Tag Archives: gadis kretek

Stasiun Gadis Kretek di Dunia Nyata, Ternyata Ada di Semarang



Jakarta

Serial Gadis Kretek menyita perhatian publik. Salah satu latar dalam adegan yang terkenal adalah stasiun kereta api. Ternyata, stasiun itu eksis di dunia nyata.

“Temui saya di stasiun minggu depan, saya akan pulang.”

Itulah potongan dialog yang diucapkan Mas Raja kepada Jeng Yah saat mereka bertemu di stasiun kereta api. Stasiun kereta api ini bukan sengaja dibangun demi kepentingan syuting melainkan menggunakan bangunan yang memang sudah ada sejak zaman Belanda.


Mengutip postingan PT Kereta Api Indonesia di X, stasiun yang menjadi latar Gadis Kretek itu adalah Stasiun Tuntang yang terletak di Semarang, Jawa Tengah.

Stasiun ini adalah stasiun kereta api kelas III dengan gaya arsitektur “Chalet NIS”. Gaya ini banyak digunakan di stasiun-stasiun awal abad ke-20.

Stasiun Tuntang dibangun pada 1871 dan mulai beroperasi pada 21 Mei 1873. Namun, bangunan yang sekarang eksis itu sudah direnovasi dan merupakan generasi kedua yang berasal dari tahun 1905.

Meskipun stasiun kecil, Stasiun Tuntang punya peran penting dalam mengangkut hasil perkebunan. Pengiriman karet, gula, kopi, dan coklat dari Ambarawa pasti melewati Stasiun Tuntang.

Selain itu, Stasiun Tuntang tempo dulu juga menjadi tempat transit dari layanan bus milik NIS yang memiliki trayek Stasiun Tuntang – Kota Salatiga. Pada 1921, layanan bus tersebut kemudian diakuisisi oleh perusahaan otobus swasta, Eerste Salatigasche Transport Onderneming (ESTO).

Pada 1 Juni 1970, Stasiun Tuntang sempat non aktif. Alasannya, stasiun ini kalah saing dengan moda transportasi lain dan kendaraan pribadi. Stasiun lantas beralih fungsi sebagai museum.

Sampai pada 2002, ketika jalur Ambarawa – Tuntang kembali dibuka, Stasiun Tuntang dilewati kereta uap wisata atau kereta diesel vintege. Dengan kata lain, saat ini Stasiun Tuntang aktif menerima kereta wisata.

Tak hanya itu, stasiun ini juga menjadi tempat penyimpanan sebagian lokomotif diesel. Rencananya, Stasiun Tuntang akan menjadi museum lokomotif diesel.

(pin/fem)





Sumber : travel.detik.com

Dian Sastro Effect, Ini 10 Tempat Populer dari Tayangan yang Dibintanginya


Jakarta

Aktris Dian Sastrowardoyo tercatat membintangi sejumlah tayangan yang mampu menyedot perhatian publik. Sejumlah latar dalam film dan series pun menjadi populer setelahnya.

Kepiawaian aktris yang akrab disapa Dian Sastro atau Disas itu memang tak diragukan. Sejumlah film seperti Ada Apa Dengan Cinta hingga yang terkini series Gadis Kretek, banyak dipuji karena memberikan kesan tersendiri bagi penonton.

Kesuksesan tayangan yang dibintanginya, mendorong penonton untuk mengunjungi lokasi yang menjadi latar dalam film dan series tersebut. Pada akhirnya, destinasi-destinasi tersebut juga mendorong pergerakan wisata domestik.


10 destinasi yang makin populer berkat Dian Sastro:

1. Pasir Berbisik Gunung Bromo

Di awal karirnya sebagai aktris, Dian Sastro membintangi film Pasir Berbisik yang dirilis pada 2001. Selain Dian Sastro, artis senior Christine Hakim juga ambil peran dalam film tersebut.

Seperti judulnya, film ini mengambil latar di Pasir Berbisik Gunung Bromo. Pasir berbisik merupakan hamparan pasir yang sangat luas yang membentang di area Bromo.

Pasir Berbisik ini berada di sebelah timur kawah Bromo yakni di ketinggian 2000 m dari permukaan laut. Pasir berbisik juga sering kali dijadikan bagian dari paket wisata Bromo.

2. Pasar Buku Kwitang

Di tengah serbuan pasar online, para penjual buku di Kwitang, Jakarta, masih tetap eksis. Biasanya mereka menjual buku-buku yang langka.Pasar Buku Kwitang. (Foto: Wisnu Heru Luhur)

Traveler penggemar Ada Apa dengan Cinta pasti tak asing dengan Pasar Buku Kwitang. Lokasi ini menjadi tempat Cinta (Dian Sastro) dan Rangga (Nicholas Saputra) melakukan kencan pertama.

