Tag Archives: kampus

15 Barang yang Wajib Kamu Punya biar Betah di Kosan



Jakarta – Kos menjadi opsi terbaik bagi para perantau untuk mendapatkan tempat tinggal sementara maupun permanen. Banyak mahasiswa atau pekerja yang memilih kosan sebab jarak dari kampus atau kantor mereka dekat.

Namun, tidak semua kos langsung menyediakan fasilitas dan perlengkapan yang kamu butuhkan. Sehingga saat pertama kali menempati kos kamu sering kebingungan barang apa saja yang penting untuk dimiliki.

Nah, buat kamu yang masih bingung untuk menentukan barang apa saja yang diperlukan dan wajib ada untuk anak kos. Berikut dikutip dari Danacita, beberapa barang yang wajib kamu punya di kosan.

(dna/dna)



Sumber : www.detik.com

Perpustakaan Batu Api Mengoleksi Buku, Menyimpan Keresahan



Jakarta

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat awalnya tidak hanya menyimpan buku. Tempat itu, juga rumah bagi audio (musik) dan video (film) dari seluruh dunia dengan berbagai genre, mulai dari jazz hingga dangdut.

Cahaya matahari menembus tumpukan buku dibalik jendela dari bangunan yang tampak tidak terlalu besar, namun mampu menyimpan ribuan koleksi buku, perpustakaan Batu Api.

Saat detikJabar mengunjungi perpustakaan ini, Selasa (8/10/2024), terdengar alunan musik dari sudut ruangan, seakan menyihir suasana menjadi lebih nyaman. Tumpukan buku yang disampul rapi seolah mengucapkan selamat datang.


Si pemilik, Anton Solihin, duduk di sudut ruangan, bergelut dengan laptopnya dikelilingi tumpukan buku. dia membangun perpustakaan Batu Api sejak 1 April 1999.

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. Foto: Asy Syifa Ramadhani Imam

Anton menceritakan kendati secara visual tempat itu penuh akan buku, ia justru memulai perjalanannya dengan ketertarikan akan musik.

“Awal itu minatnya musik, rekaman kaset, piring hitam. Dulu kan suka nongkrong di Cihapit, buku belakangan aja. Bukunya harus kelihatan karena ini di tengah kampus, supaya keliatan interaktual,” ujar Anton.

Ya, perpustakaan yang berada di Jl Raya Jatinangor No 142 A, Cikeruh, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, di tengah kawasan yang dihuni ribuan mahasiswa dengan jumlah yang terus meningkat setiap tahunnya.

Dulu, perpustakaan ini rutin melakukan beragam kegiatan, seperti pemutaran film setiap minggu dari tahun 2001 hingga 2019. Selain itu, Anton juga mengadakan diskusi buku bersama organisasi kampus. Ia juga menghadirkan pembicara dari kalangan penulis hingga sejarawan.

Sayangnya, kegiatan tersebut terhenti setelah Covid-19 melanda dan belum dilanjutkan hingga saat ini. Ia menyampaikan, saat ini kegiatan serupa sudah banyak dilakukan.

Pengunjung Jarang yang Baca Buku

satu keresahan Anton selama mengelola perpustakaan itu. Kendati banyak mahasiswa yang datang, namun hanya sedikit mahasiswa yang datang hanya untuk membaca buku.

“Dari 100 paling 5% yang datang untuk baca, sisanya itu dulu untuk tugas kuliah. Nah kan sekarang tugas kuliah banyak pakai AI,” kata Anton.

Pria yang hobi membuat kliping ini menggunakan kata ‘warung’ yang merujuk pada pustaka Batu Api ini. Bukan tanpa sebab, ia menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan. Ia tidak memahami sama sekali teknis dari perpustakaan. Meski begitu, ia tetap menunjukkan keseriusannya dalam membangun perpustakaan ini.

“Saya bukan anak jurusan perpustakaan, kategorisasi segala macem, saya tidak peduli. Sampai sekarang masih acak-acakan. Tapi kalau konten saya serius. Bahan yang sekiranya orang susah nyari, saya betulan simpen,” ujarnya.

