Tag Archives: jawa

15 Hotel Terbaik Murah Dekat Malioboro Tinggal Jalan, Mulai Rp 85 Ribuan


Jakarta

Traveler dengan budget ngepas yang mau liburan ke Malioboro, Yogyakarta nggak perlu khawatir. Di sini tersedia penginapan budget yang bersih dan nyaman untuk ditinggali. Traveler cukup jalan kali dari penginapan ke destinasi wisata pilihan di Malioboro.

Rekomendasi 15 Hotel Terbaik Murah Dekat Malioboro

Berikut daftar penginapan ekonomis yang bisa kamu pilih dikutip dari situs penyewaan kamar hotel

1. Losmen Mawar

Hotel murah dekat malioboroLosmen Mawar (dok. Losmen Mawar)

Tarif per malam: mulai Rp 85.011


Lokasi: Sosrowijayan Wetan GT 1/136, Jalan Malioboro, Yogyakarta

Penginapan tipe budget room ini hanya berjarak 150 meter dari Stasiun Tugu, sehingga traveler tak kesulitan mengaksesnya sebelum atau setelah turun dari kereta. Tarif yang murah tidak lantas menurunkan kualitas pelayanan bagi para kustomer.

“Tempatnya sangat strategis di samping Stasiun Tugu. Kamarnya bersih, pelayanan sangat ramah, cocok buat para backpacker dengan low budget, rekomendasi sekali,” tulis akun amin m yang mengulas penginapan ini dan memberi skor 8,5/10.

2. DBC Rooms Malioboro

DBC Rooms Malioboro hotel murah dekat MalioboroDBC Rooms Malioboro (dok. DBC Rooms Malioboro)

Tarif per malam: mulai Rp 98.280

Lokasi: Jalan Beskalan nomor 1 Malioboro, Yogyakarta

Dengan harga yang sangat terjangkau, traveler sudah bisa menikmati kamar nyaman dan kemudahan akses ke berbagai tempat wisata di Malioboro. Saking dekatnya, akun Tri H merasa penginapan ini seolah berada tepat di depan salah satu kawasan wisata unggulan Yogyakarta ini.

“Puas dengan pelayanannya. Dekat banget depannya Malioboro hanya 5 langkah,” tulis Tri H yang memberi skor 8,5/10 pada kualitas pelayanan, kamar, kemudahan akses dari dan ke Stasiun Tugu, serta berbagai tempat wisata.

3. Losmen Suryo

Losmen SuryoLosmen Suryo (dok. Losmen Suryo)

Tarif per malam: mulai Rp 106.469

Lokasi: Sosrowijayan Wetan GT 145, Sosromenduran, Gedongtengen Kota Yogyakarta

Penginapan bertipe guest house ini mendapat skor nyaris sempurna dari para traveler yang pernah menginap. Akun Slamet misalnya yang menyatakan, foto di situs pencarian kamar hotel sama dengan faktanya sehingga traveler tidak merasa tertipu. Selain itu, kamar sudah dilengkapi dengan TV dengan berbagai program.

“Tempatnya keren banget dengan harga murah, bersih, dan sudah ada TV berikut harganya. Jarak ke stasiun tinggal nyebrang doang dari gang, ke Malioboro juga deket banget. Foto di gambar sesuai banget no tipu tipu. Rekomendasi banget dah,kalo ke Jogja kudu nginep di sini lagi,” tulis akun Slamet.

4. Losmen 2000 Tiga

Losmen 2000 TigaLosmen 2000 Tiga (dok. Losmen 2000 Tiga)

Tarif per malam: mulai dari Rp 128.313

Lokasi: Losmen Malioboro DN I/168, Jalan Sosrokusuman 1, Suryatmajan, Malioboro, Yogyakarta

Penginapan ini juga memperoleh review yang sangat baik dari para traveler. Akun tika r. s. mengatakan, pelayanan di penginapan dengan tipe guest house sangat dekat dengan Malioboro cuku jalan kaki 5 menit. Kendati begitu beberapa akun menyoroti kamar dan kamar mandi yang kurang nyaman.

“Kamar mandinya sedikit agak licin tapi masih oke-lah. Sempat mati listrik di pagi hari dan kebetulan karena nggak ada jendela jadinya gelap banget. Takut gelap lebih tepatnya,” tulis akun R***L yang berharap ada perbaikan pada pelayanan di Losmen 2000 Tiga.

5. Citra Anda Losmen

Losmen Citra AndaLosmen Citra Anda Foto: Losmen Citra Anda

Tarif per malam: mulai dari Rp 123.967

Lokasi: Jalan Sosrowijayan Wetan Gg. 2 GT 1/144, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta

Penginapan ini berada di gang-gang tepat di jantung Malioboro sehingga traveler tidak sulit mengakses berbagai destinasi wisata. Meski sedikit berbelok-belok, pelayanan losmen ini sangat nyaman dan bikin betah. Tentunya, kamar dan kamar mandi di losmen ini sangat bersih.

“Tempatnya masuk ke dalam gang berbelok-belok, tapi staffnya ramah dan pelayanannya sangat baik. Kamarnya bersih dan cukup jalan kaki 5 menit ke Malioboro. Di sini nyamah bikin betah,” tulis akun Suhaimun yang memberi nilai sempurna untuk penginapan ini.

6. Hotel Karunia Yogyakarta

Losmen Citra AndaHotel Karunia Yogyakarta Foto: Losmen Citra Anda

Tarif per malam: mulai dari Rp 129.229

Lokasi: Jalan Sosrowijayan 78, Malioboro, Yogyakarta

Dengan jarak hanya kurang lebih 300 meter dari Stasiun Tugu Yogyakarta, hotel ini siap menyambut traveler 24 jam yang hendak piknik atau melakukan aktivitas lain. Hotel ini teryata juga menyewakan motor bagi traveler, yang tersedia bila menghubungi pengelola penginapan lebih dulu.

“Di sini bisa sewa motor sehingga bebas ke destinasi wisata pilihan. Traveler bisa lebih gampang ke mana-mana, semua pelayanan ramah, kamar mandi bersih. Untuk lintas wisata paling jauh 1 jam, hotel ini sangat cocok untuk traveler yang niat liburan di Yogyakarta,” tulis akun Wildan H.

7. Virgo 3 Homestay

Tarif per malam: mulai Rp 131.040

Lokasi: Jalan Sosrowijayan Wetan GT I/148 D, Malioboro, Yogyakarta

Berlokasi di gang-gang Malioboro, penginapan ini bikin traveler mudah merasakan vibe warga lokal dan aktivitasnya setiap hari. Dengan keramahan staf homestay dan masyarakat sekitar, traveler bisa lebih mudah blending dengan lingkungan setempat. Tentunya, homestay ini menyediakan kamar yang bersih dang nyaman.

“Senang di sini, sudah tiga kali nginep. Kamarnya bersih, nyaman, harga murah, dengan staf penginapan ramah dan sopan. Di sini ada dapur kecil jadi bisa bikin kopi dan teh sendiri. Tapi nggak ada air panas buat mandi. Mungkin ke depannya sudah ada ya, ada handuk, sabun, sprei juga bersih,” tulis akun S***i.

