Tag Archives: ibadah

Panduan Bikin Ruang Shalat di Rumah biar Makin Khusyuk Ibadah


Jakarta

Setiap ruangan di dalam rumah mempunyai fungsi khusus. Bagi umat Islam, tak jarang yang menyediakan ruang khusus untuk beribadah atau salat yang disebut musala.

Meski salat sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, mempunyai musala bisa menjadi cara agar ibadah semakin khusyuk di rumah. Sebab, musala menjadi tempat khusus bagi keluarga beribadah dengan tenang dan tanpa gangguan.

Untuk menciptakan ruang musala lebih nyaman untuk menunjang aktivitas ibadah, kamu bisa mengikuti beberapa tips desain musala sebagai berikut, dilansir dari The Halal Times dikutip Selasa (5/3/2024).


Lokasi yang Cocok

Tentukan lokasi musala yang nyaman di ruang yang tidak terpakai atau bahkan di kamar tidurmu. Pertimbangkan juga arah kiblat dalam memilih ruangan yang paling cocok. Lalu, pastikan ruang tersebut cukup untuk diisi sajadah. Apalagi kalau berencana menampung sejumlah orang di dalamnya.

Warna Tembok yang Tidak Mencolok

Tembok ruangan tentu akan menarik perhatian mata, sehingga sebaiknya memilih warna cat yang bisa menambah perasaan spiritual di dalam musala. Jika ingin nuansa ruangan yang kalem dan menenangkan, pilih warna yang lebih lembut, terang, dan netral. Kamu bisa mengecat seluruh tembok dengan warna tersebut, atau cukup pada tembok aksen saja.

Furnitur Pelengkap

Sebaiknya musala tidak sesak dengan banyak barang, tetapi cukup barang-barang yang dibutuhkan saja. Selain sajadah, kamu bisa menambahkan kursi, bantalan, dan meja kecil jika ada ruang lebih. Lalu, bisa tambahkan kabinet untuk menyimpan buku, Al-Qur’an, perlengkapan ibadah lainnya.

Lantai yang Mendukung

Karpet yang lembut bisa membantu membuat ruangan terasa lebih nyaman untuk beribadah. Tak hanya memberi sentuhan pada ruangan, karpet berfungsi sebagai alas ketika berjalan, duduk, mendekul, dan bersujud. Dengan begitu, tubuh tidak bersentuhan langsung dengan lantai yang dingin dan keras.

Dekorasi yang Indah

Sebagai tambahan, kamu boleh menghias ruangan dengan berbagai dekorasi bernuansa Islam, seperti kaligrafi, poster motivasi, ataupun gambar yang dibingkai. Kamu juga bisa memakai lampu LED mini untuk menambah estetika ruangan.

Lalu, memajang bunga segar untuk memberi warna tambahan dan aroma pada ruangan bisa kamu pertimbangkan. Dekorasi ini bisa meningkatkan suasana musala dalam beribadah, serta menambah kenyamanan agar lebih khusyuk.

(dna/dna)



Sumber : www.detik.com

Harga Rumah dekat Masjid Belum Tentu Lebih Murah!



Jakarta

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Rumah ibadah umat Muslim yakni masjid dan musala jumlahnya ratusan ribu di sini. Lokasinya pun kebanyakan berada di tengah-tengah permukiman masyarakat.

Namun, ada beberapa kekhawatiran yang muncul, jika rumah berada di dekat masjid atau musala disebut dapat mempengaruhi harga jual rumah tersebut. Bahkan ada yang menyebut jika ingin membeli rumah murah, kita bisa mencari rumah yang berada di dekat masjid atau musala. Apakah benar demikian?

Menurut Pengamat Properti Anton Sitorus, tidak semua rumah yang berada di dekat masjid dan musala atau rumah ibadah lain bisa dijual dan dibeli murah. Sebab, pasar properti itu unik. Penentuan harga atau nilai properti tersebut akan berbeda-beda tergantung pada lokasi, waktu pembelian, kebutuhan pemilik rumah, hingga kondisi bangunannya.


“Ciri khas properti itu, unik. Walaupun di lokasi yang sama, di jalan yang sama, di lokasi daerah yang sama. Itu bisa berbeda value-nya karena kita nggak bisa megeneralisasi, pukul rata semua begitu, nggak bisa,” kata Anton saat dihubungi detikProperti, Selasa (8/4/2025).

Anton menyampaikan besar atau kecil nilai sebuah properti ditentukan oleh permintaan (demand) dan pasokan (supply).

“Tergantung kondisi setempat. Jadi, kalau misalnya dia (rumah) memang berada di lokasi perumahan yang elit misalnya gitu ya, dia demand-nya tinggi di daerah itu, ya pasti harganya naik. Tiap lokasi bisa berbeda-beda. Makanya kalau properti itu, saya dibilang unik,” jelasnya.

Ia memberikan contoh rumah yang posisinya hook bisa saja dijual dengan harga berbeda. Bisa saja rumah hook yang berada di ujung jalan yang buntu harganya lebih murah daripada rumah hook di jalan yang sama tetapi lokasinya dekat dengan jalan raya yang lebih mudah akses keluar masuknya.

Begitu pula dengan rumah dekat masjid atau musala, ada yang merasa rumah dekat rumah ibadah tidak nyaman, dan ada yang justru mengincar posisi tersebut.

