Tag Archives: detikjabar

Terowongan Peninggalan Belanda yang Menyimpan Mitos di Sukabumi



Sukabumi

Masyarakat Sukabumi punya cerita tentang keberadaan terowongan bawah tanah peninggalan Belanda di kota itu. Terowongan tersebut dipercaya menyimpan mitos.

Beberapa orang percaya terowongan itu menyimpan misteri. Sementara yang lain, menganggapnya hanyalah sebuah saluran drainase biasa.

Namun, fakta sejarah mengungkap, apa yang sering disebut terowongan bawah tanah di Sukabumi sebenarnya adalah saluran air tertutup atau gorong-gorong yang dikenal sebagai duiker.


“Dalam pembangunan masa kolonial, terowongan (tunnel) dibangun dengan membobok bukit atau tanah untuk mendapatkan akses seperti pembangunan terowongan Lampegan. Di Kota Sukabumi belum pernah ada pembangunan terowongan yang dimaksud kecuali memanfaatkan saluran air yang ada seperti sungai atau selokan,” kata Irman Firmansyah, penulis buku Soekaboemi The Untold Story, belum lama ini.

Pada masa kolonial Belanda, pembangunan Kota Sukabumi didesain dengan memanfaatkan teknologi tata air yang canggih untuk masa itu.

Saluran-saluran air kecil, yang sebelumnya dibiarkan terbuka, mulai ditutup dengan duiker, sebuah konstruksi tembok yang memungkinkan air tetap mengalir di bawah tanah tanpa menghambat pembangunan di atasnya.

Sebagai contoh, saluran di sekitar alun-alun Kota Sukabumi dan Masjid Agung dibangun dengan konsep ini untuk memaksimalkan fungsi ruang kota.

Konsep drainase kota atau dikenal dengan sebutan rioleeringsplan, menjadi bagian integral dari perencanaan tata Kota Sukabumi.

Menurut peta kolonial, banyak sungai kecil dan selokan di Sukabumi yang kemudian diselaraskan dengan jalur gorong-gorong tertutup. Fakta ini membantah anggapan adanya terowongan bawah tanah dalam arti sebenarnya, seperti yang ditemukan di wilayah lain dengan topografi berbukit.

“Posisi sungai atau selokan dan jalur terowongan sama persis sehingga bisa dipastikan bahwa jalur tersebut bukanlah terowongan tetapi sungai kecil yang ditutup dengan duiker,” ujarnya.

Teknologi duiker tidak hanya digunakan untuk saluran air tetapi juga untuk membangun jembatan yang lebih efisien. Jembatan tua seperti yang ada di Leuwigoong dan Karangtengah, Cibadak, menjadi contoh bagaimana teknologi ini diterapkan sebelum jembatan berbahan besi mulai digunakan.

Salah satu konstruksi duiker tertua adalah Duiker Cisero Sukaraja yang dibangun sekitar tahun 1800, sebelum masa Daendels.

“Pasca pembentukan afdeling tercatat pembangunan duiker untuk drainase di area pasar Sukabumi (stasiun) dibangun pada tahun1881 dan di Jalan Ciaul tanggal 16 Maret 1888,” kata Irman.

Saat Sukabumi menjadi gemeente pada tahun 1914, perhatian terhadap drainase semakin meningkat. Pemerintah kolonial mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan gorong-gorong dan saluran air.

Terowongan peninggalan Belanda di Sukabumi.Terowongan peninggalan Belanda di Sukabumi. Foto: Istimewa

Pada tahun 1915, misalnya, dana sebesar 713 gulden dialokasikan untuk pemeliharaan drainase di beberapa titik. Pada tahun 1929, anggaran sebesar 9.000 gulden kembali disiapkan untuk memperluas jaringan drainase, termasuk di sekitar perempatan ABC yang rawan banjir.

Selain berfungsi sebagai saluran pembuangan, gorong-gorong ini juga membantu mengatasi banjir di wilayah padat penduduk. Namun, pada masa awal pembangunannya, sebagian masyarakat masih memanfaatkan saluran air terbuka untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa dari saluran terbuka tersebut kemudian ditutup demi kebersihan dan efisiensi tata kota.

Seiring waktu, masalah baru mulai muncul. Sampah yang menumpuk di saluran tertutup dan pembangunan tanpa perencanaan matang menyebabkan banyak gorong-gorong menjadi mampet. Situasi ini memperparah banjir di beberapa wilayah, terutama di daerah padat penduduk seperti Kampung Tipar dan Bale Desa.

Pembangunan drainase juga menjadi bagian dari program Kampong Verbettering pada tahun 1939. Program ini bertujuan untuk memperbaiki lingkungan perkampungan dengan fokus pada pengelolaan drainase.

