Tag Archives: geopark ciletuh

Curug Sodong Sukabumi, Pesona Air Terjun Kembar di Geopark Ciletuh


Jakarta

Curug Sodong Sukabumi adalah wisata alam yang berada di kawasan Geopark Ciletuh, Jawa Barat. Air terjun ini setinggi 20 meter ini unik karena memiliki dua aliran yang berdampingan di satu lokasi.

Geopark Ciletuh telah menjadi situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2015. Selain pemandangannya yang mempesona, ada beberapa daya tarik yang membuat traveler wajib datang ke Curug Sodong Sukabumi.

Daya Tarik Curug Sodong Sukabumi

Berikut ini beberapa daya tarik dari Curug Sodong:


1. Air Terjun Kembar

Curug Sodong Sukabumi memiliki keunikan yang tidak banyak dimiliki air terjun lain. Curug ini memiliki dua aliran air terjun yang berdampingan, sehingga sering disebut sebagai curug kembar. Aliran keduanya ada kadang sama-sama deras, meski tak jarang salah satunya mengalir lebih lambat.

2. Sejarah Bongkahan Batu

Aliran dua air terjun tersebut dipisahkan bongkahan batu yang sangat kokoh. Dalam mitosnya, seperti ditulis detikJabar, batu ini jangan sampai jatuh karena air laut (Samudera Hindia) berisiko naik ke darat.

Panel informasi di lokasi Curug Sodong Sukabumi menjelaskan mitos ini secara geologis. Batu yang memisahkan aliran curug kemungkinan bisa jatuh karena gempa yang besar. Gempa inilah yang berisiko mengakibatkan air laut naik ke darat menjadi tsunami.

3. Pemandangan Air Terjun Lain

Curug Sodong Sukabumi menyediakan bonus bagi para pengunjung. Mereka tidak hanya menikmati keindahan air terjun tersebut, tapi juga bentang alam serupa di sekitarnya. Kedua air terjun tersebut adalah Curug Cikanteh dan Curug Ciateul.

4. Akses Mudah

Salah satu alasan wisatawan banyak memilih Curug Sodong Sukabumi adalah aksesnya yang mudah. Pengunjung bisa membawa kendaraan hingga dekat dengan air terjun. Selanjutnya, wisatawan bisa langsung melihat pemandangan Curug Sodong Sukabumi dari tempat parkir.

5. Fasilitas Lengkap

Fasilitas di Curug Sodong Sukabumi semakin lengkap setelah mendapat suntikan dana Rp 7 Miliar dari anggaran pemulihan ekonomi nasional tahun 2021. Beberapa fasilitasnya yaitu:

  • Area parkir luas
  • Mushola
  • Gazebo
  • Toilet
  • Homestay
  • Amfiteater

Harga Tiket Masuk, Lokasi, dan Jam Buka

Bagi detikers yang tertarik mengunjungi Curug Sodong Sukabumi, berikut informasi detailnya

Harga Tiket Masuk

Untuk masuk ke Curug Sodong Sukabumi, harga tiket masuknya adalah Rp 5 ribu per orang. Namun, informasi lain menyatakan harga tiket masuk Curug Sodong Sukabumi adalah Rp 12 ribu untuk dewasa. Sedangkan untuk anak-anak adalah Rp 7 ribu dan Rp 12 ribu bagi pengunjung yang akan berkemah.

Lokasi

Curug Sodong berada di Kompleks Geopark Ciletuh, Ciemas, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jaraknya Curug Sodong Sukabumi sekitar 45 km yang dapat ditempuh sekitar 1,5 jam dari pusat kota.

Jam Buka

Tempat wisata Curug Sodong Sukabumi buka setiap hari pada pukul 08.00-16.00 WIB. Namun untuk wisatawan yang berkemah atau camping, Curug Sodong Sukabumi dibuka setiap saat (24 jam).

Nah, itulah tadi informasi lengkap mengenai Curug Sodong Sukabumi, lengkap dengan daya tarik, tiket masuk, lokasi, dan jam bukanya. Sebelum berkunjung, jangan lupa mengupdate informasi sehingga bisa berwisata dengan aman dan nyaman.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Menikmati Indahnya Alam dari Puncak Darma, Cocok untuk Healing


Jakarta

Sukabumi memiliki sejumlah tempat wisata alam yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Puncak Darma. Dari atas bukit ini, detikers bisa menikmati pemandangan alam yang begitu indah.

