Tag Archives: hidden gem

Melepas Penat dengan ‘Baca Di Tebet’, Perpustakaan Hidden Gem di Jaksel



Jakarta

Melepas penat dengan me time memang jadi jalan terbaik. Buat traveler yang suka membaca, kalian bisa banget datang ke ‘Baca Di Tebet’.

Butuh tempat yang bisa memfasilitasi pikiran dan hati saat suasana galau, Baca Di Tebet bisa jadi piliham. Baca Di Tebet merupakan sebuah konsep perpustakaan yang beda dari perpustakaan yang lain.

Di sini kamu bisa baca buku sambil makan di area baca. Selain itu, Baca Di Tebet juga punya space yang cukup luas yang dibagi ke beberapa ruangan.


Semua ruangan baca ini telah dilengkapi dengan AC dan Wifi, tentunya ini semakin bikin nyaman ketika berada di perpustakaan ini. Ada sekitar 26.000 koleksi buku bahasa Indonesia dan juga Bahasa Inggris.

Tempat berkumpul plus perpustakaan ini dimiliki oleh dua orang yakni Wien Muldian dan Kanti W. Janis. Pertemuan mereka pertama kali terjadi pada tahun 2018.

Perpustakaan di TebetPerpustakaan Baca di Tebet Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Buku-buku di sini merupakan koleksi pribadi dari sosok Wien dan tempat ini pun asalnya merupakan rumah pribadi milik keluarga Kanti.

Inisiasi tempat ini sebetulnya sudah terpikiran oleh Kanti sedari lama, ia menuturkan selama ini tak banyak perpustakaan yang memberikan suasana yang nyaman sesuai kebutuhan pengunjung.

“Di Indonesia kan perpustakaan saat itu ya belum ada perpustakaan yang nyaman yang sesuai dengan kebutuhan. Perpustakaan yang koleksinya lengkap, AC-nya dingin, terus bisa makan ya bisa ngopi tapi ya di luar negeri juga sebenarnya perpustakaan yang boleh makan, boleh ngopi di dalam ruang koleksi tuh juga jarang sih,” kata Kanti kepada detikTravel, Rabu (22/5/2024).

“Jadi menggabungkan antara keinginan pribadi terus boleh dibilang riset pribadi kalau ke luar negeri gitu ya kalau ada kesempatan ke luar negeri pasti ke perpustakaan ‘oh yang nyaman tuh kaya gini, yang saya suka tuh kaya gini’ tinggal ditambah ini-ini dan semuanya diwujudkan di Baca Di Tebet,” dia menambahkan.

Kanti juga merupakan seorang penulis novel dan pertemuannya dengan Wien saat berada di organisasi penulis. Dan Wien merupakan seorang yang telah menekuni bidang ini cukup lama, ia pun pernah mengenyam pendidikan terkait keperpustakaan.

Perpustakaan di TebetPerpustakaan Baca di Tebet Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Menyoal buku-buku di Baca Di Tebet, Wien pun menyebut kalau buku-buku yang ada di sini merupakan buku yang sedianya berasal dari koleksi pribadi di rumahnya.

“Jadi semua buku saya yang ada di rumah di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, semua buku dari rumah diangkut semua ke sini. Kecuali yang arsip-arsip atau berkas-berkas ya di rumah tapi kalau buku-buku semua di sini,” ujar dia.

Baca Di Tebet berada di Jalan Tebet Barat Dalam Raya No. 29, Jakarta Selatan. Tempat ini sangat cocok untuk kamu yang memang butuh ketenangan sejenak untuk merefresh pikiran dengan suasana yang nyaman dengan membaca buku sambil makan atau ngopi.

Untuk bisa masuk ke perpustakaan ini kamu akan dikenakan tarif masuk harian sebesar Rp 35.000 per orang, jika kamu mulai nyaman dengan tempat ini atau perlu buku yang hanya ada di tempat ini bisa langsung mendaftar sebagai member bulanan dengan harga Rp 100.000 atau tahunan dengan harga Rp 600.000 bagi kalangan pelajar atau mahasiswa dan Rp 800.000 untuk umum.

Di tempat ini, pengunjung harian atau bulanan tidak bisa meminjam buku untuk dibawa pulang. Peminjaman buku untuk dibawa pulang hanya diperkenankan hanya untuk anggota tahunan saja.

Perpustakaan di TebetPerpustakaan di Tebet Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Karena pengelolaan perpustakaan ini oleh pribadi jadi semua tarif pengunjung akan disalurkan untuk operasional Baca Di Tebet.

Jam operasional tempat ini pun dimulai pada hari Selasa-Minggu, untuk Selasa hingga Kamis jam buka berada pada pukul 10.00-18.00 WIB dan Jumat-Sabtu pukul 12.30-20.30 WIB.

