Tag Archives: gunungkidul

Memukau! Pantai Slili Hidden Gems di Gunungkidul



Gunungkidul

Gunungkidul memiliki satu pantai yang bisa menjadi pilihan berlibur traveler, namanya Pantai Slili. Pantai ini tidak terlalu luas, namun pasir putihnya yang bersih dan batu karang di tepi pantainya menawan untuk dijadikan latar foto.

Pantai Slili berlokasi di Jalan Pantai Krakal, Kecamatan Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta dengan jarak tempuh kurang lebih 1,5 jam.

Harga tiket masuk pantai ini adalah Rp 10 ribu, bisa digunakan untuk masuk ke pantai lain di sekitarnya. Biaya parkir Rp 5 ribu untuk sepeda motor, dan Rp 10 ribu untuk kendaraan roda empat.


Saat memasuki area pantai ini, pengunjung akan disambut dengan kesibukan penjual-penjual pakaian, makanan laut, dan oleh-oleh yang berjualan di pinggiran jalan masuk.

Ada sebuah kafe bernama Cafe de Slili yang tepat menghadap ke arah pantai, kafe ini kerap menjadi spot pilihan pengunjung yang ingin menghasilkan foto instagramable sambil menikmati kuliner pinggir pantai.

Di pantai ini juga banyak orang-orang yang menawarkan jasa foto dengan kamera profesional, jadi pengunjung tidak perlu ragu dengan hasil fotonya.

Di tepian pantai terdapat jejeran gazebo yang terbuat dari kayu dengan atap jerami dan daun kelapa, untuk bisa bersantai di sini pengunjung harus membayar sewa sebesar Rp 30 ribu.

Salah satu keunikan di pantai ini adalah dua tebing bukit yang terletak di sisi kanan dan kirinya, pengunjung boleh naik ke atasnya untuk melihat pemandangan dari ketinggian, namun harus berhati-hati karena jalannya cukup terjal dan licin.

Ombak pantai tidak terlalu besar sehingga pengunjung masih bisa berenang di tepi pantai ini, terumbu karang di dalamnya pun bisa terlihat tanpa harus menyelam jauh, beragam biota laut bisa traveler temukan di sini.

Tidak jauh dari Pantai Slili, traveler bisa menemukan pantai lain yaitu Pantai Krakal dan Pantai Sadranan. Cukup dengan berjalan kaki beberapa meter saja akan sampai ke pantai di sampingnya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin mengunjungi banyak pantai sekaligus.

“Sukanya di sini itu ya karena pantainya banyak, gak satu tempat aja. Tadi udah dari Krakal terus Slili, jalan kaki aja nyampe. Nggak perlu bayar parkir, nggak perlu tiket masuk lagi,” kata Yuni, pengunjung Pantai Slili.

Pantai Slili dan pantai lain di sekitarnya ini buka 24 jam, jadi traveler tidak perlu terburu-buru dan bisa menikmati waktu sepuasnya di setiap pantai.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pengantin Baru Dilarang Lewat Jembatan Ini, Konon Bisa Kena Sial



Gunungkidul

Jembatan Jirak di Gunungkidul menyimpan sebuah mitos yang tak biasa. Pengantin baru dilarang melintas di jembatan ini kalau tidak mau tertimpa kemalangan.

Jembatan Jirak ini berlokasi di Pedukuhan Munggi Pasar, Kalurahan Semanu, Kapanewon Semanu, Gunungkidul. Bentuk jembatan ini sama dengan jembatan pada umumnya. Ada dua bangunan jembatan, di sisi utara dan selatan.

Pada Jembatan Jirak sisi utara terdapat tulisan ‘dengan rakhmat Tuhan yang maha esa JEMBATAN JIRAK, diresmikan pada hari Senin tanggal 16 Januari 1989 oleh Gubernur, Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam VIII’.


Sedangkan, pada Jembatan Jirak di sisi selatan terdapat tulisan ‘JEMBATAN JIRAK NO.26.030.001.B TH.2008 KM 45+77’. Sepintas, tidak ada yang aneh dari jembatan ini.

Namun, warga setempat masih percaya soal mitos pengantin baru yang tidak boleh melewati jembatan ini. Ketua Kalurahan Budaya Semanu, Sumaryanto menjelaskan, bahwa dari cerita para pendahulunya, dahulu ada kerajaan jin bernama Alas Kali Jirak di jembatan itu.

Asal Usul Jembatan Jirak

Kerajaan itu dipimpin seorang ratu bernama Sekar Cendani. Ratu Sekar Cendani mempunyai prajurit lelembut yang kuat, salah satunya bernama Gus Serut yang menaruh hati pada Nini Pantarwati, putri dari Sekar Cendani.

Namun, Nini Pantarwati ternyata jatuh cinta kepada seorang manusia bernama Sutejo. Sutejo merupakan putra dari Kiai Singo Wijoyo yang berasal dari Kemadang.

Gus Serut pun terlibat pertarungan dengan Sutejo untuk memperebutkan Nini Pantarwati. Ratu Sekar Cendani juga tidak merestui keduanya karena mereka berbeda alam.

Di tengah pertarungan sengit itu, Gus Serut melempar ajirak kepada Sutejo. Menurut Sumaryanto, itulah asal muasal mengapa jembatan itu akhirnya bernama Jembatan Jirak.

“Terus terjadi perkelahian, sambil lari Gus Serut akhirnya melempar ajirak, itu aji-aji semacam jarak. Karena itu disebut Jirak. Saat itu, belum ada jembatannya, hanya ada sesek (jembatan berbahan bambu),” ujarnya.

Setelah kejadian itu, ternyata Nini Pantarwati tetap mencintai Sutejo. Akhirnya, Ratu Sekar Cendani mengutuk Nini Pantarwati dan Sutejo menjadi batu.

“Yang akhirnya dikatakan menjadi watu manten kali Jirak (batu pengantin Kali Jirak),” ungkapnya.

Karena kisah itu, tidak ada pengantin yang berani melintasi Jembatan Jirak. Menurutnya, pengantin baru boleh melintasi jembatan Jirak setelah selapanan.

“Setelah itu tidak ada yang berani lewat situ, baik calon manten dan manten kalau belum selapanan atau 35 hari,” ujarnya.

Akan tetapi, calon pengantin dan pengantin baru tetap bisa melintasi jembatan tersebut meski belum selapanan. Konon caranya dengan memberikan syarat berupa melemparkan beberapa macam benda ke Kali Jirak.

“Tapi ada juga yang memilih menghindari Jembatan Jirak dengan mengambil rute lain yakni lewat utara Kantor Kalurahan, lewat Pacarejo, atau lewat Karangmojo,” lanjut Sumaryanto.

Sumaryanto menambahkan, bahwa hingga saat ini masyarakat Semanu masih mempercayai mitos tersebut. “Masih, wong kemarin tetangga saya dapat orang Mulo itu ya tidak berani lewat situ mending lewat Pacarejo,” ujarnya.

