Tag Archives: gaib

Bukan Cuma di RI, Ini Deretan Mitos Aneh soal Sapu di Berbagai Negara



Jakarta

Pernah mendengar soal mitos larangan menyapu di rumah pada malam hari? Katanya menyapu malam hari bisa bawa sial. Mitos itu diwariskan dari orang tua secara turun-temurun.

Dalam filsafat Yunani, mitos berasal dari kata myth yang artinya dongeng. Mitos suka dikaitkan dengan hal gaib karena pada awalnya manusia menggunakan ilmu gaib untuk menyelesaikan persoalan hidup. Sejatinya, mitos hanya disampaikan dari mulut ke mulut sehingga sulit diperiksa kebenarannya (Nasrimi, 2021).

Mitos dapat beredar ke seluruh aspek kehidupan manusia, seperti dalam persoalan bersih-bersih. Dikutip dari Apartment Therapy, Minggu (25/05/2025), mitos menyapu di malam hari dapat mendatangkan nasib buruk. Hal ini karena dahulu sebelum ada listrik, menyapu di malam hari dengan cahaya yang minim bisa menyeret barang-barang mahal, seperti cincin atau anting.


Selain menyapu pada malam hari, ini mitos unik lain yang juga berkembang di berbagai wilayah soal bersih-bersih.

Jangan Membawa Sapu Lama ke Rumah Baru

Pindah dari rumah lama ke rumah baru artinya membawa serta barang-barang dari rumah lama. Namun, jika membawa sapu yang lama ke rumah baru maka dipercaya dapat membawa nasib buruk.

Jangan Menyapu pada Malam Tahun Baru

Mitos yang juga unik dari Filipina adalah tradisi tidak pernah menyapu atau membuang apapun pada malam atau saat hari tahun baru. Hal ini dilakukan untuk menghindari hilangnya keberuntungan di sisa tahun. Oleh karena itu, jika mau membersihkan rumah maka lakukan sebelum akhir tahun.

Hati-Hati Saat Menyimpan Sapu

Di Malaysia, ada mitos bahwa jangan biarkan sapu menyentuh lantai saat tidak digunakan. Maka, sapu harus digantung di dinding karena sapu membawa keberuntungan dalam rumah tangga. Sapu juga tidak boleh ditumpuk bersama-sama saat digantung karena dipercaya dapat menimbulkan pertengkaran dalam keluarga.

(das/das)



Sumber : www.detik.com

6 Mitos Gunung Prau di Dataran Tinggi Dieng yang Menjadi Misteri


Jakarta

Gunung Prau berada di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Dengan ketinggian mencapai 2.565 mdpl dan medan tidak terlalu sulit, Prau termasuk gunung yang ramah pendaki pemula.

Gunung Prau disebut-sebut memiliki view matahari terbit terbaik. Di balik pesonanya, gunung ini konon menyimpan sederet mitos terkait hal mistis yang masih diyakini masyarakat setempat hingga sekarang. Apa saja mitos Prau di Dataran Dieng yang beredar? Cari tahu pada uraian di bawah.

6 Mitos Gunung Prau yang Menjadi Misteri

Mengutip skripsi berjudul Konstruksi Nilai Sosial Pendaki Gunung Melalui Mitos Pendakian (Studi Kasus: Gunung Prau) yang dipublikasi oleh UIN Jakarta, berikut deretan mitos Gunung Prau di Dataran Tinggi Dieng:


1. Makam Kyai Jalak Ijo

Di jalur pendakian Gunung Prau via Dwarawati terdapat sebuah makam yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Letaknya berada di dalam hutan menyimbolkan lokasi kesakralannya. Pusara tersebut dipercaya milik seseorang yang dikenal dengan julukan Kyai Jalak Ijo.

Biasanya, banyak orang berziarah ke makam tersebut di waktu tertentu seperti pada malam 1 Suro atau 1 Muharram. Konon doa yang dipanjatkan di sana dapat dikabulkan, di antaranya saat berdoa meminta rezeki, jodoh, dan penglaris.