Di Pasar Buku Kwitang ini, Rangga punya toko langganan yang dimiliki Gito Rolies. Saat kencan itu, Rangga mengajak Cinta ke toko tersebut di mana ia membeli buku lama.

Saat ini, Pasar Buku Kwitang menjadi lokasi favorit thrifting buku bagi anak muda. Traveler dapat menemukan buku-buku lama dan langka mulai harga Rp 10 ribu – Rp 500 ribu.

3. Gereja Ayam

Gereja AyamGereja Ayam. (Foto: Dwi Ari Setyadi for detikcom)

Gereja Ayam atau Rumah Doa Bukit Rhema merupakan destinasi yang populer setelah muncul dalam film Ada Apa dengan Cinta 2. Dalam film tersebut, Cinta dan Rangga mengunjungi bangunan unik yang terletak di kawasan Borobudur, Magelang itu.

Meskipun disebut Gereja Ayam, sebenarnya arsitektur bangunan itu menyerupai kepala merpati yang memiliki mahkota. Bangunan itu sudah eksis sejak 1992 dan didirikan sebagai lambang perdamaian dan pemersatu bangsa kala itu.

4. Punthuk Setumbu

Punthuk SetumbuPunthuk Setumbu. (Foto: Raina Widita Swasti)

Selain Gereja Ayam, Cinta dan Rangga di AADC 2 juga kencan ke Punthuk Setumbu. Tempat ini merupakan bukit yang pas dikunjungi untuk melihat matahari terbit.

Dari puncaknya, traveler dapat melihat Gunung Merapi dan Merbabu. Selain itu, pemandangan megahnya Candi Borobudur juga tampak di sana.

5. Istana Ratu Boko

Ratu BokoRatu Boko. (Foto: Putu Intan/detikcom)

Masih dari AADC 2, destinasi populer lainnya adalah Istana Ratu Boko. Di tempat ini, Rangga dan Cinta bernostalgia mengenang ayah Rangga sekaligus mengungkap kisah mengenai ibu Rangga.

Di sini, dialog antara Cinta dan Rangga terasa dalam karena terungkap kehidupan Rangga di New York setelah meninggalkan Cinta.

Istana Ratu Boko merupakan kompleks bekas istana yang kini hanya tersisa beberapa bangunan. Bangunan ini diperkirakan sudah ada sejak abad kedelapan. Selain itu, Ratu Boko juga merupakan salah satu tempat terbaik untuk menikmati matahari terbenam di Yogyakarta.

6. Rumah Sejarah Marga Thjia

Dian Sastro juga pernah membintangi film Aruna & Lidahnya. Film ini mengajak traveler untuk berkeliling Indonesia dan melihat kuliner-kuliner tradisional.

Salah satu lokasi populer dari film tersebut adalah Rumah Marga Tjhia di Singkawang, Kalimantan Barat. Rumah bergaya China itu menjadi lokasi Aruna (Dian Sastro) dan Farish (Oka Antara) makan choi pan.

Traveler juga dapat berkunjung ke sana. Bangunan itu sudah berdiri sejak 1902 dan cocok menjadi destinasi wisata nostalgia.

7. Jalan Sejahtera

Vihara Tri Dharma Bumi RayaVihara Tri Dharma Bumi Raya. (Foto: Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kalbar)

Masih di Singkawang, destinasi lain yang populer dari film Aruna & Lidahnya adalah Jalan Sejahtera. Jalan ini merupakan pusat keramaian dari kota yang dihuni keturunan etnis Tionghoa itu.

Traveler dapat menemukan Vihara Tri Dharma Bumi Raya di Jalan Sejahtera. Ini merupakan vihara tertua di Singkawang yang telah ada sejak 1878. J

elang Hari Raya Imlek dan Cap Gomeh, akan ada banyak perayaan dan ritual keagamaan di kawasan tersebut yang kerap menarik perhatian turis mancanegara.

8. Museum Kretek

Pengunjung mengabadikan diorama pembuatan rokok kretek. Museum ini menyimpan lebih dari 1.195 koleksi, seperti peralatan tradisional dan benda-benda promosi rokok di masa lalu serta diorama proses pembuatan rokok hingga foto-foto para pendiri pabrik kretek dan hasil produksinya.Museum Kretek. (Foto: ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO)

Terbaru, nama Dian Sastro melejit karena memerankan Dasiyah atau Jeng Yah dalam series Gadis Kretek yang tayang di Netflix. Salah satu destinasi populernya adalah Museum Kretek yang terletak di Getas Pejaten, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Di sana, traveler dapat melihat koleksi rokok kretek dari masa ke masa. Traveler juga dapat menggali pengetahuan mengenai asal-usul industri kretek di Indonesia.

