Tag Archives: hari pahlawan

Kondisi Terkini Hotel Yamato, Tempat Insiden Perobekan Bendera Belanda


Jakarta

Hotel Yamato, yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit, adalah tempat yang menyimpan jejak sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat ini, hotel tersebut masih eksis dan beroperasi. Menariknya, gaya bangunannya tetap mempertahankan infrastruktur klasik dan elegan dari masa kolonial.

Sebelum mengetahui beragam fasilitas hotel mewah ini, mari kita napak tilas kronologi peristiwa Hotel Yamato yang terjadi pada 19 September 1945 lalu.


Peristiwa Hotel Yamato

Peristiwa yang terjadi di Hotel Yamato adalah insiden perobekan warna biru pada bendera Belanda atau disebut het vlag incident. Insiden Hotel Yamato di latar belakangi oleh amarah masyarakat Surabaya, yang tidak terima terhadap pengibaran bendera Belanda di atas hotel tersebut.

Pasalnya, pengibaran bendera Belanda itu dianggap telah menghina kedaulatan bangsa Indonesia dan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus, tepat beberapa bulan yang lalu.

Mengutip buku Sejarah Indonesia Kelas XI Kemdikbud oleh Sardiman AM dan Amurwani Dwi Lestariningsih, ketika di Surabaya, orang-orang Inggris dan Belanda yang berhubungan dengan Jepang menginap di Hotel Yamato atau Hotel Oranye pada zaman Belanda.

Pada 19 September 1945, seorang bernama Mr. Ploegman dibantu kawan-kawannya mengibarkan bendera Belanda berwana merah, putih, biru di atap menara Hotel Yamato.

Dikutip dari buku Surabaya di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? karya Ady Setyawan, pada pukul 09.00 WIB bendera Belanda itu dikibarkan. Aksi ini kemudian mengundang arek-arek Suroboyo berkumpul di depan hotel.

Ada beberapa pemuda yang berhasil memanjat atap hotel dan menurunkan bendera merah putih biru, kemudian merobek bagian warna birunya. Kusno Wibowo dan Onny Manuhutu adalah tokoh pemuda yang merobek bendera Belanda di Hotel Yamato.

Setelah warna biru bendera Belanda dirobek, bendera tersebut dikibarkan kembali sebagai bendera dengan warna merah putih. Dengan berkibarnya bendera Sang Merah-Putih, para pemuda Surabaya satu per satu meninggalkan Hotel Yamato dengan penuh semangat dan menjaga kewaspadaan.

Dampak insiden di Hotel Yamato melatar belakangi berbagai pertempuran di Surabaya, termasuk penyebab terjadinya “Pertempuran Surabaya”.

Sejarah dan Kondisi Terkini Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit dibangun oleh Sarkies Family atau Sarkies Brothers pada tahun 1910. Awalnya, hotel ini dikenal sebagai “Hotel Oranje atau Hotel Oranye.

Saat Jepang menjajah dan menguasai Indonesia, nama hotel ini berganti menjadi Hotel Yamato. Kala itu, hotel ini juga digunakan head porter atau base camp saat pertempuran.

Kemudian sekitar tahun 1969, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel Yamato berganti nama menjadi Hotel Majapahit.

hotel majapahit surabayaHotel Majapahit Surabaya. (Deny Prastyo Utomo)

Executive Assistant Manager Hotel Majapahit, Benny Wijaya, menyebut bahwa pada 10 September 1945, hotel ini sempat bernama Merdeka.

“Tahun 1945 sampai 1946 berganti Lucas Martin Sarkies yakni kembali pada keluarga pendiri, tahun 1969 dijual ke Men Trust Holding. Nah, sampai sekarang, namanya tetap, yakni Hotel Majapahit,” ujar Benny kepada detikJatim, pada (23/04/2022) lalu.

Tim detikJatim pernah diajak berkeliling di hotel bersejarah yang berdiri di atas lahan seluas 2 hektar ini.

Hotel MajapahitHotel Majapahit (Praditya Fauzi Rahman/detikcom)

Terlihat pondasi, cat, hingga struktur bangunan masih kokoh. Namun, tetap ada tambahan, seperti beberapa aksesoris untuk mempercantik dan menambah modern tatanan.

