Tag Archives: detikjatim

Kondisi Terkini Hotel Yamato, Tempat Insiden Perobekan Bendera Belanda


Jakarta

Hotel Yamato, yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit, adalah tempat yang menyimpan jejak sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat ini, hotel tersebut masih eksis dan beroperasi. Menariknya, gaya bangunannya tetap mempertahankan infrastruktur klasik dan elegan dari masa kolonial.

Sebelum mengetahui beragam fasilitas hotel mewah ini, mari kita napak tilas kronologi peristiwa Hotel Yamato yang terjadi pada 19 September 1945 lalu.


Peristiwa Hotel Yamato

Peristiwa yang terjadi di Hotel Yamato adalah insiden perobekan warna biru pada bendera Belanda atau disebut het vlag incident. Insiden Hotel Yamato di latar belakangi oleh amarah masyarakat Surabaya, yang tidak terima terhadap pengibaran bendera Belanda di atas hotel tersebut.

Pasalnya, pengibaran bendera Belanda itu dianggap telah menghina kedaulatan bangsa Indonesia dan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus, tepat beberapa bulan yang lalu.

Mengutip buku Sejarah Indonesia Kelas XI Kemdikbud oleh Sardiman AM dan Amurwani Dwi Lestariningsih, ketika di Surabaya, orang-orang Inggris dan Belanda yang berhubungan dengan Jepang menginap di Hotel Yamato atau Hotel Oranye pada zaman Belanda.

Pada 19 September 1945, seorang bernama Mr. Ploegman dibantu kawan-kawannya mengibarkan bendera Belanda berwana merah, putih, biru di atap menara Hotel Yamato.

Dikutip dari buku Surabaya di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? karya Ady Setyawan, pada pukul 09.00 WIB bendera Belanda itu dikibarkan. Aksi ini kemudian mengundang arek-arek Suroboyo berkumpul di depan hotel.

Ada beberapa pemuda yang berhasil memanjat atap hotel dan menurunkan bendera merah putih biru, kemudian merobek bagian warna birunya. Kusno Wibowo dan Onny Manuhutu adalah tokoh pemuda yang merobek bendera Belanda di Hotel Yamato.

Setelah warna biru bendera Belanda dirobek, bendera tersebut dikibarkan kembali sebagai bendera dengan warna merah putih. Dengan berkibarnya bendera Sang Merah-Putih, para pemuda Surabaya satu per satu meninggalkan Hotel Yamato dengan penuh semangat dan menjaga kewaspadaan.

Dampak insiden di Hotel Yamato melatar belakangi berbagai pertempuran di Surabaya, termasuk penyebab terjadinya “Pertempuran Surabaya”.

Sejarah dan Kondisi Terkini Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit dibangun oleh Sarkies Family atau Sarkies Brothers pada tahun 1910. Awalnya, hotel ini dikenal sebagai “Hotel Oranje atau Hotel Oranye.

Saat Jepang menjajah dan menguasai Indonesia, nama hotel ini berganti menjadi Hotel Yamato. Kala itu, hotel ini juga digunakan head porter atau base camp saat pertempuran.

Kemudian sekitar tahun 1969, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel Yamato berganti nama menjadi Hotel Majapahit.

hotel majapahit surabayaHotel Majapahit Surabaya. (Deny Prastyo Utomo)

Executive Assistant Manager Hotel Majapahit, Benny Wijaya, menyebut bahwa pada 10 September 1945, hotel ini sempat bernama Merdeka.

“Tahun 1945 sampai 1946 berganti Lucas Martin Sarkies yakni kembali pada keluarga pendiri, tahun 1969 dijual ke Men Trust Holding. Nah, sampai sekarang, namanya tetap, yakni Hotel Majapahit,” ujar Benny kepada detikJatim, pada (23/04/2022) lalu.

Tim detikJatim pernah diajak berkeliling di hotel bersejarah yang berdiri di atas lahan seluas 2 hektar ini.

Hotel MajapahitHotel Majapahit (Praditya Fauzi Rahman/detikcom)

Terlihat pondasi, cat, hingga struktur bangunan masih kokoh. Namun, tetap ada tambahan, seperti beberapa aksesoris untuk mempercantik dan menambah modern tatanan.

Hotel MajapahitHotel Majapahit. (Lena Ellitan/dtravelers)

Sementara itu, General Manager Hotel Majapahit Surabaya, Kahar Salamun, menyebut salah satu satu bukti keaslian bangunan terlihat dari ubin marmer yang diimpor langsung dari Belanda.

Menurutnya, selain untuk menjaga keaslian hal tersebut juga jadi karakter bagi bagunan vintage Majapahit.

Hotel MajapahitHotel Majapahit (Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)

Penamaan Majapahit sendiri bukan diambil asal-asalan. Nama ini diambil karena sejalan dengan visi misi Kerajaan Majapahit, yang jadi salah satu kerajaan jaya dan tertua pada eranya. Maka dari itu, Majapahit dipakai dengan harapan seperti namanya.