Anton juga sering berdiskusi dengan para pengunjung. Mulai dari membahas buku atau rekaman yang tersedia, hingga berkonsultasi terkait tugas kuliah.

Seperti yang disampaikan Salman (21), seorang mahasiswa yang sudah beberapa kali berkunjung ke perpustakaan Batu Api. Tidak hanya datang untuk membaca buku, ia juga mencari bacaan sebagai tuntutan tugas kuliah.

“Buku yang aku cari, terutama soal politik atau budaya lebih lengkap dibandingkan perpustakaan lain. Bang Anton juga bisa diajak diskusi, soal ketersediaan buku atau referensi topik yang sedang dibutuhkan,” kata Salman sambil menggenggam sebuah buku.

Hingga saat ini, tidak tahu pasti jumlah buku, rekaman video maupun audio yang ada di perpustakaan ini. Saat awal dibangun, sudah ada sekitar 4.500 buku. Sekarang, belasan ribu rekaman juga dikoleksi oleh Anton. Ia juga membagikan rekaman yang ada secara gratis.

Jika ingin menjadi anggota dari perpustakaan Batu Api, harus mendaftarkan diri dengan biaya Rp 20 ribu. Sementara itu, biaya sewa buku selama seminggu dibanderol Rp 5 ribu.

Digitalisasi Tidak Membantu Tingkatkan Minat Baca

Keresahan lain yang dirasakan Anton adalah tidak ada pengaruh digitalisasi buku atau pun novel. Dia membandingkan kondisi saat masa orde baru dan masa kini. Dulu, saat orba dengan semua hal diseragamkan, mulai dari tontonan hingga pemikiran, orang-orang berusaha untuk ‘berbeda’. Kini di era digital yang penuh kebebasan, banyak yang memilih untuk tetap ‘seragam’.

“Zaman Orde Baru kita semuanya dibuat seragam, tontonannya sampai apa yang dipikirkan seragam. Tapi kita berusaha untuk menjadi berbeda. Sekarang saya justru lihat, orang harusnya punya imajinasi tak terbatas, tapi banyak yang jadi seragam. Jadi kalau dibilang ada perubahan gara-gara digital, ternyata enggak juga,” kata dia.

Tidak lagi sekedar hobi, mengoleksi buku dan rekaman seakan menjadi jalan hidupnya. Perpustakaan ini tetap eksis di tengah digitalisasi dan meningkatnya harga buku di pasaran.

“Sudah tidak bisa disebut hobi saja karena sudah 25 tahun. Ternyata saya bisa hidup dari sini,” kata dia.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Bukan buat Nongkrong Semata, 2 Situ di Ciputat Ini Jadi Spot Jogging



Ciputat

Ciputat ternyata memiliki tempat seru buat traveler yang suka olahraga ringan, seperti jogging. Banyak pohon rindang, view-nya situ atau danau.

Sebelumnya, dua situ ini memang menjadi jujugan warga sekitar buat nongkrong. Namun, seiring kian populernya olahraga, warga pun mulai menjadikannya sebagai tempat buat jogging atau olahraga lain.


Di sini banyak pohon sehingga tidak terlalu panas. Selain itu, view danau yang luas bikin pengunjung bisa mengistirahatkan mata dari paparan layar gadget.

1. Situ Gintung

Situ Gintung jadi salah satu kawasan yang kerap didatangi warga saat akhir pekan. Tak sedikit warga datang ke sana untuk berwisata bersama keluarga.Situ Gintung jadi salah satu kawasan yang kerap didatangi warga saat akhir pekan. Tak sedikit warga datang ke sana untuk berwisata bersama keluarga. (Andhika Prasetia/detikcom)

Terletak di kawasan Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Situ Gintung jadi salah satu destinasi favorit warga Ciputat untuk jogging dan berolahraga.

Pemandangan danau yang tenang dan udara yang adem bikin suasana lari sore terasa lebih menyenangkan. Jalurnya cukup lebar dan bisa digunakan untuk jalan santai maupun lari ringan.