Hotel MajapahitHotel Majapahit. (Lena Ellitan/dtravelers)

Sementara itu, General Manager Hotel Majapahit Surabaya, Kahar Salamun, menyebut salah satu satu bukti keaslian bangunan terlihat dari ubin marmer yang diimpor langsung dari Belanda.

Menurutnya, selain untuk menjaga keaslian hal tersebut juga jadi karakter bagi bagunan vintage Majapahit.

Hotel MajapahitHotel Majapahit (Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)

Penamaan Majapahit sendiri bukan diambil asal-asalan. Nama ini diambil karena sejalan dengan visi misi Kerajaan Majapahit, yang jadi salah satu kerajaan jaya dan tertua pada eranya. Maka dari itu, Majapahit dipakai dengan harapan seperti namanya.

Hotel Majapahit ini juga telah mengalami beberapa kali perombakan kepemilikan, nama, hingga peremajaan. Tapi, tidak demikian dengan keorisinilan bangunan secara keseluruhan.

Lokasi Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit Surabaya beralamat di Jalan Tunjungan Nomor 65, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur. Lokasi hotel ini juga sangat strategis, yakni di jantung kota Surabaya.

Fasilitas Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit adalah hotel bintang 5 berkelas internasional dengan fasilitas yang lengkap. Menariknya, hotel ini masih mempertahankan beberapa elemen klasik era kolonial.

Arsitektur di Hotel Majapahit Surabaya.Arsitektur di Hotel Majapahit Surabaya. (dok. Instagram @hotelmajapahitsby)

Tidak hanya memberikan suasana yang kaya akan sejarah, namun tetap menawarkan kenyamanan modern. Hotel Majapahit memiliki sekitar 139 kamar.

Berikut adalah fasilitas yang ada di Hotel majapahit Surabaya:

  • Kolam renang
  • Restoran
  • Tempat parkir
  • Pusat kebugaran
  • Ruangan ber AC
  • Room service
  • Akses untuk kursi roda
  • Sarapan (breakfast)
  • Spa
  • Bar
  • Area hijau
  • Piano dan meja biliar
  • Area bermain anak-anak
  • Bak mandi air panas/Whirlpool
  • Tempat untuk pernikahan dan ruang pertemuan
  • Wifi gratis.

Mengingat hotel ini jadi tempat bersejarah, makna setiap ada event sejarah kemerdekaan tahunan yang biasa diselenggarakan. Di antaranya peringatan perobekan bendera Belanda menjadi Merah Putih pada bulan September, dan Parade Surabaya Juang di bulan November.

Teatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit SurabayaTeatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit Surabaya (Aprilia Devi)

Dari catatan detikJatim, teatrikal yang digelar setiap tahun ini bertujuan mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda tentang sejarah Kota Pahlawan.

Acara-acara tersebut juga termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November yang telah rutin digelar sejak tahun 2009. Hotel ini juga masih digandrungi para wisatawan lokal maupun internasional.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Tugu Pahlawan Surabaya 2024


Jakarta

Ada banyak tempat wisata edukasi yang berada di Surabaya, salah satunya yang terkenal adalah Tugu Pahlawan. Tempat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan maupun masyarakat lokal, khususnya saat peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November.

Sedikit membahas tentang sejarahnya, Tugu Pahlawan Surabaya didirikan pada 10 November 1951 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1952.

Mengutip situs resmi Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, tujuan utama pembangunan Tugu Pahlawan Surabaya adalah untuk mengenang sejarah perjuangan para pahlawan bangsa Indonesia dalam pertempuran sengit pada 10 November 1945 di Surabaya.


Bagi kamu yang tertarik untuk berkunjung ke Tugu Pahlawan Surabaya, sebaiknya cek dahulu jam buka dan harga tiket masuknya. Untuk lebih jelasnya, simak dalam artikel ini.

Daya Tarik Tugu Pahlawan Surabaya

Daya tarik utama dari Tugu Pahlawan Surabaya adalah bentuk monumennya yang mirip seperti paku terbalik. Monumen tersebut memiliki ketinggian sekitar 40,15 meter.