“Semua itu harus kita lihat kasus per kasus, kondisinya seperti apa, dan juga bagaimana kebudayaan, faktor sosial, di daerah itu sangat berpengaruh. Kalau misalnya di satu daerah yang masyarakatnya religius, mungkin malah kalau rumahnya di samping masjid, malah tinggi nilainya,” tuturnya.

Senada, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengungkapkan nilai properti rumah di dekat masjid atau musala tergantung pada siapa pembelinya. Apabila kalau pembelinya seorang Muslim kemungkinan rumah tersebut dapat terjual dengan harga yang sesuai dengan pasar. Namun, apabila calon pembelinya bukan seorang Muslim, akan ada pertimbangan, terutama mengenai pengeras suara masjid yang akan sering digunakan untuk mengumandangkan adzan.

“Pada dasarnya tergantung mayoritas penghuninya. Konsumen mayoritas non muslim, sering tidak mau berdekatan dengan masjid karena dianggap suara speaker mengganggu,” ujar Ali.

(aqi/das)



Sumber : www.detik.com

Berwisata Religi yang Nyaman dan Sejuk di Masjid Istiqlal Jakarta



Jakarta

Masjid Istiqlal Jakarta merupakan masjid megah di Jakarta. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, masjid itu juga menjadi tujuan wisata religi.

Area halaman masih yang luas menjadi tempat pengunjung untuk beristirahat, mulai dari duduk-duduk, makan, hingga mengabadikan foto. Suasana yang nyaman dan asri membuat betah masyarakat yang berkunjung ke sini.

Mulai dari anak-anak hingga orang tua semua terlihat senang ketika berada di masjid, hendak melaksanakan sholat ataupun beristirahat.


Salah satu pelancong yang datang ke Masjid Istiqlal ini adalah Marta. Bersama keluarganya, Marta sebetulnya akan menghabiskan akhir pekannya di Lapangan Banteng, namun karena jarak yang dekat dengan masjid dan telah mendekati waktu salat dzuhur, ia memutuskan untuk datang ke masjid ini.

“Karena berada di pusat kota jadi lebih enak ya jadi dekat ke Monas, terus ini juga lagi ada acara kan di Lapangan Banteng jadi istilahnya kalau main ke Istiqlal mainannya dekatlah kalau mau ke tempat wisata. Ya jadi sekalian ke sini walaupun tujuannya ke Lapangan Banteng,” kata Marta usai menunaikan sholat dzuhur, Sabtu (13/7/2024).

Ini sudah kali keempat Marta dan keluarganya berkunjung ke Masjid Istiqlal, Bagi Marta, masjid itu memiliki suasana yang nyaman mengingatkannya kepada suasana di Bandung yang sejuk.

Memang tak seperti di area Jakarta yang lain, saat detikTravel berada di halaman dalam masjid itu suasana seolah berubah sekejap. Berada di lingkungan Masjid Istiqlal udara terasa sejuk dan asri kendati di area luarnya sedang panas.

“Enak dingin ya, ademlah gitu jadi nggak kerasa kayak di Jakarta. Di Bandung kan dingin ya anginnya nah jadi senang lah nggak kerasa panas di sini,” ujar Marta.

Selain Marta yang menikmati kunjungannya di masjid terbesar se-Asia Tenggara ini, Dina yang merupakan warga Cileungsi, Bogor mengajak anak-anaknya untuk berkunjung ke Masjid Istiqlal. Tujuan mereka berlibur ke Jakarta memang untuk berwisata religi dan jujugannya adalah Masjid Istiqlal.

Agenda tersebut untuk mengisi waktu libur sekolah sang anak yang sebentar lagi usai. Sebari duduk santai, dia mengisahkan pengalaman perjalanan kali kepada detikTravel. Dia mengatakan rasa senang anaknya ketika berwisata religi ke tempat yang luas dan nyaman seperti Masjid Istiqlal ini.

“Cuma untuk liburan ini baru ke sini (Masjid Istiqlal) saya memang biasa kalo liburan suka wisata religi, ke mana aja pokoknya yang sambil main sambil ke masjid. Alhamdulilah di sini rame, nyaman, luas juga kan tempatnya,” ujar Dina.

“Anak saya senang kalau diajakin wisata kayak gini berwisata sambil beribadah gitu senang banget. Di sini selain solat ya paling makan, anak-anak kan sering minta jajan ya sambil main aja begini,” Dina menambahkan.

Masjid Istiqlal itu memang memiliki keindahan bangunan. Selain itu, area masjid yang luas dan fasilitas yang memadai membuat pengunjung bisa berlama-lama di sana dengan nyaman.

Pengunjung yang datang ke Masjid Istiqlal ini bukan hanya masyarakat Indonesia, banyak dari wisatawan mancanegara pun yang datang ke sini untuk melihat-lihat kemegahan Masjid Istiqlal. Bagi wisatawan yang tidak menggunakan busana yang sopan akan diarahkan ke ruang informasi untuk diberikan busana yang sopan agar bisa masuk ke area masjid.

Masjid Istiqlal boleh dikunjungi bagi para pengunjung setiap harinya mulai dari pukul 03.30 hingga 22.00 WIB. Dan untuk pengunjung yang datang untuk menunaikan sholat ataupun sekadar berkunjung, nantinya akan diarahkan ke dua pintu masuk masjid yakni pintu Al Fattah untuk laki-laki dan pintu Al Quddus untuk perempuan.