8. Losmen Setia Kawan

Tarif per malam: mulai Rp 143.325

Lokasi: Jalan Sosrowijayan Wetan GT I/58A, Malioboro, Yogyakarta

Homestay ini sangat artistik dengan berbagai tema lukisan di setiap ujungnya berpadu dengan warna dinding yang enak dilihat. Sehingga, penginapan ini sangat Instagramabel dan pastinya menyediakan kamar yang sangat bersih. Kualitas tersedia dengan harga sangat terjangkau bagi para traveler.

“Harga sesuai dengan budget yang disediakan mayoritas traveler. Lokasi dekat dengan pusat keramaian Malioboro dan Stasiun Tugu, dengan petugas ramah dan sigap. Next time ke Yogya, nginep di sini aja,” tulis akun Yuni E.P. yang memberi nilai 9.7/10 terkait kualitas dan service hotel.

9. De Patuk Homestay

Tarif per malam: mulai Rp 146.581

Lokasi: Jalam Sostrodipuran, Malioboro, Yogyakarta

Menurut akun V***a, homestay ini sangat bersih, nyaman, wangi, dan pastinya adem. Pelayanannya baik serta ramah, plus nggak jau daru Malioboro. Tiap kamar sudah menyediakan TV lengkap dengan channel dan berbagai program, yang bikin traveler makin betah beristirahat di kamar.

“Tempatnya enak dan pelayanannya juga oke banget. Lokasi enggak jauh dari Malioboro, mantap deh pokoknya puas bangettt,” tulis akun V***a yang memberi nilai 9,4/10 sesuai hasil reviewnya.

10. Red Palm Losmen Syariah

Tarif per malam: mulai Rp 147.420

Lokasi: Sosrowijayan Wetan GT I/62, Malioboro, Yogyakarta

Bagi traveler yang lebih nyaman dengan penerapan prinsip Islam, homestay syariah ini bisa jadi pilihan. Penginapan menyediakan perlengkapan ibadah, makanan dan minuman halal, serta pasangan muhrim bagi laki-laki dan perempuan yang menginap bersama.

“Deket banget dr stasiun, dan yg paling saya suka disini suasananya hommy Jawa bgt. Jadi berasa pulang ke rumah nenek, sangat ademm. Penginapan ini masuk gang ya, jadi motor nggak bisa masuk,” tulis akin D***k.

11. The Packer Lodge Yogyakarta

Tarif per malam: mulai Rp 149.786

Lokasi: Jalan Dagen nomor 3, Sosromeduran, Malioboro, Yogyakarta

Dengan skor keseluruhan dari traveler 8,7/10, kualitas dan pelayanan hotel di lokasi strategis sekitar Malioboro ini sangat baik. Selain dekat dengan berbagai destinasi wisata, hotel ini punya balkon atas yang memungkinkan tamu melihat view di sekitar penginapan.

“Balkon lantai paling atas bagus dan nyaman banget buat lihat pemandangan. Di sini bisa mendengarkan lagi lewat speaker buetooth pake hape sendiri. Kamar dan kamar mandinya bersih, nyaman, plus ada air panas. Makin cakep karena deket sama Malioboro,” tulis akun Paulina M.

12. The Cabin Hotel Gandekan

Tarif per malam: mulai Rp 160.115

Lokasi: Gandekan Lor nomor 2, Malioboro, Yogyakarta

Hotel dengan hasil review mengesankan ini mengambil konsep kabin yang memperoleh respon positif. Meski begitu, beberapa traveler menilai kamar terlalu sempit apalagi jika digunakan dua orang. Selain itu, tangga tidak terlalu lebar sehingga harus hati-hati dan bergiliran saat melewatinya.

Review lain menyatakan, traveler sebaiknya menghubungi pihak hotel lebih dulu sebelum memesan kamar. Info pihak hotel untuk memastikan ketersediaan kamar mandi di hotel ada di tiap kabin atau hanya ada satu untuk bersama. Terlepas dari informasi tersebut, hotel sangat nyama dan sesuai untuk solo traveler.

13. Niki Backpaker Malioboro

Tarif per malam: mulai dari Rp 162.162

Lokasi: Jalan Kumetiran nomor 31, Malioboro, Yogyakarta

Konsep hostel yang dipilih penginapan ini memang tepat untuk para traveler dengan budget terbatas. Tentunya, kamar dengan konsep dormitory atau asrama ini tetap terasa nyaman ditinggali dan homey. Sebagai tambahan, penginapan menyediakan area parkir bagi penyandang disabilitas.

“Jujur, saya puas dapat penginapan yang best banget. Murah dan bersih. Saya nggak kecewa dan happy. Memang ukuran kamarnya kecil tapi luar biasa bersih dan nyaman. Wi-Fi, AC, dan saluran TV ok banget. Next time saya akan ke tempat ini lagi,” tulis akun Warno

14. Amarta Malioboro by Daphna Management

Tarif per malam: mulai Rp 170.488

Lokasi: Jalan Dagen nomor 12 Sosromenduran, Gedong Tengen, Yogyakarta

Guest house ini menyediakan layanan sewa mobil yang menjadi nilai tambah bagi para traveler. Selain itu tersedia jasa tur, concierge, dan minuman sambutan yang pastinya bikin traveler makin betah. Bagi yang membawa orang-orang terdekatnya, tersedia area keluarga yang bisa diakses setiap saat.

“Kamarnya bersih..staf ramah dan deket banget dari Malioboro. Plus kawasannya rame bikin betah banget di Jogja,” tulis akin A***H.

15. Wanderlust Homestay

Tarif per malam: mulai Rp 180.482

Lokasi: Jalan Sosrowijayan Kulo GT I/202, Malioboro, Yogyakarta

Seperti konsepnya, penginapan ini benar-benar serasa di rumah dengan lingkungan yang sangat baik. Sebelum menginap traveler bisa mencari tahu lebih dulu apakah kamar yang disewakan masih gabung dalam satu properti dengan pemilik. Info ini bisa jadi pertimbangan penting sebelum memilih tempat.

“Bapak dan ibunya ramah, tidak sungkan membantu kalau tanya, kamarnya juga bersih. Homestay yang seperti home sweet home di rumah sendiri, bebas minum teh kopi gratis, ada balkon buat ngopi santai-santai, ke Malioboro tinggal jalan kaki,” tulis akun Olivia.

Setiap penginapan menyediakan pelayanan berbeda-beda sesuai kebutuhan konsumen. Sebelum memilih ada baiknya traveler memastikan info ini pada pengelola penginapan

  • Pakai AC atau kipas angin
  • Ketersediaan kamar mandi di tiap kamar hotel
  • Ada parkir motor bagi traveler yang menggunakan transportasi tersebut
  • Tamu masih harus bayar parkir atau gratis
  • Lokasi dan layanan yang tersedia dengan tarif yang dibebankan pada traveler
  • Berada di lingkungan aman dan nyaman.

Jika traveler sudah memastikan informasi tersebut dan merasa sreg dengan penginapan pilihan, traveler bisa langsung booking kamar tanpa ragu.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wisata di Kota Pahlawan, 10 Jejak Sejarah Kemerdekaan Indonesia di Surabaya

Lokasi: Jl. Pemuda Nomor 39, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

Mulai dibuka untuk umum pada 1998, Monkasel adalah bukti sejarah dahsyatnya perang laut yang dihadapi Indonesia untuk mempertahakankan kedaulatan. Monumen ini sebelumnya adalah kapal selam KRI Pasopati yang mulai diistirahatkan pada 26 Januari 1990.

