Tag Archives: gianyar

Paket Lengkap! Restoran di Gunung Kawi Punya Wisata, Ayunan, dan View Sawah



Gianyar

Di Pura Gunung Kawi ada satu restoran cantik, lengkap dengan atraksi wisata yang seru dan pemandangan sawah yang memanjakan mata. Namanya Green Carik.

Untuk traveler yang sedang berlibur ke Bali dan jalan-jalan ke Pura Gunung Kawi, Green Carik adalah spot yang sip untuk beristirahat saat sudah lelah menaiki tangga. Tak hanya bisa menghilangkan lapar dan haus, di restoran satu ini traveler bisa sekaligus bermain dan cuci mata.

Komang, manager Green Carik, menyebut restoran ini memiliki konsep yang berbeda dari restoran lainnya. Tak hanya menyajikan pemandangan sawah yang hijau, tapi restoran ini mempunyai wahana permainan.

Sambil menyantap makanan yang lezat traveler bisa menikmati pemandangan hamparan sawah yang indah. Traveler pun dapat mencoba beberapa wahana, yaitu zipline dan swing.

“Ini namanya Green Carik, kita ada wahana plus restorannya. Kebetulan wahananya itu lagi booming di Bali yaitu swing dan zipline yang konsepnya beda dari yang lain,” katanya.

Menu-menu di Green Carik dan Harganya

Bagi traveler yang sedang berlibur ke Pura Gunung Kawi dan ingin mengisi waktu istirahat sambil cuci mata dengan pemandangan yang indah, Green Carik menjadi pilihan yang sip. Menu makanan di sini mulai dari menu lokal hingga western yang siap mengisi perut traveler.

Untuk menu andalan yang wajib traveler cicipi di sini adalah pizza spesial ala Green Carik. Menu spesial yang dibuat langsung dengan resep dari chef restoran Green Carik. Untuk mencicipi menu spesial di sini, traveler hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 33 ribu – Rp 85 ribu.

Traveler yang pecinta minuman sehat, Green Carik menyediakan jamu detoks yang menjadi favorit para pengunjung. Es kelapa muda juga menjadi minuman yang wajib traveler cicipi terlebih ketika cuaca panas. Untuk menu minuman traveler hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu – Rp 60 ribu.


Wahana Menarik di Green Carik

Tak hanya mencicipi makanan yang lezat, traveler wajib mencoba beberapa wahana menarik yang ada di Green Carik.

1. Green Carik Zipline Adventure

Wahana ini termasuk salah satu zipline terlengkap di Bali. Traveler bisa mencoba 8 bagian dalam permainan zipline ini. Tak perlu khawatir, Green Carik Zipline Adventure dibangun oleh professional. Tak perlu khawatir Green Carik sudah menggunakan peralatan yang berstandar internasional, jadi aman ya traveler!

Untuk mencoba Green Carik Zipline Adventure dikenakan biaya sebesar Rp 300 ribu dengan durasi bermain sepuasnya.

2. Green Carik Bali Swing

Pemandangan hamparan sawah akan lebih lengkap bila dinikmati dan diabadikan di atas ayunan raksasa. Green Carik Bali Swing menyajikan pengalaman untuk traveler bermain ayunan di atas ketinggian dengan pemandangan persawahan dan tebing-tebing sungai.

Tak hanya bermain swing, traveler bisa langsung mengabadikan momen dengan latar belakang pemandangan yang indah. Untuk mencoba Green Carik Bali Swing traveler dikenakan biaya sebesar Rp 200 ribu, sudah include dengan dress dan fotografer. Durasi bermain selama 8 menit dengan kesempatan 2 kali main.

3. Green Carik Trekking

Bagi traveler pecinta trekking, Green Carik juga menyediakan pengalaman trekking di tengah hamparan sawah hingga mencapai Pura Gunung Kawi. Traveler akan dimanjakan oleh pemandangan yang indah. Lelah pun tak akan terasa.

Untuk mencoba pengalaman ini traveler dikenakan biaya sebesar Rp 500 ribu. Biaya ini sudah include wahana dan lunch. Trekking akan dimulai dari pasar tradisional, sekolah, kunjungan ke Pura Gunung Kawi, dan irigasi sawah. Bagi traveler yang ingin mencoba trekking wajib meluangkan waktu satu hari karena akan mengunjungi banyak tempat.

4. Green Carik Selfie Spot

Tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Green Carik namun tak mengabadikan momen di beberapa spot foto yang cantik. Di sini terdapat beberapa spot foto seperti bird nest, hanging bed, dan heart. Untuk traveler yang sudah membayar biaya pada wahana zipline dan swing dapat mencoba selfie spot secara gratis.

