Tag Archives: kabupaten sukabumi

Menikmati Indahnya Alam dari Puncak Darma, Cocok untuk Healing


Jakarta

Sukabumi memiliki sejumlah tempat wisata alam yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Puncak Darma. Dari atas bukit ini, detikers bisa menikmati pemandangan alam yang begitu indah.

Puncak Darma merupakan salah satu dataran tertinggi di kawasan Geopark Ciletuh. Ada daya tarik tersendiri bagi para wisatawan sehingga menyempatkan diri untuk mampir ke Puncak Darma.

Selain itu, ada berbagai aktivitas seru lainnya selama di Puncak Darma. Penasaran? Simak ulasannya dalam artikel ini.


Daya Tarik Puncak Darma

Daya tarik utama dari Puncak Darma adalah memiliki view yang menakjubkan. Dari atas puncak, travelers dapat menikmati pemandangan alam yang indah. Apalagi jika datang saat cuaca sedang cerah, kamu bisa melihat hamparan laut, pantai, dan kawasan Geopark Ciletuh dari ketinggian.

Alhasil, tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat. Ada yang ingin beristirahat sejenak setelah menempuh perjalanan jauh atau sekadar healing untuk melepas penat.

Puncak Darma Ciemas Geopark Ciletuh Sukabumi.View dari Puncak Darma (dok. Dispar Kabupaten Sukabumi)

Cuaca yang cerah juga dimanfaatkan banyak wisatawan untuk berfoto-foto. Salah satu spot foto yang ramai dikunjungi adalah kapal nelayan, sehingga membuatmu seolah-olah berlayar di atas awan. Kalau sudah sore, travelers dapat melihat detik-detik matahari terbenam dari atas Puncak Darma.

Jangan takut kelaparan atau kehausan, karena di sekitar Puncak Darma ada banyak warung yang menjual snack dan minuman, mulai dari kopi, es kelapa, buah-buahan, hingga mi instan rebus atau goreng. Harganya juga cukup terjangkau, sehingga cocok untuk mengganjal perut.

Kalau travelers merasa lelah usai menempuh perjalanan jauh, tenang saja karena di sekitar Puncak Darma terdapat sejumlah penginapan dengan harga cukup terjangkau.

Puncak Darma memang cocok untuk kamu yang ingin menikmati keindahan alam. Apalagi setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari Jakarta, rasa lelah langsung dibayar lunas saat tiba di tempat ini.

Fasilitas Umum di Puncak Darma

Seiring banyaknya wisatawan yang datang, fasilitas umum di Puncak Darma juga ditingkatkan demi memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Mengutip akun resmi Facebook Puncak Darma Ciletuh, berikut fasilitas umum yang tersedia:

  • Tempat parkir
  • Toilet
  • Mushola
  • Warung
  • Kafe dengan view yang indah
  • Sejumlah spot foto yang Instagramable.

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk ke Puncak Darma

Puncak Darma buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Disarankan datang sejak pagi jika ingin menikmati udara segar atau menjelang sore jika mau melihat sunset.

Untuk harga tiket masuk ke Puncak Darma dipatok sebesar Rp 5.000 per orang. Jika kamu membawa kendaraan seperti mobil atau sepeda motor, dikenakan tarif parkir mulai dari Rp 2.000.

Lokasi Puncak Darma

Puncak Darma merupakan tempat wisata yang berada di Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dari area tempat parkir menuju Puncak Darma tak begitu jauh, sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki sedikit.

Namun, travelers harus hati-hati selama perjalanan menuju Puncak Darma. Soalnya, jalur yang dilalui cukup ekstrim karena melewati tanjakan dan turunan curam. Pastikan kendaraan dalam kondisi baik sebelum pergi ke Puncak Darma.

Tak hanya soal kendaraan, namun fisik pengendaranya juga harus prima. Sebab, perjalanan dari Kota Sukabumi menuju Puncak Darma bisa memakan waktu sekitar 2-3 jam. Ingat, kalau travelers sudah merasa lelah jangan dipaksakan, sebaiknya istirahat sejenak untuk meregangkan badan.

