Tag Archives: jalur kereta

Saya Punya Rumah di Atas Lahan Kereta Api, Bisakah Dapat Surat Legalitas?



Jakarta

Pertanyaan

Saya membangun rumah di tanah rel kereta api, dan sekarang ini saya butuh modal usaha dan saya berniat menjaminkan rumah dan tanah saya, namun saat ini saya tidak memiliki surat di atas tanah tersebut sehingga kesulitan mendapatkan pinjaman. Bagaimana status kepemilikan tanah dan bangunan saya di areal kereta
api, dapatkah saya memiliki surat-surat di atas tanah tersebut?

Arista
Pembaca detikProperti

Jawaban

Menanggapi pertanyaan di atas, dengan ini kami sampaikan bahwa Pemerintah telah melarang membangun dan/atau memiliki pemukiman diareal tanah milik perkeretaapian sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 178 ayat (1), dan yang berbunyi “Setiap orang dilarang membangun gedung, membuat tembok, pagar, tanggul, bangunan lainnya, menanam jenis pohon yang tinggi, atau menempatkan barang pada jalur kereta api yang dapat mengganggu pandangan bebas dan membahayakan keselamatan perjalanan kereta api”


Sementara itu, UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman Pasal 140 berbunyi sebagai berikut, ;Setiap orang dilarang membangun perumahan dan/atau permukiman di tempat yang berpotensi dapat menimbulkan bahaya bagi barang ataupun orang, sehingga ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan tempat
yang berpotensi dapat menimbulkan bahaya: antara lain adalah sempadan rel kereta api, bawah jembatan, daerah saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET), daerah sempadan sungai (DSS), daerah rawan bencana, dan daerah kawasan khusus militer.

Bahwa terkait permasalahan yang disampaikan, dapatkah memiliki surat-surat di atas tanah/bangunan di sekitar kereta api, dengan ini kami sampaikan masyarakat tanpa terkecuali, tidak dapat memiliki tanah atau surat di atas lahan Kawasan perkeretaapian mengingat bidang tanah tersebut milik PT. Kereta Api Indonesia. Kami memahami kondisi yang terjadi pada subjek penanya, akan tetapi karena beberapa hal yang di perhatikan apabila masyarakat memilih mendirikan permukiman liar di sempadan rel kereta api dipandang dari segi keamanannya permukiman yang berada di sempadan rel kereta api sangat terancam, karena tidak jarang kereta melewati rel yang masih aktif untuk melintasi rel tersebut sangatlah membahayakan dan dapat mengancam keselamatan nyawa seseorang.

Demikian yang dapat kami sampaikan

Muhammad Rizal Siregar, S.H,. M.H

SIREGAR & CO

Pengacara dan Pakar Hukum Properti

(zlf/zlf)



Sumber : www.detik.com

Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



Sumedang

Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

“Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

“Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

“Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

“Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

“Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

“Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

“Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

Sejarah Jembatan Cincin

Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

“Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

“Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

“Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

3 Terowongan Kereta Legendaris yang Bakal Hidup Lagi di Pangandaran



Pangandaran

Jalur kereta api Banjar-Pangandaran sepanjang 82 kilometer bakal dihidupkan lagi. Itu berarti, 3 terowongan kereta legendaris ini bakal bangkit lagi dari mati.

Jika jalur ini kembali aktif, maka kereta api itu akan melintasi tiga terowongan bersejarah yaitu Terowongan Hendrik, Wilhelmina, dan Juliana.

Ketiga terowongan tersebut tersebar di lokasi desa yang berbeda di wilayah Kabupaten Pangandaran. Meski telah berusia lebih dari seabad, struktur bangunan terowongan masih tampak kokoh. Namun, sejumlah bagian mulai menunjukkan kerusakan dan membutuhkan perbaikan.


Kepala Bidang Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran, Sugeng, menyebutkan Terowongan Hendrik berada di wilayah Desa Kalipucang, Wihelmina berada di Desa Bagolo, dan Juliana berada di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang.

“Karena usianya lebih dari 50 tahun,” kata dia.

Berikut Profil 3 Terowongan yang Akan Dilewati Jalur KA Banjar-Pangandaran:

1. Terowongan Hendrik

Terowongan ini terletak di Desa Kalipucang dan membentang dari utara ke selatan. Panjangnya 106 meter dengan tinggi 5 meter dan lebar 4 meter. Mulut terowongan bagian selatan menggunakan konstruksi batu kali hingga setinggi 2,5 meter di sisi timur dan barat. Langit-langitnya berupa beton cor, dan masih terlihat bekas bekisting pengecoran.

Terdapat saluran drainase di kedua sisi terowongan dengan lebar dan kedalaman masing-masing 20 cm. Terowongan ini dibangun menembus perbukitan berbatuan breksi.

2. Terowongan Wilhelmina

Inilah terowongan kereta api terpanjang di Indonesia, dengan panjang mencapai 1.116 meter. Terowongan ini berada di Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang. Lantainya berupa tanah yang telah mengeras dan dipenuhi batu koral.

Kedua mulut terowongan menghadap timur laut dan barat daya. Mulut terowongan berukuran lebar 4 meter dan tinggi 4,5 meter. Karena bentuknya lurus, cahaya dari ujung lain terlihat dari pintu masuk.

3. Terowongan Juliana

Terowongan ini terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, dan memiliki panjang 147 meter. Uniknya, terowongan ini berbelok di bagian tengah, sehingga ujungnya tidak dapat langsung terlihat dari pintu masuk.