Baca Di Tebet tak hanya menjadi tempat membaca dan makan-ngopi saja, tempat ini juga kerap mengadakan berbagai kegiatan seperti kelas menulis, teater hingga gelaran live musik untuk mengiringi para pembaca.

Untuk kamu yang penasaran dan ingin mencoba Baca Di Tebet tinggal daftar terlebih dahulu melalui link yang tersedia di Instagram @bacaditebet atau mendaftar langsung di tempat.

(wsw/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Ada Perpustakaan Mini di Tengah-tengah Pasar



Bandung

Di tengah-tengah pasar Cihapit, Kota Bandung tersembunyi satu hidden gem yang patut didatangi. Ada sebuah perpustakaan mini yang menarik untuk dikunjungi.

Perpustakaan mini yang berbentuk persegi dengan dominan warna putih. Meskipun tempatnya mungil, namun di sini terdapat banyak buku mulai dari buku ilmiah, novel hingga komik.

Di tengah-tengah perpustakaan itu terdapat empat kursi dan satu meja kaca berwarna hitam. Tempat ini pun cocok untuk dikunjungi karena bisa membaca buku dengan suasana seperti di pasar.


Bila ingin mengunjungi perpustakaan, anda bisa masuk ke gang Masjid Istiqamah Cihapit Bandung kemudian ikuti jalan sampai masuk ke pasar, tak jauh dari situ tempatnya berada di sebelah kanan, depan kedai Batagor Kahuripan.

Saat berkunjung ke sana, tidak ada yang menjaga perpustakan ini. Setelah menunggu beberapa menit, terlihat ada pria lansia di dalam kedai kopi. Saat bertanya, ternyata ia adalah salah satu penjaga perpustakaan tersebut bernama Bayu (62).

Setelah berbincang-bincang, perpustakaan ini sudah berdiri selama empat tahun. Adanya perpustakaan ini berawal dari ide teman-temannya yang sering nongkrong di kedainya, kebetulan ada tempat kosong alhasil dibuatlah taman baca itu.

“Awalnya sih dari teman-teman yang suka ke sini, mereka itu ada yang dari pecinta buku segala macem, karena ada tempat kosong tercetus lah, saya coba bikin seperti taman baca gitu, ya sederhana aja gitu,” kata Bayu, Sabtu (20/4/2024).

Kedai kopi Los Tjihapit di Pasar Cihapit, Kota Bandung.Kedai kopi Los Tjihapit di Pasar Cihapit, Kota Bandung. Foto: Shafa Aulia Nursani/detikJabar

Mengapa memilih tempatnya di dalam pasar, menurutnya selain ada tempat yang kosong juga sebelumnya ia sudah berjualan terlebih dahulu sehingga teman-temannya suka ngopi di kedainya.

“Kalau tempat di sini karena saya udah jualan duluan di sinu, ini jualan kopi. Jadi mereka itu memang teman-teman yang suka ngopi di sini,” ucap pria yang memakai kacamata tersebut.

Untuk motivasi diadakannya perpustakaan ini ingin membuat antusias orang untuk membaca lagi. “Motivasinya sih sederhana sebenarnya bikin gairah membaca lagi, soalnya kan sekarang itu udah terlalu banyak bacaan dari elektronik, kita pingin orang pinjem buku lagi,” ucapnya.

Perpustakaan mini ini buka dari pukul 06.00-13.00 WIB, bisa sampai sore dengan mengikuti kedai kopinya. Buku-buku yang dipajang di sini, bisa anda pinjam dengan kemudian di catat oleh pemilik kedai kopi. Waktu peminjaman buku ini selama satu minggu dan bisa meminjam satu buku.

Buku yang tersedia di perpustakaan diberi oleh teman-temannya yang mempunyai niatan untuk bisa

“Saya tambahkan aja buku-buku ini juga kebanyakan donaturnya ya teman-teman juga, mereka juga sama-sama punya niatan untuk orang kembali membaca,” pungkasnya.

Setelah membuat perpustakaan ini, Bayu juga mengatakan ada hasilnya sedikit demi sedikit orang membaca buku.

“Alhamdulillah sih yang baca udah mulai ada, udah ada perkembangannya, mulai dari iseng sambil dia ngopi membaca sampai akhirnya tertarik lagi,” turur Bayu.

Orang yang berkunjung ke perpustakaan dari mulai mahasiswa hingga orang tua. Sekedar mengetahui jika perpustakaan ini bekerjasama dengan perpustakaan Ajip Rosidi yang berada di Jalan Garut.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mungkin Ini Hotel Paling Hidden Gem di Subang, Begitu Tenang Serasa di Ubud!



Subang

Tren staycation di tempat-tempat anti-mainstream mulai digandrungi. Nah, hotel ini boleh dibilang hidden gem, tidak jauh dari Jakarta.

Favehotel Pamanukan adalah hidden gem yang dimaksud. Terletak di jalan M. Tjeje Dzakaria no 92, Rancasari, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, hotel ini memiliki view yang tak disangka-sangka, seolah mendapatkan kejutan yang menenangkan.

