Tag Archives: desa wisata

Mengenal Desa Wisata Jatiluwih, Bali Siap Terima Delegasi World Water Forum



Tabanan

Desa wisata Jatiluwih di Bali terpilih sebagai destinasi wisata yang akan dikunjungi oleh delegasi World Water Forum ke-10, forum air internasional terbesar di dunia yang akan diselenggarakan pada 18 – 25 Mei 2024. Yuk mari mengenal desa wisata ini.

World Water Forum ke-10 ini akan menjadi kesempatan emas bagi Indonesia untuk memperkenalkan keragaman budaya dan pariwisata, khususnya Bali kepada dunia, dan juga bagaimana Indonesia menjaga dan merawat sumber daya alam sebagai bagian dari budaya dan juga sumber kehidupan.

Jatiluwih telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2012. Desa ini merupakan representasi dari pengembangan pariwisata Indonesia di masa depan, yaitu pariwisata yang berbasis keberlanjutan lingkungan (sustainable tourism).


“Kami sangat mendukung upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan di Jatiluwih karena hal tersebut sejalan dengan kebijakan di Kemenparekraf yang beralih dari quantity tourism ke quality tourism,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, dalam pernyataannya.

Terkenal dengan sistem subaknya, Desa Jatiluwih menghasilkan padi sebagai komoditas utama hasil pertaniannya. Menurut sumber lokal, beras merah yang dihasilkan di wilayah Jatiluwih merupakan beras merah yang terbaik di wilayah Bali.

Subak sendiri merupakan organisasi tradisional yang mengatur sistem irigasi yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali.

Uniknya, selain dijual, masyarakat lokal juga mengolah beras merah tersebut menjadi teh yang bermanfaat bagi kesehatan di antaranya membantu menurunkan berat badan, menjaga keseimbangan gula darah, menurunkan kolesterol, dan sebagai sumber anti oksidan. Teh beras ini telah diproduksi secara komersil dan dipasarkan di wilayah Bali.

Ke depan, pengelolaan persawahan di Jatiluwih akan diarahkan ke konsep _organic farm_, dimana 100 persen pupuk yang digunakan merupakan pupuk alami, misalnya seperti kotoran sapi milik penduduk lokal. Hal tersebut diharapkan semakin menambah manfaat ekonomi yang diterima oleh masyarakat setempat, serta menjadi contoh penerapan _sustainable tourism_ karena lebih ramah lingkungan.

Hal ini juga merupakan suatu bentuk implementasi dari community-based tourism, yang melibatkan masyarakat setempat untuk saling bekerja sama dalam pengembangan pariwisata.

Ketua DTW desa wisata Jatiluwih, Ketut Purna Jhon, menyampaikan bahwa Jatiluwih merupakan destinasi wisata yang dimiliki oleh personal. Hal ini karena daya tarik utamanya adalah persawahan yang dimiliki oleh banyak petani setempat.

“Jadi, kami berusaha untuk merangkul petani-petani setempat untuk bersama-sama mendukung program besar ini karena pengembangan pariwisata di Jatiluwih ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Perlu keterlibatan banyak pihak, terutama petani setempat, untuk akhirnya nanti menggerakkan ekonomi lokal,” kata Purna.

Pihaknya terus mendorong masyarakat untuk turut menjaga kelestarian alam agar sumber mata air di sana tetap terjaga kelestarian dan kebersihannya, salah satunya dengan menjaga kelestarian hutan setempat.

Desa wisata Jatiluwih memiliki beberapa aktivitas untuk ditawarkan kepada wisatawan, di antaranya _trekking_ sambil menikmati keindahan _rice terrace_ atau teras ring, bersepeda, demo masak, serta berkunjung ke perkebunan kopi, alpukat, dan durian.

Menurut Purna, dalam rangka menyambut delegasi World Water Forum, nantinya desa wisata Jatiluwih akan dihias dengan banyak penjor. Selain itu, para delegasi juga akan disambut dengan tari tradisional Bali, yaitu Tari Rejang, yang diiringi dengan musik tumbuk lesung.

“Jika memungkinkan, kami juga akan menyuguhkan Jaje Laklak kepada delegasi World Water Forum. Jaje Laklak ini mirip seperti kue serabi, tetapi dibuat dengan bahan dari beras merah,” katanya.

Selain berkunjung ke Jatiluwih, delegasi World Water Forum juga akan diajak untuk melakukan prosesi melukat, yang merupakan salah satu tradisi atau upacara yang biasa dilakukan oleh umat Hindu, khususnya di Bali.

Melukat dimaksudkan untuk menyucikan jiwa dari hal-hal tidak baik dengan menggunakan media air yang bersumber dari mata air. Istilah melukat sendiri datang dari kata ‘Sulukat’, yang mana ‘Su’ artinya baik, serta ‘lukat’ artinya ‘penyucian’. Jadi, secara sederhana, melukat dapat diartikan sebagai penyucian yang baik.

Pada dasarnya, melukat bertujuan untuk menyegarkan pikiran. Hal ini berkaitan dengan proses melukat yang dominan dilakukan di bagian area kepala.

Selama proses melukat, para pengikut upacara melukat akan diguyurkan air suci yang diharapkan dapat membuat hati merasa lebih tenang dan menyegarkan jiwa.

(ddn/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Pesona Desa Pandanrejo dari Kambing Etawa Hingga Lihat Burung Liar



Purworejo

Desa Wisata Pandanrejo menyajikan pengalaman wisata menarik buat traveler, mulai dari edutourism kambing etawa hingga birdwatching alias melihat burung liar.

Desa Pandanrejo menjadi salah satu desa wisata yang menjadi Desa Wisata Penyangga Zona Otorita Borobudur. Lokasinya berada di Kawasan Perbukitan Menoreh, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Desa Wisata Pandanrejo berjarak 17 km dari pusat Kota Purworejo dan 36 km dari pusat kota Yogyakarta. Sebelum Desa Pandanrejo terbentuk, dahulu terdapat desa di perbukitan menoreh bagian timur Kabupaten Purworejo bernama Desa Klepu dan bagian barat bernama Desa Pendem.


