Tag Archives: jembatan

Pengantin Baru Dilarang Lewat Jembatan Ini, Konon Bisa Kena Sial



Gunungkidul

Jembatan Jirak di Gunungkidul menyimpan sebuah mitos yang tak biasa. Pengantin baru dilarang melintas di jembatan ini kalau tidak mau tertimpa kemalangan.

Jembatan Jirak ini berlokasi di Pedukuhan Munggi Pasar, Kalurahan Semanu, Kapanewon Semanu, Gunungkidul. Bentuk jembatan ini sama dengan jembatan pada umumnya. Ada dua bangunan jembatan, di sisi utara dan selatan.

Pada Jembatan Jirak sisi utara terdapat tulisan ‘dengan rakhmat Tuhan yang maha esa JEMBATAN JIRAK, diresmikan pada hari Senin tanggal 16 Januari 1989 oleh Gubernur, Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Paku Alam VIII’.


Sedangkan, pada Jembatan Jirak di sisi selatan terdapat tulisan ‘JEMBATAN JIRAK NO.26.030.001.B TH.2008 KM 45+77’. Sepintas, tidak ada yang aneh dari jembatan ini.

Namun, warga setempat masih percaya soal mitos pengantin baru yang tidak boleh melewati jembatan ini. Ketua Kalurahan Budaya Semanu, Sumaryanto menjelaskan, bahwa dari cerita para pendahulunya, dahulu ada kerajaan jin bernama Alas Kali Jirak di jembatan itu.

Asal Usul Jembatan Jirak

Kerajaan itu dipimpin seorang ratu bernama Sekar Cendani. Ratu Sekar Cendani mempunyai prajurit lelembut yang kuat, salah satunya bernama Gus Serut yang menaruh hati pada Nini Pantarwati, putri dari Sekar Cendani.

Namun, Nini Pantarwati ternyata jatuh cinta kepada seorang manusia bernama Sutejo. Sutejo merupakan putra dari Kiai Singo Wijoyo yang berasal dari Kemadang.

Gus Serut pun terlibat pertarungan dengan Sutejo untuk memperebutkan Nini Pantarwati. Ratu Sekar Cendani juga tidak merestui keduanya karena mereka berbeda alam.

Di tengah pertarungan sengit itu, Gus Serut melempar ajirak kepada Sutejo. Menurut Sumaryanto, itulah asal muasal mengapa jembatan itu akhirnya bernama Jembatan Jirak.

“Terus terjadi perkelahian, sambil lari Gus Serut akhirnya melempar ajirak, itu aji-aji semacam jarak. Karena itu disebut Jirak. Saat itu, belum ada jembatannya, hanya ada sesek (jembatan berbahan bambu),” ujarnya.

Setelah kejadian itu, ternyata Nini Pantarwati tetap mencintai Sutejo. Akhirnya, Ratu Sekar Cendani mengutuk Nini Pantarwati dan Sutejo menjadi batu.

“Yang akhirnya dikatakan menjadi watu manten kali Jirak (batu pengantin Kali Jirak),” ungkapnya.

Karena kisah itu, tidak ada pengantin yang berani melintasi Jembatan Jirak. Menurutnya, pengantin baru boleh melintasi jembatan Jirak setelah selapanan.

“Setelah itu tidak ada yang berani lewat situ, baik calon manten dan manten kalau belum selapanan atau 35 hari,” ujarnya.

Akan tetapi, calon pengantin dan pengantin baru tetap bisa melintasi jembatan tersebut meski belum selapanan. Konon caranya dengan memberikan syarat berupa melemparkan beberapa macam benda ke Kali Jirak.

“Tapi ada juga yang memilih menghindari Jembatan Jirak dengan mengambil rute lain yakni lewat utara Kantor Kalurahan, lewat Pacarejo, atau lewat Karangmojo,” lanjut Sumaryanto.

Sumaryanto menambahkan, bahwa hingga saat ini masyarakat Semanu masih mempercayai mitos tersebut. “Masih, wong kemarin tetangga saya dapat orang Mulo itu ya tidak berani lewat situ mending lewat Pacarejo,” ujarnya.

“Kalau dari informasi katanya ada yang sulit mendapatkan keturunan. Kalau sampai celaka kami belum pernah dengar, informasinya justru sulit mendapatkan momongan, rezekinya seret,” jawabnya.

“Semua itu cerita turun-temurun, fakta sebenarnya masih digali. Tapi nyatanya tetap ada yang tidak berani lewat situ kalau belum selapanan setelah prosesi manten,” pungkasnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tahukah Kamu, Ada Jembatan Akar Pohon di Sleman, Ini Penampakannya



Sleman

Tahukah kamu, jembatan alami yang terbuat dari akar pohon tak hanya ada di India saja, di Sleman juga ada. Seperti apa penampakannya?