Demikian ulasan singkat mengenai Puncak Darma. Tertarik untuk berkunjung ke sini saat liburan?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Rawa Talanca, Cocok Dikunjungi si Mancing Mania di Sukabumi



Sukabumi

Buat kamu si Mancing Mania, saatnya agendakan perjalanan ke Sukabumi. Di sana ada Rawa Talanca yang asyik untuk dikunjungi para pehobi mancing.

Terik matahari siang itu menyengat kulit di Kampung Talanca, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Lokasinya yang tak jauh dari pesisir pantai Loji, membuat hawa panas terasa wajar.

Namun, di balik hawa panasnya yang hot, terdapat pemandangan menakjubkan. Sebuah rawa tenang yang membentang sejauh mata memandang. Sebagian permukaan airnya dihiasi oleh tanaman eceng gondok yang menjadi hiasan alami tempat tersebut.


Rawa ini dikenal sebagai Rawa Talanca, sesuai dengan nama kampung tempatnya berada. Rawa Talanca terbentuk akibat pendangkalan sungai yang kemudian menjadi kali mati.

Tanah yang timbul dari pendangkalan ini secara perlahan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bertani, sementara air yang terjebak di sana berubah menjadi rawa.

“Sejak saya kecil sudah ada Rawa Talanca ini. Dulu ada dua cabang sungai, satu langsung ke muara, satunya lagi ke daerah Talanca sini. Nah, aliran sungai kecil ini mati karena pendangkalan, sampai akhirnya berubah jadi rawa,” cerita Ponso, seorang warga Simpenan, kepada detikJabar.

Kini, Rawa Talanca menjadi sumber penghidupan bagi warga setempat. Air dari rawa ini dialirkan ke irigasi untuk mendukung area pertanian warga.

Pesona Rawa TalancaPesona Rawa Talanca Foto: Syahdan Alamsyah

Selain itu, rawa ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan. Cocok banget dikunjungi buat kamu-kamu yang hobi tarik ulur joran untuk menangkap ikan.

“Rawa Talanca ini memang spot mancing yang tidak ada duanya. Ikan di sini besar-besar, dan jenisnya juga beragam. Saya pernah dapat ikan nila yang beratnya sampai 2 kilogram,” ujar Ponso dengan mata berbinar.

Bagi warga setempat, Rawa Talanca bukan hanya sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga bagian penting dari kehidupan mereka sehari-hari.

Sejumlah warga bahkan sengaja membuat warung lengkap dengan spot mancing. Namun seiring berjalannya waktu, lokasi itu tak lagi ramai dikunjungi pemancing.

“Sengaja bikin bale, untuk yang mancing. Dulu itu sehari bisa sampai belasan orang mancing sampai malam menginap di bale, namun katanya ikan-ikan di sini sudah tidak seperti dulu lagi jadi malas nyamber umpan pemancing. Hanya beberapa saja yang masih rutin mancing tidak seramai dulu,” tutur Raram, pemilik warung di Rawa Talanca.

Raram menceritakan, ikan di rawa Talanca bebas dipancing asal tidak menggunakan jala, setrum dan racun.

“Dulu itu ada spanduk larangan. Hanya sudah rusak, jadi tidak terlihat,” lirihnya.

Aktivitas Raram kini hanya mengelola apa yang tersisa. Bekas-bekas kayu yang biasa digunakan untuk memancing pun kini sudah mulai terlihat lapuk.

“Sebenarnya kalau saja pemerintah mau, lokasi ini dijadikan tempat wisata pasti bakalan ramai. Lebih ditata lagi, dibuat cantik lagi. Karena pemandangan di sini memang bagus, banyak mangrove juga,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Terminal Lama, Sekarang Disulap Jadi Pusat Jajanan di Sukabumi



Sukabumi

Libur Tahun Baru di Sukabumi, traveler bisa menyempatkan waktu main ke destinasi baru ini. Dulunya tempat ini adalah terminal, tapi sekarang jadi pusat jajanan.