Pada tahun 1927, kedua desa tersebut sepakat untuk digabung karena memiliki banyak kesamaan secara budaya, sosial dan ekonomi salah satunya beternak kambing peranakan etawa (PE) ras Kaligesing.

Nama Pandanrejo dipilih karena ciri khas yang ketika itu banyak ditumbuhi tanaman pandan, sedangkan kata ‘rejo’ memiliki makna berjaya.

Berikut Pesona Desa Wisata Pandanrejo:

1. Kambing Ras Kaligesing

Desa Pandanrejo mempunyai peternakan kambing peranakan etawa (PE) ras Kaligesing yang menjadi daya Tarik Wisata Pendidikan (Edutourism). Kambing yang berasal dari India ini dibawa ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1924.

Keunggulan kambing etawa ada pada dading dan susunya yang banyak. Kambing jenis ini masuk ke dalam tujuh plasma nutfah lokal Indonesia.

Dengan postur tubuh yang besar, jenis kambing etawa menghasilkan lebih banyak daging dibandingkan kambing jenis lainnya. Sementara susu kambing etawa dikenal memiliki berbagai manfaat.

Edutourism susu kambing etawa secara khusus dilakukan di Goridampyak Farm. Di sini wisatawan akan belajar mengenai susu kambing etawa dan bagaimana memilih indukan yang pas untuk diperah susunya, wisatawan juga dapat menikmati susu kambing yang baru diperah.

2. Gunung Gajah

Gunung Gajah merupakan salah satu destinasi di Desa Wisata Pandanrejo yang diresmikan pada tahun 2016. Cerita yang mendampingi Gunung Gajah adalah terdapat tugu kecil yang ada di puncak Gunung Gajah.

Tugu ini merupakan lambing yang digunakan oleh Kolonial Belanda sebagai penanda salah satu puncak tertinggi di Kawasan Perbukitan Menoreh. Tiap hari Minggu pagi pukul 08.00 – 12.00 WIB, Gunung Gajah membuka Pasar Wiwit.

Di sana menjual berbagai macam produk UMKM dari warga Desa Pandanrejo. Para pengunjung yang hendak berswafoto, pengelola menyediakan spot dengan latar belakang bentang alam perbukitan menorah.

Gunung Gajah juga menyediakan edukasi UMKM Dewa Pandan dan juga makanan khasnya yaitu Nasi Gugah dan Dawet Goreng.

3. Kampung Cantik

Desa Wisata PandanrejoWisatawan di desa Wisata Pandanrejo Foto: (dok. BOB)

Kampung Cantik merupakan salah satu pusat akomodasi wisata Dewa Pandanrejo. Terdapat beberapa homestay yang bisa disewa pengunjung untuk beristirahat ataupun menginap.

Di sana juga ada edukasi tanaman, pupuk dan pengelolaan susu kambing etawa. Biasanya edukasi tanaman disediakan bagi pengunjung yang membeli paket wisata.

Desa Wisata Pandanrejo terdapat 25 homestay dengan total kamar 75 kamar. Kisaran harga menginap di homestay adalah 125 ribu per orang dan sudah termasuk satu kali makan dan welcome drink/snack.

4. Birdwatching

Desa Wisata PandanrejoBirdwatching di desa wisata Pandanrejo Foto: (dok. BOB)

Birdwatching menjadi salah satu wisata di Desa Wisata Pandanrejo. Keanekaragaman fauna ini dimanfaatkan untuk menjadi paket wisata. Tercatat 35 jenis burung yang dijumpai di Desa Pandanrejo berdasarkan data dari survei Yayasan Kanopi Indonesia Tahun 2023.

Burung-burung tersebut tersebar di tempat-tempat yang masih memiliki area hutan agroforestri seperti Wisata Alam Bukit Sibutrong, Gunung Gajah, Patunggon Krapyak dan Makam Alas MBarepan. Wisatawan dapat menikmati indahnya burung dengan beberapa cara baik itu hunting foto dan juga menggunakan teleskop.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Disebut-sebut Gibran saat Debat, Ini Desa Wisata Terbaik 2023 di Mojokerto



Mojokerto

Desa wisata Ketapanrame disebut-sebut Gibran Rahabuming saat Debat Cawapres. Ini profil desa wisata terbaik 2023 yang berada di Mojokerto, Jawa Timur itu:

Cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka menyebut pernah mengunjungi salah satu desa wisata nomor 1 di Indonesia saat Debat Cawapres pada Minggu (21/1) lalu.

“Saya pernah ke Mojokerto. Di situ ada desa wisata nomor satu se-Indonesia. Kemarin dapat penghargaan dari Pak Sandiaga Uno. Intinya ini adalah desa wisata dibangun dengan crowd funding. Jadi masyarakat desa punya saham di destinasi wisata tadi. Jadi ini salah satu contoh yang baik,” kata Gibran.


Desa wisata yang dimaksud Gibran itu ialah Desa Ketapanrame. Diketahui, Desa Ketapanrame itu berada di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Desa wisata itu berhasil meraih predikat desa wisata terbaik 2023. Pendapatan desa di kaki Gunung Welirang ini dari sektor pariwisata saja mencapai Rp 3,5 miliar per tahun.

Ada berbagai objek wisata di desa ini yang dikelola BUMDes Mutiara Welirang. Mulai dari wisata alam Air Terjung Dlundung, Sumber Gempong, kebun kopi, dan wisata petualangan jelajah hutan.

Wisata buatan terdiri dari Taman Ghanjaran dan Taman Kelinci. Wisata budaya meliputi Tari Mayang Rontek dan Bedoyo Putri Mojosakti, serta kesenian bantengan, pencak silat, tari jaranan, barong, dan ganongan.

Ada juga wisata edukasi terdiri dari tanam padi di Sumber Gempong, wisata petik Jeruk Nagami, wisata petik Kopi Banggoel, produksi jamu, kerupuk samiler, tape, getuk, dan onde-onde.

Tak heran jika Ketapanrame menjadi desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 yang digelar Kemenparekraf.

