Tag Archives: detikbali

6 Penyebab Ada Semut di Rumah dan Tempat Persembunyian yang Disukainya



Jakarta

Semut adalah serangga kecil yang biasa ditemukan berkerumun pada suatu objek atau tempat. Hewan kecil ini mudah ditemukan di rumah, baik rumah dalam kondisi bersih ataupun kotor. Hewan kecil ini selalu bisa menemukan sumber makanan dan tanpa disadari sudah berkerumun di suatu tempat, salah satunya di sekitar makanan. Sebenarnya selain makanan, ada banyak penyebab semut datang.

Masalahnya, kehadiran semut terkadang mengganggu karena mereka menargetkan makanan yang sebenarnya masih layak dimakan. Apabila sudah menjadi santapan semut, makanan tersebut harus dibersihkan dahulu atau parahnya harus dibuang.

Jika kamu tidak menyukai kehadiran semut, maka kamu harus mengetahui lokasi yang disukai semut atau tempat persembunyiannya.


Mengutip dari Natural Green System, Rabu (7/8/2024), para ahli mengatakan semut mudah ditemukan apabila di rumah terdapat sumber makanan, tempat lembab, dan celah-celah persembunyian yang terlindung seperti di bawah tempat penyimpanan, di bawah lantai, dan di dinding.

Penyebab Semut Datang ke Rumah

Dikutip dari detikBali, berikut beberapa penyebab adanya semut di rumah.

  1. Dinding retak atau lantai berlubang merupakan tempat paling disukai semut untuk membangun sarang.
  2. Cuaca hujan membuat kondisi menjadi lembap, yang membuat semut-semut di dalam tanah akhirnya keluar untuk mencari tempat kering.
  3. Sisa makanan di atas meja atau jatuh ke lantai.
  4. Makanan atau minuman manis yang dibiarkan terbuka.
  5. Cuaca yang sangat panas membuat semut masuk ke dalam rumah untuk mencari tempat lebih sejuk.
  6. Kondisi rumah dalam keadaan kotor dengan banyaknya sampah, sisa makanan berserakan, hingga bangkai hewan membuat semut datang.

Nah, itulah penyebab masuknya semut ke dalam rumah.

Mau tahu berapa cicilan rumah impian kamu? Cek simulasi hitungannya di kalkulator KPR.

Nah kalau mau pindah KPR, cek simulasi hitungannya di kalkulator Take Over KPR.

(aqi/zlf)



Sumber : www.detik.com

Catat! Ini 6 Penyebab Semut Muncul di Rumah



Jakarta

Semut merupakan serangga kecil yang bisa ditemukan di mana pun, termasuk di rumah. Mereka bisa tiba-tiba muncul di rumah jika ada sumber makanan. Tapi sebenarnya selain makanan ada juga penyebab lain semut muncul di rumah.

Jika kamu sedang menghadapi masalah semut di rumah, kamu harus tahu mana saja lokasi yang disukai semut dan tempat persembunyiannya.

Mengutip dari Natural Green System, para ahli menjelaskan semut bisa ditemukan jika di rumah ada sumber makanan, tempat lembab, dan celah-celah persembunyian yang terlindung seperti di bawah tempat penyimpanan, di bawah lantai, dan di dinding.


Penyebab Semut Datang ke Rumah

Dikutip dari detikBali, berikut beberapa penyebab munculnya semut di rumah.

  1. Dinding retak atau lantai berlubang merupakan tempat paling disukai semut untuk membangun sarang.
  2. Cuaca hujan membuat kondisi menjadi lembap, yang membuat semut-semut di dalam tanah akhirnya keluar untuk mencari tempat kering.
  3. Sisa makanan di atas meja atau jatuh ke lantai.
  4. Makanan atau minuman manis yang dibiarkan terbuka.
  5. Cuaca yang sangat panas membuat semut masuk ke dalam rumah untuk mencari tempat lebih sejuk.
  6. Kondisi rumah dalam keadaan kotor dengan banyaknya sampah, sisa makanan berserakan, hingga bangkai hewan membuat semut datang.

Nah, itulah penyebab masuknya semut ke dalam rumah.

(das/das)



Sumber : www.detik.com

Pulau Unik di NTT yang Dapat Ditempuh dengan Jalan Kaki saat Laut Surut



Jakarta

Di bagian utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat satu pulau unik yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki saat laut surut.