Di Kabupaten Sleman, tepatnya di Padukuhan Kurahan IV, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, terdapat jembatan unik. Jembatan itu tidak terbuat dari beton ataupun besi, tetapi dari akar pohon.

Jembatan tersebut terbuat dari akar pohon preh dan beringin putih yang saling berkelindan dan membentuk sebuah jembatan. Panjang jembatan ini sekitar 10 meter.


Keindahan jembatan akar itu pun seperti di film-film Hollywood. Traveler akan serasa diajak masuk ke negeri dongeng ketika berkunjung ke sini.

Sebelum viral seperti sekarang, jembatan itu ternyata punya sejarah panjang bagi warga setempat. Dulunya, jembatan itu merupakan akses utama warga untuk menuju ke padukuhan lain.

Keindahan jembatan akar di Seyegan, Sleman.Jembatan akar pohon di Seyegan, Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng

Salah seorang warga Kurahan IV, Mangkuharjono (73), mengatakan, dirinya tak tahu persis kapan jembatan itu dibangun. Tapi, dia meyakini bahwa jembatan akar pohon itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Jembatan itu sendiri sudah ada sejak dia kecil.

“Jembatan akar ini dibangunnya kapan saya nggak ingat, dari saya kecil itu sudah ada. Kemungkinan dari zaman Jepang dulu sudah ada, zaman mbah-mbah saya dulu,” kata Mangkuharjono saat ditemui di lokasi jembatan, beberapa waktu lalu.

Sepengetahuan dia, jembatan itu awalnya dibangun dari sisa rel lori dari pabrik gula di Cebongan yang disusun di atas sungai Sipolo. Lama-kelamaan, akar pohon menjalar ke seluruh rel. Jembatan itu akhirnya digunakan warga untuk menuju padukuhan lain dan ke sawah.

“Akar itu merambat ke jembatan itu. Jadi orang-orang nggak tahu itu meletakkan biar menjalar ke sana nggak, itu alami,” bebernya.

Dari penuturannya, jembatan akar ini kembali naik daun setelah banyak pegowes yang mampir. Pemandangan yang masih asri dengan berbagai tanaman seperti bambu, kelapa, dan lain-lain menjadikan goweser yang betah beristirahat dan berfoto di sana.

“Ini kalau Sabtu atau Minggu pagi pasti ramai dari pagi. Sekarang sudah ada 5 pedagang makanan dan minuman dari warga sekitar di sini,” bebernya.

Cara Menuju ke Jembatan Akar Pohon di Sleman

Jembatan akar pohon di Sleman itu bisa ditempuh sekitar 45 menit perjalanandari kawasan Malioboro. Wisatawan yang hendak ke sana bisa melewati Jalan Godean atau bisa mengikuti Google Maps dengan menulis nama Root Bridge.

Untuk bisa menikmati keindahan jembatan akar pohon, wisatawan hanya perlu membayar seikhlasnya. Belum ada tiket masuk maupun untuk parkir.

Keindahan jembatan akar di Seyegan, Sleman.Jembatan akar pohon di Seyegan, Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng

Salah seorang wisatawan, Tri (51) warga Wirobrajan, Kota Jogja sengaja menyempatkan diri ke jembatan akar pohon karena penasaran. Menurutnya, tempat ini menarik apabila bisa dikelola dengan lebih baik lagi dan terkonsep.

“Sengaja ke sini sama istri. Tahunya dari medsos. Teman ada yang share postingan belum lama ini. Meski katanya udah ratusan tahun, tapi viralnya baru-baru ini,” katanya.

Dia berharap pengelola bisa menambahkan beberapa fasilitas pendukung di destinasi wisata ini. Menurutnya, akan lebih menarik juga ketika pengunjung bisa mendapatkan penjelasan mengenai sejarah jembatan ini.

“Ini termasuk potensi yang unik untuk jembatan akar kan sifatnya alami dan tidak bisa dibuat instan,” ucapnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jadi Tempat Wisata dan Lokasi Bunuh Diri



Badung

DISCLAIMER: Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental terdekat.

Jembatan Tukad Bangkung kerap jadi tempat wisata karena lokasinya yang indah. Tapi di sisi lain, jembatan ini kerap dipilih orang untuk lokasi bunuh diri.

Jembatan yang berada di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali ini disebut-sebut sebagai jembatan tertinggi se-Asia Tenggara. Itu karena pilar tertinggi jembatan ini mencapai 71,14 meter, dengan pondasi pilar sepanjang 41 meter di bawah tanah.