Selain itu, ada juga museum bernama Museum Sepuluh Nopember. Museum tersebut dibangun pada 10 November 1991 di area Kompleks Tugu Pahlawan. Museum itu resmi dibuka oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 19 Februari 2000.

Menariknya, bangunan Museum Sepuluh Nopember berada di bawah tanah (basement), sehingga hanya terlihat atapnya saja dari kejauhan. Hal ini dilakukan agar tidak mengganggu pemandangan Tugu Pahlawan yang menjadi ikon Kota Surabaya.

Di dalam museum, travelers dapat melihat ratusan koleksi foto, senjata rampasan penjajah, dan artefak dari peninggalan pertempuran di Surabaya.

Lalu, terdapat fasilitas pendukung lainnya seperti diorama elektronik dan diorama statis. Hal ini dapat mempermudah pengunjung yang ingin mempelajari sejarah perjuangan rakyat Surabaya melawan penjajah.

Fasilitas di Tugu Pahlawan Surabaya

Fasilitas yang tersedia di Tugu Pahlawan Surabaya cukup lengkap, sehingga pengunjung tak perlu khawatir saat berwisata ke museum ini. Beberapa fasilitas yang dimiliki di antaranya:

  • Toilet
  • Mushola
  • Area parkir kendaraan
  • Lapangan luas
  • Ruang diorama elektronik
  • Ruang diorama statis
  • Ruang auditorium
  • Perpustakaan
  • Kidzone dan laktasi.

Harga Tiket Masuk Tugu Pahlawan Surabaya

Bagi travelers yang ingin berkunjung ke Tugu Pahlawan Surabaya akan dikenakan tiket masuk. Dilansir situs resmi Tiket Wisata Surabaya, untuk harga tiket masuk (HTM) Tugu Pahlawan sebesar Rp 8.000 per orang.

Bagi pengunjung yang merupakan pelajar, tidak dikenakan biaya tiket masuk sama sekali alias gratis. Menyenangkan bukan?

Nah, untuk pembelian tiketnya bisa dilakukan secara online lewat situs tiketwisata.surabaya.go.id. Untuk metode pembayarannya tersedia secara tunai dan QRIS.

Lokasi dan Jam Buka Tugu Pahlawan Surabaya

Tugu Pahlawan Surabaya beralamat di Jalan Pahlawan, Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya. Tempat wisata ini buka setiap Selasa-Minggu mulai pukul 08.00-15.00 WIB.

Jika detikers berkunjung ke Tugu Pahlawan, sempatkan juga untuk mampir ke Museum Sepuluh Nopember. Usahakan datang sejak pagi hari agar bisa puas berkeliling museum.

Itu dia jam buka dan harga tiket masuk Tugu Pahlawan Surabaya 2024. Semoga dapat membantu detikers!

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Hari Pahlawan 10 November, Ini 6 Objek Wisata Sejarah di Jakarta



Jakarta

Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November sejak tahun 1961. Berikut objek wisata di Jakarta yang lekat dengan perjuangan pahlawan.

Pada peringatan Hari Pahlawan itu menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia untuk mengenang dan menghargai perjuangan para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan.

Salah satu cara terbaik untuk memperdalam makna perjuangan tersebut adalah dengan mengunjungi berbagai objek wisata sejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka.


Di Jakarta, terdapat sejumlah tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi dan menyimpan banyak cerita dari masa-masa perjuangan para pahlawan.

Dirangkum oleh detikTravel, berikut beberapa destinasi bersejarah di Jakarta yang layak dikunjungi untuk meresapi semangat heroisme dan mengenang jasa para pahlawan.

1. Museum Sumpah Pemuda

Pengunjung berfoto bersama saat mengunjungi Museum Sumpah Pemuda di Jakarta, Senin (28/10/2024). Museum tersebut menyelenggarakan Sumpah Pemuda Youth Fest dalam rangka peringatan 96 tahun Sumpah Pemuda yang diisi dengan berbagai kegiatan edukatif dan hiburan, termasuk pertunjukan seni, serta atraksi budaya yang melibatkan sekitar 700 peserta dari berbagai kalangan. ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/aww.Pengunjung berfoto bersama saat mengunjungi Museum Sumpah Pemuda di Jakarta, Senin (28/10/2024).