9. Stasiun Tuntang

Stasiun Tuntang menjadi salah satu spot syuting Gadis KretekStasiun Tuntang menjadi salah satu spot syuting Gadis Kretek. (Foto: Wikimedia Commons/Alqhaderi Aliffianiko)

Masih dari series Gadis Kretek, Stasiun Tuntang juga banyak membuat traveler penasaran. Stasiun Tuntang terletak di perbatasan Semarang dan Salatiga.

Stasiun yang kini dilewati kereta wisata itu, pada zaman Belanda melayani pengiriman hasil perkebunan dari Ambarawa. Desain arsitektur Belanda yang khas membuat Stasiun Tuntang menarik perhatian penonton.

10. Candi Abang

Candi Abang di SlemanCandi Abang di Sleman. Foto: (rina_triha/d’Traveler)

Candi Abang dikisahkan sebagai lokasi makam Jeng Yah. Candi Abang muncul dalam episode terakhir Gadis Kretek.

Banyak yang belum tahu, Candi Abang terletak di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-9 atau ke-10.

Candi tersebut terletak di puncak bukit dan bangunannya terbuat dari bata merah. Itulah sebabnya, candi ini disebut Candi Abang karena dalam bahasa Jawa abang artinya merah.

Sayangnya, saat ini Candi Abang menyisakan puing-puing. Sementara bangunan utamanya sudah runtuh.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

Legendaris! Toko Nyonya Pang Muntilan, Surga Jajanan Tradisional dan Oleh-oleh



Muntilan

Di Muntilan ada satu toko oleh-oleh legendaris yang sudah ada sejak 1912. Toko ini semakin ramai setelah serial Gadis Kretek tayang di Netflix.

Ya, toko Nyonya Pang selalu ramai dikunjungi orang-orang yang berkunjung ke kawasan Magelang dan Yogyakarta. Toko ini menjadi jujugan wisatawan yang berlibur ke sana.

Toko ini semakin ramai karena disebut sebagai salah satu kunci lokasi kota M dalam serial Gadis Kretek yang dibintangi Dian Sastro Wardoyo, Ario Bayu, Putri Marino, dan Arya Saloka. nama toko ini muncul dalam novel Gadis Kretek.


Faktanya, toko itu benar-benar ada. Toko itu benar-benar bernama Toko Nyonya Pang.

Awalnya, pada 1912, Nyonya Pang hanya berjualan jenang dodol. Karena banyak digemari, akhirnya Nyonya Pang resmi membuka toko pada tahun 1950. Toko ini kini telah dijalankan oleh generasi ke enam.

Toko Nyonya Pang ini sangat mudah ditemui di Muntilan karena lokasinya yang strategis dekat dengan jalan raya. Tepatnya berlokasi di Jalan Pemuda No.71, Growong, Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun sebaiknya pengunjung datang menggunakan motor atau kendaraan umum saja karena tokonya berada di deretan pertokoan lain yang menjadikan area parkirnya terbatas.

Saat memasuki toko ini pengunjung akan dibuat bingung karena banyak sekali pilihan oleh-oleh yang tersedia di sini. Ada wajik, pie susu, dodol, bakpia, krasikan, miku, moho, aneka keripik, dan masih banyak lagi. Namun tenang saja, karena staf-staf toko di sini akan membantu menemukan jajanan yang dicari.

“Yang paling sering dicari di sini sih biasanya miku, dodol, atau gak wajik, itu best seller banget karena emang udah lama ada di sini,” kata salah satu staf Toko Nyonya Pang.

Ada satu yang unik di sini adalah jajanan pasarnya yang ada di dekat meja kasir, di sini pembeli bisa membeli beragam jajanan dengan harga mulai dari Rp 2.500. Jajanan yang dihadirkan pun unik-unik, ada putri mandi, moho, piyangko, rondo kemul, sengkolon, dan gorengan-gorengan.

Beberapa orang mungkin merasa asing dengan nama jajanan ini, namun visual dari jajanan ini sangat menggugah selera dengan warna-warni yang menawan. Pembeli juga bisa mencoba beberapa tester yang tersedia di toko ini, jadi kamu bisa merasakannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli yang mana.

Makanan-makanan ini sebagian besar merupakan makanan yang diproduksi sendiri oleh pemilik, namun tidak sedikit pula yang berasal dari produksi UMKM lokal. Itu dilakukan agar Toko Nyonya Pang bisa turut membantu UMKM-UMKM lain di sekitarnya.

