Tag Archives: kediri

Jam Buka dan Harga Tiket Masuknya 2024


Jakarta

Kediri menawarkan berbagai pilihan destinasi tak kalah menarik dengan destinasi lainnya di Jawa Timur, termasuk wisata ramah anak.

Hal ini akan menambah pengalaman liburan traveler lebih berkesan. Jelajahi rekomendasi pilihan wisata Kediri untuk anak berikut ini.

Wisata Kediri untuk Anak-anak

1. Dunia Candy


Di Kabupaten Kediri ada tempat wisata yang ramah anak dan cocok untuk wisata keluarga. Namanya Wisata Dunia Candy.Dunia Candy destinasi siwata yang ramah anak dan cocok untuk wisata keluarga. (dok.Instagram @wisataduniacandy

Dunia Candy adalah pilihan wisata Kediri untuk anak yang didesain penuh warna warni layaknya permen. Sesuai namanya, sejatinya Dunia Candy adalah pabrik permen yang ada di Kediri.

Berbagai wahana bermain seperti playground, kereta kelinci, bianglala, hingga mandi bola pun ada. Selain bermain dan berfoto di bangunan-bangunan yang lucu, traveler dan si kecil juga bisa melihat langsung bagaimana proses pembuatan permen.

  • Alamat: Jl. Raya Kediri No 444, Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.
  • Jam Operasional: Weekday: 08.00-17.00 WIB dan Weekend: 08.00-20.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Weekday Rp 12.000 dan Weekend Rp 15.000.

2. Kampung Indian Kediri

Kampung Indian KediriKampung Indian Kediri. (Andhika Dwi/detikTravel)

Wisata Kampung Indian merupakan wisata Kediri yang terletak di bawah area lereng Gunung Kelud. Tak heran jika, kita akan merasakan udara sejuk dengan, suasana pedesaan yang asli.

Sesuai namanya, objek wisata ini merupakan replika perkampungan suku indian, lengkap dengan bangunan dan tampilan tari khasnya. Di sini, pengunjung juga bisa menyewa pakaian dan aksesoris khas Indian.

Banyak orang juga yang melakukan outbound anak kecil hingga dewasa dan gathering di tempat ini.

  • Alamat: Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
  • Jam Operasional: 08.00-17.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Weekday Rp 10.000 dan weekend dan tanggal merah Rp 12.000.

3. Gumul Paradise Island and Waterpark

Destinasi ini menawarkan wahana air, taman bermain yang luas, dan fasilitas umum yang cukup lengkap. Membuatnya cocok jadi pilihan liburan untuk keluarga, teman, maupun kelompok anak sekolah.

Wahana permainan di kolam renang yang ada mulai dari speed slide, kolam bak tumpah, body slide, hingga kolam jamur. Tersedia juga toilet, food court, musala, dan loker untuk pengunjung.

  • Alamat: Kompleks Simpang Lima Gumul, Sumberejo, Dadapan, Sumberejo, Kec. Ngasem, Kabupaten Kediri.
  • Jam Operasional: Selasa-Jumat dari jam 09.00 – 17.00 WIB, Sabtu-Minggu dan hari libur buka dari 08.00 – 17.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Weekday Rp 35.000 dan Weekend Rp 40.000. Anak usia 2 tahun ke atas berlaku tiket penuh.

4. Taman Wisata Tirtoyoso Park

Wisata Kediri ramah anak lainnya ada Taman Wisata Tirtoyoso Park, yang menyajikan ragam wahana menarik.Selain jernih, kolam renang di sini juga segar.

Pengunjung juga bisa bermain perosotan, ember tumpah, hingga sepeda air di kolam renang. Selain wahana air anak, ada juga kolam renang khusus dewasa dengan ukuran panjang 20 meter dan lebar 10 meter.

Setelah puas bermain air, pengunjung bisa langsung mengisi perut di kafe maupun angkringan di sana.

  • Alamat: Jl. Jenderal Ahmad Yani No.123, Banjaran, Kecamatan Kota, Kabupaten Kediri.
  • Jam Operasional: 06.00 – 17.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk: Rp 20.000

5. Istana Jamur

Istana Jamur merupakan destinasi edukasi ramah keluarga. Sesuai namanya, di sini pengunjung akan dimanjakan dengan arsitektur bentuk jamur yang unik.

Pengunjung juga menyewa kostum ala anggota kerajaan untuk berfoto-foto. Selain spot foto ciamik, di sini juga ada arena outbound.

  • Alamat: Jl Kedung Ombo Nomor 21, Rejomulyo, Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
  • Jam Operasional: Setiap hari mulai dari jam 08.00-17.00 WIB
  • Harga Tiket Masuk: Rp 10.000.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Jejak Prabu Jayabaya yang Konon Moksa di Petilasan Pamuksan Kediri



Kediri

Ada satu tempat bersejarah di Kediri yang dipercaya sebagai tempat moksanya Prabu Jayabaya. Seperti apa kisahnya?