“Pendapatan itu dari tiket masuk wisata, tiket wahana, dan sewa kios atau stan. Laba bersih BUMDes Mutiara Welirang sekitar Rp 2,4 miliar. Target tahun ini laba bersih dari sektor pariwisata kami Rp 3,5 miliar,” terang Kepala Desa Ketapanrame Zainul Arifin.

Bisnis pariwisata yang berkembang pesat di desa wisata Ketapanrame, otomatis mendongkrak perekonomian penduduknya. Baik masyarakat yang terlibat sebagai mitra pariwisata maupun yang tidak. Saat ini, 900 dari 1.800 rumah tangga di desanya berkecimpung di pariwisata.

—–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Keindahan Desa Wisata Pulisan di Jantung DSP Likupang



Minahasa Utara

Desa Wisata Pulisan merupakan salah satu destinasi wisata menarik yang berada di Likupang, Sulawesi Utara. Keindahannya memukau.

Desa wisata ini berada di jantung Destinasi Super Prioritas (DSP) yang sedang gencar dipromosikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Jarak tempuh dari Bandara Samratulangi ke Desa Pulisan sekitar 45 menit dengan menggunakan transportasi umum.


Keunikan Desa Wisata Pulisan

Desa Wisata Pulisan menjadi salah satu desa wisata andalan di Likupang yang menawarkan paket wisata laut komplet. Dua destinasi wisata andalan di Desa Pulisan adalah Pantai Pulisan dan Bukit Pulisan. Pantai Pulisan sendiri merupakan salah satu pantai favorit di Likupang, karena memiliki pasir putih yang lembut sepanjang bibir pantainya.

Pantai dengan hamparan pasir putih ini seakan terdiri dari 3 bagian, yang masing-masing dipisahkan oleh tebing batu yang menjorok ke arah laut. Ragam aktivitas menarik yang dapat dilakukan Sobat Parekraf di Pantai Pulisan adalah menyelam dan snorkeling. Tak kalah menarik, wisatawan juga dapat mengunjungi rumah-rumah apung yang ada di tengah-tengah perairan di sekitar Pantai Pulisan.

Sementara itu, Bukit Pulisan yang berada di area Desa Wisata Pulisan juga punya pemandangan yang tak kalah indahnya. Dari atas bukit Sobat Parekraf dapat melihat hamparan rumput laut berwarna hijau tosca yang berpadu dengan lautan biru. Meskipun harus trekking terlebih dahulu, namun pemandangan dari atas Bukit Pulisan akan menghapus rasa lelah tersebut.

Daya Tarik Wisata Desa Pulisan

Daya tarik wisata Desa Pulisan semakin lengkap berkat adanya Gua Pulisan dan Cagar Alam Tangkoko Dua Saudara. Cagar alam ini merupakan habitat dari satwa langka yang dilindung, seperti yaki atau monyet hitam besar endemik Sulawesi Utara, serta burung maleo.

Selain itu, pemerintah setempat juga telah menyiapkan sejumlah infrastruktur untuk membuat liburan wisatawan semakin nyaman saat singgah di Desa Wisata Pulisan. Mulai dari homestay hingga memberikan dukungan sinyal 4G di sekitar Desa Wisata Pulisan.

Harapannya dengan segala fasilitas yang ada di desa wisata ini dapat membantu menarik minat wisatawan untuk singgah lebih lama di Desa Wisata Pulisan. Sehingga hal ini dapat kembali menggeliatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, serta meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Desa Wisata Berprestasi

Tidak hanya berlokasi strategis, Desa Wisata Pulisan termasuk dalam salah satu desa wisata berprestasi di Indonesia. Mengutip dari minut.go.id, Desa Wisata Pulisan berhasil menyabet gelar runner up dalam ajang Trisakti Tourism Award 2021 yang berlangsung Agustus 2021. Desa Wisata Pulisan berhasil menang dalam kategori desa wisata dengan video favorit pilihan netizen, dengan jumlah likes sebanyak 3.650 pada akun Instagram Trisakti Award.

Penganugerahan ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan potensi desa dan mendorong percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Selain itu, Trisakti Tourism Award juga diharapkan dapat mendorong pemerintah daerah agar mampu memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia, terutama pembangunan dan pengembangan desa wisata.

(ddn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jelajah Desa Bakaran Wetan di Pati, Melihat Meriahnya Sedekah Bumi



Pati

Desa-desa di Jawa Tengah masih menyelenggarakan acara Sedekah Bumi untuk bersyukur kepada Tuhan, seperti desa Bakaran Wetan di Pati. Seperti apa keseruannya?

Wajah-wajah penuh senyum dan tawa lepas bisa traveler lihat ketika menjelajahi wilayah pesisir Pantura, tepatnya di Desa Wisata Batik Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Bulan Mei-Juni adalah waktu terbaik untuk Jelajah Jateng di Desa Wisata Bakaran Wetan. Kita akan berada di tempat wisata yang begitu lengkap, baik masyarakat sebagai penggiat, budaya maupun tokoh sejarah di balik terbentuknya desa wisata ini.


“Untuk kali ini, kita telah menyiapkan serangkaian acara bertajuk Sedekah Bumi Bakaran Wetan 2024 yang akan berlangsung mulai tanggal 23 Mei-30 Juni 2024,” jelas Wahyu Supriyo, selaku Kepala Desa Bakaran Wetan kepada detikTravel, Minggu (19/5/2024).

Pada tanggal 23 Mei 2024, akan berlangsung berbagai kegiatan dimulai dari Manganan Sigit, Kondangan Petinggen, hingga Klenengan. Alunan dari Karawitan Sukolaras akan meramaikan Balai Desa Bakaran Wetan. Puncaknya adalah Sedekah Bumi yang diselenggarakan pada tanggal 26 Mei 2024.

Acara pertama adalah Kirab Tumpeng disusul Bancaan Punden. Tradisi ini memperlihatkan suburnya budaya di desa wisata Bakaran Juwana Pati selama ini.

Dalam gelaran Sedekah Bumi ini, tak elok bila tak menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit oleh Dalang Ki Rama Aditya, serta Dalang Ki Purbo Asmoro, pada malam harinya.