Suasana di kawasan eks Terminal Lama di Jalan Sudirman, Kota Sukabumi nampak meriah. Kawasan yang dulunya merupakan terminal bus kini sudah disulap menjadi pusat kuliner yang baru.

Tenda-tenda jajanan berjejer mulai dari nasi bakar, cumi bakar, dakkochi, mochi daifuku, bakso, baby crab, dan makanan unik lainnya dapat ditemukan di tempat yang kini bernama PASS Food Centre Sukabumi.


Aneka minuman juga dijual di sini seperti es teh, aneka kopi, jus buah, alpukat dan durian kocok, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Harga makanan yang dijual di sini juga cukup beragam. Misalnya satu tusuk dakkochi atau olahan sate ayam bersaus merah pedas ala korea dibanderol dengan harga Rp 20 ribu per tusuk. Kemudian, mochi daifuku yang kini viral dijual seharga Rp 5 ribu saja per bijinya.

Setidaknya ada 150 tenant dan 300 pedagang yang ada di pusat kuliner Sudirman ini. Tempat ini jadi daya tarik baru bagi wisata kuliner di Kota Sukabumi.

“Pada dasarnya kita memfasilitasi UMKM yang ada di Kota Sukabumi ini. Ini bentuk kerjasama PPUB yayasan dengan Pemerintah Kota Sukabumi,” kata Ketua Yayasan Putra Siliwangi Sejahtera, Vega Sukmayudha, Senin (1/1/2025).

UMKM yang menempati lahan eks Terminal Lama Sukabumi mayoritas berasal dari Kota Sukabumi sebanyak 80 persen dan 20 persen lainnya dari Kabupaten Sukabumi. Ke depan, kemungkinan jumlah pedagang akan bertambah mengingat antusiasme masyarakat terhadap pusat kuliner baru ini.

“Kita kan ngasih kuota 150, kuota terpenuhi ya sudah close, tapi ada yang waiting list udah teregister. Nanti kita siapkan opsi penambahan tempat kah atau nanti menunggu pedagang yang memang tidak akan memperpanjang itu nanti langsung diisi,” ujarnya.

Fasilitas yang disediakan di wisata kuliner ini cukup lengkap di antaranya ada panggung musik, meja makan, mushola, dan tempat parkir.

Selain itu, ada juga bus Ajakami (Ayo Jalan-jalan di Kota Sukabumi) yang bisa dijajal oleh pengunjung untuk berkeliling Kota Sukabumi. Tiket Bus Ajakami seharga Rp5 ribu per orang.

“Kami ingin membentuk framing wisata itu ketika ingin keliling kota ya di sini shalter-nya, makanya kalau misalkan nanti ada penambahan kuota konsesi waktu saya akan coba bikin sheltenya Bus Ajakami,” kata dia.

“Jadi masyarakat gak usah pusing, atau wisatawan itu ya tinggal ke sini sambil jajan sambil makan jadi tau spot-spot wisata di kota,” tambahnya.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Sukabumi, M. Hasan Asari berharap dengan pengoperasian eks Terminal Lama menjadi pusat kuliner tentu akan menambah daya tarik wisatawan ke Kota Sukabumi.

Salah satu pengunjung asal Bekasi, Nurul mengaku tertarik mengunjungi pusat kuliner ini. Saat libur Nataru, ia bersama keluarganya memutuskan untuk berlibur ke Sukabumi.

“Kerja di Bekasi, kebetulan ada keluarga di Sukabumi jadi momen liburan ini berkunjung ke rumah nenek. Tempat ini cukup viral di media sosial akhirnya nyoba dan menarik-menarik makanannya,” kata Nurul.

“Tadi beli dakkochi terus cirawang juga. Enak-enak makanannya. Kalau dari segi harga memang bersaing ya, ada yang murah, terjangkau, ada juga yang cukup pricey,” sambungnya.

