Tag Archives: keramat

Kisah Misteri Situs Keramat Depok



Ciamis

Situs Keramat Depok yang berada di Ciamis menyimpan kisah misteri. Ada pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh warga. Seperti apa?

Situs yang berada di desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis itu konon merupakan salah satu petilasan Prabu Kian Santang.

Di tempat ini, Prabu Kian Santang (anak Prabu Siliwangi) bertemu dengan gurunya Ki Ajar Taji atau dikenal juga Prabu Taji Malela.


Juru Pelihara Situs Keramat Depok Dodi Supriadi pun menceritakan sejumlah cerita mitos hingga misteri yang menyelimuti petilasan tersebut.

Menurut cerita yang berkembang, keberadaan situs tersebut menjadi pelindung bagi warga Sukamaju pada masa pemberontakan.

Menurutnya, wilayah Sukamaju yang dulunya bernama Cibaruyan menjadi tidak terlihat oleh para pemberontak. Hal ini membuat masyarakat pun menjadi aman.

Di zaman dulu, konon lokasi tersebut adalah sebuah padepokan dan tempat berkumpulnya para jawara.

“Keramat Depok ini kan asalnya dari padepokan. Banyak yang berguru ke sini dari berbagai wilayah, makanya di sini banyak makan yang tidak dikenal. Tempat ini dilindungi oleh pohon-pohon besar,” ujar Dodi, Sabtu (20/7) lalu.

Lokasi Situs Keramat Depok di Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis.Lokasi Situs Keramat Depok di Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Dodi menjelaskan di area keramat tersebut dulunya terdapat sebuah sumur yang kerap dipakai untuk turun mandi anak yang akan dikhitan.

“Dulu suka dipakai tempat turun mandi untuk anak laki-laki yang akan disunat,” ucapnya.

Namun sekarang, sumur tersebut kini sudah menjadi sawah. Di tempat ini, terdapat sekelumit mitos dan misteri yang berkembang di masyarakat.

Pantang Menebang Pohon

Warga atau siapa saja tidak boleh menebang atau mengambil pohon yang ada di lokasi tersebut. Apabila melakukan hal tersebut, konon mitosnya orang itu akan mendapat malapetaka bahkan meninggal dunia.

“Dulu pernah ada yang menebang pohon di sini. Kemudian yang ngambil dan yang menjualnya meninggal,” ungkapnya.

Tak heran jika pohon yang ada di lokasi tersebut dibiarkan tumbuh lebat supaya tetap lestari. Tak sedikit juga orang yang datang dari beberapa wilayah ke Situs Keramat Depok untuk melakukan ziarah atau tawasul.

Banyak Dikunjungi Peziarah

Namun ada juga beberapa di antara peziarah yang memang datang untuk memiliki tujuan tertentu. Namun hakikatnya, menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah SWT.

“Ada warga kota, mengaku tertipu Rp 300 juta. Kemudian mendapat petunjuk ke sini, malam Jumat sekitar pukul 02.00 WIB, alhamdulillah. Kemudian ada tukang jualan pakaian yang digendong, lalu bertawasul di sini. Yang dulunya jualan pakaian di gendong sekarang punya ruko,” jelasnya.

Dodi menjelaskan, untuk memasuki lokasi Situs Keramat Depok ini, peziarah sebaiknya berwudhu terlebih dulu di depan pintu gerbang yang telah disediakan. Hal ini dilakukan sebagai sebuah adab ketika memasuki rumah orang lain.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bertualang Mendaki Gunung Egon yang Menakjubkan



Sikka

Terletak di Sikka, NTT ada sebuah gunung yang menanti untuk ditaklukkan. Gunung Egon namanya. Pemandangan gunung ini begitu menakjubkan. Sudah pernah ke sini?

Gunung Egon berdiri kokoh dengan ketinggian 1.703 meter di atas permukaan laut. Sebagai salah satu gunung berapi aktif di Pulau Flores, gunung Egon menarik perhatian pendaki dan wisatawan yang ingin menikmati petualangan alam yang menantang dan pemandangan menakjubkan.

Gunung Egon berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari pusat kota Maumere, menjadikannya cukup mudah dijangkau, meskipun tidak ada transportasi umum langsung menuju base camp.


Pengunjung biasanya menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewaan untuk mencapai kaki gunung. Dari Maumere, perjalanan menuju basecamp di Waigete membutuhkan waktu sekitar satu jam melalui jalan utama ke arah Larantuka.