Selain itu, area sekitarnya juga cocok untuk aktivitas outdoor lain seperti bersepeda, senam, atau sekadar jalan santai menikmati suasana alam. Detikers bisa jogging di Situ Gintung dengan panjang lintasan sekitar 4,5 kilometer yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit.

Suasana sore hari di hari biasa cenderung sepi, tidak banyak orang yang lalu lalang untuk sekadar berjalan santai atau berlari ringan. Berbeda dengan akhir pekan, jalur jogging di Situ Gintung biasanya lebih ramai oleh warga yang berolahraga, mulai dari orang tua, mahasiswa, hingga warga sekitar.

Situ Gintung jadi salah satu kawasan yang kerap didatangi warga saat akhir pekan. Tak sedikit warga datang ke sana untuk berwisata bersama keluarga.Situ Gintung jadi salah satu kawasan yang kerap didatangi warga saat akhir pekan. Tak sedikit warga datang ke sana untuk berwisata bersama keluarga. (Andhika Prasetia/detikcom)

“Iya, kalau hari Minggu lebih ramai yang berolahraga di sini karena hari libur juga. Di depan ada pasar kaget, jadi sekalian habis jogging bisa jajan,” kata Rara, seorang mahasiswa yang sedang jogging santai di Situ Gintung pada Selasa (14/10) sore.

“Aku pilih hari ini (14/10/2025) karena kebetulan kuliah lagi libur dan nggak banyak orang, jadi aku bisa lebih leluasa larinya, dan jalur joggingnya bagus engga ada lobang-lobang,” Rara menambahkan.

Jalur jogging di Situ Gintung terbilang aman dan nyaman. Di sepanjang lintasannya, deretan pepohonan rindang membuat suasana terasa sejuk dan tidak terlalu panas.

Bagi detikers yang ingin berkunjung di Situ Gintung menggunakan kendaraan pribadi tak perlu khawatir karena tersedia area parkir di belakang Kampus UIN dengan tarif Rp 3 ribu.

2. Situ Bungur

Situ Bungur, CiputatSitu Bungur, Ciputat punya spot jogging, lho. Pas banget buat jalan kaki atau jogging di sini pagi atau sore hari. (Qonita Hamidah/detikcom)

Berbeda dengan Situ Gintung yang sudah lebih dulu populer, Situ Bungur menawarkan suasana yang lebih adem dan tenang. Saat sore hari, tak banyak orang yang datang untuk jogging. Berdasarkan pantauan detik travel, Kamis (14/10/2025), kawasan ini justru lebih sering dipenuhi oleh para pemancing, terutama di sore hari.

Situ Bungur terletak di Jalan Menjangan Raya, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Air danaunya tampak berwarna kehijauan, dengan beberapa tumpukan sampah di tepiannya. Jalur jogging di kawasan ini tergolong singkat dan tidak sepanjang lintasan di Situ Gintung.

“Setiap sore memang banyak pemancing di sini karena di danau ini ada ikan air tawar, seperti sapu-sapu dan nila kecil, dan biasanya kalau banyak ikannya ya 10 ekor lebih,” ujar Anwar, salah satu pemancing di Situ Bungur.

Sementara itu, Nisa, pengunjung yang rutin berolahraga di sana, mengaku memilih Situ Bungur karena lokasinya yang dekat dari rumah.

“Alasan saya jogging di Situ Bungur karena dekat dari rumah dan panjang lintasannya tidak jauh, sekitar 2 km,” kata dia.

Nisa juga berharap kawasan ini bisa lebih dikembangkan. “Harapan saya, Situ Bungur bisa menjadi tempat wisata. Karena kalau akhir pekan ramai, banyak pedagang, orang jogging dan datang untuk menyalurkan hobi mancing,” dia menambahkan.