Dari depan, hotel ini tampak berkelas dengan desain yang modern. Lobby dan Lime Restoran berada di lantai pertama dengan konsep konekting, memberi kesan minimalis namun tetap elegan.


Memiliki luas 8.000 meter persegi, Favehotel Pamanukan jadi yang terbesar kedua di Subang. Hotel bintang tiga itu memiliki 107 kamar dengan empat tipe kamar yaitu Standard room mulai dari Rp 545.000 per malam, Standard Balcony room mulai dari Rp 645.000 per malam, Deluxe room mulai dari Rp 795.000 per malam, dan Suite room mulai dari Rp 1.020.000 per malam.

Dalam undangan media trip bersama Archipelago pada Jumat-Sabtu (30-31 Agustus), detikTravel merasakan langsung bagaimana bermalam di Favehotel Pamanukan. Tipe kamarnya standar room dengan twin bed, pemandangan jendela langsung menghadap sawah. Rasanya seperti sedang ada di Ubud!

Favehotel Pamanukan, SubangSuite room di Favehotel Pamanukan, Subang (dok Favehotel Pamanukan)

Pasar utama hotel ini adalah MICE, kebanyakan yang menginap adalah ekspatriat dari China, Korea Selatan dan Jepang. Durasi menginapnya pun bisa bulanan alias long-stay.

Subang yang adalah kawasan pertanian dan pabrik, tak memiliki banyak tempat hiburan. Mau tak mau, Favehotel harus mampu memberikan sesuatu yang berbeda kepada tamu.

Hal itu dituangkan ke dalam restoran. Kebanyakan hotel-hotel dengan tamu asing memiliki rasa makanan yang menyesuaikan lidah bule atau bisa dibilang kurang garam dan bumbu. Namun hal ini sangat berbeda dengan Lime Restoran yang dikelola oleh Favehotel, tiap menu makanan dibuat dengan penuh bumbu.

Favehotel Pamanukan di SubangsFavehotel Pamanukan di Subangs (bonauli/detikcom)

Siang itu, tim media mendapat menu makanan Padang karena setiap hari restoran menyajikan tema yang berbeda. Soto Padang yang pekat dan kuat rasa terjadi bersama emping dan sambal yang pedas. Menu-menu lain seperti rendang, sayur dan gulai ikan pun menambah selera makan.

Menu makanan saat sarapan pun berganti tema setiap hari. Jangan khawatir, rasanya akan dibuat sama-sama enak dan kaya bumbu.

Fasilitas lain yang disediakan oleh hotel adalah gym dan kolam renang. Khusus untuk kolam renang, tamu akan diantar ke waterpark Subang, karena pemilik hotel juga mengelola waterpark tersebut. Sementara itu, gym berada di bangunan terpisah dari hotel, fasilitasnya pun lengkap!

Favehotel Pamanukan di SubangsFavehotel Pamanukan di Subangs (bonauli/detikcom)

Untuk melengkapi kebutuhan tamu-tamu MICE, Favehotel Pamanukan juga memiliki ruang rapat dan ballroom.

Favehotel Pamanukan hanya berjarak dua jam dari Jakarta. Traveler yang mau staycation di tempat tenang dengan view Ubud, rasanya bisa healing ke Favehotel Pamanukan.

Selamat staycation dan jajal kejutan yang menenangkan itu.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gem di Sikka, Air Panas Blidit yang Tersembunyi



Sikka

Akhir pekan, saatnya bertualang. Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ada wisata mata air panas Blidit yang tersembunyi. Hidden gem nih!

Air Panas Blidit terletak di perbatasan Desa Waigete dan Hutan Lindung Egon. Onjek wisata Air Panas Blidit menawarkan pengalaman berendam di air yang jernih dan bersih tanpa sampah serta suasana alam yang asri dan menenangkan.

Perjalanan menuju Air Panas Blidit memakan waktu sekitar 30 hingga 40 menit dari Maumere, dengan jarak sekitar 30 kilometer. Pengunjung dapat memulai perjalanan dari Jalan Trans Flores Maumere-Larantuka.


Setibanya di persimpangan Desa Egon, terdapat papan penunjuk arah menuju Air Panas Blidit. Ikuti petunjuk jalan tersebut hingga mencapai area pedesaan, di mana pengunjung akan melintasi jalan beraspal sepanjang tujuh kilometer sebelum tiba di area parkir.

Dari tempat parkir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer (km) melewati Hutan Lindung Egon. Jalur ini menawarkan pengalaman unik dengan pemandangan pohon-pohon tinggi dan hijau, memberikan kesan seperti berjalan di dalam lukisan alam yang menakjubkan.

Namun, pengunjung perlu berhati-hati karena medan yang dilalui cukup menantang. Sesampainya di lokasi, pengunjung dapat menikmati air hangat dengan suhu yang pas untuk tubuh.