Jalur Pendakian Gunung Egon

Gunung Egon menawarkan dua jalur pendakian utama: jalur Desa Blindit dan jalur Inerie.

· Jalur Desa Blindit

Jalur ini cocok bagi Anda yang siap menghadapi tantangan fisik yang cukup berat. Pendakian dimulai dengan melalui jalan setapak di hutan, diikuti oleh jalur berbatu yang cukup terjal. Pendakian melalui Desa Blindit membutuhkan stamina ekstra, namun sepadan dengan suasana alami yang menenangkan sepanjang jalan.

· Jalur Inerie

Alternatif lain adalah jalur Inerie, yang meskipun lebih panjang, menawarkan lintasan zig-zag yang lebih bersahabat bagi pendaki pemula. Jalur ini memungkinkan Anda menikmati pemandangan indah dan sedikit lebih aman karena tidak terlalu curam seperti jalur Desa Blindit.

Kedua jalur itu akan membawa para pendaki melewati lereng-lereng berbatu dan area keramat yang dijaga dan dihormati oleh penduduk setempat.

Disambut Kekayaan Flora Fauna Gunung Egon

Di sekitar kawah Gunung Egon, Anda akan menemukan tanaman khas seperti santigi gunung (Vaccinium varingifolium), tumbuhan perdu yang tumbuh pada ketinggian di atas 1.000 meter.

Dengan daun kecil dan pucuk berwarna merah muda hingga merah, tanaman ini menambah keindahan alam sekitar bebatuan dan kawah. Selama perjalanan, kicauan burung dan angin sejuk yang berhembus akan menemani pendakian, memberi semangat ekstra bagi para pendaki.

Pemandangan Menakjubkan Kawah Gunung Egon

Setibanya di puncak, pendaki akan disuguhi panorama luar biasa dari Teluk Maumere dan pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya. Aroma belerang mulai tercium ketika Anda semakin dekat dengan kawah, yang memperlihatkan kepulan asap hasil aktivitas vulkanik.

Kawah besar yang terbentuk akibat letusan masa lalu ini dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi, menambah kesan megah dari pemandangan alam yang ditawarkan Gunung Egon.

Tips Mendaki Gunung Egon

Pendakian ke puncak tertinggi gunung Egon disarankan bagi mereka yang telah memiliki dasar dalam mendaki gunung atau pengalaman climbing, karena rute menuju puncak cukup terjal dan mengharuskan pendaki untuk memanjat batuan.

Pemandu lokal biasanya akan mengingatkan pengunjung untuk menghormati area-area tertentu yang dianggap keramat, serta mengikuti jalur yang aman guna menjaga keselamatan selama pendakian.

Namun karena situasi gunung Lewotobi Laki-laki yang sedang erupsi, sebaiknya traveler menunda untuk mendaki gunung Egon sampai situasi dirasa aman ya.

——–

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Penampakan Air Terjun Keramat dari Samosir



Samosir

Liburan akhir tahun ke Samosir tak lengkap jika tidak mengunjungi Sampuran Na Pitu, air terjun yang dianggap keramat oleh warga setempat.

Air Terjun Sampuran Na Pitu ini dianggap sebagai objek wisata spiritual yang juga dijadikan sebagai tempat ritual oleh warga Samosir.

Dilansir dari website Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, air terjun merupakan bagian dari magma yang terangkat ketika Samosir masih sejajar Danau Toba pada proses letusan super volcano.


Namun lambat laun, tebing mulai terbentuk dan jadilah air terjun Sampuran Na Pitu. Sesuai dengan namanya, air terjun Sampuran Na Pitu artinya air yang memiliki tujuh tingkatan.

Dalam setiap tingkatan, air turun bak air hujan. Masyarakat setempat percaya, air terjun ini dipercaya keramat. Air terjun ini dipercaya milik Siboru Langgatan.

“Peziarah yang sering meramaikan tempat ini, biasanya meminta berkah atau ingin menyembuhkan penyakit yang disebabkan dari nonmedis,” tulis akun website BDODT.

Tim detikSumut pun mendatangi langsung Air Terjun Sampuran Na Pitu di Kabupaten Samosir, Minggu (16/12) lalu. Percikan air terjun yang deras memang membuat suasana menjadi sejuk.