2. Dewa Penguasa Gunung Prau

Menurut kepercayaan sejak zaman kerajaan Hindu yang berdiri di Dataran Tinggi Dieng, Gunung Prau merupakan tempat bersemayam dewa penguasa gunung. Dewa ini dianggap sebagai makhluk supranatural suci yang menjaga Prau dari kerusakan.

Para dewa dipercaya akan turun dan menampakkan diri sebagai manusia ketika ritual pemotongan rambut gimbal dilaksanakan setahun sekali di area Candi Arjuno.

3. Larangan Mendaki bagi Wanita yang Haid

Ada juga mitos perempuan haid dilarang mendaki di Gunung Prau. Hal ini karena gunung setinggi 2.565 mdpl itu diyakini sebagai tempat suci, sementara wanita menstruasi dianggap “sedang kotor” sehingga tidak diperbolehkan mendaki.

Pendaki yang melanggar mitos tersebut konon akan tertimpa musibah yang bahkan dapat mengancam nyawanya maupun orang lain, seperti kecelakaan, tersesat, ataupun meninggal dunia.

4. Sandekala

Sandekala adalah mitos umum di dunia pendakian, termasuk di Prau, di mana terdapat larangan mendaki saat adzan Maghrib tiba atau pergantian hari. Waktu tersebut diyakini punya sisi mistis.

Siapa yang mendaki menjelang atau di waktu pergantian hari kabarnya akan diganggu oleh makhluk halus penghuni gunung. Jika mitos ini dilanggar, mereka yang melakukannya bisa mengalami hal mistis seperti kesurupan atau kejadian tak masuk akal seperti berpindah ke alam gaib.

5. Penjelmaan Burung Jalak

Menurut kepercayaan masyarakat yang tinggal di kawasan Gunung Prau, pendaki akan mendapat malapetaka saat berusaha menangkap atau mengganggu burung jalak yang ditemukan di jalur pendakian.

Burung jalak di Prau katanya merupakan penjelmaan makhluk halus yang dianggap senang mencelakai dan membahayakan para pendaki.

Selain jalak, hewan-hewan seperti ular, kera, kuda, kelabang, dan harimau juga kabarnya adalah binatang penjelmaan makhluk astral di gunung.

6. Oyot Rimpang

Ada lagi mitos terkenal di Gunung Prau yaitu oyot rimpang. Konon, oyot rimpang merupakan pintu menuju alam gaib. Pintu ini berupa pepohonan tinggi yang tumbuh di padang bunga daisy dan punya bentuk menyerupai kotak.

Lokasi oyot rimpang diduga dapat ditemukan di jalur pendakian Prau via Dwarawati setelah melewati puncak tertingginya. Usai melalui tower yang berada di puncak, pendaki akan menjumpai area Telaga Wurung yang terdapat tanaman tinggi, rerumputan, dan bunga daisy. Kabarnya, di situlah letak oyot rimpang berada.

Masyarakat meyakini siapa saja yang melewati pepohonan kotak bak pintu itu, secara sengaja ataupun tidak, maka ia akan memasuki dunia gaib dan tidak bakal bisa keluar dari sana.

Larangan di Gunung Prau

Selain mitos, ada baiknya mengetahui berbagai larangan Gunung Prau sebelum traveler mendaki di sana. Dilansir situs Visit Jawa Tengah, berikut beberapa larangan mendaki Prau:

  • Masuk tanpa izin
  • Membuang sampah sembarangan
  • Membuat api unggun
  • Tidak membawa sampah turun
  • Menebang pohon
  • Membawa tisu basah ke atas Gunung Prau
  • Membawa senjata tajam
  • Membawa dan menyalakan kembang api
  • Membawa dan mengkonsumsi minuman keras atau narkoba
  • Melakukan pencurian
  • Membawa alat musik dan musik box
  • Melakukan perzinahan
  • Melakukan vandalisme
  • Kencing di dalam botol.