Toko Nyonya Pang melayani pemesanan online melalui Whatsapp dan online marketplace. Info lengkapnya bisa dilihat di akun Instagram @nypang71. Di sini juga kamu bisa memesan tampah jajanan tradisional dengan jajanan dan ukuran sesuai selera, tampah ini merupakan tumpukan jajanan tradisional yang ditumpuk menyerupai tumpeng.

Toko Nyonya Pang telah menjadi salah satu ikon Muntilan yang melestarikan jajanan tradisional, tidak heran banyak wisatawan luar daerah yang singgah ke sini untuk mencoba jajanan unik yang jarang dijual di tempat lain ini.

“Udah beberapa kali ke sini gak pernah bosan soalnya suka sama jajanan pasarnya, jarang nemu di tempat lain, sebelum ini aja saya gak tau ada jajanan kayak gini,” kata Ainun, salah satu pembeli Toko Nyonya Pang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

10 Destinasi Wisata Gadis Kretek


Jakarta

Kepopuleran serial Netflix Gadis Kretek menjadi daya tarik dan potensi ekonomi yang bisa membangkitkan sektor pariwisata di daerah. Setidaknya, ada sepuluh objek wisata dari serial itu.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno, bahkan sampai berencana membuat paket wisata yang diadaptasi dari serial yang dibintangi Dian Sastro tersebut. Sandi mengatakan Kemenparekraf akan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata (Dinkes) Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk menyusun paket wisata yang bisa dikunjungi para wisatawan.

“Kota M, tempatnya ini sudah banyak perdebatan apakah Muntilan atau Magelang. Ini sama-sama di wilayah Kabupaten dan Kota Magelang, tapi juga ada daya tarik wisata, seperti Borobudur, Kudus, dan daya tarik wisata lainnya,” ujar Sandi dalam temu media di Kantor Kemenparekraf, Senin (20/11/2023).


“Museum Kretek dan Museum Perang Diponegoro, juga Candi Abang di Sleman ini yang terbengkalai bisa kita arahkan paket-paket wisata untuk bisa dikunjungi,” Sandi menambahkan.

Merujuk Instagram Pesona Indonesia, yang merupakan salah satu media sosial promosi wisata Kemenparekraf, menyebut ada enam destinasi wisata dari serial Gadis Kretek itu. Selain itu, berdasarkan riket dan wawancara dengan narasumber, diketahui ada destinasi wisata lain dari tempat syuting Gadis Kretek atau pun berdasarkan novel dengan judul serupa.

Berikut 6 destinasi wisata Gadis Kretek:

1. Museum Kretek

Dikutip dari visitjawatengah, Museum Kretek didirikan di atas lahan seluas 2,5 ha pada tahun 1986 atas prakarsa Soepardjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah, ketika berkunjung ke Kudus. Dia melihat potensi besar perusahaan kretek yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat di kota tersebut.

Museum ini menyimpan 1.195 koleksi tentang sejarah kretek, misalnya kiprah Nitisemito yang mendirikan Pabrik Rokok Bal Tiga, dokumen-dokumen perusahaan pada waktu itu, alat-alat tradisional pembuatan rokok hingga yang menggunakan teknologi modern, diorama jenis-jenis tembakau cengkeh, diorama pembuatan rokok di pabrik, dan lain sebagainya.

Di sekitar kompleks museum juga terdapat beberapa miniatur bangunan cagar budaya, seperti Oemah Kembar Nitisemito yang banyak dianggap menjadi saksi bisu kejayaan Sang Raja Kretek Nitisemito, Masjid Wali loram Kulon dengan gapura padureksan yang sungguh ikonik, serta Rumah Adat Kudus “Joglo Pencu” dengan arsitektur perpaduan budaya Jawa (Hindu), Persia (Islam), Cina (Tionghoa) dan Eropa (Belanda).

Lokasi Museum Kudus: Jalan Getas Pejaten No 155, Kecamatan Jati – Kudus, Jawa Tengah

Jam operasional: Senin sampai Minggu pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.

Harga tiket: Rp 4.000 (Senin-Sabtu) Rp 5.000 (Minggu dan tanggal merah)

2. Stasiun Tuntang

Dikutip dari situs KAI, Stasiun Tuntang merupakan stasiun kereta api yang terletak di kecamatan Tuntang dan berada di daerah perbatasan antara Salatiga dan kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Stasiun itu terletak pada ketinggian ±464 m ini terletak di Daerah Operasi IV Semarang. Kini, stasiun tuntang berada dalam kawasan Museum Ambarawa.

Stasiun Tuntang dibangun pada 1871 dan pada 21 Mei 1873 dioperasikan. Stasiun Tuntang merupakan stasiun kelas III di jalur ini. Namun sejak jalur yang menghubungkan Yogyakararta dan Kedungjati pada tanggal 1 Juni 1970 ditutup, stasiun itu dijadikan museum.