Buat traveler yang tertarik untuk mencoba, bisa datang ke PASS Food Centre di Sukabumi. Destinasi kuliner ini buka setiap hari dari pukul 10.00 WIB sampai 22.00 WIB.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Surga Tersembunyi di Pesisir Selatan Sukabumi



Sukabumi

Di selatan Kabupaten Sukabumi, jauh dari jalan utama dan keramaian wisata populer, Pantai Minajaya terhampar tenang. Pasir hitamnya memanjang, bersentuhan langsung dengan laut lepas yang tak dibatasi beton atau pemecah ombak.

Suasana di sini terasa seperti ruang jeda tak terlalu banyak pengunjung, tak banyak bangunan, hanya suara air dan angin.

“Tempatnya bersih dan sepi. Tidak banyak hal yang dibuat-buat. Saya malah senang enggak ada warung-warung besar di tepi pantai,” kata Dira, warga Bandung.


Dira berjalan menyusuri pasir yang sedikit lembap. Sesekali ia melihat karang-karang kecil dan jejak kaki burung. Ia memilih duduk di bawah pohon cemara laut, membentangkan tikar kecil, dan membuka bekal yang dibawanya dari penginapan. Tak ada musik, tak ada jaringan internet yang stabil dan itu justru membuatnya betah.

Beberapa ratus meter dari tempat Dira duduk, Arman (34) seorang mahasiswa semester akhir dari salah satu universitas di Bogor terlihat sibuk menyiapkan kamera DSLR di atas tripod. Ia sudah lima kali datang ke Minajaya sejak 2022 dan hampir semuanya untuk memotret lanskap pantai.

“Pantai ini punya karakter yang kuat. Langitnya terbuka, garis pantainya panjang, dan kadang bisa lihat perahu nelayan masuk di ujung timur. Kalau sore, pantulan cahaya di pasir basah itu luar biasa,” ujar Arman.

Tak hanya untuk fotografer, Minajaya juga cocok bagi wisatawan yang butuh suasana tenang. Ombaknya sedang, tidak terlalu keras, dan pasirnya padat cukup nyaman untuk berjalan kaki.

Pantai Minajaya, Sukabumi.Pantai Minajaya, Sukabumi. Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Beberapa titik menawarkan latar menarik untuk berfoto, mulai dari susunan batu karang hingga pohon tunggal yang berdiri sendiri di tepi pantai.

Saat ini, Pantai Minajaya sudah dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti area parkir, toilet umum, dan beberapa gazebo yang dikelola oleh warga. Akses jalannya pun semakin baik.

Untuk yang ingin berkunjung ke lokasi ini, waktu terbaik adalah pagi dan sore hari. Sinar matahari tidak terlalu terik dan pantulan cahaya di air terlihat lebih dramatis.

Disarankan membawa bekal makanan, alas duduk, serta kantong sampah pribadi. Jaringan internet terbatas, namun justru itulah daya tarik tempat ini pengunjung bisa benar-benar lepas dari layar telepon seluler.

Artikel ini sudah tayang di detikJabar, baca selengkapnya di sini.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Kesegaran Tersembunyi di Kaki Gunung Salak



Sukabumi

Traveler yang mencari kesegaran buat liburan di akhir pekan bisa bertualang ke kaki gunung Salak. Di sana ada satu curug atau air terjun yang masih tersembunyi.

Kabut pagi masih menggantung di lereng Gunung Salak ketika suara gemericik air mulai terdengar dari balik kebun teh. Di ujung jalur setapak yang menurun tajam itu, air terjun jatuh dari tebing berlumut, memecah keheningan pedesaan Kabandungan.

Warga sekitar menyebutnya Curug 3 Helipad, sebagian lain mengenalnya sebagai Curug Sentral III. Air terjun ini terdiri dari dua aliran besar yang mengucur sejajar dari tebing batu.