Di bawah air terjun Sampuran Na Pitu, ada bak keramik dengan gayung dan terdapat beberapa mangkuk keramik yang sudah disemen.

Sementara itu, tak jauh titik air terjun terdapat pondok dengan arsitektur berbentuk singgasana kerajaan berwarna emas.

Panorama Air Terjun Na Pitu ternyata memiliki magnet menarik para pengunjung untuk dapat menikmati suasana di sekitar air terjun.

“Sejuk tempatnya ya, kita bisa lihat air terjun tapi di pinggir jalan. Terus tempatnya juga sepertinya religius ya kayak ada tempat ritualnya,” ungkap pengunjung asal Jakarta bernama Dinda.

Air Terjun Sampuran Na Pitu di Samosir ini dapat ditempuh dengan jarak sekitar 111 km atau selama 5 jam perjalanan dari Kota Medan.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Air Terjun Ini Sangat Keramat tapi juga Begitu Menawan



Jakarta

Air Terjun Murundao di Ende, NTT, menawarkan keindahan alam, trekking mudah, dan nuansa mistis. Cocok untuk liburan keluarga dan pencinta alam.

Terletak di Desa Koanara, Kecamatan Kelimutu, air terjun ini menyajikan pemandangan alam yang memukau dan suasana yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota. Dengan ketinggian sekitar 40-50 meter, Air Terjun Murundao menjadi salah satu air terjun terbesar di daerah ini.

Dikelilingi oleh hutan tropis yang rimbun, Air Terjun Murundao menawarkan suasana yang menyejukkan dan damai. Pepohonan hijau yang lebat menciptakan pemandangan yang menenangkan bagi siapa saja yang mengunjunginya.


Suara gemericik air yang jatuh dari ketinggian serta udara segar yang mengalir membuat tempat ini menjadi tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati alam.

Ketika sampai di Air Terjun Murundao, pengunjung akan disambut dengan pemandangan yang memukau dan suasana yang damai. Anda dapat merasakan kesejukan udara pegunungan sambil menikmati keindahan alam sekitar.

Trekking menuju air terjun ini pun tidak terlalu sulit, cocok untuk semua kalangan, termasuk anak-anak. Jalur trekking yang ringan ini memungkinkan pengunjung untuk menjelajahi flora dan fauna lokal, sekaligus mengajak anak-anak berinteraksi dengan alam dan mengajarkan mereka untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Selain keindahan alamnya, Air Terjun Murundao juga memiliki cerita mistis yang menambah daya tariknya. Menurut cerita rakyat setempat, air terjun ini dianggap sebagai tempat yang suci dan keramat. Banyak orang datang ke sini untuk melakukan upacara keagamaan, berdoa, atau memohon berkah. Hal ini memberi nuansa spiritual yang membuat tempat ini terasa lebih istimewa.

Air Terjun Murundao terletak sekitar 60 kilometer (km) dari ibu kota Kabupaten Ende, yang dapat dijangkau dalam waktu sekitar 2 jam dengan kendaraan. Jika Anda berasal dari kota Moni, air terjun ini hanya berjarak sekitar 400 meter, yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit.

Jalan masuk menuju air terjun ini terletak tepat di seberang Rainbow Cafe Moni. Dari pintu masuk, Anda akan melewati jalan setapak tanah yang menurun hingga tiba di jembatan bambu yang melintasi sungai kecil yang mengalir dari air terjun. Setelah menyeberangi jembatan, Anda hanya perlu berjalan 50 meter lagi untuk mencapai dasar air terjun.

Dengan keindahan alam yang menakjubkan dan trek yang cocok untuk keluarga, Air Terjun Murundao menjadi destinasi wisata yang tepat untuk liburan bersama keluarga atau teman-teman.

Baca artikel selengkapnya di detikBali

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Setiap Jumat Pahing, Gua Ini Dipenuhi Mereka yang Mau Ngalap Berkah



Tuban

Di Tuban, Jawa Timur ada satu gua yang dipenuhi pengunjung setiap Jumat Pahing. Mereka datang untuk ngalap berkah di gua itu. Bagaimana kisahnya?

Wisata gua Ngerong yang berada di desa Rengel, kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur selalu ramai dikunjungi warga, terutama pada hari Jumat Pahing dalam penanggalan Jawa.

Menurut juru kunci, Mbah Mustamin (60), banyaknya pengunjung yang datang pada hari tersebut, dengan tujuan untuk ngalap berkah. meskipun tak sedikit pula datang ke gua ini murni hanya untuk berwisata.