Pemerintah dan masyarakat bekerja sama dalam memelihara saluran air, meskipun tantangan tetap ada akibat kebiasaan buruk seperti pembuangan sampah sembarangan.

Kini, mitos tentang terowongan bawah tanah Belanda di Sukabumi terus menarik perhatian. Namun, memahami sejarah dan fungsi asli saluran air ini dapat membantu meluruskan persepsi masyarakat.

Sebagai warisan infrastruktur kolonial, duiker tetap menjadi bagian penting dari sejarah Sukabumi dan menunjukkan bagaimana teknologi masa lalu membantu membentuk tata kota yang kita kenal sekarang.

Kisah tentang duiker ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga infrastruktur warisan sejarah. Dengan perawatan yang baik dan kesadaran masyarakat, saluran air ini tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu tetapi juga tetap berfungsi untuk masa depan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Curug Kubang yang Tersembunyi di Cianjur buat Healing di Akhir Pekan



Cianjur

Akhir pekan ini, mari bertualang ke pelosok Cianjur. Di sana ada sebuah curug cantik yang tersembunyi dengan aliran air deras dan menyejukkan.

Cianjur menyimpan segudang permata tersembunyi berupa destinasi yang cantik dan indah. Setelah ramai rumah ‘surga’ Abah Jajang, ternyata ada Curug Kubang di Kecamatan Cibinong yang tak kalah indah bak ‘surga’ di dunia.

Curug Kubang berlokasi di pelosok Kabupaten Cianjur, tepatnya berada di Kampung Liung Gunung, Desa Padasuka, Kecamatan Cibinong.


Untuk sampai ke Curug Kubang yang memiliki tinggi 100 meter ini, kita dapat melalui Jalur Selatan Cianjur dengan jarak tempuh sejauh 96 kilometer dari pusat Kota Santri.

Selain itu, wisatawan juga bisa melalui jalur Ciwidey yang jarak tempuhnya sekitar 86 kilometer dari Kota Bandung.

Curug ini juga tidak jauh dengan lokasi Curug Citambur, yakni sekitar 12 kilometer. Namun lantaran aksesnya masih rusak, waktu tempuh dari Citambur menuju Curug Kubang dapat memakan waktu hingga 1 jam lebih.

Pesona Curug Kubang sangat indah, tingginya air terjun tersebut membuatnya begitu indah dengan butiran embun yang mengitari dasar curug.

Curug ini juga dikelilingi gunung-gunung dan hutan yang asri. Tak hanya itu, hamparan persawahan juga makin mempercantik curug itu.

Apalagi, curug ini juga dekat dengan pemukiman warga dengan rumah panggung yang masih tradisional. Wisatawan dapat menikmati pesona curug dari halaman rumah warga yang hanya berjarak kurang dari 100 meter dari curug.

Pengelola curug Kubang Suhendra mengatakan, pesona curug Kubang memang sangat indah dan akan memanjakan mata pada wisatawan.

“Alamnya juga masih asri, sehingga curug dengan alam di sekitarnya yang indah memang layaknya surga dunia dan permata tersembunyi di pelosok Kota Santri,” kata dia, Selasa (3/12/2024).

Dia menjelaskan, curug Kubang juga masih belum setahun ditata dan dikelola, sehingga kawasannya masih sangat alami.

“Ini baru ditata sekitar setahun lalu. Masih sangat baru. Tapi wisatawan yang datang sudah banyak, sehari bisa sampai 100 lebih wisatawan dari dalam kota, Bandung, hingga Jakarta,” kata dia.

Bahkan saat ini wisatawan tidak dikenakan karcis ataupun tiket masuk. Begitupun untuk menginap, warga tidak mematok harga bagi wisatawan yang ingin menginap di rumah-rumah tradisional di sekitar curug.

“Untuk saat ini masih free, di sini juga ada homestay yang bayar seikhlasnya,” kata dia.

Meski begitu, fasilitas di curug Kubang sudah cukup lengkap, mulai dari spot foto, wahana perahu di danau alami, hingga flying fox.

“Selain menikmati curug bisa menikmati berbagai wahana yang ada. Dan curug ini tidak pernah surut meskipun di musim kemarau, pesona dan pemandangannya tetap indah,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jalan di Bandung yang Hanya Dibuka 30 Tahun Sekali



Bandung

Tahukah kamu, ada sebuah jalan di Bandung yang cuma dibuka 30 tahun sekali. Jalan ini tidak panjang, cuma 25 meter saja.

Sepenggal jalan di Otto Iskandar Dinata (Otista) yang terbelah oleh lintasan rel kereta api bisa dikatakan jalan yang paling istimewa di Kota Bandung.