Museum Sumpah Pemuda adalah tempat bersejarah yang terkait erat dengan peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, sebuah momentum penting yang menjadi dasar persatuan dan identitas nasional Indonesia.

Berdirinya Museum Sumpah Pemuda merupakan hasil gagasan dari para pelaku Kongres Pemuda Kedua berikrar. Dalam ikrar tersebut, para pemuda berjanji untuk bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumpah ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, karena menegaskan semangat persatuan dan kebangsaan di tengah masyarakat yang beragam, yang ingin menjaga semangat persatuan itu tetap hidup di kalangan generasi muda. Museum ini dulunya adalah rumah milik Sie Kong Lian, seorang tokoh Tionghoa pada abad ke-20, yang kini dialihfungsikan menjadi tempat wisata sejarah.

Destinasi ini sangat cocok untuk menumbuhkan semangat persatuan dan nasionalisme abadi di hati pemuda Indonesia,berlokasi di Jl. Kramat Raya No. 106 Jakarta Pusat menjadi ruang untuk mengenang serta menghargai komitmen para pemuda bangsa, dalam memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan Indonesia.

2. Monumen Nasional

Manuver Tim Jupiter TNi AU bentuk love sign di langit MonasMonas (Wildan Noviansah/detikcom)

Sebagai ikon Jakarta, Monumen Nasional (Monas) tidak hanya menjadi simbol perjuangan bangsa, tetapi juga menyimpan berbagai diorama yang menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.

Di dalam Monas, terdapat ruang pameran sejarah yang menampilkan peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan, menjadikannya sebagai destinasi edukatif yang sarat makna bagi para pengunjung.

Salah satu spot menarik yang bisa dijelajahi adalah ruang museum yang berada di bawah Monas, sekitar 3 meter di bawah permukaan tugu, dengan 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari berbagai zaman.

Selain itu, terdapat Ruang Kemerdekaan yang menampilkan peta kepulauan Indonesia, bendera Sang Saka Merah Putih, lambang negara Bhineka Tunggal Ika, dan pintu gapura dengan naskah Proklamasi.

Di sekeliling monumen, relief sejarah Indonesia menggambarkan perjalanan bangsa mulai dari masa penjajahan Belanda, perjuangan rakyat Indonesia, hingga era pembangunan modern.

Pada bagian pelataran puncak Monas yang berada di ketinggian 115 meter, dengan luas 11 x 11 meter dan mampu menampung hingga 50 orang, pengunjung dapat menikmati pemandangan Jakarta dari ketinggian, lengkap dengan fasilitas teropong untuk melihat lebih jelas sejauh mata memandang Ibu Kota Jakarta. Untuk harga tiket masuk Monas, pengunjung dewasa dikenakan tarif Rp 24.000, mahasiswa Rp 13.000, dan anak-anak Rp 6.000.

3. Taman Makam Pahlawan Kalibata

Sejarah Taman Makam Pahlawan Kalibata dikenal sebagai lokasi peristirahatan terakhir para pahlawan maupun tokoh-tokoh penting di Indonesia. Ini ulasannya.Sejarah Taman Makam Pahlawan Kalibata dikenal sebagai lokasi peristirahatan terakhir para pahlawan maupun tokoh-tokoh penting di Indonesia. Ini ulasannya. (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Tempat ini memiliki luas mencapai 247.423 meter persegi (24,7 hektare) dan meskipun bukan museum, ia memiliki peran yang sangat penting untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur lebih dari 7.000 orang korban militer dan veteran, termasuk deretan tokoh-tokoh penting, mulai dari pejabat tinggi negara hingga anggota militer bersemayam disini.

Didirikan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasa mereka bagi bangsa dan negara, tempat ini juga berfungsi sebagai sarana pelestarian nilai-nilai yang diwariskan oleh para pahlawan dan perintis bangsa, serta menanamkan semangat kesetiakawanan sosial bagi masyarakat.

