Tag Archives: jakarta selatan

Tebet Eco Park, Rasakan Sensasi Healing Gratis di Ibu Kota


Jakarta

Menjalani aktivitas sehari-hari di Kota Jakarta memang cukup melelahkan. Hadirnya kawasan terbuka hijau pun kerap menjadi dambaan bagi warga ibu kota untuk melepas penat dan stres.

Tebet Eco Park adalah taman kota seluas 7 hektare di Jakarta Selatan yang didedikasikan untuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Tempat ini menjadi alternatif warga Jakarta dan sekitarnya untuk menghirup udara segar di tengah-tengah padatnya kota.

Jalan Tebet Barat Raya, RT.1/RW.10, Tebet Barat, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Untuk mengunjungi taman kota Tebet Eco Park, detikers bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.


Berikut rute dan cara menuju Tebet Eco Park menggunakan kendaraan umum:

Pengunjung yang hendak ke Tebet Eco Park bisa menggunakan transportasi KRL Commuter Line. Stasiun KRL terdekat dengan lokasi Tebet Eco Park adalah Stasiun Cawang. Berikut caranya:

  • Naik KRL tujuan Bogor. Jika dari arah Jakarta Kota/Bekasi/Tangerang kamu bisa transit di Stasiun Manggarai.
  • Dari arah Bogor bisa naik KRL tujuan Jakarta Kota atau Tanah Abang, kemudian turun di Stasiun Cawang.
  • Dari arah Bekasi bisa naik KRL tujuan Stasiun Manggarai, lalu naik KRL tujuan Bogor untuk turun di Stasiun Cawang.
  • Dari arah Tangerang bisa naik KRL tujuan Stasiun Duri, berikutnya naik KRL tujuan Stasiun Manggarai dan berganti kereta ke Bogor untuk turun di Stasiun Cawang.
  • Detikers juga bisa naik KRL turun Stasiun Kalibata, lalu dilanjut dengan naik MikroTrans JAK 18 (Stasiun Kalibata – Kuningan).

Bagi pengunjung yang hendak ke Tebet Eco Park menggunakan TransJakarta, maka Halte TransJ terdekat dengan Tebet Eco Park adalah Halte BUMD.

Berikut daftar koridor TransJakarta yang melayani rute dengan tujuan turun Halte Tebet BUMD:

  • Koridor 7B (Kampung Rambutan-Blok M).
  • Koridor 9 (Pinang Ranti-Pluit).
  • Koridor 9A (PGC 2-Pluit).
  • Koridor 9C (Pinang Ranti-Kota).
  • Koridor M7 (Kampung Rambutan-Harmoni).

Bagi kamu yang hendak ke Tebet Eco Park menggunakan MikroTrans. Berikut daftar koridor MikroTrans yang melayani rute dengan tujuan turun Tebet Eco Park:

  • MikroTrans No. JAK 43C (Sarana Jaya – Tebet Eco Park – St. Cawang)
  • MikroTrans No. JAK 43B (Tongtek – Cililitan (Tebet Eco Park-St. Cawang)).

Harga Tiket Tebet Eco Park

Untuk dapat masuk ke Tebet Eco Park, pengunjung tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis. Meski begitu, pengunjung harus mendaftar terlebih dahulu di aplikasi JAKI. Setelah itu, pengunjung akan mendapatkan barcode sebagai akses masuk ke taman.

Fasilitas Tebet Eco Park

Fasilitas Tebet Eco Park terbilang cukup lengkap, mulai dari tempat duduk, toilet, mushola, area parkir, alat fitness, serta tenant makanan dan minuman.

Selain itu, ada juga beberapa peraturan yang harus dipatuhi pengunjung agar area taman tetap bersih dan nyaman. Peraturan tersebut di antaranya, tidak boleh membuang sampah sembarangan, tidak boleh merusak taman hingga membawa hewan peliharaan.

Jam Operasional Tebet Eco Park

Tebet Eco Park dibuka setiap hari dengan 2 sesi jam buka.

  • Sesi pagi: 06.00-11.00 WIB.
  • Sesi sore: 13.00-18.00 WIB.

Rekomendasi Aktivitas Seru di Tebet Eco Park

Tebet Eco Park (TEP) adalah taman kota seluas 7,3 hektar yang dipenuhi dengan pepohonan dan tanaman hijau yang asri. Di sini, pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas seru, di antaranya:

Infinity Link Bridge adalah sebuah jembatan penghubung antara Taman Tebet Utara dan Taman Tebet Selatan. Jembatan ini menjadi ikon utama Tebet Eco Park dengan tiang-tiang berwarna merah bergradasi di sampingnya.

Infinity Link Bridge berbentuk meliuk seperti angka delapan yang membelah pepohonan. Jembatan ini biasa digunakan pengunjung untuk jogging maupun berjalan santai.

2. Berjalan menyusuri rawa

Di Tebet Eco Park terdapat sebuah area unik bernama Wetland Boardwalk. Area ini merupakan kawasan rawa yang menyajikan keindahan tersendiri.

Di sini, kamu dapat berjalan di jalan setapak yang terletak di atas rawa-rawa. Selain indah, kawasan rawa-rawa ini juga memiliki fungsi lain, yakni sebagai pengendali banjir dan untuk meningkatkan kualitas air.

Community Garden adalah sebuah tempat di Tebet Eco Park yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpulnya berbagai komunitas. Di sini, detikers bisa bercocok tanam, berkebun, dan melakukan kegiatan edukasi alam lainnya.

4. Menyaksikan keseruan di Children Playground

Di Tebet Eco Park terdapat area bermain untuk anak atau children playground dengan sejumlah wahana yang bisa dimainkan. Ikon dari area ini adalah buaya raksasa berwarna cokelat. Di sini, kamu dapat menyaksikan keseruan anak-anak ketika bermain dengan ceria.

