Tag Archives: garuda wisnu kencana

Parahyangan Somaka Giri, Mata Air Suci di GWK, Diyakini Bisa Sembuhkan Penyakit



Badung – Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Ungasan, Badung, Bali tak hanya menawarkan pemandangan patung yang eksotis buat pengunjung. Tetapi, tempat ini juga memiliki keunikan lain, salah satunya kisah Parahyangan Somaka Giri, sumber mata air suci.

Parahyangan Somaka Giri memiliki kisah melegenda yang diyakini oleh masyarakat sekitar sejak dulu. Tempat itu dipercaya sebagai anugerah yang memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan memohon hujan pada musim kemarau.

Nanda, storyteller di Plaza Wisnu, menyebut sumber mata air itu sudah ada lebih dari 200 tahun yang lalu. Kemudian, pembangunan dan maintenance pura dilakukan saat GWK Cultural Park mulai didirikan yang kemudian dikenal dengan nama Parahyangan Somaka Giri.

Parahyangan Somaka Giri berada di area Plaza Wisnu, dataran tertinggi di GWK Cultural Park, tempat didirikannya sosok patung Dewa Wisnu yang ikonik. Para pengunjung yang datang akan diajak untuk menyelami dan mendapatkan pengalaman spiritual budaya Bali.

Parahyangan Somaka Giri, GWK Cultural Park, Badung, BaliParahyangan Somaka Giri, GWK Cultural Park, Badung, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Traveler akan disambut dengan payung atau tedung Bali berwarna kuning dan putih di sepanjang tangga masuk. Penggunaan kamen dan selendang sebagai simbol untuk menjaga kesopanan di kala memasuki Parahyangan Somaka Giri. Traveler khususnya perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang untuk memasuki areal Parahyangan Somaka Giri.

Pertama, traveler akan diajak untuk mengenal konsep Panca Maha Bhuta, lima elemen dasar yang menyusun alam semesta menurut keyakinan Hindu. Terdiri dari Cahaya, Bumi, Air, Udara, dan Ruang Hampa yang berpadu untuk menyusun alam semesta.

Setelah mendengarkan tentang konsep Panca Maha Bhuta, jika berkenan, traveler akan diajak untuk mengikuti doa yang dipimpin oleh Jro Mangku. Berbagai harapan baik boleh traveler panjatkan dengan ditemani iringan Bajra atau Genta.

Di akhir doa, traveler akan mendapatkan percikan air suci (tirta) dan Gelang Tridatu, sebagai simbol Trimurti dalam agama Hindu.

Nanda menceritakan keunikan Parahyangan Somaka Giri. Sumber mata air ini terletak di lahan batu kapur dan berada di ketinggian 240 meter di atas permukaan laut. Sangat mustahil untuk mendapatkan sebuah sumber mata air mineral.

“Jika dipikirkan, lokasi ini berada di daerah berkapur dengan ketinggian 240 meter di atas permukaan laut. Itu tentu sedikit mustahil untuk mendapatkan sumber mata air mineral. Jadi semua air di sini selain di areal Somaka Giri masih terkontaminasi zat kapur,” kata Nanda.

Unik ya, ternyata GWK Cultural Park traveler nggak hanya melihat karya seni patung dan pertunjukkan. Namun ada kisah sumber mata air suci yang dibalut dengan berbagai kisah magisnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jadi Patung Tertinggi Keempat di Dunia, Begini Sejarah Pembangunan Patung GWK



Badung

Pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) cukup berliku. Seperti apa ya?

Patung GWK di GW K Cultural Park, Badung, Bali memiliki tinggi 122 meter. Patung itu tepatnya berada di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, memiliki sejarah yang menarik untuk dipelajari.

Menjadi maskot Pulau Dewata, GWK dibangun di lahan kapur seluas 60 hektar, dengan tinggi 122 meter dan berat 4.000 ton. Kini patung GWK sudah menduduki posisi keempat sebagai patung tertinggi di dunia.