“Menutup gelaran Sedekah Bumi, seluruh masyarakat desa wisata Bakaran Wetan akan berkumpul menggelar shalawatan bersama Habib Muhammad Syafi’i Bin Idrus Alaydrus, sebagai wujud rasa syukur,” imbuh Wahyu.

Asal Usul Desa Bakaran Wetan

Asal usul desa ini sangatlah unik. Desa ini berasal dari hutan yang dibakar oleh seorang wanita bernama Nyi Sabirah, keturunan dari Kerajaan Majapahit. Begitu hutan menjadi abu, kemudian abu itu jatuh dimana-mana dan di situlah Desa Bakaran berada.

“Nyai Ageng Sabirah lah yang telah mengajarkan membatik sehingga turun temurun diajarkan dan dilestarikan sampai sekarang,” cerita Wahyu.

Sejarah ini bisa kita telaah ketika mengunjungi Museum Batik Sudewi di desa Bakaran Wetan. Mau belajar membatik khas Bakaran Wetan dengan warna sogan hitam terbakar, juga bisa. Motifnya sangat khas berbeda dibandingkan batik Solo maupun Pekalongan.

“Batik ini tercipta melalui proses kreasi sembilan tahap. Dari ribuan motif, sembilan di antaranya sudah memiliki hak paten yang dikenal di dunia internasional,” tambahnya.

Desa Bakaran Wetan, Juwana, PatiPunden Nyai Ageng Sabirah di Desa Bakaran Wetan, Juwana, Pati Foto: (dok. Istimewa)

Datang ke desa wisata Bakaran Wetan, kita bisa jelajah Punden Mbah Nyai Ageng Sabirah hingga Mbah Dalang Soponyono. Di desa ini juga bersanding tempat ibadah lintas agama yang hidup dengan damai.

Jelajah Desa Bakaran Wetan juga tak afdol bila tidak mencoba menu kulinernya. Ada nama-nama kuliner asing yang menarik dicoba seperti masin, waleran, wedang pedes, es campur sari, cemedeng nyonyor, hingga rebon.

Melihat kehidupan masyarakat desa guyup bergotong royong dan ramah serta budaya beraneka ragam, jelas bakal membuat traveler makin cinta budaya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Rasakan Pengalaman Jadi Warlok Desa Taro Bisa Menginap di Homestay Ini



Gianyar

Traveler memiliki kesempatan untuk merasakan menjadi warga lokal atau warlok di Desa Taro, Tegallalang, Gianyar, Bali. Caranya, menginap semalam di homestay yang satu ini.

Desa Wisata Taro merupakan desa tertua di Bali. Desa itu masih mempertahankan budaya dan tradisi lokalnya.

Berada di desa ini serasa melangkah mundur ke masa lalu, di mana kehidupan berjalan lebih lambat dan lebih dekat dengan alam.

Sebagai desa wisata, Desa Taro menyuguhkan beragam destinasi dan aktivitas menarik bagi wisatawan yang berkunjung. Namun, jika ingin mencoba pengalaman berbeda, traveler dapat mencoba menjadi warlok Desa Taro dalam semalam.

Desa Taro memiliki dua buat homestay yang dapat disewa oleh pengunjung untuk mendapatkan pengalaman berlibur yang berbeda. Lokasi homestay ini tak jauh dari konservasi Lembu Putih. Traveler bisa menikmati sensasi menginap sembari melihat hewan sakral dari Desa Taro.

“Kita di sini mengelola dua homestay milik desa. Terdapat dua kamar dengan jenis yang sama. Uniknya lokasi homestay ini berada di dalam kawasan konservasi Lembu Putih, jadi pengunjung bisa sambil menikmati kecantikan hewan sakral ini,” kata I Wayan Gede Ardika, pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Taro.

Homestay di Desa Taro dibangun dengan gaya arsitektur Bali yang khas, memberikan nuansa autentik yang memperkaya pengalaman menginap. Bangunan homestay berbentuk segitiga dengan ornamen kayu yang kental.

Karena terletak di kawasan konservasi Lembu Putih, homestay ini menawarkan pemandangan sawah yang menakjubkan dan suasana yang tenang, cocok untuk relaksasi. Beberapa fasilitas yang akan traveler dapatkan di kamar yakni, AC, kulkas, lemari pakaian, meja kerja, wifi, king bed, meja kursi teras, dapur, toilet, dan meja kursi balkon.


Traveler yang ingin bermalam di homestay ini akan dikenakan biaya mulai dari Rp 500.000 per malamnya. Untuk traveler yang menginap dapat melakukan check in pukul 14.00 WITA dan check out pukul 12.00 WITA.

Karena lokasinya yang strategis dan harganya yang ramah di kantung, menurut Ardika homestay Desa Taro memiliki tingkat okupansi hingga 100% loh. Bagi traveler yang ingin menginap, bisa melakukan reservasi terlebih dahulu ke Instagram @desawisatataro, jangan sampai kehabisan ya!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Rekomendasi Wisata di Bali utara



Jakarta

Bali Utara punya banyak destinasi wsiata ciamik yang ingin liburan seru. Mulai dari bawah lautnya yang memukau hingga desa wisatanya yang kaya.

detikcom telah merangkum pada Jumat (23/8/2024) ragam tempat wisata di Bali utara yang bisa kamu kunjungi dan pamerkan di media sosial.

1. Handara Gate


Gerbang Handara BaliGerbang Handara Bali (Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Handara Gate berada di Jln. Raya Singaraja-Denpasar, Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Bila ditempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai butuh waktu empat jam untuk ke sini.

Handara Gate yang ikonik ini begitu viral di media sosial. Saking ciamiknya foto di sana, sering kali netizen menyebutkan ‘Gate to the Heaven’ atau Gerbang Surga.

Sejatinya, Gerbang ini merupakan pintu masuk menuju Handara Golf & Resort. Sesuai dengan namanya, ini adalah tempat ciamik untuk para pecinta golf bermain dan menginap.

Bila traveler hanya ingin berfoto di gerbangnya, cukup membayar Rp 30 ribu untuk durasi foto selama tiga menit. Di saat weekend, sangat ramai turis yang mengantre untuk hunting foto di sini.

Tidak ada jam operasional, traveler bisa datang kapanpun karena diizinkan foto ‘semenjak terang hingga gelap’ di sana.

