Tag Archives: keluarganya

Usai Rumahnya Terbakar, Paris Hilton Beli Lagi Rp 1 T Punya Mark Wahlberg



Jakarta

Usai rumah mewahnya hangus dan hancur dalam bencana kebakaran dahsyat di Los Angeles pada awal tahun lalu, Paris Hilton kini punya rumah baru. Dia membeli rumah milik aktor Mark Wahlberg.

Model dan aktris ini merogoh kocek USD 63 juta atau sekitar Rp 1 triliun untuk membeli rumah dengan 12 kamar dan 20 kamar mandi ini. Hunian mewah seluas 2,4 hektare ini berlokasi di kawasan elite Beverly Hills.

Dikutip dari SFG News, Selasa 24/6/2025), Paris Hilton dan suaminya Carter Reum sepakat untuk membeli rumah ini pada 20 Juni lalu. Transaksi ini dibantu oleh saudaranya Barron Hilton dan istrinya Tessa Hilton.


Mark Wahlberg yang terkenal berperan sebagai Bob Lee Swagger dalam film Shooter membangun sendiri rumah ini pada 2014. Bersama keluarganya dia tinggal di rumah ini sampai 2022 hingga akhirnya pindah ke Nevada.

Paris Hilton bisa bernapas lega karena akhirnya dia mendapatkan rumah idamannya. Setelah sebelumnya dia berduka karena rumah mewahnya di pantai Malibu hangus karena bencana kebakaran hutan di Los Angeles.

Hilton menyaksikan sendiri lewat tayangan berita bagaimana api melalap bangunan rumahnya dengan sangat dahsyat.

Rumah Paris Hilton yang terbakarRumah Paris Hilton yang terbakar Foto: Instagram/@parishilton; ABC via Page Six

“Sakit hati tak bisa diungkapkan,” kata Paris dalam caption unggahan di sosial medianya.

“Rumah ini meninggalkan banyak kenangan. Di sini Phoenix (anaknya) belajar berjalan dan kami bermimpi membangun kenangan hidup bersama London (anak perempuannya),” kata Paris.

Bila dibandingkan dengan rumah barunya ini, rumah yang hancur itu hanya punya 3 kamar tidur. dan ada ruang terbuka seluas 3.000 kaki persegi. Tapi lokasinya, idaman banyak orang. Rumah Hilton ini berada di pantai La Costa, di sisi Pacific Coast Highway, yang hancur oleh kebakaran saat menyebar dari Palisades melalui Santa Monica dan Malibu.

Dia dan Reum membeli tempat tinggal itu seharga USD 8,4 juta pada tahun 2021.

(zlf/zlf)

Sumber : www.detik.com

Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason

Makin Marak Rumah Kecil di Perkotaan, Apa Keuntungan dan Tantangannya?



Jakarta

Saat ini semakin banyak ditemukan rumah kecil dan rumah compact di perkotaan atau pinggiran kota. Rumah-rumah tersebut memiliki fasad yang kecil sekitar 1,5-6 meter, tidak memiliki carport, atau halaman depan yang cukup untuk parkir kendaraan.

Menurut Arsitek Denny Setiawan fenomena ini terjadi karena harga lahan yang semakin mahal sehingga mempengaruhi harga jual rumah. Di sisi lain, daya beli masyarakat semakin menurun sehingga tidak mampu untuk membeli rumah yang terlalu mahal karena penghasilan bulanan yang terbatas dan hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, saat ini ketersediaan lahan untuk membangun rumah tapak di perkotaan juga semakin terbatas. Oleh karena itu, banyak rumah yang akhirnya dibangun di tanah yang kecil dan terbatas. Pemilik rumah menyiasati luas tanah yang terbatas tersebut dengan menambah lantai ke atas.


“Untuk mereka yang tetap mau tinggal di Ibu Kota, ada beberapa konsep hunian. Yang pertama adalah compact house. Jadi kecil rumahnya, segala sesuatunya ada. Atau yang kedua adalah konsep single building, multi dwelling. Jadi dalam satu tanah, bisa ada 3 atau 4 keluarga yang bisa tinggal di situ. Banyak tuh kalau di Jepang, di Korea,” kata Denny memberikan contoh, saat dihubungi detikProperti Selasa (27/5/2025).

Lantas, dengan semakin maraknya luas rumah yang kecil, sebenarnya apa keuntungan dan kerugiannya?

Denny mengatakan dengan tetap tinggal di dekat kota, meskipun dengan kondisi rumah yang kecil, masyarakat dapat memangkas waktu tempuh ke tempat kerja dan tetap mendapatkan fasilitas transportasi umum.

Selain itu, dengan tinggal di rumah yang kecil, mereka bisa mendapatkan tempat tinggal dengan harga yang murah. Rumah tersebut juga bisa bertambah luas apabila ditambah lantai ke atas. Jenis rumah seperti ini disebut pula dengan rumah tumbuh. Keuntungan lainnya adalah bisa menerapkan hidup minimalis atau saat ini disebut dengan frugal living.

Di balik kemudahan yang didapatkan, Denny mengingatkan tinggal di rumah yang sempit juga ada aspek ketidaklayakannya.

Pertama adalah rumah tersebut kurang mendapat pencahayaan, terutama untuk rumah yang lokasinya berdempetan dengan bangunan lain atau yang berada di gang kecil.

Rumah yang kurang mendapat pencahayaan bisa berpengaruh pada kualitas udara, pertumbuhan jamur, dan gangguan kesehatan penghuninya.

“Dengan lahan terbatas, rumah tidak mempunyai pengudaraan dan pencahayaan yang baik. Jadi dibutuhkan desain yang baik untuk memastikan semua ruangan bisa mendapatkan pengudaraan dan pencahayaan,” terangnya.

Kedua adalah keterbatasan ruang gerak. Denny mengingatkan luas ruang gerak untuk satu orang yang ideal adalah 3×3 meter atau 9 meter persegi.

“Berapa sih ukuran Yang ideal untuk satu keluarga? Satu orang manusia Itu 3×3 meter, jadi kalau anggota keluarganya ada empat atau lima, ya tinggal kamu kalikan,” jelas Denny.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/zlf)



Sumber : www.detik.com

Bahagia Itu Sederhana, Cukup Berenang di Kolam Taman Sejarah Bandung



Bandung

Bahagia itu sederhana. Bagi anak-anak, mereka cukup berenang di kolam air Taman Sejarah di Bandung. Seperti apa keseruannya?