Nah, itulah informasi seputar lokasi, cara menuju, fasilitas, serta rekomendasi berbagai aktivitas seru yang bisa kamu lakukan di Tebet Eco Park. Bagaimana menurutmu healing di tempat ini, detikers?

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Chillax Sudirman, Tempat Asyik untuk Nongkrong dan Makan Enak


Jakarta

Ada banyak sekali tempat nongkrong anak muda yang populer di Jakarta, salah satunya adalah Chillax Sudirman. Selain untuk nongkrong, Chillax juga mempunyai banyak tenant makanan dan minuman.

Maka dari itu, Chillax selalu ramai dikunjungi masyarakat yang mampir untuk mengisi perut. Lokasinya yang berada di tengah kota membuat Chillax juga ramai dikunjungi pekerja kantoran saat jam pulang kerja.

Lantas, ada tenant apa saja sih di Chillax Sudirman? Lalu apa saja daya tarik dari tempat nongkrong tersebut? Simak ulasannya dalam artikel ini.


Daya Tarik Chillax

Chillax menjadi salah satu tempat nongkrong terkenal di Jakarta. Memangnya, apa sih yang membuat tempat ini ramai didatangi anak muda? Berikut sejumlah daya tariknya.

1. Banyak Tenant Makanan dan Minuman

Sebagai tempat nongkrong, Chillax memiliki banyak tenant makanan dan minuman, mulai dari makanan berat hingga camilan tersedia di sini. Beberapa tenant makanan di antaranya Hot Damn Chick, Smoked BBQ Lagi, Kwetiau Aho, dan masih banyak lagi.

Maka jangan heran, banyak juga pekerja kantoran di sekitar Sudirman yang melipir ke Chillax saat jam makan siang untuk mengisi perut yang lapar.

2. Tempat Terbuka

Chillax Sudirman di malam hari saat jam pulang kerja.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Area Chillax yang terbuka (open space) membuat pengunjung merasa nyaman dan tidak pengap ketika nongkrong berlama-lama. Tenang saja, meski di area terbuka namun ada beberapa tempat yang ditutupi oleh payung kanopi, sehingga aman dari air hujan.

3. Mengusung Konsep ala Eropa

Selain dijadikan tempat hangout, Chillax Sudirman juga memiliki beberapa spot foto yang Instagramable dan estetik. Tempat itu sendiri mengusung konsep ala Eropa atau Western, sehingga sangat cocok untuk berfoto-foto di sejumlah bangunannya.

Jika ingin berfoto-foto, disarankan datang saat sore hari dan cuaca sedang cerah. Hal ini agar menambah kesan Western ketika kamu mengunggah foto tersebut ke media sosial.

Daftar Tenant F&B di Chillax

Ada banyak tenant makanan dan minuman (F&B) yang berada di Chillax Sudirman. Apa saja? Simak daftarnya di bawah ini:

  • Hoy tod
  • Teras Japan
  • Naruto Takoyaki
  • Papitong
  • Hot Damn! Chick
  • Kang Tebu
  • Teddy Beer
  • Sop Ikan Batam
  • Hang Tuah
  • Kenken
  • Kwetiau 28 Aho
  • Ayam Bakar Djaya
  • Kebun jeruk
  • Pisang Primarasa
  • Amaiko

Sementara itu, ada juga sejumlah restoran yang hadir di Chillax, meliputi:

  • Truffle belly
  • Skinny Dip
  • Seporsi Mie Kari
  • Harper & Cordon
  • Torishichi
  • Heirloom
  • Gion Sushi Bar
  • Butler’s
  • N.O.B
  • Toma Brasserie

Lokasi dan Jam Buka Chillax

Chillax Sudirman di malam hari saat jam pulang kerja.Foto: Ilham Satria Fikriansyah/detikcom

Chillax terletak di Jalan Sudirman Kavling 22-24, Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Untuk jam bukanya setiap hari mulai pukul 10.00-22.00 WIB.

Agar tidak antre saat memesan makanan atau minuman, disarankan datang sejak sore hari. Soalnya, baik weekend ataupun weekday Chillax selalu ramai dipadati pengunjung.

Karena terletak di Jalan Sudirman, akses menuju Chillax sangat mudah dijangkau. Jika travelers menggunakan transportasi umum, maka bisa menaiki MRT atau TransJakarta.

Apabila kamu menggunakan MRT, silahkan turun di Stasiun MRT Setiabudi Astra. Dari sana, detikers hanya perlu berjalan kaki sekitar 200 meter dan tiba di Chillax.

Jika menggunakan TransJakarta, kamu bisa turun di Halte Karet. Setelah itu berjalan kaki sekitar 100 meter untuk sampai di Chillax.

Kamu juga bisa mengendarai mobil atau sepeda motor. Namun perlu diingat, metode pembayaran di Chillax hanya bisa nontunai, jadi siapkan kartu elektronik dan saldo yang cukup.

Demikian ulasan singkat tentang Chillax Sudirman. So, tertarik berkunjung ke sana saat akhir pekan ini?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Museum Layang-layang Menyimpan Kenangan, Merawat Harapan



Jakarta

Museum Layang-layang Indonesia memang tak sepopuler Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahilah) atau pun Museum Nasional, tetapi museum itu justru sangat interaktif. Mengisahkan sejarah, mengajak membuat layang-layang, juga merawat harapan.

Dengan bermodalkan rasa penasaran dengan museum tersebut, detikTravel berkesempatan untuk menyambangi Museum Layang-layang ini yang terletak di Jalan H. Kamang no 38, Jakarta Selatan. Setiba di sana, bangunan-bangunan khas Jawa berdiri tegak seraya menyambut kedatangan.

Setelah membeli tiket kemudian dibawa untuk melihat cuplikan video tentang layang-layangan. Sekilas seperti sederhana menyoal layang-layang belaka, namun salah satu guide yang sekaligus perajin layang-layang bernama Asep Irawan.