Itu karena jalan tersebut hanya dibuka setiap 30 tahun sekali, tepatnya saat momen 30 tahunan peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1985 dan tahun 2015 silam.


Lokasi jalan ‘istimewa’ tersebut berada di antara Jalan Stasiun Timur di sebelah selatan dan Jalan Kebun Jukut di sebelah utara.

Pengamat sejarah Bandung Hevi Fauzan ingat betul ketika ia melihat pagar menjulang yang menutup akses jalan Otista tersebut dibuka pada tahun 1985.

Hevi kecil begitu terkesima ketika melihat iring-iringan mobil delegasi KAA melintas di hadapannya melibas secuil Jalan Otista tersebut.

“Tahun 1985 itu dibuka karena itu 30 tahunan, saya lihat lagi 2015 itu dibuka lagi karena event peringatannya 60 tahun (KAA). Itu dibuka untuk memudahkan delegasi ke sana (dari Gedung KAA ke Gedung Pakuan), jadi enggak memutar ke Viaduct. Itu jalan paling panjangnya hanya 20 meter,” kata Hevi saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Secuil jalan Otista ini memang tak kasat mata bila dilihat sekilas. Jalan tersebut, selain bersinggungan dengan rel kereta api juga tertutup oleh pagar yang menjulang tinggi di kedua sisinya.

Belum lagi terdapat pedagang kaki lima dan lapak kios ban yang membuat siapapun tak menyangka ada jalan yang sarat dengan sejarah.

Jika dilihat di peta modern, terlihat jalan Otista yang terpotong oleh rel kereta di Stasiun Timur. Padahal dulunya jalur dari Pasarbaru hingga Gedung Pakuan tak terputus.

Usut punya usut, dulu jalan tersebut dinamai Residentweg (Jalan Residen). Di ujung jalan berdiri Kantor Residen yang dibangun pada tahun 1864 dan selesai pada 1867. Kini Kantor Residen dijadikan Gedung Pakuan, atau akrab disebut ‘gubernuran’, karena memang dijadikan rumah dinas Gubernur Jabar.

Dulu jalan itu membentang dari Gedung Pakuan, Pasar Baru hingga Pendopo yang berada di Alun-alun Kota Bandung. Petugas penjaga akan menutup palang pintu bila ada kereta yang lewat. Namun kini, kendaraan harus memutar ke arah Jalan Kebun Jukut Selatan-Viaduct-Kebun Jukut Utara, karena terpagar tadi.

“Kalau sekarang harus belok dulu ke Viaduct, kalau asumsi saya itu (jalan ditutup) untuk mengendalikan arus lalu lintas. Sekitar tahun 1970-an, jalan tersebut ditutup. Bisa dibayangkan ketika itu ada kendaraan dan kereta api yang padat,” kata Hevi.

Penutupan jalan itu dibarengi dengan pembangunan jembatan pejalan kaki, yang dibangun melintang di atas lintasan rel kereta. Proyek pembuatan jembatan baru Viaduct, kata Hevi, dikerjakan oleh perusahaan konstruksi Aannemer Lim A Goh, dan Viaduct menemukan bentuknya seperti sekarang.

Menurut Hevi, pada tahun 1864 Bandung ditunjuk sebagai Ibukota Keresidenan Priangan (Preanger) oleh Residen van der Moor. Agar memudahkan koordinasi dengan Pendopo atau kantor bupati ketika itu, dibangunlah jalan Residentweg, yang kini menjadi Jalan Otista.

“Secara bentuk enggak berubah sejak pembangunan Gedung Pakuan, mungkin sebelum Pakuan itu jalannya masih kecil, jalan setapak atau apa. Pakuan, Babakan Bogor, Kebon Kawung sudah dilirik pemerintah Kabupaten Bandung untuk memindahkan ibukota dari Dayeuhkolot,” katanya.

Satu fakta menarik soal jalan Kebun Jukut tempo dulu, di ujungnya yang berdekatan dengan Suniaraja dibangun rumah pelukis legendaris Belgia, AAJ Payen yang datang ke Nusantara tahun 1817. Ia merupakan guru dari maestro lukis Raden Saleh.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Odeon Chinatown Sukabumi, Spot Wisata Kuliner Halal Bergaya Pecinan



Jakarta

Sukabumi tak hanya memiliki destinasi wisata alam. Kini, ada juga destinasi wisata kuliner tematik bergaya pecinan.

Adalah Odeon Chinatown Soekaboemi yang berlokasi di Ruko Danalaga Square, Jalan Pajagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong. Berkunjung ke sana traveler akan disuguhi pengalaman kuliner dengan nuansa khas kampung China.