Banyak wisatawan dibuat tertarik untuk singgah. Tidak heran jika jembatan penghubung tiga kabupaten, yakni Badung, Bangli, dan Buleleng ini ramai dikunjungi wisatawan saat hari libur, maupun di akhir pekan.

Pembangunan Jembatan Tukad Bangkung dimulai sejak tahun 2001. Panjangnya mencapai 360 meter dengan lebar 9,6 meter. Jembatan Tukad Bangkung memangkas jarak sepanjang 6 kilometer (km), dengan tujuan menggantikan jembatan lama yang letaknya berada 500 meter di arah selatan jembatan baru.

Jembatan Tukad Bangkung kemudian diresmikan penggunaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 28 April 2007. Jembatan Tukad Bangkung menjadi ikon wisata di wilayah ujung utara Gumi Keris.

Sering Jadi Lokasi Orang Bunuh Diri

Berdasarkan catatan tim detikcom, ada beberapa kejadian bunuh diri yang berlokasi di Jembatan Tukad Bangkung. Pada Sabtu (4/12/2023), seorang anggota TNI berinisial INTD (22) asal Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan ditemukan tergantung di jembatan itu.

Yang terbaru, aksi bunuh diri dilakukan oleh kakak beradik berinisial KS (23) dan PY (5). Mereka melompat dari Jembatan Tukad Bangkung pada Minggu (26/5/2024).

KS nekat mengajak PY melompat dari jembatan untuk mengakhiri hidup karena motif ekonomi. KS dan PY merupakan dua dari empat bersaudara yatim piatu setelah ayah dan ibu mereka meninggal dunia.

Selama ini, KS yang merupakan anak kedua merupakan tulang punggung keluarga, sedangkan kakak pertamanya seorang perempuan dan kondisinya sakit-sakitan.

Jembatan Mau Dipasang Jaring Pengaman

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung, Wayan Darma berpendapat perlu ada strategi jangka pendek untuk antisipasi kejadian di tempat itu.

Salah satunya adalah pemasangan jaring di sisi sepanjang jembatan yang bisa jadi solusi pengaman bagi pengunjung. Mengingat pengawasan cukup sulit dilakukan di jembatan tersebut.

Selain memberi rasa aman, cara ini untuk mengantisipasi tindakan negatif yang mungkin saja bisa dilakukan seseorang. Terlebih, lokasi itu selalu ramai dikunjungi maupun dilintasi pengendara dari berbagai daerah.

“Wilayah itu ada potensi wisatanya, sehingga harus dijaga. Sekarang banyak orang datang. Tidak jauh dari sana juga ada beberapa objek wisata air terjun. Pemikiran saya sudah perlu ada pengamanan di sana. Ini akan saya sampaikan ke pimpinan. Sebab, itu perlu persetujuan. Saya sampaikan ke bupati melalui sekda,” kata mantan Camat Petang ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tertinggi di Asia Tenggara-Tahan Gempa



Badung

Tahukah kamu, bahwa jembatan tertinggi se-Asia Tenggara ada di Bali? Berikut fakta-fakta menarik dari Jembatan Tukad Bangkung di Badung:

Terletak di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, jembatan ini berada di antara dua bukit, sehingga jembatan berfungsi sebagai penghubung antara daerah di ketinggian bukit tersebut.

Adapun daerah yang terhubung oleh jembatan ini yaitu Kabupaten Badung, Kabupaten Buleleng, dan Kabupaten Bangli. Tentunya jembatan ini penting bagi ketiga warga kabupaten itu.


Jembatan Tertinggi di Asia Tenggara

Jembatan Tukad Bangkung diklaim sebagai jembatan tertinggi di Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan pilar tertinggi jembatan ini mencapai 71,14 meter dengan pondasi pilar jembatan yaitu 41 meter di bawah tanah.

Pembangunan jembatan ini dimulai sejak 2001 dengan panjang jembatan mencapai 360 meter dengan lebar 9,6 meter. Jembatan Tukad Bangkung memangkas jarak sepanjang 6 kilometer (km), dengan tujuan menggantikan jembatan lama yang letaknya berada 500 meter di arah selatan jembatan baru ini.

Pada 28 April 2007, jembatan ini kemudian diresmikan penggunaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Biaya Pembangunan jembatan ini mencapai Rp 49 miliar dengan menggunakan sistem multiyears yang berasal dari dana APBD Provinsi Bali.

