Tag Archives: karangasem

Nikmati Keindahan Laut dari Ketinggian di Bukit Asah, Cantik Tak Ada Duanya



Karangasem

Keindahan alam di Bali timur tak pernah ada habisnya. Jika bosan menikmati pemandangan dari dataran rendah, traveler wajib mencoba ke Bukit Asah.

Berlibur ke Bali timur tak akan kehabisan destinasi menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Bukit Asah. Bukit Asah cocok mendapat julukan harta karun tersembunyi di Bali Timur.

Sebuah bukit indah yang berada di Pantai Perasi atau Virgin Beach. Destinasi ini kerap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan yang berlibur ke Bali timur. Dari Bukit Asah traveler dapat menikmati pemandangan laut biru dari ketinggian.

Daya Tarik Bukit Asah

Dengan pemandangan indah yang disajikan, Bukit Asah adalah spot instagramable yang menyuguhkan pemandangan hamparan bukit yang hijau dan air pantai yang biru terang.

Bukit Asah yang letaknya jauh dari pusat kota membuat destinasi ini menjadi pilihan yang sip bagi traveler yang ingin mencari ketenangan dan menjauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Letaknya yang ada di atas laut membuat traveler bisa menikmati keindahan Virgin Beach dengan pasir putihnya yang cantik dari ketinggian.

Bagi traveler yang ingin menikmati sensasi berbeda, disarankan untuk datang di sore hari sembari menikmati keindahan matahari terbenam dari atas Bukit Asah.

Aktivitas Menarik untuk Menghabiskan Waktu di Bukit Asah

1. Kemah

Bagi traveler yang ingin menikmati keindahan Bukit Asah dalam waktu lama, traveler bisa melakukan kegiatan kemah di sekitar Bukit Asah. Terdapat beberapa jenis tenda yang dapat traveler pilih, mulai dari medium tent, VIP tent, Dome, dan Glamping. Untuk berkemah di Bukit Asah traveler dikenakan biaya sewa tenda mulai dari Rp 170 ribu hingga Rp 440 ribu.


2. Duduk Menikmati Pantai

Bukit Asah terletak di dataran tinggi tepat di atas Virgin Beach yang memiliki hamparan berpasir putih. Wilayah yang berbatasan langsung dengan laut membuat bukit asah menjadi destinasi yang tepat untuk menikmati keindahan pantai.

Dari bukit traveler bisa menikmati pemandangan hamparan laut biru dan pasir putih yang indah. Ditemani dengan deburan ombak dan angin yang sejuk. Sip banget buat healing!

3. Bermain Ayunan

Traveler yang berkunjung ke Bukit Asah akan menemukan ayunan di batang pohon besar. Bukan ayunan biasa, saat bermain ayunan traveler bisa sembari menikmati pemandangan laut biru dan Gunung Agung yang memanjakan mata.

4. Prewedding

Tak hanya berfoto biasa, traveler bisa mengabadikan momen spesial di Bukit Asah. Traveler bisa melakukan sesi prewedding dengan latar belakang pemandangan yang indah. Paket prewedding dikenakan biaya Rp 3,5 juta.

Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Masuk

Bukit Asah buka setiap hari selama 24 jam. Terletak di Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem Bali, untuk sampai ke destinasi ini traveler perlu menempuh perjalanan sekitar 1 jam 45 menit hingga 2 jam dari Kota Denpasar.

Untuk menikmati keindahan alam dari Bukit Asah tak akan membuat kantong Bolong. Cukup dengan Rp 10 ribu traveler sudah bisa menikmati dua destinasi sekaligus, yaitu Bukit Asah dan Virgin Beach.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Unik! Museum Sanghyang Dedari, Simpan Cerita Magis Tarian Penolak Bala



Karangasem

Museum Sanghyang Dedari menyimpan berbagai cerita magis di balik tarian sakral Sanghyang Dedari. Mulai dari properti hingga proses pementasan.

Museum ini bisa terbilang hidden gem. Berlokasi di Banjar Dinas Geriana Kauh, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, museum ini menyuguhkan tema yang unik dengan mengangkat tarian sakral bernama Sanghyang Dedari.