“Kalau Jumat Pahing mulai pagi jam 6 itu susah antri di dekat kolam gua Lowo situ, sambil bawa bunga setaman,” tutur Mustamin, Minggu (26/1).

Pengunjung yang datangke gua itu memiliki berbagai tujuan, seperti mencari kesembuhan dari penyakit, bersyukur atas kesembuhan, atau memiliki hajat lainnya.

Mereka akan turun ke kolam di gua itu untuk melakukan ritual membasuh muka tiga kali dan menyampaikan harapan di petilasan pertapaan Eyang Jala Ijo.

“Yang datang itu mulai orang sakit, sembuh dari sakit, atau hajat lainnya ya… ke sini turun ke kolam raup ping tigo (basuh muka tiga kali). Lalu hajatnya apa saya sampaikan ke dalam gua Mbah Jala Ijo,” tutur Mustamin.

Banyak warga yang percaya bahwa doa mereka terkabul setelah berkunjung ke gua Ngerong. Hal ini membuat mereka kembali lagi untuk mengucapkan syukur dan ngalap berkah.

Sebagai juru kunci yang bertugas secara turun-temurun, Mbah Mustamin juga menceritakan asal-usul gua Ngerong yang penuh cerita mistis.

Asal Usul Gua Ngerong

Kisahnya bermula dari seorang perempuan bernama Dewi Laras yang sedang hamil dan membutuhkan air untuk melahirkan. Ki Jala Ijo dan Ki Kumbang Jaya Kusuma yang sedang bertapa di depan gua, berusaha menolong Dewi Laras yang kesulitan mendapatkan air.

Mereka pun menancapkan tongkat di dalam gua, hingga akhirnya keluar air deras disertai kemunculan hewan seperti ikan, kura-kura, dan kelelawar. Hewan-hewan ini kemudian dipercaya masyarakat sebagai hewan keramat.

“Dewi Laras akhirnya menemukan sumber air inilah yang disebut-sebut sebagai awal mula wilayah gua Ngerong. Ngerong itu bermula dari bahasa Jawa ‘Klenger Ngorong akhire dadi Ngerong,” jelas Mbah Mustamin.

Kepercayaan masyarakat terhadap kisah ini begitu kuat, bahkan ada pantangan untuk membawa pulang hewan dari dalam gua.

“Sudah banyak buktinya, siapa yang ambil ikan akan mati. Sehingga tak ada yang berani bawa pulang,” pungkas si juru kunci.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bukit Fatukopa yang Keramat di Timor Tengah Selatan



Timor Tengah Selatan

Bukit Fatukopa adalah destinasi alam memukau di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Lebih dari itu, bukit ini dianggap keramat oleh masyarakat.

Bukit Fatukopa memadukan keindahan alam, sejarah, dan keunikan budaya. Bukit ini dikenal sebagai bukit kapur yang ditumbuhi vegetasi khas hutan tropis. Bukit ini memberikan suasana asri yang jarang ditemui di tempat lain.

Dalam bahasa Atoin Meto, Fatukopa berarti “Batu Kapal” (Fatu = Batu, Kopa = Kapal). Nama ini diberikan karena bentuk batu kapur di bukit tersebut menyerupai kapal jika dilihat dari sudut tertentu.


Menurut legenda, bukit ini dianggap sebagai bahtera Nabi Nuh yang karam, sekaligus dipercaya sebagai asal mula nenek moyang orang Timor.

Sebagai tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat Suku Dawan, pendakian ke Bukit Fatukopa harus melalui izin kepala suku setempat.

Dari Kota So’e, ibu kota Kabupaten TTS, Bukit Fatukopa dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar satu jam menggunakan kendaraan roda dua atau empat. Jaraknya sekitar 57 kilometer (km) dengan rute yang cukup menantang.

Jalan menuju lokasi dipenuhi pepohonan lebat dan medan yang terjal, tapi pemandangan alam sepanjang perjalanan membuat setiap tantangan terasa sepadan.

Bukit ini menawarkan pemandangan yang luar biasa, terutama saat matahari terbit dan terbenam. Cahaya keemasan yang memancar dari matahari memberikan nuansa eksotis yang menambah pesona Fatukopa.

Vegetasi tropis yang tumbuh di sekitar bukit semakin memperindah suasana alami dan menghadirkan kedamaian bagi siapa saja yang berkunjung.