Sebelumnya, KRI Pasopati 410 berpartisipasi dalam Operasi Trikora untuk mengembalikan Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tugas utamanya adalah mengangkut senjata dan personel militer ke garis tempur tanpa diketahui musuh. KRI juga bertugas memberikan serangan balik, melindungi konvoi kapal, dan menjalankan misi rahasia. Setelah 28 tahun bertugas sejak 1962 dan mengalami kerusakan parah, KRI Pasopati 410 dipensiunkan.

Lokasi: Jl. Pahlawan, Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur

Monumen setinggi 41,15 meter ini adalah bentuk penghargaan dan menghormati jasa Arek-arek Surabaya saat perang 10 November 1945. Perang usai proklamasi kemerdekaan tersebut melawan sekutu dan Belanda yang ingin menaklukkan Indonesia.

Perang ini menewaskan 20 ribu pejuang Indonesia, serta korban luka dan hilang yang tidak terdata. Selama dua minggu berperang, rakyat Surabaya menunjukkan keberanian dan semangat meski dengan perlengkapan minim. Dipimpin Bung Tomo, Komandan BKR Mayjen Sungkono, dan KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan resolusi jihad, para pejuang mengangkat senjata serta melakukan taktik gerilya hingga sekutu menyerah.

Lokasi: Jl. Jembatan Merah, Krembangan Selatan, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya, Jawa Timur

Jembatan Merah adalah spot penting dalam Pertempuran Surabaya 10 November. Komandan tentara sekutu Jenderal AWS Mallaby tewas dekat Jembatan Merah yang kemudian memicu perang. Jembatan Merah juga menjadi titik pertempuran pejuang Surabaya melawan sekutu dan Belanda.

Fisik jembatan yang memang berwarna merah ini dibangun VOC sekitar tahun 1809 untuk mempermudah jalur perdagangan di Sungai Kalimas. Jembatan awalnya berbahan kayu yang terus diperbaiki hingga menggunakan besi, sesuai kebutuhan sekarang. Hingga saat ini, Jembatan Merah di Kota Lama Surabaya masih digunakan masyarakat.

Lokasi: Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, Jawa Timur

Bangunan ini adalah saksi bisu kejamnya era kolonialisme terhadap kehidupan rakyat Indonesia. Sejumlah Pahlawan Nasional pernah merasakan dindingnya yang dingin dan kejamnya neraka di atas bumi tersebut. Mereka adalah WR Soepratman, HOS Tjokroaminoto, dan dr Mustopo dari BKR.

Para napi Penjara Kalisosok dirantai dengan bandul bola besi di pergelangan kaki dan memperoleh stempel G (Gevangene=napi) pada tangan. Tekanan fisik, mental, dan penyebaran penyakit kolera serta pes mengakibatkan para tahanan mati lalu dikubur di Makam Peresan.

Lokasi: Jl. Pahlawan 120, Krembangan Selatan, Krembangan

Bangunan cagar budaya ini dulunya adalah perusahaan NV Lindetes Stokvis yang menguasai bisnis, jasa, industri, dan perdagangan. Gedung yang dibangun pada 1913 ini sempat digunakan sebagai bengkel kendaraan perang dan gudang senjata semasa pendudukan Jepang. Gedung ini menjadi Kitahama Butai karena luas dan pernah jadi pabrik konstruksi baja.

Selanjutnya, bangunan beberapa kali beralih fungsi di era usai kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1993, gedung pernah digunakan untuk operasional Bank Niaga dan Bank Dagang Negara (BDN). Sejak tahun 2001, gedung digunakan Bank Mandiri Cabang Surabaya Pahlawan hingga kini. Bangunan ini menjadi landmark Surabaya karena unik dan terletak di posisi strategis.

Lokasi: Jl. Tunjungan Nomor 1, Genteng, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

Dulu, Gedung Siola adalah adalah bangunan toserba asal Inggris bernama Whiteaway Laidlaw di bawah perusahaan Whiteaway Laidlaw & Co. Di tahun 1900an, Whiteaway menjadi pusat pertokoan terbesar di Hindia Belanda dan bikin pengunjung yang sempat datang sangat terkesan.

Selepas proklamasi, gedung ini sempat jadi area bertahan Arek-arek Surabaya saat perang 10 November 1945. Seiring waktu, gedung berubah fungsi hingga mendapatkan namanya sebagai Siola. Nama tersebut adalah kependekan dari tiga nama Soemitro, Ing Wibisono, Ong Liem Ang yang membuat gedung ini sebagai landmark Jalan Tunjungan. Gedung Siola sempat jadi mall pelayanan publik sebelum jadi Museum Surabaya yang berisi koleksi terkait sosial budaya Kota Surabaya.

Lokasi: Jl. Jayengrono, dekat Jembatan Merah Plaza, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur

Gedung dengan nama lengkap Internationale Crediten Handelvereeninging dulunya adalah perusahaan investasi dan pengelolaan perdagangan untuk menarik pebisnis Hindia Belanda. Bangunan yang mulai berdiri tahun 1927 dan selesai pada 1931 ini menjadi saksi awal meletusnya Pertempuran 10 November.

Ketika sekutu datang pada 25 Oktober 1945, Gedung Internatio menjadi markas pasukan sekutu yang dipimpin Mayor V Gopal. Bangunan ini menjadi saksi tewasnya Mallaby dalam keadaan chaos di halaman Gedung Internatio. Ketika itu, warga Surabaya tidak yakin dengan komitmen sekutu yang mengklaim datang tidak untuk perang. Apalagi, tiba-tiba meletus tembakan yang mengarah pada kerumunan warga Surabaya yang dilanjutkan dengan lemparan granat pada mobil Mallaby.

Lokasi: Jl. Tunjungan Nomor 65, Genteng, Kecamaatn Genteng, Surabaya, Jawa Timur

Hotel bintang lima yang berdiri sejak tahun 1942 ini masih aktif hingga sekarang. Berdiri sejak 1942, hotel ini menyaksikan sendiri era pendudukan Belanda, Jepang, hingga berhasil merdeka. Di tahun-tahun pertama berdiri, hotel ini bernama Oranje yang dikelola Sarkies Family.

Selanjutnya, hotel ini berganti nama menjadi Yamato yang menjadi hotel sekaligus headporter atau base camp saat pertempuran. Hotel ganti nama menjadi Merdeka selepas proklamasi, lalu Majapahit sekitar tahun 1969 hingga kini. Kendati melewati berbagai era, pengelola mempertahankan tampilan fisik dan keramik yang menjadi ciri khasnya sebagai bangunan Belanda.

Lokasi: Jl. Rajawali Nomor 7, Krembangan Selatan, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur

Seperti namanya, gedung ini punya menara yang mirip cerutu saat dibakar. Awalnya, gedung ini adalah kantor perusahaan gula NV Maatschappij Tot Exploitatie van Het Bureau Gebroeders Knaud. Selanjutnya, bangunan yang berlokasi depan Gedung Internatio ini sempat jadi kantor Said bin Oemar Bagil dan Bank Bumi Daya. Sejak tahun 2009, gedung menjadi cagar budaya hingga kini.