Adalah pulau Nusa Kutu yang terletak di Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Tempat itu sekitar 100 meter dari daratan Flores. Pulau itu memiliki struktur karang kokoh yang memiliki sabana di atasnya.

Pulau ini dulunya bagian dari Pulau Flores. Namun akibat bencana alam yang melanda Kabupaten Sikka pada 1992, Nusa Kutu terpisah dan menjadi pulau mandiri.


Untuk mengunjungi pulau ini, pengunjung dapat berkendara dari Kota Maumere ke arah barat melalui jalur Pantura menuju Desa Kolisia. Perjalanan memakan waktu sekitar 20-25 menit.

Setibanya di Kolisia, mata Anda akan dimanjakan dengan hamparan pasir putih yang halus. Tersedia pondok kecil di sekitar lokasi parkir yang bisa disewa, menciptakan suasana santai sebelum perjalanan ke pulau dimulai.

Setelah tiba di lokasi, biaya parkir yang dikenakan cukup terjangkau, yaitu Rp 5.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 10.000 untuk kendaraan roda empat. Selain area parkir, pengunjung dapat menyewa balai-balai kecil dengan harga Rp 20.000, tempat yang nyaman untuk bersantai menikmati pemandangan.

Untuk mencapai Nusa Kutu, pengunjung dapat menggunakan perahu milik nelayan setempat dengan waktu tempuh sekitar 5-7 menit saat laut pasang.

Uniknya, jika air laut sedang surut, pengunjung bisa berjalan kaki menyusuri pesisir menuju pulau sambil ditemani deburan ombak. Jalur ini memberikan pengalaman unik, seolah menyusuri jalur alami yang menghubungkan daratan dengan pulau kecil ini.

Untuk mencapai puncak Nusa Kutu, pengunjung perlu berjalan sekitar 50 meter melewati lereng bukit. Dari sana, pemandangan luas ke arah laut dan pulau di sekitarnya menjadi panorama yang tak terlupakan.

Salah satu momen terbaik untuk mengunjungi Nusa Kutu adalah saat senja. Keindahan matahari terbenam di pulau ini menciptakan pemandangan memukau, menjadikannya surga bagi para pecinta sunset.

Bagi Anda yang mencari destinasi unik di Kabupaten Sikka, Nusa Kutu menawarkan pengalaman wisata alam yang asri dan menenangkan, lengkap dengan pemandangan indah dan suasana eksotis. Nikmati keindahan dan ketenangan Nusa Kutu di akhir pekan Anda!

__________________

Artikel ini telah tayang di detikBali

(wkn/wkn)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Eksotis juga Mistis Jalur Pendakian Gunung Catur Bali



Jakarta

Bali memiliki begitu banyak gunung yang bisa didaki oleh para traveler. Salah satu yang mengandung banyak misteri saat kabut turun yakni Gunung Catur.

Jalur pendakian Pura Pucak Mangu di Gunung Catur, Banjar Tinggan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, memiliki keunikan tersendiri. Jalur yang jarang dikunjungi pendaki itu menyuguhkan pemandangan yang eksotis dan mistis.

“Jalur itu untuk persembahyangan ke pura. Jadi, dijaga betul oleh warga,” kata Jero Bendesa Agung Pucak Mangu I Made Sujana kepada detikBali, Sabtu (19/10).


detikBali sempat mendaki ke Pura Pucak Mangu, beberapa waktu lalu. Jalur pendakian dimulai di areal parkir atas Pura Pucak Mangu. Sekitar pukul 07.10 Wita, detikBali mulai mendaki bersama dua pendaki lain.

Saat itu, suasana di sana masih cukup sepi. Selain detikBali, hanya empat orang yang mendaki ke Pura Pucak Mangu saat itu. Meski sepi, jalur pendakian masih terlihat jelas.

Jalan hutan yang tertata dan dilapisi lempengan batu, membuat jalur pendakian tidak terlalu sulit untuk ditelusuri. Hanya, penataan lempengan batu yang dibuat berundak-undak seperti tangga, terasa berat, apalagi bagi pendaki pemula.

Semakin masuk ke dalam, hutan yang lebat menyuguhkan pemandangan eksotis di sepanjang jalur. Kabut saat pagi hari dan rimbunan pohon di kiri dan kanan jalan menambah aura mistis bak film horor yang berlatar belakang tempat di hutan.

