Tag Archives: detikjogja

Awas! Ini Ciri-ciri Ada Sarang Ular di Pekarangan Rumah


Jakarta

Ular terkadang dapat ditemukan di pekarangan rumah, terutama kalau terdapat rumput tinggi dan semak-semak. Mereka bisa bersarang di pekarangan, lalu sewaktu-waktu dapat memasuki rumah.

Jika menemukan tanda-tanda sarang ular, kamu perlu segera mengatasinya. Selain bentuknya yang mengerikan, ular bisa membahayakan penghuni rumah.

Lantas, seperti apa ciri-ciri ada sarang ular di halaman rumah? Simak penjelasannya berikut ini.


Ciri-ciri Ada Sarang Ular di Pekarangan Rumah

Inilah beberapa pertanda terdapat sarang ular di pekarangan rumah kamu.

1. Lubang yang Berongga

Dilansir dari detikJogja yang mengutip buku ‘Ular dan Reptilia Lain’ karya Steve Setford, salah satu tanda ada sarang ular adalah adanya lubang yang berongga. Biasanya ular akan menjadikan celah bebatuan, batang pohon berongga, hingga sarang ular atau hewan lain yang telah ditinggalkan sebagai tempat mereka tinggal.

Hal inilah yang membuat saat menjumpai lubang yang berongga pada tempat-tempat tersebut. Penghuni rumah perlu berhati-hati saat menjumpai lubang berongga di sekitar halaman atau sudut rumah lainnya.

2. Bekas Kulit Ular

Selanjutnya ada terdapat bekas kulit ular yang dapat menandakan adanya sarang ular di sekitar rumah. Ular cenderung menanggalkan kulitnya secara rutin.

Ular mengganti kulitnya adalah dengan menggosok-gosokkan di permukaan yang kasar. Inilah yang membuat sisa kulit ular menandakan keberadaan mereka di sekitar lokasi tersebut.

3. Pola Liukan

Ular termasuk hewan melata yang berjalan dengan cara meliuk-liukan tubuhnya. Hal ini secara tidak langsung dapat menunjukkan ular tersebut melewati area tersebut.

Menurut laman Tom’s Guide, saat ular merayap di tanah tidak jarang mereka meninggalkan pola liukan yang membentuk lintasan tertentu. Tidak hanya sebagai tanda keberadaan mereka, pola liukan yang dihasilkan juga dapat dicermati untuk menentukan ukuran ular dan kecepatan mereka merayap di tanah.

4. Kotoran Ular

Adanya kotoran ular dapat menjadi salah satu ciri ular di sekitar kita. Kotoran ular dapat dijumpai pada lubang-lubang terbuka yang menjadi sarang bagi mereka tinggal. Ular yang masih tinggal di sarangnya, cenderung akan meninggalkan bekas kulit atau kotorannya begitu saja.

5. Berkurangnya Hewan Kecil

Halaman rumah menjadi salah satu tempat bagi para hewan kecil tinggal dan kerap disadari oleh manusia di sekitarnya. Misalnya saja adanya tikus, serangga, siput, hingga burung-burung liar.

Saat populasi hewan kecil tersebut semakin berkurang, justru dapat menjadi pertanda adanya ular yang tinggal di sekitar lokasi tersebut. Ada kemungkinan hewan-hewan tersebut telah dimangsa oleh ular, sehingga populasinya berkurang.

6. Tumpukan Dedaunan

Ternyata tumpukan dedaunan juga dapat menjadi tanda adanya sarang ular di halaman rumah. Beberapa jenis ular justru membangun sarang dari tumpukan dedaunan.

Nathan Rusli dalam bukunya ‘Panduan Bergambar Ular Jawa’, king cobra dengan nama ilmiah Ophiophagus hannah memiliki kecenderungan membangun sarang dari dedaunan. Sarang tersebut nantinya akan dipakai untuk menyimpan telur-telurnya.

7. Suara Gemerisik yang Tak Biasa

Suara gemerisik yang tidak seperti biasanya ternyata dapat menjadi salah satu ciri adanya sarang ular di halaman rumah. Diungkap dalam laman Nature Guard, suara gemerisik yang berasal dari halaman rumah atau lokasi lain di sekitar rumah bisa menjadi salah satu tanda adanya ular. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya untuk memasang jebakan ular di area tersebut.

8. Sisik Ular

Selain kulit, ternyata ditemukannya sisik ular juga dapat menandakan adanya ular di sekitar lokasi tersebut. Mengutip dari jurnal ‘Inventarisasi dan Sebaran Spasial Spesies Ular di Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (Kphl) Batu Tegi’ karya Duta Aditya Putra Pradana, dkk., disampaikan bahwa sisik ular yang ditemukan tidak jarang menandakan adanya aktivitas reptil ini di lokasi tersebut.

Itulah beberapa ciri adanya sarang ular di halaman rumah. Semoga bermanfaat!

Artikel ini sudah tayang di detikJogja.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(dhw/dhw)



Sumber : www.detik.com

Piknik di Pantai-Kulineran di Pasar



Yogyakarta

Tahun Baru 2025 sudah di depan mata. Traveler yang ingin menghabiskannya di Yogyakarta simak ide liburan tahun baru berikut ini:

Yogyakarta memiliki banyak pilihan liburan seru yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan kota. Dari menikmati alam hingga mengeksplorasi budaya.

Selain itu, ada berbagai aktivitas menarik yang bisa mengisi waktu liburan traveler.


Berikut sederet ide liburan tahun baru di Yogyakarta yang menarik:

1. Wisata Edukasi di Kebun Binatang

Liburan yang menyenangkan dan edukatif sering kali menjadi pilihan terbaik bagi keluarga, terutama yang membawa anak-anak. Mengunjungi kebun binatang bukan hanya menawarkan pengalaman menyaksikan hewan-hewan yang menarik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk belajar tentang berbagai jenis hewan.