Sejarah Pembangunan Patung GWK

Pendirian patung GWK mulai dikonsepsi tahun 1989. Kala itu, Joop Ave yang pernah menjabat sebagai Direktur Jendral Pariwisata RI menginisiasikan pembangunan patung setinggi 5 meter di Bandara Ngurah Rai. Guna menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.

Pada tahun 1990, diputuskan pembangunan patung dilakukan di luar bandara, dengan menggandeng seniman Bali bernama I Nyoman Nuarta. Dipilihlah lahan bekas penambangan kapur di daerah Ungasan. Dengan dukungan Ida Bagus Mantra dan melibatkan Ida Bagus Oka serta Ida Bagus Sudjana.

“Mulanya GWK ini digagas oleh Bapak Joop Ave. Menurutnya Indonesia harus memiliki sesuatu yang ikonik dan menarik banyak wisatawan. Tahun 1990, Bapak Joop Ave menggandeng Bapak I Nyoman Nuarta untuk menggagas ikon GWK,” kata Operation Director GWK Stefanus Yonathan Astayasa.

Tahun 1993, Presiden Soeharto merestui pembangunan proyek ini. Akhirnya fase perencanaan Garuda Wisnu Kencana (GWK) dimulai. Pembangunan pun mengalami kendala akibat adanya krisis moneter tahun 1998. Pembangunan terhenti selama 16 tahun.

Muncul secercah harapan untuk melanjutkan pembangunan GWK. Tahun 2012, PT Alam Sutera Realty Tbk berkomitmen untuk melanjutkan proyek mahakarya Indonesia. Upacara Ngeruak dan Mendem Pedagingan dilakukan guna mengawali proses pembangunan.

“Tahun 2010 diadakan GWK Expo, dan Alam Sutera hadir di GWK Expo ini. Tahun 2012 akhirnya Alam Sutera berkomitmen untuk membangun patung GWK hingga selesai,” ujar Stefanus.

Pada 23 Agustus 2013, dilakukan peletakan batu pertama. Proses pekerjaan pun dimulai dengan membangun pondasi rakit seluas 7.154,41 meter persegi. Tahun 2018, mahkota Dewa Wisnu sudah dipasang, seiring dengan dilakukannya upacara Pasupati. Upacara Melaspas pun dilakukan guna menandai berakhirnya proyek pembangunan patung GWK.

Peresmian Patung Garuda Wisnu Kencana

Pada 22 September 2018, peresmian patung Garuda Wisnu Kencana oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Sekaligus sebagai persembahan peringatan HUT ke-73 RI. Dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat dan pejabat penting negara.

Kini, patung GWK sudah terkenal sebagai ikon Pulau Bali. Patung GWK dengan tinggi 122 meter menjadi patung tertinggi keempat, setelah Patung Vallabhbhai Patel di India (182 meter) sebagai peringkat pertama, Sang Buddha di Tiongkok (153 meter) dan Myanmar (130 meter).

Sudah tau kan sejarah patung GWK? Butuh waktu 28 tahun untuk mewujudkan mahakarya sekaligus ikon Pulau Bali. Jadi, jangan lupa berkunjung untuk menyaksikan megahnya patung GWK ya!

(fem/iah)



Sumber : travel.detik.com

Simak Rute Berwisata di GWK Cultural Park, Jangan Sampai Tersesat!



Badung

Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, sebuah taman budaya sebagai bentuk manifestasi warisan budaya Bali, bisa menjadi destinasi yang harus masuk wishlist saat ke Pulau Dewata. Dengan luas sekitar 60 hektare, cek di sini rute berkeliling GWK agar tidak buang tenaga.

GWK Cultural Park berada di Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Untuk mencapai objek wisata ini, traveler harus menempuh sekitar 12 km atau waktu tempuh sekitar 30 menit dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

GWK Cultural Park menyediakan parkir yang luas, jadi traveler yang membawa kendaraan pribadi tidak perlu khawatir.


Tak hanya memiliki keunggulan dengan patung raksasa, dengan salah satunya patung GWK nan ikonik, traveler juga bisa menemukan banyak spot foto estetik.