Beberapa pohon terlihat dililit kain putih dan kuning, dengan tumpukan canang di bawahnya. Di situ, tempat warga atau pendaki yang beragama Hindu berdoa memohon keselamatan sebelum tiba di Pura Pucak Mangu di ketinggian 2096 MDPL.

Tak hanya pepohonan, kabut, dan suara binatang yang terlihat dan terdengar di sepanjang jalur pendakian. Ada juga rambu atau papan tanda ketinggian meter di atas permukaan laut (mdpl) dan empat papan tanda pos yang terpampang di sepanjang jalur pendakian.

Jalur pendakian ke Pura Pucak Mangu di Gunung Catur, Badung, Bali, Senin (9/10/2024). (Aryo Mahendro/detikBali)Jalur pendakian ke Pura Pucak Mangu di Gunung Catur, Badung, Bali (Foto: Aryo Mahendro/detikBali)

Sekitar dua jam mendaki, di ketinggian sekitar 1.700 MDPL, detikBali akhirnya sampai di Pura Pesiraman. Selain tempat sembahyang, pura itu juga jadi sumber mata air bagi warga atau pendaki yang kehausan.

“Itu Pura Pesiraman. Tempat sumber air ada di sana. Tapi, karena sekarang musim kemarau (airnya) habis,” kata Sujana.

Meski menyuguhkan pemandangan eksotis nan mistis, banyak papan tanda ketinggian mdpl yang terpasang di sepanjang jalur itu rusak. Mulai papan tanda 100 mdpl hingga 1.850 mdpl, terlihat rusak dan banyak coretan sehingga tak terbaca.

Sujana mengatakan wajar bila rambu tanpa ketinggian itu kondisinya rusak. Jalur pendakian itu memang ramai oleh warga yang mendaki ke Pura Pucak Mangu hanya saat perayaan keagamaan Hindu atau upacara adat lain.

“Karena sebenarnya, jalur itu disakralkan. Bukan untuk pendaki. Boleh mendaki, tapi harus ada izin pariwisatanya. Tapi memang baru sedikit (pengunjungnya),” kata Sujana.’

Meski tidak sepenuhnya tertutup untuk umum, warga atau wisatawan, masih diperbolehkan mendaki dan berkunjung ke Pura Pucak Mangu. Sujana mengingatkan warga atau wisatawan wajib lapor ke bendesa adat setempat sebelum melakukan pendakian.

“Karena kalau nggak izin, khawatir orangnya nggak selamat. Jadi, untuk keamanan bersama, pendaki harus izin. Nanti kami sediakan pemandu khusus supaya nggak tersesat,” jelasnya.

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Bertualang Mendaki Gunung Egon yang Menakjubkan



Sikka

Terletak di Sikka, NTT ada sebuah gunung yang menanti untuk ditaklukkan. Gunung Egon namanya. Pemandangan gunung ini begitu menakjubkan. Sudah pernah ke sini?

Gunung Egon berdiri kokoh dengan ketinggian 1.703 meter di atas permukaan laut. Sebagai salah satu gunung berapi aktif di Pulau Flores, gunung Egon menarik perhatian pendaki dan wisatawan yang ingin menikmati petualangan alam yang menantang dan pemandangan menakjubkan.

Gunung Egon berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari pusat kota Maumere, menjadikannya cukup mudah dijangkau, meskipun tidak ada transportasi umum langsung menuju base camp.


Pengunjung biasanya menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewaan untuk mencapai kaki gunung. Dari Maumere, perjalanan menuju basecamp di Waigete membutuhkan waktu sekitar satu jam melalui jalan utama ke arah Larantuka.

Jalur Pendakian Gunung Egon

Gunung Egon menawarkan dua jalur pendakian utama: jalur Desa Blindit dan jalur Inerie.

· Jalur Desa Blindit

Jalur ini cocok bagi Anda yang siap menghadapi tantangan fisik yang cukup berat. Pendakian dimulai dengan melalui jalan setapak di hutan, diikuti oleh jalur berbatu yang cukup terjal. Pendakian melalui Desa Blindit membutuhkan stamina ekstra, namun sepadan dengan suasana alami yang menenangkan sepanjang jalan.