Selain menjadi objek studi dan tempat ziarah wisata, tempat ini dibuka untuk umum setiap hari dari pukul 06.00 hingga 18.00 dan berlokasi di Jalan Raya Kalibata No. 14, RT 14/RW 1, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan.

4. Monumen Pancasila Sakti

Hari Kesaktian Pancasila 2021: Tema dan Pedoman UpacaraMonumen Pancasila Sakti (Agung Pambudhy/detikcom)

Tempat ini sangat cocok bagi para traveler yang ingin mempelajari lebih dalam tentang sejarah pahlawan bangsa, berlokasi di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan dibangun untuk mengenang tujuh pahlawan revolusi yang gugur dalam tragedi Gerakan 30 September (G30S) sebagai upaya pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Monumen ini mulai dibangun pada Agustus 1967 dan diresmikan pada 1 Oktober 1969 oleh Presiden Soekarno. Di area ini terdapat sebuah sumur tua yang menyimpan sejarah kelam bangsa Indonesia, menjadi saksi bisu dari kejadian tragis yang menimpa para pahlawan revolusi.

Dikutip dari buku ‘Mengenal Lebih Dekat: Bangunan Bersejarah Indonesia karya Nunung Marzuki,’ terdapat tujuh pahlawan yang gugur dalam peristiwa ini, yaitu Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R. Suprapto, Mayjen TNI M.T. Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI D.I. Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Tendean. Bagi traveler yang berminat bisa mengeluarkan sebesar Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk pelajar dan mahasiswa buka dari pukul 08.00 hingga 15.30 WIB.

5. Museum Kebangkitan Nasional

Pameran bertajuk 'Kita Serumpun' digelar di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (13/8/2024).Museum Kebangkitan Nasional. (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Berlokasi di Jalan Abdul Rachman Saleh No. 26, Jakarta, museum ini menampilkan sejarah pergerakan Budi Utomo yang diprakarsai oleh delapan pelajar STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) yang belajar ilmu kedokteran pada tanggal 20 Mei 1908, yang kemudian menjadi tonggak awal pergerakan nasional Indonesia.

Di dalam museum ini, pengunjung dapat menemukan beberapa spot menarik yang menggambarkan kehidupan dan perjuangan para pelajar STOVIA, seperti ruang yang memamerkan alat-alat kedokteran, alat racikan untuk ramuan obat, ruang belajar, ruang asrama STOVIA, serta Memorial Hall Budi Utomo yang penuh dengan informasi mengenai sejarah berdirinya organisasi ini.

Museum itu buka setiap hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, dengan tiket masuk sebesar Rp 5.000 untuk dewasa, Rp 3.000 untuk anak-anak, dan Rp 25.000 untuk turis.

6. Museum Nasional

Museum Nasional di Jakarta resmi dibuka kembali untuk pengunjung pada Selasa (15/10/2024) setelah penutupan sementara akibat kebakaran yang melanda Gedung A.Museum Nasional di Jakarta resmi dibuka kembali untuk pengunjung pada Selasa (15/10/2024) setelah penutupan sementara akibat kebakaran yang melanda Gedung A. (Hilalia Kani Juliana)

Museum Nasional Indonesia kembali dibuka untuk umum pada tanggal 15 Oktober 2024, setelah sebelumnya ditutup akibat kebakaran yang terjadi pada 16 September 2023.

Dikenal juga sebagai Museum Gajah, museum ini kini menampilkan penataan koleksi yang lebih rapi serta beberapa area baru, seperti pameran khusus pasca kebakaran dan area repatriasi melihat benda-benda warisan budaya hasil diplomasi dari 1949 hingga saat ini.

Pengunjung juga dapat menikmati pameran menarik yang memungkinkan mereka melihat kemiripan wajah pribadi dengan karakteristik paras suku dan daerah di Indonesia.

Museum Nasional buka setiap hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, dengan harga tiket masuk Rp 25.000 untuk dewasa, Rp 15.000 untuk anak-anak, dan Rp 50.000 untuk wisatawan asing (WNA).