Nuansa pecinan langsung terasa melalui ornamen khas seperti lampion dan dekorasi bernuansa Tionghoa. Suasana itu diperkuat dengan tampilan setiap gerai makanan dan minuman yang dihias dengan pernak-pernik oriental, menciptakan atmosfer yang berbeda dari tempat kuliner lainnya di Sukabumi.


Beragam pilihan kuliner tersedia di Odeon Chinatown, mulai dari makanan khas oriental seperti dimsum, kopi tiam, dan kimbab, hingga hidangan lokal dari berbagai daerah. Konsep tematik ini tidak hanya menghadirkan suasana unik, tetapi juga menawarkan menu yang terjangkau.

“Harga makanan di sini rata-rata mulai dari Rp15.000 hingga Rp25.000, sehingga ramah di kantong,” ujar Direktur PT Putra Sakti Sukamulya, Budiyanto Hukin Pramono, Sabtu (21/12/2024).

Odeon Chinatown Soekaboemi.Odeon Chinatown Soekaboemi. (Siti Fatimah/detikJabar)

Sebanyak 28 tenant kuliner di Odeon Chinatown Soekaboemi telah tersertifikasi halal. Mayoritas tenant berasal dari UMKM lokal yang kini memiliki tempat usaha permanen.

“Sebagian besar tenant adalah UMKM yang berkembang dari awalnya hanya berjualan di pinggir jalan. Dengan adanya tempat ini, mereka bisa naik kelas dan memperluas bisnisnya,” ujarnya.

Selain kuliner, fasilitas penunjang di Odeon Chinatown turut menjadi nilai tambah. Tersedia area parkir luas, toilet yang bersih, dan panggung untuk berbagai acara seperti live music atau senam jantung sehat.

“Kami juga membuka ruang bagi seniman lokal untuk tampil di panggung, sehingga mereka punya kesempatan menunjukkan karya mereka,” tambahnya.

Odeon Chinatown Soekaboemi.Odeon Chinatown Soekaboemi. (Siti Fatimah/detikJabar)

Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji, mengapresiasi kehadiran Odeon Chinatown Soekaboemi sebagai salah satu ikon wisata kuliner di kota ini. Ia menyebutkan bahwa tempat ini tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga mendukung perekonomian lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan UMKM.

“Kami berharap tempat ini menjadi daya tarik baru yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sukabumi. Dengan 28 tenant yang aktif, peluang ekonomi bagi masyarakat semakin terbuka,” ungkap Kusmana.

Pemkot Sukabumi juga berkomitmen memberikan pendampingan kepada pelaku usaha kuliner agar mereka dapat terus berkembang. “Kami akan melakukan pelatihan dan promosi secara teknis untuk mendukung keberlanjutan usaha para tenant di sini. Kolaborasi dengan stakeholder juga sangat penting,” jelasnya.

Salah satu pengunjung, Annisa (19), warga Cisaat, mengaku terkesan dengan suasana tempat ini. “Awalnya tahu dari Instagram. Pas datang, suasananya nyaman dan teduh. Dekorasi Chinese-nya jadi nilai tambah,” ujar Annisa.

____________

Baca artikel selengkapnya di detikJabar

(wkn/wkn)



Sumber : travel.detik.com

Kemping Sambil Menanam Kopi di Sukabumi



Sukabumi

Traveler yang mau menghabiskan libur Natal dan Tahun Baru bisa meluncur ke Sukabumi. Kalian bisa kemping sambil menanam kopi di tempat ini.

Goalpara Estate Camp di Sukabumi menawarkan pengalaman camping yang berbeda. Dengan konsep premium camp, pengunjung diajak merasakan kenyamanan berkemah yang berkelas sambil menikmati aktivitas seru seperti menanam pohon kopi dan bersepeda di alam terbuka.

Manager Goalpara Estate Camp, Fahrul MW, menjelaskan bahwa camping ground ini dirancang sebagai kawasan premium camp yang menawarkan kenyamanan setara fasilitas modern, namun tetap berada di tengah suasana alam yang asri.


“Konsep estate camp memang terdengar asing, tetapi kami memberikan kesan seperti cluster perumahan dengan area camping yang private,” ujar Fahrul, Senin (23/12/2024).

Goalpara Estate Camp menyediakan fasilitas unggulan seperti tenda premium, toilet pribadi dengan water heater, area api unggun, listrik gratis, serta lahan berumput khusus yang nyaman.

“Tanahnya pun bebas bebatuan, jadi sangat nyaman untuk kegiatan camping,” tambahnya.