Di Jogja, Anda bisa mengunjungi Gembira Loka Zoo, sebuah kebun binatang yang memiliki koleksi satwa dari berbagai belahan dunia. Selain itu, Suraloka Interactive Zoo juga bisa menjadi alternatif yang menawarkan suasana yang berbeda.

2. Berkeliling Taman

Bagi yang ingin menikmati udara segar dan suasana hijau, mengunjungi taman kota adalah pilihan yang tepat. Di taman kota, traveler bisa berjalan-jalan santai, bersepeda, atau sekadar duduk menikmati pemandangan.

Aktivitas ini memberikan kesempatan untuk melepaskan penat setelah rutinitas yang padat. Wisdom Park UGM, bisa menjadi pilihan yang tepat bagi traveler untuk melakukan aktivitas ini. Suasananya yang sangat asri dan teduh cocok untuk traveler yang ingin melakukan aktivitas outdoor namun tetap santai.

3. Wisata Budaya di Museum

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg (dok. IHA)

Jika traveler tertarik mengenal lebih dalam tentang sejarah dan budaya lokal, mengunjungi museum bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. Di museum, traveler tidak hanya akan mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga menikmati atmosfer yang lebih tenang dan reflektif.

Museum Sonobudoyo, yang menyajikan koleksi seni dan budaya Jawa, adalah tempat yang sempurna bagi detikers yang ingin lebih mengenal warisan budaya Jogja. Selain itu, detikers juga bisa mengunjungi Museum Benteng Vredeburg atau Museum Sandi yang terletak strategis di tengah kota.

4. Staycation di Hotel

Tidak semua liburan harus menghabiskan waktu di luar kota. Staycation atau menginap di hotel lokal bisa menjadi alternatif yang menarik. detikers bisa menikmati fasilitas hotel, bersantai, dan menikmati waktu bersama keluarga tanpa harus bepergian jauh.

Beberapa hotel di Jogja menawarkan nuansa lawas yang kental, seperti The Phoenix Hotel, yang memiliki arsitektur kolonial yang indah, atau Hotel Tentrem yang menggabungkan kemewahan modern dengan sentuhan tradisional mungkin akan menjadi sensasi baru untuk detikers saat staycation.

5. Piknik di Pantai

Bagi traveler yang ingin liburan santai namun tetap menikmati alam terbuka, piknik di pantai atau danau bisa menjadi pilihan yang menyegarkan. Jogja memiliki beberapa pantai dan danau yang indah untuk dijadikan tempat piknik.

Contohnya seperti Pantai Parangtritis yang terkenal dengan pasir hitamnya dan pantai-pantai di Gunungkidul seperti Pantai Ngetun dan Wediombo. Nikmati suasana tenang sambil menikmati makanan ringan atau sekadar menikmati alam.

6. Jelajahi Kuliner Khas Jogja

Suasana di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (26/12/2023).Suasana di Pasar Beringharjo, Jogja (Adji G Rinepta/detikJogja)

Liburan Tahun Baru juga bisa menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi kuliner lokal yang menggugah selera. Jogja dikenal dengan berbagai hidangan lezat yang sayang untuk dilewatkan.

Traveler bisa mengunjungi pasar tradisional untuk mencicipi makanan khas, atau menjelajahi tempat makan yang populer di kota ini. Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede dan Pasar Ngasem adalah tiga contoh rekomendasi tempat yang sempurna untuk berburu makanan lokal.

Ada gudeg, bakpia, dan aneka jajanan tradisional khas Jogja yang bisa dicoba traveler. Bagi traveler yang ingin berburu makanan dan jajanan otentik khas Jogja, maka pilihan ini cukup menarik untuk dimasukkan dalam rencana liburan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Kulon Progo Rasa Kayangan, Namanya Puncak Suroloyo



Kulon Progo

Yogyakarta punya banyak wisata alam yang memesona. Mungkin yang satu ini belum kamu tahu, namanya Puncak Suroloyo.

Menilik Google Maps, destinasi satu ini berlokasi di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Dihitung dari kota Jogja, jaraknya sekitar 40 hingga 50 kilometer. Sementara jika diukur dari Wates, ibu kota Kulon Progo, jaraknya sekitar 35 kilometer.

Mengutip laman Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Puncak Suroloyo merupakan puncak tertinggi di Pegunungan Menoreh. Ketinggiannya mencapai 1017 meter di atas permukaan laut. Tak heran, pemandangan yang ditawarkannya begitu menawan dan memanjakan mata.


Untuk dapat mencapai bagian puncaknya, detikers perlu menaiki anak tangga dengan waktu sekitar 15 menit. Usai berada di bagian puncak, pemandangan indah nan menawan akan membayar semua rasa pegal yang terasa.

Puncak Suroloyo buka selama 24 jam. Namun, perlu detikers ketahui bahwa tidak ada penginapan atau villa di puncaknya. Meski demikian, di bagian bawahnya terdapat beberapa penginapan yang dapat dijadikan pilihan.

Pemilihan waktu agar mendapatkan pemandangan maksimal pun perlu dipertimbangkan. Agar dapat menyaksikan sunrise, disarankan untuk sampai di bagian atasnya sekitar jam 05.30 WIB. Sementara itu, untuk melihat sunset, detikers direkomendasikan berada di lokasi pada jam 17.00 WIB.

Puncak SuroloyoPuncak Suroloyo Foto: (Yusran Firmansyah Effendi/d’traveler)

Untuk dapat menikmati keindahannya, detikers hanya perlu membayar Rp 6.000 per orang. Biaya tambahan untuk parkir motor dan mobil berturut-turut adalah Rp 2.000 dan Rp 5.000.

Fasilitas di Puncak Suroloyo terhitung cukup lengkap, mulai dari mushola, kamar mandi, 3 pendopo untuk menyaksikan pemandangan, Warung dan kios

Daya tarik paling utama Puncak Suroloyo adalah pemandangan yang menawan. Selain sunrise dan sunset yang telah disebutkan, detikers juga dapat melihat hamparan kebun teh super hijau.