Hotel Majapahit ini juga telah mengalami beberapa kali perombakan kepemilikan, nama, hingga peremajaan. Tapi, tidak demikian dengan keorisinilan bangunan secara keseluruhan.

Lokasi Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit Surabaya beralamat di Jalan Tunjungan Nomor 65, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur. Lokasi hotel ini juga sangat strategis, yakni di jantung kota Surabaya.

Fasilitas Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit adalah hotel bintang 5 berkelas internasional dengan fasilitas yang lengkap. Menariknya, hotel ini masih mempertahankan beberapa elemen klasik era kolonial.

Arsitektur di Hotel Majapahit Surabaya.Arsitektur di Hotel Majapahit Surabaya. (dok. Instagram @hotelmajapahitsby)

Tidak hanya memberikan suasana yang kaya akan sejarah, namun tetap menawarkan kenyamanan modern. Hotel Majapahit memiliki sekitar 139 kamar.

Berikut adalah fasilitas yang ada di Hotel majapahit Surabaya:

  • Kolam renang
  • Restoran
  • Tempat parkir
  • Pusat kebugaran
  • Ruangan ber AC
  • Room service
  • Akses untuk kursi roda
  • Sarapan (breakfast)
  • Spa
  • Bar
  • Area hijau
  • Piano dan meja biliar
  • Area bermain anak-anak
  • Bak mandi air panas/Whirlpool
  • Tempat untuk pernikahan dan ruang pertemuan
  • Wifi gratis.

Mengingat hotel ini jadi tempat bersejarah, makna setiap ada event sejarah kemerdekaan tahunan yang biasa diselenggarakan. Di antaranya peringatan perobekan bendera Belanda menjadi Merah Putih pada bulan September, dan Parade Surabaya Juang di bulan November.

Teatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit SurabayaTeatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit Surabaya (Aprilia Devi)

Dari catatan detikJatim, teatrikal yang digelar setiap tahun ini bertujuan mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda tentang sejarah Kota Pahlawan.

Acara-acara tersebut juga termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November yang telah rutin digelar sejak tahun 2009. Hotel ini juga masih digandrungi para wisatawan lokal maupun internasional.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Pasar Ini Pernah Jadi Pusat Perdagangan Rempah-rempah di Zaman Belanda



Surabaya

Di Surabaya, ada sebuah pasar yang dahulu pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah pada zaman kolonial Belanda. Pasar manakah itu?

Pasar Pabean di Surabaya ternyata masuk ke dalam kategori pasar tua dan memiliki sejarah yang panjang. Pasar itu didirikan sejak tahun 1849 silam.

Di ezaman itu, Belanda menggunakan Pasar Pabean sebagai pusat rempah-rempah. Pasar Pabean sendiri terletak di Jalan Songoyudan, Pabean Cantian, Surabaya, Jawa Timur.


Dulunya kawasan itu merupakan kawasan Pecinan, bersebelahan dengan Jalan KH Mas Mansyur (dulu dikenal sebagai Kampementstraat), sebuah area yang dihuni oleh komunitas Arab.

Hingga kini, Pasar Pabean tetap menjadi ikon pasar ikan terbesar di Jawa Timur, berkat sejarahnya yang strategis dekat dengan Pelabuhan Rakyat (Pelra) Kalimas di kawasan Tanjung Perak.

Sejarawan Komunitas Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo mengatakan bahwa Pasar Pabean dulu dijadikan sebagai Pusat Rempah-Rempah. Bahkan, telah dijadikan pusat rempah rempah sebelum Belanda datang ke tanah air.

“Sejak kolonial, Eropa sebelum Belanda. Kalau catatan orang Eropa datang itu tahun 1511. Karena Pabean dulunya pelabuhan, kemudian ada pasar ada gudang sehingga dijadikan pusat rempah-rempah di Pasar tersebut,” kata Kuncar, Kamis, (24/10).

Menurut Kuncar, wilayah Pabean yang dekat dengan pelabuhan memiliki lokasi strategis, sehingga koloni Eropa membangun pos perdagangan di area itu. Hingga kini, Pasar Pabean masih eksis dijadikan tempat/gudang untuk menyimpan rempah-rempah tersebut.

pasar pabeanPasar Pabean Foto: Firtian Ramadhani

“Ada ketumbar, kayu manis, lada, asem dan kemiri. Sebenarnya, peralihan pertama dari rempah kemudian ke produk hasil perkebunan seperti kopi, kacang. Sehingga, di sekitar area Pasar sempat ada pabrik kopi, salah satunya pabrik kopi Kapal Api lahir di situ,” terangnya.

Kuncar menegaskan pascakemerdekaan, Pasar Pabean telah beralih menjadi pasar yang menjual bawang merah dan bawang putih. Akan tetapi, karena lokasi Pasar Pabean yang tidak muat, pada akhirnya transaksi juga dilakukan di sekitar pasar.

“Telah beralih itu setahu saya pascakemerdekaan, menjadi sepenuhnya pasar bawang merah, bawang putih. Nah, karena lokasi Pasar Pabean tidak muat, penjualan akhirnya dilakukan juga di sekitar pasar,” urainya.

