Tag Archives: kelompok sadar wisata

Namanya Karang Hantu, tapi Penampakannya Malah Mirip Sungai Amazon



Ciamis

Nama obyek wisata di Ciamis ini Karang Hantu, tapi penampakannya tak seseram namanya. Justru pemandangan di sini malah mirip sungai Amazon.

Setelah Bendungan Leuwikeris diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, Kabupaten Ciamis kini memiliki destinasi wisata baru. Pesona keindahan bendungan Leuwikeris itu bisa dilihat dari obyek wisata Karang Hantu, Ciamis.

Genangan Bendungan Leuwikeris itu meliuk-liuk bak Sungai Amazon yang diapit dengan pepohonan hijau. Destinasi ini pun cocok untuk healing hingga kemping anak-anak muda.


Lokasi Karang Hantu

Obyek Wisata Karang Hantu berada di Lingkungan Sinar Mawar, Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis. Lokasinya memang cukup tersembunyi, namun cukup dekat dari pusat perkotaan Ciamis.

Untuk menuju lokasi, dari perkotaan Ciamis ambil jalur menuju Kelurahan Cigembor. Setelah di simpang Jalan Sinar Cigembor, masuk dan ikuti jalan tersebut hingga melihat petunjuk arah yang telah dipasang oleh warga.

Sayangnya, untuk menuju lokasi hanya bisa diakses menggunakan sepeda motor. Sedangkan yang menggunakan mobil harus berjalan kaki beberapa ratus meter untuk sampai di lokasi obyek wisata Karang Hantu.

Pihak Kelurahan Cigembor pun rencananya akan mengajukan pembangunan jalan beton untuk menuju akses obyek wisata Karang Hantu di tahun 2025 mendatang. Mengingat saat ini akses jalan ke lokasi tersebut masih tanah.

“Rencana akan diajukan untuk pembangunan jalan beton di tahun 2025. Warga juga sudah membentuk pokdarwis,” ujar Nandro, Lurah Cigembor.

Destinasi Ini Mulai Ditata Warga

10 Hari setelah penggenangan bendungan Leuwikeris dilakukan, destinasi ini langsung ditata oleh warga setempat. Masyarakat sekitar pun nampak antusias menata area wisata hingga memperbaiki akses jalan menuju lokasi secara gotong royong.

Bahkan warga juga kini telah membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Sedikit demi sedikit sarana prasarana di obyek wisata tersebut mulai dibangun.

Mulai dari spot selfie, menara Selfie yang terbuat dari bambu dengan latarbelakang waduk Leuwikeris. Ada juga sarana lainnya seperti toilet, tempat duduk di sejumlah titik hingga warung-warung dan area parkir. Namun bangunan tersebut dibangun secara semi permanen.

Warung-warung di obyek wisata tersebut juga menyediakan paket nasi liwet dengan harga mulai dari Rp 100 ribu tergantung pesanan. Ada juga jajanan makanan ringan dan aneka minuman.

Tidak ada tarif tiket untuk masuk ke area wisata tersebut. Pengunjung cukup mengeluarkan uang parkir sebesar Rp 2 ribu atau memberikan sumbangan di kotak sumbangan yang tersedia di lokasi.

Nampak puluhan pengunjung sudah berada di lokasi tersebut untuk menikmati keindahan genangan dari bendungan terbesar di Ciamis itu.

Meski proses penggenangan baru berjalan setengahnya, keberadaan Bendungan Leuwikeris sudah menunjukan manfaatnya bagi masyarakat.

“Tau ada tempat wisata ini dari medsos. Tempatnya enak, adem banyak pohon-pohon. Pemandangan waduknya bagus seperti Sungai Amazon,” ujar Desi, warga Handapherang yang berkunjung bersama keluarganya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Desa Wisata Karawang Punya Sawah Hijau Sejauh Mata Memandang


Jakarta

Ternyata ada desa wisata di Kawarang. Desa wisata Mekarbuana itu berada di di bagian paling selatan Tegalwaru, Karawang, Jawa Barat.

Status desa wisata belum lama didapatkan Desa Mekarbuana. Yakni, mulai 2021.