Bagi detikers yang ingin berkunjung ke Situ Bungur menggunakan kendaraan pribadi, terutama motor, tidak perlu khawatir. Di area sekitar situ sudah tersedia lahan parkir untuk pengunjung dengan tarif Rp 2 ribu.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Jalan-Jalan Asyik dan Seru, Strolling Around Blok M



Jakarta

Blok M bukan hanya dikenal sebagai pusat belanja dan kuliner, tapi juga menyimpan banyak cerita sejarah dan sudut menarik yang jarang diketahui. Ada apa saja ya?

Melalui acara Strolling Around Blok M, detiktravel berkesempatan menelusuri destinasi ikonik bersama Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Selatan pada 25 September.

Berikut spot-spot yang kami singgahi saat berkeliling Blok M:

1. Masjid Al-Azhar

Masjid Agung Al-AzharMasjid Agung Al-Azhar (Yusuf Alfiansyah Kasdini)

Perjalanan menuju Masjid Al-Azhar, menggunaka bus menuju Stasiun Lebak Bulus dengan menempuh perjalanan 5 km melalui jalur arteri, dan menuju ke blok m memakai MRT lalu turun di Halte ASEAN. Tiba pukul 10.10 WIB. Jalan kaki menuju Masjid Al azhar selama 5 menit. Kemudian berkunjung ke Aula Buya Hamka.


Sebelum berubah menjadi nama Masjid Al-Azhar, dulunya masjid ini bernama Masjid Agung Kebayoran.

Masjid ini bersebelah dengan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), di dalamnya terdapat Aula yang sering digunakan untuk acara seperti, pernikahan, kegiatan kampus dan lainnya. Mimbar Masjid Al-Azhar terletak di lantai 2.

2. Sekretariat ASEAN

Gedung Sekretariat ASEAN diresmikan Jokowi hari ini. Sebelum menjadi gedung Sekretariat ASEAN, bangunan itumerupakan kantor Wali Kota Jakarta Selatan.Gedung Sekretariat ASEAN (Rengga Sancaya)

Tiba pukul 11.20 WIB berjalan dari Masjid Al-Azhar selama 5 menit. Dijelaskan oleh pemandu bahwa gedung Sekretariat ASEAN dibangun oleh orang yang sama dengan yang membangun gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

3. Perum Percetakan Uang RI (PERURI)

Peruri Blok MPeruri Blok M (Qonita Hamidah/detiktravel)

Peruri dibangun 1971 dengan saham milik negara. Peruri merupakan tempat mencetak uang koin, paspor, dan dokumen lainnya. Tak hanya mencetak uang Indonesia, Peruri dikabarkan juga mencetak mata uang Srilanka.

Peruri memiliki kompleks berbentuk kotak sampai Mbloc Space. Dalam komplek Peruri ini terdapat Masjid Palatehan yang diambil dari nama Pangeran Fatahillah tahun 1985.

Berdasarkan keterangan pemandu wisata dalam acara Famtrip Suku Dinas Pariwisata, sekarang gedung Peruri yang terletak di Jakarta, tepatnya di Jl. Pelatehan Kebayoran Baru Jakarta Selatan kini telah menjadi bangunan cagar budaya dan kantornya yang sekarang menjadi rumah dinas.

Kini, gedung ini sudah menjadi cagar baru dan kantornya dijadikan rumah dinas. Gedung Peruri sudah mengalami renovasi.

“Rumahnya terbengkalai karena biaya pajaknya mahal mencapai Rp 22 Milyar karena itu kan rumah zaman dulu” Kata Muti pemandu Famtrip.

5. Mbloc Space

Suasana berwisata di Mbloc Space.Suasana berwisata di Mbloc Space. (Rengga Sancaya/detikcom)

Area Mbloc Space sempat kosong selama 24 tahun, lalu kembali dibuka untuk umum 2019. Di Mblok Space terdapat kedai-kedai berbagai kuliner, juga artshop.

detiktravel dan rombongan mampir ke salah satu ruko kuliner, yaitu Suwe Ora Jamu. Kedai ini dimiliki oleh Ibu Novadina.

Suwe Ora Jamu menyuguhkan menu makanan yang beragam, mulai dari nasi ayam suwir, nasi ikan, dan menu lainnya yang dipadukan dengan lalapan sayur.