Di balik hiruk-pikuk kehidupan kota Kediri yang semakin modern, tersimpan sebuah tempat yang masih dipenuhi kisah-kisah mistis sekaligus spiritual. Tempat itu bernama Petilasan Pamukasan Sri Aji Joyoboyo.

Situs ini diyakini sebagai tempat Prabu Jayabaya, seorang raja bijaksana dari Kerajaan Kadiri, untuk bertapa dan meninggalkan jejak batin yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat.


Siapa Prabu Jayabaya?

Nama Jayabaya tak bisa dilepaskan dari Jangka Jayabaya, ia dikenal akan kesaktiannya melalui ramalan yang disebut-sebut mampu meramalkan peristiwa besar Nusantara, dari penjajahan bangsa asing, masa sulit yang panjang, hingga tibanya zaman kemerdekaan.

Ramalan ini tak hanya beredar dari mulut ke mulut, tetapi juga mengakar kuat sebagai bagian dari tradisi lisan Jawa. Tak heran jika petilasan ini sering dianggap sebagai ruang bersemayamnya energi masa lalu-tempat di mana doa, harapan, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu.

Salah satu kepercayaan yang melekat erat pada Jayabaya adalah bahwa ia tidak meninggal secara biasa, melainkan moksa atau lenyap bersama raganya menuju ke alam lain. Keyakinan ini membuat petilasan Pamuksan dihormati bukan hanya sebagai tempat bertapa, tetapi juga diyakini sebagai titik peralihan Jayabaya dari dunia fana menuju keabadian.

Bagi masyarakat Jawa, moksa menandai kesempurnaan hidup seorang manusia, dan bagi Jayabaya, itu menjadi simbol kebijaksanaan sekaligus keagungan yang melampaui batas waktu.

Setiap hari, terutama menjelang malam Jumat, petilasan ini tak pernah sepi oleh peziarah. Warga datang dari berbagai daerah untuk berziarah, menyalakan dupa, dan merapalkan doa.

“Kalau saya ke sini, rasanya adem. Ada yang beda dari tempat lain,” ujar Sulastri (45), seorang peziarah asal Nganjuk.

Dia mengaku rutin datang setiap bulan ke patilasan ini untuk berdoa agar usaha keluarganya selalu diberi kelancaran dan diberi kesehatan.

Diselimuti Kisah Mistis

Tentu saja di balik jejak Prabu Jayabaya yang bersemayam, ada kisah mistis yang santer terdengar. Beberapa pengunjung mengaku pernah mencium wangi bunga tiba-tiba, mendengar suara gamelan samar, hingga merasakan seolah sedang diawasi.

Meski sulit dibuktikan secara logika, cerita-cerita itu justru membuat daya tarik petilasan semakin kuat. Banyak peziarah yang datang ke sini karena penasaran.

Sendang Tirto Kamandanu: Sumber Kehidupan dan Ritual

Tak jauh dari bangunan patilasan, terdapat Sendang Tirto Kamandanu, kolam alami dengan mata air yang mengalir melalui tiga tingkatan yaitu sumber, tempat penampungan, dan kolam pemandian.

Airnya dipercaya memberi manfaat bagi kehidupan, serta membawa berkah bagi mereka yang menggunakannya. Kolam ini juga dilengkapi dengan arca Syiwa Harihara (simbol perdamaian) dan Ganesha, menandakan harmoni spiritual dan kebijaksanaan.

Petilasan Pamukasan KediriPatilasan Jayabaya Kediri Foto: (dok. Istimewa)

Setiap tanggal 1 Sura, masyarakat mengadakan upacara adat di kawasan sendang, berupa prosesi ritual napak tilas untuk menghormati Jayabaya. Upacara ini menjadi momentum sakral, di mana mistis dan budaya berpadu, menarik perhatian peziarah dan wisatawan.

“Kalau cuci muka di sumur itu bisa bikin bersih aura dan awet muda,” tutur Mbah Sempu (77), sesepuh desa yang sejak kecil sudah mendengar kisah tentang kesaktian air sendang tersebut.

Tak Hanya Destinasi Wisata, tapi Juga Warisan Budaya

Bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya Kediri, petilasan ini bukan sekadar objek wisata, tetapi juga warisan budaya leluhur.

Keteguhan mereka menjaga serta melestarikan tradisi dan budaya sebagai warisan leluhur yang harus dijaga dengan khidmat, menghargai keteguhan masyarakat di Jawa Timur dalam menjaga serta melestarikan tradisi dan budaya.

Sebagian orang mungkin menganggap tempat ini adalah untuk ngalap berkah, tapi bagi yang lain, tempat ini adalah ruang untuk menapaktilasi sejarah. Bagi sebagian lainnya, sekadar destinasi wisata dengan nuansa mistis yang tak ditemukan di tempat lain.

Yang jelas, petilasan ini menjadi saksi bagaimana warisan leluhur tidak hanya bertahan dalam ingatan, sekaligus memberi denyut ekonomi kecil bagi masyarakat setempat.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com