2. Desa Wisata Pemuteran

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Desa Pemuteran lho. Mulai dari snorkling hingga trekking.

Di desa ini terdapat konservasi terumbu karang yang pastinya membuat bawah lautnya menjadi cantik. Kamu yang suka snorkling cocok banget nih datang dan belajar tentang terumbu karang di sini.

Di desa ini juga ada Proyek Penyu, penangkaran penyu yang dikelola sebuah organisasi yang menggandeng masyarakat lokal. Telur-telur penyu yang didapatkan nelayan akan dikumpulkan di sini hingga dikembangbiakkan. Nanti setelah berumur 2-3 bulan, tukik-tukik ini dilepaskan ke laut. Bila kamu beruntung, bisa nih berpartisipasi dalam pelepasan tukik. Sayang sekali, tidak ada waktu khusus untuk aktivitas pelepasan ini.

Desa Pemuteran memiliki pantai berpasir hitam. Walau begitu, sore-sore di sini bersantai juga bisa jadi keigatan seru. Setelah puas snorkling melihat aneka terumbu karang, kamu bisa bersantai menikmati es kelapa di pinggir pantai yang tenang.

Nah, traveler yang tak bisa snorkling, bisa nih trekking ke Bukit Batu Kursi. Tempat ini rumah bagi kawasan suci bernama Pura Batu Kursi yang berada tepat di puncak bukit. Bukit ini memiliki ketinggian sekitar 800 meter. Traveler dapat menyusuri jalan setapak berupa susunan tangga batu untuk mencapai puncak bukit.

3. Desa Les

Penyulingan arak di Desa LesPenyulingan arak di Desa Les (Syanti Mustika/detikcom)

Banyak desa wisata yang bisa kita kunjungi di Bali Utara, salah satunya adalah Desa Les. Di sini traveler bisa juga snorkling, trekking hingga melihat penyulingan arak Bali.

Desa Les di Tejakula, Buleleng masuk ke dalam 50 besar ADWI 2024. Desa ini kaya akan produksi pertanian seperti lontar, aneka buah-buahahn, hingga kaya akan hasil ikan lautnya.

Dari dulu, Desa Les memang ramai dikunjungi oleh turis asing. Namun dengan berkembangnya informasi dan sosial media, Desa Les mulai ramai dikunjungi turis domestik.

Traveler di sini juga bisa melihat proses penyulingan arak dan gula lontar di Dapoer Moela. Kamu bisa melihat banyak kendi-kendi arak yang siap diminum para tamu yang datang.

Setiap turis yang datang akan diajak ke tempat penyulingan sebagai kegiatan experience. Sebotol arak Bali ini dijual mulai Rp 150 ribu per botolnya (750 ml). Semakin tinggi kadar alkoholnya, semakin mahal. Sedangkan gula lontar atau juruh dijual Rp 70 ribu (600 ml).

4. Pantai Lovina

Lumba-lumba di Pantai LovinaLumba-lumba di Pantai Lovina (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Pantai Lovina dikenal sebagai tempat konservasi lumba-lumba liar. Adapun atraksi wisata yang ditawarkan adalah melihat kawanan lumba-lumba ini berenang di lautan.

Bila ditempuh dari Bandara i Gusti Ngurah Rai, butuh waktu sekitar 2,5-3 jam dengan jarak hampir 100 km dengan mobil menuju titik ini. detikcom pun beberapa waktu lalu berangkat dari Lovina Beach Club.

Traveler bisa menyewa perahu nelayan atau membeli paket wisata tur lumba-lumba ini. Adapun harganya Rp 125 ribu per pax, dan satu kapal itu bisa membawa 10 penumpang.

Traveler yang ingin merasakan sensasi yang sama, hanya perlu membayar Rp 125.000 nett/pax, untuk dewasa dan minimal 10 pax ( untuk 1 kapal). Bagi yang membawa anak-anak 1-2 tahun gratis.

Selain melihat lumba-lumba, di sini juga ada aktivitas seru lainnya seperti snorkeling, jet ski, shark boat hingga frenzy boat dan memancing.

Untuk pemesanan traveler bisa melakukan secara online. Untuk kemudahan, disarankan traveler untuk menginap juga di hotel terdekat karena kapal berangkat pagi hari.

5. Air Terjun Banyumala

Air Terjun Banyumala, Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Foto: Made Wijaya KusumaAir Terjun Banyumala, Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng Bali. (Made Wijaya Kusuma Foto)

Banyak spot air terjun yang bisa didatangi di Bali Utara, dan salah satunya adalah Air terjun Banyumala. Destniasi ini berada di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Bila ditempuh dari Ubud hampir 2 jam berkendara motor. Dan bila ditempuh dari Pura Ulun Danu Beratan hanya 30 menit saja.

Adapun tiket masuk ke air terjun Rp 20 ribu per orang. Untuk sampai ke air terjun kamu harus trekking sekitar 15-20 menit, tergantung kekuatan kaki mu.

Walau sedikit melelahkan, percayalah lelahmu terbayarkan dengan indahnya air terjun ini. Air terjun setinggi 20 meter ini mengalir deras di antara rerumputan hijau yang menghiasi tebing air.

6. Pura Ulun Danu Bratan

Pura Ulun Danu merupakan salah satu pura yang populer di kalangan wisatawan di Bali. Pura ini berada di Danau Beratan, Tabanan. Bila ditempuh dari Ubud sekitar 50 menit perjalanan berkendara.

Adapun daya tarik dari pura ini adalah keindahan lokasi pura yang dikelilingi pegunungan dan danau. Serta lokasinya yang ada di dataran tinggi membuat udara di sini terasa sejuk di saat siang hari. Adapun tiket masuk ke pura yaitu Rp 40 ribu saat weekeday, Rp 50 ribu saat weekend.

Sejarahnya, Pura Ulun Danu Beratan dibangun pada tahun 1634 oleh I Gusti Agung Putu. Fungsinya sebagai tempat pemujaan Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa).

Selain melihat pemandangan indah ini, aktivitas lain yang bisa kamu lakukan di sini adalah menikmati wahana air. Kamu bisa berkeliling Danau Beratan dengan speed boat atau bebek air. Di sini juga ada penyewaan perahu lho.