· Jalur Inerie

Alternatif lain adalah jalur Inerie, yang meskipun lebih panjang, menawarkan lintasan zig-zag yang lebih bersahabat bagi pendaki pemula. Jalur ini memungkinkan Anda menikmati pemandangan indah dan sedikit lebih aman karena tidak terlalu curam seperti jalur Desa Blindit.

Kedua jalur itu akan membawa para pendaki melewati lereng-lereng berbatu dan area keramat yang dijaga dan dihormati oleh penduduk setempat.

Disambut Kekayaan Flora Fauna Gunung Egon

Di sekitar kawah Gunung Egon, Anda akan menemukan tanaman khas seperti santigi gunung (Vaccinium varingifolium), tumbuhan perdu yang tumbuh pada ketinggian di atas 1.000 meter.

Dengan daun kecil dan pucuk berwarna merah muda hingga merah, tanaman ini menambah keindahan alam sekitar bebatuan dan kawah. Selama perjalanan, kicauan burung dan angin sejuk yang berhembus akan menemani pendakian, memberi semangat ekstra bagi para pendaki.

Pemandangan Menakjubkan Kawah Gunung Egon

Setibanya di puncak, pendaki akan disuguhi panorama luar biasa dari Teluk Maumere dan pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya. Aroma belerang mulai tercium ketika Anda semakin dekat dengan kawah, yang memperlihatkan kepulan asap hasil aktivitas vulkanik.

Kawah besar yang terbentuk akibat letusan masa lalu ini dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi, menambah kesan megah dari pemandangan alam yang ditawarkan Gunung Egon.

Tips Mendaki Gunung Egon

Pendakian ke puncak tertinggi gunung Egon disarankan bagi mereka yang telah memiliki dasar dalam mendaki gunung atau pengalaman climbing, karena rute menuju puncak cukup terjal dan mengharuskan pendaki untuk memanjat batuan.

Pemandu lokal biasanya akan mengingatkan pengunjung untuk menghormati area-area tertentu yang dianggap keramat, serta mengikuti jalur yang aman guna menjaga keselamatan selama pendakian.

Namun karena situasi gunung Lewotobi Laki-laki yang sedang erupsi, sebaiknya traveler menunda untuk mendaki gunung Egon sampai situasi dirasa aman ya.

——–

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gem di Sikka, Air Panas Blidit yang Tersembunyi



Sikka

Akhir pekan, saatnya bertualang. Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ada wisata mata air panas Blidit yang tersembunyi. Hidden gem nih!

Air Panas Blidit terletak di perbatasan Desa Waigete dan Hutan Lindung Egon. Onjek wisata Air Panas Blidit menawarkan pengalaman berendam di air yang jernih dan bersih tanpa sampah serta suasana alam yang asri dan menenangkan.

Perjalanan menuju Air Panas Blidit memakan waktu sekitar 30 hingga 40 menit dari Maumere, dengan jarak sekitar 30 kilometer. Pengunjung dapat memulai perjalanan dari Jalan Trans Flores Maumere-Larantuka.


Setibanya di persimpangan Desa Egon, terdapat papan penunjuk arah menuju Air Panas Blidit. Ikuti petunjuk jalan tersebut hingga mencapai area pedesaan, di mana pengunjung akan melintasi jalan beraspal sepanjang tujuh kilometer sebelum tiba di area parkir.

Dari tempat parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer (km) melewati Hutan Lindung Egon. Jalur ini menawarkan pengalaman unik dengan pemandangan pohon-pohon tinggi dan hijau, memberikan kesan seperti berjalan di dalam lukisan alam yang menakjubkan.

Namun, pengunjung perlu berhati-hati karena medan yang dilalui cukup menantang. Sesampainya di lokasi, pengunjung dapat menikmati air hangat dengan suhu yang pas untuk tubuh.

Selain memberikan kenyamanan, air panas di sini dipercaya oleh masyarakat setempat mampu membantu menyembuhkan berbagai penyakit kulit, seperti eksim dan gatal-gatal. Tidak heran, destinasi ini lebih sering dikunjungi oleh warga lokal dan belum terlalu dikenal oleh wisatawan luar.