Stasiun itu sempat melayani kereta wisata Ambarawa-Tuntang, namun itu tak berlangsung lama karena faktor rel yang rusak. Sebelumnya jalur sempat mangkrak ketika layanan kereta wisata ke Tuntang dihentikan, tapi jalur kembali dibuka 2002 setelah direnovasi.

Mulanya, stasiun ini hanya dapat melayani lori Ambarawa-Tuntang. Namun mulai 2009 dilakukan renovasi dan stasiun ini melayani kereta uap wisata lagi.

3. Rumah Residen Kedu

Dikutip dari kemdikbud, Rumah Residen Kedu, di Jalan Diponegoro No. 1 saat ini digunakan sebagai Museum Perang Diponegoro. Dulu, itu merupakan rumah dinas Residen Kedu dan dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda. Perancangnya J.C. Schule sedangkan pembangunannya dikerjakan oleh penduduk pribumi di Magelang.

Seperti halnya bangunan-bangunan Kolonial lain di Hindia-Belanda, arsitektur bangunannya menggunakan arsitektur indische yaitu perpaduan gaya bangunan Eropa disesuaikan dengan lingkungan di Hindia-Belanda.

Bangunan rumah Residen Kedu, bergaya Indische Empire Style. Rumah itu berbentuk limas dengan ventilasi yang besar sesuai dengan iklim tropis. Terdapat beranda d ibagian rumah depan dan belakang, pintu rumah memiliki dua rangkap (pintu jalusi dan pintu yang menggantung dan dapat diayun berbentuk lebar dan tinggi).

Bangunan itu memiliki halaman depan dan belakang yang sangat luas, disertai dengan pohon-pohon tropis. Pembuatan jendela yang besar sebagai ventilasi, dilengkapi dengan penggunaan kanopi untuk menahan percikan hujan. Rumah dinas tersebut menghadap ke barat disebabkan oleh kegemaran orang Belanda melihat pemadangan Gunung Sumbing, Perbukitan Giyanti, dan Sungai Progo, serta persawahan.

4. Los Mbako Menden

Los Mbako Meden merupakan bangunan yang digunakan oleh para petani untuk mengeringkan daun tembakau setelah dipetik dan sebelum dicacah untuk menjadi bahan baku cerutu dan rokok. Di Klaten, ada ratusan Los Mbako di areal persawahan.

Bangunannya tinggi dengan ukuran besar, memanjang dan lantai dasarnya model panggung. Hampir seluruh bangunan terbuat dari bambu, kecuali atap yang biasanya berupa daun alang-alang atau daun tebu kering.

Los Mbako tersebar di banyak kawasan pedesaan atau areal persawahan. Misalnya, di Kecamatan Kebonarum, Polanharjo, Jatinom, Ngawen, atau bahkan di kawasan pinggiran kawasan Kota Klaten.

5. Pabrik Gula Tasikmadu

Dikutip dari kemendikbud, Pabrik Gula (PG) Tasikmadu merupakan satu dari sejumlah pabrik gula yang didirikan pada masa kolonial Hindia Belanda dan masih bertahan sampai saat ini. Sekarang, PG Tasikmadu berada dalam pengelolaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX.

PG Tasikmadu dibangun pada 1871 oleh junjungan Praja Mangkunegaran saat itu yakni K.G.P.A.A. Mangkunegara IV (1811­-1881). Ini merupakan pabrik gula kedua di wilayah kekuasaan Praja Mangkunegaran, setelah PG Colomadu pada 1861. Seperti halnya Tasik­madu, PG Colomadu juga didirikan atas kehendak Mangkunegara IV.

Kini, Pabrik Gula Tasikmadu juga dikembangkan sebagai destinasi wisata dengan taman bermain keluarga. Selain itu ada restoran di area tersebut.

6. Candi Abang Sleman

Dikutip dari situs kemendikbud, Candi Abang Sleman berada di Padukuhan Blambangan, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Situs Candi Abang merupakan Bangunan Cagar Budaya yang telah di tetapkan oleh Bupati Kabupaten Sleman dengan nomor: 14.7/Kep.KDH/A/2017 pada tanggal 6 Februari 2017.

Berdasarkan Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1915 disebutkan bahwa di Candi Abang pernah ditemukan sebuah lingga dan arca Buddha. Di Candi Abang pernah ditemukan prasasti pendek pada 1932. Prasasti tersebut memuat pertanggalan dengan angka tahun 794 S atau 872 M. Candi Abang telah masuk dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Dients in Nederlandsch-Indie tahun 1915, dengan nomor 1303. (Verbeek no. 330). Candi abang pertama kali ditulis oleh Brumund dalam Indiana II tahun 1854.