Nah, itu tadi sederet misteri Gunung Prau yang diyakini masyarakat setempat beserta larangan saat mendaki gunung ini. Jika berkesempatan mengunjung Gunung Prap, semua aturan dan larangan wajib dipatuhi yanpa kecuali ya.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Destinasi Wisata Horor buat Habiskan Weekend



Jakarta

Destinasi tak hanya soal yang cantik-cantik. Beberapa lokasi ini menawarkan suasana horor pada waktu yang tepat.

Film horor masih merupakan genre tontonan yang jadi primadona bagi masyarakat Indonesia. Selain jalan cerita dan aktor serta aktris yang banyak disukai, tak sedikit set syuting dalam film-film horor yang menjadi daya tarik wisata untuk dikunjungi.

Cerita-cerita rakyat mengenai misteri di suatu daerah juga banyak bikin masyarakat tanah air penasaran untuk mengetahui lebih lanjut.


Tak jarang dari cerita-cerita misteri itu, diubah menjadi film yang menarik bagi penonton yang memang senang ditakut-takuti. Lokasi-lokasi syutingnya pun turut menjadi daya tarik untuk didatangi.

Dari film Pengabdi Setan hingga KKN Desa Penari, berikut 5 destinasi wisata yang juga merupakan lokasi syuting film horor terkenal Indonesia, seperti dirangkum situs Kemenparekraf. Berani coba berkunjung?

1. Rumah Pengabdi Setan

Masih ingat dengan tokoh Ibu dalam keluarga Rini di film garapan Joko Anwar ini? Dalam seri pertamanya, film Pengabdi Setan (2017) melakukan syuting di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat.

Bangunan yang paling ikonik dalam film ini adalah rumah yang ditinggali oleh keluarga Rini, yang beralamat lengkap di Kawasan PTPN VIII, Kampung Kertamanah.

Rumah tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat, terkhusus bagi mereka yang telah menonton film horor populer itu.

Ada dua rumah yang digunakan dalam film Pengabdi Setan, satu rumah masih ditempati sehingga tidak boleh dimasuki. Meski begitu, pengunjung masih diperbolehkan berfoto di depannya.

Sedangkan satu rumah lainnya dibiarkan kosong dan terbuka untuk umum. Sebuah poster besar bertuliskan Pengabdi Setan dan tokoh hantu Ibu dipajang di halaman rumah.

Jika tertarik berkunjung, kamu cukup membayar tarif seharga Rp10 ribu.

2. Hutan Pinus Mangunan

Masih ingat dengan film hits pada masanya, KKN Desa Penari (2022)? Ternyata, salah satu set yang dipilih menjadi lokasi syuting film horor tersebut adalah Hutan Pinus Mangunan yang terletak di Bantul, Yogyakarta.

Walaupun dijadikan lokasi syuting film horor, hutan ini sebenarnya jauh dari kesan mistis lho! Tempat tersebut dijadikan sebagai destinasi wisata karena vibes-nya seperti ada di luar negeri.

Selain itu, hutan pinus ini sering dijadikan venue konser penyanyi ibu kota, salah satunya Tulus.

3. Waduk Sermo

Terletak di Kulonprogo, waduk ini memiliki sejuta keindahan yang memikat, sekaligus menyimpan misteri dan kesan horor yang juga cukup kuat sehingga dijadikan lokasi syuting film horor Jailangkung: Sandekala (2022) karya Kimo Stamboel.

Jailangkung: Sandekala mengangkat kisah mengenai kepercayaan masyarakat setempat, bahwa saat memasuki waktu maghrib atau ketika matahari tenggelam, orang-orang dilarang keluar rumah.

Waduk Sermo menjadi lokasi syuting saat scene sebuah keluarga dalam film tersebut mengalami musibah di sebuah danau.

Selain memiliki daya tarik karena dijadikan lokasi syuting film horor, tempat ini juga asyik untuk dijadikan lokasi berkemah dengan keluarga atau teman-teman.

4. Karacak Valley

Terletak di Garut, Jawa Barat, Karacak Valley merupakan destinasi wisata alam yang pernah dijadikan lokasi syuting film horor berjudul Rasuk (2018).

Meski terlihat mistis dan sangat menyeramkan dalam film, sebenarnya tempat wisata alam ini sangat indah dan asri lho, serta sering dijadikan lokasi berkemah karena menawarkan pemandangan indah hutan pinus yang khas.