Selain menjual bawang, Pasar Pabean tetap digunakan sebagai pasar untuk penjualan rempah-rempah. Meskipun telah beralih usai Pasar Pabean tidak dikuasai oleh Koloni Eropa, warga tetap saja menjual rempah-rempah yang telah ada sejak dulu.

“Penjualan di sekitar pasar ada di Jalan Panggung itu banyak, yang eceran itu kan kelihatan. Jadi meski telah beralih, rempah-rempah tetap dijual di sana. Lokasi penyimpanan rempah-rempah dan kopi ada di dalam Pasar itu kan ada gudang, rempah-rempah dan kopi disimpan di situ,” tandas dia.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

11 Wisata Terkenal yang Kini Terbengkalai dan Tinggal Nama


Jakarta

Sejumlah tempat wisata ternama di Indonesia mengalami nasib buruk karena tak lagi eksis. Padahal dahulunya, tempat tersebut ramai dikunjungi dan menjadi favorit banyak orang.

Mau tahu mana saja tempat wisata tersebut? Simak artikel ini untuk mengetahuinya. Ada tempat wisata yang terbengkalai tak terurus, beralih fungsi, jadi tempat uji nyali, dan ada yang tinggal nama.

Tempat Wisata Terkenal yang Tak Eksis Lagi

Dirangkum dari artikel detikcom, berikut ini 11 tempat wisata yang dulunya terkenal tetapi tak eksis lagi:


1. THR Sriwedari, Solo

THR SriwedariTHR Sriwedari tahun 2017. (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Bagi warga Solo dan sekitarnya, pasti tak asing lagi dengan THR Sriwedari. THR atau Taman Hiburan Rakyat menawarkan berbagai hiburan dengan harga merakyat.

Banyak wahana permainan anak yang seru. THR Sriwedari juga menjadi tempat pementasan seni musik, mulai dari dangdut, lagu-lagu Koes Plus, hingga musik rock.

Namun sejak akhir 2017, THR Sriwedari dibongkar dan rata dengan tanah karena lokasi tersebut dijadikan masjid. Namun pembangunan masjid di Taman Sriwedari itu mangkrak karena masalah status kepemilikan tanah.

2. Hotel Berhantu Bedugul, Bali

Hotel Bedugul Taman Rekreasi Hotel & Resort, di Bali, IndonesiaHotel Bedugul Taman Rekreasi Hotel & Resort, di Bali, Indonesia. (Getty Images/iStockphoto/Aleksandr Golubev)

Kedua adalah hotel di Bedugul, Bali yang dulunya digadang-gadang bakal menjadi hotel mewah. Namun hal itu tak pernah terjadi karena pembangunannya dihentikan sebelum hotel dibuka.

Sejak 1990-an, bangunan dibiarkan begitu saja. Tak jelas siapa sosok pemilik hotel tersebut. Ada yang menyebut pemiliknya adalah keluarga Cendana, ada juga yang bilang dimiliki orang China tapi kehabisan modal.

Keberadaan hotel ini tetap menarik perhatian hingga ada media asing yang menyorotinya. Banyak yang mengatakan hotel tersebut berhantu. Hotel yang dimaksud adalah Taman Rekreasi Hotel & Resort di Kecamatan Baturiti.

Misteri yang menyelubungi bangunan mewah ini, tidak mengurangi minat masyarakat. Warganet justru menjadikan hotel tetap eksis di Google Maps. Banyak yang memberi ulasan, seakan-akan menginap di hotel tersebut dan mendapatkan pelayanan baik.

3. Jiwangga Resto, Sleman

Penampakan Jiwangga Resto destinasi kuliner di Sleman yang kini terbengkalai dan disebut angker.Foto diambil Kamis (31/3/2022).Penampakan Jiwangga Resto destinasi kuliner di Sleman yang kini terbengkalai dan disebut angker. Foto diambil pada Kamis (31/3/2022). (Jauh Hari Wawan S/detikJateng).

Jiwangga Resto di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dulu menjadi tempat wisata kuliner yang terkenal. Tapi kini terbengkalai dan banyak cerita horor mengenai tempat ini.

Dilansir dari detikJateng, bangunan restoran ini berkonsep kerajaan Majapahit, yang didominasi batu bata, ornamen ukiran kayu, dan bernuansa Hindu. Kini bangunan itu tertutupi tumbuhan liar yang tinggi.

Karena lama kosong, banyak orang yang bercerita mengenai penampakan sosok gaib. Ada yang pernah melihat ular raksasa, ada pula yang melihat sosok wanita yang disebut-sebut sebagai kuntilanak.

4. Wisata Banyu Nget, Trenggalek

Wanawisata Banyu Nget TrenggalekAir terjun Urang Kambu yang ikonik di Wanawisata Banyu Nget, Trenggalek. (Adhar Muttaqin)

Tahun 2017 lalu, wanawisata Banyu Nget di Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Trenggalek dibuka dan sempat menjadi viral karena memiliki banyak daya tarik. Misalnya air terjun Urang Kambu, mandi air hangat, jembatan kangen, hingga sepeda udara.

