Tag Archives: iklim

Mengunjungi Desa ala ‘Kerajaan’ di Gunungkidul



Gunungkidul

Pedukuhan Wotawati di Gunungkidul yang cuma disinari sinar matahari selama 7 jam sehari kini punya penampakan baru seperti di zaman ‘kerajaan’.

Wotawati saat ini telah bersolek. Sebagian besar rumah di Wotawati memiliki tampilan depan bangunan atau fasad yang sama, seperti pada masa kerajaan. Kesamaan itu tampak pada penggunaan bata merah ekspose pada bagian dindingnya.

Selain itu, setiap rumah saat ini memiliki gapura yang berbentuk sama dan menggunakan bata merah ekspose. Gapura tersebut identik dengan masa kerajaan sehingga menimbulkan sensasi tersendiri saat mengunjungi Wotawati.


Lurah Pucung, Estu Dwiyono mengatakan perubahan fasad rumah warga sudah berlangsung sejak Juni 2024. Saat itu Wotawati mendapat suntikan dana keistimewaan (Danais) sekitar Rp 5 miliar untuk penataan tahun ini.

“Jadi saat ini memang kita sedang melaksanakan penataan di kawasan Wotawati. Sebenarnya menata sesuatu yang sudah ada, hanya istilahnya kita poles,” katanya kepada wartawan di Wotawati, Gunungkidul, Sabtu (9/11).

Wotawati Gunungkidul kini bak kerajaan. Foto diambil Sabtu (10/11/2024).Wotawati Gunungkidul kini bak kerajaan Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

“Seperti pagar-pagar di setiap rumah tadinya sudah ada, tapi kami poles lagi, perbaiki agar tampil lebih artistik dengan menggunakan Danais. Jadi sebenarnya tidak ada membangun baru,” lanjut Estu.

Penataan tersebut, kata Estu, bakal berlangsung selama tiga tahun ke depan. Sedangkan jumlah rumah yang fasadnya mengalami renovasi mencapai puluhan.

“Insyaallah, program ini akan berlangsung selama tiga tahun ke depan dan ada sekitar 79 rumah yang akan direnovasi fasadnya,” ujarnya.

Terkait konsep fasad rumah warga khususnya gapura yang menyerupai di Bali, Estu menampiknya. Menurut Estu, penggunaan bata merah merupakan perpaduan antara masa Majapahit dan Mataram.

“Sebenarnya konsep tidak mirip dengan Bali ya, kami tetap menjaga karakter lokal. Konon ceritanya kami bagian dari pelarian Majapahit, karena itu kenapa kami memilih bata merah itu kan sebenarnya kita identik dengan Majapahit atau awal Mataram,” ucapnya.

“Tapi kemudian tetap kita akulturasikan dengan yang menjadi ciri khasnya Jogja, khususnya Gunungkidul. Sehingga gapura-gapura itu tidak seperti gapuranya Majapahit, Bali, tapi tetap dengan gaya Jogja dan Gunungkidul,” imbuh Estu.

Penataan untuk Daya Tarik Wisata

Dengan penataan tersebut, Estu berharap Wotawati yang sebelumnya kerap disebut menjadi kawasan terisolir berubah menjadi kawasan terpadu. Di mana tidak hanya menawarkan keindahan dan keunikan pemukiman tetapi juga ada camping ground termasuk sentra pertanian dan peternakan terpadu.

“Dan kami berharap beberapa rumah warga nantinya bisa menjadi homestay sebagai tempat menginap wisatawan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GKR Bendara menyebut penataan di Wotawati memang perlu. Semua itu untuk menjadikan Wotawati sebagai salah satu perwujudan quality tourism

“Karena ini baru mulai penataan, harapannya mulai ditata bersama-sama dengan industri dari sekarang agar bisa menjadi quality tourism,” katanya.

GKR Bendara juga meminta jangan sampai keindahan alam di Wotawati rusak setelah menjadi tempat wisata. Karena itu GKR Bendara berharap ada aturan khusus dari Kalurahan.

“Untuk menjaga keindahan alam desa wisata ini, kami berharap ada aturan dari kelurahan yang melindungi lingkungan. Selain itu adanya kesadaran dari masyarakat sekitar untuk menjaga alam,” ucapnya.

“Sehingga Desa Wisata Wotawati diharapkan bisa menjadi contoh desa wisata berkelanjutan dengan quality tourism. Karena itu yang menjadi fokus pembangunan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta,” lanjut GKR Bendara.

Bahkan, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini juga melakukan upaya penghijauan dan pemeliharaan lahan agar semakin subur. Di mana salah satunya di Wotawati.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin meningkat, perlindungan terhadap lingkungan hidup menjadi kebutuhan yang mendesak.