Karacak Valley masuk dalam film ketika scene pemeran bernama Langgir Janaka beserta ketiga sahabatnya harus berjalan kaki karena mobil yang ditumpangi tidak bisa lewat akibat jalanan rusak.

Bagi kamu yang ingin berkunjung ke sana, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun dengan angkutan umum seperti angkot maupun ojek motor.

5. Taman Watu Kandang

Berlokasi di Trenggalek, Jawa Timur, tempat ini pernah menjadi lokasi syuting Sinden Gaib (2024). Film ini diangkat dari kisah nyata dari Kabupaten Trenggalek, tepatnya dari Desa Pandean, Kecamatan Dongko.

Sehingga Taman Watu Kandang yang terletak di sana juga menjadi lokasi syuting karena mengambil tempat yang sama seperti cerita.

Ada banyak aktivitas seru yang bisa kamu lakukan di sana selain menikmati keindahan alamnya, yakni river tubing hingga menjelajah desa.

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



Sumedang

Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

“Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

“Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

“Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

“Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

“Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

“Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

“Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

Sejarah Jembatan Cincin

Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

“Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

“Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

“Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Alas Purwo, Hutan Tertua di Pulau Jawa



Banyuwangi

Alas Purwo tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga berbagai mitos yang menyelimutinya. Mari sibak misteri hutan tertua di pulau Jawa ini.

Alas Purwo merupakan hutan lebat di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Hutan ini diyakini banyak menyimpan misteri gaib.

Oleh masyarakat setempat, hutan ini diyakini sebagai yang tertua di pulau Jawa, dan sering disebut sebagai gerbang menuju dunia gaib. Banyak cerita mistis yang menjadikannya salah satu tempat paling disegani di Nusantara.


Dilansir dari jurnal Universitas Islam Sunan Kalijaga berjudul Mitos Kerajaan Jin di Alas Purwo Banyuwangi Indonesia dalam Perspektif Teori Sakral dan Profan Emile Durkheim, yang ditulis Isnawi dan Indah Yulianti, Alas Purwo disebut memiliki aura mistis yang kuat.

Beberapa orang percaya Alas Purwo adalah tempat tinggal makhluk gaib, seperti genderuwo, jin, hingga setan. Ahli spiritual Banyuwangi Ki Joko Gondrong, menguatkan mitos ini dan menyarankan wisatawan untuk selalu waspada saat berkunjung ke hutan tersebut.

Alas Purwo disebut sebagai lokasi pertama yang dihuni manusia, tepatnya di Situs Kawitan. Tak hanya itu, di Alas Purwo terdapat gua Istana yang menjadi destinasi menarik dan wajib dikunjungi wisatawan.

Menurut cerita rakyat setempat, Gua Istana menjadi destinasi terkenal yang dipercaya sebagai tempat Ir Soekarno pernah bertemu Nyi Roro Kidul.

Tak jauh dari gua tersebut, terdapat pura yang sering digunakan untuk semedi. Pura ini sering dikunjungi untuk meditasi atau laku ritual spiritual.

Tempat ini dipercaya bisa memberikan energi-energi ketenangan batin. Kepercayaan akan nuansa mistis ini membuat masyarakat lokal mengingatkan pengunjung untuk berhati-hati. Sebab, melanggar aturan di hutan ini sering dikaitkan dengan kejadian mistis yang mengundang malapetaka.

Salah satu mitos yang berkembang di kalangan masyarakat adalah suara panggilan misterius di Alas Purwo. Jika mendengar suara memanggil, jangan langsung menengok ke belakang. Konon, menengok bisa membawa malapetaka atau membuat seseorang hilang secara gaib.

Hingga saat ini, masyarakat setempat masih percaya dengan mitos-mitos di Alas Purwo, meski tak sedikit juga yang bersikap sebaliknya.

Cara Menuju ke Alas Purwo

Untuk menuju ke Alas Purwo, traveler bisa memilih rute misalnya dari Kota Banyuwangi menuju Kecamatan Rogojampi, kemudian ke Kecamatan Srono, Kecamatan Muncar, dan Kecamatan Tegaldlimo.