Ia mengatakan misi di balik adanya Museum Layang-layang ini merupakan upaya untuk melestarikan budaya Indonesia tentang layang-layang itu sendiri. Mungkin layang-layang banyak dikenal sebagai media bermain saja tapi Asep mengatakan sebetulnya layang-layang juga banyak digunakan di berbagai kegiatan seperti spiritual.

Layang-layang di Museum Layang-layang di JakartaLayang-layang di Museum Layang-layang di Jakarta Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikcom

“Tujuannya Museum Layang-layang ini untuk melestarikan khazanah budaya Indonesia melalui layang-layang dan berdirinya ini tepat pada 21 Maret 2003. Visi dan misinya ini sebagai tempat pembelajaran anak-anak tentang layang-layang,” kata Asep kepada detikTravel, Senin (24/6/2024).

Pria asal Bandung itu juga mengatakan di zaman sekarang anak-anak kecil banyak yang sudah tidak memainkan layang-layang. Karena tempatnya memainkannya yang sulit dan lebih memilih permainan yang canggih jadi layang-layang ini sedikit banyak mulai ditinggalkan.

Asal Mula Museum Layang-layang

Asep pun menjelaskan tentang hadirnya Museum Layang-layang ini di Jakarta. Endang W. Puspoyo yang merupakan pemilik dari museum itu adalah pecinta layang-layang.

Layang-layang di museum itu adalah koleksi pribadinya yang kemudian dibuka untuk masyarakat umum. Asep mengatakan Endang juga sering mengadakan festival layang-layang dan mengundang banyak perajin layang-layang untuk berpartisipasi.

Endang kala itu tak hanya mengundang perajin lokal saja tapi juga hingga mancanegara. Dari jejaring tersebut alhasil banyak layangan-layangan hias nan unik yang terpajang di Museum Layang-layang ini, mulai dari Indonesia sampai layang-layang dari berbagai negara terdapat di sini.

Layang-layang Bukan Sekadar untuk Bermain-main

Rupanya, layang-layang bukan sekadar media bermain. Lebih dari itu, sedari dulu layangan juga dipakai di berbagai negara, termasuk Indonesia sebagai tradisi dan media spiritual.

“Budayanya ada dan agamanya juga ada kan, nah kalau di negara-negara lain kan ada yang buat upacara kelahiran, kalau di kita (Indonesia) dipakai buat perayaan hasil panen untuk rasa bersyukur jadi nerbangin layang-layang. Itu supaya masyarakat banyak yang datang ke upacara itu dan sambil mendoakan supaya hasil panen lebih banyak lagi,” kata Asep.

Masuk ke dalam Museum Layang-layang yang berbentuk pendopo ini, rasa kagum pertama kali jadi penilaian karena layang-layangan di museum ini mayoritas berukuran besar. Selain itu bentuk-bentuknya juga beragam, ada yang berbentuk binatang hingga wayang dan juga terbuat dari berbagai macam bahan baku seperti kertas, plastik sampai dedaunan.

Asep menerangkan jumlah keseluruhan layang-layangan yang dipajang di museum ini sekitar 100 buah. Namun secara keseluruhan koleksi layang-layang yang dimiliki museum ini bisa lebih dari 1000 layang-layang yang berasal dari berbagai belahan dunia.

“Sekitar 100 ada lah, kalau semuanya ada ribuan tapi nggak dipasang,” kata dia.

Layang-layang di Museum Layang-layang di JakartaLayang-layang di Museum Layang-layang di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Di museum ini pun terdapat beberapa layangan hasil dari tangannya, di antaranya adalah layang-layang berbentuk penari merak yang merupakan tarian khas Jawa Barat. Layang-layangan tersebut ia buat di tahun 1997 dan telah menjuarai perlombaan layang-layang internasional.

“Nah ini (layang-layang) dari Bandung, ini layangan tari burung merak. (Berbahan dasar) kain parasut, ini karya saya dibikin tahun 1997 ini udah lima kali juara internasional dan ditaruh di sini,” kata Asep sambil tersenyum.

Setelah selesai diajak berkeliling museum layang-layang, sembari bercengkrama dengan lelaki murah senyum ini. Terdapat keluarga yang tengah asyik membuat dan mewarnai layang-layang, Ami membawa ketiga anaknya untuk berkunjung ke Museum Layang-layang.

Bagi Ami anak-anaknya senang saat pertama kali diajak ke museum ini, terlebih anak laki-lakinya yang bernama Hamzah. Setelah diberikan rangka layang-layang oleh petugas, dirinya dengan serius menempelkan kertas menggunakan lem dan mewarnai layang-layang hasil tangannya.

Layang-layang di Museum Layang-layang di JakartaAnak-anak bikin layang-layang di Museum Layang-layang di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Hamzah begitu senang dengan museum ini dengan berbagai bentuk dan ukuran dan baginya membuat layang-layang tak begitu susah.

“Nggak (susah), senang. (Di museum ini) banyak layang-layang yang gede banget,” katanya sambil malu-malu.

Untuk masuk ke Museum Layang-layang ini pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp 20.000 untuk anak-anak dan Rp 25.000 untuk dewasa.

Dengan harga tersebut selain pengunjung bisa menikmati berbagai koleksi layang-layang, pengunjung juga akan diperlihatkan terlebih dahulu video tentang festival layang-layang dan di akhir tour museum juga akan diberikan pengalaman membuat dan mewarnai layang-layang.

Museum ini buka setiap hari mulai dari pukul 09.00 sampai 16.00 WIB, tak ada hari libur kecuali tanggal merah. Yuk buat kamu yang penasaran dengan koleksi layang-layang di museum ini dan ingin mencoba pengalaman membuat layang-layang, langsung saja datang ke Museum Layang-layang ini.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sederhana namun Bikin Warga Bahagia



Jakarta

Taman Tangkuban Perahu yang berada di Jalan Tangkuban Perahu, Setiabudi, Jakarta Selatan bukanlah taman yang mewah. Tetapi, taman itu cukup nyaman buat warga sekitar.