Menurut Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, Museum Sanghyang Dedari, merupakan sarana edukasi bagi generasi muda tentang Tari Sanghyang Dedari, mulai dari properti yang digunakan hingga proses atau ritual pementasan.

“Museum ini sebagai pusat pembelajaran tentang keberadaan Tari Sanghyang di Bali. Ritual Sanghyang yang keberadaanya sudah sedikit, jadi di museum ini kita bisa melestarikan,” ujarnya.

I Nyoman Subrata menyebut Tari Sanghyang Dedari bermakna sebagai penolak bala. Tarian ini sudah diwarisi secara turun temurun. Menurut cerita, Tarian Sanghyang Dedari sudah ada sejak zaman pra-Hindu.

“Tarian ini adalah sebuah proses penurunan roh dewa dewi yang kemudian memberikan anugerah kepada warga khususnya petani. Sesuai makna dan fungsi, tarian ini sebagai penolak bala. Khususnya bagi petani agar padi mereka bisa tumbuh subur,” ujar dia.

Inspirasi Museum Sanghyang Dedari bermula ketika pengabdian masyarakat dari mahasiswa UI yaitu Ibu Saras Dewi yang melakukan riset terkait Tari Sanghyang Dedari. Kemudian, pada 2016 disepakati dan turun pendanaan untuk membangun museum ini. Museum Sanghyang Dedari resmi dibuka pada 2019.

“Ide awal itu dari pengabdi UI itu, setelah melakukan riset dan berhasil. Akhirnya terbesit untuk melakukan sesuatu untuk melestarikan kembali ritual sakral ini,” kata Subrata.

Jika dilihat dari konsepnya, Museum Sanghyang Dedari adalah museum yang unik. Hingga saat ini, museum ini adalah satu-satunya museum yang menyajikan dengan lengkap terkait Tari Sanghyang Dedari yang sakral.

Belum banyak yang tau, Tari Sanghyang Dedari merupakan salah satu ritual penanaman padi taun. “Keunikan dari museum ini, anda bisa melihat koleksi tentang keberadaan ritual Sanghyang Dedari, khususnya dengan petani yaitu penanaman padi taun, yang merupakan padi khas desa di sini,” kata Subrata.

Kaitan Tari Sanghyang Dedari, yang sangat erat dengan proses penanaman padi taun, membuat di dalam museum ini traveler juga bisa melihat aneka peralatan pertanian tradisional yang lengkap. Contohnya seperti alat pemotong padi bernama ani-ani.

Pementasan Tari Sanghyang Dedari hanya dipentaskan pada saat ritual tertentu dan hanya dipentaskan di Desa Adat Geriana Kauh. I Nyoman Subrata menyebut tak menutup kemungkinan bagi traveler untuk menyaksikan pementasan Tari Sanghyang Dedari. Bagi traveler yang tertarik bisa berkunjung ke museum ini pada bulan April.

“Sangat boleh sekali ditonton, tapi harus mengikut aturan. Minimal menggunakan adat madya, pakaian yang menutupi dan pakai selendang,” kata Subrata.

Kaitan Tari Sanghyang Dedari yang sangat erat dengan proses penanaman padi taun, membuat di dalam museum ini traveler juga bisa melihat aneka peralatan pertanian tradisional yang lengkap.

Bagi traveler yang tertarik berkunjung ke Museum Sanghyang Dedari, hingga saat ini pengelola tidak mematok biaya tiket masuk, namun menerapkan sistem donasi.

Tak perlu khawatir, jika berkunjung ke sini traveler akan ditemani langsung dengan guide atau petugas dari yayasan yang akan menemani traveler berkeliling di sini. Traveler bisa berkunjung ke Museum Sanghyang Dedari setiap hari mulai pukul 08.00 – 16.00 WITA.