Berdasarkan tespit diketahui di dalamnya terdapat sisa-sisa struktur bangunan candi yang dibuat dari bata merah. Terungkap juga Candi Abang terdiri dari satu bangunan dengan satu halaman, yaitu halaman pertama yang diperkirakan sebagai halaman utama mempunyai panjang 65 meter dan lebar 64 meter.

Kemudian, terdapat sisa-sisa struktur bangunan candi yang dibuat dari bata sehingga disebut Candi Abang.

Kata abang berarti merah, karena candi ini terbuat dari batu merah atau bata. Dari hasil testpit behasil diungkap bahwa Candi Abang terdiri dari satu bangunan. Belum banyak hal yang diketahui karena belum adanya penelitian yang seksama. Pada bagian tengah runtuhan candi sudah dilakukan penggalian namun tidak didapat data tentang hal ini.

7. Toko Nyonya Pang

Toko Nyonya Pang bukan tempat syuting Gadis Kretek. Namanya muncul dalam novel Gadis Kretek yang kemudian diadaptasi menjadi serial yang dibintangi Dian Sastro. Toko ini menjadi petunjuk bawah setting serial itu ada di Muntilan, Jawa Tengah.

Awalnya, pada 1912, Nyonya Pang hanya berjualan jenang dodol. Karena banyak digemari, akhirnya Nyonya Pang resmi membuka toko pada tahun 1950. Toko ini kini telah dijalankan oleh generasi ke enam.

Toko Nyonya Pang ini sangat mudah ditemui di Muntilan karena lokasinya yang strategis dekat dengan jalan raya. Tepatnya berlokasi di Jalan Pemuda No.71, Growong, Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Namun sebaiknya pengunjung datang menggunakan motor atau kendaraan umum saja karena tokonya berada di deretan pertokoan lain yang menjadikan area parkirnya terbatas.

Saat memasuki toko ini pengunjung akan dibuat bingung karena banyak sekali pilihan oleh-oleh yang tersedia di sini. Ada wajik, pie susu, dodol, bakpia, krasikan, miku, moho, aneka keripik, dan masih banyak lagi. Namun tenang saja, karena staf-staf toko di sini akan membantu menemukan jajanan yang dicari.

8. Pasar Kayu Muntilan

Pasar Kayu Muntilan bukanlah destinasi wisata, namun setelah penayangan Gadis Kretek pasar ini ramai dikunjungi wisatawan. Banyak yang penasaran dan ingin berfoto spot-spot syuting ini.

Saat syuting berlangsung Pasar Kayu ini dikosongkan, para penjual kayu pun tidak bisa berjualan seperti biasa, namun sebagai gantinya mereka diberikan kompensasi. Lapak-lapak penjual kayu ini disulap menjadi pasar zaman dulu, sesuai setting serial Gadis Kretek, tahun 1960-an.

Beberapa kios dijebol untuk diubah menjadi pasar sayur-sayur, kafe, percetakan, warung jadul, hingga gudang rokok kretek. Proses pengosongan berlangsung kurang lebih lima hari dan pengembaliannya juga sekitar lima hari, sementara itu proses syuting berlangsung selama 1 minggu.

9. Pabrik cerutu Taru Martani 1918

Pabrik ini berada di Baciro, Yogyakarta dan telah beroperasi sejak 1918. Pabrik ini disebut-sebut sebagai pabrik ceritu tertua di Asia Tenggara.

Pabrikceritu Taru Martani 1918 mulanya berada di JalanMagelang dan dimiliki oleh warga berkebangsaan Belanda. Dalam prosesnya, salah satunya karena peristiwa bom atom di Nagasaki dan Hiroshima pada 1945, pabrik itu diambil alih oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan diberi nama Taru Martani.

10. Muntilan

Dalam serial Gedis Kretek disebutkan Kota M. Yang oleh penulis novel kemudian diakui adalah Muntilan. Ternyata kota ini sudah menjadi kota favorit Belanda.

Muntilan dalam peta tahun 1922, diapit oleh empat deretan Pegunungan; di wilayah Utara Pegunungan Lemah, di Timur Gunung Merapi dan Pegunungan Merbabu, di Selatan Pegunungan Gendol dan pegunungan Ukir serta Pegunungan Sipodang di bagian Barat.

Dikelilingi oleh deretan pegunungan membuat Muntilan dikelilingi banyak sungai, antara lain; Sungai Blongkeng, Sungai Pabelan, Sungai Poetih dan juga Sungai Droedjo yang bermuara pada Sungai Progo. Dengan banyaknya jumlah sungai di Muntilan, menjadilan Muntilan sebagai kawasan pertanian dan perkebunan yang subur.