Dari pantauan detikTravel, Rabu (10/7/2024), taman itu semakin sore semakin ramai. Tempatnya yang asri dan rindang serta terdapat fasilitas lain menjadi daya tariknya.

Di antara masyarakat yang datang ke taman yang luasnya kurang lebih 6.000 meter persegi itu ditumbuhi berbagai tanaman hias. Selain itu, terdapat dua lapangan, yakni lapangan basket dan futsal.


Kemudian, wahana permainan seperti perosotan dan wahana memanjat. Di tengah-tengah taman itu juga terdapat area untuk duduk melingkar. Tak jauh dari tengah taman ini juga ada jalur jalan kaki dengan media kerikil.

Taman Tangkuban Perahu, Setiabudi, JakselTaman Tangkuban Perahu, Setiabudi, Jaksel (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Sembari menikmati gorengan dari penjual di pinggiran taman, melihat keseriusan anak-anak yang tengah berlatih basket di lapangan. Sementara di lapangan yang lain, keseruan terlihat dari anak-anak yang tengah bermain bola dengan gelak tawa di tengah-tengah permain.

Salah satu masyarakat yang berkunjung ke tempat itu adalah Titin. Dia bukan merupakan warga sekitar Taman Tangkuban Perahu, melainkan warga Manggarai. Dia memutuskan mengunjungi Taman Tangkuban Perahu setelah pulang dari Pasar Rumput bersama kedua cucunya.

Ia memang kerap mengunjungi taman yang tersebar di Jakarta, namun ini jadi kali pertamanya datang ke Taman Tangkuban Perahu bersama kedua cucunya.

“Abis solat Ashar tadi beli cabe ke pasar, beli bumbu dapur sekalian ke sini ngajak main ke sini, ini baru pertama kali main, biasanya sih ke Taman Manggarai yang deket. Sering main ke taman sana sembari liat kereta kan anak-anak seneng,” kata Titin selagi menunggu kedua cucunya bermain.

Banyak juga anak-anak yang membawa sepeda ke dalam taman dan berkeliling taman menggunakan sepedanya, suasana seru ini bisa mereka nikmati ketika sore tiba. Dan menjelang malam biasanya masyarakat mulai kembali pulang ke rumahnya masing-masing.

Taman Tangkuban Perahu, Setiabudi, JakselLapangan futsal di Taman Tangkuban Perahu, Setiabudi, Jaksel (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Untuk jam buka taman ini setiap hari mulai dari pukul 05.00 hingga 17.00 WIB. Tak hanya sore saja yang ramai didatangi masyarakat, pagi hari pun menurut para pedagang di sana biasanya ramai tapi untuk anak-anak jarang karena harus sekolah.

“Biasanya pagi sama sore rame di sini tapi kalau pagi bocah jarang,” kata salah satu pedagang.

Untuk mencari kebahagiaan tak perlu mengeluarkan kocek yang besar seperti masyarakat sekitar Taman Tangkuban Perahu yang bahagia saat datang ke taman ini untuk menikmati sore dengan berbagai aktivitasnya. Walaupun sederhana tapi rasa bahagianya bisa terlihat dari raut wajah anak-anak yang bermain di sana.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Tempat Nongkrong di Pasar Santa, Kulineran Enak Ramah Kantong


Jakarta

Pasar Santa telah bertransformasi menjadi salah satu tempat bagi para pencari tempat nongkrong. Lokasinya ada di Jl. Cipaku I, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Walaupun tidak seramai dulu, pasar yang terletak di kawasan Jakarta Selatan ini masih bisa dieksplor. Di area sekitar sana, selain berbelanja kita juga bisa kulineran, menemukan barang-barang vintage, menikmati musik live, hingga berburu buku.

Rekomendasi Tempat Nongkrong di Pasar Santa

Berikut adalah beberapa tempat di Pasar Santa yang bisa dijadikan pilihan tempat nongkrong:


1. Kopi Tuku

Kedai kopi ini berlokasi di lantai dasar Pasar Santa tepatnya Kiosk 176-177. Tempat ini jadi tempat favorit para pecinta kopi atau mereka yang ingin nongkrong santai.

Selain menikmati kopi dan teh, traveler juga bisa memesan donat, kukis, hingga bolu yang lezat. Harganya pun cukup terjangkau, menu kopi paling murahnya berkisar Rp 25 ribu saja lho.

2. Mini Resto Jepang Kaifuku

Ketika ingin kulineran di Pasar Santa, kamu bisa ke Kaifuku, mini resto berkonsep Jepang. Dari catatan detikTravel, Nanban, Katsudon, Gyoza, dan Teriyaki Aburi adalah menu best seller yang ditawarkan mini resto ini.

Enaknya, kamu juga bisa langsung melihat proses pembuatannya. Pasalnya, makanan akan dibuat dadakan sesuai pesanan pelanggan. Buka Selasa sampai Minggu, dengan jam operasional ada di pukul 11.00-21.00 WIB dan untuk weekend tutup pukul 22.00.

Lokasi Kaifuku sangatlah strategis, yakni dekat tangga. Mini resto ini dominasi cat warna putih dan merah khas Jepang.

3. Kemenkan

Toko kue bebas gluten, Kemenkan, juga jadi salah satu hidden gem di Pasar Santa. Lokasinya ada di luar Pasar Santa Lt. 1 Blok BKS 57.

Berdasarkan laman Instagramnya @kemenkan.co, toko kue ini buka setiap Selasa sampai Minggu pukul 11.00-20.00 WIB.

Di sini, kamu bisa menikmati aneka brownies, tiramisu, kue stroberi, hingga cheesecake. Semuanya homemade dan fresh from oven. Harganya mulai dari Rp 25 ribuan aja.