Keramaian anak-anak terpantau di salah satu taman tematik milik pemerintah kota Bandung, yakni Taman Sejarah Wiranatakusumah pada Sabtu (27/4) sore.

Sejumlah anak-anak asyik bermain air di kolam yang ada di taman itu. Ada yang berlari-lari, meloncat-loncat dan ada yang merendam tubuhnya di kolam itu.


Di samping keceriaan anak-anak itu, sejumlah orang tua nampak memantau kegiatan anak-anaknya di pinggir kolam. Ada yang duduk di kursi taman, ada juga yang duduk di batu-batu berbentuk kursi yang ada di taman itu.

Tak hanya itu, ada juga warga yang membuka bekal makanannya dan makan dengan suasana rindang taman ini. ada juga warga yang asyik berswafoto dan bersenda gurau di taman yang dibangun di era Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada 4 Februari 2017 silam.

Meski suasananya sama, ada yang berbeda di taman ini, yakni pengunjungnya tak seramai dulu dan dari empat kolam yang ada di taman ini, hanya tiga kolam yang dapat digunakan. Selain itu, volume airnya tidak penuh, hanya mencapai mata kaki hingga betis kaki anak.

Tak hanya saat ini, kondisi ini sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Apalagi di kala COVID-19, taman ini sempat ditutup dan tidak boleh dikunjungi warga.

“Suasananya nyaman, cuman anak kurang puas, airnya sedikit,” kata Nani warga Cimahi.

Taman Sejarah BandungTaman Sejarah Bandung Foto: Fitroh Rara Azzahro

Nani menyebut, sebelum pandemi COVID-19 dia juga pernah berkunjung ke Taman Sejarah bersama anak dan cucunya. Meski suasananya nyaman, namun kunjungannya tak seramai dulu.

“Iya betul, pengunjungnya tak seramai dulu, nggak tahu kenapa, mungkin karena pernah ditutup dulu ya, jadi tahunya warga jika taman masih ini ditutup,” tuturnya

Nani mengaku senang, karena melihat cucunya bisa bermain bahagia bersama saudara-saudaranya, bermain di Taman Sejarah.

“Anak-anak tetap senang kok, apalagi airnya penuh dan pengunjungnya banyak,” tambahnya.

Hal serupa juga dikatakan Wawan, warga Buahbatu Bandung itu mengaku, datang ke Taman Sejarah demi menikmati wisata gratis.

“Iya karena gratis, jadi saya datang bareng anak dan istri ke sini, di mana lagi tempat main gratis kalau bukan di sini,” ujar Wawan.

Wawan mengaku, kedatangannya ke Taman Sejarah bukan yang pertama kali, melainkan sering. Bahkan dia juga masih ingat, ketika taman ini baru diresmikan Ridwan Kamil, kunjungannya cukup banyak.

“Ya dulu, pas anak pertama saya masih umur enam tahunan, pernah diajak main ke sini, sampai pengunjungnya mencapai ratusan orang,” ujar Wawan.

“Gimana ya, terlalu banyak nggak nyaman, sedikit juga enggak ramai,” tambahnya.

Meski demikian, Wawan mengaku jika dia dan keluarganya terhibur bermain ke taman ini. “Oke-oke aja sih kalau dari saya, tempat udah nyaman, tinggal ramainya saja yang belum,” pungkasnya.

Selain kolam air, spot favorit yang ada di taman ini yakni kursi-kursi taman dan pelataran taman. Tak jarang pengunjung yang datang ke taman ini hanya sekadar nongkrong dan menikmati sejuknya suasana taman ini.

Taman Sejarah BandungTaman Sejarah Bandung Foto: Fitroh Rara Azzahro

Meski cuaca panas, taman ini tetap sejuk karena dikelilingi banyak pohon-pohon besar. Pohon-pohon itulah menjadi kelebihan di taman ini, karena tidak setiap tempat di pusat Kota Bandung ditumbuhi banyak pepohonan.

Tak hanya duduk di kursi taman, pengunjung juga bisa mengetahui sejarah Kota Bandung dengan melihat dinding yang memiliki relif berwarna cokelat di sebelah Gedung Bapelitbang.

Pengunjung juga bisa berswafoto di diorama kaca yang berisikan gambar mantan-mantan wali kota Bandung sekaligus sejarah yang ditulis dioramanya.

Seperti diketahui, taman ini merupakan sarana edukasi bagai para pengunjung yang berkunjung ke Taman Sejarah Wiranatakusimah.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Segar Alami Wisata Umbul Brondong yang Ramah Anak di Klaten



Klaten

Di Klaten ada banyak umbul alias pemandian mata air yang segar alami. Salah satunya adalah Umbul Brondong yang ramah anak dan harga tiketnya murah meriah.

Umbul Brondong ini berlokasi di Desa Ngrundul, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. Obyek wisata ini terkenal ramah anak karena menyediakan 4 jenis kolam dengan berbagai ukuran.

Suasana yang ditawarkan pun syahdu. Pengunjung bisa berenang sambil menikmati angin sepoi-sepoi, atau sekadar duduk-duduk di gazebo yang berada di tengah kolam.


Ketua BUMDes Karunia Sejahtera Ngrundul Windratna mengatakan, Umbul Brondong memang dibuat dengan konsep ramah anak. Selain berenang, anak-anak juga bisa berburu ikan di kolam keceh yang ditanami selada air.

“Di Umbul Brondong ada kolam relaksasi ikan, terus ada untuk keceh di selada air, terus ada kolam balita, ada kolam anak, dan ada kolam remaja. Memang branding kami buat anak dan keluarganya,” kata Windratna kepada awak media, Rabu (4/9/2024).

“Terus ada di sungai itu juga kami lepaskan ikan nilem yang bisa untuk relaksasi juga. Biasanya anak-anak kan senang di situ cari ikan kecil-kecil, itu akan kami pertahankan,” sambungnya.

Ia mengatakan, kedalaman kolam di Umbul Brondong pun bervariasi mulai dari 45 sentimeter hingga 1,5 meter. Orang tua yang menunggu anak-anaknya pun bisa bersantai di gazebo atau di warung-warung milik masyarakat setempat.

“Operasional dari jam 5 sampai jam 17.00 sore, tapi kalau setelah masuk akan kami tunggu sampai pulang,” jelasnya.