Lokasi: Jl. Gubernur Suryo, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur

Tempat bersejarah di Surabaya ini menyimpan cerita perundingan antara Ir Soekarno dengan Jenderal DC Hawthorn dari sekutu. Presiden pertama RI ini berusaha mendorong sekutu berdamai dan menghentikan gencatan senjata. Gedung ini berdiri sejak 1975 dengan gaya Romawi.

Simak Video “Video: Melihat Teatrikal Parade Surabaya Juang Peringati Hari Pahlawan
[Gambas:Video 20detik]



Sumber : travel.detik.com

Wisata Murah Meriah Jogja-Solo dengan KRL, Tarif Tiket Rp 8 Ribu


Yogyakarta

Yogyakarta sejak lama terhubung dengan kereta, dulu ada Prambanan Ekspress (Prameks) nan legendaris, hingga kemudian dipensiunkan dan menjadi KRL atau kereta rel listrik dengan nama KRL Jogja-Solo. Tarifnya flat Rp 8000.

KRL Jogja-Solo bisa sangat diandalkan untuk wira-wiri Jogja-Klaten-Solo-Karanganyar pp. Untuk area Karanganyar, stasiun paling ujung ada di Stasiun Palur.

KRL Jogja-Solo hanya memiliki satu jalur yang melintas di 13 stasiun yaitu Tugu Yogyakarta, Lempuyangan, Maguwo, Brambanan, Srowot, Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, Solo Balapan, Solo Jebres, dan Palur.


Kereta itu beroperasi mulai pukul 05.00 dari Stasiun Palur. Sementara itu, dari Stasiun Tugu ke arah Solo kereta pertama pukul 05.30.

Rekomendasi Wisata Murah di Jawa Tengah Cukup Rp 8 Ribu

KRL Jogja-Solo memungkinkan ongkos transportasi bisa ditekan sehingga masih tersedia biaya untuk eksplorasi tempat wisata.

1. Yogyakarta

Jejeran andong terpakir di Kawasan Malioboro, Kota Jogja, Minggu (8/6/2025).Jejeran andong terpakir di Kawasan Malioboro (dok. se)

Ada beberapa destinasi dekat stasiun Tugu Yogyakarta, yaitu Malioboro, Pasar Beringharjo, Museum Titik Kilometer Jogja dan Alun-alun Kidul.

2. Klaten

Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten.Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten (dok. Achmad Syauqi/detikJateng)

Kota Klaten, tak jauh dari Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Seribu Umbul atau mata air, seperti Umbul Ponggok, Umbul Susuhan, dan Umbul Mudal. Kota ini juga memiliki situs peninggalan Hindu-Buddha, yaitu Candi Plaosan. Tempat wisata dekat stasiun adalah Alun-alun Klaten, Taman Lampion Klaten, Hutan Kota Gergunung hingga Sendang Tirto Sinongko.

3. Purwosari

Kampung Batik Laweyan di SoloKampung Batik Laweyan di Solo (dok. Wahyu Setyo Widodo)

Jika berhenti di Stasiun Purwosari, kamu bisa mampir ke beberapa tempat wisata mulai dari Taman Sriwedari (taman rekreasi dan hiburan), Lokananta (studio dan museum rekaman musik legendaris), Kampung Batik Laweyan (pusat industri batik tradisional), Loji Gandrung (bangunan bersejarah dengan arsitektur Indis), serta Koridor Gatot Subroto (Gatsu) yang kini memiliki mural dan night market.

4. Solo Balapan

Masjid Sheikh Zayed SoloKomplek Masjid Sheikh Zayed di Solo (dok. Waskita Karya)

Traveler yang turun di Stasiun Solo Balapan bisa berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed, yang berjarak 1,7 km dari Stasiun Solo Balapan. Masjid Sheikh Zayed ini adalah replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi. Masjid Sheikh Zayed memiliki luas 8.000 m2 dengan dua lantai dengan empat menara dan 82 kubah batu pualam putih, sehingga terkesan mewah.

5. Solo Jebres

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagara X duduk di kursi paringgitan saat acara Tingalan Jumenengan di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Jumat (7/2/2025). Tingalan Jumenengan atau peringatan kenaikan takhta Adipati Mangkunegaran KGPAA Mangkunagara X tersebut sebagai bentuk syukur atas berjalannya kepemimpinan di Mangkunegaran yang berharap sebagai penanda baik dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/Spt.Acara Tingalan Jumenengan di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah (dok. Mohammad Ayudha/Antara)

Pura Mangkunegaran juga cukup populer karena merupakan kediaman resmi dari Adipati Mangkunegara. Lokasi ini juga menjadi tempat menyimpan peninggalan-peninggalan Kadipaten Mangkunegaran dan kebudayaan Jawa. Selain itu ada Benteng Vanstenburg, Pasar Klewe, Taman Balekambang dan Museum Batik Danar Hadi.

Daftar wisata yang bisa diakses dengan KRL Jogja-Solo itu bisa jadi pertimbangan traveler yang ingin liburan dengan biaya lebih terjangkau. Yuk detikers, segera susun wish list kota liburan kamu yang bisa dijangkau dengan KA Commuter Line Yogya-Jawa Tengah!

(bnl/row)



Sumber : travel.detik.com

Padat, tapi Masih Bisa ‘Bernapas’



Yogyakarta

Saat liburan di Yogyakarta, kurang lengkap rasanya jika tidak mencoba Kereta Rel Listrik atau KRL Jogja-Solo yang menghubungkan Jogja, Klaten, dan Solo. Saat jam pulang kantor, KRL padat tetapi tidak berdesak-desakan laiknya Commuter Line Jabodetabek.

Yogyakarta dan Solo sudah terhubung dengan kereta commuter line sejak lama, dengan kereta Prameks nan legendaris. Dulu, Prameks bertenaga diesel namun kemudian KA Prameks ‘pensiun’ pada 10 Februari.

detiktravel mencoba melakukan perjalanan dengan KRL Jogja-Solo pada Jumat (22/8/2025), KRL itu beroperasi antara Stasiun Tugu di jantung Yogyakarta hingga Palur, yang jadi perbatasan antara Solo dan Karanganyar. Perjalanan dari Yogyakarta hingga Solo memakan waktu sekitar 1,5 jam.


Hanya punya satu jalur, KRL Jogja-Solo itu berhenti di 13 stasiun, mulai dari stasiun Tugu Yogyakarta, Lempuyangan, Maguwo, Brambanan, Srowot, Klaten, Ceper, Delanggu, Gawok, Purwosari, Solo Balapan, Solo Jebres, hingga Palur.

KRL Prameks Jogja-SoloKRL Jogja-Solo (bonauli/detikcom)

KRL Jpgja-Solo itu mengangkut sekitar 16 gerbong. Pada pagi hari, KRL Jogja-Solo beroperasi dua kali dalam satu jam, namun saat sore hari hanya satu jam sekali.

Mirip dengan KRL Jabodetabek, KRL Jogja-Solo dipadati oleh warga yang ngalaju (pulang-pergi) antara Yogyakarta dan Solo. Beruntung, detiktravel mendapatkan KRL Jogja-Solo saat tidak terlalu padat penumpang meskipun saat itu pukul 16.10 WIB, tepat saat orang pulang kerja.