“Kalau dari informasi katanya ada yang sulit mendapatkan keturunan. Kalau sampai celaka kami belum pernah dengar, informasinya justru sulit mendapatkan momongan, rezekinya seret,” jawabnya.

“Semua itu cerita turun-temurun, fakta sebenarnya masih digali. Tapi nyatanya tetap ada yang tidak berani lewat situ kalau belum selapanan setelah prosesi manten,” pungkasnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Konon, Ini Mata Air Tempat Wudu Sunan Kalijaga



Gunungkidul

Ada sebuah sumber mata air di Gunungkidul yang dipercaya sebagai tempat wudunya Sunan Kalijaga. Sumber air Tuk Dungsono, begitu warga setempat mengenalnya.

Mata air Tuk Dungsono itu berada di Padukuhan Plumbungan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Mata air itu terletak di pinggir sungai Kedung Sono.

Airnya mengalir dari sepotong bambu yang tertancap di batu tebing yang tingginya sekitar 2,5 meter. Terdapat atap dari seng yang menaungi sumber itu.


Air yang keluar dari sumber tersebut tampak bening, kontras dengan air di sungai yang berwarna nyaris seputih susu.

Di bawah aliran air itu terdapat sebuah ember biru berukuran kurang lebih 50 liter. Dari permukaan ember hingga ke atas tebing terdapat dua ruas paralon.

Dua ruas paralon itu tersambung melalui sebuah mesin pompa air. Saat Tim detikJogja mencoba meminum air tersebut, airnya terasa segar dan tidak berbau.

Tampak seorang warga sekitar dengan anaknya sedang mengambil air dari sumber tersebut menggunakan galon berkapasitas 15 liter.

Warga itu bernama Gunawan (41). Ia menuturkan jika mata air itu dipercaya pernah menjadi tempat wudu Sunan Kalijaga.

“Katanya sumber di sini dulunya tempat wudunya Sunan Kalijaga. Tapi saya tidak paham betul bagaimana ceritanya,” ungkap Gunawan kepada saat ditemui di lokasi, Minggu (4/2/2024).

Ia mengatakan biasa mengambil air bersih untuk dikonsumsi di sumber tersebut.

“Sehari-harinya biasa ambil air di sini buat minum sama memasak,” katanya.

Mata Air Muncul Saat Sunan Kalijaga Mau Salat

Dukuh Plumbungan, Sulistyo menuturkan, sumber air tersebut dipercaya muncul ketika Sunan Kalijaga hendak menunaikan salat saat berada di wilayah tersebut. Saat itu, kata Sulistyo, cuaca sedang kemarau.

“Dulu kan gini cerita yang kami yakni, Sunan Kalijaga sama muridnya nyari air untuk wudu pas musim kemarau tapi tidak ada air. Akhirnya Sunan Kalijaga nyari di sana. Dia memasukkan telunjuknya di batu itu (lalu muncullah mata air tersebut),” jelas Sulistyo saat ditemui di Padukuhan Plumbungan, Minggu (4/2/2024).

Mata air itu, jelas Sulistyo, dikenal sebagai Tuk Dungsono karena dulunya sungai tersebut dipenuhi oleh pohon Sonokeling.

“Karena di tempat itu banyak Sonokeling dulunya akhirnya akhirnya dikasih nama sama warga Kedung Sono atau Tuk Dungsono,” terangnya.

Usai muncul mata air itu, kata Sulistyo, Sunan Kalijaga bersama muridnya menunaikan salat di sungai tidak jauh dari sumber air yang saat itu sedang kering. Sulistyo menjelaskan posisi sungai tempat Sunan Kalijaga salat berada di atas sumber dan tepat menghadap ke kiblat.

“(Sungai) Di atas itu ada batu yang rata menghadap ke kiblat. Pas menghadap kiblat bener,” katanya.

Lokasi Tuk Dungsono yang berada di samping sungai Kedung Sono, Gunungkidul, pada Minggu (4/2/2024).Mata air Tuk Dungsono Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Pada awalnya, Sulistyo mengungkapkan sumber air itu tidak diberi bambu. Diameter lubangnya, tutur Sulistyo, dulunya hanya sebesar telunjuk orang dewasa.

“Awalnya nggak dikasih bambu, sekarang dikasih untuk ambil air. Dulu besarnya setelunjuk jari. Besar mungkin faktor air,” terangnya.

Pada saat gempa di Jogja tahun 2006 silam, Sulistyo menceritakan banyak sumber air di wilayahnya yang mati. Namun tidak dengan sumber air Tuk Dungsono.

“Dulu gempa tahun 2006 itu banyak yang mati sumber di sini. Dan itu (Tuk Dungsono) yang belum berubah sampai sekarang,” terangnya.

“Sekarang dimanfaatkan untuk air minum yang deket sini. Tidak pernah macet, airnya stabil meskipun kemarau,” lanjutnya.

Kini, jelas Sulistyo, banyak masyarakat yang tidak paham akan cerita yang dipercaya tersebut. Ia mendapat cerita tersebut sewaktu kecil dari kakeknya.

“Kalau sekarang masyarakat sudah hampir nggak paham. Dulu mbah yang cerita sebelum tidur. Mbah saya dulu dukuh kedua yang pertama itu bapaknya si mbah,” ungkapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Di Desa Gunungkidul Ini, Matahari Hanya Bersinar 7 Jam Sehari



Gunungkidul

Setiap hari, sinar matahari hanya akan menyinari sebuah desa di Gunungkidul selama 7 jam saja. Bagaimana kisahnya?

Padukuhan Wotawati yang berada di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul ini sungguh unik. Bagaimana tidak unik, setiap hari desa ini hanya ‘kebagian’ cahaya matahari selama 7 jam saja. Tidak kurang dan tidak lebih.

Akses menuju padukuhan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonogiri ini begitu terjal dengan jalan cor blok. Meski begitu, jerih payah traveler akan terbayarkan dengan pemandangan hijau nan asri, lengkap dengan sejuknya udara begitu sampai di desa ini.


Sesampainya di permukiman warga Wotawati, sayup-sayup terdengar suara warga mengobrol. Mereka tampak baru saja datang dari sawah dengan membawa pakan ternak.

Tampak dua bukit atau lazim disebut gunung menghimpit perkampungan tersebut. Keduanya tampak megah bersandingan dan hijau mempesona.

Tak seperti permukiman pada umumnya, sebagian wilayah Wotawati tidak terpapar sinar matahari langsung. Meski begitu, mata masih leluasa memandang apapun di sekitar walau sedikit remang.

Dari ujung utara permukiman hingga selatan hanya membutuhkan sekitar tiga menit perjalanan sepeda motor. Warga berusia lanjut lebih sering tampak di emperan rumah daripada pemuda.

Padukuhan tersebut benar-benar remang pada sekitar pukul 17.30. Pada saat yang sama, lampu-lampu di rumah warga mulai menyala untuk menggantikan cahaya matahari.