Wisata Murah Meriah

Tiket masuk Umbul Brondong pun tergolong murah meriah. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 6 ribu, tambah tiket parkir Rp 2 ribu untuk bisa berwisata di sini.

Bahkan, masyarakat desa setempat boleh berenang di Umbul Brondong gratis. Kepala Desa Ngrundul Hari Purnomo mengatakan, Umbul Brondong menggunakan mata air murni tanpa kaporit, sehingga kesegaran bisa semakin terasa saat berenang di Umbul Brondong.

“Airnya itu murni, tidak berkaporit, tidak ada unsur kimia, murni. Jadi di badan segar karena nggak ada unsur kimianya,” jelasnya.

“Umbul Brondong ini semakin hari semakin pesat pengunjungnya. Hari libur itu satu hari bisa mencapai 3.000 pengunjung yang bertiket, karena seluruh masyarakat desa gratis. Jadi paling nggak ada 3.300 pengunjung,” jelasnya.

Ke depannya, kata Hari, pihaknya akan mengadakan pujasera sekaligus taman yang akan dibangun di atas lahan yang kini masih kosong, di sebelah Umbul Brondong. Pujasera dan taman itu rencananya akan mulai digarap akhir tahun ini.

“Jadi itu saya rombak, nanti saya buat taman, saya jadikan satu di Pujasera ini supaya semakin bersih. Semakin enak dilihat, dipandang mata, karena kami mempunyai view Gunung Merapi,” jelasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cerita Pulau Samosir dan Danau Toba, Kisah Legenda Ucok Samosir


Jakarta

Pulau Samosir dan Danau Toba adalah destinasi wisata prioritas Indonesia karena keindahan alamnya. Di baliknya ada kisah legenda terbentuknya kedua spot wisata populer itu yang sudah dikenal masyarakat lokal.

Salah satunya adalah kisah legenda Ucok Samosir yang mengawali terbentuknya Pulau Samosir dan Danau Toba. Dikutip dari buku Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir dari Heny V Tinneke, cerita rakyat dari Sumatra Utara ini termasuk populer.

Kisah Terbentuknya Pulau Samosir dan Danau Toba

Dahulu hidup seorang pemuda bernama Tigor Samosir di wilayah yang kini dikenal sebagai Sumatra Utara. Dia hidup sebatang kara dan sangat ulet bekerja mengolah sawah peninggalan orang tuanya. Tidak heran hasil panen Tigor selalu sangat baik.

Pada suatu waktu, kampung Tigor terkena musim kemarau panjang hingga mengalami gagal panen. Hewan peliharaan Tigor dan warga kampung lain juga perlahan mati karena kehausan. Tigor akhirnya putar otak untuk bertahan hidup.

Setelah berpikir, Tigor mengambil jala di samping rumahnya dan bertekad mencari ikan. Dia mengajak warga kampung lain yang disambut gembira. Mereka bersama-sama menyiapkan jala untuk menangkap ikan demi menyambung hidup.

Usaha mencari ikan berbuah manis, namun tidak dalam waktu lama. Ikan perlahan sulit ditangkap, hingga warga kampung satu per satu mulai meninggalkan rumah mencari penghidupan yang lebih baik. Namun Tigor bersikukuh tetap tinggal di kampungnya dan berusaha lagi.

Pada suatu malam ketika mencari ikan, Tigor kaget bukan kepalang. Ikan yang ditangkap ternyata bisa bicara dan minta dilepas. Ikan ajaib itu berjanji mengabulkan semua permintaan Tigor asal dikembalikan ke air. Tigor menyanggupi dan meminta tangkapan yang banyak untuk dibawa pulang.

Bantuan ini dikabulkan beberapa kali, hingga kabar baik yang dialami Tigor terdengar warga kampung. Warga yang tadinya merantau perlahan kembali ke rumahnya berharap bisa mendapatkan ikan melimpah seperti Tigor. Harapan tersebut menjadi kenyataan, setelah Tigor mengajari cara menangkap ikan sesuai petunjuk ikan ajaib.

Seiring waktu, Tigor dan ikan ajaib menjalin hubungan baik hingga dipanggil jelita. Keduanya menikah dan memiliki seorang anak bernama Ucok Samosir. Keadaan keluarga dan kampung Tigor makin baik dengan berakhirnya musim kemarau panjang.

Seiring waktu, terjadi perubahan pada karakter Tigor menjadi lebih pemarah dan sering membentak. Puncaknya adalah ketika Tigor memarahi anaknya karena telat mengantarkan makan siang. Tigor menyebutnya sebagai anak ikan. Ucok lantas pulang dan mengadu pada ibunya.

Jelita yang mendapat kabar tersebut merasa kaget dan termenung. Pasalnya, Tigor pernah berjanji tidak akan menyinggung asal mula Jelita pada anaknya. Jika dilanggar, Jelita dan Ucok akan meninggalkan Tigor.

Sadar akan kesalahannya, Tigor pulang dan memohon pada Jelita dan Ucok agar jangan pergi. Namun keduanya tetap melangkah pergi. Jejak kaki keduanya mengeluarkan air hingga terjadi banjir bandang. Banjir ini menenggelamkan Tigor dan seisi kampung. Sedangkan Ucok dan Jelita menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Kini, banjir bandang dari tapak kaki Ucok dan Jelita menjadi Danau Toba. Sementara, dataran tinggi tempat Ucok dan Jelita mengungsi dikenal sebagai Pulau Samosir. Nama Samosir adalah penghormatan bagi Tigor dan keluarganya.

Kisah Pulau Samosir dan Danau Toba masih diceritakan antar generasi serta sangat dikenal masyarakat. Pulau Samosir yang terkenal indah bahkan menjadi salah satu spot wisata ikonik Indonesia.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Kalegowa Destinasi Slow Travel Terbaik Kedua di Asia, Ada Apa di Sana?


Jakarta

Platform Agoda memasukkan Kalegowa dalam daftar rekomendasi slow travel 2025 bersama wilayah lain dari Asia Timur, Tenggara, dan Selatan. Kalegowa adalah wilayah di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Slow travel merupakan bentuk healing baru yang diminati masyarakat masa kini. Dikutip dari platform Revine, slow travel menekankan pentingnya keberlanjutan dan keterkaitan dengan warga lokal. Slow travel atau tourims juga sangat menghargai pengalaman selama perjalanan.

Kalegowa mungkin belum banyak diketahui sebagai salah satu destinasi wisata Indonesia. Dengan adanya rekomendasi slow travel Agoda 2025, Kalegowa mungkin bisa masuk daftar wishlist healing detikers berikutnya.