Makanya, namanya belum begitu dikenal di kalangan traveler. Desa itu memiliki suasana tenang dengan pemandangan alam yang indah serta memiliki kekayaan budaya dan tradisi lokal yang kental.


Di Kaki Gunung Sanggabuana

Desa Wisata Mekarbuana memiliki pemandangan alam yang asri dan menenangkan. Dikelilingi oleh hamparan sawah hijau yang subur, kebun kopi yang harum, serta kebun durian yang lebat. Desa itu subur dengan berada di kaki Gunung Sanggabuana. Udara di sana pun sejuk.

Bagi para pendaki dan pencinta alam, Gunung Sanggabuana bisa menjadi pilihan untuk trekking bagi pemula. Karena gunung tersebut tidak terlalu curam bagi para pemula.

Pendakian menuju puncak gunung memberikan pesona alam dengan pemandangan Karawang dari ketinggian. Wisatawan bisa menikmati sunrise atau sunset yang memukau dari puncak gunung, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para fotografer dan pemburu keindahan alam.

Curug Cigentis dan Curug Bandung

Desa wisata Mekarbuana, Karawang, Jawa BaratDesa wisata Mekarbuana, Karawang, Jawa Barat (Asti Azhari/detikcom)

Selain trekking, air terjun di Desa Mekarbuana juga menjadi magnet bagi pengunjung yang ingin menikmati kesegaran air pegunungan. Air terjun Curug Cigentis dan Curug Bandung itu terletak tidak jauh dari desa, sehingga mudah dijangkau.

Suara gemericik air yang jatuh dari ketinggian serta suasana alam yang damai membuat tempat ini cocok untuk bersantai dan melepaskan penat.

Pengalaman Tanam Padi

Tidak hanya menawarkan keindahan alam, Desa Wisata Mekarbuana juga menghadirkan wisata budaya yang edukatif dan interaktif. Pengunjung diajak untuk ikut serta dalam berbagai aktivitas yang mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Salah satu kegiatan yang paling diminati adalah menanam padi di sawah.

Dengan bimbingan petani setempat, wisatawan dapat merasakan bagaimana cara menanam padi dengan metode tradisional, sebuah pengalaman yang sangat berbeda dari kehidupan di kota.

Selain itu, Desa Mekarbuana juga mengajak wisatawan untuk mendapatkan pengalaman belajar menganyam kerajinan tradisional. Kerajinan anyaman di desa itu menjadi bagian penting dari budaya dan ekonomi lokal. Pengunjung dapat belajar teknik menganyam dengan menggunakan bahan alami, yang hasilnya bisa menjadi kenang-kenangan unik dari perjalanan mereka.

Bagi pecinta kuliner, kelas memasak makanan khas Karawang juga tersedia di Desa Wisata Mekarbuana. Salah satu makanan yang diajarkan di sini adalah keripik khas daerah yang memiliki cita rasa unik.

Kelas memasak itu dipandu oleh ibu-ibu desa yang telah berpengalaman dalam memasak makanan tradisional, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar, tetapi juga resep asli yang bisa dibawa pulang.

Wisata Edukasi untuk Pelajar dan Akademisi

Desa Wisata Mekarbuana juga menjadi pilihan populer bagi sekolah-sekolah dan akademisi yang ingin mengadakan study tour atau penelitian di bidang pariwisata pedesaan. Banyak pelajar yang datang ke sini untuk belajar tentang pertanian organik, keberlanjutan lingkungan, dan pelestarian budaya lokal.

Menurut Ferry Cahyadi, ketua Pokdarwis Desa Mekarbuana, desa itu sering dijadikan lokasi pengabdian masyarakat dan penelitian oleh mahasiswa.

“Banyak akademisi yang tertarik untuk melakukan penelitian di sini karena kami memiliki potensi alam dan budaya yang sangat beragam. Para mahasiswa dan dosen turut berperan dalam membantu kami mendapatkan SK kelompok sadar wisata yang kini menjadi fondasi pengembangan wisata di desa ini,” kata Ferry.