Fenomena serupa tak ditemukan di kawasan Kapanewon Wonosari. Di Wonosari, warna langit mulai jingga kala matahari condong ke barat. Lain halnya langit Wotawati, yang di waktu sama, malah berparas nyaris kelabu menjelang petang meski tanpa awan menggantung.

Penjelasan Kepala Desa Wotawati

Dukuh Wotawati, Roby Sugihastanto, menuturkan luas lahan permukiman di Padukuhan Wotawati sekitar 5-6 hektar. Padukuhan tersebut dihuni oleh 80 kepala keluarga (KK) dalam satu rukun warga (RW) dan empat rukun tetangga (RT).

Kampung tersebut hampir setiap harinya terpapar sinar matahari hanya sekitar 7 jam saja. Cahaya mentari pagi menyapa sepenuhnya permukiman di Wotawati sekitar pukul 08.30-09.00 WIB.

Menjelang sore, hamparan bukit di sebelah timur menutup sempurna masuknya cahaya matahari sekitar pukul 16.00 WIB.

“Kalau (permukiman) tertutup (tidak terpapar cahaya matahari langsung) semuanya itu, ya, mungkin di jam 16.30 (sore) kalau di sekarang ini. Kalau awalnya masuk cahaya matahari biasanya itu jam 09.00 WIB,” jelas Roby, Jumat (3/5) akhir pekan lalu.

Bagi Roby yang sudah bermukim di Wotawati sejak lahir, fenomena alam tersebut tidak membuatnya kaget. Namun beda halnya bagi orang yang pertama kali mengunjungi padukuhan yang terletak di ngarai tersebut.

Beda halnya dengan pendatang di Wotawati, Toma (43). Wanita yang menikah dengan warga setempat tersebut menerangkan sempat heran dengan fenomena 7 jam cahaya matahari menyinari permukiman tersebut.

Fenomena alam unik terjadi di Dusun Wotawati, Kabupaten Gunungkidul. Wilayah pedukuhan di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, itu selalu telat terpapar sinar matahari pagi tapi lebih cepat memasuki malam hari. Kok bisa?Suasana Dusun Wotawati, Kabupaten Gunungkidul. Foto: Pradito Rida Pertana

Fenomena tersebut baru Toma sadari saat beberapa tahun tinggal di Wotawati. Toma sudah tinggal di Wotawati sejak 1997.

“Saya mulai tinggal di sini tahun ’97. Lama-lama kok gimana gitu. Apa iya sih? Kok mataharinya lambat datang?” ungkapnya dengan nada antusias.

Tak hanya itu, wanita asal Tegal, Jawa Tengah itu juga kaget saat menemukan jodohnya di perkampungan yang terletak di lembah tersebut.

“Kok saya sampai sini begitu, karena di tempat saya kan tidak ada gunung, hanya sawah. Jodoh aku kok di sini, dalam banget kaya jurang. Ya namanya jodohnya kali,” ucapnya sembari terkekeh.

Meski mengalami fenomena tersebut setiap harinya, Toma beraktivitas seperti petani pada umumnya. Usai memasak pada pagi hari sekitar pukul 08.00 dirinya pergi ke sawah. Dia baru pulang sekitar pukul 16.00.

“Pagi habis masak sekitar jam 8 itu ke ladang bertani kalau musim tani. Kalau bukan musim tani ya cari rumput. Pulang biasanya jam 4 (sore),” jelasnya.

Penyebab Matahari Hanya Bersinar 7 Jam Sehari di Wotawati

Roby mengatakan lambatnya sinar matahari masuk itu tak lantas membuat Wotawati gelap gulita pada pagi hari, pun pada sore hari. Warga masih bisa beraktivitas dengan normal

Roby menyebut lambatnya cahaya matahari masuk ke Wotawati itu akibat tertutup dua bukit besar. Dua bukit tersebut berada tepat di sisi timur dan barat Wotawati.

“Dua gunung itu posisinya di barat sama timur dan posisi di sini itu di lembah. Jadi makanya mataharinya kaya yang lambat datang gitu,” jelas Roby.

Posisi Wotawati itu lah yang membuat matahari seakan terlambat datang pulang cepat pula. Apalagi pemukiman tersebut berada di lembah dua gunung

“Sorenya juga gitu, kan mataharinya sudah nggak kelihatan, otomatis mulai remang di sini. Nggak gelap total kok,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Hutan Angker Gunungkidul Punya Mata Air Berbentuk Kelopak Mata



Gunungkidul

Sebuah hutan yang dikenal angker di Gunungkidul memiliki sebuah mata air tersembunyi. Uniknya, mata air itu memiliki bentuk seperti kelopak mata.

Hutan Tlawah di Kalurahan Natah, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul, punya mata air tersembunyi. Untuk menuju ke posisi mata air itu dibutuhkan waktu setidaknya 30 menit dengan berjalan kaki.

Mata air tersebut terletak di semak-semak, sehingga tak tampak mata jika tidak paham betul posisinya. Mata air tersebut masih tertutup sedikit tanah, sehingga tidak terlalu tampak seperti kelopak mata manusia. Meski disebut dengan mata air, tidak terlihat ada air yang mengalir.


Awalnya saat tanah tersibak mata air yang konon tampak seperti mata manusia itu tak tampak persis jika dilihat dari arah timur. Namun, mata air itu tampak mirip dengan kelopak mata jika dilihat dari arah barat.

Di tengah mata air tersebut terdapat sebuah batu berukuran sedikit lebih besar dari genggaman dua tangan orang dewasa. Sedangkan di permukaan luar terlihat berbentuk seperti kacang almond dengan panjang kurang lebih 60 cm dan lebar 40 cm. Mata air tersebut memiliki kedalaman sekitar 10 cm.

Jika dilihat dengan saksama, maka bagian mata tersebut seakan melirik ke selatan. Bola mata yang terlihat seperti pupil manusia itu berasal dari batu yang sudah agak lapuk sehingga mudah tergerus saat dicongkel menggunakan sebatang kayu.

Sumber Mata Air Itu Terbentuk Secara Alami

Ngadimo (58), warga sekitar menjelaskan mata air tersebut terbentuk secara alami, tidak ada campur tangan manusia. Dulunya mata air tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk minum.

“Ini bukan buatan manusia. Dari saya kecil ya memang begini. Dari alamnya sudah begitu. Dulu biasanya orang-orang minum di sini kalau lewat hutan,” jelas Ngadimo.

Mata air berbentuk kelopak mata di tengah alas angker Tlawah, Gunungkidul. Foto diambil Jumat (10/5/2024).Mata air berbentuk kelopak mata di tengah hutan Tlawah yang angker Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Mata air tersebut sudah lama dilupakan oleh warga. Malah disebut sebagai mitos sampai sumber air itu ditemukan lagi oleh komunitas Resan Gunungkidul pada 2022 lalu.

“Warga sudah banyak yang nggak tahu. Dianggap mitos juga kok karena sudah lupa mata air ini. Tapi pas komunitas Resan ke sini ngajak saya untuk cari, ketemu lagi mata airnya,” katanya.