Fakta Kalegowa sebagai Top Agoda Slow Travel 2025

Kalegowa adalah wilayah yang menyaksikan sejarah Indonesia mulai zaman kerajaan, penjajahan, hingga menjadi negara merdeka. Masyarakat Kalegowa mengarungi perjalanan Indonesia dengan tetap memegang teguh tradisi dan kearifan lokal.

Sejarah Kalegowa

Kalegowa atau Kale Gowa adalah lokasi benteng pertama kerajaan Gowa di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Fungsi benteng ini adalah sebagai lokasi pemukiman raja dan keluarganya, sehingga menjadi pusat dinamika kegiatan kehidupan kerajaan.

Dikutip dari tulisan Benteng Kale Gowa Pada Masa Kerajaan Gowa (1510-1639) oleh Heri Setiani dari Universitas Negeri Makassar, benteng Kale Gowa tersebar di beberapa titik. Site tersebut adalah Kompleks Makam Sultan Hasanuddin, Sumur Bissu, Sumur Lompowa, Masjid Tua Katangka, Kompleks Makam raja-raja Gowa dan keluarganya, Batu Tallua, dan Batu pelantikan.

Pesona Kalegowa

Dikutip dari situs Travel and Tour World, Kalegowa menawarkan kekayaan alam dan budaya yang bisa dinikmati selama healing. Beberapa pesona tersebut adalah:

  • Sawah hijau dan pepohonan rindang.
  • Arsitektur khas Bugis yang masih lestari dan mengundang decak kagum.
  • Masyarakat yang hangat dan menawarkan hospitality simpel namun sesuai kebutuhan turis.
  • Pasar tradisional dan hidangan khas yang menggambarkan masyarakat lokal.

Jarak dan Penginapan Kalegowa

Kalegowa hanya berjarak sekitar 2 km dari Somba Opu dikutip dari google maps. Situs BMKG menjelaskan, Kalegowa adalah dataran rendah dengan suhu hangat hingga panas.

Bagi detikers yang ingin berkunjung, detikers bisa pesan penginapan lebih dulu di platform wisata. Detikers juga bisa cari tahu akomodasi sesuai keperluan di media sosial atau berbagai situs wisata.

(row/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Suku Anak Dalam Jambi, Asal-usul, Kehidupan, dan Tradisi



Jakarta

Suku Anak Dalam (SAD) merupakan salah satu kelompok etnis yang mendiami wilayah Indonesia. Mereka tinggal di Jambi dan memiliki tradisi tertentu.

Melansir situs detikSumbagsel, Suku Anak Dalam hidup secara berkelompok di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) yang tersebar di sekitar wilayah Jambi dan Sumatera Selatan.

Mengutip informasi dari situs Komunitas Konservasi Indonesia Waris, Suku Anak Dalam disebut juga Suku Rimba atau Suku Kubu. Nama Rimba mengacu pada tempat tinggal mereka di hutan, sedangkan Kubu dalam bahasa Melayu bisa diartikan sebagai orang-orang kotor, primitif, dan terbelakang.


Selain Suku Rimba dan Suku Kubu, Suku Anak Dalam juga ditujukan kepada beberapa suku lain yang mendiami area hutan Jambi seperti Suku Batin Sembilan dan Talang Mamak.

Perbedaannya tampak dari pola hidup antara keduanya, Orang Rimba Hidup Secara Nomaden sedangkan Suku Batin Sembilan dan Talang Mamak hidup menetap dengan becocok tanam untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Asal-usul Suku Anak Dalam

Melansir penelitian dari jurnal “Sejarah Sosial dan Kehidupan Ekonomi Suku Anak Dalam Muslim Kecamatan Air Hitam Kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas” bahwa asal-usul nama Suku Anak Dalam ini ditetapkan oleh Departemen Sosial pada 1970. Nama itu digunakan untuk membedakan masyarakat yang mendiami hutan dengan masyarakat umum yang disebut orang terang.

Secara secara fisik, Suku Anak Dalam diyakini sebagai keturunan Etnis Weddoid. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kesamaan ciri fisik antara Suku Anak Dalam dan Etnis Weddoid seperti, badan yang kecil, kepala berbentuk sedang, rambut keriting, kulit sawo matang, mata menjorok ke dalam, dan kaki kulit yang tebal.

Adapun, secara kebudayaan, suku ini dikaitkan dengan Suku Minangkabau karena sistem Matrilenial yang mereka gunakan dan logat bahasa Suku Anak Dalam yang mirip dengan bahasa Melayu-Minang.

Selain itu, banyak versi yang menulis mengenai asal-usul Suku Anak Dalam. Aliansi Masyarakat Nusantara menyebut bahwa nenek moyang suku ini adalah Maalau Sesaat yang melarikan diri dari keluarganya ke kawasan Air Hitam yang saat itu dikenal dengan Puyang Segayo.

Sumber lain mencatat bahwa Suku Anak Dalam berasal dari keturunan orang Pagaruyung, Sumatera Barat. Kelompok ini diutus oleh Raja Pagaruyung saat itu untuk menjalankan sebuah tugas kerajaan. Namun, karena gagal dalam menjalankan tugas, mereka malu untuk kembali ke kerajaan dan memilih melarikan diri ke area hutan.

Kehidupan Sehari-hari Suku Anak Dalam

Suku Anak Dalam sudah menetap di kawasan hutan sejak lama, sehingga pola kehidupan mereka jauh dari pengaruh peradaban modern. Kondisi ini membentuk pola hidup khas yang menjadi bagian kearifan lokal dan diatur melalui hukum adat yang mereka percayai.

Suku Anak Dalam menjalani kehidupan secara tradisional dengan bergantung kepada alam, suku ini terkenal menggunakan pola kehidupan nomaden.

Suku ini akan berpindah tempat tinggal karena beberapa kondisi seperti, ada anggota keluarga yang meninggal, adanya pergantian musim yang memaksa mereka mencari tempat lain untuk berlindung dan menyesuaikan diri, juga karena kehabisan sumber makanan dari alam.

Dalam kehidupan sehari-hari pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan dibagi berdasarkan peran alami dan kebutuhan komunitas. Kaum laki-laki biasanya bertugas untuk berburu dan mencari sumber makanan.