Fakta Menarik Jembatan Tukad Bangkung

Jembatan Tukad Bangkung memiliki keistimewaan yaitu selain menjadi jembatan tertinggi, jembatan ini juga sangat kokoh. Menggunakan teknologi balanced cantilever, jembatan ini diperkirakan dapat dipakai hingga mencapai 100 tahun lamanya.

Kokohnya jembatan ini dapat dilihat dengan konstruksi bangunan yang merupakan konstruksi tahan gempa dengan kekuatan sebesar 7 Skala Richter.

Masyarakat yang melewati jembatan ini juga dapat menyaksikan keindahan alam sebab dibangun tanpa menggunakan atap. Jembatan Tukad Bangkung juga menyediakan area parkir sehingga untuk masyarakat yang datang berkunjung.

Bahkan saat ini sudah tersedia banyak warung-warung yang menjual berbagai makanan dan minuman, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir kelaparan selama singgah di sana.

Perawatan Infrastruktur Jembatan

Pemerintah Provinsi Bali secara aktif melakukan perawatan terhadap kondisi jembatan ini. Pada November 2020, pemerintah telah melakukan perbaikan pada pembatas trails yang ada pada bagian besi pembatas jembatan dan kini menggunakan besi hollow.

Pengecatan ulang untuk menghilangkan kesan kusam pada jembatan ini juga turut serta dilakukan. Ini menjadi salah satu upaya juga yang dilakukan untuk menghilangkan coretan-coretan akibat aksi vandalisme.

Cara Menuju ke Jembatan Tukad Bangkung

Jika Anda ingin berkunjung atau sekadar melewati Jembatan Tukad Bangkung, perjalanan Anda akan memakan waktu sekitar 80 menit dari Ngurah Rai atau sejauh 56 km dari Kota Denpasar.

Di sekitar jembatan juga terdapat wisata menarik lainnya. Sekitar 5 km dari jembatan Anda bisa bertemu dengan Air Terjun Nungnung. Dengan ketinggian air sekitar 70 meter dengan debit air yang cukup besar menjadikan air terjun ini menjadi tempat wisata yang sangat cocok untuk dikunjungi.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Indahnya Curug Lawe Ungaran, Air Terjun Bak Benang Putih yang Menjuntai


Jakarta

Curug Lawe merupakan air terjun yang jernih dengan pemandangan asri yang memukau di sekitarnya. Destinasi ini dikelola oleh Pemerintah Desa Kalisidi dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Bela Pesona sebagai mitra dari Perhutani Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kedu Utara.

Pada area yang sama dengan Curug Lawe, terdapat Curug Benowo yang juga menyuguhkan keindahan air terjun yang indah. Yuk, ketahui apa saja daya tarik, fasilitas, harga tiket, beserta lokasi Curug Lawe.

Daya Tarik Curug Lawe

Curug Lawe mempunyai air terjun bak benang putih yang turun dari tebing. Namun, sebelum menyaksikan keindahannya, traveler perlu melewati jalur trekking yang menantang terlebih dahulu. Berikut daya tarik Curug Lawe lengkapnya:


1. Air Terjunnya seperti Benang Putih

Air terjun ini disebut dengan Curug Lawe karena air yang jatuh dari atas tebing terlihat seperti benang putih yang menjuntai. Dalam bahasa Jawa, benang putih yang menjuntai disebut lawe.

2. Jalur Trekking yang Menantang

Sebelum sampai ke Curug Lawe, traveler harus menempuh jalur trekking yang cukup menantang. Jalan setapak yang dilalui hanya selebar 40 cm.

Menurut e-paper Universitas Diponogoro, jaraknya sekitar 2,5 km dari area parkir kendaraan. Selama perjalanan, traveler bisa menikmati keindahan alam dan mengambil gambar di beberapa spot foto.

3. Jembatan Romantis

Mengutip salah satu laman agen travel, pada jalur trekking, traveler akan menemukan beragam jembatan yang melintang di atas sungai kecil atau jalur irigasi. Salah satunya adalah Jembatan Romantis yang berada di atas jurang dengan kedalaman sekitar 20 meter.

4. Curug Benowo

Dalam satu kawasan Curug Lawe, di sisi timur terdapat Curug Benowo yang berjarak dekat.Curug ini berada di lereng yang lebih terbuka.

Untuk sampai di Curug Benowo, traveler perlu menempuh jarak 2,5 km. Di area Curug Benowo dapat dijadikan lokasi berkemah.

Fasilitas Curug Lawe

Fasilitas yang dimiliki Curug Lawe cukup lengkap. Berikut di antaranya:

  • Tempat parkir
  • Toilet
  • Musholla
  • Tempat duduk di beberapa titik area
  • Warung makan yang menjual snack, makanan berat, dan minuman
  • Pos peristirahatan
  • Ranger, jika memerlukan
  • Porter, jika memerlukan.