Asal Usul Hutan Tlawah

Ngadimo mengatakan, nama tlawah diambil dari mata air yang berbentuk kelopak mata manusia tersebut. Ngadimo menyebut tlawah dalam bahasa Jawa yakni lubang kecil dengan batu di tengahnya.

“Asal usul nama tlawah ya itu. Ada lubang kecil, ada batu, namanya tlawah,” jelas Ngadimo.

“Tlawah itu tahunya cuma nama. Tapi saya ingat kalau batu di mata air itu ya itu namanya asal usul tlawah,” lanjutnya.

Ngadimo mengungkapkan, masyarakat setempat meyakini adanya sesosok makhluk gaib penjaga alas Tlawah. Sosok tersebut bernama Mbah Sostrowono.

“Di alas ini ada penunggunya namanya Mbah Sostrowono. Bukan manusia dia. Dia istilahnya makhluk gaib,” sebutnya.

Dari kepercayaan masyarakat setempat Mbah Sostrowono itu konon ditaklukkan oleh para wali. Dia kemudian ditugaskan menjaga alas Tlawah.

Batu berwarna hitam di bawah mata air itu pun diyakini milik Mbah Sostrowono. Oleh karena itu, orang tak boleh sembarangan mengambil batu di area kelopak mata air tersebut.

“Batunya itu tidak boleh diambil memang ada pusaka milik Mbah Sostrowono,” jelas Ngadimo.

Hutan Tlawah Dikenal Angker

Di sisi lain, Ngadimo menceritakan banyak orang yang masuk ke alas Tlawah tanpa izin akhirnya tersesat. Tak hanya itu, diyakini banyak cerita warga yang diganggu makhluk tak kasat mata.

“Sudah banyak yang bingung masuk ke sini. Bahkan ada masyarakat yang bingung pas masuk ke sini. Kalau yang belum pernah masuk sini itu izin dulu ke warga sekitar,” ungkap Ngadimo.

“Warga belum tentu berani masuk alas di siang, sore, malam. Hanya orang tertentu yang berani. Saya buktikan sendiri banyak yang sering mengganggu,” sambung dia.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Negeri 1.000 Tower ala Gunungkidul



Gunungkidul

Di Gunungkidul, ada satu tempat yang dijuluki Negeri 1.000 Tower. Itu karena ada banyak tower telekomunikasi yang berdiri menjulang di sana. Seperti apa kisahnya?

Kabupaten Gunungkidul terkenal dengan keindahan lanskap alamnya. Namun, ada pemandangan berbeda di kawasan Ngoro-oro yang berada di Kapanewon Patuk.

Di Kalurahan Ngoro-oro ini, berjajar banyak tower sehingga disebut bak Negeri Tower. Topografi Ngoro-oro yang terdiri dari perbukitan dan lembah ini dihiasi dengan adanya tower-tower tersebut.


Di kiri jalan tampak perbukitan dan di sisi sebelahnya tampak lembah yang diselimuti kabut. Tower-tower ini pun terlihat dari balik pepohonan.

Bak raksasa besi yang menjulang tinggi, pemandangan tower itu menyambut para pengunjung yang datang melintas kawasan tersebut. Jarak tower-tower ini pun bervariasi antara 300-600 meter.

Ukuran tower berbeda-beda, ada yang pucuknya berbentuk kerucut dan juga yang berbentuk persegi. Demikian juga bentuknya. Tower ini pun diberi warna merah dan putih.

Tak jauh dari Balai Kalurahan Ngoro-oro, tampak dua tower berdiri di belakang dan di samping depan gedung pemerintahan itu. Dua tower tersebut berjarak sekitar 400 meter.

Potret Negari Tower di Ngoro-oro Gunungkidul. Foto diambil Rabu (22/5/2024).Potret Negari Tower di Gunungkidul Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Sekitar 200 meter ke utara dari Balai Kalurahan Ngoro-oro, tampak sebuah papan arah jalan bertuliskan ‘TVRI TRANSMISI PATUK’.

Tower transmisi milik TVRI tersebut terletak di pinggir permukiman warga. Pucuk tower milik stasiun televisi berpelat merah tersebut berbentuk runcing.

Jika terus berkendara mengikuti jalan, maka traveler akan sampai di SDN Ngoro-ngoro. Di belakang sekolah tersebut terdapat sebuah lapangan sepakbola.

Dari lapangan tersebut terlihat setidaknya delapan tower yang menjulang tinggi. Diketahui tower-tower tersebut milik stasiun TV Metro, Indosiar, NET, dan Trans 7.

Melanjutkan perjalanan, ada sebuah lokasi yang terletak di hamparan sawah. Di lokasi tersebut terdapat dirangkai dari besi bercat merah bertuliskan ‘MENARA NGORO-ORO’ dengan huruf ‘A’ menyerupai bentuk tower.

Di lokasi tersebut, traveler dapat menikmati panorama persawahan, dan barisan tower di sebelah timur.

Lurah Ngoro-oro, Sukasno membenarkan daerahnya terkenal dengan Negeri Tower. Dia menyebut tower ini sudah menjadi ikon kalurahan sejak lama.

“Ngoro-ngoro dikenal dengan ‘Negeri Tower. Tower menjadi ikon kalurahan kami,” jelas Sukasno ditemui di Wonosari, Rabu (22/5/2024).

Cara Menuju ke Sini

Akses masuk ke kalurahan ini berbatasan dengan Piyungan, Bantul. Traveler bisa menuju ke Negeri Tower ini lewat perempatan Patuk ke kiri jika melaju dari arah Jogja.

Setelah menempuh 3 km perjalanan, kalian bisa melihat sejumlah tower di sisi kiri dan kanan. Itu tandanya traveler sudah memasuki kalurahan unik ini.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

15 Wisata Gunungkidul Populer, Bisa Naik Gunung hingga Jelajah Pantai


Jakarta

Wisata Gunungkidul memiliki sejuta pesona alam indah yang lengkap. Mulai dari air terjun, pantai, gua, hingga gunung bisa ditemukan disini.

Tidak hanya itu, terdapat beberapa situs peninggalan kerajaan yang bisa dikunjungi disini. Pengelolaan wisatanya berada di bawah naungan Dinas Pariwisata melalui Instagram @pariwisata_gunungkidul atau website wisata.gunungkidulkab.go.id.

Berikut rekomendasi wisata Gunung Kidul yang tidak boleh dilewatkan, agar tubuh dan pikiran kembali segar.


Wisata Air Terjun Gunungkidul

Wisatawan dan keluarganya yang ingin menikmati keindahan air terjun, berikut beberapa spot wisata yang dapat dikunjungi:

1. Air Terjun Jurug Gedhe

Wisata air terjun Jurug Gedhe menyuguhkan pemandangan pohon dan sawah yang rindang. Destinasi ini sangat cocok untuk wisatawan yang suka dengan tracking yang memacu adrenalin.