6. Taman Literasi Martha Christina Tiahahu

Pencanangan HUT ke-498 DKI Jakarta yang digelar sore ini di Taman Literasi, Blok M, Jakarta Selatan ramai dikunjungi masyarakat.Taman Literasi, Blok M, Jakarta Selatan (Brigitta/detikcom)

Taman ini dibangun bersamaan dengan dibangunnya halte CSW dan diresmikan pada 2021 oleh Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Dulu taman ini dinamakan Taman Martha Christina Tiahahu, namun diganti namanya menjadi Taman Literasi dengan harapan warga Jakarta dapat menemukan spot baca dan sebagai tempat pertemuan di tengah Kota.

Nama Martha Tiahahu diambil dari nama pahlawan perempuan asal Maluku. Ia, meninggal pada 1818 saat ditawan oleh Belanda. Di masa itu, dia melakukan protes dengan menolak makan. Setelah meninggal, mayatnya dibuang ke laut.

Pada 1969 Martha Tiahahu ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Di taman ini tak hanya tersedia tempat duduk-duduk, tetapi juga ada choffeshop. Kopi yang paling mahal adalah kopi gajah dari hasil fermentasi gajah. Harga 1 cangkir Rp 50 ribu.

7. Blok M Hub

Tenant Kuliner dari Negara ASEAN Ada di Blok M Hub(Blok M Hub) Diah Afrilian

Pada era 1990-an, Blok M terkenal sebagai tempat nongkrong warga Jakarta dan sekitarnya. Tujuan Blok M dibangun sebagai kawasan integrasi transportasi umum.

“Parkiran bus di sini (Blok M) dibuat untuk menggantikan parkiran blok A, zaman dulu berbayar 300 rupiah per hari,” kata Muti, pemandu famtrip Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

8. Blok M

Blok M diresmikan pada 1978, dibangun karena pada saat itu ada asosiasi travel legendaris dari Qatar yang menjadikan Blok M sebagai tempat singgah. Sebelum menyambut tamu dari Qatar, para pegawai di Blok M mendapatkan kelas bahasa Inggris untuk pemandu tamu-tamu dari Qatar.

9. Gang viral Blok M

Gang viral blok M berada di jalanan Blok M. Disebut gang viral karena tenant atau makanannya yang viral di media sosial.

Keviralannya dilihat dari bentuk toko yang unik seperti kursi dan mejanya yang berbentuk seperti tetesan air atau bantal, dan makanan kekinian.

10. Little Park Tokyo

Little Park Tokyo merupakan toko yang menjual makanan Jepang. Banyak barang dan makanan ekspor dari Jepang, ada festival matsuri untuk peringatan sejarah.

Pada zaman dulu Little Park 100 persen menjual makanan Jepang, namun sekarang hanya 10 persen saja pedagang yang menjual makanan Jepang.

Dari informasi pemandu dalam Famtrip Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pemilik Little Park Tokyo menginginkan cita rasa makanan khas Jepang yang belum pernah dicoba oleh lidah Indonesia. “Biar orang-orang di Jakarta yang ingin mencicipi rasa itu enggak harus ke Jepang,” kata si pemandu.

11. Blok M Square

Blok M SquareBlok M Square (Qonita Hamidah/detiktravel)

Blok M Square diresmikan pada zaman Gubernur Ali Sadikin. Di lantai 7 Blok M Square terdapat Masjid Nurul Iman. Masjid ini merupakan masjid terbesar di dalam mall.

Masjid Nurul Iman merupakan cita-cita dari Ali Sadikin dalam mewujudkan area pendidikan di area blok M. Ali Sadikin dijuluki sebagai bapak pembangunan Jakarta, karena pada saat menjabat Gubernur Jakarta, berhasil membangun Blok M menjadi salah satu pusat mall terbesar di Jakarta.

Ali Sadilkin menginginkan makanan di Blok M dikelilingi makanan tradisional. Karena itulah Blok M dipenuhi oleh para pedagang kuliner hingga saat ini.