Dari Kecamatan Tegaldlimo, perjalanan dilanjutkan sekitar 10 km melewati jalan berbatu, hingga tiba di Pos Rowobendo, gerbang utama Taman Nasional Alas Purwo.

Untuk mencapai Alas Purwo, wisatawan disarankan menggunakan kendaraan pribadi karena belum tersedia transportasi umum menuju lokasi ini.

Dengan segala keindahan dan cerita di baliknya, Alas Purwo menjadi destinasi wisata sekaligus misteri yang memikat. Bagi yang penasaran, berhati-hatilah saat menjelajah, karena di balik keindahannya tersimpan banyak misteri yang belum terungkap.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Halloween di Trans Studio Cibubur, Ada Rumah Hantu!



Depok

Trans Studio Cibubur sebagai destinasi hiburan keluarga di area Jabodetabek kembali menghadirkan pengalaman seru dan menegangkan dalam rangka menyambut Halloween 2025. Tahun ini, Trans Studio Cibubur menghadirkan rumah hantu ‘Klinik Kamboja Tumbal Darah’ dan juga pertunjukan spesial Halloween ‘Dance of the Death’.

Wahana horor bertajuk ‘Klinik Kamboja Tumbal Darah’, hadir berkat kolaborasi bersama dengan Magma Entertainment, Wahana Kreator dan Sinemaku Pictures. Konsep rumah hantu ini terinspirasi langsung dari film Tumbal Darah, yang bercerita tentang sepasang suami istri – sang istri tengah mengandung – yang terjebak di sebuah klinik bersalin misterius bernama ‘Klinik Bersalin Kamboja.


Klinik tersebut ternyata menjadi tempat praktik pesugihan gelap dengan tumbal bayi yang baru lahir, dipersembahkan kepada sosok gaib kembar yang mengerikan. Wahana Klinik Kamboja Tumbal Darah akan membawa pengunjung menelusuri lorong-lorong menyeramkan di dalam Klinik Bersalin Kamboja, tempat segala kejanggalan dan rahasia kelam disembunyikan.

Dengan perpaduan teror audio-visual, properti artistik, tata cahaya dramatis, dan penampilan live actor, pengunjung akan merasakan pengalaman horor yang terasa begitu nyata seolah benar-benar masuk ke dalam dunia film Tumbal Darah. Wahana ini sudah bisa dinikmati bagi seluruh pengunjung yang membeli tiket Trans Studio Cibubur.

Namun bagi yang ingin menikmati keseruan dari Klinik Kamboja saja, ini dapat yang membeli tiket khusus wahana saja tanpa bermain, dengan harga Rp 30.000 weekdays dan Rp 35.000 weekend. Wahana Klinik Tumbal Darah dapat dinikmati hingga 6 November 2025.

Selain rumah hantu, Trans Studio Cibubur juga akan menghadirkan show spesial Halloween ‘ Dance of the Death’ mulai dari tanggal 25 – 30 Oktober2025.

Pertunjukan ini terinspirasi dari Dia de Los Muertos, tarian kematian di Mexico. Pertujunkan akan dimulai di area Tilting Village kemudian para penari akan berparade menuju panggung amphitheater dan menghadirkan pertunjukan spesial Halloween dengan aneka tarian seperti Marionette Dance dan Fire Dance.

Dalam rangka perayaan Halloween, Trans Studio Cibubur juga memberikan promo tiket spesial Halloween bagi seluruh pengunjung yang ingin menikmati keseruan wahana ini sekaligus seluruh atraksi di dalam theme park.

Nikmati promo promo spesial Halloween Deals seharga Rp 149.000 untuk weekdays dan Rp 195.000 untuk weekend khusus untuk pembelian minimal 2 tiket masuk. Tiket dapat dibeli langsung di loket atau secara online melalui situs resmi www.transentertainment.com.

Ayo temukan rahasia kelam dari Klinik Bersalin Kamboja dan nikmati keseruan show spesial Halloween hanya di Trans Studio Cibubur!