Pasalnya untuk sampai di air terjun, wisatawan harus mendaki batuan terjal. Disarankan untuk datang saat musim penghujan agar gemericik air yang turun dapat memberikan efek relaksasi yang menenangkan.

  • Lokasi: Gembyong, Ngoro-oro, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-17.00 WIB)
  • Harga Tiket: Rp 5000/orang.

2. Air Terjun Luweng Sampang

Air Terjun Luweng Sampang memiliki keindahan luar biasa dari batuan cadas yang mengapitnya. Terdapat ukiran garis alami akibat erosi air yang tampak kontras dengan birunya air.

Perjalanan menuju air terjun ini juga tidak sulit karena terdapat anak tangga untuk menuju ke atas. Masyarakat sekitar menyebut keindahan air terjun Luweng Sampang sebagai Green Canyon Indonesia.

  • Lokasi: Jl. Juminahan, Kayen, Sampang, Kecamatan Gedang Sari, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari (06.00-18.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis.

3. Air Terjun Kedung Kandang

Wisata air terjun ini termasuk hidden gem Gunungkidul yang terletak diantara hamparan sawah. Air terjun Kedung Kandang adalah bagian dari Desa Wisata Nglanggeran uang dikelola dengan baik.

Wisatawan perlu melakukan tracking sejauh 900 meter untuk sampai di lokasi air terjun. Lelah perjalanan terbayar ketika wisatawan melihat batuan yang berundak seperti anak tangga. Gemericik dan hijaunya air yang mengalir dijamin mampu menghilangkan penat selama bekerja.

  • Lokasi: Gn. Butak, Nglanggeran, Patuk, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-17.00 WIB)
  • Harga Tiket: Rp 8.000.

4. Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun Sri Gethuk adalah destinasi favorit wisatawan karena banyak aktivitas menarik yang bisa dilakukan. Berbeda dengan wisata air terjun lain yang harus melakukan tracking, disini wisatawan harus menyebrangi sungai sepanjang 450 meter menggunakan perahu karet.

Pemandangan aliran sungai, bebatuan, dan berbagai pepohonan rindang turut membuat suasana semakin sejuk. Berada di atas tebing dengan ketinggian 50 meter, air terjun ini memiliki 3 mata air yaitu Ngandong, Dong Poh, dan Ngumbul.

  • Lokasi: Mungguran II, Bleberan, Playen, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-16.00 WIB)
  • Harga Tiket: Rp 20.000 (termasuk perahu untuk menyeberang).

Wisata Pantai Gunungkidul

Detikers yang menyukai siraman sinar matahari, debur ombak, dan tekstur pasir alami, maka pantai adalah pilihan terbaik. Berikut pantai di Gunung Kidul dengan pesona yang khas:

1. Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran disebut sebagai replika pantai Nusa Dua karena keberadaan arca dan ornamen candi khas Bali. Detikers dapat menikmati keindahan pantai pasir putih lengkap dengan aktivitas keagamaan disana.

Wisatawan akan dimanjakan dengan hijaunya air pantai dengan banyaknya rumput laut yang tumbuh. Tersedia berbagai spot estetik dan persewaan baju adat yang membuat foto semakin estetik layaknya berlibur ke Bali. Di deretan yang sama, terdapat pantai Nguyahan dan Ngrenehan dengan pemandangan yang tidak kalah indah.

  • Lokasi: Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Rp 8.000/orang.

2. Pantai Drini

Pantai Drini adalah pantai pasir putih dengan karakteristik ombak yang bervariasi. Terdapat pulau yang ditumbuhi pohon drini yang bisa dilewati dengan jembatan yang ada.

Ombak di sisi barat cenderung lebih berombak dibandingkan di wilayah timur. Perjalanan menuju pantai ini terbilang cukup ekstrim karena dipenuhi dengan tanjakan dan belokan yang curam.

  • Lokasi: Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Rp 5.000/orang dan retribusi Rp 1.000/orang.

3. Pantai Kukup

Pantai Kukup adalah rekomendasi wisata air yang aman untuk keluarga. Lautnya yang dangkal dan ombak tenang membuat aktivitas bermain air semakin leluasa. Pasalnya terdapat terumbu karang besar yang menahan hempasan ombak besar.

Namun wisatawan perlu berhati-hati ketika berkunjung karena banyaknya bulu babi di tepi pantai. Pesona karang pemecah ombak menjadi spot favorit untuk mengabadikan foto di sini.

  • Lokasi: Ngepung, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Rp 10.000/orang.

4. Pantai Jogan

Pesona air terjun dan pantai adalah paket komplit ketika berkunjung ke Pantai Jogan. Sudut pantai ini memiliki air terjun yang berasal dari aliran sungai di sekitarnya.

Untuk melihat pesona air terjun tersebut, pengunjung dapat menuruni tebing dengan teknik canyoning atau rappeling di air terjun. Putihnya pasir pantai tampak indah dengan batuan karang dan tebing di sekelilingnya.

  • Lokasi: Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Rp 5.000/orang.

5. Pantai Slili

Pantai Slili adalah spot favorit untuk snorkeling dan menikmati keindahan bawah laut. Jernihnya air pantai membuat biota laut dan karang terlihat jelas dari area tepi.

Berdasarkan geografisnya, pantai Slili sangat mudah dikunjungi dan berada diantara Pantai Krakal dan Sadranan. Wisatawan juga tidak perlu repot membawa peralatan menyelam karena terdapat jasa sewa alat dari pengelola.

  • Lokasi: Jalan Pantai Krakal, Tepus, Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Rp 10.000/orang.

Wisata Gua Gunungkidul

Destinasi wisata ini cocok buat kamu yang punya hobi bertualang, punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan tak segan basah-basahan. Keindahan gua di Gunungkidul beserta sungainya pasti memanjakan mata dan memberi kepuasan tersendiri.

1. Gua Pindul

Gua Pindul adalah rekomendasi yang tepat untuk wisata bersama teman atau rombongan besar. Dengan didampingi pemandu, wisatawan dapat menelusuri seluruh sisi gua pindul dengan ban karet lengkap dengan helm dan pelampung.

Jika detikers menyukai aktivitas yang memacu adrenalin, pilihan outbound dan river tubing adalah pilihan tepat. Stalagtit dan stalagmit gua menjadikan liburan disini terasa sejuk dan menyenangkan.

Lokasi:

  • Desa Gelaran 1, Kelurahan Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul

Jam Operasional:

  • Setiap hari (07.00-17.00 WIB)

Harga Tiket:

  • Goa Pindul: Rp 40.000/orang
  • Goa Tanding: Rp 150.000/orang
  • River Tubing Oyo: Rp 60.000/orang
  • Sewa Jeep: Rp 450.000/Jeep
  • Pindul Adventure Outbound: Rp 50.000/orang.