Mengutip laman resmi Kapanewon Samigaluh, dari puncaknya, pengunjung dapat menyaksikan empat gunung yakni Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro. Jika beruntung, kabut yang terhampar juga dapat dilihat laksana awan.

***

Baca berita selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Taman Aglaonema Terbesar di Indonesia Ada di Sleman, Ini Daya Tariknya


Jakarta

Taman Aglaonema atau Aglaonema Park menyajikan ratusan specimen tanaman aglaonema. Baru dibuka, taman Aglaonema diresmikan oleh Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Abdul Halim Iskandar pada Juni 2024.

Taman Aglaonema ini digagas oleh BUMKal Triadi Makmur yang merupakan pengelola Puri Mataram. Lokasinya berada di satu kompleks dengan Puri Mataram. Ada apa saja di dalamnya?

Daya Tarik Taman Aglaonema

Taman Aglaonema menyajikan warna-warni tanaman yang memanjakan mata. Sehingga, sangat cocok untuk para pecinta tanaman hias. Berikut beberapa daya tariknya.


1. Ada 90.000 Tanaman Aglaonema

Taman Aglaonema menampilkan 90.000 tanaman Aglaonema yang terdiri dari 200 spesimen. Berdasarkan liputan detikJogja ke Aglaonema Park, wisata ini diklaim menjadi Taman Aglaonema terbesar di Indonesia. Tanaman-tanamannya dibangun di atas lahan seluas satu hektar.

2. Spot Foto

Wisatawan dapat menemui banyak spot foto berlatarkan tanaman yang cantik. Seluruh tanaman hiasnya ditata rapi dengan berbagai pola. Ada beberapa tanaman hias yang ditanam langsung di atas tanah.

3. Patung Gregori Garnadi Hambali

Gregori Garnadi Hambali dinobatkan sebagai Bapak Aglaonema Indonesia. Menurut laman IPB University, alumnus Biologi FMIPA ini merupakan penemu Aglaonema The Pride of Sumatera, sebuah varietas baru tanaman aglaonema yang terlahir di tahun 1987. Tanaman ini berhasil meraih juara saat mengikuti perlombaan di Belanda

4. Penjualan Tanaman Aglaonema

Selain melihat menyuguhkan keindahan , taman ini juga menjual tanaman hias Aglaonema. Jadi, wisatawan pecinta tanaman hias bisa membeli aglaonema yang cantik ini.

Harga Tiket Masuk

Harga Taman Aglaonema adalah Rp 20.000/orang (gratis untuk anak di bawah 3 tahun). Menurut instagram resminya, ada promo pembelian tiket 10 mendapat gratis 1 tiket, berlaku kelipatan.

Lokasi dan Jam Operasional Taman Aglaonema

Jl. Puri Mataram, Pangukan, Tridadi, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55511.
Jam operasionalnya mulai dari pukul 08.00-17.00 WIB.

Itulah informasi mengenai Taman Aglaonema, mulai dari daya tarik, harga tiket dan jam operasional Taman Aglaonema di Sleman. Traveler mau main ke taman ini?

(elk/elk)



Sumber : travel.detik.com

Mengenal Situs Sokoliman, Saksi Bisu Kehidupan Purba di Gunungkidul



Gunungkidul

Situs Sokoliman di Gunungkidul menjadi saksi bisu kehidupan manusia purba di masa lalu. Mari mengenal lebih dekat situs ini.

Bukti kehidupan zaman batu besar atau megalitikum masih dapat dijumpai hingga saat ini di Situs Sokoliman. Ada temuan-temuan yang identik dengan masa itu.

Mengutip laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), zaman megalitikum diperkirakan sudah ada sejak 3.500 tahun sebelum masehi. Zaman ini, menjadi periode akhir dari zaman batu.


Megalitikum juga disebut sebagai zaman batu besar. Itu karena produk yang dihasilkan zaman ini menggunakan batuan-batuan besar, contohnya menhir, dolmen, kubur peti batu, sarkofagus, waruga, punden berundak, dan patung-patung.

Mengutip Jurnal Penelitian Arkeologi Kemendikbud Ristek dan laman resmi Kabupaten Gunungkidul, Situs Sokoliman ditemukan pada tahun 1934 saat masa kolonial Belanda. Keberadaan situs ini diketahui setelah dilakukan penelitian awal oleh J.L. Moens dan Van der Hoop.

Pada awalnya, kedua orang Belanda itu melaporkan adanya bekal kubur yang berbentuk manik-manik, alat-alat besi, fragmen gerabah dan benda-benda perunggu di kawasan Dusun Gunungbang, Desa Bejiharjo, Gunungkidul. Di tempat itu, juga ditemukan beberapa kubur batu yang sampai sekarang masih berada di sana.

Sekitar tahun 1960-an, dilakukan penelitian lanjutan yang melibatkan tenaga lokal. Kemudian, pada tahun 1982, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) yang kini bernama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY menerbitkan hasil pemetaan situs kepurbakalaan Desa Sokoliman dan Gunungbang, termasuk pemetaan di Dusun Sokoliman I dan Sokoliman II.

Sebelum adanya penelitian-penelitian purbakala itu, masyarakat di sekitar Situs Sokoliman telah menyadari keberadaan batu-batu besar tersebut dan dinamai sebagai Kramat Budo. Keberadaan batuan di sana juga menjadi cikal bakal nama Sokoliman, yaitu adanya lima batu menjulang seperti tiang (soko).

Situs bersejarah di GunungkidulSitus Sokoliman di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana

Meski disadari keberadaannya, batuan-batuan besar di area itu tidak lantas diistimewakan. Tak jarang warga yang baru pulang dari bertani menjadikan batuan-batuan itu sebagai lap kaki untuk menghilangkan tanah yang menggumpal.

