Tag Archives: kampung unik

Isinya 8 Rumah Saja, Tidak Lebih



Ciamis

Di Ciamis, ada sebuah kampung terpencil yang unik. Isi kampung itu hanya 8 rumah saja, tidak lebih. Kenapa?

Kampung Rumah 8, begitu warga mengenalnya. Kampung unik itu berada di desa Bunter, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis.

Lokasi kampung ini sangat terpencil, tepatnya di tengah hutan. Meski akses jalannya sangat sulit, warga Kampung Rumah 8 sudah berada puluhan tahun dan tidak mau pindah.


Sejarah Kampung Rumah 8

Ketua RT setempat, Eli Yuliana menjelaskan, Kampung Rumah 8 ini awalnya bernama blok Cidahu, Dusun Cibangban. Kampung ini hanyalah kampung biasa, bukan kampung budaya seperti Kampung Kuta atau Kampung Naga.

Warga yang tinggal saat ini, merupakan pewaris dari orang tuanya sejak puluhan tahun lalu. Ceritanya, orang tua zaman dulu membuat rumah yang lokasinya dekat dengan ladang, sawah dan perkebunan supaya lebih mudah menggarapnya.

Mereka pun memutuskan untuk membuat sebuah perkampungan. Awalnya rumah itu pisah-pisah, tapi pada akhirnya memutuskan membuat komplek perkampungan yang isinya ada 8 rumah.

“Memang sejak dulu tidak bertambah. Menurut cerita ada sejak masa kolonial. Sebetulnya mau ditambah juga tidak apa-apa, tapi tetap bertahan jumlahnya sampai sekarang,” jelasnya.

Naik Daun di Kalangan Offroader

Seiring berjalannya waktu, kampung ini banyak dikunjungi offroader dari berbagai daerah. Rupanya, di wilayah desa Bunter, terdapat track off-road di kawasan hutan jati yang jadi tujuan para offroader, baik lokal maupun luar daerah.

Lokasi Kampung Rumah 8 ini ternyata berada di tengah jalur off-road tersebut. Sehingga para offroader kerap memilih kampung itu menjadi rest area. Mereka beristirahat, makan, salat dan menjalani aktivitas lainnya di kampung tersebut.

Nama Kampung Rumah 8 itu juga dicetuskan oleh offroader yang kerap singgah di kampung tersebut sekitar 5 tahun yang lalu.

“Jadi kampung ini sering disinggahi oleh para offroader, rest areanya, makan siang di sini. Di Desa Bunter kan ada rute off road. Kemudian offroader itu memberi nama Kampung Rumah 8. Sehingga di kalangan offroader nama kampung ini sudah cukup terkenal. Mereka juga membantu untuk membuat musala,” ujar Eli.

Saat ini, ada 9 kepala keluarga dengan 28 jiwa yang menghuni Kampung Rumah 8 itu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ada sebuah warung yang menyediakan dagangan yang cukup komplet, terutama sembako.

“Warga di sini hampir semuanya petani, beternak atau perikanan. Penghuninya ada yang usianya sudah 90 tahun paling tua. Warga yang merantau ada, tapi anak-anaknya seperti ke Jakarta dan Bekasi,” ucapnya.

Eli menyebut meski jauh dari perkampungan lainnya dan terpencil, tapi warga di Kampung Rumah 8 tidak ada yang mau pindah. Mereka sudah merasa nyaman dan tidak ingin jauh dengan lahan yang sudah menjadi penghidupan mereka selama ini.

Cara Menuju ke Kampung Rumah 8

Setelah sampai kawasan hutan jati di desa Bunter, perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor dengan ban khusus seperti motor trail.

Selain melewati hutan, akses jalannya masih tanah dan bebatuan. Ditambah lagi dengan jalannya yang kecil dan juga terjal naik turun, membuat perjalanan menjadi lebih menantang. Perjalanan menggunakan motor tersebut membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis.Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Sesampainya di Kampung Rumah 8, ternyata memang benar, cuma ada 8 rumah dalam satu kompleks di kampung itu. Ditambah ada sebuah musala kecil yang baru beberapa waktu lalu dibangun.