Aliran air itu membentuk tirai putih di tengah dinding hijau lumut. Di bawahnya, kolam dangkal berwarna kehijauan memantulkan cahaya lembut dari langit. Wisatawan terlihat bermain air, sebagian lagi berfoto dengan latar curug yang megah.

Di tepi sungai kecil yang menjadi aliran keluar, deretan sandal dan sepatu ditinggalkan begitu saja di atas batu berjejer rapi seperti barisan kecil yang menunggu pemiliknya kembali.

Curug 3 Helipad SukabumiCurug 3 Helipad Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Terletak di kawasan kebun teh Jayanegara, Desa sekaligus Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, curug ini menjadi tempat beristirahat bagi mereka yang ingin mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kota.

Dari atas kebun teh, hamparan hijau membentang sejauh mata memandang. Di kejauhan, perkampungan Kabandungan dan Kalapanunggal terlihat kecil di antara lipatan bukit.

“Curug ini airnya langsung dari Gunung Salak. Banyak pengunjung datang untuk bermain air dan berfoto, apalagi pemandangan kebun tehnya jadi spot favorit,” ujar Andri (35), pengelola Curug Sentral III, Minggu (2/11).

Andri duduk di bale-bale bambu di sisi jalan tanah yang menurun ke arah curug. Dari tempatnya berjaga, ia bisa melihat arus air yang mengalir deras di musim penghujan. Ia tahu persis kapan wisatawan harus diingatkan untuk menjauh.

“Kami selalu awasi langsung, apalagi kalau debit air meningkat,” katanya.

Fasilitas di kawasan ini sederhana. Beberapa warung kopi berdiri di tepi kebun, menyediakan mi instan, gorengan, dan teh hangat. Di dekatnya ada musala kecil dan MCK seadanya.

Pengelola membatasi jam kunjungan wisatawan hingga pukul 17.00 WIB saja setiap harinya. Tiket masuknya murah, hanya Rp10.000 per orang, ditambah Rp3.000 untuk parkir motor.

Sebagian wisatawan lain datang dari luar Sukabumi. Ada rombongan keluarga dari Bogor, sepasang mahasiswa dari Bandung, hingga pejalan tunggal dari Jakarta yang ingin berkemah di sekitar kebun teh.

“Ada juga pengunjung yang datang jauh-jauh dari Papua,” kata Andri dengan bangga.

Pada akhir pekan, suasana berubah lebih ramai. Tenda-tenda kecil kadang berdiri di pinggiran kebun teh, sementara petugas rescue dari Cicurug berjaga di lokasi.

“Hari ini yang bertugas ada tiga orang, situasi aman dan terkendali,” kata seorang anggota tim penyelamat yang berjaga di bawah tebing.

Salah satu pengunjung, Nadia (17), warga Cibadak, datang bersama empat temannya setelah menempuh perjalanan satu jam menggunakan sepeda motor. Wajahnya tampak cerah meski kaki basah oleh air dingin curug.

“Senang banget bisa main air dan foto-foto bareng teman-teman di sini, pemandangannya keren,” ujarnya sambil tertawa.

Bagi warga sekitar, curug ini bukan sekadar tempat wisata. Airnya menjadi sumber penghidupan. Warga memanfaatkan aliran sungai di bawahnya untuk mengairi kebun dan menyalakan turbin kecil pembangkit listrik rumahan.

“Dari dulu air curug ini yang kasih hidup kampung,” tutur Eman (52), warga Jayanegara yang rumahnya di sekitar curug.

Asal Usul Nama Curug Helipad

Nama ‘Helipad’ sendiri muncul dari bentuk kawasan di atas curug yang lapang di tengah kebun teh. Permukaannya datar dan terbuka, menyerupai landasan helikopter.

Warga setempat menyebutnya begitu sejak dulu, meski tak pernah benar-benar ada helikopter mendarat di sana. Lama-kelamaan, nama itu melekat, diwariskan dari mulut ke mulut wisatawan.

Kabut tipis turun perlahan, menyapu pucuk-pucuk teh yang berbaris di lereng. Suara air terjun berpadu dengan canda pengunjung yang tak jemu memotret keindahan alam di hadapan mereka.

