di tengah kolam tandon harian PLTA PT Indonesia Power, Cikalong, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan.


Dari cerita yang tersebar di masyarakat, konon katanya, dahulu kala, batu tersebut tidak bisa dihancurkan dan dipindahkan sekalipun menggunakan alat berat. Hal tersebut terbukti saat pembangunan PLTA pada abad ke-19 silam.

Dari cerita rakyat yang berkembang, ada warga Lamajang bernama Abah (sebutan orangtua laki-laki) Eon yang hendak memindahkan batu tersebut. Ia tertantang untuk memindahkan batu yang secara mistis tak bisa dipindahkan.

Beragam cara dan segala upaya dilakukan Abah Eon untuk memindahkan batu itu. Salah satunya dengan menghancurkan batu itu. Meski begitu, tak ada satu pun alat yang mampu menghancurkan batu berwarna kecoklatan itu.

Upaya terakhir dilakukan Abah Eon. Sebuah dinamit yang dipersiapkannya untuk menghancurkan batu itu dengan harapan hancur berkeping-keping. Namun, usahannya gagal karena batu itu tidak hancur.

“Sejak itulah warga setempat menamai Batu Eon,” kata pengelola Desa Wisata Lamajang, Ade Sukmana (47) saat ditemui di kediamannya di Desa Lamajang, tahun 2017 silam.

Ade mengungkapkan, cerita itu belum dapat dipastikan kebenarannya, namun kisah Abah Eon tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.

“Sulit mencari informasi yang valid mengenai kisah itu. Tapi yang pasti PLTA ini diresmikan oleh Presiden Soekarno tahun 1954 lalu,” tutur Ade.

Lokasi Batu Eon ini hanya satu kilometer dari Bumi Adat Cikondang. Untuk sampai ke situs batu bersejarah ini dapat diakses dari Kota Bandung via Banjaran-Cimaung sejauh 40-an kilometer.

Dari kejauhan terlihat batu tersebut berada di tengah kolam, layaknya sebuah pulau kecil. Pengunjung memang tidak bisa melihat dari dekat, sebab pagar dengan kawat berduri mengelilingi batu itu.

“Batu Eon, kisahnya mirip-mirip dengan legenda Batu Cinta di Situ Patenggang,” kata Ade.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Anti Bom dan Tidak Bisa Dipindahkan, Ini ‘Kesaktian’ Batu Eon


Jakarta

Batu Eon dikenal punya banyak mitos dan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi. Batu ini bahkan diyakini punya kesaktian gaib yang membuatnya awet hingga sekarang, bahkan bisa disaksikan langsung banyak orang.

Saat ini Batu Eon berada di tengah Kolam Tandon Harian PLTA PT Indonesia Power. Tepatnya Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan. Ditemukan kali pertama pada 1527, Batu Eon terus berada di tempatnya melewati berbagai zaman tanpa ada pengurangan pada wujudnya.

Seputar Batu Eon

Beriut serba-serbi Batu Eon yang berhasil dirangkum detikTraveld arsip pemberitaan detikcom dan detikJabar


1. Asal-usul nama dan sejarah

Masyarakat Desa Lamajang mempercayai sebuah legenda mengenai batu ini. Menurut mitos yang berkembang, dulu pernah hidup seorang laki-laki bernama Eon atau lebih dikenal dengan Abah Eon. Konon, Abah Eon pernah berusaha mati-matian untuk memindahkan baru itu dari tempatnya.

Berbagai cara telah dicoba Abah Eon, mulai dari menggunakan alat berat hingga meledakkannya dengan bahan peledak, namun hasilnya batu tersebut tetap tidak bisa dihancurkan atau rusak sedikit pun.

Sejak kejadian itu, masyarakat setempat mulai menyebut batu misterius itu sebagai Batu Eon, merujuk pada nama Abah Eon yang pernah berusaha menyingkirkannya. Kisah ini kemudian berkembang dan diturunkan secara turun temurun oleh masyarakat setempat.

2. Tak Bisa Dipindahkan dan Anti Bom

Hingga saat ini, masyarakat setempat masih banyak yang mempercayai kekuatan gaib yang dimiliki Batu Eon. Akibatnya, batu tersebut tidak bisa dipindahkan dan tetap utuh walau dihancurkan dengan alat berat bahkan alat peledak.

Ada juga yang mempercayai batu tersebut angker karena berasal dari tempat pemakaman. Menurut Pengelola Desa Wisata Lamajang, Ade Sukmana, banyak masyarakat yang mengeluh hewan ternak mereka mati secara tiba-tiba ketika digembalakan di kawasan Batu Eon.

3. Tempat Bertapa

Sebagian masyarakat juga ada yang mempercayai bahwa keberadaan Batu Eon dikaitkan dengan Mbah Balu Tunggal. Mbah Balu Tunggal merupakan salah satu tokoh legenda yang menyebarkan ajaran Islam di Lamajang dan sekitarnya pada abad ke-17. Konon, batu ini digunakan sebagai tempat pertapaan Mbah Balu Tunggal untuk mencari ketenangan batin sekaligus memperdalam ilmunya.

Mitos-mitos ini diyakini dan diwariskan secara turun-temurun antar generasi, inilah yang menyebabkan hingga saat ini masih banyak yang mempercayai legenda Batu Eon dan penasaran dengan kesaktian yang dimilikinya

(row/row)



Sumber : travel.detik.com