Aneka Fasilitas yang Tersedia

Tenda yang ditawarkan Goalpara Estate Camp hadir dalam berbagai kapasitas. Untuk tenda kapasitas dua orang, pengunjung dikenakan tarif Rp 975 ribu per malam. Harga tersebut sudah termasuk sarapan pagi serta area camp private seluas 120 meter persegi.

Selain itu, tersedia juga tenda berkapasitas empat orang, hingga tenda dua kamar yang cocok untuk kumpul keluarga. Saat ini, tersedia tujuh tenda premium yang disiapkan untuk para tamu.

Bagi pengunjung yang membawa tenda sendiri, Goalpara Estate Camp juga menyediakan area khusus dengan kapasitas yang disesuaikan.

“Kami batasi jumlah tenda untuk menjaga kenyamanan pengunjung,” jelas Fahrul.

Aneka Aktivitas Menarik buat Wisatawan

Tak hanya sekadar kemping, Goalpara Estate Camp juga menawarkan berbagai aktivitas menarik. Salah satunya adalah program menanam kopi, yang menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung akan didampingi guide untuk menanam pohon kopi, yang nantinya diberi nama sesuai pemiliknya.

Setiap dua hingga tiga bulan, perkembangan pohon tersebut akan dilaporkan ke pemiliknya, termasuk saat panen. Selain itu, Goalpara Estate Camp juga menyediakan mountain bike sebagai fasilitas tambahan bagi pengunjung yang menginap.

Camping Premium di SukabumiKemping di Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar

“Program kopi ini punya nilai sejarah. Dulu, area Goalpara ini merupakan perkebunan kopi peninggalan zaman Belanda. Kami ingin mengangkat kembali sejarah itu,” terang Fahrul.

Pengunjung pun dapat menikmati kopi khas Sukabumi melalui Sukha Kopi, kafe di dalam area Goalpara Estate Camp.

“Kami punya delapan jenis kopi asli Sukabumi, seperti dari Gunung Gombong, Selabintana, Kadudampit, Jampang, dan lainnya,” ujarnya.

Proyeksi Libur Nataru

Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), antusiasme pengunjung cukup tinggi. Fahrul mengungkapkan, meskipun belum resmi dibuka sepenuhnya, sudah ada beberapa pemesanan melalui media sosial.

“Kebetulan belum penuh, tapi sudah ada yang booking. Kami benar-benar menjaga area private agar tidak bercampur dengan pengunjung lain,” jelasnya.

Cara Menuju ke Lokasi

Goalpara Estate Camp terletak sekitar 8-9 kilometer dari jalan nasional dan cukup mudah dijangkau, namun tetap memberikan suasana tenang dan jauh dari keramaian.

Alamatnya berada di Jalan Goalpara, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Tempat wisata ini memiliki luas total sekitar dua hektare.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Terminal Lama, Sekarang Disulap Jadi Pusat Jajanan di Sukabumi



Sukabumi

Libur Tahun Baru di Sukabumi, traveler bisa menyempatkan waktu main ke destinasi baru ini. Dulunya tempat ini adalah terminal, tapi sekarang jadi pusat jajanan.

Suasana di kawasan eks Terminal Lama di Jalan Sudirman, Kota Sukabumi nampak meriah. Kawasan yang dulunya merupakan terminal bus kini sudah disulap menjadi pusat kuliner yang baru.

Tenda-tenda jajanan berjejer mulai dari nasi bakar, cumi bakar, dakkochi, mochi daifuku, bakso, baby crab, dan makanan unik lainnya dapat ditemukan di tempat yang kini bernama PASS Food Centre Sukabumi.


Aneka minuman juga dijual di sini seperti es teh, aneka kopi, jus buah, alpukat dan durian kocok, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Harga makanan yang dijual di sini juga cukup beragam. Misalnya satu tusuk dakkochi atau olahan sate ayam bersaus merah pedas ala korea dibanderol dengan harga Rp 20 ribu per tusuk. Kemudian, mochi daifuku yang kini viral dijual seharga Rp 5 ribu saja per bijinya.

Setidaknya ada 150 tenant dan 300 pedagang yang ada di pusat kuliner Sudirman ini. Tempat ini jadi daya tarik baru bagi wisata kuliner di Kota Sukabumi.

“Pada dasarnya kita memfasilitasi UMKM yang ada di Kota Sukabumi ini. Ini bentuk kerjasama PPUB yayasan dengan Pemerintah Kota Sukabumi,” kata Ketua Yayasan Putra Siliwangi Sejahtera, Vega Sukmayudha, Senin (1/1/2025).