Lokasi dan Jam Operasional Green Carik

Green Carik berlokasi di Jalan Pura Gunung Kawi, Banjar Penaka, Tampaksiring, Gianyar. Restoran ini terletak di tepi jalan tangga menuju spot Pura Gunung Kawi, jadi cocok untuk traveler yang ingin beristirahat sejenak setelah lelah trekking ke Pura Gunung Kawi. Green Carik buka setiap hari mulai pukul 09.00 – 17.00 WITA.

Penasaran dengan keindahan Green Carik? Bagi traveler yang berkunjung ke Pura Gunung Kawi jangan lupa mampir ke Green Carik. Paket lengkap, tak hanya menu makanan yang lezat, tapi ada wahana dan pemandangan yang memikat mata.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cara Lain Menikmati Bali: Berkuda Seperti Artis



Jakarta

Di balik pesona alam tropis dan kehidupan budaya yang luar biasa, Bali juga menawarkan olahraga rekreatif di alam terbuka. Aktivitas berkuda bisa menjadi pilihan para pelancong yang ingin menikmati keindahan alam sembari berolahraga.

Salah satu tempat berkuda di Bali yaitu Bali Horse Riding. Bali Horse Riding berdiri sejak tahun 2000 yang berlokasi di Pantai Saba, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Tempat berkuda ini dirintis oleh I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha.

Pada awalnya, perempuan berusia 47 tahun itu merintis bisnis wisata berkuda berkolaborasi dengan temannya. Lokasi berkuda berada di Tabanan, tepatnya di Pantai Yeh Gangga.


“Ya memang waktu itu saya belajar untuk pertama kali berkolaborasi atau joint venture,” terang Inda kepada detikBali beberapa waktu lalu.

Namun seiring berjalannya waktu, Inda memutuskan untuk menjalankan bisnis tersebut sendiri dan berpindah lokasi di Pantai Saba. Ia membangun bisnis wisata berkuda karena ingin menambahkan aktivitas olahraga di pantai yang jarang dijumpai.

“Kalau orang ke pantai berenang, berjemur, itu kan udah biasa. Tapi kan kami pengen menambahkan sebuah aktivitas sport di sana,” ungkapnya.

Bali Horse Riding memiliki dua pilihan durasi berkuda, yaitu short ride selama 1 jam dengan harga Rp 795.000/orang (dewasa), Rp 585.000 (anak), dan Rp 2.590.000 (paket keluarga). Lalu paket full ride selama 1,5 jam dengan harga Rp 995.000/orang (dewasa), Rp 795.000/orang (anak), dan Rp 3.220.000 (paket keluarga).

Suasana berkuda di Bali Horse Riding, Pantai Saba, Gianyar, Bali, beberapa waktu lalu. (Indah Dwi Hastuti-detikBali)Suasana berkuda di Bali Horse Riding, Pantai Saba, Gianyar, Bali, beberapa waktu lalu. (Indah Dwi Hastuti-detikBali) Foto: Suasana berkuda di Bali Horse Riding, Pantai Saba, Gianyar, Bali, beberapa waktu lalu. (Indah Dwi Hastuti-detikBali)

Selain itu, ada juga pilihan paket berkuda saat matahari terbit, pemotretan (photoshoot), pelatihan berkuda anak-anak, pesta ulang tahun, dan paket petualangan penuh untuk satu hari.

Terdapat tiga tingkatan level berkuda di Bali Horse Riding, yaitu beginner (pemula), intermediate (menengah), dan experience (berpengalaman). Setiap tingkatan level akan mendapatkan perlakuan pendampingan yang berbeda-beda.

Sementara itu, Manager Personal Bali Horse Riding Sumianto menerangkan peraturan berkuda yang harus diperhatikan oleh pengunjung yaitu berat badan maksimal 90 kilogram (kg).

Untuk memastikan keamanan pengunjung, Bali Horse Riding memfasilitasi helm berkuda dan pemandu untuk mendampingi pengunjung selama berkuda. Selain itu, sebelum mulai berkuda akan diberikan arahan terlebih dahulu oleh pemandu.

“Groom (pemandu) enam orang yang ahli untuk mendampingi dan memberi arahan kepada pengunjung,” terang Sumianto.

Sumianto menuturkan saat ini kuda yang terdapat di Bali Horse Riding sebanyak 14 ekor. Jenisnya yaitu Generasi 5 (G5) dan Generasi 6 (G6) campuran Australia.