Ferry juga menambahkan bahwa Desa Mekarbuana tidak hanya fokus pada pengembangan pariwisata, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat lokal turut aktif dalam mengelola fasilitas desa, termasuk kebersihan, parkir, dan pelayanan wisatawan. “Kami selalu menekankan pentingnya menjaga kebersihan, karena pengalaman positif dari wisatawan akan membawa mereka kembali dan merekomendasikan desa kami kepada orang lain,” ujar Pak Ferry.

Kuliner dan Produk Lokal yang Menarik

Tak lengkap rasanya berkunjung ke Desa Mekarbuana tanpa mencicipi durian lokal yang terkenal dengan rasa manis dan teksturnya yang lembut. Kebun durian yang ada di desa ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama saat musim panen tiba. Wisatawan bisa memetik durian langsung dari pohonnya dan menikmatinya di tempat.

Selain durian, kopi lokal juga menjadi salah satu produk unggulan Desa Mekarbuana. Pengunjung bisa melihat langsung proses penanaman hingga pengolahan biji kopi yang dihasilkan dari kebun kopi yang ada di desa. Ini menjadi pengalaman menarik bagi pecinta kopi yang ingin tahu lebih dalam tentang asal-usul minuman favorit mereka.

Bagi yang suka dengan produk-produk kreatif, kerajinan anyaman yang dibuat oleh penduduk desa bisa menjadi oleh-oleh yang menarik. Produk-produk ini tidak hanya indah dan fungsional, tetapi juga merepresentasikan kekayaan budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.

Akses dan Fasilitas Wisata

Untuk mencapai Desa Wisata Mekarbuana, wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum dari pusat kota Karawang. Lokasinya sekitar dua jam perjalanan dari Jakarta, menjadikannya pilihan yang ideal untuk liburan akhir pekan.

Desa itu telah menyediakan fasilitas parkir, kamar mandi, dan homestay yang dikelola oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan masyarakat setempat. Terdapat sekitar 30 homestay dengan standar kebersihan yang terjaga, di mana para tamu akan dilayani oleh induk semang lokal.

Gimana Traveler? Siap memesan paket wisata di Mekarbuana?

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Masih Ada Pasar Tradisional ala Sunda Jadul di Bandung



Bandung

Pasar tradisional Sunda ala zaman dulu ternyata masih ada di pelosok Bandung. Pasar ini cocok dikunjungi untuk libur long weekend.

Konsep wisata di pasar tradisional jadul itu dibuat oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Cisurupan, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Pasar Padaringan, begitu namanya.

Padaringan di nama pasar ini merupakan singkatan dari Pakarangan Dapur Seni Budaya Sareng Ibing Cisurupan. Pasar Padaringan digelar di kawasan hutan bambu, tepatnya di Leweung Awi Mbah Garut.


Sejumlah kios yang terbuat dari bambu berdiri di tempat itu, kios-kios tersebut menjajakan makanan dan minuman khas Sunda. Ada surabi, bandrek, awug, gorengan, leupeut, bandros, dan masih banyak macam-macam kue tradisional lainnya.

Bagi pengunjung yang datang dan ingin membeli makanan dan minuman tradisional di Pasar Padaringan harus menukarkan uang tunainya dahulu dengan koin senilai Rp5 ribu, Rp10 ribu dan Rp20 ribu yang sudah disediakan di loket penukaran uang.

Pasar Padaringan digelar setiap dua kali dalam sebulan dan sudah mendapatkan dukungan dari Pemkot Bandung. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menggeliatkan perekonomian masyarakat karena yang menjajakan makanan tradisional di Pasar Padaringan ini merupakan UMKM-UMKM yang ada di Kecamatan Cibiru.

Selain itu, di Pasar Padaringan ini selalu digelar atraksi seni dan budaya yang berasal dari Kecamatan Cibiru dan sekitarnya. Atraksi seni dan budaya ini ditampilkan untuk menghibur pengunjung yang datang ke tempat tersebut.

Pertunjukan seni dan budaya tradisional yang ditampilkan di antaranya jaipongan, benjang, rajawali, reak dan lainnya. Pengunjung yang sudah selesai membeli makanan bisa duduk di kursi bambu yang tersedia, sekaligus menyaksikan penampilan akurasi seni budaya. Salah satunya penampilan Reak dan Rajawali.