2. Gua Kalisuci

Alternatif gua lain untuk melatih ketangkasan dan memacu adrenalin adalah Gua Kalisuci. Keindahan goa dapat dinikmati dengan menyusurinya menggunakan ban karet pada arus air yang tenang.

Gua Kalisuci memiliki karakter tebing khas pegunungan yang berwarna hitam dan kehijauan. Umumnya rombongan pelajar dan mahasiswa datang kesini untuk menikmati waktu liburan bersama rombongan besar.

  • Lokasi: Jetis, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-16.00 WIB)
  • Harga Tiket: Rp 75.000/orang (termasuk retribusi).

3. Gua Rancang Kencono

Wisata Gunungkidul ini bisa disebut paket hemat karena termasuk dengan tiket menuju Air Terjun Sri Gethuk. Gua ini memiliki cerita unik yang berhubungan dengan zaman purba.

Menurut buku berjudul Mozaik Pusaka Budaya Yogyakarta yang diterbitkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, terdapat artefak dan tulang belulang dari ribuan tahun lalu di gua ini.

Area gua Rancang Kencono terbilang cukup luas dan konon pernah dijadikan sebagai persembunyian dan pertemuan Laskar Mataram saat membuat rencana untuk mengusir Belanda dari Kasultanan Ngayogyakarta.

  • Lokasi: Mungguran II, Bleberan, Playen, Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-16.00 WIB)
  • Harga Tiket: Rp 35.000/orang (termasuk retribusi).

Wisata Pegunungan di Gunungkidul

Sejuk dan hijaunya alam pegunungan tentu bisa jadi pilihan bagi pengunjung, yang liburan bersama keluarga. Berikut beberapa spot wisata yang bisa jadi pilihan:

1. Gunung Gentong

Gunung Gentong adalah objek wisata baru yang cocok untuk menikmati sunrise di Gunungkidul. Batuan besar dan wilayah yang luas menjadi daya tarik fotografer untuk berburu jepretan indah.

Wisatawan dapat berkemah dan menghabiskan waktu hingga malam hari dengan keberadaan pengelola desa wisata. Destinasi ini disebut sebagai 4G atau Gunung Genting Gedangsari Gunung Kidul agar mudah diingat masyarakat.

  • Lokasi: Desa Manggung, Kelurahan Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Gratis (hanya membayar parkir Rp 2000 untuk motor dan Rp 5000 untuk mobil).

2. Gunung Gambar

Sesuai dengan namanya, Gunung Gambar sekilas seperti lukisan Tuhan yang nyata dan indah saat dilihat dengan mata telanjang. Gunung ini merupakan kecintaan para fotografer untuk diabadikan terutama di saat senja. Goresan langit dan awan dengan sorot matahari tenggelam membuat siapapun terkesima memandangnya.

Tidak hanya indah, wisata ini juga bernilai sejarah karena adanya petilasan dari Raden Mas Said. Gunung Gambar cocok untuk wisatawan yang hobi tracking karena medannya yang terbilang menantang.

  • Lokasi: Wonosari, Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-17.00 WIB)
  • Harga Tiket: Rp 5.000/orang.

3. Gunung Ireng

Gunung Ireng terbentuk dari sisa letusan gunung api purba yang masih bertahan hingga saat ini. Mengapa disebut ireng karena warna batuan yang menyusun berwarna hitam gelap khas material vulkanik.

Meski puncaknya tidak terlalu tinggi, wisatawan dapat melihat keindahan Kota Jogja dari atas. Pemandangan hijau turut memberikan sensasi menenangkan khususnya ketika datang di saat matahari terbit atau tenggelam.

  • Lokasi: Ngrancahan, Pengkok, Patuk, Kabupaten Gunungkidul
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Rp 3.000/orang.

Sebelum mengunjungi rekomendasi wisata alam Gunungkidul, pastikan detikers telah update info lebih dulu. Hal ini untuk memastikan, tujuan wisata aman dikunjungi bersama keluarga. Selain itu, jangan lupa untuk mematuhi aturan dan larangan di tempat wisata.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Makam di Gunungkidul Diselimuti Kain Putih, Begini Alasannya


Jakarta

Gunungkidul merupakan wilayah yang terkenal dengan keindahan alamnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu fenomena yang mencuri perhatian yaitu kebiasaan masyarakat yang menyelimuti makam-makam dengan kain putih.

Mungkin orang yang datang dari luar Gunungkidul belum mengetahui mengapa makam makam tersebut ditutupi kain putih. Lantas, apa alasannya?

Alasan Makam-makam Gunungkidul Diselimuti Kain Putih

Jika sedang berjalan-jalan ke daerah Gunungkidul, traveler mungkin akan menemukan sejumlah makam yang penutup kain putih. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan.


1. Tradisi Warga Setempat

Salah satu kawasan yang banyak memiliki makam berselimut kain putih adalah di Kecamatan Paliyan. Kain putih menyelimuti seluruh bagian nisan mayoritas makam.

Menurut wawancara detikJogja sebelumnya, pemakaian kain putih untuk menutupi makam merupakan tradisi warga setempat. Salah seorang warga Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Watinah mengatakan bahwa selimut putih di makam biasanya diganti ketika bulan Ruwah.

“Kalau tradisi sini harus pakai kain putih, termasuk udah adatnya begitu. Orang Jawa, maklum, harus pakai begitu-begitu. Apalagi kalau bulan Ruwah itu pada nyekar, itu harus ganti selimut putih itu. Putihan orang bilang, harus warna putih, selain itu nggak dipakai,” ucapnya.

Meski begitu, tidak semua warga menganut kepercayaan tersebut. Warga yang berbeda keyakinan tidak memasang kain putih di makam. Hal itu pun tidak menjadi masalah.

2. Sudah Dilakukan Sejak Nenek Moyang

Menurut warga lainnya, Ani, tradisi menyelimuti makam dengan kain putih sudah dilakukan sejak dahulu kala. Sehingga menjadi kebiasaan yang turun temurun.

“Sudah dari dulu, sejak nenek moyang. Jadi ini turun-temurun. Warga Gunungkidul masih gini, diselimuti putih-putih,” kata Ani.

Ada keyakinan warga setempat yang dipercayai jika makam tidak diselimuti kain. Sosoknya akan datang ke mimpi keluarga yang ditinggalkan.

“Kalau nggak dikasih selimut, katanya bakal ke bawa mimpi. Jadi kayak ingetin keluarga buat dikasih kain,” ucap Ani.

Budaya Jawa sendiri memang masih kental dengan memberikan penghormatan kepada orang yang sudah meninggal. Menurut Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga, S.S., M.M., penghormatan tersebut mencerminkan keyakinan antara dunia orang yang hidup dan dunia roh. Hal ini dilakukan agar terjadi keseimbangan dan keharmonian.