“Pokoknya masjid buka dari setengah empat subuh sampai jam sepuluh malam tapi jam sembilan sudah harus clear area,” kata salah satu petugas keamanan Masjid Istiqlal.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Gereja Ayam Pasar Baru Tempat Ibadah Kelas Menengah-Bawah di Era Kolonial Belanda



Jakarta

Di era kolonial Belanda, warga kelas menengah dan bawah pemeluk protestan tidak leluasa beribadah. Salah satu gereja yang membuka pintu untuk kelompok itu adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’.

Sekretaris Pengurus ‘Gereja Ayam’, Yosie, menjelaskan kepada detikTravel, Kamis (29/8/2024) gereja itu dulu merupakan kapel kecil. Kapel itu dibangun pada tahun 1900.

“Dulu gereja itu di zaman Belanda untuk golongan menengah ke atas di Gereja Immanuel yang di depan (Stasiun) Gambir itu untuk golongan menengah ke atas. Tapi kalau untuk golongan menengah ke bawah itu ya di sini,” kata Yosie.


Seiring berjalannya waktu, jemaat yang beribadah di kapel itu semakin banyak. Kapel tersebut kemudian digeser, dari yang awalnya berada di area belakang gereja, kini ke tempat saat ini berdiri di Jalan Samanhudi No.12, Jakarta Pusat.

“Mulanya ini nggak di sini, letaknya di belakang gedung ini mulanya hanya sebuah kapel. Tapi karena makin lama makin banyak orangnya jadi pindah ke sini dibuatnya 1913,” kata Yosie.

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau 'Gereja Ayam' di Pasar Baru, Jakarta PusatGereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’ di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Bangunan gereja yang bergaya campuran Italia dan Portugis ini disebut Neo Romani yang dibangun oleh arsitek Belanda bernama Ed Cuypers dan Hulswit. Penamaan ‘Gereja Ayam’ sendiri tercetus dari sebutan masyarakat sekitar, karena di atas gereja ini terdapat ornamen berbentuk ayam.

Yosie mengatakan ornamen tersebut merupakan alat penunjuk arah angin yang dirancang pada saat itu. Sayangnya, penunjuk arah angin berbentuk ayam ini sudah tidak berfungsi lagi. Kini ornamen ayam tersebut sudah menjadi ikon gereja ini.

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau 'Gereja Ayam' di Pasar Baru, Jakarta PusatGereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’ di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

“Ini dikenalnya dengan ‘Gereja Ayam’ itu kan kita di atas itu ada ayam. Zaman dahulu ayam itu dipergunakan sebagai alat penunjuk arah mata angin, tapi di dalam lingkungan masyarakat sekitar sini karena lihat ada ayam di atas situ jadi dikenal ini dengan ‘Gereja Ayam’,” kata Yosie.

Peninggalan-peninggalan masa lampau di ‘Gereja Ayam’ ini masih terjaga, bahkan bangku-bangku di dalam gereja masih bangku dari tahun 1913. Terdapat pula Alkitab berbahasa Belanda pemberian ratu Belanda, Sophian Fredrika Mathilda pada tahun 1855.

Adapun bejana baptis yang sudah berumur lebih dari 300 tahun. Tampak bangun dari luar pun tak ada yang berubah signifikan dari pertama dibangun, ‘Gereja Ayam’ juga sudah ditetapkan menjadi cagar budaya pada tahun 2015.

(iah/iah)



Sumber : travel.detik.com

Serunya Mengisi Liburan di Pantai Slopeng, Objek Wisata Favorit di Madura



Jakarta

Pantai Slopeng di Kabupaten Sumenep, Madura, menjadi salah satu destinasi wisata favorit untuk mengisi liburan bersama keluarga atau teman. Pantai ini terletak sekitar 21 kilometer dari pusat kota Sumenep.

Pantai ini menawarkan pesona alam yang memikat dengan hamparan pasir putih yang luas, deretan pohon cemara udang, serta ombak yang tenang. Selama musim liburan, Pantai Slopeng selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun dari luar daerah.

Dengan suasananya yang tenang dan asri, pantai ini menjadi tempat ideal untuk melepaskan penat setelah aktivitas sehari-hari. Wisatawan dapat menikmati berbagai kegiatan seru, mulai dari bermain pasir, naik kuda, hingga mencoba motor Atv menyusuri keindahan pantai.


“Pantai Slopeng harus dikunjungi saat mengisi liburan ke Madura. Objek wisata ini akan memberikan pengalaman seru yang tak terlupakan,” kata Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo dalam keterangan tertulis, Jumat (6/12/2024).

Pantai Slopeng di MaduraFoto: Pemkab Sumenep

Bagi penggemar fotografi, Pantai Slopeng adalah surga kecil dengan pemandangan alam yang memukau, terutama saat matahari terbenam.

Banyak pengunjung memanfaatkan keindahan ini untuk mengabadikan momen bersama keluarga atau pasangan. Selain itu, area pantai yang luas juga cocok untuk bermain voli pantai atau sekadar duduk santai menikmati semilir angin laut.

Tidak hanya menawarkan keindahan alam, Pantai Slopeng juga menjadi tempat yang sempurna untuk mencicipi kuliner khas Madura. Wisatawan dapat menikmati nasi jagung, atau berbagai olahan ikan segar yang dijajakan oleh pedagang lokal. Sebagai pelengkap, es kelapa muda yang segar menjadi favorit untuk dinikmati sambil bersantai.