Bagi traveler yang ingin merasakan sensasi alami berendam di air panas di tengah hutan, Blidit adalah pilihan yang tepat. Terlebih, berkunjung ke sana tanpa dipungut biaya. Pastikan untuk menjaga kebersihan dan berhati-hati selama perjalanan agar keindahan alamnya tetap terjaga.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Gereja Katolik Tertua di Pulau Dewata



Badung

Meski mayoritas beragama Hindu, tetapi ada juga penganut agama Katolik di Bali. Bahkan, ada gereja Katolik tertua di Pulau Dewata. Simak kisahnya berikut ini:

Di sudut Desa Tuka, Dalung, Kuta Utara, Badung, berdiri sebuah gereja megah bernama Gereja Tritunggal Mahakudus. Gereja ini bukan sekadar tempat ibadah umat Katolik, tetapi juga saksi sejarah panjang interaksi budaya dan kepercayaan agama di Bali.

Berusia 87 tahun, katedral ini memiliki daya tarik unik melalui arsitekturnya yang kental dengan nuansa Bali.


Desa Tuka dikenal sebagai desa pertama di Bali yang menerima ajaran Katolik. Tokoh masyarakat setempat, I Gusti Ngurah Bagus Kumara, mengisahkan bahwa leluhur mereka yang sebelumnya beragama Hindu mulai memeluk Katolik pada awal abad ke-20.

Pada tahun 1937, umat Katolik di Tuka membangun sebuah gereja kecil yang sederhana di sebelah barat desa, dengan bantuan seorang Hindu bernama I Gusti Made Rai Sengkug dari Banjar Pendem, Dalung.

“Beliau seorang asli Hindu,” tutur Ngurah Bagus Kumara, ditemui di gereja, Rabu (25/12/2024).

Namun, pada tahun 1983, gereja ini dipindahkan ke lokasi baru di timur desa. Relokasi ini tidak hanya memberikan ruang yang lebih luas tetapi juga menjadi momen penting untuk merevitalisasi arsitektur gereja dengan konsep khas Bali.

Bangunan gereja yang baru pun diresmikan pada tahun 1987 oleh Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra.

Terinspirasi dari Pura Besakih

Dalam proses perancangan gereja baru, tokoh-tokoh Tuka terinspirasi oleh keindahan dan kekuatan simbolik Pura Agung Besakih di Karangasem.

“Dulu kami memutuskan bangunan gereja ini harus benar-benar yang bernilai Bali kuat. Dari sekian yang ada, di mana yang pas. Corak bangunan khas apa yang cocok. Lalu kami berpikir untuk mengadopsi gaya wantilan,” ujar pria yang saat ini sedang menyusun buku tentang sejarah kekatolikan di Bali.

Mereka ingin bangunan gereja ini mencerminkan identitas Bali. Ide untuk mengadopsi desain wantilan – bangunan tradisional Bali yang biasa digunakan untuk pertemuan – menjadi landasan utama desain gereja.

Atap gereja dibuat tinggi berbentuk limas segi empat menyerupai wantilan, sementara pintu masuknya dirancang dengan gaya angkul-angkul Bali lengkap dengan dua pintu kecil di kiri dan kanan.

Bagian tengah gereja diperkuat oleh pilar-pilar kayu berukir yang di Bali dinamai adegan. Jumlahnya 41 tiang, ditambah empat tiang beton besar sebagai penopang utama.

Bangunan gereja dirancang secara terbuka menyesuaikan konsep wantilan Bali. Secara keseluruhan, bangunan ini mampu menampung lebih dari 500 orang jemaat.

Makna Filosofi Gereja

Bagian altar gereja dihiasi dengan ukiran kayu dan dinding dari bata merah serta batu padas. Sebuah pintu kayu di altar menjadi akses menuju ruang penyimpanan benda-benda sakral seperti salib dan tabernakel, yang memiliki fungsi serupa dengan gedong pasimpenan dalam tradisi Hindu Bali.

Di atas altar, terdapat aksara Bali bertuliskan ‘Ene anggan manira, ene rah manira’ yang berarti ‘Inilah tubuhku, inilah darahku.’

Ngurah Bagus Kumara, yang kini tengah menyusun buku tentang sejarah kekatolikan di Bali, menjelaskan bahwa ungkapan ini menekankan ketulusan dan pengorbanan, nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam iman Katolik maupun budaya Bali.

Merayakan Natal dengan Nuansa Budaya Bali

Pada perayaan Natal tahun ini, suasana khidmat terasa menyelimuti Gereja Tritunggal Mahakudus. Yang menarik, banyak umat Katolik di Tuka tetap mengenakan pakaian adat Bali saat beribadah.