Naik dari Stasiun Stasiun Tugu bisa menguntungkan, karena peluang mendapatkan tempat duduk lebih besar. Kalau tempat duduk sudah penuh, penumpang hanya bisa berdiri dari stasiun awal hingga tujuan.

Di KRL Jabodetabek biasanya penumpang berdiri ke segala arah yang penting bisa terangkut. Para penumpang berdesak-desakan, sampai-sampai tak berpegangan pada strap hanger pun tidak masalah karena nggak akan terjatuh akibat tertahan penumpang lain.

Nah, di KRL Jogja-Solo lain cerita. Penumpang memang ada yang berdiri, namun lebih leluasa.

Ini tentu pemandangan yang tak biasa bagi warga Jabodetabek. Penumpang masih memungkinkan untuk berbaris dengan rapi. Bisa dibilang semua terasa begitu berbeda, meski sama-sama KRL. Yang sehari-hari menggunakan moda KRL dari Bogor atau Depok atau Cisauk dan Bintaro ke Jakarta tak bisa tidak untuk bikin perbandingan. Sudah bisa terangkut saja syukur di jam-jam berangkat dan pulang kerja.

Apalagi, pemandangan sepanjang perjalanan masih sangat hijau dan jauh dari hutan beton. Paling ramai, hanya permukiman.

Dari sejumlah cerita penumpang lain, kepadatan dalam KRL Jogja-Solo bisa menyerupai KRL Jabodetabek saat libur sekolah atau akhir pekan. Saat jam-jam pulang atau berangkat kerja keramaian tergolong wajar.

KRL Prameks Jogja-SoloKRL Jogja-Solo (bonauli/detikcom)

Satu pembeda terakhir adalah tidak adanya gerbong khusus wanita di kedua ujung kereta. Semua gerbong dibuka untuk umum. Jadi tidak ada gerbong khusus perempuan.

Tarif KRL Jogja-Solo flat sebesar Rp 8.000 sekali jalan, tidak seperti KRL yang memiliki tarif progresif atau bertambah sesuai jarak tempuh.

Berikut jadwal KRL Yogyakarta-Palur:

Jadwal keberangkatan Jogja-Solo dari Stasiun Tugu Yogyakarta yaitu pukul 05.05 WIB, 06.00 WIB, 07.05 WIB, 07.54 WIB, 08.49 WIB, 10.56 WIB, 12.07 WIB, 13.57 WIB, 15.01 WIB, 16.10 WIB, 17.35 WIB, 18.08 WIB, 20.15 WIB, 21.20 WIB dan 22.35 WIB.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jati Denok Blora, Persembunyian Putri Kediri yang Dijaga Harimau


Jakarta

Jati denok bukan sekadar pohon berukuran raksasa yang jadi saksi pergantian zaman, perkembangan masyarakat, dan berbagai siklus kehidupan. Saking bersejarahnya, pohon jati ini berusia ratusan tahun ini punya legenda yang jadi cerita umum di masyarakat.

Kisah ini berasal dari zaman Kerajaan Kediri yang berdiri pada tahun 1042-1222 Masehi. Kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini adalah salah satu yang terbesar di Indonesia dengan wilayah kekuasaan meliputi seluruh Jawa termasuk Blora, sebagian Sumatra, hingga Kalimantan.

Jati denok yang berada di wilayah hutan Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.Jati denok Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Jati denok di Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora dikisahkan menjadi tempat persembunyian Candra Kirana seorang putri dari Kerajaan Kediri. Legenda ini dikenal luas di wilayah Banyuurip sebuah dukuh di Kecamatan Banjarjero, tempat jati denok tumbuh.


“Legenda di wilayah Banyuurip menceritakan ada seorang bernama Candra Kirana. Dia adalah putri Kediri yang lari dari kerajaan. Banyak tokoh mencari sang putri, salah satunya Raden Inu Kertapati yang datang untuk menjadikannya istri,” ujar Pemerhati sejarah asal Blora Totok Supriyanto dikutip dari detik Jateng.

Selama dalam pelarian, sang putri dijaga seekor harimau yang sangat setia. Tiap orang yang datang mencari harus berhadapan dengan harimau tersebut. Menurut Totok, legenda tersebut tidak bisa dibuktikan kebenarannya namun tetap lestari sebagai bagian dari budaya masyarakat.

Selain kisah Candra Kirana, asal nama jati denok yang merupakan tanaman endemik Blora punya cerita yang lain. Kata denok dalam bahasa Jawa adalah sebutan bagi anak perempuan. Menurut Totok, tidak jelas penyebab jati yang meraih rekor MURI tahun 2008 tersebut diberi nama denok.

“Arti denok adalah anak perempuan, karena mungkin pohonnya terlihat ndemblek (ada bagian yang membesar) sehingga disebut denok. Padahal pohonnya besar gitu, masak disebut anak kecil. Tapi ini kan perumpamaan,” kata Totok.

Lokasi jati denok kini dikenal sebagai petak 62, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Temetes, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanjang, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung. Jati denok terletak di atas Bukit Kendeng, Blora, dikelilingi hutan hijau dan rimbun pepohonan.

Untuk melihat jati denok yang kini jadi situs budaya dibutuhkan butuh waktu sekitar 45 menit dari pusat kota, dengan jarak tempuh 16 kilometer. Pengunjung bisa melalui Jalan Blora Randublatung sejauh 12 kilometer, lalu memasuki wilayah hutan dengan jalan berbatu berjarak 4 kilometer.

Jati denok dikelilingi pembatas beton untuk melindungi pohon yang mulai keropos ini. Berbeda dengan pohon jati di sekitarnya yang tak diberi pembatas antara satu pohon dengan lainnya. Selain itu, di sekitar pohon jati terdapat pendopo yang tak begitu luas cocok untuk duduk santai menikmati teduhnya hutan.

Jati Denok Tumbuh Sebelum Belanda Datang

Pohon jati denok tumbuh menjulang setinggi 30 meter dan keliling batangnya mencapai 6,5 meter. Batangnya tidak bulat dengan banyak cekungan di bagian pangkal dan total keliling mencapai 9 meter. Pangkal pohon bisa direngkuh tujuh rentangan tangan manusia dewasa.

Jati denok diperkirakan tubuh sebelum kedatangan Belanda ke Indonesia. Perkiraan ini berdasarkan dokumen penelitian tahun 1930 oleh Herman Ernst Wolff von Wulfing (1891-1945) dengan judul De Wildhoutbosschen op Java (hutan rimba di Jawa), yang sudah menyebutkan jati Blora termasuk jati denok di dalamnya.

Jati denok di wilayah hutan Desa Jatisari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jumat (29/3/2024).Jati denok Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Saat ini, batang pohon jati denok mulai keropos dan lapuk dengan bagian tengah yang bolong. Tidak ada batang yang besar akibat tersambar petir, sehingga yang terlihat hanyalah cabang-cabang kecil di pucuk pohon tanpa daun. Perawatan dilakukan hati-hati dengan memotong bagian yang tersambar petir untuk mencegah kebakaran.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Prosesi Jejak Banon Keraton Yogya, saat Sri Sultan Menjadi Lambang Hijrah



Jakarta

Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan Jejak Banon yang sakral dan sangat langka pada Kamis (4/9/2025) malam. Prosesi yang dilaksanakan 8 tahun sekali ini adalah bagian dari tradisi Sekaten memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Jejak Banon punya makna sangat dalam.

