Tag Archives: kecamatan sawah besar

Eksplorasi Sejarah di Pasar Baru, Cek 4 Bangunan Ikonik di Sana


Jakarta

Pasar Baru bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang buat traveler di Jakarta. Ada apa saja ya?

Ternyata di pusat perbelanjaan tradisional yang legendaris di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu tersimpan banyak cerita menarik tentang masa kejayaannya sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta.

Traveler bisa merasakan nuansa kolonial yang masih terasa kental sambil menelusuri bangunan-bangunan bersejarah, toko-toko tua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Selain itu, jejak-jejak penting yang mencerminkan perjalanan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kota ini dari masa ke masa.


Setidaknya terdapat empat bangunan bersejarah di kawasan Pasar Baru yang ditetapkan oleh Anies Baswedan, di antaranya ialah Vihara Sin Tek Bio, Toko Tio Tek Hong, bangunan Toko Kompak dan bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Berikut empat bangunan bersejarah di Pasar Baru:

1. Vihara Sin Tek Bio

Umat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek BioUmat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek Bio (Tsarina Maharani/detikcom)

Vihara Sin Tek Bio dengan nama Vihara Dharma Jaya merupakan salah satu vihara yang menjadi bagian dari sejarah di Jakarta diperkirakan sejak 1698. Terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, wihara itu menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Ibu Kota.

Vihara Sin Tek Bio menjadi pusat spiritual sekaligus simbol penting bagi masyarakat Tionghoa yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Di dalam vihara ini, terdapat beberapa altar pemujaan yang dihiasi dengan beberapa patung dewa-dewa dan leluhur, menambah suasana sakral dan penuh khidmat di setiap sudut ruangan.

Wihara ini didominasi oleh nuansa merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara lilin-lilin besar yang terus menyala memenuhi ruangan utama, menyebarkan cahaya hangat dan menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam, di mana umat datang untuk berdoa, memohon berkah, dan mencari ketenangan batin.

“Banyak jemaat datang dari mana-mana, jika nanti masuk banyak sekali dewa-dewanya karena disumbangkan dari si jemaat-jemaat itu. Tapi, setiap klenteng itu punya dewa utama. Nah, dewa utama di sini yang diangkat sebagai tuan rumahnya. Ini adalah dewa bumi, kenapa dewa bumi, karena ada hubungan dengan pendiri-pendirinya adalah petani karena petani mereka berdoa ke dewa bumi supaya subur,” kata Farid Mardhiyanto, cofounder Jakarta Good Guide, pada Sabtu (5/10/2024).

“Altar utama itu yang di tengah. Biasanya kalau jemaat sembahyang, pertama di altar itu untuk menaruh dupa, kemudian itu yang kedua yang altar utamanya si tuan rumahnya. Itu wajib. Kemudian, barulah mereka berkeliling untuk milih dewa Kwan Im, dewa kesehatan, dewa jodoh kah, keberuntungan kah dan sebagainya,” Farid menambahkan.

Walaupun Pasar Baru kini dipadati oleh gedung-gedung, toko-toko yang menjual barang-barang dan elektronik, serta kafe kontemporer Vihara Sin Tek Bio tetap mempertahankan kesederhanaan dan keagungannya. Banyak orang yang mengunjungi vihara ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan sentuhan sejarah di setiap sudut vihara.

2. Toko Tio Tek Hong

Toko Tio Tek Hong ditetapkan melalui Kepgub Nomor 239 tahun 2022 dan diperkirakan sudah ada sejak 1900. Toko Tio Tek Hong didirikan oleh Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang inovatif.

Pada saat itu, Batavia sedang berkembang sebagai pusat perdagangan yang ramai, dengan pengaruh kolonial Belanda yang kuat. termasuk Tio Tek Hong memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang melayani kebutuhan masyarakat luas.

“Nah toko Tio Tek Hong pertama didirikan oleh beliau, gedung itu berubah menjadi toko populer. Dulu adalah toko Tio Tek Hong. Dia jual yang pertama alat kelontong sampe kemudian akhirnya beliau menjual chronograph, dan juga gramofon, dan piringan hitam,” kata Farid.