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wisata di Kota Pahlawan, 10 Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia di Surabaya

Lokasi: Jl. Pemuda Nomor 39, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

Mulai dibuka untuk umum pada 1998, Monkasel adalah bukti sejarah dahsyatnya perang laut yang dihadapi Indonesia untuk mempertahakankan kedaulatan. Monumen ini sebelumnya adalah kapal selam KRI Pasopati yang mulai diistirahatkan pada 26 Januari 1990.

Sebelumnya, KRI Pasopati 410 berpartisipasi dalam Operasi Trikora untuk mengembalikan Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tugas utamanya adalah mengangkut senjata dan personel militer ke garis tempur tanpa diketahui musuh. KRI juga bertugas memberikan serangan balik, melindungi konvoi kapal, dan menjalankan misi rahasia. Setelah 28 tahun bertugas sejak 1962 dan mengalami kerusakan parah, KRI Pasopati 410 dipensiunkan.

Lokasi: Jl. Pahlawan, Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur

Monumen setinggi 41,15 meter ini adalah bentuk penghargaan dan menghormati jasa Arek-arek Surabaya saat perang 10 November 1945. Perang usai proklamasi kemerdekaan tersebut melawan sekutu dan Belanda yang ingin menaklukkan Indonesia.

Perang ini menewaskan 20 ribu pejuang Indonesia, serta korban luka dan hilang yang tidak terdata. Selama dua minggu berperang, rakyat Surabaya menunjukkan keberanian dan semangat meski dengan perlengkapan minim. Dipimpin Bung Tomo, Komandan BKR Mayjen Sungkono, dan KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan resolusi jihad, para pejuang mengangkat senjata serta melakukan taktik gerilya hingga sekutu menyerah.

Lokasi: Jl. Jembatan Merah, Krembangan Selatan, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya, Jawa Timur

Jembatan Merah adalah spot penting dalam Pertempuran Surabaya 10 November. Komandan tentara sekutu Jenderal AWS Mallaby tewas dekat Jembatan Merah yang kemudian memicu perang. Jembatan Merah juga menjadi titik pertempuran pejuang Surabaya melawan sekutu dan Belanda.

Fisik jembatan yang memang berwarna merah ini dibangun VOC sekitar tahun 1809 untuk mempermudah jalur perdagangan di Sungai Kalimas. Jembatan awalnya berbahan kayu yang terus diperbaiki hingga menggunakan besi, sesuai kebutuhan sekarang. Hingga saat ini, Jembatan Merah di Kota Lama Surabaya masih digunakan masyarakat.

Lokasi: Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Jawa Timur

Bangunan ini adalah saksi bisu kejamnya era kolonialisme terhadap kehidupan rakyat Indonesia. Sejumlah Pahlawan Nasional pernah merasakan dindingnya yang dingin dan kejamnya neraka di atas bumi tersebut. Mereka adalah WR Soepratman, HOS Tjokroaminoto, dan dr Mustopo dari BKR.

Para napi Penjara Kalisosok dirantai dengan bandul bola besi di pergelangan kaki dan memperoleh stempel G (Gevangene=napi) pada tangan. Tekanan fisik, mental, dan penyebaran penyakit kolera serta pes mengakibatkan para tahanan mati lalu dikubur di Makam Peresan.

Lokasi: Jl. Pahlawan 120, Krembangan Selatan, Krembangan

Bangunan cagar budaya ini dulunya adalah perusahaan NV Lindetes Stokvis yang menguasai bisnis, jasa, industri, dan perdagangan. Gedung yang dibangun pada 1913 ini sempat digunakan sebagai bengkel kendaraan perang dan gudang senjata semasa pendudukan Jepang. Gedung ini menjadi Kitahama Butai karena luas dan pernah jadi pabrik konstruksi baja.

Selanjutnya, bangunan beberapa kali beralih fungsi di era usai kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1993, gedung pernah digunakan untuk operasional Bank Niaga dan Bank Dagang Negara (BDN). Sejak tahun 2001, gedung digunakan Bank Mandiri Cabang Surabaya Pahlawan hingga kini. Bangunan ini menjadi landmark Surabaya karena unik dan terletak di posisi strategis.