“Leluhur atau nenek moyang memiliki peran penting dalam budaya Jawa. Orang Jawa menghormati dan memuja leluhur mereka sebagai penjaga keluarga dan penjaga tradisi. Mereka percaya bahwa leluhur memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka dan dapat memberikan nasihat serta perlindungan,” ujar Riswinarno

3. Bentuk Penghormatan kepada Orang yang Sudah Meninggal

Menurut Riswono, pemakaian kain putih di pemakaman Gunungkidul merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada keluarga yang sudah meninggal. Hal ini diyakini bisa memperkuat ikatan dengan arwah dan melestarikan tradisi.

“Pemakaian kain putih untuk membungkus nisan/kijing makam, sebagai wujud dari adanya upaya menghormati, mensucikan, meninggikan si tokoh yang dimakamkan tadi. Mengapa kain putih? Karena dianggap sebagai simbol kebersihan, kesucian, kesederhanaan,” tuturnya.

4. Bentuk Kearifan Lokal

Di sisi lain, menutupi makam dengan kain putih juga diyakini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat setempat. Praktik ini juga dilakukan di makam-makam ulama atau tokoh-tokoh Islam.

“Kayaknya local wisdom dari masyarakat setempat. Yang jelas kalau perspektif Islam, tidak ada anjuran atau keharusan memberi kain putih di atas makam. Selama ini yang saya tahu, biasanya makam-makam ulama atau publik figur yang disepuhkan diberi penutup, dan biasanya terpisah dengan makam warga lainnya,” ujar Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, Willi Ashadi S.H.I., M.A.

Itulah beberapa alasan mengapa makam-makam di gunungkidul diselimuti dengan kain putih. Semoga informasi ini menambah wawasanmu.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Mengenal Situs Sokoliman, Saksi Bisu Kehidupan Purba di Gunungkidul



Gunungkidul

Situs Sokoliman di Gunungkidul menjadi saksi bisu kehidupan manusia purba di masa lalu. Mari mengenal lebih dekat situs ini.

Bukti kehidupan zaman batu besar atau megalitikum masih dapat dijumpai hingga saat ini di Situs Sokoliman. Ada temuan-temuan yang identik dengan masa itu.

Mengutip laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), zaman megalitikum diperkirakan sudah ada sejak 3.500 tahun sebelum masehi. Zaman ini, menjadi periode akhir dari zaman batu.


Megalitikum juga disebut sebagai zaman batu besar. Itu karena produk yang dihasilkan zaman ini menggunakan batuan-batuan besar, contohnya menhir, dolmen, kubur peti batu, sarkofagus, waruga, punden berundak, dan patung-patung.

Mengutip Jurnal Penelitian Arkeologi Kemendikbud Ristek dan laman resmi Kabupaten Gunungkidul, Situs Sokoliman ditemukan pada tahun 1934 saat masa kolonial Belanda. Keberadaan situs ini diketahui setelah dilakukan penelitian awal oleh J.L. Moens dan Van der Hoop.

Pada awalnya, kedua orang Belanda itu melaporkan adanya bekal kubur yang berbentuk manik-manik, alat-alat besi, fragmen gerabah dan benda-benda perunggu di kawasan Dusun Gunungbang, Desa Bejiharjo, Gunungkidul. Di tempat itu, juga ditemukan beberapa kubur batu yang sampai sekarang masih berada di sana.

Sekitar tahun 1960-an, dilakukan penelitian lanjutan yang melibatkan tenaga lokal. Kemudian, pada tahun 1982, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) yang kini bernama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY menerbitkan hasil pemetaan situs kepurbakalaan Desa Sokoliman dan Gunungbang, termasuk pemetaan di Dusun Sokoliman I dan Sokoliman II.

Sebelum adanya penelitian-penelitian purbakala itu, masyarakat di sekitar Situs Sokoliman telah menyadari keberadaan batu-batu besar tersebut dan dinamai sebagai Kramat Budo. Keberadaan batuan di sana juga menjadi cikal bakal nama Sokoliman, yaitu adanya lima batu menjulang seperti tiang (soko).

Situs bersejarah di GunungkidulSitus Sokoliman di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana

Meski disadari keberadaannya, batuan-batuan besar di area itu tidak lantas diistimewakan. Tak jarang warga yang baru pulang dari bertani menjadikan batuan-batuan itu sebagai lap kaki untuk menghilangkan tanah yang menggumpal.

Akan tetapi, kini warga telah menyadari nilai sejarah yang terkandung di batu-batu besar Sokoliman. Seiring waktu juga situs ini menjadi tempat pengumpulan batuan-batuan zaman megalitikum yang ditemukan di wilayah lain Gunungkidul. Situs Sokoliman pun menjadi tempat wisata edukasi yang dapat dikunjungi masyarakat umum.

Benda Cagar Budaya di Situs Sokoliman

Situs Sokoliman telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya bernomor registrasi 3403092001.4.2021.72. Kepemilikan situs ini berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Di dalam Situs Sokoliman, terkumpul berbagai benda-benda peninggalan zaman megalitikum yang identik dengan pemujaan dan penguburan. Berikut beberapa benda cagar budaya di Situs Sokoliman:

1. Arca Menhir Sokoliman

Menhir adalah batu tegak yang umumnya ditancapkan dengan posisi berdiri sebagai objek pemujaan. Menhir dikenal juga dengan istilah batu mayat, batu bedil, batu tegak, dan batu meriam.

Arca menhir Sokoliman berbentuk bulat pejal memanjang dengan permukaan, terutama pada bagian badan, leher, dan muka, dipahat sangat halus. Secara visual, arca ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu badan dan kepala dengan keseluruhannya sepanjang 357 cm, lebar 40 cm, dan diameter 126 cm.

Situs bersejarah di GunungkidulSitus Sokoliman di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana

Penemuan batu yang diduga batu menhir ini berawal dari laporan seorang warga bernama Parjiyo yang juga juru kunci kompleks makam desa setempat.

Ia menemukan batu menhir saat membuat lubang galian makam. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada juru pelihara Situs Sokoliman, Sugito, dan selanjutnya diteruskan ke kantor BPCB DIY melalui laporan tertulis tertanggal 6 Oktober 2016.

2. Kubur Peti Batu D 24

Kubur Peti Batu adalah kuburan masa kebudayaan megalitikum yang berbentuk liang lahat dengan diberi lantai batu tipis. Dinding kubur peti batu terdiri dari dua sisi batu panjang dan dua batu pipih yang pendek ujungnya, serta selembar batu pipih lain sebagai penutup.

Dinding kubur peti batu D 24 sisi timur memiliki ukuran panjang 131 cm dan lebar 57 cm, serta ketebalan 13 cm. Sementara, dinding sisi selatan memiliki panjang 89 cm, lebar, 55 cm, dan ketebalan 13 cm.

Kubur peti batu di Situs Sokoliman ini ditemukan dari hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Van der Hoop, bersamaan dengan penemuan area ini sebagai situs purbakala.

Dalam beberapa penelitian lanjutan, hasil analisa terhadap temuan tulang manusia mengidentifikasi setidaknya ada 4 atau 5 individu dalam kubur peti batu ini.