Akan tetapi, kini warga telah menyadari nilai sejarah yang terkandung di batu-batu besar Sokoliman. Seiring waktu juga situs ini menjadi tempat pengumpulan batuan-batuan zaman megalitikum yang ditemukan di wilayah lain Gunungkidul. Situs Sokoliman pun menjadi tempat wisata edukasi yang dapat dikunjungi masyarakat umum.

Benda Cagar Budaya di Situs Sokoliman

Situs Sokoliman telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya bernomor registrasi 3403092001.4.2021.72. Kepemilikan situs ini berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Di dalam Situs Sokoliman, terkumpul berbagai benda-benda peninggalan zaman megalitikum yang identik dengan pemujaan dan penguburan. Berikut beberapa benda cagar budaya di Situs Sokoliman:

1. Arca Menhir Sokoliman

Menhir adalah batu tegak yang umumnya ditancapkan dengan posisi berdiri sebagai objek pemujaan. Menhir dikenal juga dengan istilah batu mayat, batu bedil, batu tegak, dan batu meriam.

Arca menhir Sokoliman berbentuk bulat pejal memanjang dengan permukaan, terutama pada bagian badan, leher, dan muka, dipahat sangat halus. Secara visual, arca ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu badan dan kepala dengan keseluruhannya sepanjang 357 cm, lebar 40 cm, dan diameter 126 cm.

Situs bersejarah di GunungkidulSitus Sokoliman di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana

Penemuan batu yang diduga batu menhir ini berawal dari laporan seorang warga bernama Parjiyo yang juga juru kunci kompleks makam desa setempat.

Ia menemukan batu menhir saat membuat lubang galian makam. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada juru pelihara Situs Sokoliman, Sugito, dan selanjutnya diteruskan ke kantor BPCB DIY melalui laporan tertulis tertanggal 6 Oktober 2016.

2. Kubur Peti Batu D 24

Kubur Peti Batu adalah kuburan masa kebudayaan megalitikum yang berbentuk liang lahat dengan diberi lantai batu tipis. Dinding kubur peti batu terdiri dari dua sisi batu panjang dan dua batu pipih yang pendek ujungnya, serta selembar batu pipih lain sebagai penutup.

Dinding kubur peti batu D 24 sisi timur memiliki ukuran panjang 131 cm dan lebar 57 cm, serta ketebalan 13 cm. Sementara, dinding sisi selatan memiliki panjang 89 cm, lebar, 55 cm, dan ketebalan 13 cm.

Kubur peti batu di Situs Sokoliman ini ditemukan dari hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Van der Hoop, bersamaan dengan penemuan area ini sebagai situs purbakala.

Dalam beberapa penelitian lanjutan, hasil analisa terhadap temuan tulang manusia mengidentifikasi setidaknya ada 4 atau 5 individu dalam kubur peti batu ini.

3. Fragmen Menhir D 12g

Fragmen Menhir D 12g ditemukan di pekarangan halaman rumah seorang warga bernama Sugito. Batu ini, semula berada di atas tanah tegalan dekat kandang sapi milik warga lain bernama Mento Pawiro (Mento Simin).

Pada tahun 2009 dan tahun 2017, BPCB DIY melakukan kegiatan inventarisasi yang dilanjutkan dengan pemetaan temuan benda megalitikum yang berada di luar Penampungan Sokoliman. Fragmen batu itu kemudian dipindahkah ke situs Sokoliman.

Dari penuturan Sugito, fragmen menhir D 12g ini mengalami kerusakan dari saat penemuan awal. Ketika diinventarisasi pada 2009, ukuran panjang fragmen menhir D 12g adalah 1 meter, tetapi saat ini hanya tersisa 84 cm.

Selain ketiga batuan di atas, masih ada banyak batuan peninggalan masa megalitikum yang dapat dijumpai di Situs Sokoliman. Berdasarkan data inventarisasi BPCB DIY, ada sedikitnya 5 buah kubur batu (insitu), 7 buah papan kubur batu, dan 137 buah batu menhir di Sokoliman.

Cara Menuju ke Sini dan Harga Tiket

Situs Sokoliman berada di Padukuhan Sokoliman II, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya terletak pada 20 kilometer timur laut pusat Kota Wonosari, dekat dengan wisata Gua Pindul.

Bagi yang memulai berkendara dari Jogja, Situs Sokoliman berada pada jarak 45 kilometer ke arah tenggara. Wisatawan dapat berkendara mengikuti Jalan Jogja-Wonosari kemudian mengambil jalur kiri ketika sampai di persimpangan Sambipitu Patuk ke arah Nglipar.

Wisatawan perlu berkendara sekitar 20 kilometer lagi untuk bisa sampai situs Sokoliman. Untuk masuk ke situs ini, wisatawan perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000 per orang. Akan tetapi, harga tiket tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.

Oleh karena itu, pengunjung dapat memeriksa tarif pastinya di lokasi secara langsung. Di sana juga telah disediakan pemandu atau juru pelihara situs yang akan mengajak wisatawan mengelilingi Situs Sokoliman.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cerita di Balik Nama Unik Dusun Anjir di Kulon Progo



Kulon Progo

Nama Dusun Anjir di Kulon Progo memang unik. Kira-kira, apa cerita di balik dusun yang namanya identik dengan umpatan ala anak gaul Jaksel ini?

Anjir menjadi nama sebuah dusun di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Nama yang unik ini ternyata bermula dari adanya pohon ikonik yang pernah tumbuh di dusun tersebut. Kepala Dusun Anjir, Saifudin, menceritakan awal mula dusun ini diberi nama Anjir.


Saifudin mengatakan pemilihan nama Anjir bermula dari adanya pohon di pekarangan milik mantan pemangku dusun setempat yang bernama Bardi Wirodimejo.