“Prosesi Jejak Banon atau Jejak Beteng adalah tradisi sarat makna yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini melambangkan keberanian menapaki perubahan hidup berlandaskan ajaran Islam dan lahirnya tatanan masyarakat baru,” tulis Portal Pemerintah Daerah DI Yogyakarta dalam situsnya.


Jejak Banon artinya adalah menjejak atau menghancurkan tumpukan bata dalam bahasa Indonesia. Prosesi ini dilakukan di sisi selatan Masjid Gedhe, yang berada di kompleks Alun-alun utara Kasultanan Yogyakarta. Sri Sultan melangkahkan kaki di atas tumpukan batu batu ketika sudah dihancurkan.

Prosesi Jejak Banon saat Hajad Dalem Sekaten, Kamis (4/9/2025) malam. Prosesi ini dilakukan setiap delapan tahun atau sewindu sekali.Prosesi Jejak Banon pada Kamis (4/9/2025) malam Foto: dok. Humas Pemda DIY

Menurut Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Mulud Dal 1959, KRT Kusumonegoro, Jejak Banon atau Jejak Beteng adalah simbol keberanian dan spiritualisme. Ketika itu, para leluhur berani menghadapi perubahan tanpa meninggalkan akar budaya yang dilanjutkan Sri Sultan sebagai pemimpin keraton saat ini.

Jejak Banon juga memiliki arti penting sebagai pengingat sejarah panjang dakwah Islam di Tanah Jawa. Penyebaran Islam dilakukan dengan cara damai dan bijaksana, sehingga ajaran bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Tidak heran ajaran Islam dan prosesi Jejak Banon masih lestari di Yogya.

Seluruh prosesi Jejak Banon dilakukan dalam suasana khidmat, tanpa mengurangi rasa penasaran masyarakat yang menyaksikan. Sri Sultan hadir dengan balutan baju takwa biru bermotif bunga di Kompleks Masjid Gedhe tepat saat Jejak Banon hendak dimulai. Sri Sultan yang juga Gubernur DI Yogyakarta ini hadir bersama para kerabat keraton.

Jejak Banon diawali dengan pembagian udhik-udhik berisi bunga, uang koin, dan biji-bijian. Masyarakat tampak antusias menerima bingkisan yang dipercaya membawa keberuntungan dan berkah ini. Setelah itu, Sri Sultan memasuki teras masjid untuk mengikuti tradisi pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.

Riwayat yang dibacakan dalam bahasa Jawa ini dipimpin Kiai Penghulu Keraton. Tentunya, proses yang diyakini bertepatan dengan momen kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dilakukan dengan khidmat dan hening penuh penghayatan.

Setelah Jejak Banon, gamelan Sekati Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga yang mengiringi proses dikembalikan ke keraton melalui prosesi Kondur Gangsa. Tahapan ini menandai berakhirnya perayaan Sekaten, sekaligus pengantar menuju puncak Garebeg Mulud Tahun Dal.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kampung Muara Sunda, Restoran Bernuansa Bali yang Pernah Disinggahi Jokowi



Garut

Bagi warga Jawa Barat yang belum sempat bertandang ke Bali, khususnya kawasan Ubud, singgah ke Kampung Muara Sunda (KMS) dapat menjadi alternatif.

Sebab meski berkategori rumah makan sunda, khusus Sabtu – Minggu dan libur panjang restoran di Jalan Raya Bayongbong Km3, Muara Sanding – Garut Kota ini menyajikan full nuansa Bali.

Sebetulnya sentuhan Bali sudah mulai terlihat sejak di bagian teras restoran. Di situ selain ada dua patung domba garut dengan tanduk baplang di kiri-kanan teras seolah menyambut para tamu, juga ada dua Tedung (payung) bermotif kotak-kotak hitam-putih khas Bali.


Nuansa Bali kian terasa dominan dan kental dengan arsitektur dan desain interior anyaman bambu yang megah dan artistik. Tak kalah dengan dengan Bamboo Dome di The Apuva Kempinski Hotel, Nusa Dua Bali yang pernah dipakai untuk jamuan makan siang para kepala negara dunia di acara KTT G-20 pada November 2022.

Restoran bergaya Ubud di GarutRestoran bergaya Ubud di Garut Foto: Sudrajat/detikTravel

Belum lagi alunan instrumental rindik (gamelan bambu) berpadu dengan irama suling yang mendayu-dayu, menghanyutkan. Juga busana khas Bali yang dikenakan para pelayan pria dan wanita.

“Untuk desain arsitektur resto ini semuanya dikonsep Pak Tedi (Golsom) Aristiadi,” kata Manajer Pemasaran KMS Nur Bintang Insani kepada detikTravel, Sabtu (6/9/2025) malam.

Tedi adalah pemilik KMS yang juga dikenal sebagai pengusaha di bidang akomodasi dan otomotif di Kota Garut.
Tedi mengaku sengaja membuat desain rumah makan bernuansa Bali agar berbeda dengan desain restoran sunda pada umumnya.

Sekalipun demikian aneka material utama seperti bamboo tetap berasal dari Garut. Demikian juga dengan makanan yang disajikan dominan menu sunda.

“Saya mencoba out of the box, dengan mengambil vibes Bali biar orang-orang yang belum bisa ke Bali cukup ke Kampung Muara Sunda. Saya boleh sebut ini sebagai Ubudnya Garut,” papar Tedi yang tengah berada di Makassar melalui chat WA.

Tak berlebihan bila Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Garut, 2025-2030, itu mengklaim demikian. Restoran ini memang memiliki area makan yang luas dengan suasana yang nyaman dan asri.

Selain dikeliling area persawahan dan kebun sayuran yang hijau, sambil bersantap para pengunjung dapat memandang lepas ke tiga gunung utama di Garut, yakni Gunung Guntur, Papandayan, dan Cikuray.

Restoran bergaya Ubud di GarutRestoran bergaya Ubud di Garut Foto: Sudrajat/detikTravel

Selain itu, di lahan seluas 5000 m2 restoran ini juga menyediakan area bermain untuk anak-anak, sehingga sangat cocok untuk dikunjungi bersama keluarga. Juga tersedia ruang makan khusus untuk para sopir atau staf dengan bangunan yang dindingnya dipasangi batu-batu hitam yang tak kalah artistik.

Dengan sekitar 200 menu khas Sunda yang otentik, fasilitas yang memadai, dan suasana yang nyaman, restoran ini menjadi tempat yang sempurna untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman.

“Gak akan nyesel pokoknya menjadikan Kampung Muara Sunda sebagai destinasi kuliner yang wajib dikunjungi di Garut,” kata Bintang.

Selain nyaman untuk bersama keluarga, Sarjana Akuntansi dari sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu melanjutkan, KMS juga menyediakan layanan private dinner maupun lunch dengan sentuhan romantis.

Selain para pejabat daerah baik sipil maupun militer, serta para pengusaha dan selebritas kenamaan di tanah air, Presiden Joko Widodo juga sempat singgah untuk makan siang di KMS.