Fasilitas di Pantai Slopeng terus ditingkatkan oleh pengelola dan pemerintah daerah. Tersedia area parkir yang luas, gazebo untuk berteduh, toilet bersih, hingga tempat ibadah.

“Akses menuju pantai pun sudah nyaman, sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman bagi pengunjung,” tuturnya.

Dengan tiket masuk yang terjangkau, Pantai Slopeng menjadi pilihan wisata yang ramah di kantong namun tetap memberikan pengalaman liburan yang tak terlupakan.

“Jadi, jika Anda mencari tempat untuk mengisi liburan dengan suasana yang seru dan menenangkan, Pantai Slopeng di Sumenep adalah destinasi yang wajib dikunjungi,” imbuh Fauzi.

(anl/ega)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Gereja Katolik Tertua di Pulau Dewata



Badung

Meski mayoritas beragama Hindu, tetapi ada juga penganut agama Katolik di Bali. Bahkan, ada gereja Katolik tertua di Pulau Dewata. Simak kisahnya berikut ini:

Di sudut Desa Tuka, Dalung, Kuta Utara, Badung, berdiri sebuah gereja megah bernama Gereja Tritunggal Mahakudus. Gereja ini bukan sekadar tempat ibadah umat Katolik, tetapi juga saksi sejarah panjang interaksi budaya dan kepercayaan agama di Bali.

Berusia 87 tahun, katedral ini memiliki daya tarik unik melalui arsitekturnya yang kental dengan nuansa Bali.


Desa Tuka dikenal sebagai desa pertama di Bali yang menerima ajaran Katolik. Tokoh masyarakat setempat, I Gusti Ngurah Bagus Kumara, mengisahkan bahwa leluhur mereka yang sebelumnya beragama Hindu mulai memeluk Katolik pada awal abad ke-20.

Pada tahun 1937, umat Katolik di Tuka membangun sebuah gereja kecil yang sederhana di sebelah barat desa, dengan bantuan seorang Hindu bernama I Gusti Made Rai Sengkug dari Banjar Pendem, Dalung.

“Beliau seorang asli Hindu,” tutur Ngurah Bagus Kumara, ditemui di gereja, Rabu (25/12/2024).

Namun, pada tahun 1983, gereja ini dipindahkan ke lokasi baru di timur desa. Relokasi ini tidak hanya memberikan ruang yang lebih luas tetapi juga menjadi momen penting untuk merevitalisasi arsitektur gereja dengan konsep khas Bali.

Bangunan gereja yang baru pun diresmikan pada tahun 1987 oleh Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra.

Terinspirasi dari Pura Besakih

Dalam proses perancangan gereja baru, tokoh-tokoh Tuka terinspirasi oleh keindahan dan kekuatan simbolik Pura Agung Besakih di Karangasem.

“Dulu kami memutuskan bangunan gereja ini harus benar-benar yang bernilai Bali kuat. Dari sekian yang ada, di mana yang pas. Corak bangunan khas apa yang cocok. Lalu kami berpikir untuk mengadopsi gaya wantilan,” ujar pria yang saat ini sedang menyusun buku tentang sejarah kekatolikan di Bali.

Mereka ingin bangunan gereja ini mencerminkan identitas Bali. Ide untuk mengadopsi desain wantilan – bangunan tradisional Bali yang biasa digunakan untuk pertemuan – menjadi landasan utama desain gereja.

Atap gereja dibuat tinggi berbentuk limas segi empat menyerupai wantilan, sementara pintu masuknya dirancang dengan gaya angkul-angkul Bali lengkap dengan dua pintu kecil di kiri dan kanan.

Bagian tengah gereja diperkuat oleh pilar-pilar kayu berukir yang di Bali dinamai adegan. Jumlahnya 41 tiang, ditambah empat tiang beton besar sebagai penopang utama.

Bangunan gereja dirancang secara terbuka menyesuaikan konsep wantilan Bali. Secara keseluruhan, bangunan ini mampu menampung lebih dari 500 orang jemaat.

Makna Filosofi Gereja

Bagian altar gereja dihiasi dengan ukiran kayu dan dinding dari bata merah serta batu padas. Sebuah pintu kayu di altar menjadi akses menuju ruang penyimpanan benda-benda sakral seperti salib dan tabernakel, yang memiliki fungsi serupa dengan gedong pasimpenan dalam tradisi Hindu Bali.

Di atas altar, terdapat aksara Bali bertuliskan ‘Ene anggan manira, ene rah manira’ yang berarti ‘Inilah tubuhku, inilah darahku.’

Ngurah Bagus Kumara, yang kini tengah menyusun buku tentang sejarah kekatolikan di Bali, menjelaskan bahwa ungkapan ini menekankan ketulusan dan pengorbanan, nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam iman Katolik maupun budaya Bali.

Merayakan Natal dengan Nuansa Budaya Bali

Pada perayaan Natal tahun ini, suasana khidmat terasa menyelimuti Gereja Tritunggal Mahakudus. Yang menarik, banyak umat Katolik di Tuka tetap mengenakan pakaian adat Bali saat beribadah.

Menurut Ngurah, tradisi ini bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap leluhur tetapi juga simbol kecintaan terhadap budaya.

Pemakaian udeng melambangkan penjernihan pikiran, sementara kamen yang dilipat dengan kancut melambangkan penghormatan terhadap ibu pertiwi.