Museum Sanghyang Dedari juga akan mengembangkan pembangunan Balai Budaya. I Nyoman Subrata menjelaskan bahwa Balai Budaya nantinya akan digunakan untuk kegiatan anak-anak dalam mengembangkan bakatnya. Seperti menari dan mempelajari ritual gending Sanghyang.

(fem/iah)



Sumber : travel.detik.com

Museum Sanghyang Dedari di Bali Muncul Berkat Ide Mahasiswa UI



Karangasem – Museum Sanghyang Dedari merupakan salah satu museum unik, menyuguhkan ritual Sanghyang Dedari. Namun, siapa sangka, awal mula museum ini adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang melakukan penelitian.

Bukan soal benda bersejarah, Museum Sanghyang Dedari ternyata menyimpan berbagai cerita dari Tari Sanghyang Dedari yang sangat sakral. Traveler akan menemukan berbagai properti yang digunakan pada ritual tari ini. Tak hanya itu, proses pementasan pun dijelaskan secara detail.

Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, menjelaskan pendirian Museum Sanghyang Dedari berawal dari mahasiswa UI bernama Saras Dewi. Dia melakukan riset terkait Tari Sanghyang.

“Awal mula didirikan museum ini, diawali oleh pengabdian masyarakat mahasiswa UI bernama Saras Dewi pada 2016. Beliau melakukan riset terkait Tari Sanghyang ini,” kata dia.

Museum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, BaliMuseum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti)

Pendirian Museum Sanghyang Dedari mulanya bertujuan untuk melestarikan Tari Sanghyang Dedari yang hampir punah. Pelestarian ini dilakukan pada naskah-naskah terkait Tari Sanghyang Dedari.

Akhirnya, pada 2016 dilakukan diskusi dan kesepakatan untuk membangun museum ini. Subrata menyebut pembangunan Museum Sanghyang Dedari didanai oleh pemerintah dan berkolaborasi dengan Desa Adat Geriana Kauh.

Pembangunan Museum Sanghyang Dedari sempat terhenti pada tahun 2017 karena terjadi bencana alam gunung meletus. Walau sempat terhenti, akhirnya Museum Sanghyang Dedari dibuka secara resmi pada tahun 2019.

Menurut riset yang dilakukan oleh Saras Dewi, terdapat 25 jenis Tari Sanghyang, namun hingga saat ini tidak banyak lagi ritual Sanghyang yang ada di Bali. Salah satu yang masih eksis adalah Tari Sanghyang Dedari.

Sebagai kekayaan budaya Desa Adat Geriana Kauh, Subrata berharap museum ini menjadi daya tarik wisata dan memberikan imbas positif khususnya dalam bidang ekonomi untuk masyarakat desa.

“Saya dan warga desa berharap ini bisa dijadikan daya tarik untuk desa. Bisa memberikan imbas positif khususnya bidang ekonomi bagi warga desa. Mengingat kondisi desa kami yang hanya berjarak 9 kilometer dari puncak Gunung Agung,” kata Subrata.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Destinasi Wisata Pulau Nusa Penida



Jakarta

Kendati tidak luas, Nusa Penida memiliki banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Bukan cuma aktivitas laut, seperti snorkeling atau diving yang bisa dinikmati, masih terdapat beberapa yang asyik buat dinikmati lho.

Untuk menuju Nusa Penida, traveler hanya perlu 45 menit dari Pelabuhan Sanur, Bali. Sebetulnya masih dua pulau lainnya yang sama, Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Namun yang lebih banyak dikunjungi adalah Pulau Nusa Penida.

Apa saja sih tempat wisata yang bisa dikunjungi di Nusa Penida, berikut di antaranya.


1. Angle Billabong

Angel's Billabong dan Broken Beach, Nusa Penida, Klungkung, BaliAngel’s Billabong dan Broken Beach, Nusa Penida, Klungkung, Bali (Masaul/detikTravel)

Berada di Desa Sakti bongkahan karang-karang alami yang indah juga terdapat pertemuan antara air laut dan juga air tawar. Spot tebing karang-karang ini menjadi spot indah untuk mengabadikan foto dengan background ciamik.