“Program ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki kualitas udara dan meningkatkan daya serap karbon, tapi juga untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan mendukung pariwisata yang berkelanjutan di Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini 2 Spot Wisata Paling Baru di Puncak, Cocok untuk Liburan Nataru!



Jakarta

Wisata ke Puncak, Bogor saat libur panjang sudah menjadi tradisi banyak traveler. Terlebih, kini ada dua objek wisata yang baru saja dibuka dan cocok untuk libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Kawasan wisata Puncak adalah primadona bagi traveler dari sekitar Jabodetabek. Letaknya yang tak terlalu jauh dari kota, iklim yang sejuk, hingga segudang tempat wisata menjadi daya tarik tersendiri.

Perihal objek wisata, Puncak kerap menawarkan keterbaruan. Tak ayal orang kerap singgah ke sana kendati selalu mengalami lonjakan volume wisatawan.


Bagi traveler yang ingin menikmati libur Nataru kali ini dengan berkunjung ke Puncak, bisa menjajal dua spot wisata baru ini:

1. Papa Dino Puncak

Papa Dino PuncakPapa Dino Puncak. (Pradita Utama/detikcom)

Papa Dino Puncak adalah taman rekreasi bertema dinosaurus yang baru saja dibuka di Puncak, tepatnya pada Jumat (20/12/2024). Spot satu ini melantai di area yang dulu dikenal sebagai The Ranch, atau di Jalan Raya Puncak KM.77, Leuwimalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Daya tarik wisata tersebut yakni dengan banyaknya animatronik dinosaurus yang berukuran besar. Animatronik tersebut tak hanya jadi pajangan, tetapi juga dapat bersuara, bergerak, hingga mengeluarkan air.

Selain itu, tempat tersebut menyimpan atraksi lain seperti berinteraksi dengan domba hingga sapi, menaiki kereta dino, dino dokar, sepeda gowes atau listrik, hingga flying fox.

Harga tiket masuk:

  • Rp 35 ribu (weekday)
  • Rp 40 ribu (weekend)

Jam buka:

  • 9.00-18.00 WIB (weekday)
  • 8.00-21.00 WIB (weekend)

2. Hibisc Fantasy Puncak

Hibisc Fantasy Puncak, BogorHibisc Fantasy Puncak, Bogor. (Pradita Utama/detikcom)

Satu lagi destinasi wisata yang baru saja dibuka di Puncak adalah Hibisc Fantasy Puncak. Spot satu itu menawarkan taman rekreasi dengan banyaknya unsur warna dan bunga.

Berkunjung ke sana, traveler dapat melihat banyaknya taman bunga hingga berbagai bangunan estetik penuh warna. Bangunan tersebut merupakan bangunan permanen dengan mengambil konsep layaknya Benteng Kremlin Moskow, Rusia.

“Ini konsepnya itu, bahwasanya Hibisc Fantasy Puncak ini adalah taman bunga plus rekreasi ya. Jadi nanti pengunjung bisa merasakan bunga-bunga, keindahan bunga yang ada di Hibisc Fantasy Puncak, dan juga bisa melihat kastil-kastil kayak gitu,” terang perwakilan pengelola, Ajang Ana Suriatma, saat mendampingi kami di sana, Jumat (20/12/2024).

Wahana itu baru saja dibuka pada 11 Desember 2024. Meliputi 20 wahana seperti kora-kora, rainbow slide, rumah hantu, hingga taman kelinci. Namun, beberapa wahana wisata tersebut belum semuanya dapat beroperasi lantaran izin yang belum selesai.

Tetapi berkunjung ke sana rasanya juga menarik traveler coba untuk libur Nataru kali ini.

Harga tiket masuk

Reguler:

  • Rp 40 ribu (weekday)
  • Rp 50 ribu (weekend)

Tiket terusan (gratis 15 wahana):

  • Rp 90 ribu (weekday)
  • Rp 100 ribu (weekend)

Promo tiket terusan Nataru:

Jam buka

(wkn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

12 Geopark Indonesia yang Diakui UNESCO di 2025


Jakarta

Geopark (taman bumi) adalah bentang alam yang menyimpan jejak geologis berupa keragaman batu dan mineral, hayati, dan budaya serta diwariskan antar generasi. Geopark dapat dikelola masyarakat setempat dengan mempertimbangkan keseimbangan lingkungan, edukasi, dan ekonomi.

Di dunia banyak geopark dengan luas, ciri, dan keragaman yang layak mendapat pengakuan dunia. Biodiversitas dan jejak kebumian (geologis) dalam geopark wajib dilindungi demi keberlanjutan kehidupan di dunia yang ramah lingkungan.