Pohon tersebut menarik perhatian masyarakat karena memiliki tinggi yang menjulang dan wujudnya mirip tongkat raksasa.

“Kenapa Anjir gitu kan ya, lha ini dulu awalnya dari dukuh pertama bernama Mbah Bardi Wirodimejo, orangnya tinggi besar, kebetulan saya masih menangi beliau. Nah di depan rumah Mbah Bardi ini dulunya ada pohon, kita tidak tau namanya, pohon ini tinggi kaya semacam cagak antena gitu, karena tidak ada daunnya efek kemarau,” ucap Saifudin saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

Saifudin mengatakan pohon tersebut mengingatkan warga dengan patok penyangga tanaman atau biasa disebut Ajir. Sebagai tambahan informasi, Ajir adalah alat yang terbuat dari batang bambu atau tongkat bilahan bambu yang berfungsi sebagai penyangga batang, tempat bersandar pohon atau merambatnya tanaman perdu.

“Jadi Ajir itu cagak tanaman. Biasanya dipakai untuk tanaman seperti kacang panjang gitu,” terangnya.

“Nah dari sinilah kemudian menjadi nama dusun ini. Semula penyebutannya masih Ajir, tapi karena lidah Jawa jadinya Anjir. Kemudian sekarang lebih dikenal Nganjir jadi ada tambahan ng, tapi untuk penulisan resminya tetap Anjir,” terangnya.

Terkait siapa yang pertama kali mencetuskan nama tersebut, Saifudin mengaku kurang mengetahuinya. Dia menduga ini merupakan ide dari tokoh masyarakat di masa itu.

“Kemungkinan pencetus nama itu dukuh pertama tadi, atau bisa juga tokoh-tokoh lain di masa itu,” ujarnya.

Saifudin mengatakan belum ada arsip sejarah yang secara terang benderang menjelaskan kapan nama Anjir ini digunakan jadi nama dusun tersebut.

Namun, dia memperkirakan nama dusun Anjir ini mulai ada pasca-pemekaran Kalurahan Hargorejo pada medio tahun 1947 silam.

“Jadi dulu Hargorejo itu terdiri dari empat kelurahan, yaitu Penggung, Kriyan, Kokap Lama, dan Selo. Penggabungan empat Kalurahan jadi Hargorejo ini tahun 22 April 1947. Kemudian dulu itu ada Kalurahan Penggung, yang mencakup wilayah Anjir saat ini. Karena terjadi penggabungan tadi, sini masih tetep Penggung. Nah terus tahunya berapa saya belum ketemu itu terjadi pemekaran, dan Anjir berdirinya tanggal berapa tahun berapa belum ketemu, namun dimungkinkan berdirinya itu tahun 75-80 an,” ujarnya.

Cara Menuju ke Dusun Anjir

Dusun Anjir terletak di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo. Dari pusat Kota Jogja jarak menuju ke dusun ini berkisar 40 km atau 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Anjir sendiri memiliki luas 150 hektar dan menjadi tempat tinggal bagi 690 warga. Mayoritas warga di sini bekerja sebagai pekebun dan petani.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mengunjungi Desa ala ‘Kerajaan’ di Gunungkidul



Gunungkidul

Pedukuhan Wotawati di Gunungkidul yang cuma disinari sinar matahari selama 7 jam sehari kini punya penampakan baru seperti di zaman ‘kerajaan’.

Wotawati saat ini telah bersolek. Sebagian besar rumah di Wotawati memiliki tampilan depan bangunan atau fasad yang sama, seperti pada masa kerajaan. Kesamaan itu tampak pada penggunaan bata merah ekspose pada bagian dindingnya.

Selain itu, setiap rumah saat ini memiliki gapura yang berbentuk sama dan menggunakan bata merah ekspose. Gapura tersebut identik dengan masa kerajaan sehingga menimbulkan sensasi tersendiri saat mengunjungi Wotawati.


Lurah Pucung, Estu Dwiyono mengatakan perubahan fasad rumah warga sudah berlangsung sejak Juni 2024. Saat itu Wotawati mendapat suntikan dana keistimewaan (Danais) sekitar Rp 5 miliar untuk penataan tahun ini.

“Jadi saat ini memang kita sedang melaksanakan penataan di kawasan Wotawati. Sebenarnya menata sesuatu yang sudah ada, hanya istilahnya kita poles,” katanya kepada wartawan di Wotawati, Gunungkidul, Sabtu (9/11).

Wotawati Gunungkidul kini bak kerajaan. Foto diambil Sabtu (10/11/2024).Wotawati Gunungkidul kini bak kerajaan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

“Seperti pagar-pagar di setiap rumah tadinya sudah ada, tapi kami poles lagi, perbaiki agar tampil lebih artistik dengan menggunakan Danais. Jadi sebenarnya tidak ada membangun baru,” lanjut Estu.

Penataan tersebut, kata Estu, bakal berlangsung selama tiga tahun ke depan. Sedangkan jumlah rumah yang fasadnya mengalami renovasi mencapai puluhan.

“Insyaallah, program ini akan berlangsung selama tiga tahun ke depan dan ada sekitar 79 rumah yang akan direnovasi fasadnya,” ujarnya.

Terkait konsep fasad rumah warga khususnya gapura yang menyerupai di Bali, Estu menampiknya. Menurut Estu, penggunaan bata merah merupakan perpaduan antara masa Majapahit dan Mataram.

“Sebenarnya konsep tidak mirip dengan Bali ya, kami tetap menjaga karakter lokal. Konon ceritanya kami bagian dari pelarian Majapahit, karena itu kenapa kami memilih bata merah itu kan sebenarnya kita identik dengan Majapahit atau awal Mataram,” ucapnya.

“Tapi kemudian tetap kita akulturasikan dengan yang menjadi ciri khasnya Jogja, khususnya Gunungkidul. Sehingga gapura-gapura itu tidak seperti gapuranya Majapahit, Bali, tapi tetap dengan gaya Jogja dan Gunungkidul,” imbuh Estu.