Mereka berburu berbagai jenis hewan seperti babi hutan, rusa, kancil, ikan, hingga monyet. Sedangkan kaum perempuan biasanya berperan dalam memasak, mengasuh anak, dan mengumpulkan bahan makanan dari alam seperti buah-buahan, sayur-sayuran, atau umbi-umbian.

Dalam proses adat dan sosial, Suku Anak Dalam menerapkan seloko adat, yaitu sistem nilai dan tatanan sosial yang tumbuh serta dipatuhi oleh masyarakatnya.

Terdapat beberapa istilah penting yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari Suku Anak Dalam, sebagai berikut:

1. Bertubuh Onggok atau Bermukim

Istilah ini menggambarkan Suku Anak Dalam yang mulai menetap di satu tempat dan tidak lagi hidup secara nomaden. Mereka mulai membangun tempat tinggal sederhana di sekitar hutan atau di kawasan yang disediakan pemerintah. Meski masih memegang tradisi lama, kelompok ini sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat.

2. Berpisang Cangko atau Bercocok Tanam

Berpisang Cangko merujuk kepada kegiatan bercocok tanam yang dilakukan Suku Anak Dalam. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mulai beradaptasi dengan pola hidup agraris dan tidak hanya bergantung pada hasil berburu.

3. Beratap Tikai atau Beratap Daun Kayu

Beratap Tikai merujuk pada rumah atau tempat tinggal Suku Anak Dalam. Rumah-rumah yang mereka tinggali bersifat sederhana, hanya memanfaatkan bahan dari alam seperti daun dan kayu yang digunakan untuk pondasi dan atap rumah.

4. Berdinding Baner

Rumah yang ditinggali Suku Anak Dalam biasanya terbuat dari dinding kulit kayu hutan yang biasa disebut dengan istilah Baner.

5. Melemak Buah Betatal

Melemak Buah Betatal berarti mengolah buah betatal sebagai sumber makanan. Buah Betatal merupakan jenis buah hutan yang dijadikan sebagai bahan makan yang mengandung minyak dan lemak nabati.

6. Minum Air dari Bonggol Kayu

Untuk mendapatkan sumber mata air, Suku Anak Dalam biasanya meminum air yang keluar dari pohon. Selain untuk menghilangkan dahaga, minum air dari bonggol kayu ini dipercaya memiliki khasiat sebagai obat.

Tradisi dan Kebudayaan Suku Anak Dalam

Melansir situs detikSumbagsel, berikut beberapa tradisi dan kebudayaan yang berlaku di masyarakat Suku Anak Dalam:

1. Budaya Melangun

Budaya Melangun adalah tradisi masyarakat Suku Anak Dalam yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan dalam masa berkabung. Dalam tradisi ini, mereka meninggalkan tempat tinggal dan pindah ke wilayah lain untuk menenangkan diri selama masa duka.

Dahulu, Melangun bisa berlangsung selama 10 hingga 12 tahun, namun kini masyarakat Suku Anak Dalam hanya melakukan Budaya Melangun selama 4 bulan hingga 1 tahun.

2. Seloko dan Mantera

Seloko dan Mantera merupakan aturan adat dan pedoman hidup untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Seloko menjadi prinsip dan moral kehidupan yang mereka percaya.

Contohnya seperti ungkapan, “Di mano bumi dipijak di situ langit dijunjung” yang memiliki arti di mana kita berada, selalu ada adat yang kita junjung tinggi, kita dituntut untuk menyesuaikan diri.

3. Besale

Besale merupakan upacara adat yang dilakukan dengan duduk bersama-sama meminta permohonan kepada tuhan untuk diberi kedamaian dan kesehatan, serta dilindungi dari bahaya.

Selain itu, Besale juga dilakukan sebagai upcara pengobatan atau tolak bala. Upacara ini dilakukan pada malam hari, dilengkapi dengan sesajen yang terdiri dari kemenyan, bunga, dan sajen perkawinan.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

20 Rekomendasi Wisata di Bekasi, Cocok untuk Keluarga



Jakarta

Bekasi memang identik sebagai kota industri, namun ternyata kota itu memiliki banyak destinasi wisata yang cocok untuk liburan bersama keluarga. Mulai dari wisata alam, taman edukasi, hingga wahana permainan, semuanya bisa ditemukan di sini.

Meski Bekasi tak sepopuler Jakarta, Bogor atau Bandung terkait destinasi wisatanya. Tapi sebetulnya Bekasi juga punya beberapa destinasi yang menarik untuk dicoba oleh traveler dan keluarga.

Berikut 20 rekomendasi destinasi wisata yang ada di Bekasi:

1. Pantai Mekar

Di sini traveler bakal disuguhkan dengan pesona laut dan juga keindahan hutan mangrove atau yang biasa dikenal sebagai bakau. Di wilayah Pantai Mekar juga terdapat jembatan bambu yang mana, traveler bisa mengabadikan momen kala berkunjung ke sana.


Lokasinya di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi dan untuk jam buka mulai dari 08.00 hingga 22.00 WIB. Sementara untuk tiket masuknya traveler dibanderol harga Rp 5.000 per orang.

2. Pantai Muara Beting

Selain ada Pantai Mekar, Bekasi juga masih punya pantai lainnya yakni Pantai Muara Beting yang punya ciri khas pasir pantainya yang hitam. Walaupun punya lokasi di ujung utara Kabupaten Bekasi, tapi traveler perlu coba sesekali untuk menikmati keindahan alamnya.

Melihat sunset, bermain pasir, dan menaiki perahu untuk menyusuri sungai yang terhubung ke laut jadi andalan aktivitas di sana. Berada di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, untuk masuk ke pantai ini traveler dikenakan biaya Rp 20 ribu per orang dan jam operasionalnya mulai dari 08.00-21.00 WIB.

3. Curug Parigi

Warga kerap menyebut Curug Parigi di Kota Bekasi sebagai miniatur Niagara. Sejumlah warga kerap mengunjungi ini lokasi ini sambil bersepeda.Curug Parigi di Kota Bekasi (Andi Saputra)

Di Bekasi juga punya air terjun kecil yang bisa jadi tempat wisata buat traveler saat berada di wilayah tersebut. Curug Parigi juga dijuluki Air Terjun Niagara-nya kebanggan warga Bekasi versi lebih kecil.

Masuk ke Curug Parigi ini traveler tidak dikenai biaya alias gratis. Alamatnya berada di wilayah Cikiwul, Bantar Gebang dan buka sejak jam 08.00 sampai 17.00 WIB.