Daftar 12 Geopark di Indonesia yang Diakui UNESCO

Dikutip dari situs UNESCO, ada 12 geopark di Indonesia berstatus UNESCO Global Geopark (UGGp). Berikut daftarnya

1. Geopark Batur

  • Lokasi: Gunung Batur, Bali
  • Lanskap: Kawasan kaldera Gunung Batur dan dinding luarnya yang membentuk bentang alam khas Bali serta danaunya.

2. Geopark Gunung Sewu

  • Lokasi: Antar wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur
  • Lanskap: Menampilkan bentang alam karst pada iklim tropis yang terbentuk jutaan tahun lalu melalui proses geologis.

3. Geopark Ciletuh-Palabuhanratu

  • Lokasi: Sukabumi, Jawa Barat
  • Lanskap: Jejak geologi sejak 65 juta tahun lalu dengan formasi batuan unik, air terjun, dan pantai.

4. Geopark Rinjani-Lombok

  • Lokasi: Nusa Tenggara Barat
  • Lanskap: Mencakup Gunung Rinjani dengan kaldera, savana, dan hutan tropis.

5. Geopark Kaldera Toba

  • Lokasi: Sumatra Utara
  • Lanskap: Terdiri dari 16 geosite dengan bentang alam air terjun, bukit, dan Danau Toba yang menyatukannya.

6. Geopark Belitong

  • Lokasi: Kepulauan Bangka Belitung
  • Lanskap: Terdiri dari batu granit besar yang eksotis lengkap dengan kekayaan hayati di darat dan laut.

7. Geopark Ijen

  • Lokasi: Jawa Timur
  • Lanskap: Kawah dengan danau asam terbesar di dunia serta fenomena api biru yang langka.

8. Geopark Maros-Pangkep

  • Lokasi: Sulawesi Selatan
  • Lanskap: Susunan batuan kapur (karst) yang berasal dari zaman purba.

9. Geopark Merangin Jambi

  • Lokasi: Jambi
  • Lanskap: Lokasi asal fosil tumbuhan berusia 296 juta tahun kurang lebih periode Permian Awal.

10. Geopark Raja Ampat

  • Lokasi: Papua Barat
  • Lanskap: Biodiversitas laut lengkap dengan batuan tua dari era Silur-Devon.

11. Geopark Kebumen

  • Lokasi: Jawa Tengah
  • Lanskap: Batuan purba, goa-goa karst, dan jejak geologis sejak jutaan tahun lalu.

12. Geopark Meratus

  • Lokasi: Kalimantan Selatan
  • Lanskap: Warisan jejak kebumian tropis lengkap dengan kekayaan budaya dan masyarakat adat.

Buat traveler yang ingin berkunjung, jangan lupa update informasi untuk memastikan ketersediaan layanan. Termasuk harga tiket, rute, dan transportasi terbaik menuju destinasi wisata pilihan.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Kepulauan Seribu, Surga Tropis Tak Terduga di Utara Jakarta



Jakarta

Tak perlu jauh-jauh untuk merasakan liburan bahari tropis. Cukup menyeberang sekitar satu jam dari Jakarta, wisatawan sudah bisa menikmati laut biru jernih, pasir putih, hingga biota laut yang beragam di Kepulauan Seribu.

Sejak ditetapkan sebagai Taman Nasional pada 2002, Kepulauan Seribu menjadi rumah bagi terumbu karang, hutan mangrove, penyu sisik, hingga elang bondol. Konsep ekowisata berkelanjutan diterapkan agar keindahan alam tetap terjaga, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

“Kawasan ini adalah keindahan alam yang dijaga dengan konsep ekowisata berkelanjutan. Beberapa pulau telah berkembang jadi destinasi wisata, sementara sisanya dibiarkan tetap liar agar menjaga harmoni antara manusia dan alam,” tulis Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) dalam keterangan resminya, Selas (25/8/2025).


Beberapa pulau populer seperti Pulau Tidung dengan jembatan cintanya, Pulau Pari dengan Pantai Perawan yang tenang, serta Pulau Harapan yang cocok untuk island hopping ke pulau-pulau kecil di sekitarnya, menjadi favorit wisatawan.

Akses ke kawasan ini dapat ditempuh dengan kapal cepat dari Dermaga Marina Ancol atau kapal tradisional dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke.

Selain itu, wisatawan tak perlu cuti panjang atau transit di bandara, Kepulauan Seribu menawarkan liburan laut praktis. Dalam satu akhir pekan, wisatawan bisa snorkeling, diving, atau sekadar bersantai menikmati senja dari penginapan terapung.

Aktivitas snorkeling dan diving menjadi daya tarik utama. Perairannya yang relatif tenang membuat kegiatan ini aman bagi pemula hingga anak-anak.