Meskipun medan menuju Bukit Fatukopa cukup sulit, beberapa fasilitas sederhana tersedia, seperti area parkir, toilet, dan area camping. Tidak ada biaya tiket masuk untuk mengunjungi bukit ini, menjadikannya pilihan wisata yang terjangkau.

Namun, pengunjung disarankan memastikan kendaraan dalam kondisi prima karena kondisi jalan yang terjal dan menantang. Bagi mereka yang mencari pengalaman berbeda, Bukit Fatukopa adalah destinasi yang ideal.

Selain keindahan alam, tempat ini juga menawarkan perjalanan yang penuh petualangan, serta kesempatan untuk menyelami budaya lokal masyarakat Suku Dawan.

Bukit Fatukopa terbuka untuk pengunjung setiap hari, mulai dari pagi hingga malam hari. Fleksibilitas waktu ini memungkinkan wisatawan menikmati pesona Fatukopa kapan saja sesuai keinginan.

Bukit Fatukopa bukan sekadar tujuan wisata, tapi perpaduan antara keindahan alam, kisah legenda, dan pengalaman budaya yang mendalam.

Dengan pemandangan yang menawan dan suasana yang tenang, Bukit Fatukopa menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan. Jadi, jika Anda ingin menjelajahi keajaiban alam di Nusa Tenggara Timur, Bukit Fatukopa adalah destinasi yang tidak boleh dilewatkan.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ada yang Beracun dan Tidak Pernah Kering



Cirebon

Cirebon memiliki budaya yang kaya dan sejarah yang panjang. Di kota ini, ada 4 sumur keramat dengan kisah tersendiri. Ada yang beracun hingga tak pernah kering.

Sumur keramat tersebut tersebar di keraton-keraton yang ada di Cirebon. Sampai sekarang, sumur-sumur ini masih didatangi peziarah dan diyakini memiliki khasiat.

Berikut 4 Sumur di Cirebon yang Keramat:


1. Sumur Upas: Sumur Beracun Peninggalan Abad 15

Berbeda dengan sumur lainnya, Sumur Upas atau Sumur Soka yang berada di bawah pohon soka besar di Petilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati kini ditutup dan tidak difungsikan karena diyakini mengandung racun.

Kepala Bagian Informasi dan Pariwisata Keraton Kasepuhan Iman Sugiman, menyebutkan sumur ini dulunya digunakan untuk merendam senjata agar beracun saat melawan penjajah.

Nama “Sumur Upas” berasal dari kata “upas” yang berarti racun. Uniknya, pohon soka tempat sumur ini berada dikenal langka karena bunganya tumbuh di dahan, bukan di pucuk daun seperti pohon soka pada umumnya.

2. Sumur Ketandan: Saksi Pembuatan Terasi Cirebon

Sumur Ketandan menjadi salah satu situs sejarah penting di Kota Cirebon yang menyimpan kisah perjuangan Pangeran Cakrabuana dalam menyebarkan agama Islam di pesisir utara Jawa.

Terletak di bawah naungan pohon beringin besar yang telah berusia ratusan tahun, sumur ini hingga kini masih dijaga kesakralannya.

Menurut juru kunci Sumur Ketandan, Raden Syarifuddin, air sumur ini diambil secara manual menggunakan ember tanpa bantuan pompa. Hal ini dilakukan agar kesucian dan kesakralan situs tetap terjaga. “Kalau pakai pompa, nanti jadi tidak sakral,” ujarnya.

Syarifuddin menjelaskan, nama “Ketandan” berasal dari kata “Tanda”, yang berarti ciri-ciri. Dalam kisahnya, Pangeran Cakrabuana pernah menaruh “jalatunda” atau jaring di sekitar sumur setelah mencari ikan di laut Cirebon.

Sumur ini dahulu digunakan untuk mencuci jala dan membuat terasi dari ikan rebon. Pada masa itu, lokasi sumur berada dekat pantai, sebagaimana halnya Masjid Pejlagrahan, yang juga merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana.

Meskipun telah berusia ratusan tahun, air sumur ini tidak pernah kering. Masyarakat percaya bahwa airnya memiliki khasiat untuk penyembuhan dan pelindung dari sihir. Namun Syarifuddin mengingatkan, semua permohonan tetap harus ditujukan kepada Allah SWT.