“Bentuk hormat terhadap ibu pertiwi dikuatkan dengan kancut yang dibentuk mengerucut ke bawah saat melipat kamen. Nilai-nilai itu yang kami tanamkan,” jelas Ngurah.

Hiasan khas Bali seperti gebogan dan penjor pun turut memperindah gereja, mencerminkan kebahagiaan dan suka cita menyambut kelahiran Yesus Kristus.

Dengan perpaduan iman dan budaya yang begitu harmonis, Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga simbol keberagaman yang kaya makna.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Berkunjung ke 5 Masjid Terbesar di Indonesia



Jakarta

Ramadan hitungan hari. Traveler bisa nih merancang wisata religi dengan berkunjung ke 5 masjid terbesar di Indonesia.

detikcom telah merangkum, Senin (24/2/2025) lima masjid terbesar di Indonesia yang bisa dikunjungi saat Ramadan nanti.

1. Masjid Istiqlal


Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, menyediakan 4.000 hingga 6.000 boks takjil gratis setiap hari. Masyarakat yang ingin mendapatkan takjil tersebut bisa mendatangi Masjid Istiqlal setiap hari saat berbuka puasa, Selasa (12/3/2024).Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat Foto: Pradita Utama

Masjid Istiqlal beralamat di Jl Taman Wijaya Kusuma, Ps Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat. Masjid ini sangat strategis karena berada di pusat kota. Letaknya berdampingan dengan Gereja Katedral di Kecamatan Sawah Besar untuk menunjukkan bentuk kerukunan beragama.

Masjid Istiqlal memiliki luas bangunan 2,5 hektare di atas tanah 9,8 hektare dengan kapasitas jamaahnya sendiri mencapai sekitar 100.000 orang.

Biasanya, selama Ramadan, Masjid Istiqlal menjadi salah satu destinasi wisata religi untuk ngabuburit di Jakarta. Setelah melihat kemegahannya, kamu juga bisa ikut berbuka bersama gratis di masjid bersama jamaah lain.

2. Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS) menjadi masjid nomor 2 terbesar di Indonesia setelah Masjid Istiqlal. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 11,2 hektar serta mampu menampung hingga 60.000 jamaah.

Lokasinya berada di Jalan Masjid Al Akbar Timur Nomor 1, Pagesangan, Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya. Bangunan masjid sangat mudah dikenali karena kubahnya yang besar dan megah berwarna kebiruan.

Daya tarik dari masjid ini terletak pada kubahnya yang berbentuk oval. Kubah besar dan megah ini berwarna kebiruan ditambah aksen diagonal yang saling menyilang berwarna hijau muda.

Selain kubah, adapun menara setinggi 99 meter yang merepresentasikan 99 Asmaul Husna. Sementara, bangunan mihrab memiliki motif batik pada bagian sisinya.

Selain sebagai tempat ibadah, MAS memiliki fasilitas yang lengkap. Di antaranya seperti taman, green house, urban farming, edu park, dan grand ballroom.

3. Masjid Islamic Centre

Masjid Islamic Center ini berada di Kecamatan Samarinda Ilir, Kalimantan Timur. Masjid yang diresmikan pada Juni 2008 ini memiliki luas sekitar 43.500 meter persegi.

Luasnya ini menjadikan Masjid Islamic Centre mampu masuk dalam jajaran masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dengan luasnya bangunan, masjid tersebut dapat menampung jemaah sekitar 40.000-45.000 orang.

Arsitektur Masjid Islamic Center Samarinda sangat detail. Terdapat tujuh buah menara yang terdiri atas satu menara utama dan enam anak menara lainnya. Induk menara memiliki tinggi 99 meter yang menyimbolkan Asmaul Husna. Selain itu, ketika memasuki bangunan utama masjid, jamaah akan melewati 33 anak tangga yang sama seperti jumlah biji tasbih.

4. Masjid Raya Baiturrahman, Aceh

Masjid Raya Baiturrahman di Banda AcehMasjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh Foto: (Syanti/detikcom)

Liburan ke negeri Serambi Mekkah saat Ramadan juga bisa jadi pilihan nih, Kamu bisa berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang menjadi kebanggaan orang Aceh ini, arsitekturnya bercorak eklektik dan mampu menampung sekitar 30.000 jemaah.

Masjid yang didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607-1636 itu menjadi saksi bisu pahit getirnya warga Aceh melawan Belanda, pergolakan pasca kemerdekaan, bencana gempa dan tsunami, hingga perjanjian damai GAM-RI. Masjid yang berdiri sekarang merupakan pengganti dari masjid raya yang telah Belanda bakar saat menaklukkan Aceh.

Kapten de Bruijn, Komandan Zeni Angkatan Darat Tentara Kerajaan Belanda merupakan arsitek masjid ini. Ia berkonsultasi dengan Snouck Hurgronje, orientalis kepercayaan pemerintah Belanda dan penghulu masjid Bandung, Jawa Barat.

Saat ini, dengan berlakunya syariat Islam, Masjid Baiturrahman dinyatakan sebagai kawasan terbatas. Hanya pengunjung yang menutup aurat, sesuai hukum syariat yang boleh masuk ke dalam masjid.

5. Masjid Al-Jabbar, Bandung

Suasana Masjid Raya Al Jabbar saat salat Idul AdhaSuasana Masjid Raya Al Jabbar Foto: Wisma Putra/detikJabar

Masjid Al-Jabbar, Bandung telah menjadi primadona di Jabar sejak diresmikan pada Desember 2022. Masjid Al Jabbar terletak di Jl. Cimincrang No.14, Cimenerang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat.