Patung GWK dibangun selama 28 tahun dan diresmikan pada 22 September 2018. Bahkan, sebelum patung itu benar-benar utuh area itu sudah menjadi jujugan wisatawan.

Rute Berwisata di GWK Cultural Park

Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) menjadi patung tertinggi ke-4 di dunia. Butuh waktu 28 tahun untuk mewujudkan mahakarya sekaligus ikon Pulau Bali itu.Butuh waktu 28 tahun untuk mewujudkan mahakarya GWK. (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom))

Tertarik berkunjung ke GWK Cultural Park namun belum tau rute wisatanya? Jangan khawatir, berikut detikTravel merangkum rute berwisata di GWK Cultural Park.

Sesampainya di lokasi parkir pengunjung, traveler akan dijemput dengan Shuttle Bus Gratis yang akan membawa traveler ke dua perhentian, yaitu Area Tiket Plaza Bhagawan atau Jendela Bali Restaurant.

Traveler bisa melakukan pembelian tiket terlebih dahulu. Terdapat beberapa jenis tiket di GWK Cultural Park, yaitu Rp 125.000/orang untuk tiket regular, Rp 200.000/orang untuk tiket eat and trip, dan Rp 300.000/orang untuk tiket ultimate yang berkesempatan mendapatkan akses ke lantai 9 dan 23 patung GWK.

Setelah melakukan pembelian tiket, traveler bisa langsung memulai perjalanan di GWK Cultural Park. Disambut dengan kolam air mancur bernama Tirta Amerta, sebagai pintu masuk para pengunjung.

“Untuk pengunjung yang masuk akan disambut dengan kolam air mancur bernama Tirta Amerta, sebagai awal pintu masuk. Ini sesuai dengan kisah Garuda dan Dewa Wisnu,” kata Operation Director GWK Cultural Park, Stefanus Yonathan Astayasa.

Area pertama yang bisa traveler kunjungi adalah Plaza Kura-Kura. Sebuah taman kecil dengan kolam dan pepohonan yang asri, lengkap dengan hiasan patung kura-kura. Terdapat sosok Dewi Laksmi, sang dewi keberuntungan dan kesuburan di tengah kolam. Di kolam ini traveler bisa mencoba melempar koin sambil mengucapkan harapan.

Selanjutnya, traveler bisa menaiki beberapa anak tangga untuk melanjutkan perjalanan ke Plaza Wisnu. Di sini traveler bisa menemukan sebuah Patung Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta. Oke banget untuk jadi spot foto.

Tak hanya itu, di sini terdapat sebuah sumber mata air abadi yang ada di Parahyangan Somaka Giri. Uniknya, meskipun berapa di daerah berkapur dan berada di ketinggian, mata air ini tak pernah surut. Konon mata air ini sudah ada jauh sebelum GWK Cultural Park berdiri.

Sudah selesai mengagumi keajaiban sumber mata air abadi, traveler bisa melanjutkan perjalanan ke Plaza Garuda dengan menuruni beberapa anak tangga. Plaza Garuda menyajikan sebuah patung kepala Garuda yang merupakan tunggangan dari Dewa Wisnu. Ini merupakan salah satu spot foto favorit pengunjung.

Tak jauh dari Plaza Garuda, traveler bisa menemukan bioskop mini bernama Garuda Sineloka. Di sini traveler bisa menyaksikan film animasi yang mengisahkan perjuangan Garuda Cilik untuk mendapatkan Tirta Amerta. Penayangan film dilakukan setiap jam, mulai pukul 10.30 hingga 19.30 WITA.

Dilanjutkan dengan perjalanan menuju ke Patung GWK. Untuk sampai ke Patung GWK traveler harus berjalan kaki atau menyewa buggy. Traveler akan melewati festival park, Lotus Pond, dan Titi Banda, sebuah jembatan yang sip jadi spot foto.

Sesampainya di Patung GWK, bagi traveler yang memiliki tiket Ultimate bisa melanjutkan perjalanan untuk mengeksplor kemegahan patung GWK dengan masuk ke lantai 9 dan lantai 23. Menikmati keindahan Bali dari ketinggian.