Di sela gemuruh air, terdengar samar suara serangga dari balik rimbun dedaunan tanda alam yang masih hidup dan terjaga di kaki Gunung Salak.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Kisah ‘Kampung Dayak’ di Sukabumi, Hidup Nomaden Ikuti Pasang Surut Air Laut



Sukabumi

Di Sukabumi, ada kampung unik yang disebut ‘Kampung Dayak’. Jangan traveler bayangkan Dayak yang di Kalimantan ya. Istilah Dayak di sini lebih menunjukkan kehidupan warga nomaden mengikuti pasang surut air laut.

Kampung Dayak ini berada tidak jauh dari pesisir Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Disebut Kampung Dayak, karena dahulunya bermula dari kehidupan warga yang kerap berpindah-pindah tempat tinggal sementara, ketika air laut pasang.

Ketika air laut pasang, memaksa mereka meninggalkan rumah dan mencari tempat tinggal yang lebih aman.


“Sudah 23 tahun tinggal di sini, jadi merasakan enak dan tidak enaknya selama tinggal. Dahulu, air itu naik ke atas sampai masuk ke perkampungan. Kalau sudah begitu, akhirnya keluarga dibawa dulu mengungsi, ke rumah saudara atau ke tempat yang aman,” kata Lukman (65), warga Kampung Dayak saat berjumpa dengan tim detikcom tahun lalu.

Dayak di sini bukanlah istilah yang sama dengan salah satu suku di Kalimantan. Istilah kampung dayak berasal dari pola tinggal yang berpindah ketika situasi kampung tidak aman saat ditinggali. Nama kampung yang sebenarnya adalah Kampung Talanca.

“Sering pindah lalu balik lagi, makanya disebut Kampung Dayak mungkin ya,” kata Lukman seraya terkekeh.

Warga kampung ini menjalani kehidupan yang tidak mudah. Mayoritas dari mereka menggantungkan hidup pada hasil laut. Ketika musim ikan tiba, mereka berbondong-bondong melaut, menangkap ikan yang menjadi sumber penghidupan utama. Laut bagi mereka adalah sahabat yang penuh misteri.

Kadang ia murah hati memberikan hasil tangkapan melimpah. Namun di waktu lain, ia berubah menjadi lautan yang sunyi tanpa ikan.

“Kalau dulu iya ngambil ikan, ke laut pakai perahu congkreng. Kalau sekarang sudah enggak kuat, selain ikan sudah jarang sekarang lebih banyak mulung sampah saja. Hasilnya lumayan, walau usia sudah enggak muda lagi tapi buat nambah-nambah penghasilan,” tuturnya.

“Tinggal di sini dengan keluarga, asli Citereup Desa Loji, tinggal di sini sama anak-anak, cucu 10, kalau cicit 4. Soal pendidikan alhamdulillah pada sekolah semua,” sambungnya.

Kisah serupa juga dikisahkan Tami (65). Ia bercerita ketika ikan sulit didapat, warga kampung tidak tinggal diam. Mereka banting setir menjadi pemulung, mengais rezeki dari tumpukan rongsokan yang terbawa arus dan terdampar di pesisir Loji.

Di antara sampah yang terkumpul di pantai, mereka mencari barang-barang yang bisa dijual kembali, mulai dari logam hingga plastik, apapun yang bisa menghasilkan sedikit uang untuk menyambung hidup.

“Kalau misalkan tidak ada ikan, musim lagi jelek itu saya kepompong ngumpulin aqua botol gelas, mulung kayu. Sehari dapat kalau plastik bisa sampai berapa puluh kilogram. Nanti ada yang ngangkut,” kata Tami.

Tami menceritakan dia masih kuat melaut, kalau musim ikan dia bisa sampai semalaman mencari ikan.

“Masih kuat, cari ikannya kalau dapat macam-macam lah ada Layur, Selayang macam-macam,” lirihnya.