2. Bukit Tanglad

Bukit ini juga dikenal dengan Bukit Teletubbies. Ya, disebut seperti itu karena terdapat beberapa bukit serupa dengan yang ada dalam acara Teletubies.

Di sini wisatawan selain disuguhkan dengan bebukitan dan rumput hijau yang menyelimutinya, juga bisa melihat lautan biru dari atas bukit.

3. Air Terjun Seganing

Di air terjun yang berada di Dusun Sebuluh ini memiliki beberapa kolam-kolam kecil yang bertaburan memperindah kawasan di bawah hujaman airnya. Jadi wisatawan yang berkunjung ke Air Terjun Seganing bisa berendam dan bermain air di kolam-kolam alam itu.

4. Goa Giri Putri

Gua Giri Putri adalah gua sakral yang kerap digunakan oleh warga sekitar sebagai tempat beribadah, selain itu berbagai kegiatan upacara keagamaan juga dilakukan di sini.

Gua Giri Putri ini memiliki keindahan di dalamnya, hiasan alam berupa stalaktit dan stalagmit jadi daya tarik gua sakral ini.

5. Pelabuhan Tanah Ampo

Dermaga Tanah AmpoDermaga Tanah Ampo (Google maps)

Pelabuhan tak beres ini adalah pelabuhan yang dicanangkan sebagai pelabuhan untuk menyambut kapal-kapal pesiar mewah. Namun berjalannya waktu, pembangunan pelabuhan untuk tujuan itu belum juga usai.

Berada di Kabupaten Karangasem, Pelabuhan Tanah Ampo bisa dikunjungi bagi wisatawan yang ingin lepas sejenak dari keramaian manusia di pulau wisata ini dan jadi spot foto estetik.

6. Desa Adat Dalem Sentra Batununggul

Bukan hanya keindahan alamnya saja yang dijual oleh Pulau Nusa Penida ini, budaya yang kental juga menjadi sebuah atraksi wisata yang bisa wisatawan nikmati.

Di Desa Adat Dalem Sentra Batununggul ini wisatawan bisa menyaksikan gelaran Barong and Keris Dance yang bisa dihelat satu minggu sekali pada hari Jumat.

7. Goa Jepang Klungkung

Selain budaya yang bisa dijelajadi di Nusa Penida, sejarah pulau ini juga cocok untuk ditelusuri melalui peninggalannya. Goa Jepang yang dipakai kala Perang Dunia II oleh pasukan Jepang untuk berlindung dari serbuan tentara sekutu.

Masih banyak lagi tempat yang bisa dijelajahi di pulau ini, banyak wisatawan hanya berkunjung sehari saja untuk menikmati tempat ini. Akan lebih afdol untuk beberapa hari menikmati keindahan pulau ini, yuk cek tanggal dan siapkan waktu untuk menjajal destinasi-destinasi di Nusa Penida.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Gereja Katolik Tertua di Pulau Dewata



Badung

Meski mayoritas beragama Hindu, tetapi ada juga penganut agama Katolik di Bali. Bahkan, ada gereja Katolik tertua di Pulau Dewata. Simak kisahnya berikut ini:

Di sudut Desa Tuka, Dalung, Kuta Utara, Badung, berdiri sebuah gereja megah bernama Gereja Tritunggal Mahakudus. Gereja ini bukan sekadar tempat ibadah umat Katolik, tetapi juga saksi sejarah panjang interaksi budaya dan kepercayaan agama di Bali.

Berusia 87 tahun, katedral ini memiliki daya tarik unik melalui arsitekturnya yang kental dengan nuansa Bali.


Desa Tuka dikenal sebagai desa pertama di Bali yang menerima ajaran Katolik. Tokoh masyarakat setempat, I Gusti Ngurah Bagus Kumara, mengisahkan bahwa leluhur mereka yang sebelumnya beragama Hindu mulai memeluk Katolik pada awal abad ke-20.

Pada tahun 1937, umat Katolik di Tuka membangun sebuah gereja kecil yang sederhana di sebelah barat desa, dengan bantuan seorang Hindu bernama I Gusti Made Rai Sengkug dari Banjar Pendem, Dalung.