Aktivitas yang wajib dilakukan di Patung GWK adalah berfoto dan membuat video di depan patung setinggi 122 meter. Terdapat dua pilihan spot foto, traveler bisa berfoto di depan patung atau di bagian kiri patung.

Menjajal GWK Cultural Park bisa traveler tutup dengan menyaksikan berbagai macam pertunjukan seni yang dilakukan di Amphitheater, Lotus Pond, dan Plaza Wisnu. Di pintu keluar traveler juga akan menemukan Kencana Souvenirs dan ASANA Artseum. Traveler juga bisa bersantap dengan pemandangan sunset di Jendela Bali Restaurant.

Menurut Stefanus, pengunjung rata-rata menghabiskan waktu di GWK Cultural Park selama tiga hingga empat jam untuk bisa mengeksplorasi seluruh area yang ada di taman budaya ini. Bagi traveler yang ingin berkunjung, jangan lupa luangkan waktu untuk menjelajahi setiap sudut GWK Cultural Park ya!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Perbedaan Tari Kecak dengan Tari Bali Lainnya


Jakarta

Tak perlu diragukan lagi, tari kecak merupakan tari yang paling populer di kalangan wisatawan Bali. Tarian ini begitu atraktif meski banyak gerakan yang sebetulnya monoton.

Lantas apakah yang membuat tari ini berbeda dari tari Bali lainnya? Simak perbedaan dan keunikan tari kecak berikut ini. Ketahui juga jenis-jenis tari Bali lainnya untuk mengetahui perbedaannya dengan tari kecak.

Keunikan Tari Kecak

Dirangkum dari buku Keanekaragaman Seni Tari Nusantara oleh Resi Septiana Dewi dan buku Unsur Tari dan Simbolnya, berikut ini 5 keunikan tari kecak yang membedakan dengan tari Bali lainnya:


1. Iringan Musik

Tari kecak berbeda dari tari pada umumnya yang menggunakan iringan musik. Tari kecak tidak diiringi dengan musik dari gamelan atau alat musik tradisional lain, melainkan cuma diiringi suara para penarinya.

Para penari bersuara ‘cak’ secara berulang dan sebagian melantunkan nada-nada tertentu sehingga membentuk musik akapela. Ada juga yang bertindak sebagai dalang untuk membawakan alur cerita.

2. Jumlah Penari

Tari kecak biasanya dimainkan oleh sekitar 50 orang penari. Kebanyakan penari merupakan pengiring cerita sekaligus bersuara ‘cak’ sebagai iringan musik. Mereka duduk melingkar dan memberikan suasana dalam alur cerita.

Sementara beberapa penari bertindak sebagai tokoh dalam cerita, seperti Rama, Sinta, Rahwana, dan Hanuman. Mereka menari dan berperan sesuai alur cerita di tengah-tengah lingkaran.

Jumlah penari ini tak dibatasi. Bahkan pada 1979, tari kecak pernah dimainkan 500 penari. Rekor dipecahkan pada 2006 oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan yang menyelenggarakan kecak kolosal dengan 5 ribu penari.

3. Gerakan

Gerakan tari kecak tidak serumit tari tradisional lainnya. Gerakannya tidak banyak variasi karena kebanyakan hanya menggerakkan lengan ke atas kepala menggoyang-goyangkan telapak tangan.

Gerakannya pun cenderung bebas tanpa pakem-pakem seperti tari lainnya. Gerakan tari kecak mengutamakan alur cerita dan perpaduan dengan suara ‘cak’.

4. Kostum dan Properti

Kostum para penari pengiring sangat sederhana, yakni hanya kain poleng atau kain hitam putih yang digunakan sebagai bawahan dan tanpa mengenakan baju. Mereka juga mengenakan setangkai bunga yang disematkan di telinga.

Sementara para penari yang menjadi tokoh, mereka mengenakan kostum sesuai tokohnya, misalnya Rahwana mengenakan topeng raksasa atau Hanuman mengenakan kostum kera.