Tempat wisata ini hanya berumur 7 tahun hingga akhirnya tutup. Penutupan diduga karena merosotnya tingkat kunjungan wisatawan. Salah satu penyebabnya berkaitan dengan jalur wisata yang pindah ke jalur Pansela Trenggalek-Tulungagung yang baru dibuka.

Pada Agustus 2024, detikJatim sempat melihat sendiri kondisi wisata Banyu Nget. Tampak gapura masuk masih berdiri kokoh, sementara pos penjagaannya tampak kosong. Akses jalannya banyak ditumbuhi semak-semak.

5. Snowbay Waterpark di TMII

Snowbay Waterpark TMIISnowbay Waterpark TMII sebelum berubah fungsi. (Putu Intan/detikcom)

Snowbay Waterpark yang berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dulu menjadi idola anak-anak yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Terlebih jika akhir pekan, pasti tempat ini ramai.

Semenjak ada pandemi COVID-19, taman wisata air ini terpaksa berhenti beroperasi. Dua tahun tutup, tempat wisata ini tak dibuka kembali dan kondisinya terbengkalai.

detikcom sempat mengunjungi lokasi pada Januari 2022 dan ternyata tempat itu dalam proses pembangunan untuk dialihfungsikan menjadi gedung parkir dan fasilitas penunjang lain untuk TMII.

6. Taman Remaja Surabaya

Taman Remaja Surabaya dan THRTaman Remaja Surabaya dan THR. (Esti Widiyana)

Taman Remaja Surabaya (TRS) mirip dengan THR Sriwedari. Tempat ini menjadi salah satu objek wisata kebanggaan warga Surabaya. Tempat ini sangat merakyat karena harganya terjangkau. Pengunjung dapat menikmati sekitar 20 wahana permainan.

Berdiri sejak 1971, TRS harus tutup karena kontrak kerja sama dengan pengelola sudah habis. Sempat ditutup sejak 2018, lokasi TRS kini dialihfungsikan oleh Pemkot Surabaya menjadi tempat konser dengan kapasitas 35-40 ribu.

7. Taman Festival Bali

Taman Festival BaliTaman Festival Bali. (dok denpasarkota.go.id)

Taman Festival Bali adalah tempat wisata populer di kawasan Denpasar sekitar 1997. Dulu tempat ini megah dan menjadi tempat tujuan bagi wisatawan yang datang ke Bali.

Tempat ini sudah lama tutup dan menjadi terbengkalai, sehingga kesannya angker. Namun kondisi ini membuat sebagian orang penasaran dengan Taman Festival Bali. Mereka ingin melihat suasana angker di sana dan menjadikannya sebagai tempat uji nyali.

Lokasinya mudah di akses, karena terletak di tepi pantai Padang Galak, Kesiman, Kota Denpasar, Bali.

8. Kampung Gajah Wonderland

Jejak Kejayaan Wisata Kampung Gajah di Utara Bandung.Jejak Kejayaan Wisata Kampung Gajah di Utara Bandung. (Whisnu Pradana)

Kampung Gajah Wonderland memiliki berbagai wahana permainan dan taman rekreasi air yang menarik para wisatawan. Lokasinya di Jalan Sersan Bajuri, RT 03/07, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Bandung Barat.

Dibuka pada 2009, Kampung Gajah Wonderland hanya berusia sampai 9 tahun. Sejak 2018, Kampung Gajah Wonderland terpaksa tutup karena pailit.

Saat masih buka, harga tiket masuknya Rp 15 ribu saat weekday dan Rp 20 ribu saat weekend. Pengunjung harus membayar lagi jika ingin naik wahana. Tapi ada juga tiket terusan yang dihargai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Harga tersebut termasuk mahal dibandingkan tempat wisata serupa lainnya.

Tim detikJabar sempat berkunjung ke lokasi tersebut pada 2023. Beberapa bangunannya masih berdiri kokoh, tetapi sudah tak terlihat lagi patung-patung gajah yang menjadi ikon. Tempat patung gajah itu telah difungsikan sebagai tempat untuk menjual tanaman yang dijalankan oleh warga setempat.

9. Depok Fantasi Waterpark

Depok Fantasi Waterpark atau Aladin Waterpark sebetulnya merupakan pionir rekreasi air di Kota Depok. Tapi sayang, tempat ini kabarnya tutup akibat pandemi COVID-19.

Bangunan waterpark tersebut sudah tak tersisa lagi. Lokasinya yang berada di Jalan Boulevard Grand Depok City, Depok, sudah berubah menjadi kompleks perumahan.

10. Hotel Gantung Purwakarta

Hotel Gantung Purwakarta atau Skylodge Padjadjaran Anyar terkenal hingga ke luar negeri karena sangat unik. Hotel ini menggantung di tebing dengan ketinggian 500 mdpl atau 400 meter di atas tanah.

Akses menuju ke hotel itu penuh tantangan, yaitu pengunjung harus memanjat ke atas tebing melalui pijakan-pijakan yang telah dibuat, lalu meluncur dengan flying fox. Lokasinya berada di Gunung Parang, yaitu gunung batu andesit yang memiliki ketinggian 963 mdpl.