Pengunjung yang datang ke Bali Horse Riding didominasi oleh wisatawan mancanegara dengan persentase sekitar 80 persen turis asing dan 20 persen wisatawan lokal. Rata-rata kunjungan wisatawan di Bali Horse Riding setiap bulannya berbeda-beda, bergantung pada musim liburan atau tidaknya.

“Untuk high season biasanya per bulan sekitar 700-an orang, kalau low season mungkin 350-an orang,” jelas Sumianto.

Sejumlah artis papan atas juga pernah berolahraga santai menunggangi kuda di Bali Horse Riding ini. Misalnya Zaskia Sungkar, Shireen Sungkar, Rizky Billar, Ashanty, Aurel Hermansyah, Feni Rose, Franky Sihombing, dan lainnya.

Salah satu pelancong yang pelesiran dengan berkuda adalah Agata Lonia Mashabela. Turis asal Afrika Selatan ini mengatakan baru pertama ke Bali dan menyempatkan untuk mencoba berkuda di Bali Horse Riding.

Agata baru pertama kali mencoba menunggangi kuda sembari berkeliling menikmati indahnya pantai di Bali. “Ya, ini pengalaman pertamaku mencoba berkuda dan itu sangat menyenangkan,” tutur perempuan berusia 31 itu.

Ia memilih paket berkuda short ride dan menurutnya harganya sangat sepadan dengan pengalaman dan kesenangan yang didapat.

Artikel ini telah tayang di detikBali

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Bosan ke Pantai? Ini Air Terjun Tersembunyi di Bali yang Cantik



Gianyar

Liburan ke Bali, tapi bosan ke pantai? Traveler bisa bertualang mencari air terjun Ulu Petanu yang cantik tapi tersembunyi di Gianyar.

Selain pantainya, Bali juga punya banyak air terjun cantik dan menarik. Salah satunya adalah Air Terjun Ulu Petanu.

Tersembunyi di wilayah Gianyar, Air Terjun Ulu Petanu menawarkan pengalaman yang memukau bagi traveler yang menginginkan kedamaian dan keajaiban alam yang otentik.


Air Terjun Ulu Petanu merupakan air terjun yang baru saja dibuka di kawasan Tegallalang, Gianyar. Meski baru dibuka, namun air terjun ini sudah mulai ramai oleh pengunjung.

Air terjun yang dikelilingi oleh hutan yang lebat ini membuat pemandangan di sekitar destinasi ini tampak sangat menakjubkan.

Objek wisata ini merupakan pengembangan yang dilakukan oleh Desa Kedisan untuk pendapatan asli desa. Tak hanya itu, di sekitaran Ulu Petanu banyak terdapat peninggalan bersejarah yang sudah ada sejak masa kepemimpinan Sri Astasura Bumi Banten.

Air terjun yang jernih dengan pemandangan bebatuan besar di sekitar air terjun menjadi salah satu daya tarik destinasi wisata ini. Tak hanya itu, pepohonan hijau juga ikut menghiasi sekitaran Air Terjun Ulu Petanu.

Cara Menuju ke Ulu Petanu

Air Terjun Ulu Petanu terletak di Manik Sawang, Jalan Raya Bayad, Kedisan, Tegallalang, Gianyar, Bali. Jika Anda berangkat dari Pusat Kota Denpasar, akan memakan waktu sekitar 1 jam 15 menit menggunakan kendaraan roda dua untuk menuju Air Terjun Ulu Petanu.

Fasilitas di Air Terjun Ulu Petanu

Adapun beberapa fasilitas yang disediakan oleh pihak pengelola wisata Air Terjun Ulu Petanu yang dapat traveler gunakan:

– Area parkir kendaraan roda dua dan empat yang luas

– Gazebo atau pondok untuk beristirahat dan bersantai

– Warung makan

– Toilet umum yang bersih

Harga Tiket Masuk

Untuk menikmati keindahan Air Terjun Ulu Petanu, traveler akan dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 20 ribu per orang.

Jangan lupa untuk memanjakan diri dengan berendam atau berenang di sejuknya air terjun ini. Berendam sembari menikmati pemandangan sekitar air terjun, dan diiringi suara air yang jatuh adalah pengalaman yang tak akan traveler terlupakan.

—–

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

5 Tips Sebelum Berkunjung ke Bali Zoo, Destinasi Favorit Keluarga di Bali



Jakarta

Bali Zoo adalah salah satu taman satwa paling populer di Bali yang menawarkan pengalaman wisata edukatif sekaligus menyenangkan. Terletak di Gianyar, Bali, Bali Zoo menjadi destinasi favorit keluarga yang ingin mengenal lebih dekat berbagai macam satwa dari seluruh dunia.