Sejumlah titik favorit di antaranya Pulau Pramuka dengan pusat konservasi penyu, Pulau Sepa yang dijuluki ‘Little Bali’, Pulau Macan dengan eco resort sehingga area perairannya juga kaya biota laut, hingga Pulau Kotok yang ideal untuk fotografi bawah laut.

Selain itu, wisatawan juga bisa mengikuti program transplantasi karang. Kegiatan ini tidak hanya memberi pengalaman berbeda, tetapi juga meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian laut.

Ekowisata bukan hanya tren, melainkan kebutuhan. Di era perubahan iklim dan tekanan lingkungan yang semakin tinggi, Kepulauan Seribu menjadi contoh bagaimana destinasi wisata bisa tetap lestari dan ramah lingkungan tanpa mengorbankan kenyamanan wisatawan.

Dinas Parekraf juga mengingatkan wisatawan untuk memesan penginapan lebih awal saat musim liburan, membawa uang tunai karena tidak semua pulau memiliki ATM, serta menggunakan sunscreen dan perlengkapan snorkeling ramah lingkungan.

Dengan lebih dari 100 pulau kecil, Kepulauan Seribu menawarkan pilihan liburan singkat yang praktis, terjangkau, sekaligus berkelanjutan. Surga tropis di utara Jakarta ini menyimpan pesona alam yang layak dijaga bersama.

Menjelajah Kepulauan Seribu bukan hanya soal memanjakan mata dengan laut biru dan pasir putih, tetapi juga tentang menumbuhkan kepedulian terhadap alam. Setiap kunjungan yang dilakukan dengan penuh kesadaran turut membantu menjaga kelestarian ekosistem, sehingga generasi mendatang juga dapat merasakan keindahan yang sama.

(akd/akd)



Sumber : travel.detik.com

Gunung Luhur, Puncak Eksotis di Banten



Lebak

Gunung Luhur, sebuah destinasi yang pernah viral saat pertama kali dikenalkan lewat media sosial. Ia memang seeksotis itu.

Awalnya, tempat ini cuma kebun biasa milik warga, tapi karena keindahannya, kini jadi salah satu spot wisata favorit di Banten. Gunung Luhur mendapat julukan “negeri di atas awan” karena pemandangannya. Saat pagi hari, kabut tebal menyelimuti area perbukitan dan menciptakan pemandangan indah yang bikin banyak orang terpukau.

Meski disebut gunung, Gunung Luhur sebenarnya lebih mirip bukit dengan ketinggian sekitar 1.037 meter. Suasananya yang tenang dan udaranya sejuk sangat cocok untuk para pencinta alam yang ingin menikmati suasana sejuk dan tenang tanpa perlu mendaki terlalu ekstrem.


Gunung Luhur di BantenGunung Luhur di Banten Foto: (Afif Farhan/detikcom)

Pemandangan samudera awan di Gunung Luhur ini menjadi daya tarik tersendiri. Pemandangan itu bisa didapatkan di pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB hingga 07.00 WIB. Pengunjung disarankan untuk bermalam di puncak.

Meski demikian, pemandangan samudera awan tidak bisa didapatkan tiap hari. Hal itu tergantung kondisi cuaca.

Untuk memasuki kawasan puncak Gunung Luhur pengunjung dikenakan tarif Rp 5.000. Bagi yang mau menginap di puncak dapat membawa tenda dan membayar biaya sewa lahan Rp 30.000. Kalau tidak membawa tenda, traveler bisa menyewa tenda dengan biaya Rp 100.000 untuk empat orang.

Iklim di Gunung Luhur hutan hujan tropis berlaku di daerah itu. Suhu rata-rata tahunan di sana yakni 22 derajat Celcius.

Bulan terhangat adalah Oktober yakni dengan suhu rata-rata adalah 23 derajat Celcius, dan yang terdingin adalah Januari dengan suhu 21 derajat Celcius.

Gunung Luhur terletak di area Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tepatnya di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Lokasinya hanya sekitar 70 km dari Rangkasbitung dan 140 km dari Jakarta, jadi bisa dijangkau menggunakan kendaraan pribadi dengan mudah.

Jika tidak menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa memakai opsi melalui kereta ke Stasiun Rangkasbitung, lalu dilanjutkan dengan sewa mobil atau angkutan umum hingga Desa Citorek.

Setelah itu, perjalanan dapat dilanjutkan dengan ojek atau berjalan kaki ringan untuk mencapai puncak Gunung Luhur. Jalannya sudah diperbaiki dan relatif ramah untuk kendaraan, jadi perjalanan cukup lancar selama kondisi cuaca mendukung.

(bnl/ddn)



Sumber : travel.detik.com