Pasar Padaringan Sunda di Hutan Bambu Cibiru Bandung.Pertunjukan seni di Pasar Padaringan Sunda di Hutan Bambu Cibiru Bandung. Foto: Wisma Putra/detikJabar

“Pasar Padaringan merupakan sebuah pasar tradisional, konsep pasar zaman dulu, makanan tradisional tanpa bahan pengawet dan plastik. Acaranya dua kali dalam sebulan,” kata Ketua Pokdarwis Cisurupan Ari Irawan, Minggu (12/1).

Ari mengungkapkan, pada saat awal-awal digelar kunjungan wisatawan bisa capai 1.000 orang, namun sekarang berkurang dikarenakan faktor cuaca. Namun dalam beberapa kegiatan terakhir, angka kunjungan menunjukan angka normal.

“Sekali event perputaran uang Rp20 jutaan, si sini sistem koin, barter, ada koin khusus tidak bisa pakai uang tunai langsung kalau mau jajan, koinnya ada besaran Rp5 ribu, Rp10 ribu dan Rp20 ribu,” jelasnya.

Ari menilai, Pasar Padaringan sangat berpengaruh dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dan dia berharap warga Kota Bandung yang ada di luar Cibiru dapat berkunjung.

“Ke depan luar biasa sangat meningkatkan perekonomian dan seni budaya di kewilayahan saya harap seluruh masyarakat Kota Bandung terus berpartisipasi,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pengunjung yang merupakan warga Cilengkrang, Sujana mengaku terpukau dengan suasana Pasar Padaringan.

“Baru kali ini ke sini, suasananya bagus, asli, tempat wisata di tengah hutan (bambu). saya baru tahu dari anak tempat ini,” ujarnya.

Sujana menyebut konsep Pasar Padaringan sudah bagus, namun akses jalan yang cukup terjal dikeluhkan olehnya.

“Konsepnya lebih ke original Sunda, bagus, budaya Bandung timur, harus terus dilestarikan, akses ke sini harus lebih ditata jalannya cukup terjal, suasananya bagus,” pungkasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wisatawan Dipalak di Pantai Air Manis, Pokdarwis Langsung Dibekukan



Padang

Beberapa waktu lalu viral aksi pungutan liar terhadap wisatawan Malaysia dan wisatawan lokal di Pantai Air Manis, Padang, Sumatra Barat. Dinas Pariwisata Kota Padang langsung membekukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Air Manis.

Pembekuan itu karena Pokdarwis melakukan pungutan liar terhadap wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Batu Malin Kundang tersebut.

“Pengumuman..!. Pokdarwis Air Manis Banned dari segala aktivitas dan dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Stop Pungli,” demikian terpampang dalam akun resmi Dispar Padang, dilihat detikSumut, Senin (16/6/2025) malam.


Kepala Dinas Pariwisata Padang, Yudi Indra Sani membenarkan kabar tersebut. Ia menyebut, langkah banned atau pembekuan terpaksa dilakukan, karena banyaknya laporan yang masuk berkaitan dengan aktivitas illegal di tempat wisata tersebut yang dilakukan Pokdarwis.

“Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan dan ketentuan yang berlaku demi menjaga tata kelola pariwisata yang tertib, aman, dan berkualitas di Kota Padang. Sudah cukup banyak laporan yang masuk. Melakukan pungutan ilegal (kepada wisatawan),” kata Yudi.

Menurut Yudi, banyak berita viral di media sosial berisi keluhan wisatawan tentang praktik pungutan liar (pungli) dan premanisme di Pantai Air Manis.

Pihaknya kemudian menggelar operasi gabungan di kawasan wisata tersebut pada Sabtu (14/6/2025) bersama satuan Pengamanan Objek Vital (Pam Obvit) Polresta Padang serta Perumda PSM.

“Operasi ini bukan sekadar penindakan. Tujuannya lebih besar, yakni menciptakan rasa aman dan nyaman bagi semua pengunjung Pantai Air Manis. Dengan kehadiran tim gabungan secara rutin, diharapkan suasana pantai semakin kondusif, sehingga wisatawan bisa menikmati keindahan alam tanpa khawatir akan gangguan atau pungutan tidak resmi,” katanya sambil menekankan obyek wisata Pantai Air Manis tetap buka meski pokdarwis dibekukan.