Namun hotel ini sudah tidak beroperasi sejak pandemi COVID-19. Tapi traveler masih bisa naik gunung atau melakukan panjat tebing di Gunung Parang.

11. Wonderia Semarang

Taman atau wahana hiburan Wonderia adalah tempat wisata dulu populer di Kota Semarang. Letaknya yang berada di pusat Kota Semarang membuatnya mudah ditemukan.

Nahas, pada 15 November 2007, terjadi kecelakaan pada wahana permainan plane tower atau balon udara yang mengakibatkan 16 orang luka-luka. Bahkan peristiwa serupa pernah terjadi sebelumnya pada Februari 2006.

Taman Wonderia Semarang itu kemudian ditutup pada 17 November 2007 sampai waktu yang tidak ditentukan. Ada kabar yang mengatakan bahwa lokasi taman wisata Wonderia akan dijadikan hutan kota.

Jejak wisata terkenal yang terbengkalai ini umumnya masih bisa dilihat masyarakat. Sebagian masih utuh meski tidak terawat, namun ada juga yang mulai berubah fungsi sesuai kebijakan pengelola.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Indahnya Air Terjun Tumpak Sewu di Kaki Gunung Semeru



Lumajang

Lumajang memiliki berbagai objek wisata yang menarik untuk dieksplorasi. Salah satu yang patut didatangi adalah Wisata Air Terjun Tumpak Sewu yang berada di kaki Gunung Semeru.

Air terjun itu berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Bertepatan dengan dibukanya pendakian ke Semeru, mungkin mampir sejenak ke air terjun itu dapat menjadi pengalaman menyenangkan.

Wisata air terjun itu memiliki formasi yang indah karena mempunyai sumber mata air yang melebar seperti tirai. Air Terjun Tumpak Sewu memiliki ketinggian 120 meter.


Nama Air Terjun Tumpak Sewu berasal dari bahasa Jawa, yakni sewu artinya seribu karena memiliki banyak sumber mata air. Air Terjun Tumpak Sewu bisa didatangi menggunakan roda dua maupun roda empat.

“Nama air terjun ini dari bahasa Sanksekerta “tumpak” itu Sabtu, karena diawali hari Sabtu, dan “sewu” itu dari banyaknya mata air,” ujar pengelola air terjun Abdul Karim kepada detikjatim, Sabtu (28/12/2024).

Tak heran, wisata alam di lereng Gunung Semeru ini menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik dikunjungi untuk menghabiskan waktu liburan. Apalagi saat ini bertepatan musim liburan Nataru.

“Di sini, tempatnya keren, meskipun jauh, tapi air terjunnya keren, karena air terjunnya banyak, ke sini dalam rangka liburan,” ujar salah satu wisatawan bernama Gunawan.

Untuk masuk ke Air Terjun Tumpak Sewu, wisatawan cukup membayar tiket sebesar Rp 10.000, untuk dapat menikmati keindahannya alam, dan swafoto berlatar belakang keindahan air terjun di kaki Gunung Semeru.

Bagi wisatawan yang belum memiliki destinasi wisata untuk mengisi liburan Nataru, wisata Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang bisa menjadi alternatif.

________________

Artikel ini telah tayang di detikJatim

(wkn/wkn)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Museum di Sidoarjo yang Pernah 3 Kali Dipindahkan



Sidoarjo

Di Sidoarjo ada sebuah museum yang memiliki kisah panjang karena sempat tiga kali dipindahkan. Museum itu bisa traveler kunjungi saat libur tahun baru.

Museum Mpu Tantular, yang saat ini terletak di Sidoarjo, ternyata memiliki sejarah panjang dan perjalanan yang tidak mudah. Ternyata, museum itu sempat dipindah tiga kali hingga berakhir menetap di Sidoarjo.

Praktisi sejarah Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo, mengatakan museum itu dibangun pada 1933 di Jalan Pemuda, Surabaya. Museum itu didirikan atas prakarsa seorang kolektor benda-benda bersejarah asal Jerman bernama Godfried von Faber.


Von Faber mendirikan museum tersebut untuk memamerkan koleksi pribadinya berupa artefak budaya, keramik, dan benda-benda bersejarah yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Jawa Timur.

“Von Faber adalah tokoh penting dalam sejarah museum ini. Dia menginisiasi pendirian museum dengan tujuan agar generasi mendatang bisa mengenali kekayaan budaya Jawa Timur,” ujar Kuncar, Senin (30/12/2024).

Kuncar mengatakan setelah kemerdekaan Indonesia, museum itu akhirnya dipindahkan ke lokasi lain di Surabaya pada 1949. Pemindahan itu dilakukan untuk menyelamatkan koleksi yang mulai terancam kondisinya akibat kurangnya perhatian dan perubahan situasi politik.

“Pascakemerdekaan, museum membutuhkan tempat yang lebih memadai agar koleksinya bisa terus dijaga,” katanya.