4. Taman Kota Bekasi

Destinasi tanpa biaya lainnya di Bekasi, traveler bisa datang ke Taman Kota Bekasi yang adanya di kawasan Alun-alun M. Hasibuan. Selain cocok buat nyantai dan juga olahraga, Taman Kota Bekasi ini juga jadi tempat yang pas buat nyore.

Berada di Jalan Veteran No. 46, Marga Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Dibuka setiap hari mulai pukul 06.00 sampai 22.00 WIB.

5. Situ Rawa Gede

Acara di Situ Rawa Gede Kota BekasiSitu Rawa Gede Kota Bekasi (bekasikota.go.id)

Situ Rawa Gede ini adalah danau alami yang punya luas sekitar 7,3 hektar yang fungsi utamanya untuk resapan air sebagai penahan banjir. Fungsi lainnya juga jadi tempat wisata favorit, untuk menikmati tenangnya kawasan di sana.

Buka setiap hari mulai dari 07.00-18.30 WIB saat weekday dan 07.00-20.00 WIB untuk weekend, tiket masuk ke Situ Rawa Gede ini di harga Rp 10 ribu per orang. Situ Rawa Gede beralamat di Jalan Rawa Gede, Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

6. Taman Buaya Indonesia Jaya

Taman Buaya di BekasiTaman Buaya di Bekasi (Inaya Maimun Kanathania/detikcom)

Agak sedikit berbeda dengan destinasi lainnya, Taman Buaya Indonesia Jaya ini adalah sebagai pusat edukasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui tentang hewan buaya. Taman Buaya Indonesia Jaya juga digadang-gadang menjadi penangkaran buaya terbesar di Asia lho.

Beralamat di Jalan Raya Serang-Cibarusah KM 3, Sukaragam, Serang Baru, Kabupaten Bekasi, yang jam bukanya mulai dari 09.00-17.00 WIB. Dan harga tiket masuknya Rp 20 ribu untuk dewasa dan Rp 15 ribu untuk anak-anak.

7. Gedung Juang 45 Bekasi

Gedung Juang 45 Tambun usai direvitalisasi.Gedung Juang 45 Tambun (Agung Pambudhy)

Bagi traveler yang senang menggali cerita sejarah, di Bekasi juga punya tempatnya yakni di Gedung Juang 45 yang jadi simbol perjuangan rakyat. Gedung Juang 45 kini diubah menjadi museum dengan koleksi berbagai macam artefak bersejarah.

Gedung Juang 45 Bekasi juga yang memungut biaya bagi pengunjung yang masuk. Untuk traveler yang ingin ke sini, Gedung Juang 45 terletak di Jalan Sultan Hasanudin No. 39 Mekarsari, Kecamatan Tambun Selatan dan buka dari jam 09.00-16.00 WIB.

8. Hok Lay Kiong Temple

A woman lights a candle during the lunar New Year celebrations at the Hok Lay Kiong temple in Bekasi, Indonesia, Tuesday, Feb. 1, 2022. The celebration marks the Year of the Tiger in the Chinese Zodiac calendar. (AP Photo/Dita Alangkara)Hok Lay Kiong Temple (AP/Dita Alangkara)

Destinasi bersejarah lainnya di Bekasi ada Hok Lay Kiong Temple, yang merupakan kelenteng paling tua di Bekasi umurnya kini kurang lebih 300 tahun. Hok Lay Kiong sendiri punya istana yang membawa rezeki juga harapannya orang yang berdoa di sana bisa mendapatkan rezeki.

Lokasinya di Jalan Kenari I No. 1, Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi. Di buka mulai pukul 08.00 sampai 21.00 WIB dan tak ada biaya masuk.

9. Camping Ground Kalam Kopen

Camping Ground Kalam Kopen Bekasi.Camping Ground Kalam Kopen Bekasi. (Pesona Indonesia via direktoripariwisata.id)

Buat traveler yang mencari tempat camping di wilayah Bekasi, nih ada di Camping Ground Kalam Kopen. Di sana juga punya aktivitas outbond lainnya seperti flying fox hingga spider wings.

Letak Camping Ground Kalam Kopen berada di Jalan Waru Doyong No.87, Tambun Selatan, Bekasi. Buka selama 24 jam full dan untuk tiket masuk dikenai Rp 15.000 per orang.

10. Restoran Saung Wulan Tambun Bekasi

Di sini tentunya selain bisa makan, traveler juga akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah. Jadi tempat healing bersama keluarga di tengah nuansa khas Jawa Barat dengan saung-saung yang menghiasi.

Tempat ini beralamat di Jalan KH. Abu Bakar No. 60 Setiadarma, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Buka sejak 09.00 hingga 21.00 WIB.

11. Deltamas Hill

Destinasi ini dikenal juga sebagai Sabana Deltamas atau Deltamas Hill yang berada di kawasan Kota Deltamas. Di sana terdapat hamparan luas rumput yang sangat instagramable, Deltamas Hill juga sering digunakan pasangan-pasangan untuk menggelar sesi foto pre-wedding.

Deltamas Hill berlokasi di Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi dan untuk jam bukanya dari pukul 06,00-18.00 WIB. Tak ada tiket masuk per orangnya, hanya saja traveler dikenakan biaya parkir sebesar Rp 20.000 untuk motor dan Rp 50.000 untuk mobil.

12. Venetian Water Carnaval

Venetian Water Carnaval ini ngasih pengalaman buat traveler yang ingin merasakan libur seperti berada di kota Venesia, Italia. Terdapat kolam renang yang punya berbagai ukuran, adapun wahana seperti berbagai macam seluncuran, ember tumpah, dan juga trampolin.

Lokasinya berada di Jalan Raya Karang Satria No. 1-2, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Buka mulai dari jam 08.00 sampai 17.00 WIB dan tarif per orangnya dikenai Rp 40.000.

13. Columbus Waterpark

Taman bermain ar ini juga cocok banget buat traveler yang punya anak-anak dan ingin menikmati akhir pekan dengan bermain air. Di Columbus Waterpark juga terdapat seluncuran, ember tumpah, dan juga kolam renang-kolam renang dengan kedalaman yang berbeda-beda.

Untuk traveler yang ingin berkunjung, Columbus Waterpark berlokasi di Jalan Mutiara Gading Timur No. 7, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi. Harga tiket dibanderol dengan Rp 45.000 per orang dan bukan mulai dari pukul 08.00-17.00 WIB.