Masjid ini dibangun di tanah seluas 25 hektare dan mampu menampung 30.000 jemaah, dengan rincian 10.000 orang di area dalam (indoor) dan 20.000 orang di area plaza. Proses perancangan dimulai pada 2015 oleh Ridwan Kamil yang semasa itu menjabat sebagai Walikota Bandung.

Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat. Bangunan utama masjid tidak memisahkan dinding, atap, dan kubah, melainkan hasil peleburan ketiganya menjadi satu bentuk setengah bola raksasa.

Ketiga sisi bangunan masjid dikelilingi sebuah danau besar yang ibarat cermin, merefleksikan masjid menjadi berbentuk bulat utuh. Keindahan danau memiliki fungsi penting lain, sebagai retensi banjir sekaligus penyimpan air.

Bangunan utama dirancang dengan luas lantai 99 x 99 m2 sesuai angka Asmaul Husna. Kelak, semua yang sudah terbangun di Masjid Raya Al Jabbar seperti museum, danau, plaza, dan taman-taman akan membuat masjid ini tidak hanya memiliki fungsi ibadah, tetapi juga fungsi edukasi dan berpotensi sebagai pusat wisata religi Jawa Barat.

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

7 Tempat Ngabuburit Asyik di Jogja, Catat Biar Tidak Lupa



Yogyakarta

Mengisi waktu untuk mengunggu berbuka puasa, traveler bisa ngabuburit asyik di 7 destinasi wisata di Yogyakarta ini. Apa saja? Catat dulu biar tidak lupa.

Ngabuburit menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk berburu takjil, maupun menikmati suasana khas Ramadan. Di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta, tradisi ini semakin meriah dengan beragam pilihan tempat yang bisa dikunjungi.

Bagi traveler yang sedang mencari tempat ngabuburit yang seru di Yogyakarta, ada beberapa lokasi yang bisa menjadi pilihan.


Dikutip dari Antara, Selasa (4/3/2025), berikut 7 rekomendasi tempat ngabuburit di Yogyakarta:

1. Jalan Malioboro

Pertama tentu saja Malioboro. Jalan Malioboro merupakan ikon Yogyakarta yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Sambil menunggu waktu berbuka, Anda dapat berjalan-jalan menikmati suasana khas.

Traveler bisa mencuci mata dengan melihat deretan toko, pedagang kaki lima, dan seniman jalanan yang sedang beraksi. Selain itu, terdapat banyak penjual makanan tradisional yang dapat dijadikan pilihan untuk takjil berbuka puasa.

2. Titik Nol Kilometer

Titik Nol Kilometer adalah pusat kota yang dikelilingi oleh bangunan bersejarah seperti Kantor Pos Besar dan Benteng Vredeburg. Tempat ini sering dijadikan lokasi berkumpulnya komunitas dan pertunjukan seni jalanan, sehingga cocok untuk ngabuburit sambil menikmati suasana kota.

3. Garrya Bianti

Bagi yang ingin menghabiskan bulan Puasa di Jogja, Garrya Bianti Yogyakarta siap menyambut para tamu dengan pengalaman yang nyaman, tenang, dan penuh makna. Punya konsep slow living yang menenangkan, destinasi ini menghadirkan berbagai pengalaman istimewa selama musim liburan.

Traveler dapat menikmati kuliner khas Nusantara dan Thailand di Refresh All-Day Dining, mengikuti sesi wellness seperti sound healing di tengah alam, water sound healing, kelas eco-pounding, membuat jamu, atau bersantai dengan pemandangan taman tropis yang asri.

Wisatawan bisa juga berkeliling desa di Sleman Utara sambil mengendarai mobil klasik dan berkunjung ke kebun jamur. Tentunya ini akan jadi pengalaman yang berbeda bagi keluarga.

“Kami ingin menghadirkan suasana yang nyaman dan penuh kehangatan bagi para tamu yang merayakan bulan Puasa bersama keluarga, maupun mencari ketenangan setelah perjalanan panjang,” ujar Ridwan Heriyadi, General Manager Garrya BiantiYogyakarta.

4. Kampung Ramadan Jogokariyan

Setiap bulan Ramadan, Kampung Jogokariyan mengadakan pasar sore yang menjajakan berbagai kuliner khas untuk berbuka puasa. Suasana religius dan kekeluargaan sangat terasa di sini, menjadikannya tempat yang tepat untuk ngabuburit sambil berburu takjil.

5. Lembah UGM

Kawasan Lembah Universitas Gadjah Mada menjadi ramai saat Ramadan dengan adanya pasar takjil yang menjual berbagai makanan dan minuman untuk berbuka. Lokasinya yang strategis dan dekat dengan masjid memudahkan pengunjung untuk melaksanakan ibadah setelah berbuka.

6. Pantai Parangtritis

Bagi yang ingin menikmati suasana pantai, Pantai Parangtritis bisa menjadi pilihan untuk ngabuburit. Menjelang senja, pemandangan matahari terbenam di pantai ini sangat memukau. Anda juga dapat menyewa ATV atau delman untuk berkeliling pantai sambil menunggu waktu berbuka.