Menurut Ngurah, tradisi ini bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap leluhur tetapi juga simbol kecintaan terhadap budaya.

Pemakaian udeng melambangkan penjernihan pikiran, sementara kamen yang dilipat dengan kancut melambangkan penghormatan terhadap ibu pertiwi.

“Bentuk hormat terhadap ibu pertiwi dikuatkan dengan kancut yang dibentuk mengerucut ke bawah saat melipat kamen. Nilai-nilai itu yang kami tanamkan,” jelas Ngurah.

Hiasan khas Bali seperti gebogan dan penjor pun turut memperindah gereja, mencerminkan kebahagiaan dan suka cita menyambut kelahiran Yesus Kristus.

Dengan perpaduan iman dan budaya yang begitu harmonis, Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga simbol keberagaman yang kaya makna.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Air Terjun Ini Sangat Keramat tapi juga Begitu Menawan



Jakarta

Air Terjun Murundao di Ende, NTT, menawarkan keindahan alam, trekking mudah, dan nuansa mistis. Cocok untuk liburan keluarga dan pencinta alam.

Terletak di Desa Koanara, Kecamatan Kelimutu, air terjun ini menyajikan pemandangan alam yang memukau dan suasana yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota. Dengan ketinggian sekitar 40-50 meter, Air Terjun Murundao menjadi salah satu air terjun terbesar di daerah ini.

Dikelilingi oleh hutan tropis yang rimbun, Air Terjun Murundao menawarkan suasana yang menyejukkan dan damai. Pepohonan hijau yang lebat menciptakan pemandangan yang menenangkan bagi siapa saja yang mengunjunginya.


Suara gemericik air yang jatuh dari ketinggian serta udara segar yang mengalir membuat tempat ini menjadi tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati alam.

Ketika sampai di Air Terjun Murundao, pengunjung akan disambut dengan pemandangan yang memukau dan suasana yang damai. Anda dapat merasakan kesejukan udara pegunungan sambil menikmati keindahan alam sekitar.

Trekking menuju air terjun ini pun tidak terlalu sulit, cocok untuk semua kalangan, termasuk anak-anak. Jalur trekking yang ringan ini memungkinkan pengunjung untuk menjelajahi flora dan fauna lokal, sekaligus mengajak anak-anak berinteraksi dengan alam dan mengajarkan mereka untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Selain keindahan alamnya, Air Terjun Murundao juga memiliki cerita mistis yang menambah daya tariknya. Menurut cerita rakyat setempat, air terjun ini dianggap sebagai tempat yang suci dan keramat. Banyak orang datang ke sini untuk melakukan upacara keagamaan, berdoa, atau memohon berkah. Hal ini memberi nuansa spiritual yang membuat tempat ini terasa lebih istimewa.

Air Terjun Murundao terletak sekitar 60 kilometer (km) dari ibu kota Kabupaten Ende, yang dapat dijangkau dalam waktu sekitar 2 jam dengan kendaraan. Jika Anda berasal dari kota Moni, air terjun ini hanya berjarak sekitar 400 meter, yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit.

Jalan masuk menuju air terjun ini terletak tepat di seberang Rainbow Cafe Moni. Dari pintu masuk, Anda akan melewati jalan setapak tanah yang menurun hingga tiba di jembatan bambu yang melintasi sungai kecil yang mengalir dari air terjun. Setelah menyeberangi jembatan, Anda hanya perlu berjalan 50 meter lagi untuk mencapai dasar air terjun.

Dengan keindahan alam yang menakjubkan dan trek yang cocok untuk keluarga, Air Terjun Murundao menjadi destinasi wisata yang tepat untuk liburan bersama keluarga atau teman-teman.

Baca artikel selengkapnya di detikBali

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Boleh Mandi di Air Terjun Ini, tapi Jangan Berhajat Ya



Jakarta

Air Terjun Wairpoar merupakan salah satu destinasi wisata yang cukup populer di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Letaknya tak jauh dari Gunung Lewotobi Laki-laki, hanya sekitar delapan kilometer.

Di tengah erupsi, objek wisata ini tetap diminati turis domestik maupun asing. Lantaran jaraknya yang dekat kawasan Air Terjun Wairpoar terdampak abu vulkanik Lewotobi.