Muntilan masuk dalam wilayah gouvernement yang menjadi kawasan perkebunan tembakau serta pertanian padi yang subur. Kini, Muntilan masih memiliki pesawahan luas, juga menjadi salah satu jujugan wisata kuliner bagi traveler yang melancong ke Magelang atau Yogyakarta. Kawasan ini memiliki makanan khas tape ketan dan wajik Nyonya Pang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Destinasi Wisata di Muntilan, Salah Satunya Jadi Lokasi Syuting Gadis Kretek


Jakarta

Popularitas Muntilan terkerek setelah disebut-sebut sebagai Kota M dalam serial populer Netflix, Gadis Kretek. Ini deretan tempat wisata di Muntilan.

Kecamatan kecil yang berada di Magelang, Jawa Tengah itu dan terkenal dengan kuliner tape ketan ini ternyata memiliki beragam pilihan destinasi wisata yang bisa traveler kunjungi lho. Langsung aja cek daftarnya di sini!

1. Candi Ngawen

Makam tua di Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten, yang dipagari batu bekas struktur candi, Minggu (25/6/2023).Makam tua di Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten, yang dipagari batu bekas struktur candi, Minggu (25/6/2023). (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)

Candi Ngawen merupakan candi Buddha peninggalan Dinasti Syailendra yang terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Candi ini ditemukan pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1927.


Candi Ngawen terdiri dari lima candi yang berjejer sama rata dan menghadap arah timur, namun dari kelima candi tersebut hanya candi II yang masih berdiri utuh, empat lainnya hanya berupa sisa kaki-kaki candi.

Uniknya di Candi Ngawen ini terdapat empat patung singa yang terletak di sudut-sudut kaki candi.

Candi Ngawen bisa dikunjungi setiap hari jam 08.00 – 16.00 WIB dengan tiket masuk seharga Rp 3.000 saja.

2. Makam Gunungpring

Jika kamu menyukai wisata religi, maka tempat yang satu ini bisa kamu kunjungi saat di Muntilan. Namanya Makam Gunungpring, komplek pemakaman tokoh-tokoh ulama Jawa Tengah seperti Kyai Raden Santri, KH. Abdurrohman, KH. Dalhar, Kyai Krapyak Kamaludin, dan yang lainnya.

Komplek pemakaman ini terletak di atas bukit dengan ketinggian 400 mdpl, sehingga untuk mencapai makam, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga terlebih dahulu. Di sepanjang sisi tangga terdapat toko-toko yang menjual makanan, pernak-pernik, pakaian, dan oleh-oleh.

Komplek pemakaman ini juga sudah dilengkapi dengan fasilitas toilet, mushola, warung makan, dan tempat beristirahat. Makam Gunungpring ini bisa dikunjungi kapan saja tanpa dipungut biaya, letaknya di Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

3. Klenteng Hok An Kiong

Satu lagi wisata religi yang ada di Muntilan adalah Klenteng Hok An Kiong, klenteng ini merupakan klenteng tua yang sudah ada sejak tahun 1878. Lokasinya ada di pusat kota Muntilan, tepatnya di Jalan Pemuda No. 100, Balerejo, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.
Komplek klenteng ini memiliki bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat peribadatan yang terdiri dari dua ruang doa. Selain bangunan utama, di sini juga ada kantor dan ruang pertemuan.

Klenteng Hok An Kiong memiliki hio lo terbesar di Asia Tenggara yang dibuat pada tahun 2002. Hio lo ini terbuat dari perunggu dengan panjang 158 cm, diameter 188 cm, dan berat 3,8 ton.

4. Museum Misi Muntilan

Berbeda dari museum biasanya, Museum Misi Muntilan ini berdiri khusus di bawah kepemilikan Keuskupan Agung Semarang untuk menyimpan sejarah dan peninggalan penyebaran agama Katolik di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Museum ini berada dalam Komplek Misi Muntilan yang di dalamnya juga ada Gereja Santo Antonius dan Sekolah Pangudi Luhur Van Lith. Romo van Lith menjadi tokoh penting dari adanya komplek ini, sehingga patungnya dibangun di depan museum ini.

Museum Misi Muntilan berlokasi di Jalan Kartini No.3, Balemulyo, Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pengunjung bisa masuk secara gratis dan nantinya akan ditemani staf museum yang akan memberikan tur singkat.

5. Taman Bambu Runcing

Di Taman Bambu Runcing ini berdiri Monumen Bambu Runcing yang menjadi monumen untuk mengenang para pejuang dalam melawan penjajah. Monumen ini dibangun dari tahun 1978 sampai 1980 oleh seorang seniman patung, Doelkamid Djayaprana.