Restoran bergaya Ubud di GarutFoto mantan presiden Jokowi sedang makan di KMS Garut Foto: Sudrajat/detikTravel

Hal itu terjadi sebelum dia membuka Rapat Koordinasi Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah di Pondok Pesantren Darul Arqam Garut, pada 17 Oktober 2017.

Foto Jokowi bersama Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono terpamang di dinding dekat kasir. Kepada pers kala itu, Tedi mengaku diberi tahu panitia sehari sebelum acara. Menu yang dipesan antara lain goreng ayam kampung, tumis kikil, dan karedok.

(jat/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Alternatif yang Bisa Dijajal Traveler di Sekitar Gunung Merapi



Yogyakarta

Kawasan Gunung Merapi memang punya pesonanya sendiri. Sehingga banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke sana.

Meski dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, daya tariknya justru terletak pada perpaduan antara keindahan alam, sejarah letusan yang dramatis, hingga kehidupan masyarakat yang tetap berdiri tegak di sekitarnya.

Namun, sebelum traveler tergoda menyusun rencana liburan ke sana, ada baiknya menyimak perkembangan terkini. Hingga September 2025 ini, status Gunung Merapi masih berada di siaga level III.


Pendakian ke puncak melalui jalur seperti Selo dan Sapu Angin masih ditutup total sejak 2018, dan belum ada tanda-tanda akan dibuka kembali dalam waktu dekat. Kondisi ini dipertegas oleh laporan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) serta sejumlah media nasional.

Nah jangan khawatir traveler, sebagai alternatifnya, di sekitar kaki Gunung Merapi juga ada banyak pilihan destinasi yang bisa dikunjungi tanpa harus menantang bahaya. Kawasan seperti Kaliurang, Kaliadem, dan Cangkringan tetap menyimpan segudang pengalaman seru yang aman dinikmati oleh wisatawan.

Salah satu yang paling populer tentu saja adalah Lava Tour Merapi. Naik jeep terbuka, kamu akan diajak menyusuri bekas aliran lava erupsi 2010. Di sepanjang perjalanan, pemandangan dramatis bekas rumah-rumah yang luluh lantak, sungai kering yang jadi jalur lahar, hingga batu-batu besar yang terlontar dari kawah menjadi saksi bisu dahsyatnya Merapi.

Jika ingin suasana yang lebih tenang, Kaliurang bisa jadi pilihan tepat. Udaranya sejuk, banyak penginapan bergaya klasik Jawa, dan cocok untuk wisata keluarga. Di sana juga ada Ullen Sentalu Museum, tempat yang tak hanya menyimpan benda-benda bersejarah dari Dinasti Mataram, tapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang begitu mendalam.

Tak jauh dari sana, ada juga Bunker Kaliadem. Tempat ini dulu digunakan sebagai tempat perlindungan saat erupsi, namun sekarang menjadi spot favorit wisatawan untuk menikmati panorama Merapi dari kejauhan. Saat cuaca cerah, puncak Merapi terlihat jelas berdiri megah di balik kabut tipis.

Selain itu, buat traveler yang ingin menikmati sisi edukatif dari bencana Merapi, ada Museum Sisa Hartaku di Desa Petung. Museum kecil itu menampilkan sisa-sisa rumah, motor, peralatan rumah tangga, hingga kerangka hewan ternak yang tak sempat diselamatkan saat erupsi.

Semuanya ditata secara apa adanya, membuat pengunjung bisa merasakan langsung bagaimana dahsyatnya letusan Merapi saat itu.

Jangan lupa, kawasan ini berada di zona rawan bencana, dan cuaca di pegunungan bisa berubah cepat. Maka dari itu, selalu cek prakiraan cuaca sebelum berangkat, dan ikuti arahan dari petugas atau pemandu lokal.

(upd/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Rekomendasi Wisata Populer di Purwokerto nan Sejuk



Jakarta

Purwokerto yang berada di kaki Gunung Slamet memiliki hawa sejuk sehingga pas buat healing. Banyak destinasi wisata alam yang bisa dikunjungi, ke mana saja ya?

Traveler yang ingin melepas penat dan rehat dari rutinitas ibu kota, Purwokerto bisa menjadi tujuan wisata yang patut dicoba. Dari perbukitan hijau hingga air terjun yang menyejukkan, ada banyak destinasi menarik yang siap membuatmu merasa lebih rileks dan kembali segar.

Purwokerto juga relatif mudah dijangkau dari Jabodetabek. Kota yang berada di Banyumas, Jawa Tengah itu terhubung dengan transportasi publik, bus umum dan kereta, dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam.


Sejak dulu hingga kini, Purwokerto selalu punya cara menarik perhatian wisatawan. Ke mana saja ya saat pelesiran di Purwokerto?

Berikut 5 Destinasi Purwekerto yang populer:

1. Baturraden

BaturradenBaturraden (Anggraini Sekar/d’Travelers)

Lokawisata Baturraden merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Purwokerto dan Banyumas. Lokasinya yang berada di dekat kaki Gunung Slamet membuat suasana di Lokawisata Baturraden terasa sejuk dan menenangkan.

Traveler bisa berenang di kolam renang, bermain sepeda air, hingga pemandian air panas. Alhasil, tempat wisata ini lebih banyak dikunjungi oleh rombongan keluarga besar.

Wisatawan bisa menikmati indahnya pemandangan hijau sekaligus merasakan suasana alam yang sejuk dan segar. Baturraden buka setiap hari dari pukul 07.00-16.00 WIB.

2. Telaga Sunyi

telagaTelaga Sunyi (Brigida Emi Lilia/d’Traveler)

Berada di sekitar Baturraden, Telaga Sunyi masuk dalam daftar desatinasi sepi dan menenangkan. Diintip dari website resmi Visit Jawa Tengah, Telaga Sunyi berbentuk kolam air yang tidak begitu luas dengan kedalaman kurang lebih sampai 5 meter.

Diawali dengan air terjun kecil dan berakhir dengan sungai yang banyak batunya. Sehingga membuat terdengar suara gemericik air yang iramanya menenangkan. Di samping Telaga Sunyi juga terdapat gua sepanjang 6 meter.

Telaga Sunyi buka setiap hari dari jam 8.00 sampai jam 17.00. Tiket masuk Telaga Sunyi cukup terjangkau. Lokasi Telaga Sunyi berada di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, atau sekitar 15 menit dari Wana Wisata Baturraden.

3. Gunung Slamet

Sunrise gunung SlametSunrise gunung Slamet (Gema Bayu Samudra/d’Traveler)

Bagi kamu yang suka tantangan, mendaki Gunung Slamet bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah, pendakian ke puncaknya membutuhkan usaha ekstra, tetapi pemandangan yang ditawarkan benar-benar sepadan.

Gunung Slamet memiliki cukup banyak jalur pendakian, salah satunya dari Purwokerto. Yakni, dimulai dari Baturraden.

Jalur pendakian Gunung Slamet melalui Baturraden relatif landai namun cukup panjang. Start dan finish dari sini, traveler bisa merasakan mandi-mandi air panas di kaki gunung.