UMKM yang menempati lahan eks Terminal Lama Sukabumi mayoritas berasal dari Kota Sukabumi sebanyak 80 persen dan 20 persen lainnya dari Kabupaten Sukabumi. Ke depan, kemungkinan jumlah pedagang akan bertambah mengingat antusiasme masyarakat terhadap pusat kuliner baru ini.

“Kita kan ngasih kuota 150, kuota terpenuhi ya sudah close, tapi ada yang waiting list udah teregister. Nanti kita siapkan opsi penambahan tempat kah atau nanti menunggu pedagang yang memang tidak akan memperpanjang itu nanti langsung diisi,” ujarnya.

Fasilitas yang disediakan di wisata kuliner ini cukup lengkap di antaranya ada panggung musik, meja makan, mushola, dan tempat parkir.

Selain itu, ada juga bus Ajakami (Ayo Jalan-jalan di Kota Sukabumi) yang bisa dijajal oleh pengunjung untuk berkeliling Kota Sukabumi. Tiket Bus Ajakami seharga Rp5 ribu per orang.

“Kami ingin membentuk framing wisata itu ketika ingin keliling kota ya di sini shalter-nya, makanya kalau misalkan nanti ada penambahan kuota konsesi waktu saya akan coba bikin sheltenya Bus Ajakami,” kata dia.

“Jadi masyarakat gak usah pusing, atau wisatawan itu ya tinggal ke sini sambil jajan sambil makan jadi tau spot-spot wisata di kota,” tambahnya.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Sukabumi, M. Hasan Asari berharap dengan pengoperasian eks Terminal Lama menjadi pusat kuliner tentu akan menambah daya tarik wisatawan ke Kota Sukabumi.

Salah satu pengunjung asal Bekasi, Nurul mengaku tertarik mengunjungi pusat kuliner ini. Saat libur Nataru, ia bersama keluarganya memutuskan untuk berlibur ke Sukabumi.

“Kerja di Bekasi, kebetulan ada keluarga di Sukabumi jadi momen liburan ini berkunjung ke rumah nenek. Tempat ini cukup viral di media sosial akhirnya nyoba dan menarik-menarik makanannya,” kata Nurul.

“Tadi beli dakkochi terus cirawang juga. Enak-enak makanannya. Kalau dari segi harga memang bersaing ya, ada yang murah, terjangkau, ada juga yang cukup pricey,” sambungnya.

Buat traveler yang tertarik untuk mencoba, bisa datang ke PASS Food Centre di Sukabumi. Destinasi kuliner ini buka setiap hari dari pukul 10.00 WIB sampai 22.00 WIB.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pusat Kota Garut yang Makin Cantik Saja



Garut

Kawasan pusat perkotaan Garut kini punya wajah baru yang berbeda. Penampakannya jadi makin cantik saja. Cocok dikunjungi untuk libur akhir pekan ini.

Pusat kota Garut atau yang akrab disebut oleh warga setempat dengan nama Pengkolan kini telah selesai dibenahi. Pengkolan saat ini tampil dengan wajah baru, dipenuhi ruang publik dan beragam spot foto yang estetik.

Berdasarkan pantauan di lokasi, proses renovasi yang dilakukan Pemkab Garut di Pengkolan saat ini sudah rampung seluruhnya.


Titik renovasi yang paling kentara, berada di perempatan antara Alun-alun dan Rutan Garut. Di sudut perempatan itu, kini disulap menggunakan ukiran seni yang menawan.

Ada mural berisi beragam ikon-ikon khas Garut. Mulai dari domba adu, Candi Cangkuang, batik garutan, Babancong, dodol hingga Gunung Guntur dan Papandayan.

Wajah baru Pengkolan Garut yang kini makin estetikWajah baru Pengkolan Garut yang kini makin estetik Foto: Hakim Ghani/detikJabar

Mural itu dilukis di dinding Rutan Garut yang ikonik sekaligus legendaris, karena sudah eksis sejak zaman Belanda dulu.

Persis di samping mural, Pemkab Garut juga menambahkan ornamen bunga sintetis yang tersusun dengan warna hijau, kuning dan merah.

Di tengahnya, ada tulisan ‘Welcome To Garut Swiss van Java’. Spot tersebut langsung menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat buat foto-foto.

Buktinya, di setiap saat, banyak pelancong yang menyempatkan diri untuk berfoto di sana.

“Lumayan, cantik. Jadi tidak terlihat kumuh seperti sebelumnya,” kata Nadya Nurhalimah (35), warga Garut di lokasi.

Selain mural dan ornamen di dinding Rutan Garut tadi, ada beberapa renovasi juga yang dilakukan Pemda. Di antaranya adalah sebuah monumen mini bertuliskan ‘GARUT’ di pertigaan Kantor POS.