(ddn/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Mitos Ikan Raksasa Penguasa Sungai Citarum



Jakarta

Di balik derasnya arus Sungai Citarum, yang terbentang sejak Kabupaten Bandung-Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tersimpan sebuah kisah yang turun-temurun diceritakan warga sekitar. Konon, di dasar sungai itu hidup seekor ikan raksasa, makhluk gaib yang dipercaya sebagai penguasa Sungai Citarum.

Kisah itu bermula dari Desa Cihea. Di desa itu di bagian Sungai Citarum ada sebuah leuwi atau bagian sungai yang dalam bernama Leuwi Dinding. Karena dalam, air di Leuwi Dinding nyaris selalu dalam keadaan tenang. Airnya juga bersih.

Leuwi itu ada penunggunya. Dia Kiai Layung.


Kiai Layung adalah makhluk air berupa ikan kancra raksasa. Jika umumnya kancra berukuran kecil-sedang, maka Kiai Layung adalah pengecualian. Dia berukuran jumbo, dibilang sebagai ikan raksasa.

Dikutip dari detikjabar, dalam “Asal-usul Hayam Pelung jeung Dongeng-dongeng Cianjur Lianna” tulisan Tatang Setiadi (2011), disebutkan mitos Kiai Layung, kancra raksasa penguasa Sungai Citarum itu.

Siapa Kiai Layung?

Kiai Layung dipercaya sebagai orang sakti yang kena hukuman dari dewata karena orang tersebut berambisi menjadi yang terkuat di bumi dan ingin menguasai surga. Dalam masa hukuman itu, Kiai Layung Harus menjalani ritual berjemur di bawah sinar matahari senja atau dalam bahasa Sunda disebut layung.

Maka, tiap pagi hingga petang, Kiai Layung muncul ke bawah permukaan air dan berjemur di dekat batu pipih di sana. Bertahun-tahun, dia hidup tenang di leuwi itu bersama ikan-ikan kancra.

Diganggu Badak

Hingga kemudian petaka itu muncul. Kiai Layung dan ikan kancra terusik dengan kehadiran badak-badak yang berenang dan berkubang tanpa etika di sekitar Leuwi Dinding. Akibatnya, banyak ikan-ikan kancra mati terinjak, tempat berenang ikan-ikan itu juga menjadi keruh ulah para badak.

Meskipun bekas orang sakti, Kiai Layung yang kini berwujud ikan tidak kuasa untuk mengusir badak-badak bertubuh besar dan memiliki tenaga yang kuat. Dia pun kemudian meminta bantuan kepada manusia. Dengan “Aji Panggentra” yang masih dimiliki, Kiai Layung yang ikan kancra itu memanggil manusia bernama Kiai Padaratan.

Bantuan Orang Sakti

Kiai Padaratan merespons dan bergegas menuju Leuwi Dinding. Setelah berada di Leuwi Dinding, Kiai Padaratan segera menyadari bahwa yang meminta pertolongan kepadanya adalah ikan kancra raksasa yang sedang berjemur di dekat batu. Mereka pun berbincang dan Kiai Padaratan bersedia mengusir badak-badak itu.

Sebelum menjalankan misi itu, mereka membuat kesepakatan. Kiai Layung minta kehidupan yang tenang sebagai ikan kancra sedangkan Kiai Padaratan mendapatkan air dan segala kehidupan yang terkandung di dalam sungai itu untuk kelangsungan hidup manusia.

Kiai Padaratan berhasil mengusir badak-badak itu. Hingga kini, diyakini Kiai Layung bisa berjemur setiap hari dengan damai di Leuwi Dinding di Sungai Citarum itu. Sementara itu, warga sekitar bisa mengambil air dan memanfaatkan isi leuwi di sana.

(fem/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pondok Mayit-Pondok Demit, 2 Pos Gunung Raung yang Paling Mistis



Banyuwangi

Mendaki gunung Raung, para pendaki akan melewati pos Pondok Mayit dan Pondok Demit yang nuansanya mistis. Bagaimana kisahnya?