7. Obelix Hills

Obelix Hills menawarkan pemandangan alam dari ketinggian yang menawan. Tempat ini cocok untuk ngabuburit sambil menikmati panorama matahari terbenam dan berfoto di spot-spot yang disediakan. Selain itu, terdapat kafe yang menyajikan berbagai menu untuk berbuka puasa.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

10 Tempat Ngabuburit Seru di Semarang, Bisa Sambil Berburu Takjil



Semarang

Ngabuburit sudah seperti jadi kegiatan wajib menjelang berbuka puasa. Di Semarang, traveler bisa ngabuburit di 10 tempat ini, sambil sekalian membeli takjil.

Di Kota Semarang, Jawa Tengah ada begitu banyak pilihan lokasi ngabuburit. Ada taman, pusat kuliner, hingga tempat yang menawarkan pemandangan alam. Lebih asyiknya lagi, kalian bisa membeli takjil untuk berbuka puasa di sini.

Berikut 10 Tempat Ngabuburit Seru di Semarang:

1. Aloon-Aloon Masjid Kauman

Rekomendasi yang pertama adalah Aloon-Aloon Masjid Kauman. Lokasinya berada di Jalan Kauman, Semarang, satu kawasan dengan Masjid Kauman. Traveler bisa menunggu waktu berbuka dengan berburu takjil di sini.


Ada begitu banyak penjual makanan ringan hingga berat. Setelah berbuka puasa, traveler juga bisa langsung melaksanakan sholat di masjid bersejarah tersebut.

2. Kota Lama

Tidak jauh dari Aloon-Aloon Masjid Kauman, ada Kota Lama yang bisa menjadi lokasi ngabuburit. Kota Lama sendiri berada di Jalan Tanjung Mas, Semarang Utara. Di sini, traveler dapat berjalan-jalan menyusuri kawasan kota kuno yang dipenuhi bangunan lawas khas Belanda.

Di beberapa titik juga terdapat kafe dan restoran yang dapat kita kunjungi untuk berbuka puasa. Tidak sedikit juga penjual takjil yang dapat kita temui di kawasan ini.

3. Jalan Pahlawan

Saat bulan Ramadhan, kawasan Jalan Pahlawan berubah menjadi pusat jajanan. Ruas jalan yang berada di tengah Kota Semarang ini pun menjadi tempat yang sangat cocok untuk ngabuburit.

Namun saat ngabuburit di sini, sebaiknya datang lebih siang. Pasalnya, ruas jalan ini akan sangat macet ketika sudah semakin sore dan mendekati jam berbuka puasa.

4. Simpang Lima

Simpang Lima adalah salah satu ruang terbuka yang sangat ikonik di Kota Semarang. Lokasinya yang strategis membuat tempat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat. Saat Ramadan tiba, tidak sedikit masyarakat yang ngabuburit dan menunggu waktu buka puasa di kawasan ini.

Di sekitar lapangan Simpang Lima terdapat shelter kuliner yang menawarkan berbagai makanan khas Semarang. Tentu saja traveler bisa berburu takjil di sini sampai puas.

Setelah puas ngabuburit dan bersantap buka puasa, traveler dapat menjalankan ibadah sholat maghrib maupun tarawih di Masjid Raya Baiturrahman. Lokasinya berada persis di sisi timur Simpang Lima.

5. Taman Indonesia Kaya

Rekomendasi tempat ngabuburit di Semarang selanjutnya adalah Taman Indonesia Kaya atau Taman Menteri Supeno. Lokasinya sendiri berada di Jalan Menteri Supeno Nomor 11 A, Mugassari, Semarang Selatan.

Suasananya yang asri membuat taman ini sangat cocok untuk dijadikan tempat ngabuburit. Di sekitarnya terdapat penjaja makanan kaki lima sehingga traveler juga bisa berburu takjil.

6. Kawasan Banjir Kanal Barat

Kawasan Banjir Kanal Barat menjadi salah satu lokasi yang hits bagi muda-mudi di Kota Semarang untuk sekadar nongkrong. Saat bulan Ramadan tiba, kawasan ini pun menjadi tempat ngabuburit.

Ada beberapa spot yang menarik di Banjir Kanal Barat ini. Pertama, ada Taman Bendungan Pleret yang asri. Di sini, pengunjung bisa duduk bersantai menikmati udara sejuk sambil melihat pemandangan kanal.

Spot yang kedua yang menjadi favorit bagi masyarakat Kota Semarang adalah bagian seberang The Park Mall. Dari spot ini, kita dapat menyaksikan pemandangan matahari terbenam sambil ngabuburit.

7. Taman Sampangan

Berikutnya ada Taman Sampangan, salah satu lokasi yang tepat untuk berburu takjil selama Ramadhan. Di sini ada begitu banyak jenis jajanan kekinian yang dapat traveler temukan.

Harganya pun masih terbilang terjangkau di kantong semua kalangan. Taman Sampangan beralamat di Jalan Menoreh Raya, Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang.

8. Kawasan Undip Pleburan

Kawasan Undip Pleburan, khususnya di Jalan Pleburan Barat, Semarang Selatan, adalah lokasi ngabuburit di Semarang yang selanjutnya. Lokasinya sendiri tidak begitu jauh dari pusat kota. Di sini, ada banyak penjual makanan dan minuman sehingga cocok sekali untuk berburu takjil.

9. Perempatan Manyaran

Bagi detikers yang berada di Kawasan Semarang Barat, lokasi ngabuburit dan berburu takjil yang direkomendasikan adalah perempatan Manyaran. Lokasi ini biasanya menjadi pasar pagi di hari Minggu.