7. Danau Buyan

Danau Buyan adalah salah satu danau terbesar di Bali. Terletak di dataran tinggi Bedugul, danau ini dikelilingi oleh hutan lebat dan barisan bukit, menciptakan latar belakang yang indah dan menyegarkan.

Kawasan wisata Danau Buyan berlokasi di Desa Pancasari, tepatnya di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Akses menuju Danau Buyan sangat mudah dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jika traveler berangkat dari Denpasar, jarak tempuhnya sekitar 57 km dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam.

Adapun kegiatan menarik yang bisa dilakukan di sini yaitu kemping, memancing, trekking, hingga piknik.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Mengunjungi Desa ala ‘Kerajaan’ di Gunungkidul



Gunungkidul

Pedukuhan Wotawati di Gunungkidul yang cuma disinari sinar matahari selama 7 jam sehari kini punya penampakan baru seperti di zaman ‘kerajaan’.

Wotawati saat ini telah bersolek. Sebagian besar rumah di Wotawati memiliki tampilan depan bangunan atau fasad yang sama, seperti pada masa kerajaan. Kesamaan itu tampak pada penggunaan bata merah ekspose pada bagian dindingnya.

Selain itu, setiap rumah saat ini memiliki gapura yang berbentuk sama dan menggunakan bata merah ekspose. Gapura tersebut identik dengan masa kerajaan sehingga menimbulkan sensasi tersendiri saat mengunjungi Wotawati.


Lurah Pucung, Estu Dwiyono mengatakan perubahan fasad rumah warga sudah berlangsung sejak Juni 2024. Saat itu Wotawati mendapat suntikan dana keistimewaan (Danais) sekitar Rp 5 miliar untuk penataan tahun ini.

“Jadi saat ini memang kita sedang melaksanakan penataan di kawasan Wotawati. Sebenarnya menata sesuatu yang sudah ada, hanya istilahnya kita poles,” katanya kepada wartawan di Wotawati, Gunungkidul, Sabtu (9/11).

Wotawati Gunungkidul kini bak kerajaan. Foto diambil Sabtu (10/11/2024).Wotawati Gunungkidul kini bak kerajaan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

“Seperti pagar-pagar di setiap rumah tadinya sudah ada, tapi kami poles lagi, perbaiki agar tampil lebih artistik dengan menggunakan Danais. Jadi sebenarnya tidak ada membangun baru,” lanjut Estu.

Penataan tersebut, kata Estu, bakal berlangsung selama tiga tahun ke depan. Sedangkan jumlah rumah yang fasadnya mengalami renovasi mencapai puluhan.

“Insyaallah, program ini akan berlangsung selama tiga tahun ke depan dan ada sekitar 79 rumah yang akan direnovasi fasadnya,” ujarnya.

Terkait konsep fasad rumah warga khususnya gapura yang menyerupai di Bali, Estu menampiknya. Menurut Estu, penggunaan bata merah merupakan perpaduan antara masa Majapahit dan Mataram.

“Sebenarnya konsep tidak mirip dengan Bali ya, kami tetap menjaga karakter lokal. Konon ceritanya kami bagian dari pelarian Majapahit, karena itu kenapa kami memilih bata merah itu kan sebenarnya kita identik dengan Majapahit atau awal Mataram,” ucapnya.

“Tapi kemudian tetap kita akulturasikan dengan yang menjadi ciri khasnya Jogja, khususnya Gunungkidul. Sehingga gapura-gapura itu tidak seperti gapuranya Majapahit, Bali, tapi tetap dengan gaya Jogja dan Gunungkidul,” imbuh Estu.

Penataan untuk Daya Tarik Wisata

Dengan penataan tersebut, Estu berharap Wotawati yang sebelumnya kerap disebut menjadi kawasan terisolir berubah menjadi kawasan terpadu. Di mana tidak hanya menawarkan keindahan dan keunikan pemukiman tetapi juga ada camping ground termasuk sentra pertanian dan peternakan terpadu.

“Dan kami berharap beberapa rumah warga nantinya bisa menjadi homestay sebagai tempat menginap wisatawan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GKR Bendara menyebut penataan di Wotawati memang perlu. Semua itu untuk menjadikan Wotawati sebagai salah satu perwujudan quality tourism

“Karena ini baru mulai penataan, harapannya mulai ditata bersama-sama dengan industri dari sekarang agar bisa menjadi quality tourism,” katanya.

GKR Bendara juga meminta jangan sampai keindahan alam di Wotawati rusak setelah menjadi tempat wisata. Karena itu GKR Bendara berharap ada aturan khusus dari Kalurahan.

“Untuk menjaga keindahan alam desa wisata ini, kami berharap ada aturan dari kelurahan yang melindungi lingkungan. Selain itu adanya kesadaran dari masyarakat sekitar untuk menjaga alam,” ucapnya.

“Sehingga Desa Wisata Wotawati diharapkan bisa menjadi contoh desa wisata berkelanjutan dengan quality tourism. Karena itu yang menjadi fokus pembangunan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta,” lanjut GKR Bendara.

Bahkan, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini juga melakukan upaya penghijauan dan pemeliharaan lahan agar semakin subur. Di mana salah satunya di Wotawati.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin meningkat, perlindungan terhadap lingkungan hidup menjadi kebutuhan yang mendesak.

“Program ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki kualitas udara dan meningkatkan daya serap karbon, tapi juga untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan mendukung pariwisata yang berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

4 Wisata Alam di Sembungan Wonosobo, Desa Tertinggi di Pulau Jawa


Jakarta

Lanskap Indonesia yang di antaranya terdiri dari gunung dan pegunungan membuat sebagian masyarakat tinggal di dataran tinggi. Bahkan ada suatu wilayah di Pulau Jawa yang disebut sebagai desa tertinggi.

Ialah Desa Sembungan di Wonosobo yang dijuluki sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. Bukan tanpa alasan, Sembungan dikenal demikian karena terletak di ketinggian seiktar 2.300 mdpl. Panoramanya menawan dengan hamparan sawah berundak dan latar perbukitan hijau yang diselimuti sejuknya udara pegunungan.