4. The Village Purwokerto

Taman rekreasi di PurwokertoTaman rekreasi di Purwokerto (vindifitriana/d’Traveler)

The Village adalah sebuah wisata kota yang menghadirkan taman publik seluas 2.5 hektar di tengah Karisidenan Banyumas. Diresmikan pada tanggal 7 Februari 2018 dan mulai dibuka untuk umum mulai tanggal 9 Februari 2018.

The Village juga menawarkan kesempatan untuk bertamasya dengan rancangan bangunannya yang memadukan karakteristik Barat dan Nusantara, alam dan kota.

5. Pancuran Tujuh

Baturraden punya banyak destinasi unggulan yang menawarkan berbagai aktivitas seru buat wisatawan. Salah satunya adalah pijat blerang di Pancuran Pitu.Baturraden punya banyak destinasi unggulan yang menawarkan berbagai aktivitas seru buat wisatawan. Salah satunya adalah pijat blerang di Pancuran Pitu. (Arbi Anugrah/detikcom)

Pancuran Tujuh merupakan sumber air panas alami yang berada di kawasan Baturaden. Airnya mengandung belerang yang dipercaya baik untuk kesehatan kulit.

Untuk onsen massal bisa diisi 10-20 orang. Onsen antara laki-laki dan perempuan dibuat terpisah. Setiap onsen massal ini memiliki ruang bilas masing-masing.

Selain itu, terdapat juga onsen privat yang bisa dinikmati lebih intim. Wisatawan bisa berkumpul dengan keluarga di onsen ini. Untuk sementara onsen privat masih terbatas, yaitu 4 onsen.

Tarifnya Rp 150 ribu per jam untuk 5 orang, kalau nambah orang Rp 30 ribu per kepala. Onsen massal hanya Rp 15 ribu per orang. Jam operasional Pancuran 7 dari pukul 08.00-16.00 WIB. Sementara itu, onsen buka dari jam 09.00 karena dibutuhkan waktu untuk menguras terlebih dahulu.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Eksplorasi Keindahan Sigandul View Temanggung, Tempat Wisata dan Relaksasi


Jakarta

Sigandul View Temanggung menawarkan pemandangan indah Gunung Sumbing dan Sindoro dengan jarak hanya 170 meter dari Jembatan Sigandul. Jembatan ini sangat fotogenik dan cocok sebagai tempat liburan bareng teman dan keluarga.

Lokasi Sigandul View Temanggung berada di Jl. Raya Parakan, Wonosobo Km 8, Kwadungan Jurang, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dikutip dari laman Visit Jawa Tengah dan Madosi Jawa Tengah, berikut panduan untuk eksplorasi keindahan

Sigandul View menyuguhkan pemandangan alam di antaranya deretan pengunungan, Temanggung, Senin (30/5/2022).Sigandul View (dok. Eko Susanto/detikJateng)

Jam Buka Sigandul View Temanggung

Sigandul View buka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga 9 malam. Detikers juga bisa menyewa jeep untuk berkeliling, dengan harga tiket masuk outdoor sebesar Rp 15 ribu per orang.


Fasilitas Sigandul View Temanggung

Berbagai sarana dan fasilitas Sigandul View memungkinkan pengunjung melakukan eksplorasi keindahan alamnya. Berikut fasilitas di Sigandul Vire

1. Coffee dan Resto

Sigandul View menawarkan fasilitas yang beragam mulai dari konsep Coffee dan Resto yang menarik dan instagenic dengan harga terjangkau. Dilansir dari instagram @sigandul_view, Coffee & Resto ini menawarkan harga yang terjangkau. Berikut menu yang ditawarkan:

Harganya mulai dari Rp 21-23 ribu dengan menu makanan berat seperti nasi ayam, nila bakar dan bakso.

Harganya mulai dari Rp 45-48 ribu dengan menu sop iga sampai buntut bakar.

Camilan

Tersedia dengan harga mulai dari Rp 15-18 ribu yang menunya terdiri dari roti bakar sampai pisang goreng.

Minuman

Harganya mulai dari Rp 15-25 ribu dengan jenis yang berbeda di setiap varian minuman.

2. Taman Kelinci

Menyediakan pengalaman berinteraksi langsung dengan kelinci, alternatif tempat liburan ini adalah tempat rekreasi yang menyenangkan dan edukatif.

3. Jembatan Kaca

Sigandul View menyuguhkan pemandangan alam di antaranya deretan pengunungan, Temanggung, Senin (30/5/2022).Jembatan kaca Sigandul View Foto: Eko Susanto/detikJateng

Detikers yang punya nyali, tidak takut tinggi, dan penasaran, bisa menikmati pemandangan indah dari ketinggian untuk langkah yang berani.

4. Meeting Room

Meeting room dengan pemandangan indah, membuat rapat dan agenda lain terasa lebih berkesan.

5. Kolam Ikan

Sigandul View menyuguhkan pemandangan alam di antaranya deretan pengunungan, Temanggung, Senin (30/5/2022).Kolam ikan Sigandul View Foto: Eko Susanto/detikJateng

Sigandul View punya kolam ikan dengan pemandangan view Gunung Sumbing buat para penghobi tempa tenang dan sangat indah.

6. Restoran

Jelajah eksplorasi keindahan Sigandul View, tidak lengkap melewati restoran dengan aneka menu Nusantara.

7. Villa

Bagi detikers yang ingin berkunjung ke tempat wisata ini tak perlu khawatir menginap dimana, karena tersedia villa bagi pengunjung yang ingin bermalam dengan keindahan sunrise. Berikut jenis villa yang ditawarkan Sigandul villa:

Villa Sumbing: Rp 2,5 juta/malam

Fasilitas Villa sebagai berikut:

  • Welcome drink
  • Ruang tamu
  • 4 tempat tidur
  • Kapasitas 8 orang
  • Smart TV 42 inci
  • Lemari besar di setiap kamar
  • Kursi ruang tamu
  • Kamar mandi dengan shower
  • Termasuk sarapan
  • Wifi gratis.

Villa Botorono: Rp 1,5 juta/malam

Fasilitas Villa sebagai berikut:

  • Welcome drink
  • Kapasitas 4-6 orang
  • Kamar luas dengan double bed size king
  • Kamar mandi dengan shower
  • Dilengkapi humidifier dalam ruangan
  • Smart TV
  • Wifi gratis.

Villa Merapi: Rp 1,5 juta/malam

  • Welcome drink
  • Kapasitas 4-6 orang
  • Termasuk sarapan
  • Smart TV 42 inch
  • Humidifier
  • Teko listrik
  • Perlengkapan sholat
  • Kamar mandi dengan water heater
  • Wifi gratis.

8. Tempat Reservasi

Sigundul View juga menyediakan fasilitas yang menerima reservasi segala bentuk acara dan menyediakan reservasi makanan yang dapat dipesan oleh pemesan. Berikut jenis-jenis fasilitas yang dapat detikers reservasi:

Syarat dan Ketentuan Reservasi

  • Check in mulai 14.00 WIB
  • Check Out maksimal 12.00 WIB
  • DP mulai 30%
  • Reschedule maksimal H-5
  • Extra Bed Rp 200 ribu/bed dan termasuk sarapan 1 pack.

Dengan fasilitas ini, Sigandul View adalah tempat yang pas untuk menghabiskan waktu libur akhir pekan. Udah masukin Sigandul View dala wish list kamu?

(row/row)



Sumber : travel.detik.com