4. Juicible

Nah, kalau kamu ingin yang seger-seger Juicible bisa jadi pilihan tempat nongkrong di Pasar Santa. Lokasinya ada di lantai 1.

DI sini, kamu bisa pesan aneka jus buah. Mulai dari pisang, melon, stobori, hingga buah bit. Toko jus ini buka setiap hari mulai pukul 11.00 sampai 19.00 WIB. Sementara, untuk weekend tutup di pukul 20.00-21.00 WIB.

5. Rama Ramen

Buat kamu yang mau ngerasain halal authentic ramen, Rama Ramen bisa jadi pilihannya. Lokasinya ada di basement Pasar Santa.

Di sini, kamu bisa pesan ramai dengan rasa gurih, creamy, dan pedas dengan topping yang melimpah. Kedai ramen ini buka setiap Selasa-Minggu, mulai dari pukul 10.00-20.00 WIB.

Sejarah dan Perkembangan Pasar Santa

Didirikan sejak tahun 1971, dulunya Pasar Santa hanyalah pasar tradisional dengan tata letak tidak teratur dan becek. Pada 2002, pertama kalinya pemerintah melakukan pemugaran pada pasar ini.

Barulah setelah itu, Pasar Santa disulap menjadi pasar modern (Santa Modern Market) yang lebih teratur dan bersih.

Di lantai basement khusus untuk para penjual sembako, sayur mayur, beras, ikan, daging, dan kopi. Di lantai dasar lebih, tempatnya aksesori, jam tangan, toko emas, dan toko pakaian. Sementara di lantai satu, berbagai spot kreativitas anak muda berkumpul.

Pada tahun 2014-an, Pasar Santa sangat populer di kalangan remaja kala itu. Tempat ini banyak didatangi komunitas yang menggabungkan budaya, musik, dan makanan. Hal ini juga mendorong tarik wisatawan lokal bahkan asing.

Sekarang, Pasar Santa memang tidak seramai di masa jayanya pada 2014. Namun, pasar ini masih bisa hidup dan bertahan setelah pandemi COVID-19.

Semoga informasi terkait tempat nongkrong di Pasar Santa tadi bisa referensi buat detikers ya.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Museum Satriamandala Simpan Peristiwa Penting, Punya Kafe yang Nyaman



Jakarta

Museum Satriamandala berada di kawasan strategis, namun bisa jadi sering terlewatkan. Padahal, museum itu tak hanya menyimpan peristiwa penting dan kebendaannya, namun juga memiliki kafe yang nyaman.

Museum Satriamandala memamerkan mulai dari sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga peristiwa-peristiwa penting di zaman dahulu. Museum itu menyuguhkan informasi sejarah militer, peristiwa bersejarah sampai senjata dan kendaraan TNI dari masa ke masa. Juga, terdapat diorama berbagai tema tentang TNI.

Terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 14, Jakarta Selatan, museum itu mudah dijangkau. Lokasinya persis berada di samping Pusat Sejarah Markas Besar TNI.


Museum Satriamandala diresmikan pada tahun 1972 oleh presiden ke-2 Soeharto.

Di gedung utama museum ada beberapa ruangan yang memuat sejarah panjang Indonesia, mulai dari lorong pertama terdapat beberapa diorama untuk sambutan sebelum masuk ke ruang yang menyimpan informasi tentang petinggi militer Indonesia seperti Soeharto hingga Jenderal Sudirman.

Setelah melalui ruangan tersebut tersimpan beberapa diorama peristiwa sejarah lainnya serta simbol-simbol dari Pertahanan Keamanan (Hamkam), TNI, dan kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang dulunya masih dalam bagian ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

Melihat perkembangan Indonesia melalui informasi menarik bisa masyarakat Jakarta nikmati di Museum Satria Manda, di museum tersebut nantinya akan diperlihatkan mulai dari sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga peristiwa-peristiwa penting di zaman dahulu. Cocok untuk kamu yang senang dengan berwisata sambil menambah pengetahuan.Diorama di Museum Satria Manda di Jl Gatot Soebroto, Jaksel (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Di bangunan utama museum terdapat kurang lebih 74 diorama peristiwa bersejarah seperti Pertempuran Surabaya, pertempuran lima hari di Semarang, Bandung Lautan Api, dan masih banyak lagi. Turun dari ruangan utama museum pengunjung akan melihat puluhan senjata yang sempat dipakai oleh tentara kita (1945-sekarang), contohnya seperti senjata Lee Enfield MK III buatan Inggris yang dibuat tahun 1945.

Adapun di gedung lainnya yakni Gedung Museum Waspada Purbawisesa terdapat 34 diorama yang menjelaskan tentang perjuangan TNI membasmi pasukan DI/TII di berbagai wilayah di Indonesia.

Daya tarik yang bikin menohok lainnya adalah kendaraan-kendaraan yang dipakai oleh TNI yang berada di luar museum. detikTravel berkunjung pada Rabu (17/7/2024) langsung dibuat takjub dengan koleksi kendaraan-kendaraan perang yang ada.

Taman Soekarno dan Taman Dirgantara

Pengunjung bisa melihatnya kurang lebih 12 kendaraan tempur darat di Taman Soekarno. Termasuk, kendaraan Jeep Willys buatan Amerika Serikat tahun 1945 yang pernah dimiliki oleh Jenderal Sudirman.

Jika ingin melihat pesawat-pesawat tempur, pengunjung bisa menuju ke Taman Dirgantara. Di sana terdapat berkisar 16 unit pesawat tempur.

Melihat perkembangan Indonesia melalui informasi menarik bisa masyarakat Jakarta nikmati di Museum Satria Manda, di museum tersebut nantinya akan diperlihatkan mulai dari sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga peristiwa-peristiwa penting di zaman dahulu. Cocok untuk kamu yang senang dengan berwisata sambil menambah pengetahuan.Koleksi kendaraan tempur di Museum Satriamandala (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Salah satu pengunjung yang datang ke Museum Satriamandala adalah Deva. Dia datang bersama pasangannya karena penasaran. Dia ingin mengetahui informasi sejarah Indonesia yang ada di museum ini.