Ada beberapa properti digunakan dalam tari kecak, antara lain bara api, bunga kamboja, gelang kerincing, selendang hitam putih, dan tempat sesajen yang membuat nuansa terasa sakral dan mistis.

5. Drama yang Dimainkan

Setiap tari biasanya memiliki cerita yang dimainkan. Tari kecak mengisahkan cerita Ramayana. Kisahnya mengenai Rama dan Hanuman yang berusaha membebaskan Dewi Sinta dari tangan Rahwana. Cerita ini juga dimainkan dalam Sendratari Ramayana di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Jenis-jenis Tarian Bali

Dikutip dari situs ISI Denpasar, jenis tarian Bali dibedakan menjadi tiga berdasarkan fungsinya, yakni:

1. Tari Wali

Tari wali disebut juga tari sakral, yakni berfungsi sebagai pelengkap tata cara dalam upacara keagamaan. Tari ini biasanya dilakukan di pura-pura dan tempat-tempat yang berhubungan dengan upacara keagamaan.

Tari ini tidak memakai lakon alias tidak bercerita. Contoh tari wali antara lain tari rejang dan tari pendet.

2. Tari Bebali

Tari bebali sering digunakan sebagai tari seremonial, tetapi juga bisa digunakan sebagai pengiring upacara atau upakara di pura maupun di luar pura. Tari ini umumnya memakai lakon, contohnya drama tari, tari topeng, tari arja.

3. Tari Bali-balian

Tari bali-balian termasuk seni hiburan karena tidak termasuk tari wali maupun tari bebali. Tari ini dibuat dengan unsur dan dasar tari yang luhur. Contohnya adalah tari kecak, legong keraton, dan tari joged.

9 Tarian Bali yang Terkenal

Untuk mengetahui perbedaan tari kecak dengan tari Bali lainnya, simak 9 tari Bali berikut ini, dikutip dari situs Perumda Kerthi Bali Santhi:

1. Tari Pendet

Tari pendet melambangkan turunnya dewa-dewi ke bumi. Tari ini biasanya dipentaskan lima orang penari wanita atau lebih. Para penari mengenakan pakaian adat dan membawa bokor atau canang sari berisi bunga. Tari ini umumnya dipentaskan di halaman pura menghadap ke sebuah palinggih, tempat bhatara dan bhatari diistanakan.

2. Tari Barong

Tari barong ada berbagai macam, seperti barong macan, barong asu, barong bangkal, dan barong gajah. Tari ini menggambarkan pertentangan antara kejahatan dan kebajikan.

Tari barong memiliki unsur komedi, biasanya dibawakan dua penari laki-laki. Satu penari mengendalikan kepala kostum dan satu lainnya mengendalikan ekor.

3. Tari Legong

Tari legong berasal dari kata ‘leg’ (gerak tari yang luwes) dan ‘gong’ (gamelan). Tarian ini menekankan kelenturan dan keluwesan penarinya, diiringi dengan Gamelan Semar Pegulingan.

Penari wanita menggunakan kipas sebagai atribut utama. Dulunya, tari ini hanya dapat dinikmati oleh kalangan bangsawan di keraton, namun kini dapat dinikmati siapa saja.

4. Tari Baris

Awalnya, tari baris berfungsi untuk ritual upacara keagamaan, tetapi kini digunakan sebagai hiburan bagi wisatawan di Bali. Tari baris menggambarkan kepahlawanan, menunjukkan keahlian dan keberanian seorang prajurit dalam menggunakan senjata perang.

5. Tari Puspanjali

Tari puspanjali berasal dari kata ‘puspa’ dan ‘anjali’ yang masing-masing berarti ‘bunga’ dan ‘menghormati’. Tari ini biasa digunakan untuk penyambutan tamu sebagai tanda penghormatan kepada mereka lewat simbol sekuntum bunga.