Monumen berbentuk seperti bambu ini berwarna putih dengan ruas bambu yang diberi warna merah, di bawahnya terdapat patung-patung pejuang yang mengelilingi monumen sambil membawa bendera merah putih dan senjata.

Di bagian tamannya terdapat wahana permainan anak-anak dan penjual makanan. Taman ini cocok dijadikan tempat bersantai di sore hari, lokasinya ada di Jalan Tentara Pelajar No.8, Tejowarno, Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

6. Taman Seribu Cinta

Taman Seribu Cinta ini terletak di perbatasan antara Kecamatan Muntilan dan Kecamatan Salam, di tepi aliran Kali Blongkeng. Dulunya di sini merupakan tempat pembuangan sampah yang kumuh.

Di satu sisinya terdapat tebing yang bertuliskan “Welcome to Muntilan Adipura”. di sisi lainnya ada taman bertingkat penuh bunga warna-warni dan spot-spot berbentuk love. Di sini juga disediakan tempat duduk untuk menikmati aliran kali yang jernih dan tenang.

Taman Seribu Cinta ini bisa diakses secara gratis, pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir saja.

7. Pasar Kayu Muntilan

Destinasi yang satu ini viral baru-baru ini setelah serial Gadis Kretek tayang. Diketahui bahwa Pasar Kayu Muntilan merupakan salah satu tempat syuting dari Gadis Kretek yang mana dijadikan sebagai pasar jadul.

Di sini masih bisa dilihat beberapa properti syuting yang belum dilepas para penjual kayu, diantaranya adalah papan nama warung dan poster Kretek Merah. Sekarang banyak pengunjung yang datang untuk berfoto di spot-spot ini.

Pasar Kayu Muntilan terletak di komplek pasar kayu, Jumleng, Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Candi Abang, Candi Sisa Reruntuhan, Makam Jeng Yah di Series Gadis Kretek



Sleman

Candi Abang menjadi perbincangan setelah muncul di salah satu adegan serial Gadis Kretek. Candi ini ada pada episode terakhir sebagai makam Dasiyah atau Jeng Yah.

Candi Abang merupakan satu candi unik yang berada di Blambangan, Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika berkunjung ke sini, traveler tidak akan menemukan bangunan candi megah atau bertingkat seperti candi-candi pada umumnya. Di sini hanya tersisa beberapa runtuhan dari candi.

Tidak diketahui pasti kapan Candi Abang ini dibangun, diperkirakan candi ini telah ada pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10. Pernah ditemukan sebuah prasasti bertuliskan tahun 872 Masehi pada candi ini, namun belum diketahui apakah tulisan tersebut merujuk pada tahun pembangunan candi.


Candi ini dinamakan Candi Abang karena material bangunannya yang berasal dari batu bata merah. Kata ‘Abang’ dalam bahasa Jawa memiliki arti merah.

Candi Abang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dari pusat kota Jogja, jalan menuju candi sudah cukup memadai, namun untuk sampai ke area candi, pengunjung harus berjalan kaki dengan jalan sedikit menanjak karena candi ini berada di atas bukit.

Terdapat gundukan tinggi menyerupai bukit yang berwarna hijau, traveler bisa melihat pemandangan alam dan gedung serta kesibukan Kota Sleman dari atas sini.

Setting makam Jeng Yah sendiri tidak bisa dilihat lagi karena sudah dibongkar. Namun candi ini tetap bagus untuk didatangi karena memiliki panorama indah yang estetik sebagai spot foto.

Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

Tiket masuk pun tidak perlu membayar mahal-mahal, cukup dengan membayar Rp 5000 dan parkir kendaraan Rp 2000 untuk motor dan Rp 5000 untuk mobil. Traveler bisa parkir di depan warung kecil yang berada di dekat gerbang masuk candi.

Pemilik warung mengatakan bahwa warungnya juga sempat dijadikan area syuting yang dilakukan pada bulan Mei 2023 lalu itu. Proses syuting dilakukan dalam waktu 1 hari 1 malam.

Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

“Pas itu warung saya ini disewa untuk syuting, jadinya nggak jualan. Ceritanya itu di sini untuk ngopi, sini cuma dikasih berapa aja renteng kopi terus makanan-makanan kecil. Terus sebelah ini ada jualan soto gitu,” katanya.

Jika ingin berkunjung ke sini, traveler disarankan untuk datang pada pagi atau sore hari untuk melihat sunset, karena siang hari matahari di sini sangat terik dan area candi hanya memiliki satu pondok kecil untuk berteduh. Jam operasional candi adalah pada jam 07.00 – 18.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com