Juga ada beragam tempat duduk umum yang disediakan di dekatnya. Kemudian, ada juga sebuah sudut jalan yang dihias dengan ornamen persegi yang estetik.

Pj Bupati Garut Barnas Adjidin mengatakan renovasi yang dilakukan di jantung perkotaan Garut itu diharapkan bisa membuat masyarakat yang berkunjung ke Pengkolan nyaman.

“Penataan kawasan Pengkolan ini maksudnya tentu agar membuat masyarakat Garut nyaman. Kami ingin masyarakat bahagia,” ungkap Barnas.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Konon Pintu di Gua Ini Bisa Tembus Sampai ke Negeri Arab dan China



Cirebon

Cirebon punya banyak destinasi menarik. Salah satunya gua Sunyaragi yang konon punya pintu ‘ajaib’ yang bisa tembus sampai ke Arab dan China.

Di tengah Kota Cirebon, ada sebuah tempat yang dikenal bukan hanya karena keindahan dan sejarahnya, tetapi juga karena kisah mitosnya yang unik. Tempat itu ialah Gua Sunyaragi.

Gua Sunyaragi yang berlokasi di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon merupakan kompleks cagar budaya yang menyimpan berbagai legenda.


Salah satu yang paling unik dari tempat ini yaitu tentang ‘pintu kemana saja’ yang dipercaya bisa menembus ruang dan waktu.

Masyarakat setempat menyebut bahwa gua ini memiliki lorong ajaib yang bisa membawa siapa saja ke negeri-negeri jauh, mulai dari Arab hingga China.

Bukan sekadar cerita kosong, mitos ini masih bertahan hingga kini dan terus melekat pada Gua Sunyaragi, serta dipercaya oleh warga Cirebon.

Alkisah, lorong menuju ke Arab dan China itu berlokasi di pelataran bangunan Argajumut, tepatnya di bagian barat Gua Sunyaragi. Di sana, terdapat dua pintu masuk.

Pintu sebelah kanan diyakini sebagai lorong menuju ke Mekah-Madinah. Sedangkan pintu sebelah kiri diyakini menuju ke China.

Meski disebut lorong, namun kedua pintu itu memiliki bentuk yang hanya sebuah ruangan berukuran 1×1 meter. Konon katanya, pintu itu sering digunakan oleh para wali untuk menuju ke Arab maupun China.

Mitos tentang keberadaan lorong menuju Arab dan China itu masih terus terjaga dan diyakini masyarakat Cirebon hingga sekarang. Namun pengelola Gua Sunyaragi sekaligus budayawan Cirebon, Jajar Sudrajat menyebut, lorong itu hanyalah filosofi tentang kehidupan.

“Lorong Mekah-Madinah dan Tiongkok itu penamaannya. Bentuknya cuma ruangan. Lorong ini memiliki filosofi bahwa kiblat pendidikan agama itu Mekah-Madinah, sedangkan ilmu itu ke Cina atau Tiongkok,” ucap Jajat saat ditemui pada Jumat 17 Agustus 2018 silam.

Lorong yang tembus langsung ke Arab Saudi dan China di Gua Sunyaragi CirebonLorong yang tembus langsung ke Arab Saudi dan China di Gua Sunyaragi Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detikTravel

Jajat mengungkap filosofi tentang lorong tersebut. Menurut dia, tokoh pendiri Cirebon dulunya adalah orang-orang yang berasal dari Arab dan juga China. Hal itu diperkuat dengan banyaknya arsitektur bangunan di Cirebon bergaya Arab maupun Tiongkok.

“Ini juga merupakan filosofi bahwa yang meramaikan dan membangun Cirebon waktu dulu itu mereka-mereka (Arab dan Tiongkok),” kata Jajat.

Meski begitu, Jajat tidak memungkiri jika lorong menuju Arab-China itu benar-benar ada. Menurutnya, kesaktian para wali di zamannya dulu seperti Sunan Gunung Jati punya kemampuan di luar batas manusia biasa. Karenanya, mitos soal lorong itu masih terus terjaga sampai saat ini.

“Bisa juga itu benar. Namanya juga Wali Allah, bisa saja terjadi di luar dari batas kemampuan kita,” tandasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



Sumedang

Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

“Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

“Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

“Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

“Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

“Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

“Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

“Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

Sejarah Jembatan Cincin

Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

“Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

“Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

“Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sisi Lain Gua Sunyaragi: Jadi Tempat Mancing Bocil-bocil



Cirebon

Taman Sari Gua Sunyaragi di Cirebon ternyata punya sisi lain. Bagian belakang gua ini ternyata bisa berubah menjadi tempat pemancingan yang ramai diserbu bocil-bocil.