Pada 2022 silam, Sembungan berhasil masuk daftar desa terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Karena memang di sana terdapat sejumlah wisata alam cantik yang patut dikunjungi. Lantas, ada wisata apa saja di desa tertinggi Pulau Jawa tersebut?


Wisata Alam di Sembungan Wonosobo

Desa Sembungan di Wonosobo, Jawa Tengah menawarkan wisata alam meliputi air terjun, telaga, hingga spot melihat matahari terbit. Mengutip situs Kemenparekraf, berikut penjelasannya:

1. Puncak Sikunir

Golden sunrise dari puncak sikunirGolden sunrise dari Puncak Sikunir Foto: Fadli Zaini Dalimunthe/d’Traveler

Di Bukit Sikunir, tepatnya di area puncaknya, traveler dapat menyaksikan matahari terbit (sunrise) mempesona. Cahaya matahari pagi yang mengintip di antara perbukitan dan awannya sungguh elok. Sunrise di Puncak Sikunir diklaim sebagai yang terbaik di Asia lho.

Pelancong disarankan mengunjungi Puncak Sikunir pada musim kemarau untuk mendapatkan best viewnya, sebab cuacanya cenderung cerah dan tidak berkabut.

2. Telaga Cebong

Di perjalanan menuju Puncak Sikunir, traveler akan menemukan Telaga Cebong. Terletak di lembah, telaga ini berlatarkan perbukitan dan sawah terasering hijau yang menyegarkan mata.

Dinamakan Telaga Cebong lantaran bentuknya yang mirip bayi katak jika dilihat dari atas. Dahulunya, telaga ini merupakan kawah purba seluas 18 hektare. Seiring waktu, kawah tersebut menjadi nonaktif dan mengecil sehingga kini tersisa sekitar 12 hektare saja.

3. Curug Sikarim

Pengunjung berwisata di air terjun Sikarim kawasan dataran tinggi Dieng Desa Sembungan, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (11/1/2023). Air terjun setinggi 125 meter yang berada di ketinggian 1.800 mdpl (meter diatas permukaan laut) tersebut dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Giri Tirta sebagai salah satu wisata alam alternatif di kawasan Dieng.  ANTARA FOTO/Anis EfizudinCurug Sikarim di Desa Sembungan Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Traveler juga bakal menjumpai air terjun berundak yang menakjubkan di Desa Sembungan yaitu Curug Sikarim. Menariknya, air terjun ini mengalir di atas permukaan batu curam.

Bebatuan di bawahnya bertingkat-tingkat sehingga air mengalir bebas di sela tumpukan batunya. Pada bagian bawah terdapat kolam kecil yang dipenuhi batu, pelancong disarankan untuk tidak turun.

Debit airnya cukup deras sehingga pengunjung mesti berhati-hati saat mendekati curug. Apalagi tumbuh lumut yang membuat bebatuannya licin, jadi traveler harus ekstra waspada.

Curug Sikarim dikelilingi hutan hijau lebat. Viewnya bahkan sudah terlihat dari jalan. Tak jarang pelancong berfoto di jalanan dengan air terjun indah ini sebagai backgroundnya.

4. Camping Ground

Tersedia penginapan serta homestay di Desa Sembungan. Jika tertarik lebih menyatu dengan alam, traveler dapat berkemah di camping ground.

Bisa dirikan tenda di tepi telaga untuk menikmati nuansa syahdu yang tak ada duanya. Dari sini juga dapat menyaksikan matahari terbenam (sunset) yang epic. Kalau tidak punya tenda, camping ground menawarkan sewa tenda dengan harga terjangkau. Bisa juga rental alat-alat outdoor lainnya.

Selain sejumlah wisata di atas, traveler dapat mengeksplor lanskap alam Desa Sembungan dengan menaiki jeep. Tour jeep bakal semakin seru jika beramai-ramai.

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

10 Wisata Hits di Boyolali, Bisa Berenang hingga Naik Wahana Seru!


Jakarta

Boyolali, Jawa Tengah punya sejumlah tempat wisata yang lagi hits dan ramai dikunjungi. Destinasi wisatanya bervariasi, traveler dapat menaiki berbagai wahana seru hingga berenang atau sekadar bermain air.

Boyolali sendiri memiliki panorama mempesona yang tak kalah dengan wilayah lain di Jawa Tengah. View Gunung Merapi dan Merbabu yang kehijauan dapat terlihat jelas saat cuacanya cerah. Udara sejuk dan alam yang asri pun bikin traveler betah berkunjung ke Boyolali. Simak tempat wisatanya di bawah ini.

Wisata Hits di Boyolali

Berikut sederet tempat wisata di Boyolali yang lagi hits dan patut didatangi, merangkum Google:


1. Cepogo Cheese Park

Lokasi: Dusun II, Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 08.00-18.00 WIB
Tiket Masuk: Rp 20.000-65.000

Cepogo Cheese Park termasuk objek wisata ramah keluarga di bawah naungan Cimory Group. Di sana traveler dapat bisa melihat dan berinteraksi dengan hewan di Mini Zoo hingga menaiki wahana seru seperti Tractor Tour De Farm, Rainbow Slide, ATV, dan Gokart.

Panorama di tempat juga nggak kalah loh, pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu bisa terlihat saat cuacanya cerah. Suasana sejuknya pun bikin betah bermain-main seharian.

Kalau lapar, traveler dapat bersantap berbagai menu lezat di resto Cepogo Cheese Park. Bisa juga mampir ke toko oleh-olehnya untuk membeli buah tangan berupa aneka makanan dan aksesoris.

2. Merapi Garden Selo

Merapi Garden Selo, BoyolaliMerapi Garden Selo, Boyolali Foto: dok. Instagram @merapigardenselo

Lokasi: Desa Samiran, Selo, Boyolali
Jam Buka: Senin-Jumat (09.00-20.00 WIB), Sabtu-Minggu (08.00-21.00 WIB)
Tiket Masuk: Rp 5.000

Berbagai bunga warna-warni bisa dijumpai di Merapi Garden Selo dan latar Gunung Merapinya mempercantik tempat ini. Ornamen seperti kincir angin hingga ayunan dapat dijadikan spot foto Instagramable.