Lokasi Curug Lawe

Curug Lawe berada di Lereng Gunung Ungaran, Desa Kalisidi Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Jaraknya dari kota Semarang sekitar 12 km, sementara dari kota Ungaran sekitar 7 km.

Jika berangkat dari Ungaran, ambil arah ke Mapagan melalui jalan tembus ke Boja. Ambil belokan ke kiri di desa Sumur Gunung. Dari pertigaan Sumur Gunung terus ke arah selatan sampai perkebunan cengkeh zanzibar sekitar 3 km.

Harga Tiket dan Jam Operasional Curug Lawe

Sebelum mengunjungi Curug Lawe, ketahui dulu harga tiket dan jam operasional destinasi ini. Berikut informasinya.

Harga Tiket Curug Lawe

  • Harga tiket masuk: Rp 8.000
  • Parkir motor Rp 3.000
  • Parkir mobil: Rp 5.000

Jam Operasional Curug Lawe

Setiap hari mulai pukul 08.00-16.00 WIB

Itulah informasi mengenai Curug Lawe. Sebelum mengunjungi destinasi ini jangan lupa untuk mengetahui harga tiket atau jam operasional terbarunya ya.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Kelam Jembatan Bantengan, Jadi Lokasi Eksekusi Mati Anggota PKI



Klaten

Sebuah jembatan di Kecamatan Karanganom, Klaten, yang menyimpan sejarah kelam tentang tragedi Gerakan 30 September 1965 (G 30 S). Bagaimana kisahnya?

Jembatan Bantengan begitulah warga mengenalnya. Menurut warga sekitar, dulu ada sejumlah orang yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dieksekusi mati di jembatan itu.

Jembatan Bantengan berada di jalan Klaten-Karanganom, tepatnya di perbatasan Desa Tarubasan dan Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom. Jembatan itu panjangnya sekitar 30 meter, berada di jalan yang menurun.


Sekitar jembatan itu merupakan lahan pertanian dan di tepi sisi utaranya digunakan untuk tempat pembungan sampah (TPS). Aspal di jembatan itu terbilang mulus.

Salah satu warga sekitar, BN (75) mengatakan Jembatan Bantengan dulunya jembatan sesek dari bambu dan kayu. Setelah meletus tragedi G 30 S, dia bilang para tokoh PKI diangkut ke jembatan itu menggunakan truk.

Nggih ngertos, kulo pun pemuda, lahir 1949 dan gegernya itu 1965. Nggih ngge nembaki ten kidul mriko (Ya tahu, saya sudah pemuda, lahir tahun 1949, dan geger PKI itu 1965. Yang untuk menembaki PKI di selatan sana),” ucap BN, Senin (30/9/2024) siang.

Nggih (ya) tentara. Tapi sinten mawon yang ditembak mboten ngertos (tapi siapa saja yang ditembak saya tidak tahu). Bukan warga sini, tapi tokoh-tokohnya (PKI),” sambung dia.

BN mengingat, para tahanan itu biasanya dibawa ke jembatan saat sore hari. Sebelumnya, warga sekitar sudah diberi pengumuman akan ada eksekusi mati di jembatan itu.

“Sore, sore warga sudah diberitahu, lalu sini penuh orang. Setelah ditembak ditinggal di lokasi. Paginya warga PKI sekitar sini yang menyerah diminta mengubur,” ujar BN.

Menurut BN, ada sekitar 127 orang yang ditembak mati di jembatan itu. Truk yang membawa para tahanan PKI itu datang dari arah kota Klaten.

Saking mriko (dari sana, arah selatan). Mayatnya ya dikubur di situ, pokoknya itu terjadi habis Jakarta mbledhos (meletus G 30S),” kata BN.

BPD Desa Tarubasan, Kecamatan Karanganom, Kusdiyono membenarkan ada cerita tentang jembatan itu dulu untuk menembaki para tokoh PKI.

“Dibawa dengan truk oleh tentara, siapa dan orang mana tidak ada yang tahu. Bukan warga sini,” kata Kusdiyono.

Jembatan Bantengan, sebut Kus, dulunya jembatan sesek bambu. Setelah digunakan untuk mengubur orang-orang PKI, jembatan itu kemudian dibangun.

“Setelah kejadian itu baru diloning tembok. Saat banjir besar ada tulang-tulang yang hanyut dulu,” kenang Kusdiyono.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



Sumedang

Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

“Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

“Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

“Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

“Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

“Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

“Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

“Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

Sejarah Jembatan Cincin

Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

“Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

“Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

“Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com