Penataan untuk Daya Tarik Wisata

Dengan penataan tersebut, Estu berharap Wotawati yang sebelumnya kerap disebut menjadi kawasan terisolir berubah menjadi kawasan terpadu. Di mana tidak hanya menawarkan keindahan dan keunikan pemukiman tetapi juga ada camping ground termasuk sentra pertanian dan peternakan terpadu.

“Dan kami berharap beberapa rumah warga nantinya bisa menjadi homestay sebagai tempat menginap wisatawan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GKR Bendara menyebut penataan di Wotawati memang perlu. Semua itu untuk menjadikan Wotawati sebagai salah satu perwujudan quality tourism

“Karena ini baru mulai penataan, harapannya mulai ditata bersama-sama dengan industri dari sekarang agar bisa menjadi quality tourism,” katanya.

GKR Bendara juga meminta jangan sampai keindahan alam di Wotawati rusak setelah menjadi tempat wisata. Karena itu GKR Bendara berharap ada aturan khusus dari Kalurahan.

“Untuk menjaga keindahan alam desa wisata ini, kami berharap ada aturan dari kelurahan yang melindungi lingkungan. Selain itu adanya kesadaran dari masyarakat sekitar untuk menjaga alam,” ucapnya.

“Sehingga Desa Wisata Wotawati diharapkan bisa menjadi contoh desa wisata berkelanjutan dengan quality tourism. Karena itu yang menjadi fokus pembangunan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta,” lanjut GKR Bendara.

Bahkan, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini juga melakukan upaya penghijauan dan pemeliharaan lahan agar semakin subur. Di mana salah satunya di Wotawati.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin meningkat, perlindungan terhadap lingkungan hidup menjadi kebutuhan yang mendesak.

“Program ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki kualitas udara dan meningkatkan daya serap karbon, tapi juga untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan mendukung pariwisata yang berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menikmati Sisi Lain Jogja dari Ketinggian HeHa Sky View



Yogyakarta

Libur long weekend Isra Miraj dan Imlek, traveler bisa menikmati sisi lain keindahan Jogja dari ketinggian di destinasi wisata HeHa Sky View. Simak ulasannya berikut ini:

HeHa Sky View adalah tempat wisata yang tidak boleh kamu lewatkan jika liburan di Jogja. Destinasi ini hanya berjarak 40 menit dari pusat kota Yogyakarta, dan 30 menit dari gerbang tol Prambanan.

Dari atas ketinggian bukit, traveler bisa menikmati keindahan Jogja yang tidak ada di tempat lainnya. Bagi pecinta sunset, kamu bisa datang ke tempat ini pada sore hari. Kamu akan disuguhkan pemandangan langit kuning keemasan disertai landskap Gunung Merapi yang mempesona.


Selain itu, kamu juga bisa menikmati citylight Kota Yogya yang menawan pada malam hari. Kamu bisa menikmati citylight sambil merebahkan diri di bean bag dan menyeruput segelas minuman hangat rasanya asyik juga.

Traveler juga bisa foto-foto di beberapa spot kece seperti Sky Glass, Sky Balloon, Sky Swing, HeHa Aeroplane, dan Macrame. Di setiap spot foto sudah ada fotografer yang menawarkan jasa dengan tarif Rp 5.000. Kamu bisa langsung minta file copy foto yang diambil fotografer.

Lokasi dan Rute Menuju HeHa Sky View

HeHa Sky View berlokasi di Jalan Dlingo-Patuk Nomor 2, Bukit Patuk, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari Tugu Yogya, kamu hanya perlu berkendara ke arah timur (arah Solo). Sesampainya pada lampu merah kedua (perempatan Gramedia), belok kiri, lalu berjalan lurus sampai ke Bundaran UGM.

Dari Bundaran UGM, kamu bisa belok kanan (menuju arah timur), lalu berjalan lurus sampai ujung jalan dan menemukan pertigaan lampu merah. Dari situ, kamu bisa berbelok ke kanan sampai lampu merah berikutnya. Setelah itu, belok kiri dengan menyusuri jalan Solo ke arah timur.

Harga Tiket & Jam Buka HeHa Sky View

Di akun Instagram HeHa Sky View, tercantum harga tiket terbaru yang berlaku mulai 2 Januari 2025. Setiap pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 25.000 per orang.

Untuk jam operasionalnya, HeHa Sky View buka mulai pukul 10.00 sampai 21.00 WIB untuk weekdays. Sedangkan untuk weekend Sabtu-Minggu, jam bukanya mulai 08.00 hingga 21.00 WIB.

Aneka Acara Seru di HeHa Sky View

Untuk merayakan kemeriahan Imlek, acara bertajuk Bertabur Cahaya di Atas Awan #TamanLangitnyaJogja akan digelar di HeHa Sky View pada 26 dan 29 Januari 2025.

Libur panjang akhir pekan traveler akan dimeriahkan dengan pertunjukan atraktif mulai dari musik perkusi, tari kreasi, fire dance, dan barongsai.

Wisatawan menikmati pemandangan alam yang disajikan di tempat wisata Heha Sky View, Dlingo, Gunung Kidul, Yogyakarta, Sabtu (18/9/2021). Geliat tempat wisata mulai terlihat setelah penurunan level PPKM.Wisatawan menikmati pemandangan alam yang disajikan di tempat wisata Heha Sky View, Dlingo, Gunung Kidul Foto: PIUS ERLANGGA

Setelah perayaan Imlek usai, kemeriahan di HeHa Sky View akan berlanjut dengan acara Pasar Raya Durian Gunungkidul di bulan Februari 2025 dan Kampung Ramadan, festival kuliner seru selama bulan suci di bulan Maret 2025.