Namun, lokasi kedua di Surabaya pun belum sepenuhnya ideal. Keterbatasan ruang dan perkembangan kota yang pesat membuat museum sulit berkembang.

Akhirnya, pada 1974, museum kembali dipindahkan ke Jalan Pemuda, Surabaya, di lokasi yang lebih strategis namun tetap memiliki keterbatasan ruang.

Sementara itu, Kepala UPT Museum Negeri Mpu Tantular, Sadari, menambahkan situasi itu mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mencari lokasi yang lebih luas dan layak.

“Saat itu kami menyadari bahwa museum memerlukan ruang yang lebih besar agar koleksi bisa ditata lebih baik,” ujarnya.

Pada 1987, akhirnya diputuskan bahwa museum akan dipindahkan ke Sidoarjo, tepatnya di Jalan Raya Buduran. Proses pemindahan ini berlangsung bertahap hingga museum resmi dibuka untuk umum di lokasi baru pada 2004.

Lokasi ini dipilih karena memiliki lahan yang luas dan akses yang lebih baik dibanding lokasi sebelumnya.

“Di sini kami memiliki ruang yang cukup untuk menata koleksi, menyelenggarakan pameran, dan memberikan fasilitas yang lebih baik bagi pengunjung,” kata Sadari.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Gua Ngerong Nan Mistis di Tuban, Ada Ikan yang Tak Boleh Dibawa Pulang



Tuban

Tuban punya destinasi gua Ngerong yang menyimpan mitos. Konon, ikan-ikan yang ada di sana tak boleh dibawa pulang kalau tidak mau celaka.

Gua Ngerong adalah salah satu destinasi wisata alam yang berada di Jalan Raya Rengel, Tuban, Jawa Timur. Destinasi ini tidak pernah sepi pengunjung.

Lokasi gua ini menawarkan pemandangan alam yang indah namun menyimpan cerita mistis. Cerita mistis itu berpusat pada ikan-ikan yang hidup di sungai di sekitar gua Ngerong.


Goa Ngerong TubanIkan-ikan di ga Ngerong Tuban Foto: Ainur Rofiq/detikJatim

Menurut pedagang setempat, Mbak Mah, ikan-ikan di sungai ini tidak pernah dibawa pulang oleh pengunjung, karena takut kena celaka.

“Orang-orang percaya ada cerita mistis di balik keberadaan ikan-ikan ini,” tuturnya.

Selain daya tarik itu, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan alami gua Ngerong. Untuk menikmati panorama tersebut, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp 5.000 untuk anak-anak dan Rp 7.000 untuk orang dewasa.

Di dalam lokasi, pengunjung dapat menikmati bermain air sungai yang jernih dengan ribuan ikan dan kelelawar yang bergelantungan di dinding gua.

“Kami bisa memberi makan ikan dengan roti atau biji kapas. Mereka berebut makanan,” kata Sari, pengunjung dari Bojonegoro, Minggu (10/1).

Pengunjung dapat berenang atau mandi dengan pelampung karet yang disewakan oleh pengelola dan warga sekitar. Lapak-lapak pedagang makanan dan biji kapas juga tersedia di lokasi.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Alas Purwo, Hutan Tertua di Pulau Jawa



Banyuwangi

Alas Purwo tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga berbagai mitos yang menyelimutinya. Mari sibak misteri hutan tertua di pulau Jawa ini.

Alas Purwo merupakan hutan lebat di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hutan ini diyakini banyak menyimpan misteri gaib.

Oleh masyarakat setempat, hutan ini diyakini sebagai yang tertua di pulau Jawa, dan sering disebut sebagai gerbang menuju dunia gaib. Banyak cerita mistis yang menjadikannya salah satu tempat paling disegani di Nusantara.


Dilansir dari jurnal Universitas Islam Sunan Kalijaga berjudul Mitos Kerajaan Jin di Alas Purwo Banyuwangi Indonesia dalam Perspektif Teori Sakral dan Profan Emile Durkheim, yang ditulis Isnawi dan Indah Yulianti, Alas Purwo disebut memiliki aura mistis yang kuat.

Beberapa orang percaya Alas Purwo adalah tempat tinggal makhluk gaib, seperti genderuwo, jin, hingga setan. Ahli spiritual Banyuwangi Ki Joko Gondrong, menguatkan mitos ini dan menyarankan wisatawan untuk selalu waspada saat berkunjung ke hutan tersebut.

Alas Purwo disebut sebagai lokasi pertama yang dihuni manusia, tepatnya di Situs Kawitan. Tak hanya itu, di Alas Purwo terdapat gua Istana yang menjadi destinasi menarik dan wajib dikunjungi wisatawan.

Menurut cerita rakyat setempat, Gua Istana menjadi destinasi terkenal yang dipercaya sebagai tempat Ir Soekarno pernah bertemu Nyi Roro Kidul.

Tak jauh dari gua tersebut, terdapat pura yang sering digunakan untuk semedi. Pura ini sering dikunjungi untuk meditasi atau laku ritual spiritual.