Panorama menawan di sini bisa dinikmati lebih lama sambil menyeruput kopi di D’Garden Cafe. Ada juga hidangan enak lain yang dapat dipesan untuk mengisi perut. Boleh reservasi aktivitas menarik seperti paralayang, outbound, dan jeep wisata kafe ini.

3. Waduk Cengklik Park

Waduk Cengklik Park, Destinasi Baru Wisata di BoyolaliWaduk Cengklik Park Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

Lokasi: Gunungparan, Ngargorejo, Ngemplak, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 08.00-18.00 WIB
Tiket Masuk: Rp 20.000-75.000

Sesuai namanya, Waduk Cengklik Park berada dekat dengan Waduk Cengklik Boyolali. Traveler dapat menjajal sejumlah wahana seru seperti trampolin, rainbow slide, monorail, hingga bom bom car.

Anak-anak semakin betah karena di sini terdapat waterboom. Areanya yang dipenuhi miniatur tempat-tempat terkenal dunia juga bisa banget dijadikan spot foto estetik. Pesan tiket masuk bundling agar lebih hemat.

4. New Selo

Lokasi: Desa Samiran, Selo, Boyolali
Jam Buka: 24 Jam
Tarif Parkir: Rp 3.000-5.000

View Gunung Merbabu terlihat jelas di New Selo saat cuaca cerah. Puncak gunung hingga hutan lerengnya yang hijau sangat bagus dijadikan background foto.

Singgah di beberapa warungnya juga boleh untuk menikmati panorama mempesona sambil ditemani minuman dan makanan hangat.

5. Wisata Alam Panorama

Wisata Alam Panorama BoyolaliWisata Alam Panorama Boyolali Foto: dok. Instagram @panoramaboyolali.official

Lokasi: Desa Nepen Teras, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 08.00-17.00 WIB
Tiket Masuk: Rp 10.000

Kunjungi Wisata Alam Panorama kalau ingin bermain air di kolam bebatuan jernih yang airnya mengalir dari mata air alami. Pengunjung semua usia bisa berenang di sini karena terdapat kolam dangkal hingga sedang. Bisa juga melakukan ban tubing atau menyusuri aliran air menggunakan ban karet.

Bosan bermain air dapat mencoba berkuda atau tangkap ikan. Ada juga paket outbound bersama rombongan. Jika tak ingin basah-basahan bisa bersantai di gazebonya. Tempatnya sejuk dan teduh lantaran berada di bawah pohon rindang.

6. Desa Wisata Samiran

Lokasi: Dusun IV, Desa Samiran, Selo, Boyolali
Jam Buka: 24 Jam

Kegiatan seru meliputi berburu sunrise, soft dan hard tracking ke Gunung Merapi serta Merbabu, hingga outbound dan wisata edukasi bisa dicoba saat ke Desa Wisata Samiran atau dikenal Dewi Sambi.

Traveler juga dapat bermalam di sana lantaran terdapat banyak homestay dengan harga sewa terjangkau. Alam asri dan udara sejuknya cocok jadi tempat healing sejenak.

7. Wisata Kali Talang

Lokasi: Area Sawah Desa Nepen, Teras, Boyolali
Jam Buka: 24 Jam
Tiket Masuk: Gratis

Kalau mau wisata gratisan di Boyolali bisa datangi Wisata Kali Talang. Traveler bisa bermain air atau berenang di aliran airnya yang bersih, cukup jernih, dan agak deras. Kalinya dangkal sehingga aman untuk anak-anak.

Warga sekitar juga kerap memanfaatkan Kali Talang untuk tempat cuci baju hingga tikar. Jadi, jangan heran kalau berenang di sini sambil ditemani ibu dan bapak-bapak yang sedang mencuci.

8. Simpang Paku Buwono VI

Simpang PB VI di Selo, Boyolali.Simpang PB VI di Selo, Boyolali. Foto: Jarmaji/detikJateng

Lokasi: Jl. Blabak-Boyolali, Desa Samiran, Boyolali
Jam Buka: 24 Jam
Tiket Masuk: Gratis

Simpang Paku Buwono VI bukan sekadar area alun-alun biasa. Pengunjung bisa menikmati view Gunung Merapi dengan jelas ketika cuacanya cerah di sini.

Sepeda listrik, delman, dan kuda dapat disewa untuk berkeliling Alun-Alun Selo, Boyolali yang indah ini. Di sekelilingnya juga banyak penjual makanan yang menjajakan berbagai menu memanjakan lidah.

9. Taman Air Tlatar

Taman Air Tlatar di BoyolaliTaman Air Tlatar di Boyolali Foto: Brigida Emi Lilia/d’traveler

Lokasi: Jl. Pangeran Diponegoro, Dusun 2, Kebonbimo, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 09.00-17.00 WIB
Tiket Masuk: Rp 7.000

Kunjungi Taman Air Tlatar kalau ingin berenang atau sekadar main air, melihat ikan, dan makan-makan. Kolam renang di sini ditujukan buat anak-anak. Sambil menyantap berbagai hidangan lezat di restonya, traveler bisa melihat ikan di kolam yang jernih. Ada juga taman hijau yang sejuk dan asri di sini.

10. Omah Kita Selo

Omah Kita SeloOmah Kita Selo Foto: dok. Instagram @omahkitaselo

Lokasi: Citakan, Desa Samiran, Selo, Boyolali
Jam Buka: Setiap hari, 10.00-19.00 WIB

Panorama Selo, Boyolali amat disayangkan jika dinikmati hanya sehari. Traveler dapat bermalam di Omah Kita untuk pengalaman menginap yang terjangkau. Namun jangan salah, panorama yang disuguhkannya nggak murahan karena Gunung Merapi beserta lereng hijaunya terlihat jelas dari sini.

Di Omah Kita juga terdapat kafe asik untuk nongkrong. Menu ramen katsu hingga paket sukiyaki dan steamboat bisa dipesan untuk mengganjal perut keroncongan.

(azn/fds)



Sumber : travel.detik.com