Artikel ini sudah tayang di detikSumut, baca di sini untuk selengkapnya.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Bunker Misterius di Solo, Konon Tempat Sembunyi dan Menyimpan Harta


Jakarta

Masih ingat bunker misterius dalam salah satu rumah di Laweyan, Solo? Ruang bawah tanah yang disebut Bunker Setono ini zaman dulu digunakan sebagai brankas dan benteng persembunyian dari musuh. Kini, Bunker Setono jadi destinasi wisata sejarah baru di Jawa Tengah.

“Keren, apalagi pas malam,” tulis akun Aznan Adviis dalam google review tentang Bunker Setono dilihat detikTravel, Selasa (28/10/2025).

Lokasi Bunker Setono

Bunker Setono berlokasi di Kampung Batik, RT 02/RW 02, Kampung Setono, Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah. Saat ini, bunker yang berada di salah satu rumah tak berpenghuni tersebut dikelola langsung oleh warga setempat.


“Dulunya rumah (tempat bunker) ini adalah milik pengusaha batik Wiryosupadmo. Setelah dia meninggal, istrinya menempati rumah ini bersama pembantu bernama Harun Muryadi. Setelah Bu Wiryo wafat, Muryadi tinggal sendirian di rumah ini hingga meninggal juga,” kata pengelola bunker Setono, Sutanto, dikutip dari detikJateng.

Suasana di bunker Setono milik pengusaha batik asal Laweyan, Senin (15/9/2025).Suasana di bunker Setono (dok. Tara Wahyu NV/detikJateng)

Wujud Bunker Setono

Menurut pengelola pariwisata Laweyan yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Widiharso, Bunker Setono telah berusia sekitar tiga abad. Usia bunker sama dengan rumah yang menjadi lokasi ruangan spesial ini. Bunker dan rumah menjadi saksi sejarah perkembangan Laweyan.

“Dilihat dari kayu dan bangunan terlihat seperti tahun 1700-an di era Mataram. Bunker ini peninggalan suami istri pemilik rumah,” kata Widiharso.

Bunker ini memiliki luas 2×2 meter dengan ketinggian 2 meter. Lubang bunker berukuran 0,5 x 1 meter dengan permukaan lubang yang ditutupi oleh papan. Untuk masuk ke dalam bunker, terdapat empat buah anak tangga, tidak terdapat ventilasi di dalamnya, hanya dihiasi oleh satu lampu temaram berwarna kuning.

Lokasi bunker berada di bagian tengah ruangan yang disebut sitinggil. Tempat tersebut digunakan sebagai tempat atasan untuk melihat hasil kerja membatik karyawan. Ruang sitinggil lebih tinggi 30 cm daripada area lain di dalam rumah.

Rumah tempat Bunker Setono berada memiliki luas 500 meter persegi, dengan pelataran berukuran 7 x 8 meter. Dulunya, pelataran digunakan sebagai tempat karyawan Wiryosupadmo membatik. Lalu, pengusaha tersebut akan memeriksa hasil pekerjaan karyawan dari sitinggil.

Pernah Jadi Tempat Sembunyi dan Menyimpan Harta

Pada zaman dulu, bunker biasanya berada di ruang utama pemilik rumah. Letaknya berada tepat di bawah kolong kasur atau ditutupi oleh lemari. Bunker digunakan untuk bersembunyi atau menyimpan harta kekayaan.

“Kalau ada tentara atau rampok, penghuni rumah bisa masuk ke sini untuk bersembunyi. Tapi fungsi utama bunker itu untuk menyimpan perhiasan atau harta kekayaan,” jelas Sutanto.

Fungsi bunker sebagai tempat sembunyi dan menyimpan harta, tentu kini tak lagi dijalankan. Namun kesan misterius dan sejarah yang pernah terjadi di bunker masih bisa disaksikan publik. Detikers yang ingin melihat langsung Bunker Setono, bisa datang Senin-Jumat pukul 09.00-17.00 WIB tanpa dipungut biaya alias gratis.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com