Tidak hanya melihat beragam hewan, pengunjung juga bisa merasakan pengalaman seru seperti Elephant Expedition, di mana kamu bisa berinteraksi langsung dengan gajah sambil menjelajahi Bali Zoo.

Agar kunjunganmu ke Bali Zoo semakin seru dan nyaman, berikut 5 tips yang bisa kamu ikuti!

1. Pakai Pakaian yang Nyaman

Saat berkunjung ke taman satwa Bali, kamu akan banyak berjalan-jalan di area terbuka. Kenakan pakaian yang ringan dan nyaman, seperti kaos dan celana pendek, serta sepatu yang cocok untuk berjalan jauh. Jangan lupa bawa topi dan kacamata hitam untuk melindungi diri dari terik matahari!


2. Bawa Sunblock dan Air Minum

Cuaca di Bali bisa cukup panas, jadi pastikan kamu membawa sunblock untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Selain itu, bawa juga air minum sendiri agar tetap terhidrasi sepanjang perjalanan mengelilingi Bali Zoo.

3. Datang Lebih Awal

Agar kamu bisa menikmati semua atraksi dan aktivitas yang ada, usahakan datang lebih awal. Bali Zoo memiliki berbagai pertunjukan satwa yang diadakan pada waktu tertentu. Dengan datang pagi, kamu punya kesempatan lebih banyak untuk mengikuti setiap acara tanpa terburu-buru.

4. Coba Elephant Expedition

Selain melihat satwa dari jarak dekat, jangan lewatkan Elephant Expedition, salah satu atraksi andalan di Bali Zoo. Kamu bisa menaiki gajah dan menjelajahi area khusus sambil berinteraksi langsung dengan hewan besar ini. Pastikan untuk mencoba pengalaman unik ini bersama keluarga!

5. Beli Tiket Secara Online

Untuk menghindari antrean panjang, disarankan untuk membeli tiket masuk Bali Zoo secara online. Dengan begitu, kamu bisa lebih santai dan langsung menikmati keseruan di dalam taman. Kamu bisa membeli tiket dengan mudah di detikevent.

Dengan mempersiapkan semua kebutuhan sebelum berkunjung ke Bali Zoo, pengalaman liburanmu bersama keluarga pasti akan semakin menyenangkan dan tak terlupakan.

Ikuti tips-tips di atas agar perjalananmu lebih nyaman dan penuh keseruan. Jangan lupa, beli tiket secara online di detikevent untuk menghemat waktu dan menikmati Bali Zoo tanpa antre! Beli tiketnya sekarang juga di sini!

(ddn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ini Tempat untuk Melukat Tanpa Busana di Bali



Gianyar

Banyak wisatawan sengaja datang ke Bali untuk mengikuti prosesi Melukat. Berikut tempat melukat di Gianyar, Bali yang mewajibkan pesertanya tanpa busana.

Berkunjung ke Bali, tak luput dari wisata spiritualitas. Wisatawan asing maupun domestik biasanya memilih melukat (pembersihan diri) yang belakangan menjadi tren.

Banyak lokasi di Bali yang bisa dipakai oleh wisatawan untuk melukat. Namun, pernahkah traveler terbayang untuk melukat di tanpa sehelai kain pun?


Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, akan memberikan pengalaman melukat yang berbeda. Bagian dari Pura Telaga Waja ini dibangun pada abad ke-10 masehi dan hanya pernah sekali direnovasi sekitar tahun 1990-an.

Nuansa alam di sini sangat kental dengan perpaduan pepohonan rimbun, gemericik air pancuran, suara burung, hingga aliran sungai di dekat lokasi.

Apabila beruntung, pemedek (pengunjung tempat peribadatan) bisa bertemu dengan monyet-monyet yang terkadang mencari makan di antara pepohonan.

Selain alam, nilai sejarah yang tinggi nampaknya mendorong minat pemedek untuk melukat di lokasi spiritual tersebut. Diketahui bahwa selama ratusan tahun sudah menjadi tempat pertapaan.

Tercatat dalam naskah Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada abad ke-13 Masehi, lokasi tersebut dinamai Pusat Pertapaan Talaga Dhwaja.

Bahkan, dikatakan Dang Hyang Dwijendra dan Patih Kebo Iwa pernah melakukan pertapaan dan penglukatan di lokasi yang bisa ditempuh selama 25 menit dari pusat Kota Gianyar tersebut.

Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali. (Ni Komang Ayu Leona Wirawan)Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali. (Ni Komang Ayu Leona Wirawan)

Bekas telapak kaki Kebo Iwa juga pernah ada pada salah satu batu padas telaga (kolam). Namun, kini menghilang akibat pengikisan. Tiap telaga dinamai Siwa dan Buddha sesuai ajaran Siwa Buddha yang dahulu ada dan dianut.