Kondisi rumahnya tidak jauh berbeda seperti rumah pada umumnya. Ada yang terbuat dari tembok, ada juga yang semi permanen terbuka dari kayu. Suasana kampung tersebut sangat nyaman dan adem, jauh dari hiruk pikuk atau pun suara kendaraan.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kampung Terpencil di Ciamis Punya Pantangan: Jangan Ngomong Sembarangan!



Ciamis

Ada sebuah kampung terpencil yang unik di Ciamis. Kampung itu hanya terdiri dari 8 rumah dan lokasinya di tengah hutan. Kampung itu juga punya pantangan.

Pantangannya adalah dilarang ngomong sembarangan atau dalam bahasa Sundanya, dilarang sompral alias mengucapkan hal-hal yang negatif dan menyinggung orang.

Jika melanggar pantangan tersebut, maka pengunjung itu bisa-bisa tidak akan pulang. Mereka tiba-tiba saja akan kesasar di tengah hutan dan tidak dapat menemukan jalan keluar.


Ya, mitos tersebut dipercayai oleh warga Kampung Rumah 8, sebuah kampung terpencil nan unik di Ciamis. Pengunjung yang datang atau melintas di kawasan hutan di Kampung Rumah 8 ini harus bersikap baik.

Jangan sesekali menyampaikan ucapan atau hal-hal yang tidak sopan, sehingga dapat menyinggung pihak yang tidak ingin disinggung.

Beberapa pemburu hewan atau pun pengunjung yang melakukan aktivitas off-road di hutan sekitar Kampung Rumah 8 mengaku pernah mengalami hal itu.

Namun beruntung, mereka berhasil menghubungi warga yang ada di Kampung Rumah 8 dan langsung diantar ke luar dari hutan jati yang mengelilingi kampung tersebut.

“Jadi memang di sini aura mistisnya masih ada. Orang luar yang datang ke sini sering nyasab (kesasar). Itu mungkin bicara tidak sopan. Seiring terjadi seperti itu,” ujar Eli Yuliana, Ketua RT di Kampung Rumah 8, Sabtu (10/2/2024).

Kejadian pengunjung kesasar di tengah hutan jati itu tidak tergantung pada waktu. Bisa terjadi pada siang hari atau pun malam hari.

Eli pun mewanti-wanti bila memasuki kawasan hutan di kampungnya untuk senantiasa bersikap sopan dan berdoa terlebih dahulu.

“Jadi niatnya harus baik-baik, kalau ada pikiran negatif itu kemungkinan akan sasab (tersasar),” ucapnya.

Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis.Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Menurut cerita Eli, beberapa waktu lalu ada pemburu yang malam-malam kesasar di wilayahnya. Kemudian ada juga ada orang yang sedang trail adventure di siang hari tidak dapat menemukan jalan keluar dari hutan.

“Jadi yang naik motor trail itu mengaku hanya kuar-kuir (bolak-balik) saja di tempat yang sama. Kemudian orang itu menghubungi warga di Kampung Rumah 8. Akhirnya ditunjukkan jalan ke luar,” ucapnya.

Eli menyebut dengan adanya kisah mistis ini, Kampung Rumah 8 pun aman dari hal-hal kejahatan seperti pencurian.

“Paling yang ada di sini hewan seperti babi, monyet, landak, tapi selama tidak mengganggu Insyalloh aman tidak menyerang,” tutupnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Dusun Pecinan di Klaten, Sisa Geger Zaman Mataram



Klaten

Di Klaten ada sebuah dusun Pecinan. Konon, dusun ini menyimpan peninggalan peristiwa Geger Pecinan pada zaman Mataram berabad-abad silam.

Dusun Pecinan itu berada di wilayah desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu, Klaten. Dusun tersebut konon merupakan perkampungan etnis Tionghoa di masa Kerajaan Mataram Kartasura.