Selain memberikan kenyamanan, air panas di sini dipercaya oleh masyarakat setempat mampu membantu menyembuhkan berbagai penyakit kulit, seperti eksim dan gatal-gatal. Tidak heran, destinasi ini lebih sering dikunjungi oleh warga lokal dan belum terlalu dikenal oleh wisatawan luar.

Bagi traveler yang ingin merasakan sensasi alami berendam di air panas di tengah hutan, Blidit adalah pilihan yang tepat. Terlebih, berkunjung ke sana tanpa dipungut biaya. Pastikan untuk menjaga kebersihan dan berhati-hati selama perjalanan agar keindahan alamnya tetap terjaga.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Begini Wajah Terkini Kampung Pelangi di Bandung, Penuh Warna-warni



Bandung

Kampung Pelangi di Bandung kini punya wajah baru. Warna-warni cerah kampung yang kini berubah nama menjadi Lembur Katumbiri itu telah kembali.

Pemandangan penuh warna yang unik dan semarak kini sudah siap menyambut siapa saja wisatawan yang menyambangi kawasan Lembur Katumbiri di Kota Bandung.

Perkampungan dengan topografi berundak-undak ini menjadi rumah bagi ratusan warga yang menghuni bangunan dengan aneka mural berwarna-warni cerah.


Rumah-rumah berwana tersebut berdiri di lereng Sungai Cikapundung, tepatnya terletak di Jalan Siliwangi, RT 03 RW 12 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. Jalan masuknya dapat diakses melalui Gang Bapa Ehom yang berada di samping area Teras Cikapundung.

Tim detikJabar menyambangi Lembur Katumbiri yang baru diresmikan hari Selasa (6/5/2025) ini. Di pagi hari, suasana jalan Gang Bapa Ehom menuju Lembur Katumbiri terasa segar dan sejuk, dengan gemercik suara sungai dan sinar matahari menerobos pepohonan.

Lembur Katumbiri di Kota BandungLembur Katumbiri di Kota Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Tak heran, banyak pejalan kaki maupun pelari yang terpantau mengunjungi kawasan ini untuk berolahraga. Terlebih, jalan setapak yang telah dipugar ini juga terlihat bersih dan asri.

Untuk mencapai Lembur Katumbiri, traveler perlu berjalan sekitar 600-an meter dari bibir gang, dengan jalan yang relatif datar dan aman untuk dilalui siapa saja. Namun, ada beberapa titik yang licin dan perlu diwaspadai terutama bila hujan turun.

Warna-warni cerah dinding rumah mulai terlihat setelah berjalan kaki santai selama kurang lebih 10 menit. Ada spot foto yang bisa digunakan pengunjung untuk mengabadikan momen dengan latar rumah warna-warni. Namun, untuk mengakses kampung ini, pengunjung harus melalui turunan dan tanjakan yang cukup curam.

Lembur Katumbiri di Kota BandungLembur Katumbiri di Kota Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Lembur atau kampung yang sebelumnya dinamai Kampung Pelangi 200 ini telah cukup lama menjadi salah satu spot wisata ‘Instagramable’ Kota Bandung, yakni sejak 2018-an. Namun, seiring waktu, warna-warni kampung ini perlahan pudar.

Oleh karena itu, pemerintah Kota Bandung bersama seniman mural John Martono dan warga setempat kembali mengecat sebanyak hampir 200 rumah di kawasan ini agar kembali menarik.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pengecatan kembali rumah-rumah di Lembur Katumbiri bertujuan untuk menjadikan kawasan ini sebagai tempat wisata tersembunyi atau ‘hidden gem’ yang menarik bagi wisatawan.

“Tujuannya adalah untuk memberikan alternatif ‘hidden gem’, sebuah konsep yang bisa dibuat sebenarnya. Tempat tersendiri, jauh dari keramaian, sangat menyenagkan untuk didatangi wisatawan,” ungkap Farhan di sela peresmian Lembur Katumbiri.

Nama katumbiri alias “pelangi” dalam Bahasa Sunda dipilih karena merepresentasikan suasana rumah dengan mural warna-warni di kawasan ini. Ia berharap warga setempat dapat memanfaatkan hal ini dengan membuka tempat usaha yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai.

“Wisatawan bisa bikin konten di sini. Warga silakan buat tempat jajan, tempat duduk-duduk dan foto2-foto. Asalkan tetap jaga kebersihan dan keselamatan,” terangnya.

Pengecetan Lembur Katumbiri Melibatkan Warga

Sementara itu, seniman mural John Martono mengatakan ia memerlukan waktu sekitar 17 hari untuk mengecat 200-an rumah di Lembur Katumbiri. Pengecatan dilakukan bekerja sama dengan sejumlah pihak, tak terkecuali warga setempat.