Jejak sejarah lainnya dapat dilihat dari adanya relief menyerupai huruf H pada pintu masuk menuju beji yang sekaligus berada di lokasi bekas peserta pasraman (lembaga belajar agama) melakukan meditasi.

Ini mirip sekali dengan pengunci pada pintu gebyok rumah Bali. Untuk itu, diyakini relief itu menjadi pintu masuk sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia gaib).

Tradisi dan Pantangan Melukat

“Sebelum masuk ke beji untuk melukat, pemedek perlu ke bagian relief itu dulu. Memohon izin sambil mengetuknya sebanyak tujuh kali”, jelas Jero Mangku Besang, salah satu orang suci sekaligus pengelola Beji Telaga Waja saat dijumpai beberapa waktu lalu.

Pemedek yang hadir tidak harus dari kalangan umat Hindu. Namun bila ia beragama Hindu, wajib melakukan persembahyangan dahulu di Pura Telaga Waja, posisinya berada di atas beji.

Saat memasuki area pura hingga beji juga diwajibkan berbusana adat dan tidak sedang dalam keadaan menstruasi maupun berduka karena pihak keluarga maupun kerabat meninggal dunia.

Menanggalkan Pakaian dengan Aman

Prosesi melukat kemudian bisa dilakukan dengan menanggalkan pakaian hingga alas kaki. Pemedek masuk secara privat dan bergilir. Bahkan pemangku juga tidak diperkenankan masuk ketika pemedek sedang melukat.

Lalu, hanya diperkenankan berkelompok jika dalam satu jenis kelamin. Anggota kelompoknya yang berbeda jenis kelamin akan menunggu antrian di lokasi bekas pasraman tersebut, posisinya di tengah-tengah antara beji dengan pura.

“Orang kadang ragu ke sini karena takutnya diintip. Di sini aman karena sekelilingnya tertutup dan bergilir juga pemedeknya. Pantang untuk berpakaian saat melukat karena dipercaya nanti malah bernasib kurang baik”, tutur Jero Mangku Suwaja, pengelola beji lainnya.

Filosofi Melukat Tanpa Busana di Beji Telaga Waja

“Memang bedanya di sini tidak berpakaian. Sebenarnya sama seperti mandi di rumah. Tapi, itu kan pembersihan jasmani. Kalau yang ini pembersihan rohani. Dan, perlu dilepas semua supaya bersihnya menyeluruh,”” terang Jero Mangku Besang menyoal alasan di balik pemedek tidak diperkenankan berpakaian saat melukat.

Pemedek melakukan prosesi melukat di 11 air pancuran yang berada di bawah telaga Siwa dan Buddha. Terdapat undakan (tangga) menuju telaga yang posisinya di tengah-tengah sehingga membagi tempat melukat menjadi enam dan lima air pancuran.

“Enam pancuran berarti pembersihan diri untuk mengurangi Sad Ripu (6 musuh dalam diri manusia). Tidak mungkin hilang 100% karena kita lahir membawa karma. Kalau yang lima pancuran berarti pembersihan terhadap panca indera kita,” jelas Jero Mangku Besang.

Tidak hanya melukat di tempat, pemedek juga bisa membawa pulang air dari Beji Telaga Waja untuk anggota keluarga di rumah.

Bedanya, air tidak diambil dari 11 pancuran tersebut, melainkan dari klebutan ibu. Diyakini mampu memberikan kemakmuran, kesembuhan dari penyakit hingga healing.

Belum Tersohor di Masyarakat

Rupanya tempat melukat di Beji Telaga Waja belum cukup tersohor di masyarakat umum. Mereka yang kenal pun umumnya menghubungi Jero Mangku Suwarja untuk reservasi.

Tidak ada biaya yang dipungut. Hanya saja untuk memastikan para pemangku ada di tempat dan air pancuran dalam kondisi yang layak digunakan melukat diperlukan sumbangan seikhlasnya. Sebab, warga Banjar Kepitu yang menjadi pengemong pura akan melakukan pembersihan secara berkala.

Selain itu, wisatawan disarankan datang menggunakan kendaraan roda dua karena jalan menuju lokasi sempit. Kalau membawa mobil, maka dapat parkir di Banjar Kepitu yang berjarak 100 meter dari lokasi.

Pemedek juga baiknya tidak datang saat musim hujan karena hampir keseluruhan bangunan masih terbuat alami dari bebatuan dan cukup berlumut.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com