Gunung Raung tak hanya dikenal karena kaldera raksasanya dan medan pendakian ekstrem yang menantang. Di balik megahnya salah satu gunung tertinggi di Jawa Timur ini, tersimpan dua spot yang paling banyak dibicarakan para pendaki, yaitu Pondok Mayit dan Pondok Demit.

Keduanya bukan sekadar tempat istirahat, tapi dipercaya menyimpan kisah gaib yang membuat jalur pendakian Gunung Raung semakin mencekam. Dari penampakan mayat misterius tergantung di pohon, hingga suara pasar gaib yang muncul tiba-tiba di tengah hutan.


Cerita tentang dua pos bernama seram ini akan terus hidup di kalangan pendaki dan masyarakat lokal. Tak sedikit pendaki yang mengaku mengalami kejadian di luar nalar saat melewati dua pos pendakian tersebut.

Asal Usul Nama Pos Pondok Mayit

Nama Pondok Mayit seolah sudah menjelaskan aura yang menyelimutinya. Tak sedikit pendaki yang merasa tidak nyaman saat melintasi kawasan ini, bahkan ketika matahari masih tinggi.

Pondok Mayit memang dikenal sebagai lokasi yang menyeramkan karena pernah ditemukan jasad misterius yang tergantung di pohon di area ini.

Beberapa cerita menyebut mayat tersebut adalah bangsawan Belanda yang dihukum gantung oleh para pejuang lokal pada masa penjajahan. Kejadian tersebut masih menjadi bagian dari catatan sejarah tak resmi yang dipercayai masyarakat sekitar Gunung Raung.

Dari nama Pondok Mayit saja itu sudah cukup untuk menghadirkan suasana mencekam. Sebutan itu seolah menyiratkan tempat yang identik dengan kematian, membuat siapa pun yang mendengarnya langsung merasakan hawa dingin merambat ke tubuh.

Dilansir dari pemberitaan detikcom, banyak pendaki menggambarkan bagaimana rasa merinding kerap datang, bahkan sebelum tiba di lokasi tersebut. Di sekitar kawasan ini, cerita-cerita mistis tak lagi sekadar bisikan.

Pernah terjadi kejadian di mana salah satu pendaki mendadak berteriak di tengah malam, seakan kesurupan. Suaranya berubah menjadi berat dan menggelegar, jauh dari suara aslinya.

Situasi semakin mencekam hingga akhirnya ada yang menenangkan dengan bacaan ayat-ayat suci, dan suasana kembali tenang. Kisah semacam ini memperkuat anggapan bahwa Pondok Mayit bukan sekadar nama, tapi bagian dari misteri nyata yang menyelimuti Gunung Raung.

Pondok Demit dan Munculnya Pasar Gaib di Tengah Hutan

Jika Pondok Mayit dikenal lewat kisah jasad misterius dan aura kematian, Pondok Demit menawarkan misteri yang lebih surreal, yaitu keramaian pasar makhluk halus di tengah hutan sunyi.

Masyarakat setempat mempercayai Pondok Demit sebagai “pasar” tempat makhluk halus melakukan transaksi di waktu-waktu tertentu. Hal ini sejalan dengan kisah para pendaki yang mengaku mendengar keramaian layaknya pasar malam, tawa perempuan, gamelan, suara tawar-menawar, hingga langkah kaki banyak orang, padahal di tengah hutan.

Beberapa pendaki yang bermalam di sekitar pos ini juga mengaku mengalami gangguan. Mulai dari mimpi buruk hingga perasaan diawasi sepanjang malam tanpa sebab yang jelas.

Aura ganjil yang menyelimuti Pondok Demit semakin memperkuat reputasinya sebagai salah satu pos paling mistis di jalur pendakian Gunung Raung.

Nama Pondok Demit sendiri berasal dari kata demit yang dalam bahasa Jawa berarti makhluk halus atau jin. Nama ini tak muncul begitu saja, tapi dibentuk dari rangkaian kisah-kisah ganjil yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Cerita-cerita yang tak terdokumentasi resmi, namun dipercaya secara luas oleh masyarakat lokal maupun pendaki veteran. Keberadaan Pondok Mayit dan Pondok Demit bukan hanya legenda yang hidup dari mulut ke mulut.