Di bulan April, ada acara HeHa Run, fun run dengan track perbukitan Patuk di Gunungkidul yang punya pemandangan memukau. Berlanjut di bulan Mei 2025, ada acara Festival Bintang, sebuah konser musik di ketinggian dengan view hamparan bintang di langit.

Memeriahkan bulan Juni 2025, akan digelar Festival Sate, sebuah acara pasar kuliner aneka sate yang dimeriahkan juga dengan lomba masak. Sedangkan di bulan Juli ada Nikah Massal 24 Jam, acara ini merupakan wujud wedding tourism, yaitu pagelaran nikah bareng secara nasional dengan peserta dari berbagai daerah.

Di bulan Agustus, HeHa akan menggelar Paws Wonder Sky The Ultimate Pet Show, sebuah pameran hewan peliharaan terlengkap untuk para komunitas pecinta anjing dan kucing di Yogyakarta dan sekitarnya.

Memeriahkan bulan September, ada acara melukis di Taman Langit, lomba lukis dan berbagai lomba untuk anak-anak dalam bulan ulang tahun HeHa Sky View. Sedangkan di bulan Oktober ada HeHaunted, petualangan horor seru ala Halloween di wahana Gua Hantu HeHa Sky View.

Bulan Desember akan ditutup dengan HeHa Hore, event tahunan spektakuler berupa pertunjukan kembang api dengan rangkaian acara seru untuk menyambut malam tahun baru. Traveler bisa juga mengikuti Instagram @hehaskyview untuk mendapat informasi terbaru dari destinasi ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ngabuburit di Pasar Sore Ramadhan Kauman Jogja, Ada Apa Aja?


Jakarta

Pasar Sore Ramadhan Kauman Jogja merupakan salah satu tempat asyik buat ngabuburit. Bukan hanya berburu aneka takjil untuk berbuka puasa, tetapi juga bisa melakukan aktivitas menarik lainnya.

Yuk ketahui lebih jauh tentang Pasar Sore Ramadhan Kauman dalam artikel ini, lengkap dengan aktivitas menarik, hingga cara menuju ke sana.

Mengenal Pasar Sore Ramadhan Tertua di Jogja

Dikutip dari situs Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ada banyak pasar kaget atau pasar tiban di bulan Ramadhan. Namun Pasar Sore Ramadhan Kauman adalah yang tertua di Jogja.


Pasar ini sudah ada sejak tahun 1990-an. Awalnya, pasar sore ini berdiri atas inisiatif warga Kauman yang antusias menyambut bulan puasa dengan kegembiraan.

Berawal sedikit pedagang dengan tempat seadanya, kini jumlah penjualnya semakin banyak dan diatur oleh warga setempat. Berdasarkan catatan detikTravel, ada lebih dari 50 pedagang yang berjualan.

Yang unik, lokasi pasar ini berada di gang kampung yang sempit. Jalannya hanya selebar tiga meter. Tentunya tempat itu akan sangat padat, tapi justru itulah yang membuatnya berbeda.

Dilihat dalam akun Instagram @pasarsore_kauman, pasar ini sempat ditiadakan pada 2019 hingga 2022, kemudian kembali diadakan pada 2023. Pasar mulai buka pukul 14.00 WIB hingga magrib.

Ada Apa Saja di Pasar Sore Ramadhan Kauman?

Bukan hanya berburu takjil, ada hal menarik yang bisa sekaligus dilakukan jika traveler ingin ke sana. Apa saja?

1. Berburu Kicak

Tujuan utama datang ke Pasar Sore Ramadhan Kauman Jogja ini tentunya untuk berburu takjil. Namun kurang lengkap rasanya jika traveler tidak membeli kicak.

Dikutip dari detikJogja, kicak adalah makanan yang terbuat dari ketan yang dihaluskan dari jadah, kelapa muda, nangka, dan gula. Kicak mungkin akan sulit ditemukan di luar bulan puasa, jadi kalian harus beli ini.

Selain kicak, ada makanan lain yang juga banyak dicari, seperti carang gesing, gorengan, bothok, jenang saren, sampai nasi kebuli.

2. Wisata Perkampungan Jogja

Pasar sore ini berada di Kampung Kauman di kawasan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Di sana, detikers bisa menemukan rumah-rumah Jawa yang masih tradisional. Kalian bisa sambil berfoto-foto di kampung tersebut.

Kampung Kauman juga dikenal sebagai kampung religi. Nama Kauman juga banyak dipakai di berbagai daerah sebagai kampung yang Islami. Nah, kalian bisa berwisata religi di sini, sambil mampir ke tempat bersejarah.

Dilansir dari Portal Informasi Indonesia, nama kauman berarti tempatnya para kaum. Ada pula yang menyebut dari istilah qo’um muddin yang berarti pemuka agama Islam.

Dari sini jugalah KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dilahirkan. Tak heran jika traveler akan melihat simbol matahari terbit yang juga merupakan simbol organisasi tersebut.

3. Ibadah di Masjid Gede Yogyakarta

Setelah berburu takjil, traveler bisa melanjutkan perjalanan ke Masjid Gede Yogyakarta yang tak jauh dari pasar sore. Kamu bisa bersantai sejenak sambil menunggu azan magrib.

Di masjid ini biasanya juga disediakan makanan berbuka puasa gratis. Jika belum pernah ke sini, sebaiknya traveler menyempatkan mampir ke sini. Setelah berbuka, kalian bisa sekalian sholat magrib dan isya, atau sekalian sholat tarawih di sini.

Lokasi Pasar Sore Ramadhan Kauman

Pasar Sore Ramadhan Kauman dapat ditemukan dengan mudah. Lokasinya berada di Gang Pasar Ramadhan, Jalan Ahmad Dahlan, Kauman, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta,

Jika detikers menuju ke Jogja naik kereta api, maka turunlah di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kalian bisa berjalan kaki sekitar 30 menit melewati Jalan Malioboro sambil menikmati suasana Jogja.