14. Galaxy Tirtamas Club

Masih dengan nuansa rekreasi air, Galaxy Tirtamas Club juga menawarkan traveler beserta keluarga menikmati permainan air. Bukan hanya kolam renang saha, di sini juga terdapat wahana seru lainnya dan juga dilengkapi dengan pusat kebugaran hingga lapangan bulu tangkis.

Traveler yang ingin ajak keluarganya ke sini, bisa menuju ke Jalan Boulevard Barat Raya No. 1, Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Per orang dikenakan Rp 30.000 dan buka mula dari jam 07.00 sampai 20.000 WIB.

15. Sirkus Waterplay

Tempat ini punya kombinasi yang menarik, sirkus tapi dipadukan dengan rekreasi air. Sehingga saat traveler datang bersama keluarga ke sini akan mendapatkan pengalam yang seru.

Berlokasi di Jalan Wibawa Mukti II No, 4, Jatiasih, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. Untuk tiket masuk seharga Rp 30.000 per orang dan buka mulai pukul 08.00-17.00 WIB.

16. Transera Waterpark

Nah untuk waterpark ini menawarkan kesan lain dari yang lain, Transera Waterpark menyuguhkan traveler suasana khas Afrika. Dari muai maskotnya yakni macan tutul sampai pepohonan yang rimbun.

Di sini juga ada zona basah dan zona kering, sehingga traveler bisa jajal keduanya dengan asik. Buka setiap hari mulai jam 10.00 – 17.30 WIB (weekday) dan jam 08.30-18.00 (weekend), harga per orangnya Rp 30.000, terletak di Kota Harapan Indah Boulevard Kavling V Sektor VI, Pusaka Rakyat, Tarumajaya, Bekasi.

17. Go! Wet

Go! Wet merupakan taman yang memiliki berbagai jenis kolam dengan fungsi yang beragam seperti Go! Lazy yang dirancang untuk bersantai di aliran air yang tenang, kolam renang khusus untuk berolahraga, hingga kolam dengan ombak buatan. Selain itu, tersedia juga berbagai wahana menarik seperti seluncuran dan teater 5D.

Berada Jalan Southern Boulevard Kav 1, Lambang Jaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi dan buka mulai dari jam 09.00 hingga 17.00 WIB. Untuk harga per orangnya di weekdays Rp 70.000 dan di weekend Rp 100 ribu.

18. Trans Snow World Bekasi

Traveler yang mau main salju buat liburan, wajib datang ke Trans Snow World Bekasi. Tempat wisata ini lagi banting harga khusus buat temani liburan kamu!Trans Snow World Bekasi (Agung Pambudhy)

Taman bermain ini menawarkan area bermain salju buatan yang berada di dalam ruangan. Pengunjung dapat merasakan sensasi bermain lempar-lemparan salju layaknya di negara-negara bersuhu dingin.

Di lokasi ini juga tersedia lereng buatan yang bisa digunakan untuk berseluncur menggunakan ban atau bermain ski. Buka setiap hari mulai jam 10.00-18.00 WIB dengan tiket masuk Rp 200 ribu, Trans Snow World Bekasi beralamat di Jalan Cut Mutia No. 180, Margahayu, Kecamatan Bekasi timur, Kota Bekasi.

19. Snow World International Mall Revo Town

Selain Trans Snow World Bekasi, terdapat juga Snow World International yang berlokasi di Revo Mall. Di sana, traveler dapat menikmati berbagai aktivitas seru seperti bermain lempar salju, membuat boneka salju, hingga menaiki kereta luncur.

Berlokasi di Ravo Mall Lapangan Parkir Utara, Jalan Ahmad Yani, Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Tiketnya masuknya Rp 100 ribu per orang dan buka mulai 11.00-18.00 WIB (weekday) dan 10.00-18.30 WIB (weekend).

20. Fun Park Bekasi

Fun Park Bekasi adalah salah satu taman air yang cukup terkenal di kawasan Bekasi, tempat ini menjadi pilihan tepat untuk rekreasi bersama keluarga. Di dalamnya tersedia berbagai kolam renang dengan ukuran yang bervariasi, beragam wahana seluncuran seru, serta area-area menarik untuk berfoto.

Alamatnya berada di Jalan Raya Bekasi Timur Regensi No 1, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi. Buka setiap hari mulai pukul 08.00-16.00 WIB dan tiket masuknya seharga Rp 15.000.

(upd/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jejak Prabu Jayabaya yang Konon Moksa di Petilasan Pamuksan Kediri



Kediri

Ada satu tempat bersejarah di Kediri yang dipercaya sebagai tempat moksanya Prabu Jayabaya. Seperti apa kisahnya?

Di balik hiruk-pikuk kehidupan kota Kediri yang semakin modern, tersimpan sebuah tempat yang masih dipenuhi kisah-kisah mistis sekaligus spiritual. Tempat itu bernama Petilasan Pamukasan Sri Aji Joyoboyo.

Situs ini diyakini sebagai tempat Prabu Jayabaya, seorang raja bijaksana dari Kerajaan Kadiri, untuk bertapa dan meninggalkan jejak batin yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat.


Siapa Prabu Jayabaya?

Nama Jayabaya tak bisa dilepaskan dari Jangka Jayabaya, ia dikenal akan kesaktiannya melalui ramalan yang disebut-sebut mampu meramalkan peristiwa besar Nusantara, dari penjajahan bangsa asing, masa sulit yang panjang, hingga tibanya zaman kemerdekaan.

Ramalan ini tak hanya beredar dari mulut ke mulut, tetapi juga mengakar kuat sebagai bagian dari tradisi lisan Jawa. Tak heran jika petilasan ini sering dianggap sebagai ruang bersemayamnya energi masa lalu-tempat di mana doa, harapan, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu.

Salah satu kepercayaan yang melekat erat pada Jayabaya adalah bahwa ia tidak meninggal secara biasa, melainkan moksa atau lenyap bersama raganya menuju ke alam lain. Keyakinan ini membuat petilasan Pamuksan dihormati bukan hanya sebagai tempat bertapa, tetapi juga diyakini sebagai titik peralihan Jayabaya dari dunia fana menuju keabadian.

Bagi masyarakat Jawa, moksa menandai kesempurnaan hidup seorang manusia, dan bagi Jayabaya, itu menjadi simbol kebijaksanaan sekaligus keagungan yang melampaui batas waktu.