Lokasi: Jl. Tunjungan Nomor 1, Genteng, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

Dulu, Gedung Siola adalah adalah bangunan toserba asal Inggris bernama Whiteaway Laidlaw di bawah perusahaan Whiteaway Laidlaw & Co. Di tahun 1900an, Whiteaway menjadi pusat pertokoan terbesar di Hindia Belanda dan bikin pengunjung yang sempat datang sangat terkesan.

Selepas proklamasi, gedung ini sempat jadi area bertahan Arek-arek Surabaya saat perang 10 November 1945. Seiring waktu, gedung berubah fungsi hingga mendapatkan namanya sebagai Siola. Nama tersebut adalah kependekan dari tiga nama Soemitro, Ing Wibisono, Ong Liem Ang yang membuat gedung ini sebagai landmark Jalan Tunjungan. Gedung Siola sempat jadi mall pelayanan publik sebelum jadi Museum Surabaya yang berisi koleksi terkait sosial budaya Kota Surabaya.

Lokasi: Jl. Jayengrono, dekat Jembatan Merah Plaza, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur

Gedung dengan nama lengkap Internationale Crediten Handelvereeninging dulunya adalah perusahaan investasi dan pengelolaan perdagangan untuk menarik pebisnis Hindia Belanda. Bangunan yang mulai berdiri tahun 1927 dan selesai pada 1931 ini menjadi saksi awal meletusnya Pertempuran 10 November.

Ketika sekutu datang pada 25 Oktober 1945, Gedung Internatio menjadi markas pasukan sekutu yang dipimpin Mayor V Gopal. Bangunan ini menjadi saksi tewasnya Mallaby dalam keadaan chaos di halaman Gedung Internatio. Ketika itu, warga Surabaya tidak yakin dengan komitmen sekutu yang mengklaim datang tidak untuk perang. Apalagi, tiba-tiba meletus tembakan yang mengarah pada kerumunan warga Surabaya yang dilanjutkan dengan lemparan granat pada mobil Mallaby.

Lokasi: Jl. Tunjungan Nomor 65, Genteng, Kecamaatn Genteng, Surabaya, Jawa Timur

Hotel bintang lima yang berdiri sejak tahun 1942 ini masih aktif hingga sekarang. Berdiri sejak 1942, hotel ini menyaksikan sendiri era pendudukan Belanda, Jepang, hingga berhasil merdeka. Di tahun-tahun pertama berdiri, hotel ini bernama Oranje yang dikelola Sarkies Family.

Selanjutnya, hotel ini berganti nama menjadi Yamato yang menjadi hotel sekaligus headporter atau base camp saat pertempuran. Hotel ganti nama menjadi Merdeka selepas proklamasi, lalu Majapahit sekitar tahun 1969 hingga kini. Kendati melewati berbagai era, pengelola mempertahankan tampilan fisik dan keramik yang menjadi ciri khasnya sebagai bangunan Belanda.

Lokasi: Jl. Rajawali Nomor 7, Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur

Seperti namanya, gedung ini punya menara yang mirip cerutu saat dibakar. Awalnya, gedung ini adalah kantor perusahaan gula NV Maatschappij Tot Exploitatie van Het Bureau Gebroeders Knaud. Selanjutnya, bangunan yang berlokasi depan Gedung Internatio ini sempat jadi kantor Said bin Oemar Bagil dan Bank Bumi Daya. Sejak tahun 2009, gedung menjadi cagar budaya hingga kini.

Lokasi: Jl. Gubernur Suryo, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

Tempat bersejarah di Surabaya ini menyimpan cerita perundingan antara Ir Soekarno dengan Jenderal DC Hawthorn dari sekutu. Presiden pertama RI ini berusaha mendorong sekutu berdamai dan menghentikan gencatan senjata. Gedung ini berdiri sejak 1975 dengan gaya Romawi.

Simak Video “Video: Melihat Teatrikal Parade Surabaya Juang Peringati Hari Pahlawan
[Gambas:Video 20detik]



Sumber : travel.detik.com