Tempat ini dipercaya bisa memberikan energi-energi ketenangan batin. Kepercayaan akan nuansa mistis ini membuat masyarakat lokal mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati. Sebab, melanggar aturan di hutan ini sering dikaitkan dengan kejadian mistis yang mengundang malapetaka.

Salah satu mitos yang berkembang di kalangan masyarakat adalah suara panggilan misterius di Alas Purwo. Jika mendengar suara memanggil, jangan langsung menengok ke belakang. Konon, menengok bisa membawa malapetaka atau membuat seseorang hilang secara gaib.

Hingga saat ini, masyarakat setempat masih percaya dengan mitos-mitos di Alas Purwo, meski tak sedikit juga yang bersikap sebaliknya.

Cara Menuju ke Alas Purwo

Untuk menuju ke Alas Purwo, traveler bisa memilih rute misalnya dari Kota Banyuwangi menuju Kecamatan Rogojampi, kemudian ke Kecamatan Srono, Kecamatan Muncar, dan Kecamatan Tegaldlimo.

Dari Kecamatan Tegaldlimo, perjalanan dilanjutkan sekitar 10 km melewati jalan berbatu, hingga tiba di Pos Rowobendo, gerbang utama Taman Nasional Alas Purwo.

Untuk mencapai Alas Purwo, wisatawan disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena belum tersedia transportasi umum menuju lokasi ini.

Dengan segala keindahan dan cerita di baliknya, Alas Purwo menjadi destinasi wisata sekaligus misteri yang memikat. Bagi yang penasaran, berhati-hatilah saat menjelajah, karena di balik keindahannya tersimpan banyak misteri yang belum terungkap.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Setiap Jumat Pahing, Gua Ini Dipenuhi Mereka yang Mau Ngalap Berkah



Tuban

Di Tuban, Jawa Timur ada satu gua yang dipenuhi pengunjung setiap Jumat Pahing. Mereka datang untuk ngalap berkah di gua itu. Bagaimana kisahnya?

Wisata gua Ngerong yang berada di desa Rengel, kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur selalu ramai dikunjungi warga, terutama pada hari Jumat Pahing dalam penanggalan Jawa.

Menurut juru kunci, Mbah Mustamin (60), banyaknya pengunjung yang datang pada hari tersebut, dengan tujuan untuk ngalap berkah. meskipun tak sedikit pula datang ke gua ini murni hanya untuk berwisata.


“Kalau Jumat Pahing mulai pagi jam 6 itu susah antri di dekat kolam gua Lowo situ, sambil bawa bunga setaman,” tutur Mustamin, Minggu (26/1).

Pengunjung yang datangke gua itu memiliki berbagai tujuan, seperti mencari kesembuhan dari penyakit, bersyukur atas kesembuhan, atau memiliki hajat lainnya.

Mereka akan turun ke kolam di gua itu untuk melakukan ritual membasuh muka tiga kali dan menyampaikan harapan di petilasan pertapaan Eyang Jala Ijo.

“Yang datang itu mulai orang sakit, sembuh dari sakit, atau hajat lainnya ya… ke sini turun ke kolam raup ping tigo (basuh muka tiga kali). Lalu hajatnya apa saya sampaikan ke dalam gua Mbah Jala Ijo,” tutur Mustamin.

Banyak warga yang percaya bahwa doa mereka terkabul setelah berkunjung ke gua Ngerong. Hal ini membuat mereka kembali lagi untuk mengucapkan syukur dan ngalap berkah.

Sebagai juru kunci yang bertugas secara turun-temurun, Mbah Mustamin juga menceritakan asal-usul gua Ngerong yang penuh cerita mistis.

Asal Usul Gua Ngerong

Kisahnya bermula dari seorang perempuan bernama Dewi Laras yang sedang hamil dan membutuhkan air untuk melahirkan. Ki Jala Ijo dan Ki Kumbang Jaya Kusuma yang sedang bertapa di depan gua, berusaha menolong Dewi Laras yang kesulitan mendapatkan air.

Mereka pun menancapkan tongkat di dalam gua, hingga akhirnya keluar air deras disertai kemunculan hewan seperti ikan, kura-kura, dan kelelawar. Hewan-hewan ini kemudian dipercaya masyarakat sebagai hewan keramat.

“Dewi Laras akhirnya menemukan sumber air inilah yang disebut-sebut sebagai awal mula wilayah gua Ngerong. Ngerong itu bermula dari bahasa Jawa ‘Klenger Ngorong akhire dadi Ngerong,” jelas Mbah Mustamin.

Kepercayaan masyarakat terhadap kisah ini begitu kuat, bahkan ada pantangan untuk membawa pulang hewan dari dalam gua.

“Sudah banyak buktinya, siapa yang ambil ikan akan mati. Sehingga tak ada yang berani bawa pulang,” pungkas si juru kunci.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit Asyik Sambil Lihat Pesawat Parkir di Taman



Tuban

Ngabuburit di Tuban, Jawa Timur makin asyik setelah taman hutan kota di sana kini dihiasi dengan Monumen Pesawat TNI AL N22/N24 Nomad.