“Kemudian, pada 1940-an gedung itu dijual karena Tio Tek Hong mulai turun gara-gara krisis ekonomi. Akhirnya, beliau mulai menjual tokonya, terus kemudian balik nama. Tokonya dibeli oleh perusahaan rekaman dan di situlah tempat direkam pertama kalinya lagu Indonesia Raya. Jadi lagu Indonesia Raya direkam ke piringan hitam untuk pertama kalinya di rekaman toko populer ini. Namun, kepemilikan bukan Tio Tek Hong lagi,” ujar Farid.

3. Toko Kompak

Bangunan bersejarah itu didirikan di kawasan Jalan Pasar Baru, No 18A, Jakarta Pusat. Selain sejarah, bangunan itu memiliki daya tarik arsitektur yang kuat.

Bangunan itu dikenal dengan nama Sin Siong Bouw, kemudian diganti menjadi Toko Kompak akibat kebijakan pelarangan nama Tionghoa. Bangunan itu merupakan contoh arsitektur China selatan asli dengan interior warna merah.

Dikutip dari banner dipajang di besi Toko Kompak, bangunan itu didirikan pada abad ke-19, bahkan lebih tua dari Pasar Baru. Toko ini dahulu merupakan kediaman Majoor der Chinezen keempat Batavia yaitu (Tio Tek Ho).

4. Bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

Dikutip dari buku ‘Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Mut Romusha 1944-1945’ ditulis oleh J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki pertama kali didirikan pada tahun 1888. Pendirinya merupakan peneliti dari Belanda yang populer pada saat itu yaitu Christiaan Eijkman.

Bangunan Lembaga Eijkman terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan berarsitektur kolonial ini awalnya lembaga ini berfokus pada penelitian penyakit tropis seperti malaria, beri-beri, dan kolera.

Temuan penting Eijkman mengenai penyebab dan pencegahan penyakit beri-beri hingga soal asal-usul manusia Indonesia. Memberikan beberapa sumbangsih penelitian di bidang biologi dan kedokteran.

Selama pandemi COVID-19, LBM Eijkman memainkan peran penting dalam penelitian terkait virus covid-19 dengan pengembangan vaksin Merah Putih. Namun, pada 2022, lembaga ini mengalami restrukturisasi, dan fungsinya digabungkan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu ketua BRIN Dr Laksana Tri Handoko, M.Sc.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Berkunjung ke 5 Masjid Terbesar di Indonesia



Jakarta

Ramadan hitungan hari. Traveler bisa nih merancang wisata religi dengan berkunjung ke 5 masjid terbesar di Indonesia.

detikcom telah merangkum, Senin (24/2/2025) lima masjid terbesar di Indonesia yang bisa dikunjungi saat Ramadan nanti.

1. Masjid Istiqlal


Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, menyediakan 4.000 hingga 6.000 boks takjil gratis setiap hari. Masyarakat yang ingin mendapatkan takjil tersebut bisa mendatangi Masjid Istiqlal setiap hari saat berbuka puasa, Selasa (12/3/2024).Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat Foto: Pradita Utama

Masjid Istiqlal beralamat di Jl Taman Wijaya Kusuma, Ps Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat. Masjid ini sangat strategis karena berada di pusat kota. Letaknya berdampingan dengan Gereja Katedral di Kecamatan Sawah Besar untuk menunjukkan bentuk kerukunan beragama.

Masjid Istiqlal memiliki luas bangunan 2,5 hektare di atas tanah 9,8 hektare dengan kapasitas jamaahnya sendiri mencapai sekitar 100.000 orang.

Biasanya, selama Ramadan, Masjid Istiqlal menjadi salah satu destinasi wisata religi untuk ngabuburit di Jakarta. Setelah melihat kemegahannya, kamu juga bisa ikut berbuka bersama gratis di masjid bersama jamaah lain.

2. Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS) menjadi masjid nomor 2 terbesar di Indonesia setelah Masjid Istiqlal. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 11,2 hektar serta mampu menampung hingga 60.000 jamaah.

Lokasinya berada di Jalan Masjid Al Akbar Timur Nomor 1, Pagesangan, Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya. Bangunan masjid sangat mudah dikenali karena kubahnya yang besar dan megah berwarna kebiruan.

Daya tarik dari masjid ini terletak pada kubahnya yang berbentuk oval. Kubah besar dan megah ini berwarna kebiruan ditambah aksen diagonal yang saling menyilang berwarna hijau muda.