Perjalanan singkat ini menunjukkan bahwa Blok M adalah kawasan yang memadukan sejarah, budaya, hingga gaya hidup modern Jakarta. Jadi, kalau mampir ke Jakarta Selatan, jangan lupa sempatkan waktu untuk menjelajahi serunya Blok M.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cara Menuju Perpustakaan Jusuf Kalla UIII dengan KRL dan TransJakarta


Depok

Perpustakaan Jusuf Kalla di Kompleks Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menjadi oase bagi pendamba keheningan di tengah ramainya Depok. Di sini kita bisa mengerjakan tugas, kerja, atau sekadar baca buku dari koleksinya yang mencapai ribuan buku. Kita bahkan bisa mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan di sini.

Bahkan perpustakaan ini bisa jadi destinasi liburan bareng keluarga atau healing sendirian. Buat detikers yang ingin ke perpustakaan Instagrammable dan cozy ini, berikut cara aksesnya dengan transportasi umum.

Perpustakaan Jusuf Kalla di Kampus UIIIPerpustakaan Jusuf Kalla di Kampus UIII (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

Mode transportasi umum jadi pilihan buat yang ingin liat salah satu perpustakaan terbesar di area Jabodetabek ini


TransJakarta

Jika memilih naik TransJakarta, detikes bisa naik jurusan Flyover Raya Bogor. Berikut beberapa pilihannya:

  • Rute 7B Kampung Rambutan-Blok M
  • Rute 7E Kampung Rambutan-Ragunan
  • Rute S22 Ciputat-Kampung Rambutan.

Perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan angkutan kota (angkot) nomor D37, lalu turun di depan kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Perjalanan juga bisa dilanjutkan dengan angkutan online.

KRL

Bagi detikers yang pilih KRL bisa turun di Stasiun Depok. Selanjutnya, detikers naik kendaraan online menuju Perpustakaan Jusuf Kalla UIII. Jarak Stasiun Depok-Perpustakaan Jusuf Kalla UIII sekitar 9 km dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit.

Lokasi Perpustakaan Jusuf Kalla UIII

Perpustakaan Jusuf Kalla UIII beralamat di Jalan Raya Bogor Km 33 Nomor 5, Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat. Akses menuju perpustakaan bisa melalui gerbang utama kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Perpustakaan Jusuf Kalla berada di sisi kanan Gedung Joko Widodo di area kompleks UIII Depok.

detikTravel sempat mengunjungi perpustakaan pada Rabu (8/10/2025) siang. Di sini, detikers akan merasakan suasana tenang dan sejuk kontras dengan cuaca Depok yang sangat panas. Suasana di perpustakaan ini cukup ramai, namun tetap tenang saat hari kerja.

Koleksi Buku Perpustakaan Jusuf Kalla UIII

Perpustakaan Jusuf Kalla di Kampus UIIIPerpustakaan Jusuf Kalla di Kampus UIII (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

Perpustakaan 8 lantai ini memiliki koleksi ribuan buku dengan genre dan pengaturan sebagai berikut:

  • Buku ilmu komputer dan sistem informasi di rak 000
  • Buku filsafat dan psikologi di rak 100
  • Buku agama di rak 200
  • Buku tentang Islam, Babism, dan Bahai Faith di rak 297
  • Buku bahasa di rak 400
  • Buku ilmu pengetahuan di rak 500
  • Buku seni dan rekreasi di rak 700
  • Buku literatur di rak 800
  • Buku sejarah dan geografi di rak 900.

Semua koleksi buku bisa diakses kecuali yang dalam pengawasan pengelola. Pengunjung tentunya harus melakukan registrasi lebih dulu dan membayar tarif masuk sebesar Rp 10 ribu. Setelah itu, traveler akan mendapatkan voucher Wi-Fi perpustakaan dengan kode unik dan kalung pengenal dari petugas.

Barang bawaan pengunjung bisa disimpan dalam loker yang tersedia di lantai 1. Pengunjung tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman ke dalam ruang baca, kecuali air putih. Selama di ruang baca, pengunjung diharapkan tidak ribut dan menjaga ketenangan.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com