Setiap hari, terutama menjelang malam Jumat, petilasan ini tak pernah sepi oleh peziarah. Warga datang dari berbagai daerah untuk berziarah, menyalakan dupa, dan merapalkan doa.

“Kalau saya ke sini, rasanya adem. Ada yang beda dari tempat lain,” ujar Sulastri (45), seorang peziarah asal Nganjuk.

Dia mengaku rutin datang setiap bulan ke patilasan ini untuk berdoa agar usaha keluarganya selalu diberi kelancaran dan diberi kesehatan.

Diselimuti Kisah Mistis

Tentu saja di balik jejak Prabu Jayabaya yang bersemayam, ada kisah mistis yang santer terdengar. Beberapa pengunjung mengaku pernah mencium wangi bunga tiba-tiba, mendengar suara gamelan samar, hingga merasakan seolah sedang diawasi.

Meski sulit dibuktikan secara logika, cerita-cerita itu justru membuat daya tarik petilasan semakin kuat. Banyak peziarah yang datang ke sini karena penasaran.

Sendang Tirto Kamandanu: Sumber Kehidupan dan Ritual

Tak jauh dari bangunan patilasan, terdapat Sendang Tirto Kamandanu, kolam alami dengan mata air yang mengalir melalui tiga tingkatan yaitu sumber, tempat penampungan, dan kolam pemandian.

Airnya dipercaya memberi manfaat bagi kehidupan, serta membawa berkah bagi mereka yang menggunakannya. Kolam ini juga dilengkapi dengan arca Syiwa Harihara (simbol perdamaian) dan Ganesha, menandakan harmoni spiritual dan kebijaksanaan.

Petilasan Pamukasan KediriPatilasan Jayabaya Kediri Foto: (dok. Istimewa)

Setiap tanggal 1 Sura, masyarakat mengadakan upacara adat di kawasan sendang, berupa prosesi ritual napak tilas untuk menghormati Jayabaya. Upacara ini menjadi momentum sakral, di mana mistis dan budaya berpadu, menarik perhatian peziarah dan wisatawan.

“Kalau cuci muka di sumur itu bisa bikin bersih aura dan awet muda,” tutur Mbah Sempu (77), sesepuh desa yang sejak kecil sudah mendengar kisah tentang kesaktian air sendang tersebut.

Tak Hanya Destinasi Wisata, tapi Juga Warisan Budaya

Bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya Kediri, petilasan ini bukan sekadar objek wisata, tetapi juga warisan budaya leluhur.

Keteguhan mereka menjaga serta melestarikan tradisi dan budaya sebagai warisan leluhur yang harus dijaga dengan khidmat, menghargai keteguhan masyarakat di Jawa Timur dalam menjaga serta melestarikan tradisi dan budaya.

Sebagian orang mungkin menganggap tempat ini adalah untuk ngalap berkah, tapi bagi yang lain, tempat ini adalah ruang untuk menapaktilasi sejarah. Bagi sebagian lainnya, sekadar destinasi wisata dengan nuansa mistis yang tak ditemukan di tempat lain.

Yang jelas, petilasan ini menjadi saksi bagaimana warisan leluhur tidak hanya bertahan dalam ingatan, sekaligus memberi denyut ekonomi kecil bagi masyarakat setempat.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kampung Dongeng Tangsel, Wisata Keluarga Tempat Anak Bebas Berimajinasi


Jakarta

Kampung Dongeng Tangsel di Ciputat adalah pilihan liburan bagi keluarga Jabodetabek dan sekitarnya. Di sini, anak bisa berimajinasi melalui dongeng dan beragam kegiatan seru. Keluarga tentunya bisa ikut serta dalam dunia fantasi anak yang penuh warna dan cerita.

Seperti namanya, Kampung Dongeng menghidupkan kembali tradisi mendongeng dalam keluarga. Tradisi dihidupkan dalam berbagai kegiatan misal Kampung Dongeng Pekan Ceria, Kampung Dongeng Keliling, Kemah Dongeng, dan aktivitas menarik lainnya.

Kampung Dongeng TangselKampung Dongeng Tangsel (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

Di Kampung Dongeng, anak tak hanya mendengarkan tapi juga belajar menuturkan dongeng sesuai imajinasinya. Seluruh kegiatan di Kampung Dongeng dilakukan di tengah alam yang asri dan hijau. Lingkungan sejuk dan terbuka membebaskan anak serta keluarganya bebas beraktivitas.


Kampung Dongeng juga punya banyak koleksi buku yang bisa dibaca tiap saat. Buku-buku ini tersusun rapi dalam tiap rak yang terdapat di sanggar Kampung Dongeng. Kegiatan di tiap sanggar dan Kampung Dongeng bisa diupdate di media sosial Instagram kampungdongeng, Pengunjung juga bisa menghubungi nomor admin yang tercantum di medsos.

Lokasi dan Tiket Masuk Kampung Dongeng Tangsel

Kampung Dongeng Tangsel beralamat di Jl. Musyawarah nomor 99 RT 04/RW 01, Kelurahan Sawah Lama, Kecamatan Ciputat. Pengunjung tak perlu membayar tiket masuk, namun sebaiknya daftar lebih dulu sebelum mengikuti program dan kegiatan Kampung Dongeng.

Jam buka Kampung Dongeng adalah pukul 07.00-17.00 WIB saat hari libur dan kerja, sehingga pengunjung bisa datang bersama anak dan keluarga setiap saat. Bangunan Kampung Dongeng terdiri dari dua lantai dengan bagian bawah terdiri dari sanggar dan ruang terbuka, sementara ruang atas adalah editorial serta operasional.

Kampung Dongeng TangselKampung Dongeng Tangsel (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

Menurut Sekretaris Umum Komunitas Kampung Dongeng Indonesia, Meta, Kampung Dongeng Tangsel bisa menampung 50 anak saat ada kegiatan. Biasanya, kegiatan dilakukan pada Sabtu dan Minggu sehingga pengunjung bisa datang dab menikmati kegiatan bersama keluarga.

“Usia yang sering datang mulai dari TK usia 5 tahun, bahkan anak SMP usia 13 tahun pun masih banyak yang ikut,” kata Meta.

Dengan berbagai programnya, Kampung Dongeng Tangsel patut dipertimbangkan sebagai alternatif liburan keluarga bagi warga Jabodetabek. Apalagi wisata edukatif ini tersebar di banyak tempat seluruh Indonesia yang dibangun bersama komunitas dongeng.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com