Siang itu, suasana kompleks bersejarah Taman Sari Gua Sunyaragi tampak sepi, hanya ada beberapa anak berusia belasan tahun yang sedang asyik bermain.

Tak hanya sekedar bermain, beberapa anak juga tampak sedang memancing di area kolam yang letaknya di belakang Gua Sunyaragi.


Dengan menggunakan alat pancing seadanya, sambil duduk, tampak anak-anak fokus menunggu ikan melahap kail pancing, sambil sesekali berbicara dengan anak-anak lain di sampingnya. Terlihat juga anak-anak lain yang tidak ikut memancing sedang berlarian dengan teman sebayanya.

Menurut salah satu anak yang ikut memancing di kolam Gua Sunyaragi, Azri (14) mengaku, cukup senang bisa ikut memancing di kolam bagian belakang Gua Sunyaragi.

Menurutnya, selagi anak-anak tertib, dan tidak merusak area gua, maka tidak ada larangan untuk mancing di kolam bagian belakang Gua Sunyaragi.

“Kalau main sekedar mancing kayak gitu mah, nggak dimarahin, asalkan anak-anaknya pada anteng saja,” ucap Azri.

Kebanyakan, lanjut Azril, anak-anak yang memancing ikan merupakan anak yang tinggal di sekitar lokasi Gua Sunyaragi. Mereka masuk ke kompleks gua melalui pagar kecil yang ada di belakang, yang berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk.

Selain Azri, anak-anak lain yang sering bermain di Gua Sunyaragi adalah Rafif (12). Menurutnya, meski ketika musim kemarau, kolam di bagian belakang Gua Sunyaragi mengering, tetapi saat musim hujan seperti sekarang, area kolam akan dipenuhi air dan juga ikan.

Biasanya, lanjut Rafif, jenis ikan yang didapat adalah ikan mujair. Sama seperti Azri, Rafif sendiri merasa senang ketika bisa mancing di kolam yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.

“Senang mancing di situ, soalnya ada ikannya, biasanya ikan mujair. Kalau ada airnya sudah dari dulu dibuat untuk mancing, kadang ada juga orang yang mancing di sungai, terus ikannya dimasukin ke kolam, biar tambah banyak ikannya,” tutur Rafif.

Selain memancing ikan, menurut Rafif, lahan kosong di area belakang Gua Sunyaragi juga digunakan untuk bermain bola. Salah satu alasan Rafif bermain bola di Gua Sunyaragi adalah karena tidak adanya lapangan bola di dekat rumahnya.

“Iyah kadang main bola di sini juga, soalnya di sini sepi, jadi dimanfaatin buat main bola. Sama nggak ada lapangan paling dekat juga. Yang paling dekat yah lapangan yang di sini (Gua Sunyaragi),” tutur Rafif.

Menurut Rafif, tidak ada pelarangan bagi anak-anak sekitar lokasi goa Sunyaragi untuk bermain dan memancing di kolam Gua Sunyaragi. Kecuali, lanjut Rafif, ketika anak-anak sudah mulai berbuat nakal dengan naik ke area bebatuan Goa Sunyaragi.

“Yah kadang-kadang saja, kalau anak-anaknya pada nakal dan jahil, kayak pada naik ke batu-batu karang yah itu dimarahin sama penjaganya,” tutur Rafif.

Meski Rafif dan teman-temannya senang bermain di Gua Sunyaragi, tapi, Rafif dan temannya masih berharap, suatu saat nanti di sekitar rumahnya, akan ada lapangan bola sendiri.

“Yah pengen, kalau ada lapangan baru buat main di dekat sini mah,” pungkas Rafif.

Sejarah Gua Sunyaragi

Taman Sari Gua Sunyaragi merupakan kompleks bersejarah yang ada di Kota Cirebon. Taman ini didirikan pada tahun 1596, dengan diarsiteki oleh Penambahan Losari, cucu dari Sunan Gunung Jati. Untuk bahan utamanya pembuatannya, yakni menggunakan batu karang.

Dulu, Gua Sunyaragi digunakan untuk tempat bermain dan itikaf para keluarga sultan Cirebon. Gua Sunyaragi sendiri memiliki beberapa bagian bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda, seperti Gua Pengawal yang digunakan sebagai tempat istirahat, Gua Simayang sebagai pos jaga dan Mande Beling digunakan untuk tempat memberi petuah.

Pada saat masih digunakan keluarga sultan Cirebon, dahulu, area sekitar Gua Sunyaragi merupakan perairan, sehingga pada masa itu, keluarga sultan yang ingin datang ke Gua Sunyaragi harus menggunakan perahu terlebih dahulu.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com