Puncak Darma merupakan salah satu dataran tertinggi di kawasan Geopark Ciletuh. Ada daya tarik tersendiri bagi para wisatawan sehingga menyempatkan diri untuk mampir ke Puncak Darma.

Selain itu, ada berbagai aktivitas seru lainnya selama di Puncak Darma. Penasaran? Simak ulasannya dalam artikel ini.


Daya Tarik Puncak Darma

Daya tarik utama dari Puncak Darma adalah memiliki view yang menakjubkan. Dari atas puncak, travelers dapat menikmati pemandangan alam yang indah. Apalagi jika datang saat cuaca sedang cerah, kamu bisa melihat hamparan laut, pantai, dan kawasan Geopark Ciletuh dari ketinggian.

Alhasil, tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat. Ada yang ingin beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan jauh atau sekadar healing untuk melepas penat.

Puncak Darma Ciemas Geopark Ciletuh Sukabumi.View dari Puncak Darma (dok. Dispar Kabupaten Sukabumi)

Cuaca yang cerah juga dimanfaatkan banyak wisatawan untuk berfoto-foto. Salah satu spot foto yang ramai dikunjungi adalah kapal nelayan, sehingga membuatmu seolah-olah berlayar di atas awan. Kalau sudah sore, travelers dapat melihat detik-detik matahari terbenam dari atas Puncak Darma.

Jangan takut kelaparan atau kehausan, karena di sekitar Puncak Darma ada banyak warung yang menjual snack dan minuman, mulai dari kopi, es kelapa, buah-buahan, hingga mi instan rebus atau goreng. Harganya juga cukup terjangkau, sehingga cocok untuk mengganjal perut.

Kalau travelers merasa lelah usai menempuh perjalanan jauh, tenang saja karena di sekitar Puncak Darma terdapat sejumlah penginapan dengan harga cukup terjangkau.

Puncak Darma memang cocok untuk kamu yang ingin menikmati keindahan alam. Apalagi setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari Jakarta, rasa lelah langsung dibayar lunas saat tiba di tempat ini.

Fasilitas Umum di Puncak Darma

Seiring banyaknya wisatawan yang datang, fasilitas umum di Puncak Darma juga ditingkatkan demi memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Mengutip akun resmi Facebook Puncak Darma Ciletuh, berikut fasilitas umum yang tersedia:

  • Tempat parkir
  • Toilet
  • Mushola
  • Warung
  • Kafe dengan view yang indah
  • Sejumlah spot foto yang Instagramable.

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk ke Puncak Darma

Puncak Darma buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Disarankan datang sejak pagi jika ingin menikmati udara segar atau menjelang sore jika mau melihat sunset.

Untuk harga tiket masuk ke Puncak Darma dipatok sebesar Rp 5.000 per orang. Jika kamu membawa kendaraan seperti mobil atau sepeda motor, dikenakan tarif parkir mulai dari Rp 2.000.

Lokasi Puncak Darma

Puncak Darma merupakan tempat wisata yang berada di Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dari area tempat parkir menuju Puncak Darma tak begitu jauh, sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki sedikit.

Namun, travelers harus hati-hati selama perjalanan menuju Puncak Darma. Soalnya, jalur yang dilalui cukup ekstrim karena melewati tanjakan dan turunan curam. Pastikan kendaraan dalam kondisi baik sebelum pergi ke Puncak Darma.

Tak hanya soal kendaraan, namun fisik pengendaranya juga harus prima. Sebab, perjalanan dari Kota Sukabumi menuju Puncak Darma bisa memakan waktu sekitar 2-3 jam. Ingat, kalau travelers sudah merasa lelah jangan dipaksakan, sebaiknya istirahat sejenak untuk meregangkan badan.

Demikian ulasan singkat mengenai Puncak Darma. Tertarik untuk berkunjung ke sini saat liburan?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Goa Purba di Pulau Kunti dan Mitos Anti Jomlo



Sukabumi

Di Pulau Kunti, Geopark Ciletuh ada sebuah goa yang dipercaya bisa mendatangkan jodoh. Goa ini memang sudah lama lekat dengan mitos anti jomlo.

Ombak sore itu datang berulang, memukul sisi perahu kayu yang perlahan mendekati tebing. Anginnya membawa aroma asin dan suara serak burung laut yang melintas rendah.