Keduanya sudah menjadi bagian dari narasi besar Gunung Raung, gunung dengan empat puncak dan kaldera kering terbesar di Pulau Jawa.

Di balik keindahan dan tantangan fisiknya, Gunung Raung juga menjadi ruang di mana kepercayaan, sejarah, dan pengalaman spiritual berpadu menjadi satu.

Bagi para pendaki, melintasi dua pos ini bukan hanya soal fisik dan stamina. Tapi juga kesiapan mental. Sebab bukan hanya tubuh yang diuji, melainkan keberanian menghadapi yang tak kasat mata.

Meski begitu, kisah-kisah ini tidak serta-merta membuat Gunung Raung ditinggalkan. Justru sebaliknya, nuansa misterius itu menambah daya tarik tersendiri dari gunung itu.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Anti Bom dan Tidak Bisa Dipindahkan, Ini ‘Kesaktian’ Batu Eon


Jakarta

Batu Eon dikenal punya banyak mitos dan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi. Batu ini bahkan diyakini punya kesaktian gaib yang membuatnya awet hingga sekarang, bahkan bisa disaksikan langsung banyak orang.

Saat ini Batu Eon berada di tengah Kolam Tandon Harian PLTA PT Indonesia Power. Tepatnya Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan. Ditemukan kali pertama pada 1527, Batu Eon terus berada di tempatnya melewati berbagai zaman tanpa ada pengurangan pada wujudnya.

Seputar Batu Eon

Beriut serba-serbi Batu Eon yang berhasil dirangkum detikTraveld arsip pemberitaan detikcom dan detikJabar


1. Asal-usul nama dan sejarah

Masyarakat Desa Lamajang mempercayai sebuah legenda mengenai batu ini. Menurut mitos yang berkembang, dulu pernah hidup seorang laki-laki bernama Eon atau lebih dikenal dengan Abah Eon. Konon, Abah Eon pernah berusaha mati-matian untuk memindahkan baru itu dari tempatnya.

Berbagai cara telah dicoba Abah Eon, mulai dari menggunakan alat berat hingga meledakkannya dengan bahan peledak, namun hasilnya batu tersebut tetap tidak bisa dihancurkan atau rusak sedikit pun.

Sejak kejadian itu, masyarakat setempat mulai menyebut batu misterius itu sebagai Batu Eon, merujuk pada nama Abah Eon yang pernah berusaha menyingkirkannya. Kisah ini kemudian berkembang dan diturunkan secara turun temurun oleh masyarakat setempat.

2. Tak Bisa Dipindahkan dan Anti Bom

Hingga saat ini, masyarakat setempat masih banyak yang mempercayai kekuatan gaib yang dimiliki Batu Eon. Akibatnya, batu tersebut tidak bisa dipindahkan dan tetap utuh walau dihancurkan dengan alat berat bahkan alat peledak.

Ada juga yang mempercayai batu tersebut angker karena berasal dari tempat pemakaman. Menurut Pengelola Desa Wisata Lamajang, Ade Sukmana, banyak masyarakat yang mengeluh hewan ternak mereka mati secara tiba-tiba ketika digembalakan di kawasan Batu Eon.

3. Tempat Bertapa

Sebagian masyarakat juga ada yang mempercayai bahwa keberadaan Batu Eon dikaitkan dengan Mbah Balu Tunggal. Mbah Balu Tunggal merupakan salah satu tokoh legenda yang menyebarkan ajaran Islam di Lamajang dan sekitarnya pada abad ke-17. Konon, batu ini digunakan sebagai tempat pertapaan Mbah Balu Tunggal untuk mencari ketenangan batin sekaligus memperdalam ilmunya.

Mitos-mitos ini diyakini dan diwariskan secara turun-temurun antar generasi, inilah yang menyebabkan hingga saat ini masih banyak yang mempercayai legenda Batu Eon dan penasaran dengan kesaktian yang dimilikinya

(row/row)



Sumber : travel.detik.com