Dari pusat kota Klaten, dusun Pecinan berjarak sejauh 25 kilometer ke arah Solo. Kalau dari Kartasura, Sukoharjo, jaraknya cuma sekitar 10 kilometeran.


Berada di tepi jalan Jogja-Solo, dusun itu tak tampak sebagai kampung Pecinan pada umumnya. Tidak ada bangunan bergaya etnis Tionghoa atau jejak kebudayaannya di sana.

Satu-satunya yang terkait etnis Tionghoa hanya kompleks makam di utara dusun yang terdapat beberapa kuburan Tionghoa.

Masuk ke dusun tersebut juga tidak ada gapura berarsitektur naga liong atau lampion. Satu-satunya penunjuk hanya beberapa plang papan nama bertuliskan RT dan RW Pecinan di pojok-pojok dusun.

“Kalau sejarahnya saya tidak tahu. Cuma di Utara dusun itu ada makam China, di Utara sungai,” ungkap warga Dusun Pecinan, Desa Kepanjen, Yatmi (66) dengan bahasa campuran Jawa, Kamis (8/2/2024) pekan lalu.

Dari cerita Yatmi, di dusunnya tidak ada warga yang beretnis Tionghoa. Makamnya pun tidak khusus untuk orang Tionghoa, tapi juga masyarakat sekitarnya.

“Dulu Bong Cino, tapi tidak semua orang China yang dikubur, itu makam umum. Tapi masuknya Desa Wadung Getas, Kecamatan Wonosari,” jelas Yatmi.

Lisna, warga lainnya mengatakan kuburan Cina tidak hanya ditemukan di makam umum. Tapi di utara dusun pernah ada beberapa makam China.

“Dulu ada kuburan China di pekarangan selatan sungai tapi sudah dibongkar. Sekarang pada jadi rumah,” kata Lina kepada detikJateng.

Ketua RW 1 Dusun Pecinan, Desa Kepanjen, Endri Yunanto menambahkan, tidak ada yang tahu pasti nama dusunnya. Hanya ada cerita tutur turun-temurun dulunya menjadi tempat pelarian etnis Tionghoa.

“Riwayat pastinya kita tidak tahu. Hanya konon di sini dulu banyak warga China pelarian ketika ontran-ontran di Keraton Kartasura. Sehingga dulu banyak ditemukan makam China, tidak hanya di Utara kampung yang sekarang jadi makam tapi juga di tengah kampung,” tutur Endri.

Makam-makam di tengah kampung itu, sekarang sudah tidak ada lagi. Makam sudah dibongkar, dipindahkan atau jadi pemukiman.

“Sudah tidak ada tapi itu belum lama dibongkar. Karena dibangun, kemudian diratakan padahal dulu banyak di tengah kampung, di tengah kebun tapi karena dibangun rumah ya dibongkar atau dipindah,” lanjut Endri.

Kuburan etnis Tionghoa di Utara kampung Pecinan, Delanggu, Klaten, Kamis (8/2/2024).Kuburan etnis Tionghoa di Utara dusun Pecinan, Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Dihubungi terpisah, Pegiat Cagar Budaya Kabupaten Klaten, Hari Wahyudi mengatakan, permukiman etnis Tionghoa di Klaten tersebar merata. Keberadaan mereka terkait pabrik gula.

“Di dekat pabrik gula pasti ada bangunan kolonial, bangunan Pecinan, juga ada makam China dan makam Belanda atau kerkoff. Etnis Tionghoa itu dekat dengan Eropa, mereka dipekerjakan sebagai ahli akuntansi di pabrik Eropa,” ungkap Hari.

Menurut penelusuran dari berbagai sumber, geger Pecinan Kartasura merupakan konflik politik di tahun 1740-1743 yang diawali dari kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Batavia (Jakarta) oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Konflik itu kemudian melebar dengan penyerbuan pasukan China yang bergabung dengan pasukan Jawa menyerang benteng keraton Mataram Kartasura (Sukoharjo) karena bersekutu dengan VOC.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com