Dari jauh, tampak rongga hitam di dinding batu mulut gua yang terbuka menghadap laut. Orang-orang di sini menyebutnya Gua Anti Jomblo.


Saman, pemandu wisata lokal yang mengantar ke lokasi tersebut, berdiri di haluan sambil menunjuk ke arah tebing.

“Nah, ke sebelah sananya lagi, ada namanya gua purba Pulau Kunti,” ujarnya, suaranya setengah tenggelam oleh deru ombak, Minggu (5/10).

“Usianya 60 juta tahun, terbentuk dari gunung bibir pantai yang dihantam terus sama gelombang laut, akhirnya ada proposal ke dalam 15 meter, tingginya 9 meter,” katanya menambahkan, matanya tak lepas dari dinding batu di kejauhan.

Ia diam sebentar sebelum menambahkan. “Di dalam gua itu tidak ditemukan batuan selektif atau salak mid karena gua kering, cuman di sini ada mitos siapa aja yang masuk ke gua purba Pulau Kunti, pulangnya suka cepat dapat jodoh katanya,” tuturnya pelan, lalu tertawa kecil. “ini baru mitos,” lirihnya.

Angin sore menampar lembut wajah, sementara sinar matahari jatuh miring ke mulut gua yang tampak keemasan di bawah cahaya senja.

Saman tersenyum kecil sebelum melanjutkan penjelasannya, tangannya menepuk haluan perahu yang basah oleh percikan air.

“Ya setahu saya itu kalau misalkan punten dalam artian yang punya keyakinan, kayaknya saya sering mengantar yang seperti itu, mungkin keyakinannya seperti itu” ujarnya pelan, berhati-hati memberikan penjelasan.

“Cuman kalau yang lain biasanya dia hanya berdoa tapi bukan minta ke batu atau ke gua tapi mintanya ke pemilik batu atau gua, yang setahu saya, memang kalau uang meyakini memang seperti itu, dilaksanakan ritual di sana,” katanya menutup penjelasan.

Cerita soal Gua Anti Jomblo kemudian diperkaya oleh Piat Supriatna, petugas Balawista yang juga Geopark Ranger dari Badan Pengelola Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.

“Ok saya ceritakan dari awal dulu prosesnya, takutnya ada sedikit ini mispersepsi juga dari masyarakat, khususnya pengunjung,” ujarnya membuka percakapan.

Goa Itu Sudah Berusia Jutaan Tahun

“Sebenarnya ini ada gua Pulau Kunti, gua tersebut itu sebetulnya secara ilmiah terbentuknya oleh abrasi laut selama jutaan tahun. Sebenarnya ini kan daratan yang terangkai di dasar samudra ke permukaan nih, dan itu kan ketika terbentuk ke permukaan bebatuan tersebut atau bukit itu belum terbentuk gua sebelumnya dulunya,” tuturnya.

Piat berbicara sambil menatap jauh ke laut, suaranya tenang.

“Nah, selama jutaan tahun tergerus oleh abrasi laut, sehingga terkikis, terbentuklah gua. Makanya gua tersebut disebut Pulau Kunti karena ketika dihantam gelombang setinggi lima meter atau musim badai menggema seperti orang tertawa maka dibilanglah Pulau Kunti,” kisahnya.

Mitos Anti Jomlo

Ia lalu tersenyum kecil, soal gua yang kemudian dikenal dengan nama Gua Anti Jomblo.

“Nah ada cerita dari masyarakat sekitar sini, Pulau Kunti ini banyak yang cerita bahwa bisa dikatakan nih gua jomblo, bisa dikatakan dalam arti jika masuk ke sana katanya bisa punya, dapat pasangan,” katanya sambil mengangkat bahu.

Piat sempat terdiam, menatap ke laut yang mulai memantulkan warna keemasan sore.

“Sebenernya kalau sekarang banyak orang lebih ke modernisasi, tapi ada saja, sampai saat ini,” ujarnya pelan,

“Tapi itu dulu saya sempat ke sana, banyak ditemukan orang simpan sesajen itu kan, ada seperti dupa itu menemukan, tapi sampai saat ini, walaupun karena sudah modernisasi masih ada orang percaya akan hal itu,” katanya menutup pembicaraan.

——-

Artikel ini telah naik detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com