Selain kubah, adapun menara setinggi 99 meter yang merepresentasikan 99 Asmaul Husna. Sementara, bangunan mihrab memiliki motif batik pada bagian sisinya.

Selain sebagai tempat ibadah, MAS memiliki fasilitas yang lengkap. Di antaranya seperti taman, green house, urban farming, edu park, dan grand ballroom.

3. Masjid Islamic Centre

Masjid Islamic Center ini berada di Kecamatan Samarinda Ilir, Kalimantan Timur. Masjid yang diresmikan pada Juni 2008 ini memiliki luas sekitar 43.500 meter persegi.

Luasnya ini menjadikan Masjid Islamic Centre mampu masuk dalam jajaran masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dengan luasnya bangunan, masjid tersebut dapat menampung jemaah sekitar 40.000-45.000 orang.

Arsitektur Masjid Islamic Center Samarinda sangat detail. Terdapat tujuh buah menara yang terdiri atas satu menara utama dan enam anak menara lainnya. Induk menara memiliki tinggi 99 meter yang menyimbolkan Asmaul Husna. Selain itu, ketika memasuki bangunan utama masjid, jamaah akan melewati 33 anak tangga yang sama seperti jumlah biji tasbih.

4. Masjid Raya Baiturrahman, Aceh

Masjid Raya Baiturrahman di Banda AcehMasjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh Foto: (Syanti/detikcom)

Liburan ke negeri Serambi Mekkah saat Ramadan juga bisa jadi pilihan nih, Kamu bisa berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang menjadi kebanggaan orang Aceh ini, arsitekturnya bercorak eklektik dan mampu menampung sekitar 30.000 jemaah.

Masjid yang didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607-1636 itu menjadi saksi bisu pahit getirnya warga Aceh melawan Belanda, pergolakan pasca kemerdekaan, bencana gempa dan tsunami, hingga perjanjian damai GAM-RI. Masjid yang berdiri sekarang merupakan pengganti dari masjid raya yang telah Belanda bakar saat menaklukkan Aceh.

Kapten de Bruijn, Komandan Zeni Angkatan Darat Tentara Kerajaan Belanda merupakan arsitek masjid ini. Ia berkonsultasi dengan Snouck Hurgronje, orientalis kepercayaan pemerintah Belanda dan penghulu masjid Bandung, Jawa Barat.

Saat ini, dengan berlakunya syariat Islam, Masjid Baiturrahman dinyatakan sebagai kawasan terbatas. Hanya pengunjung yang menutup aurat, sesuai hukum syariat yang boleh masuk ke dalam masjid.

5. Masjid Al-Jabbar, Bandung

Suasana Masjid Raya Al Jabbar saat salat Idul AdhaSuasana Masjid Raya Al Jabbar Foto: Wisma Putra/detikJabar

Masjid Al-Jabbar, Bandung telah menjadi primadona di Jabar sejak diresmikan pada Desember 2022. Masjid Al Jabbar terletak di Jl. Cimincrang No.14, Cimenerang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat.

Masjid ini dibangun di tanah seluas 25 hektare dan mampu menampung 30.000 jemaah, dengan rincian 10.000 orang di area dalam (indoor) dan 20.000 orang di area plaza. Proses perancangan dimulai pada 2015 oleh Ridwan Kamil yang semasa itu menjabat sebagai Walikota Bandung.

Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat. Bangunan utama masjid tidak memisahkan dinding, atap, dan kubah, melainkan hasil peleburan ketiganya menjadi satu bentuk setengah bola raksasa.

Ketiga sisi bangunan masjid dikelilingi sebuah danau besar yang ibarat cermin, merefleksikan masjid menjadi berbentuk bulat utuh. Keindahan danau memiliki fungsi penting lain, sebagai retensi banjir sekaligus penyimpan air.

Bangunan utama dirancang dengan luas lantai 99 x 99 m2 sesuai angka Asmaul Husna. Kelak, semua yang sudah terbangun di Masjid Raya Al Jabbar seperti museum, danau, plaza, dan taman-taman akan membuat masjid ini tidak hanya memiliki fungsi ibadah, tetapi juga fungsi edukasi dan berpotensi sebagai pusat wisata religi Jawa Barat.

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com