3. Fragmen Menhir D 12g

Fragmen Menhir D 12g ditemukan di pekarangan halaman rumah seorang warga bernama Sugito. Batu ini, semula berada di atas tanah tegalan dekat kandang sapi milik warga lain bernama Mento Pawiro (Mento Simin).

Pada tahun 2009 dan tahun 2017, BPCB DIY melakukan kegiatan inventarisasi yang dilanjutkan dengan pemetaan temuan benda megalitikum yang berada di luar Penampungan Sokoliman. Fragmen batu itu kemudian dipindahkah ke situs Sokoliman.

Dari penuturan Sugito, fragmen menhir D 12g ini mengalami kerusakan dari saat penemuan awal. Ketika diinventarisasi pada 2009, ukuran panjang fragmen menhir D 12g adalah 1 meter, tetapi saat ini hanya tersisa 84 cm.

Selain ketiga batuan di atas, masih ada banyak batuan peninggalan masa megalitikum yang dapat dijumpai di Situs Sokoliman. Berdasarkan data inventarisasi BPCB DIY, ada sedikitnya 5 buah kubur batu (insitu), 7 buah papan kubur batu, dan 137 buah batu menhir di Sokoliman.

Cara Menuju ke Sini dan Harga Tiket

Situs Sokoliman berada di Padukuhan Sokoliman II, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya terletak pada 20 kilometer timur laut pusat Kota Wonosari, dekat dengan wisata Gua Pindul.

Bagi yang memulai berkendara dari Jogja, Situs Sokoliman berada pada jarak 45 kilometer ke arah tenggara. Wisatawan dapat berkendara mengikuti Jalan Jogja-Wonosari kemudian mengambil jalur kiri ketika sampai di persimpangan Sambipitu Patuk ke arah Nglipar.

Wisatawan perlu berkendara sekitar 20 kilometer lagi untuk bisa sampai situs Sokoliman. Untuk masuk ke situs ini, wisatawan perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000 per orang. Akan tetapi, harga tiket tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.

Oleh karena itu, pengunjung dapat memeriksa tarif pastinya di lokasi secara langsung. Di sana juga telah disediakan pemandu atau juru pelihara situs yang akan mengajak wisatawan mengelilingi Situs Sokoliman.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mengunjungi Desa ala ‘Kerajaan’ di Gunungkidul



Gunungkidul

Pedukuhan Wotawati di Gunungkidul yang cuma disinari sinar matahari selama 7 jam sehari kini punya penampakan baru seperti di zaman ‘kerajaan’.

Wotawati saat ini telah bersolek. Sebagian besar rumah di Wotawati memiliki tampilan depan bangunan atau fasad yang sama, seperti pada masa kerajaan. Kesamaan itu tampak pada penggunaan bata merah ekspose pada bagian dindingnya.

Selain itu, setiap rumah saat ini memiliki gapura yang berbentuk sama dan menggunakan bata merah ekspose. Gapura tersebut identik dengan masa kerajaan sehingga menimbulkan sensasi tersendiri saat mengunjungi Wotawati.


Lurah Pucung, Estu Dwiyono mengatakan perubahan fasad rumah warga sudah berlangsung sejak Juni 2024. Saat itu Wotawati mendapat suntikan dana keistimewaan (Danais) sekitar Rp 5 miliar untuk penataan tahun ini.

“Jadi saat ini memang kita sedang melaksanakan penataan di kawasan Wotawati. Sebenarnya menata sesuatu yang sudah ada, hanya istilahnya kita poles,” katanya kepada wartawan di Wotawati, Gunungkidul, Sabtu (9/11).

Wotawati Gunungkidul kini bak kerajaan. Foto diambil Sabtu (10/11/2024).Wotawati Gunungkidul kini bak kerajaan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

“Seperti pagar-pagar di setiap rumah tadinya sudah ada, tapi kami poles lagi, perbaiki agar tampil lebih artistik dengan menggunakan Danais. Jadi sebenarnya tidak ada membangun baru,” lanjut Estu.

Penataan tersebut, kata Estu, bakal berlangsung selama tiga tahun ke depan. Sedangkan jumlah rumah yang fasadnya mengalami renovasi mencapai puluhan.

“Insyaallah, program ini akan berlangsung selama tiga tahun ke depan dan ada sekitar 79 rumah yang akan direnovasi fasadnya,” ujarnya.

Terkait konsep fasad rumah warga khususnya gapura yang menyerupai di Bali, Estu menampiknya. Menurut Estu, penggunaan bata merah merupakan perpaduan antara masa Majapahit dan Mataram.

“Sebenarnya konsep tidak mirip dengan Bali ya, kami tetap menjaga karakter lokal. Konon ceritanya kami bagian dari pelarian Majapahit, karena itu kenapa kami memilih bata merah itu kan sebenarnya kita identik dengan Majapahit atau awal Mataram,” ucapnya.

“Tapi kemudian tetap kita akulturasikan dengan yang menjadi ciri khasnya Jogja, khususnya Gunungkidul. Sehingga gapura-gapura itu tidak seperti gapuranya Majapahit, Bali, tapi tetap dengan gaya Jogja dan Gunungkidul,” imbuh Estu.

Penataan untuk Daya Tarik Wisata

Dengan penataan tersebut, Estu berharap Wotawati yang sebelumnya kerap disebut menjadi kawasan terisolir berubah menjadi kawasan terpadu. Di mana tidak hanya menawarkan keindahan dan keunikan pemukiman tetapi juga ada camping ground termasuk sentra pertanian dan peternakan terpadu.

“Dan kami berharap beberapa rumah warga nantinya bisa menjadi homestay sebagai tempat menginap wisatawan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GKR Bendara menyebut penataan di Wotawati memang perlu. Semua itu untuk menjadikan Wotawati sebagai salah satu perwujudan quality tourism

“Karena ini baru mulai penataan, harapannya mulai ditata bersama-sama dengan industri dari sekarang agar bisa menjadi quality tourism,” katanya.

GKR Bendara juga meminta jangan sampai keindahan alam di Wotawati rusak setelah menjadi tempat wisata. Karena itu GKR Bendara berharap ada aturan khusus dari Kalurahan.

“Untuk menjaga keindahan alam desa wisata ini, kami berharap ada aturan dari kelurahan yang melindungi lingkungan. Selain itu adanya kesadaran dari masyarakat sekitar untuk menjaga alam,” ucapnya.

“Sehingga Desa Wisata Wotawati diharapkan bisa menjadi contoh desa wisata berkelanjutan dengan quality tourism. Karena itu yang menjadi fokus pembangunan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta,” lanjut GKR Bendara.

Bahkan, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini juga melakukan upaya penghijauan dan pemeliharaan lahan agar semakin subur. Di mana salah satunya di Wotawati.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin meningkat, perlindungan terhadap lingkungan hidup menjadi kebutuhan yang mendesak.

“Program ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki kualitas udara dan meningkatkan daya serap karbon, tapi juga untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan mendukung pariwisata yang berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com