Di ujung Jalan Malioboro, setelah tiba di Titik Nol Yogyakarta, beloklah ke kanan (barat) menuju Jalan Ahmad Dahlan. Lurus saja sampai melewati RS PKU Muhammadiyah dan Kantor Pengurus Pusat Aisyiyah. Gangnya ada di kiri jalan.

Pasar Sore Ramadhan Kauman Jogja merupakan pasar tiban Ramadhan tertua di Jogja. Pasar tiban merujuk pada pusat jual beli yang hanya hadir di waktu tertentu. Detikers bisa datang lebih awal jika tak ingin berdesak-desakan di sana.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Cagar Budaya di Bantul Kondisinya Memprihatinkan, Terancam Proyek Jalan Tol



Bantul

Kondisi bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu yang berstatus cagar budaya sangat memprihatinkan. Bangunan itu tampak tak terurus dan terkesan angker.

Dari pantauan di lokasi, nampak bangunan dengan atap limasan di pinggir jalur kereta api, Gubug, Argosari, Sedayu, Bantul itu dindingnya penuh dengan coretan dan tampak sangat tidak terurus.

Bahkan, bangunan tersebut tertutup tingginya tumbuhan dan semak belukar. Oleh sebab itu, bangunan dengan arsitektur Eropa ini malah terkesan angker dan sangat sepi.


Pecinta Cagar Budaya Jogja, Hanif Kurniawan, mengatakan bahwa kondisi bangunan yang dulunya Rumah Dinas Stasiun Sedayu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 2018. Namun, saat ini kondisinya memang memprihatinkan dan terkesan tidak terawat.

“Dan anehnya lagi di sekitar situ sudah ada patok-patok tol. Nah, itu mau dikemanakan, apakah kemudian perhatian dari pemerintah setempat hanya menetapkan tanpa ada tindak lanjut apa mau dirawat,” katanya di Bantul, Senin (12/5).

Pecinta Cagar Budaya Jogja pun khawatir bangunan itu akan terdampak proyek jalan tol Jogja-Solo.

‘Nah, khawatirnya kita lagi, ketika terjadi pematokan tol, ini besok jadi tumbal. Karena secara riil cagar budaya juga bisa jadi tumbal, nah kalau semuanya diam terus gimana, apakah kita akan kehilangan sejarah kita yang dihilangkan menjadi sejarah tol,” lanjut Hanif.

Selain itu, Hanif menyebut jika tidak ada pelang penanda bahwa bangunan tersebut merupakan cagar budaya. Padahal, seharusnya setelah penetapan harus ada plang di bangunan cagar budaya.

“Jadi plang di bangunan cagar budaya itu seharusnya setelah ditetapkan ada. Minimal, selemah-lemahnya iman ada plang cagar budaya dan tulisan tidak boleh dilakukan perusakan dan sebagainya,” ujarnya.

Dinas Kebudayaan Bantul Buka Suara

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan Bantul, Elfi Wachid Nur Rachman menjelaskan, bahwa bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu memang berstatus cagar budaya. Semua itu mengacu keputusan Bupati Bantul nomor 601 tahun 2018 tentang rumah dinas stasiun Sedayu sebagai bangunan cagar budaya.

“Jadi Rumah Dinas Stasiun Sedayu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Bupati Bantul sejak tanggal 31 Desember 2018,” ucapnya.

Bangunan Rumah Dinas Stasiun Sedayu menghadap ke arah barat dan atap menggunakan model limasan. Rumah dinas memiliki dua bangunan yang terpisah dan dihubungkan dengan doorloop di sisi timur.

Suasana bangunan rumah dinas stasiun Sedayu yang merupakan cagar budaya di Gubug, Argosari, Sedayu, Bantul, Senin (12/5/2025).Suasana bangunan rumah dinas stasiun Sedayu yang memprihatinkan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Bangunan bagian utara menghadap ke arah barat, arsitektur bergaya Indis. Ciri khas dapat dilihat pada atap bangunan, dinding bangunan dilapisi batu kerikil tempel dan doorloop.

Denah berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 10,1 m x 13,8 m. Denah bangunan doorloop berbentuk persegi panjang dengan ukuran 13,1 m x 2,3 m dan atap bangunan doorloop model kampung.

Sedangkan terkait bangunan tersebut apakah terdampak pembangunan tol Solo-Jogja, Elfi menyatakan tidak. Pasalnya, bangunan tersebut berada di daerah penyangga.

“Posisi aman tidak kena tol karena berada di zona penyangga,” katanya.

Semak belukar dan rumput yang tinggi menutupi bangunan rumah dinas stasiun Sedayu.Semak belukar dan rumput yang tinggi menutupi bangunan rumah dinas stasiun Sedayu. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Menyoal belum ada pelang penanda bangunan tersebut merupakan cagar budaya, Elfi mengaku karena pihaknya memprioritaskan pemasangan plang di bangunan cagar budaya yang rentan untuk diubah.

“Belum semuanya kami kasih plang, karena pengajuan anggaran untuk papanisasi disetujuinya juga terbatas. Sementara kami prioritaskan papanisasi di cagar budaya milik pribadi yang sangat rentan untuk dirubah,” ujarnya.

“Dari 213 cagar budaya yang telah ditetapkan, baru sekitar 40 objek yang telah dipasang papanisasi,” lanjut Elfi.

Sedangkan Panewu (Camat) Sedayu, Anton Yulianto, menjelaskan bahwa ada dua Kalurahan yang terdampak pembangunan tol Solo-Jogja. Adapun kedua Kalurahan itu adalah Argomulyo dan Argosari.

“Di Argomulyo itu yang terkena pembangunan tol Pedukuhan Samben, Srontakan dan Panggang. Kalau di Argosari di Pedukuhan Gubug dan Jurug, tapi dari semua itu tidak ada bangunan cagar budaya yang terkena pembangunan tol,” ucapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com