“Pertama karena penasaran kan lewat fyp (for your page) TikTok, ya kita pengen lihat sejarah-sejarah Indonesia nih di Museum Satriamandala kayak gimana. Terus juga sekalian ke Kampoeng Djoeang juga karena di dalam museum ada kafe,” kata dia.

Dari papan informasi yang terdapat di depan pintu masuk museum, jam operasional Museum Satriamandala ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Untuk mengetahui sejarah Indonesia dan menanamkan rasa cinta tanah air, Museum Satriamandala bisa menjadi medianya.

Teringat salah satu kutipan yang terdapat di bangunan museum yang berbunyi ‘Kenali Bangsamu, Cintai Bangsamu’.

Kafe nan Sejuk

Di area museum terdapat sebuah kafe, dinamai Kampoeng Djoeang. Kafe itu bernuansa jadul dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo. Kafe itu juga adem seperti di rumah nenek ditambah dengan suasana yang sejuk karena banyak pepohonan.

Kampoeng Djoeang adalah kafe di Jakarta dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa seperti di rumah nenek. Begini suasananya.Kampoeng Djoeang adalah kafe di Jakarta dengan ornamen vintage ala-ala rumah joglo bikin nuansa seperti di rumah nenek. Begini suasananya. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Kafe itu berada di pojokan, tepatnya berada di belakang salah satu bangunan museum, yakni ruang diorama tiga dan empat atau tak jauh dari Taman Soekarno.

Tampak depan kafe, pengunjung akan disambut dengan dua mobil tua yang tampilannya begitu keren, satu mobil van berwarna putih dan satu lagi gahar berwarna hitam.

Dari informasi yang ada, konsep kafe Kampoeng Djoeang itu merujuk pada tempat tinggal dan markas dari Jenderal Sudirman dan pasukannya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Perpustakaan Erasmus Huis Senyaman Itu…, Seestetik Itu…



Jakarta

Di kawasan Jakarta Selatan terdapat perpustakaan yang menarik untuk dikunjungi, bukan hanya tentang koleksi bukunya saja. Tetapi, juga suasana perpustakaan yang bikin nyaman.

Perpustakaan itu ada di dalam Kantor Kedutaan Besar Belanda di Kuningan, Jaksel. Yakni, perpustakaan Erasmus Huis.

Perpustakaan itu bisa diakses oleh masyarakat umum. Jika ingin mengunjungi perpustakaan ini masyarakat tinggal bertanya kepada petugas penjaga yang mengarahkan ke area perpustakaan.


Suasana yang nyaman dan tentunya bersih membuat pengunjung betah untuk berlama-lama. Memang Perpustakaan Erasmus Huis itu didominasi oleh buku-buku Bahasa Belanda dan Inggris, namun ada pula koleksi buku dengan Bahasa Indonesia.

“Ada paling cuma 5% dari keseluruhan koleksi yang ada,” ujar petugas perpustakaan kepada detikTravel, Jumat (19/72024).

Koleksi buku-buku di Perpustakaan Erasmus Huis itu mencapai 6.000 buku. Seluruh buku terpajang rapi di setiap raknya, ada di rak lantai satu dan rak lantai dua.

Variasi buku di sini pun beragam seperti buku anak, biografi, sejarah hingga buku kebudayaan Indonesia Pencak Silat yang berbahasa Belanda.

Erasmus Huis di Kedutaan Belanda di Kuningan, Jakarta SelatanErasmus Huis di Kedutaan Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Salah satu pengunjung saat itu adalah Ni Eko. Dia memang ada kepentingan di Kantor Kedutaan Belanda makanya sekaligus ke perpustakaan untuk mencari buku yang diincar.

“Tujuannya itu untuk ambil visa kan udah appointment sebelumnya terus hari ini jadi terus hari ini diambil. Sekalian aja mau cari buku tentang lingkungan gitu kan, kebetulan saya dulu jurusannya Biologi tapi spesialisasinya lingkungan jadi pengen cari-cari buku tentang lingkungan,” kata dia.

Bagi Ni Eko, Perpustakaan Erasmus Huis itu nyaman untuk dikunjungi dan juga ia menyebut Perpustakaan Erasmus Huis ini menyimpan koleksi buku sulit dicari di pasaran. Dia pun kagum ketika berada di perpustakaan itu.

“Saya sukanya tuh ternyata banyak buku yang nggak disebarluaskan secara komersial gitu, banyak sih buku menarik cuma nggak sesuai dengan bidang saya. Tadi tuh banyak buku tentang kebudayaan Indonesia gitu kan, terus tentang bagaimana kondisi lanskap Indonesia di zaman kolonialisme nah itu tuh bagus soalnya belum pernah nemu,” kata Ni Eko.

Selain Ni Eko, pengunjung yang menikmati Perpustakaan Erasmus Huis ini adalah Salwa. Dia datang bersama beberapa temannya untuk mencari pengetahuan baru yang ada di dalam koleksi buku-buku.

Salwa mengetahui keberadaan Perpustakaan Erasmus Huis dari media dan teman-temannya.

“Ke sini ingin lebih tahu tentang wawasan ilmu-ilmu yang sebelumnya belum aku tahu di sini gitu, maksudnya masih banyak hal-hal yang belum aku ketahui juga. Kalau aku tahu (perpustakaan) ini dari media sosial sama rekomendasi dari teman-teman di kampus,” kataSalwa.

Tak hanya membaca buku, ia pun menjelaskan kedatangannya ke perpustakaan ini untuk kebutuhan konten. Alasannya karena tempat dan suasana di Perpustakaan Erasmus Huis bisa jadi magnet untuk para content creator membuat konten.