Mulut pertama menghadap ke selatan, sementara mulut kedua mengarah ke barat laut (330°). Struktur mulut terowongan berbentuk setengah lingkaran di bagian atas dan persegi di bagian bawah, dibangun dengan batu yang diplester halus.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Stasiun Mrawan, Stasiun Tertinggi di Daop 9 Jember, Sudah Ada Sejak 1902



Jakarta

Stasiun Mrawan bukan sembarang stasiun kereta api. Stasiun itu stasiun tua yang sudah ada sejak 1902 dan unik dari aspek lokasi.

Stasiun itu tercatat sebagai stasiun tertinggi di wilayah Daop 9 Jember. Lokasinya berada di ketinggian 524 meter di atas permukaan laut. Nama Mrawan berasal dari nama sebuah sungai yang mengalir di dekat kompleks stasiun mrawan maupun terowongan itu.

Perannya juga nggak main-main, Stasiun Mrawan menjadi penggerak roda perekonomian wilayah Jember dan Banyuwangi. Sejak awal, stasiun itu menjadi jalur utama pengangkutan hasil perkebunan seperti kopi, gula, dan beras ke berbagai daerah di Indonesia.


Kini, fungsinya berkembang menjadi simpul perjalanan yang menyatukan nilai sejarah, ekonomi, dan pariwisata. Ya, stasiun itu berada di bentang Gunung Gumitir yang memiliki pemandangan menawan. Jalur di sekitar Mrawan melewati hamparan perkebunan kopi, kakao, dan karet milik PTPN XII.

Dekat dari stasiun tersebut, berdiri Terowongan Mrawan sepanjang 690 meter yang dibangun pada 1901 dan selesai pada 1910 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan dimulai dengan mendirikan tembok di kedua sisi terowongan pada periode 1901-1902, kemudian dilanjutkan dengan konstruksi lengkung penutup yang memakan waktu delapan tahun.

Terowongan itu menembus Gunung Gumitir yang membatasi Kabupaten Jember dengan Kabupaten Banyuwangi, menjadi salah satu jalur penghubung vital di kawasan lintas selatan Pulau Jawa.

Terowongan itu berada di antara Stasiun Mrawan dan Stasiun Kalibaru. Tepatnya di KM 30+777. Sampai saat ini, Terowongan Mrawan merupakan terowongan aktif terpanjang kedua di Indonesia, cuma kalah dari terowongan Sasaksaat, bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan Padalarang – Purwakarta – Cikampek, yang memiliki panjang 949 km.

Terowongan itu pun menjadi simbol keandalan teknologi perkeretaapian masa lalu yang tetap berfungsi hingga kini, memperkuat nilai sejarah kawasan Gumitir.

Menurut Vice President Public Relations KAI Anne Purba, Stasiun Mrawan menjadi potret peran transportasi publik dalam mendukung masyarakat, negara, dan ekonomi.

“Stasiun Mrawan memperlihatkan bagaimana perkeretaapian hadir sebagai penggerak ekonomi daerah, penghubung mobilitas masyarakat, sekaligus penjaga warisan sejarah bangsa. Kawasan ini memberi pengalaman perjalanan yang bernilai, sekaligus manfaat ekonomi bagi warga di sekitarnya,” ujar Anne.

Dia mengatakan bahwa lintasan Mrawan memperkuat konektivitas antara sektor transportasi, pertanian, dan pariwisata. Setiap perjalanan di jalur ini membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi serta mempertegas kontribusi KAI terhadap pengembangan wilayah.

Dengan nilai sejarah yang kuat, lanskap alam yang memukau, dan potensi peran strategis dalam pergerakan ekonomi, Stasiun Mrawan berdiri sebagai simbol harmoni antara transportasi modern, potensi lokal, dan kebanggaan nasional.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Stasiun Rajapolah Mau Dihidupkan Lagi, Permudah Akses ke Gunung Galunggung



Tasikmalaya

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berencana menghidupkan kembali Stasiun Rajapolah sebagai upaya memperkuat konektivitas transportasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Betul kami usulkan reaktivasi Stasiun Kereta Api Rajapolah. Ini untuk peningkatan perekonomian Kabupaten Tasikmalaya,” kata Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin.


Cecep menjelaskan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah mengirimkan tim untuk melakukan kunjungan awal dan survei lapangan di kawasan Rajapolah sebagai tindak lanjut dari usulan tersebut.

“Kami sudah mengirimkan surat resmi ke Kementerian Perhubungan. Sekarang tinggal menunggu agar proyek ini bisa masuk dalam Rencana Induk Program Perkeretaapian Nasional. Pemerintah daerah hanya bisa mengusulkan, keputusan tetap berada di tangan pemerintah pusat,” ujarnya.

Untuk mendukung program reaktivasi, Pemkab Tasikmalaya menyiapkan langkah penataan di kawasan sekitar Stasiun Rajapolah. Penataan tersebut mencakup relokasi sejumlah fasilitas umum dan pemerintahan di area sekitar jalur rel.

“Yah namanya reaktivasi pasti harus ada yang ditata,” ujar Cecep.

Cecep menambahkan reaktivasi Stasiun Rajapolah bukan hanya proyek transportasi, tetapi juga strategi memperkuat ekonomi lokal. Ia menilai, beroperasinya kembali jalur kereta api akan mempermudah akses menuju objek wisata Gunung Galunggung, yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan ke Tasikmalaya.

“Jika akses wisata makin mudah, tentu kunjungan wisatawan meningkat. Hal ini akan berdampak pada naiknya perputaran ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan pedagang oleh-oleh khas Rajapolah,” jelasnya.

Artikel ini sudah tayang di detikJabar. Klik di sini untuk membaca selengkapnya.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com