Meski kehidupan terombang-ambing oleh alam, Tami dan warga kampung lainnya tetap gigih dan tangguh. Mereka telah terbiasa dengan kerasnya kehidupan di pesisir, menerima perubahan musim dan pasang surut laut sebagai bagian dari kehidupan mereka yang sederhana.

“Kalau harapan, setiap hari kehidupan bisa lebih stabil dan sejahtera. Kami tetap yakin mungkin besok akan membawa keberuntungan yang lebih baik,” pungkasnya.

(sym/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Hati-hati di Tanjakan Cisarakan



Sukabumi

Traveler harap hati-hati jika melintas di tanjakan Cisarakan, Sukabumi. Bukan soal mistis, tapi ada banyak monyet-monyet yang bikin kaget.

Suara rem yang ditarik mendadak memecah keheningan siang. Ban berdecit, helm pengendara motor di depan kami sedikit terhuyung. Di depan motor, ada seekor monyet duduk tepat di garis putih tengah jalan.

Ekornya melingkar di aspal, matanya menatap tajam kendaraan yang mendekat tatapan yang entah menantang atau sekadar penasaran. Dari pagar besi di sisi kiri jalan, beberapa ekor monyet lain mengamati.


Ada monyet ekor panjang yang menguap, ada yang sibuk memeriksa bulu kawannya, ada juga yang tampak siap melompat ke badan jalan kapan saja.

Seperti itulah kira-kira situasi di Tanjakan Cisarakan yang berada di desa Buniwangi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Hutan tropis di kiri dan tebing batu berlumut di kanan menjadi latar alami yang kontras dengan aspal hitam yang panas tersorot matahari.

Dari pantauan di lokasi, kawanan monyet tersebut tidak terburu-buru. Mereka menyeberang jalan dengan santai. Bahkan kadang berhenti di tengah tanjakan atau turunan, seolah paham bahwa manusia akan mengalah.

Ada yang duduk diam sambil memegang potongan ranting, ada yang mengais sisa makanan dari plastik yang terbuang di pinggir jalan.

“Kalau sore lebih ramai lagi, suka tiba-tiba nyebrang. Makanya kalau lewat sini, gas jangan terlalu dalam,” kata I Supendi, seorang pengendara motor yang kami temui.

Ia mengaku sudah hafal kebiasaan kawanan ini, sehingga selalu menurunkan kecepatan saat melintas.

“Kalau yang saya takutin monyet ini tiba-tiba melompat. Kadang suka takut juga ya karena kondisi jalan raya langsung berdekatan dengan kawanan hewan liar itu. Namun sejauh ini hal itu belum terjadi,” ujarnya.

Warga menyebut perilaku berani monyet Cisarakan makin sering terjadi. Sebagian percaya, kebiasaan pengendara dan wisatawan memberi makan membuat mereka betah di jalur lalu lintas.

Serupa dengan kawasan Gunung Tangkil, di mana monyet liar sering terlihat di tepian hutan hingga bergelantungan di kabel listrik, di Cisarakan kawanan ini juga seolah menguasai jalur, menjadikan jalanan aspal seperti panggung harian untuk bertemu manusia.

Jalur yang Berbahaya

Jalan ini sendiri bukan sembarang jalan, tanjakan dan turunan curamnya adalah penghubung Cikidang – Palabuhanratu, kerap dilalui mobil wisata, truk barang, dan motor yang melaju kencang.

Kombinasi kelokan tajam dan satwa liar yang menyeberang tiba-tiba adalah resep berbahaya jika pengendara tidak waspada.

Dari balik kaca mobil, pemandangan ini memang mengundang rasa kagum seperti potongan film dokumenter yang diambil di hutan liar. Namun bedanya, ini adalah ruang yang dibagi antara mesin dan alam. Dan di sini, batas antara keduanya tipis sekali.

Peringatan untuk pengendara, kurangi kecepatan, jaga jarak, dan jangan memberi makan monyet di lokasi ini. Selain demi keselamatan di jalan, langkah itu juga penting untuk menjaga perilaku alami mereka di habitatnya.