“Ada teman-teman dan pegawai yang ngecat, juga warga sekitar. Ini adalah kerja sama kami. Kita usahakan agar setiap rumah warnanya berbeda-beda,” ungkap John.

Ia mengatakan proses awal pengecetan dimulai dengan membuat sketsa kasar di smartphone tentang mural yang akan diaplikasikan di dinding-dinding rumah. Setelah berembuk dengan para pengecat, mereka kemudian mulai bahu-membahu melakukan pengecatan.

“Tapi memang ada beberapa spot yang sulit dijangkau, jadi kita maksimalkan di dinding-dinding lain,” terangnya.

Ia mengatakan tidak ada konsep spesifik yang diterapkan di karya mural Lembur Katumbiri. Tujuannya adalah membuat suasana lebih semarak dan berwarna, dan adaptif dengan keinginan warga setempat yang ingin mewarnai kampung mereka dengan gambar-gambar tertentu.

“Jadi keseluruhan mural ini memiliki alur yang menggambarkan bahwa hidup adalah hal yang situasional, kita harus fleksibel menghadapi berbagai situasi. Saya menamainya ‘the journey of happiness'”, papar John.

Warga Berharap Roda Ekonomi Berputar

Sementara itu, Ketua RT 10 RW 12 Kelurahan Dago, Rasimun mengatakan warga setempat mendukung pengecatan kembali tempat tinggal mereka menjadi warna-warni. Ia berharap, peresmian kampung mereka menjadi Lembur Katumbiri dapat mendorong bergeraknya perekonomian warga setempat.

“Perekonomian warga minimal ya harus ada peningkatan lah ke depannya. Untuk saat ini mungkin belum, karena masih baru. Mudah-mudahan ke depannya akan ada pedagang baru bermunculan setelah peresmian ini,” ungkap Rasimun.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Indahnya Wisata Alam di Wakatobi, Hidden Gem buat Healing & Nyantai



Jakarta

Kondisi kelelahan mental, fisik, dan emosional dapat terjadi akibat kelelahan yang tidak dirasakan sehingga dapat kehilangan motivasi dalam hidup. Keadaan seperti ini membuat sebagian Gen Z membutuhkan suasana baru untuk mengembalikan motivasi dalam hidupnya.

Tak heran jika tren traveling untuk reconnect dengan alam kian populer di kalangan anak muda. Berbagai kegiatan saat traveling seperti snorkeling, diving, hingga hiking pun banyak dilakoni Gen Z sebagai sarana healing.

Di antara sekian banyak destinasi, Wakatobi hadir sebagai hidden gem Indonesia yang menawarkan keindahan alam bawah laut, budaya lokal yang hangat, dan ketenangan yang sulit ditemukan di destinasi wisata mainstream.


Terletak di Sulawesi Tenggara, Wakatobi bukan hanya surga bagi para penyelam dunia, tapi juga tempat sempurna untuk Gen Z yang ingin menjauh sejenak dari hiruk pikuk kota dan menemukan kembali versi terbaik dirinya. Melalui eksplorasi alam yang autentik dan interaksi dengan budaya lokal yang masih lestari, perjalanan ke Wakatobi bisa menjadi pengalaman transformatif yang menyegarkan jiwa.

Keindahan alam Wakatobi akan dieksplor lebih jauh dalam serial mini 3 episode yang akan dikembangkan Tolak Angin. Kemegahan alam bawah laut, budaya, hingga alam Wakatobi akan disorot melalui mini series berjudul ‘Angin Angan’ yang akan hadir dengan gaya bercerita.

Mini series tersebut menceritakan seorang pembawa berita cuaca TV nasional berusia 28 tahun di Indonesia, Andi Wan Tyupaan, yang juga dikenal sebagai Awan yang tampan, cerdas, dan berasal dari keluarga kaya tetapi masih lajang.

Meskipun banyak wanita yang tertarik padanya, tidak ada yang bertahan lama. Alasannya? Setiap kali seseorang berbicara kepadanya untuk pertama kalinya, dia selalu membalas dengan ‘Hah?!’ bukan hanya sekali, tetapi tiga kali. Baru setelah itu, dia menjadi pria yang sangat normal. Itu adalah kebiasaan aneh yang membuat orang menjauh.

Suatu hari, Awan mendengar dari seorang teman bahwa dia mungkin dapat ‘menyembuhkan kebiasaan aneh ini’ di Wakatobi. Tetapi mengapa Wakatobi? Apa yang ada di tempat ini yang menjadi kunci perubahannya? Bisakah Awan akhirnya pulih dan menemukan cinta yang selama ini dicarinya?

[Gambas:Youtube]

Adapun, lokasi untuk pengambilan gambar dari mini series ini akan dilakukan di Pulau Wangiwangi, Underwater Pulau Tomia, Kampung Bajo Sampela, dan Desa Pajam.