“Beliau seorang asli Hindu,” tutur Ngurah Bagus Kumara, ditemui di gereja, Rabu (25/12/2024).

Namun, pada tahun 1983, gereja ini dipindahkan ke lokasi baru di timur desa. Relokasi ini tidak hanya memberikan ruang yang lebih luas tetapi juga menjadi momen penting untuk merevitalisasi arsitektur gereja dengan konsep khas Bali.

Bangunan gereja yang baru pun diresmikan pada tahun 1987 oleh Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra.

Terinspirasi dari Pura Besakih

Dalam proses perancangan gereja baru, tokoh-tokoh Tuka terinspirasi oleh keindahan dan kekuatan simbolik Pura Agung Besakih di Karangasem.

“Dulu kami memutuskan bangunan gereja ini harus benar-benar yang bernilai Bali kuat. Dari sekian yang ada, di mana yang pas. Corak bangunan khas apa yang cocok. Lalu kami berpikir untuk mengadopsi gaya wantilan,” ujar pria yang saat ini sedang menyusun buku tentang sejarah kekatolikan di Bali.

Mereka ingin bangunan gereja ini mencerminkan identitas Bali. Ide untuk mengadopsi desain wantilan – bangunan tradisional Bali yang biasa digunakan untuk pertemuan – menjadi landasan utama desain gereja.

Atap gereja dibuat tinggi berbentuk limas segi empat menyerupai wantilan, sementara pintu masuknya dirancang dengan gaya angkul-angkul Bali lengkap dengan dua pintu kecil di kiri dan kanan.

Bagian tengah gereja diperkuat oleh pilar-pilar kayu berukir yang di Bali dinamai adegan. Jumlahnya 41 tiang, ditambah empat tiang beton besar sebagai penopang utama.

Bangunan gereja dirancang secara terbuka menyesuaikan konsep wantilan Bali. Secara keseluruhan, bangunan ini mampu menampung lebih dari 500 orang jemaat.

Makna Filosofi Gereja

Bagian altar gereja dihiasi dengan ukiran kayu dan dinding dari bata merah serta batu padas. Sebuah pintu kayu di altar menjadi akses menuju ruang penyimpanan benda-benda sakral seperti salib dan tabernakel, yang memiliki fungsi serupa dengan gedong pasimpenan dalam tradisi Hindu Bali.

Di atas altar, terdapat aksara Bali bertuliskan ‘Ene anggan manira, ene rah manira’ yang berarti ‘Inilah tubuhku, inilah darahku.’

Ngurah Bagus Kumara, yang kini tengah menyusun buku tentang sejarah kekatolikan di Bali, menjelaskan bahwa ungkapan ini menekankan ketulusan dan pengorbanan, nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam iman Katolik maupun budaya Bali.

Merayakan Natal dengan Nuansa Budaya Bali

Pada perayaan Natal tahun ini, suasana khidmat terasa menyelimuti Gereja Tritunggal Mahakudus. Yang menarik, banyak umat Katolik di Tuka tetap mengenakan pakaian adat Bali saat beribadah.

Menurut Ngurah, tradisi ini bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap leluhur tetapi juga simbol kecintaan terhadap budaya.

Pemakaian udeng melambangkan penjernihan pikiran, sementara kamen yang dilipat dengan kancut melambangkan penghormatan terhadap ibu pertiwi.

“Bentuk hormat terhadap ibu pertiwi dikuatkan dengan kancut yang dibentuk mengerucut ke bawah saat melipat kamen. Nilai-nilai itu yang kami tanamkan,” jelas Ngurah.

Hiasan khas Bali seperti gebogan dan penjor pun turut memperindah gereja, mencerminkan kebahagiaan dan suka cita menyambut kelahiran Yesus Kristus.

Dengan perpaduan iman dan budaya yang begitu harmonis, Gereja Tritunggal Mahakudus Tuka tak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga simbol keberagaman yang kaya makna.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com