Warga setempat berharap pemerintah atau pihak terkait memasang papan peringatan khusus di titik-titik rawan kemunculan monyet.

Dengan begitu, pengendara dari luar daerah akan siap mengantisipasi sejak awal, bukan kaget lalu mengerem mendadak di tengah tanjakan atau turunan.

“Kalau ada papan peringatan, kan pengendara dari luar daerah juga bisa siap-siap. Jangan sampai ngerem mendadak karena kaget,” tutur seorang warga.

Dengan sedikit kewaspadaan dan tanda peringatan yang jelas, pertemuan antara manusia dan satwa liar di jalur ini bisa tetap aman tanpa harus mengorbankan keselamatan ataupun merusak kebiasaan alami para monyet penghuni hutan Cisarakan.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Desain Unik Masjid Berbentuk Perahu di Sukabumi



Sukabumi

Masjid Sri Soewarto merupakan masjid dengan desain yang unik. Berbentuk perahu dan berwarna ungu.

Keunikan itu membuat masjid di Sukabumi, Jawa Barat itu diminati wisatawan luar daerah untuk singgah. Selain untuk beribadah, mereka juga menelusuri masjid itu untuk berwisata religi.

Masjid Sri Soewarto terletak di Desa Purwasari, Kecamata Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Didirikan oleh Sri Soewarto, masjid itu kemudian diberi nama yang sama.


Berbentuk Perahu dan Berwarna Ungu

Menurut manajer Masjid Sri Soewarto, keunikan warna ungu pada masjid itu dipilih langsung oleh sang pemilik, Sri Soewarto. Perpaduan bentuk perahu dan warna ungu menciptakan kesan artistik sekaligus menenangkan, menghadirkan suasana yang sakral dan estetik secara bersamaan.

Masjid Perahu di Sukabumi.Masjid Perahu di Sukabumi. (Syahdan Alamsyah)

Selain warna yang menonjol, desain perahu juga memiliki makna simbolis bagi Sri Soewarto. Menurut manajer Masjid Sri Soewarto, Lukman Hakim, desain masjid berbentuk perahu ini didasari oleh kecintaan Sri Soewarto kepada perahu dan dunia pelayaran. Poin itu menjadi konsep utama pembangunan masjid berbentuk perahu tersebut.

Secara keseluruhan bangunan itu terdiri dari empat lantai. Di lantai pertama terdapat sebuah restoran yang menyajikan makanan dan minuman bagi para wisatawan dan tamu yang berkunjung.

Kemudian, di lantai dua ada masjid yang berdampingan dengan ruang pertemuan. Lantai tiga dan empat digunakan sebagai area panorama, berupa kawasan terbuka bagi wisatawan yang ingin menikmati pemandangan dan juga mengambil foto.

Pusat Keagamaan dan Wisata

Lukman menjelaskan bahwa Sri Soewarto mendirikan bangunan masjid ini bukan sekedar sebagai tempat ibadah. Ia ingin agar masjid, yang dibangun itu, menjadi tempat menjalin interaksi sosial, budaya, dan tempat wisata religi.

Masjid Perahu di Sukabumi.Interior di masjid perahu di Sukabumi. (Syahdan Alamsyah)

“Masjid ini didesain oleh Haji Soewarto tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan wisata keluarga,” ujarnya dikutip dari detikJabar.

Masjid itu dibangun selama lima tahun mulai 2019 dan beroperasi sejak 2024. Pada bagian belakang masjid, terdapat destinasi wahana rekreasi air dan danau yang menambah keindahan masjid tersebut.

“Alhamdulillah, tanggapan masyarakat sangat positif. Dengan adanya Masjid Perahu yang juga memiliki wahana air dan danau, banyak yang menyambut baik. Pak Haji Soewarto membangun masjid ini dengan niat menyejahterakan masjid dan masyarakat di sekitarnya,” ujar dia.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com