Bagaimana tertarik untuk mengunjungi Wakatobi? Jangan lupa bawa Tolak Angin untuk menjaga kehangatan tubuh dan mencegah agar tidak masuk angin. Tolak Angin bisa kamu beli di mana saja mulai dari toko, minimarket serta secara online di www.sidomunculstore.com atau di Sido Muncul Official Store di berbagai marketplace.

Tonton juga “Tak Ada Pelangi di Jalan Andrea Hirata Selamatkan Bahasa Belitung” di sini:

(prf/ega)



Sumber : travel.detik.com

5 Spot Hidden Gem di Sumatra Barat yang Mirip Ubud



Jakarta

Sumatra Barat tak hanya terkenal dengan kulinernya yang beragam, namun di sana juga memiliki alam yang memukau. Bahkan suasana beberapa tempat wisata di sini tak kalah dengan Ubud, Bali lho.

detikTravel telah merangkum nih pada Rabu (9/7/2025), 5 tempat wisata hidden gem di Sumatra Barat yang suasananya mirip seperti di Ubud, Bali. Berikut daftarnya:

1. Alahan Panjang

Alahan Panjang di Solok, Sumatera Barat (Foto: Instagram @alahanpanjang.stayvacation)Alahan Panjang di Solok, Sumatera Barat (Foto: Instagram @alahanpanjang.stayvacation)

Alahan Panjang, Kabupaten Solok dikenal sebagai daerah terdingin di Sumatera Barat. Di sini kamu bisa menikmati hamparan kebun teh seluas mata memandang dengan latar Danau Kembar.


Desa ini dijuluki juga dengan ‘Swiss-nya’ orang Sumatera Barat. Karena landscapenya yang memukau membuat wisatawan takjub, tak menyangka pemandangan seindah ini ada di salah satu desa di Sumatera Barat.

2. Lembah Harau

Lembah HarauLembah Harau Foto: Brigida Emi Lilia/d’Traveler

Kamu yang ingin mencari suasana alam yang berbeda di Sumatra Barat datang saja ke Lembah Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Di sini kamu akan dibuat terpukau oleh tebing-tebing granit menjulang tinggi dan pemandangan sawah yang hijau. Lembah Harau sering disebut sebagai lembah terindah di Indonesia.

Rasakan ketenangannya dengan menginap di salah satu glamping di Lembah Harau.

3. Padang Panjang

Padang Panjang dijuluki sebagai Serambi Mekkah dari Sumatera Barat. Di sinilah pusat sekolah agama dan pesantren ternama di Sumatera Barat.

Tak hanya memiliki hamparan alam yang asri, Padang Panjang juga terkenal dengan hawa sejuk dan kulinernya yang beragam. Tak afdal rasanya bila datang ke kota ini tak mencicipi satenya.

4. Sungayang, Kabupaten Tanah Datar

Bila traveler ingin menikmati hamparan sawah dengan latar Gunung Marapi nan megah, salah satu tempat yang bisa kamu datangi adalah Sungayang. Desa ini berada di kawasan Kabupaten Tanah Datar yang bila ditempuh dari Bandara Minangkabau, butuh waktu 4 jam perjalanan.

Bila kamu berkeliling Sungayang, kamu akan dibuat terpukau dengan terasering sawahnya, suasana sejuk di perbukitan dan kehidupan pedesaan yang tenang dan asri.

5. Padang Mangateh

Peternakan sapi Padang Mengatas, Sumbar, ternyata punya sejarah panjang. Peternakan ini adalah warisan Belanda yang sempat menjadi area peternakan terbesar se-Asia Tenggara.Peternakan sapi Padang Mengatas, Sumbar, ternyata punya sejarah panjang. Peternakan ini adalah warisan Belanda yang sempat menjadi area peternakan terbesar se-Asia Tenggara. Foto: Dikhy Sasra

Bila kamu ingin menikmati hamparan alam bak luar negeri, datang saja ke Padang Mengatas (orang Minang menyebut tempat ini dengan nama Padang Mangateh). Ini adalah area peternakan yang hijau dan disebut-sebut mirip New Zealand.

Lokasinya berada di Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Padang Mengatas merupakan bagian dari Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas, yang dulunya merupakan peternakan terbesar di Asia Tenggara.

(sym/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kenangan Masa Kolonial hingga Merdeka


Jakarta

Kompleks Kota Tua Jakarta adalah kawasan wisata sejarah dan budaya yang sangat populer sekaligus ikonik. Main ke Jakarta sangat sayang jika sampai melewatkan wisata ke Kota Tua Jakarta yang Instagramable dan selalu berbenah. Foto Kota Tua Jakarta cocok banget buat update status dan feed di medsos.