6. Tari Janger

Tari janger dibawakan oleh 10 penari muda-mudi Bali yang berpasangan. Gerakannya sederhana namun ceria dan bersemangat. Penari terdiri dari kelompok putra (kecak) dan kelompok putri (janger) yang saling berpasangan sambil bernyanyi lagu janger secara bersahut-sahutan.

7. Tari Bumbung atau Joged Bumbung

Tari atau joged bumbung adalah tarian hiburan tradisional Bali yang sering ditampilkan pada acara-acara seperti pernikahan, perayaan pascapanen, dan hari raya. Tarian ini dibawakan oleh seorang penari perempuan, yang kemudian akan memilih seorang penonton pria untuk diajak menari bersama, yang disebut ‘ngibing’.

8. Tari Gambuh

Tari gambuh memadukan unsur seni tabuh, dialog, sastra, rupa, dan rias, sehingga bisa dikatakan menyerupai teater. Tari ini dibawakan oleh 25 hingga 40 penari pria dan wanita, termasuk penari lanjut usia.

9. Tari Topeng Sidakarya

Tari topeng sidakarya biasanya ditampilkan di akhir sebuah acara sebagai tanda penutup. Tarian ini termasuk dalam kategori seni pertunjukan sakral dari Bali. Alur ceritanya bervariasi, disesuaikan dengan upacara yang digelar.

Nah, sudah tahu kan bedanya tari kecak dengan tari Bali lainnya? Kalau detikers ingin menyaksikan tari kecak, bisa datang ke beberapa lokasi, antara lain Pura Luhur Uluwatu dan Garuda Wisnu Kencana (GWK).

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Megahnya Monumen Reog Ponorogo, Lebih Tinggi dari GWK



Jakarta

Monumen dan Museum Reog Ponorogo hampir rampung. Monumen setinggi 126 meter itu kini sudah terlihat kemegahannya dan sudah menjadi magnet wisata di Ponorogo.

Ketinggian Monumen Reog Ponorogo mengalahkan patung Garuda Wisnu Kencana yang mencapai 121 meter.

Pembangunan monumen Reog Ponorogo sebagai lanjutan momentum dari ditetapkannya Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO pada 3 Desember 2024 lalu di Asunción, Paraguay.


Pengakuan ini tidak hanya mengukuhkan Reog Ponorogo sebagai bagian dari warisan budaya dunia yang perlu dilestarikan, tetapi juga membuka peluang besar untuk mempromosikan Ponorogo sebagai destinasi wisata unggulan.

Pembangunan monumen tersebut akan didanai melalui skema pembiayaan Kerja Sama Pemerintah Daerah dan Badan Usaha (KPDBU) dan diharapkan akan menjadi pusat atraksi wisata yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Saya berharap kita semua, kementerian, lembaga, pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, masyarakat, bisa menghidupkan tempat ini menjadi ekosistem budaya, kantong budaya yang akan hidup dinamis, termasuk menghidupkan perekonomian budaya di sekitar museum. Saya kira ini menjadi ikon yang penting tidak hanya bagi Ponorogo tapi juga bagi dunia,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon beberapa waktu lalu.

Fadli juga memberi apresiasi khusus kepada Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko atas inisiatif membangun monumen megah ini. Ia menilai langkah ini menjadi terobosan budaya besar, apalagi Reog Ponorogo sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia.

“Kehadiran monumen yang megah ini bahkan tingginya 126 meter, lebih tinggi dari Garuda Wisnu Kencana. Ini akan menjadi ekosistem yang baik sehingga di lingkungan sekitar monumen, bahkan Ponorogo dan kabupaten/kota sekitarnya di Jawa Timur bisa menjadi destinasi wisata dan kuliner, tentu menghidupkan ekonomi budaya di Ponorogo,” kata Fadli.

Ia menambahkan, monumen ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain untuk berani membuat terobosan demi kemajuan kebudayaan.

“Ini menjadi gotong royong semua pihak. Kalau sudah jadi semua, akan tumbuh menjadi wilayah yang banyak didatangi masyarakat luar Ponorogo maupun internasional yang ingin melihat Reog,” imbuh Fadli.

(ddn/upd)



Sumber : travel.detik.com