Namun selama bulan Ramadan, perempatan Manyaran menjadi pusat takjil. Mulai dari makanan yang manis, gurih, ringan, hingga berat, bisa traveler dapatkan di sini!

10. Jalan Roda Mas

Untuk traveler yang berada di kawasan Semarang Utara, cobalah untuk ngabuburit di Jalan Roda Mas. Di kawasan ini, ada banyak penjual makanan yang menawarkan berbagai kuliner untuk berbuka puasa.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Berkonsep Unik di Bandung, Bentuknya Seperti Lumbung Padi



Bandung

Di Soreang, Bandung ada bangunan masjid yang unik. Bukannya memiliki arsitektur Timur Tengah, tapi bentuk masjid ini malah seperti lumbung pagi atau leuit.

Masjid tersebut adalah Masjid Salman Rasidi yang terletak di Desa Sekarwangi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Tempat ibadah tersebut memiliki ruang tempat salat yang berada di lantai 2.

Bangunan masjid tersebut didominasi dengan warna abu-abu. Kemudian dari tampak depan arsitekturnya dominan dengan kaca-kaca yang besar.


Masjid tersebut memiliki udara yang sejuk yang membuat para jemaah nyaman untuk beribadah. Nampak terlihat di berbagai sisi bangunan dibuat miring sama halnya seperti bentuk asli dari lumbung padi.

Masjid Salman Rasidi ini dibangun pada tahun 2019, tepatnya tanggal 20 Mei 2019. Pembangunan selesai dalam waktu kurang lebih 1 tahun, kemudian diresmikan pada tanggal 9 April 2020.

Ketua Harian DKM Masjid Salman Rasidi, Andri Mulyadi (45) mengatakan, masjid tersebut dibangun dengan konsep ramah lingkungan. Sehingga jemaah yang beribadah bisa dengan nyaman dan khusuk.

“Jadi memang ini desainnya kita sangat memperhatikan lingkungan. Ini terlihat seperti di dalam kondisi kaca-kaca yang termasuk ventilasinya, cahayanya juga. Sehingga memang jemaah merasa nyaman, merasa khusuk, yang tagline-nya dari kita itu adalah aman, nyaman dan mengesankan,” ujar Andri, Senin (3/3/2025).

Andri mengatakan jemaah yang datang ke masjid tersebut kerap terpada dengan bangunan masjid tersebut. Maka tak jarang para jemaah kerap mengabadikan momen di masjid tersebut.

“Masyaallah banyak sekali kegiatan-kegiatan di samping kegiatan-kegiatan, mereka juga berfoto ria gitu ya, selfie kemudian menikmati kenyamanan yang ada di Masjid Salman Rasidi ini,” katanya.

Pihaknya mengungkapkan masjid tersebut memiliki konsep bangunan sama seperti leuit atau lumbung padi. Kata dia, hal tersebut dilakukan disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada di Soreang.

“Ini disesuaikan dengan warga sekitar di sini itu kan masyarakat agraris. Yang kedua memang memiliki filosofi yang sangat tinggi, yang masyarakat agraris yaitu karena rata-rata di wilayah sini adalah mereka bercocok tanam, terutama padi. Makanya kita simbolkan yaitu dengan seperti bentuk lumbung padi,” jelasnya.

Area masjid tersebut memiliki ukuran 15 meter X 15 meter. Kemudian untuk area pelataran atau parkiran yang memiliki ukuran 19 meter X 20 meter.

“Kalau daya tampung semuanya itu sekitar 400 jemaah, termasuk yang di bawah. Kalau misalnya meluber, kita ada yang di bawah, karena yang inti adalah di lantai yang pertama dan dua,” ucapnya.

Penampakan Masjid Salman Rasidi yang berbentuk leuit atau lumbung padi.Penampakan Masjid Salman Rasidi yang berbentuk leuit atau lumbung padi. Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Menurutnya yang membuat masjid tersebut terasa sejuk adalah dengan adanya AC yang diletakan pada bagian pinggir lantai. Kata dia, dengan itu masyarakat akan merasakan angin yang sejuk.

“Kan orang pakai AC di atas ya. Ini di bawah. Jadi seperti merasakan seperti ada ombak, seperti ada angin kan begitu. Kemudian juga alhamdulillah ada fasilitas seperti air minum gratis. Kemudian juga fasilitas tempat parkir juga nyaman, alhamdulillah luas,” tuturnya.

Masjid tersebut kerap menjadi tempat istirahat bagi warga yang akan berwisata ke wilayah Bandung Selatan. Makanya masjid tersebut kerap disinggahi oleh para wisatawan.

“Alhamdulillah mereka sangat nyaman. Bahkan sudah informasi mulut ke mulut, dan ternyata kalau mereka mau wisata ke arah Ciwidey, mereka transit dulu di Masjid Salman Rasidi ini,” bebernya.

Dia menambahkan pada ramadan kali ini berbagai program kajian telah diselenggarakan. Apalagi kajian tersebut kerap dihadiri oleh muda-mudi yang ada di Soreang.

“Tentunya masjid juga ingin di dalamnya itu memiliki nilai-nilai. Salah satu nilainya adalah memberikan sebuah kebermanfaatan untuk masyarakat dan menjadi berkah lah adanya masjid ini,” pungkasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com