5. Hidden Gem Kota Tua Jakarta

Sejarah Kota Tua Jakarta berawal di tahun 1619 saat Jayakarta direbut Belanda dan diubah namanya menjadi Batavia. Kota Tua Jakarta adalah pusat pemerintahan dan kantor pusat perusahaan perdagangan Belanda VOC. Seiring waktu, Kota Tua Jakarta menjelma menjadi destinasi sejarah dan budaya populer.

Beberapa spot di Kota Tua dikenal sebagai hidden gem, meski bukan sepenuhnya tersembunyi. Spot ini cocok untuk dieksplor lebih jauh untuk memperoleh konten medsos atau bahan obrolan baru.


1. Lighting Art Kota Tua Jakarta

Pengunjung berpose saat foto di Lighting Art Kota Tua, Jakarta, Kamis (3/4/2025).Lighting Art Kota Tua, Jakarta (dok. Grandyos Zafna)
  • Jam buka: setiap hari 10.00-21.00
  • Harga tiket: anak Rp 40 ribu, dewasa Rp 45 ribu hanya bisa dibeli on the spot alias offline
  • Lokasi: Gedung Dharma Niaga lantai 3 Jl. Kali Besar Timur 4, RT 7/RW 7, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat

Wahana yang tersedia mulai Jumat (28/3/2025) ini menyediakan lebih dari 20 ruangan penuh cahaya, yang bikin foto makin estetik. Waktu kunjungan tak terbatas, sehingga kita bisa berlama-lama ambil foto super estetik di tiap spotnya. Kita sebaiknya datang lebih pagi supaya bisa mencoba lebih banyak ruang penuh cahaya.

“Super aesthetic dan murah banget untuk destinasi sebagus ini. Antreannya saat weekend cukup panjang dan ada beberapa spot foto yang harus antri dengan durasi waktu. Kita bisa membawa tripod untuk pengambilan foto atau video. Ada staf juga yang bisa bantu,” tulis akun Bellia Magdhalena dalam google review.

2. Magic Art 3D Museum

Magic Art 3D MuseumMagic Art 3D Museum (dok. Tiara Rosana/detikcom)
  • Jam buka: Senin-Jumat: 10.00-18.00, Sabtu-Minggu: 10.00-19.00
  • Harga tiket: anak (0-16 tahun) Rp 60 ribu, dewasa Rp 80 ribu bisa diperoleh online dan offline
  • Lokasi: Gedung Kerta Niaga 1 Unit GF, Jl. Kali Besar Timur Nomor 9, Pinangsia, Kota Tua, Jakarta Barat

Destinasi wisata ini punya 100 lukisan mural dengan ilusi optik tiga dimensi, yang sangat seru buat jadi spot foto. Lukisan 3D perlu treatment khusus selama pembuatan hingga perawatan agar dimensi panjang, lebar, tingginya terjaga dan bisa disaksikan pengunjung. Karena itu, pengunjung yang mau masuk zona lukisan 3D wajib lepas sepatu lebih dulu.

“Tempat ini worth it buat cari hiburan seru dan spot foto kece. Masuk ke sini agak tersembunyi juga dan harus tanya-tanya security. Usahakan kali mau ke sini minimal ada teman untuk bantu foto-foto dan biar bisa ikut seru-seruan,” tulis akun Mutia Triana dalam akun google review.

3. Kedai Seni Djakarte

kedai seni djakarteKedai Seni Djakarte (dok. Devi S. Lestari/detikFood)
  • Jam buka: Senin tutup. Selasa 10.00-19.00 Rabu-Minggu 10.00-20.00
  • Tarif per orang: Rp 25-50 ribu bergantung jumlah dan harga pesanan
  • Lokasi: Pintu Besar Utara Jl. Taman Sari Raya Nomor 17 RT 4/RW 6, Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat

Kedai ini sebetulnya mudah terlihat saat masuk kompleks Kota Tua Jakarta, meski baru dikunjungi setelah lelah muter-muter. Di sini ada beragam menu Nusantara dan fusion plus art performance di sekitar resto dan di dalam. Kita bisa ngopi, ngemil, atau makan hidangan berat di sini.

“Tempatnya estetik banyak ornamen antik dan suasananya nyeni banget, bener-bener pas dengan vibe Kota Tua. Harga makanan terjangkau untuk kafe di destinasi wisata. Staff ramah menyambut tamu. Ada ruang berAC juga cocok buat yang pengen ngadem,” tulis akun google Yanti Mandasari.

4. Museum Wayang

Museum Wayang dengan wajah baruMuseum Wayang dengan wajah baru (dok. Syanti Mustika/detikcom)
  • Jam buka: Senin tutup, Selasa-Minggu 09.00-15.00
  • Harga tiket: anak weekdays Rp 5 ribu dan weekend Rp 5 ribu, dewasa weekdays Rp 10 ribu dan weekend Rp 15 ribu
  • Lokasi: Kawasan Kota Tua Jl. Pintu Besar Utara Nomor 27, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat

Museum wayang menyimpan 6.800 koleksi dari seluruh Indonesia dari berbagai bahan. Koleksi ini terdiri dari wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber, dan gamelan. Di sini juga ada ruang immersif tempat kita bisa menikmati game interaktif, foto, menikmati permainan bersama AI.