Air Terjun Wairpoar merupakan salah satu mata air alami. Lokasinya berada tak jauh dari rumah penduduk di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang.


Untuk menikmati air terjun ini, bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Bisa juga jalan kaki dari permukiman penduduk dengan jarak tempuh tak lebih dari 30 menit.

“Jalan masuk 1 kilometer, kurang lebih 30 menit ke sana,” kata Kepala Desa Boru, Darius Don Boruk, kepada detikBali, Minggu (16/2/2025).

Don Boruk mengungkapkan pada 2016 Desa Boru membangun sarana mandi, cuci, kakus (MCK) di lokasi air terjun. Maka, turis-turis tak perlu khawatir jika berwisata ke sana.

Menurut Don Boruk, waktu paling aman berwisata ke Air Terjun Wairpoar adalah pada Oktober dan November. Sebab, debit mata airnya tidak terlalu besar. Wisatawan diminta waspada di saat hujan karena debit air yang bisa meningkat.

Selain menikmati jernihnya air terjun, wisatawan juga bisa menikmati panorama alam yang asri. Di sekeliling air terjun penuh dengan pepohonan.

Don Boruk mengungkapkan kunjungan ke Air Terjun Wairpoar saat ini setiap harinya tidak terlalu sepi, meski aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki meningkat. Ada puluhan wisatawan tiap hari.

“Masih saja orang ke sana, saat ini bisa sekitar 20 orang. Kemarin menurun karena bencana (erupsi Lewotobi Laki-Laki),” imbuhnya.

Dia mengatakan para turis bisa melakukan beragam aktivitas di Air Terjun Wairpoar. Mulai mandi sepuasnya hingga makan-makan di sekitar destinasi wisata. Tentu dengan menjaga kebersihan. Namun, ada satu hal yang dilarang keras, yakni buang air besar di sumber mata air tersebut.

Baca artikel selengkapnya di detikBali

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Pemandangannya Desa, Gunung dan Laut



Jakarta

Warloka adalah destinasi wisata baru dengan keindahan alam, suasana kampung tua, dan spot foto menarik. Nikmati pengalaman unik di sisi Labuan Bajo ini!

Labuan Bajo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki banyak destinasi wisata yang menarik. Selain Taman Nasional Komodo, wisatawan kini dapat mengunjungi Warloka, sebuah destinasi baru yang menawarkan keindahan alam dan suasana kampung tua.

Warloka terletak di Desa Warloka Pesisir, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat. Destinasi ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit perjalanan darat dari Labuan Bajo, tepat di tepi ruas jalan Labuan Bajo-Golo Mori.


Warloka mulai ramai dikunjungi wisatawan sejak awal tahun ini, terutama wisatawan domestik. Destinasi ini menawarkan panorama laut yang indah, berpadu dengan perbukitan serta suasana kampung tua yang khas.

“Warloka bagusnya ada tiga pilihan foto pemandangan. Ada pemandangan laut, ada yang gunung, ada juga yang pemukiman warga,” ujar Epy Wahab, salah satu wisatawan lokal yang mengunjungi Warloka, Minggu (23/2/2023).

Wisatawan domestik menikmati pemandangan alam Warloka, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTTWisatawan domestik menikmati pemandangan alam Warloka, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT (dok. Istimewa)

Berbagai spot foto tersedia untuk mengabadikan keindahan alam Warloka. “Yang ke sana banyak pilihan spot fotonya. Di spot fotonya juga sudah disiapkan kursi, meja dari kayu. Jadi pengunjung bisa duduk santai sambil nikmati pemandangan,” terang Epy.

Selain menikmati panorama alam, wisatawan juga bisa merasakan sensasi berjalan di tengah kampung Warloka dengan menyusuri gang-gang di pemukiman warga.

“Ketika mau ke spot foto juga kita mesti lewati jalan gang di pemukiman rumah-rumah warga, itu juga jadi punya sensasi yang beda buat pengunjung,” jelas Epy.

Wisatawan lainnya, Hamid, juga merasakan pengalaman berkesan saat mengunjungi Warloka. Menurutnya, pemandangan pantai, laut biru jernih, dan perbukitan di sekitar Warloka menjadi daya tarik utama.

Baca artikel selengkapnya di detikBali

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com