Monumen itu langsung menjadi salah satu lokasi favorit bagi warga Bumi Wali untuk ngabuburit selama Ramadan. Kawasan taman pun mulai ramai sejak sore hari menjelang berbuka puasa.

Pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga emak-emak, mendatangi taman untuk menikmati udara segar sambil menunggu waktu berbuka puasa.


Monumen Pesawat TNI AL ini menjadi ikon baru Kota Tuban setelah resmi berdiri pada akhir tahun 2024. Pesawat tersebut merupakan bagian dari sejarah penerbangan militer maritim Indonesia, yang kini dijadikan daya tarik wisata di hutan kota.

“Monumen pesawat TNI Angkatan Laut ini kayaknya sebagai salah satu daya tarik pengunjung untuk ngabuburit di sini, selain itu adem dan anak-anak bisa leluasa bermain,” tutur warga Tuban, Widia, Minggu (2/3/2025).

Tak hanya menikmati suasana sejuk, banyak pengunjung memanfaatkan area monumen untuk berswafoto di sekitar pesawat.

“Ya mumpung ke sini, jadi kita abadikan dengan berfoto ria di sini,” ujar Puspitasari, pengunjung asal Bojonegoro.

Keramaian wisatawan lokal yang memadati kawasan Taman Hutan Kota Tuban juga memberikan peluang usaha bagi warga sekitar.

Sejumlah pedagang takjil memanfaatkan momen tersebut dengan menjajakan aneka makanan ringan di trotoar sepanjang jalan, menambah semarak suasana ngabuburit di bulan Ramadan.

Dengan suasana nyaman, ikon baru, dan peluang ekonomi bagi warga, Taman Hutan Kota Tuban kini menjadi destinasi ngabuburit favorit masyarakat selama Ramadan tahun ini.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Anti Mainstream di Pacitan, Bisa Ibadah dengan Pemandangan Laut



Pacitan

Di Pacitan, ada satu masjid yang anti mainstream. Masjid itu terapung di tepi laut. Traveler bisa beribadah sambil melihat pemandangan lautan.

Masjid Apung Pacitan menawarkan pengalaman ibadah yang unik dengan latar pemandangan laut yang menakjubkan. Berdiri megah di atas perairan, masjid ini mengapung di bibir pantai, menciptakan suasana khusyuk yang berpadu dengan semilir angin laut.

Tak hanya menjadi tempat beribadah, masjid ini menjadi destinasi wisata religi yang menarik. Pembangunan Masjid Apung Pacitan itu dimulai sejak tahun 2019 sebagai perwujudan gagasan Kyai Fuad Dimyati, atau yang akrab disapa Gus Fuad.


Gus Fuad merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tremas, salah satu pesantren tertua dan bersejarah di Pacitan. Masjid Apung Pacitan, yang juga dikenal sebagai Masjid Kemampul, berdiri megah di tepi Pantai Pancer Door, Kelurahan Ploso, Kecamatan/Kabupaten Pacitan.

Lokasi masjid yang strategis memudahkan akses bagi para jemaah dan wisatawan, baik yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Fasilitas yang disediakan di Masjid Apung Pacitan cukup lengkap, mulai dari tempat parkir yang luas, toilet, dan tempat wudu. Untuk memasuki kawasan Masjid Apung Pacitan, pengunjung hanya perlu membayar karcis sebesar Rp 5.000.

Bangunan Masjid Apung Pacitan mengusung konsep tradisional Jawa yang didominasi bambu dan kayu-kayu tradisional. Dilansir dari laman resmi Perguruan Islam Pondok Tremas, Masjid Kemampul memanfaatkan banyak tong atau drum-drum besar yang membantu masjid agar bisa mengapung.

Masjid ini berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Islam seperti pada umumnya. Namun, yang membedakannya adalah suasana unik yang ditawarkan. Berada di tepi pantai dengan pemandangan laut lepas, masjid ini menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda.

Embusan angin laut dan deburan ombak yang terdengar di sekitar diharapkan dapat memberikan ketenangan, membantu para jemaah lebih khusyuk dalam melaksanakan salat. Waktu terbaik untuk mengunjungi Masjid Apung Pacitan adalah sore menjelang malam.

Saat itu, pengunjung tidak hanya dapat menunaikan ibadah dengan suasana yang sejuk, tetapi juga menikmati keindahan matahari terbenam di tepi Pantai Pancer Door.

Cahaya jingga yang memantul di permukaan laut menciptakan pemandangan yang menakjubkan, menambah ketenangan dan kekhus

Kini, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan wisata religi bagi masyarakat setempat. Masjid Apung Pacitan juga menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah yang ingin merasakan sensasi beribadah dengan lanskap alam yang menakjubkan.

Keunikannya sebagai masjid yang berdiri di tepi laut menjadikannya salah satu ikon Pacitan, kabupaten yang dikenal dengan julukan Paradise of Java.

Dengan perpaduan arsitektur khas dan panorama alam yang menawan, masjid ini semakin memperkaya pesona wisata bahari Pacitan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com