“Baru sekali ke Museum Wayang, jujur bagus banget loh. Awalnya agak underestimate karena dari luas kaya bapuk, tapi pas masuk ternyata bagus dan wayangnya tersimpan dengan baik. Ruangannya bagus, bersih, adem, sama sekali nggak horor. Highly recommended, apalagi tiketnya murah dan bikin main pinter,” tulis akun google Caroline.

5. Rumah Akar

Rumah Akar BataviaRumah Akar Batavia (dok. Instagram akarbatavia)
  • Lokasi: Jl. Kali Besar Timur Nomor 19, Jakarta Barat

Spot hidden gem ini tidak terbuka untuk umum, artinya hanya tersedia untuk yang reservasi lebih dulu. Biasanya, pemesan hendak melakukan sesi foto untuk pernikahan atau keperluan lain dan ingin latar yang dramatis. Seperti namanya, rumah akar berisi akar-akar tumbuhan yang menjuntai berukuran besar yang mungkin berusia ribuan tahun.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems di Sukabumi: Bukit Durian Sagara



Sukabumi

Ada lagi nih hidden gems di Sukabumi, Jawa Barat yang bisa menjadi destinasi akhir pekan traveler. Bukit Durian Sagara.

Dari jalan utama Cikakak, papan kecil penunjuk arah mengantar pengunjung berbelok ke jalur yang menanjak perlahan. Sesuai namanya, banyak pohon durian di jalur ini.

Begitu sampai di puncak, hamparan Teluk Palabuhanratu terlihat seperti lukisan yang disimpan lama, lalu dibuka kembali di depan mata. Garis pantai yang melengkung, laut biru yang berkilau, dan deretan perbukitan hijau di belakangnya, seolah menyapa siapa saja yang datang.


“Nggak nyangka view-nya sebagus ini. Saya pikir cuma kebun durian biasa, ternyata tempatnya bikin betah,” kata Fadli, wisatawan asal Bandung, Minggu (10/8/2025), dilansir dari detikjabar.

Di tengah lanskap itu, sebuah jembatan kayu berwarna kuning menjadi jalur ikonik yang menghubungkan area parkir, gazebo, dan kafe. Bougenville ungu dan merah muda tumbuh subur di sisi jalur, memberi warna pada hijau pepohonan.

Bukit Durian Sagara, Sukabumi memiliki view menawan, langsung ke Teluk Pelabuhanratu.Bukit Durian Sagara, Sukabumi memiliki view menawan, langsung ke Teluk Pelabuhanratu. (Syahdan Alamsyah/detikcom)

Di salah satu sudut berdiri Selsalse Coffee, kafe kayu berkonsep terbuka. Dari terasnya, laut selatan terbentang luas, sementara di bawahnya pohon-pohon durian tumbuh berjajar rapi.

“Awalnya ke sini mau makan durian saja. Tapi katanya setok duriannya habis saat libur panjang beberapa waktu lalu. Meskipun begitu, terobati karena ternyata suasananya luar biasa. Kalau sore, anginnya adem, rasanya nggak mau pulang,” ujar Rizal, pengunjung asal Bogor yang sore itu duduk dengan secangkir kopi.

Kendati bernama Bukit Durian Sagara, daya tarik destinasi ini tidak memudar meskipun musim panen durian belum tiba. Di luar musim duren, udara sejuk dan panorama alam tetap jadi alasan untuk datang. Dari titik tertinggi, garis ombak di kejauhan terlihat seperti benang putih yang memecah biru laut.

Sementara di sisi lain, perbukitan bergelombang seperti karpet hijau raksasa, memberi kontras yang menenangkan mata.

Akses menuju Bukit Durian Sagara kini sudah jauh lebih baik. Dari pusat Kota Sukabumi, perjalanan sekitar dua jam bisa ditempuh dengan mobil atau motor. Jalan utama sudah diaspal halus, hanya beberapa ratus meter terakhir yang menanjak dan berkelok. Area parkir cukup luas, dilengkapi mushola dan jalur setapak yang rapi.

Selain durian lokal, saat musimnya tiba pengunjung bisa menikmati varietas premium seperti Musang King dan Duri Hitam langsung dari pohonnya. Namun bagi banyak orang, daya tariknya justru terletak pada suasana, duduk di bangku kayu, memandang laut, sambil membiarkan angin sore mengibaskan rambut.

Menjelang senja, langit perlahan berubah menjadi kanvas berwarna oranye dan ungu. Bukit Durian Sagara pun berubah menjadi tempat yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga meninggalkan kesan sebuah permata tersembunyi yang membuat pengunjung ingin kembali.

***

Selengkapnya klik di sini.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com