Di ruang samping perpustakaan juga tengah ada pameran foto dari fotografer bernama Kadir van Lohuizen yang menceritakan tentang dampak naiknya permukaan laut bagi manusia akibat dampak perubahan iklim. Terdapat sekitar 35 foto yang dipamerkan dari delapan negara dan salah satunya ada Indonesia.

Pameran foto tersebut telah dihelat dari tanggal 22 Mei hingga 3 Agustus 2024.

Jadi, buat pengunjung yang datang ke Perpustakaan Erasmus Huis Perpustakaan Erasmus Huis yang berada di komplek Kedutaan Besar Belanda di Jalan Rasuna Said Kav S3, Jakarta Selatan ini bisa sekaligus melihat pameran foto tersebut, untuk akses masuk ke perpustakaan tidak mengeluarkan biaya alias gratis.

“Ini perpustakaan buka dari hari Selasa sampai Sabtu, dari jam 10.00 sampai jam 16.00 WIB. Pameran juga mengikuti waktu buka perpustakaan, kecuali kalau lagi ada event,” kata petugas keamanan, Siti.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Santai Sore, Beri Makan Ikan di Kolam di CIBIS Park



Jakarta

Ingin melepas penat dari hiruk-pikuk dan rutinitas kawasan terbuka yang nyaman? Warga Jakarta Selatan bisa mendatangi CIBIS Park, tempatnya yang nyaman cocok untuk bersantai di akhir pekan.

Di dalam taman itu terdapat kolam buatan yang kerap didatangi anak-anak untuk memberikan makan ikan yang ada di sana. Selain kolam, CIBIS Park juga terdapat jogging track yang bisa dijajal pengunjung untuk berolahraga.

Dan yang pasti terdapat banyak tenant-tenant makanan yang bergam untuk mengisi perut yang kosong ketika nongkrong di CIBIS Park. Letak taman ini berada di Jalan TB. Simatupang No. 2 Cilandak Timur, Jakarta Selatan.


Kawasan taman yang berada di kawasan perkantoran ini jadi tujuan asyik untuk dijadikan tempat nongkrong. Kala detikTravel berkunjung ke sana, Sabtu (27/7/2024) beberapa pengunjung mulai berdatangan.

Menurut seorang petugas kebersihan di kawasan taman tersebut, pengunjung biasa mulai berdatangan mulai dari jam 16.00 WIB hingga malam.

“Mulai beres ashar tuh baru pada datengnya, kalau jam segini (sekitar 14.30 WIB) masih sepi belum pada datang. Biasanya juga di sini sampai beres isya,” katanya sambil menyiram tanaman.

Memang kala siang ke sore hari dengan terik matahari yang menyengat, CIBIS Park buat tujuan yang pas untuk didatangi karena area ini merupakan area outdoor. Tapi jika datang di sore hari adalah waktu yang pas untuk menikmatinya.

Di pinggiran kolam ikan itu terdapat tempat duduk yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk santai. Tenant makanan juga berderet sebelah kolam ikan tersebut.

Salah satu pengunjung yang datang sedini mungkin adalah Anika, ia memang akan menghabiskan waktu di CIBIS Park ini bersama temannya. Namun ia datang lebih cepat daripada teman-temannya.

“Iya aku lagi nunggu yang lainnya karena udah janjian buat ke sini, cuma aku datang terlalu cepat aja, kita janjian jam 15.00 WIB,” kata dia.

“Ke sini emang udah beberapa kali datang juga, soalnya tempatnya enak buat dipake santai sore-sore sama teman-teman. Makanannya juga ada, terus ada kolam ikannya juga,” dia menambahkan.

Selain cocok untuk tempat nongkrong, CIBIS Park juga memiliki area jogging track. Tapi berbeda dengan taman yang lain, jogging track di CIBIS Park ini jalurnya mengelilingi area dalam kawasan ini, pengunjung yang akan melihat tulisan jogging track di bahu jalan sebelah kiri.

CIBIS Park ini bisa dikunjungi setiap harinya dari Senin hingga Minggu, mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 22.00 WIB. Dan waktu yang pas untuk menikmati hari di CIBIS Park ini datanglah di sore hari menjelang malam, suasana yang disuguhkan akan membuat pengunjung jadi nyaman berlama-lama.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Santai Bisa, Olahraga Boleh di Tengah Kawasan Bisnis Jaksel



Jakarta

Ada spot asyik untuk nongkrong sekaligus olahraga ada di tengah kawasan bisnis di bilangan Jakarta. Dengan view gedung-gedung pencakar langit membuat tempat ini bak berada di luar negeri.

River Walk Epicentrum, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan ini begitu ikonik dan kerap dijadikan tempat untuk bersantai di tengah kota. detikTravel pun mendatangi area yang dibangun oleh mantan orang nomor satu di Jawa Barat kala itu, Ridwan Kamil.

Di tahun 2005 sebelum menjadi Gubernur Jabar, RK bersama tim yang lain bekerja sama membangun tempat yang indah ini. Didapuk sebagai arsitek dengan tangan dinginnya ia menyulap area kosong jadi tempat yang kini banyak didatangi orang-orang.


Menurut petugas keamanan wilayah Epicentrum, Purnama, mengatakan River Walk Epicentrum ini banyak dijadikan arena olahraga dan juga bersantai-santai.

“Beres (adzan) ashar tuh jam-jam empatan mulai banyak yang lari satu, dua, tiga orang, nanti jam lima udah mulai rame. Kalau pagi orang-orang biasa lari di sini jam setengah enam,” kata Purnama kepada detikTravel, Selasa (30/7/2024).

Menurut Purnama yang menikmati tempat ini bukan hanya warga apartemen di sekitaran River Walk Epicentrum saja, tapi juga warga-warga lainnya di sekitar wilayah ini juga kerap menikmati hari ini di sini. Terlebih, saat akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu.

“Kalau Sabtu-Minggu apalagi wah… orang-orang kampung pada ke sini, ada yang bawa anak, rame lah. Sabtu pagi atau Minggu pagi tuh rame,” ujarnya.

Ia juga mengingat masa sebelum pandemi Covid-19 dan sekarang ini berbeda. Kala itu Purnama menuturkan lebih banyak lagi masyarakat yang berkunjung ke River Walk Epicentrum ini.

Memang kawasan River Walk Epicentrum ini menyuguhkan tempat yang sejuk walaupun terletak di tengah jalan dan berada di samping Kali Cideng. Yang menariknya kebersihan kali di River Walk Epicentrum yang panjangnya sekitar 500 meter dengan lebar 8 meter ini terbilang cukup bersih dan tidak tercium bau apapun.

“Efek sebelum pandemi sama setelah pandemi beda jauh, dulu sebelum pandemi buset widih dari mana-mana datang ke sini. Orang-orang dari luar (kawasan Epicentrum) parkir motor, mobilnya di mana gitu terus ke sini, sekarang udah jarang nggak kaya dulu lagi,” kata dia.

Lelaki yang telah bertugas kawasan ini dari tahun 2016 itu, melanjutkan kalau banyak masyarakat yang menikmati River Walk Epicentrum ini hingga malam hari. Kawasan ini memang tak ada jam operasional, akan selalu hidup 24 jam.

“Nggak ada, ini kan 24 jam kawasan ini tuh. Selalu open 24 jam nggak ada penutupan, pembatasan nggak ada,” ujar dia.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Mau Liburan ke Gunung Mas Puncak? Ini Rutenya dari Jakarta


Jakarta

Agrowisata Gunung Mas merupakan salah satu tempat wisata favorit yang ada di sekitar Kawasan Puncak, Bogor. Kebanyakan pengunjung yang datang pun berasal dari Jakarta.

Salah satu alasan kenapa banyak warga Jakarta yang datang ke Agrowisata Gunung Mas karena ingin liburan sambil healing. Lokasinya juga tidak begitu jauh dari Jakarta, sehingga objek wisata ini dipadati pengunjung terutama saat weekend dan musim liburan.

Bagi travelers yang tinggal di Jakarta dan ingin liburan bareng teman, keluarga, atau pasangan ke Agrowisata Gunung Mas, bisa banget kok! Cara paling mudah untuk bisa sampai ke tempat wisata ini adalah dengan mengendarai kendaraan pribadi.


Ingin tahu rute perjalanan dari Jakarta menuju Agrowisata Gunung Mas Puncak? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

Rute Jakarta – Agrowisata Gunung Mas Puncak

Agrowisata Gunung Mas Puncak berlokasi di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ada sejumlah rute yang bisa ditempuh jika travelers ingin healing ke tempat wisata ini.

Misalnya kamu berangkat dari kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Jika mengendarai mobil, detikers bisa melalui Jalan Tol Dalam Kota, kemudian masuk ke Jalan Tol Jagorawi.

Setelah itu keluar di pintu tol menuju Taman Safari/Puncak/Bandung, kemudian lanjut melalui Jalan Raya Puncak – Cianjur hingga sampai di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Waktu perjalanannya sekitar 1,5 jam.

Lain halnya jika mengendarai sepeda motor, ada dua opsi rute perjalanan yang bisa kamu pilih. Simak selengkapnya di bawah ini:

1. Via Jalan Raya Bogor

Dari Mampang Prapatan, detikers mengambil arah ke Jalan Raya Pasar Minggu, lalu masuk ke Jalan Margonda Raya, kemudian dilanjutkan ke Jalan Raya Jakarta – Bogor.

Setelah itu, travelers diarahkan menuju Jalan Sukaraja hingga sampai di Jalan Raya Pasir Angin. Sekitar 300 meter, detikers mengambil jalan menuju Jalan Raya Puncak – Cianjur dan terus saja hingga tiba di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjalanan.

2. Via Jalan Raya Parung

Rute ini terbilang lebih jauh karena detikers melalui Parung dan Kota Bogor. Jadi, dari Mampang Prapatan ambil arah ke Jalan Pangeran Antasari, lalu Jalan TB Simatupang, kemudian belok ke Jalan R.A Kartini.

Setelah itu, ambil arah ke Jalan Raya Parung dan terus sampai memasuki Jalan Jakarta – Bogor. Setibanya di Kota Bogor, detikers ikuti jalan menuju Jalan Raya Pajajaran hingga Jalan Raya Bogor – Sukabumi.

Di ujung jalan travelers akan menemukan pertigaan, ambil ke arah kanan menuju Jalan Raya Puncak – Cianjur. Kemudian lurus terus mengikuti jalan hingga sampai di Agrowisata Gunung Mas. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam.

Harga Tiket Masuk Agrowisata Gunung Mas Puncak

Pengunjung yang datang ke Agrowisata Gunung Mas Puncak dikenakan tiket masuk sebesar Rp 15.500/orang saat weekday. Sementara saat akhir pekan tiket masuknya dibanderol Rp 20.000/orang.

Harga tiket tersebut belum termasuk tarif bermain di sejumlah wahana yang ada di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Simak rincian harga tiket wahananya berikut ini:

  • Berkeliling kebun teh: Rp 10.000/orang.
  • Menaiki kuda: Rp 60.000/1 kilometer.
  • Rainbow slide: Rp 25.000/orang.
  • Flying fox: Rp 60.000/orang.
  • Berenang: Rp 10.000/orang.
  • ATV: Rp 160.000 (weekday) dan Rp 210.000 (weekend).

Untuk jam operasionalnya sendiri, Agrowisata Gunung Mas Puncak buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Disarankan datang sejak pagi hari agar bisa merasakan udara segar khas pegunungan sekaligus mencoba banyak wahana permainan karena belum ramai pengunjung.

Demikian penjelasan mengenai rute perjalanan dari Jakarta menuju Agrowisata Gunung Mas Puncak. Semoga dapat membantu travelers.

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com