Pengunjung biasanya datang saat malam Jumat Kliwon, baik umat Muslim maupun non-Muslim. Mereka melakukan napak tilas sejarah dan memanfaatkan air sumur yang dianggap penuh berkah.

3. Sumur Kejayaan: Sumur Keramat di Keraton Kasepuhan Cirebon

Sumur Kejayaan merupakan salah satu sumur keramat yang terletak di area Petilasan Dalem Agung Pakungwati, komplek Keraton Kasepuhan Cirebon. Sumur ini diyakini sebagai tempat wudu bagi Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati.

Menurut juru kunci, Mang Pardi (68), banyak pengunjung dari berbagai daerah, seperti Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka, hingga Jawa Tengah yang datang untuk berwudu, mandi, atau mengambil air sumur.

Menariknya, meskipun kedalamannya hanya sekitar tiga meter, air sumur ini tidak pernah kering meski kemarau panjang, dan tidak meluber saat musim hujan.

Mang Pardi mengatakan bahwa setiap pengunjung datang dengan tujuan berbeda, mulai dari kelancaran usaha hingga terkabulnya hajat. Namun, semua dikembalikan kepada kehendak Tuhan.

Pengunjung yang ingin memasuki kawasan petilasan Dalem Agung Pakungwati dan Sumur Kejayaan wajib mematuhi sejumlah aturan. Antara lain, melepas alas kaki, tidak merokok, dan hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk, dengan alasan kesucian tempat.

4. Sumur Jala Tunda: Sumber Air Abadi

Sumur Jala Tunda yang berada di sebelah Masjid Pejlagrahan, Kampung Grubugan, Kelurahan Kasepuhan, Kota Cirebon, juga merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana dari abad ke-14.

Menurut Ketua DKM Masjid Pejlagrahan, Sulaeman, sumur ini dibuat untuk memudahkan nelayan berwudu sebelum salat. Sumur ini terdiri dari dua bagian: untuk laki-laki dan perempuan. Hingga kini, sumur ini tak pernah kering, meskipun kedalamannya hanya sekitar enam meter.

Selain dimanfaatkan masyarakat setempat, banyak peziarah dari luar daerah yang mengambil air sumur karena diyakini memiliki khasiat tertentu.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Seperti Ini Wujud Gua Tempat Persinggahan Ratu Laut Selatan



Sukabumi

Konon di balik tebing karang yang menjulur ke laut, tersimpan ruang kecil yang dianggap keramat oleh sebagian warga Sukabumi. Itulah tempat persinggahan sang Ratu Laut Selatan.

Matahari belum sepenuhnya naik ketika Edo Supriadi berjalan menyusuri bibir Pantai Karang Hawu yang berada di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat.

Lelaki berusia 41 tahun itu membawa seikat bunga, dua batang dupa, dan segelas air mineral yang dibungkus kain mori putih. Langkahnya pelan, seperti sedang mengukur waktu dan diam-diam membaca tanda dari alam.


Menurut cerita turun-temurun, Nyi Roro Kidul sosok yang dikenal dalam legenda sebagai Ratu Laut Selatan diyakini pernah singgah. Keyakinan itu hidup kuat, bagi mereka yang percaya.

“Dari dulu saya sudah sering diajak orang tua ke sini. Dulu kalau ada hajat besar, orang-orang suka tirakat di sini. Katanya ini tempat singgah Ratu Laut Selatan.” ucap Edo membuka kisahnya, orang tua yang ia maksud adalah orang yang dia tuakan, seorang tokoh spiritual.

Gua itu dikenal sebagai Gua Keramat Karang Hawu, berada di balik batu besar di kaki tebing yang disebut Gunung Winarum. Lokasinya hanya bisa dicapai dengan menaiki jalan setapak dari sisi timur pantai.

Tak ada papan penunjuk arah. Tempat itu seolah hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tahu atau dipanggil, bagi mereka yang percaya.

Di dalam gua, suasana sunyi menyelimuti. Udara dingin menempel di kulit. Sisa dupa dan sesajen berserak di lantai batu.

Gua Karang Hawu SukabumiGua Karang Hawu Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Sebuah kendi tua diletakkan di sudut, berisi air laut yang konon telah dibacakan doa. Di dinding gua, garis-garis basah mengalir perlahan seperti peluh batu yang menyimpan kisah lama.

Namun bukan hanya gua yang dikeramatkan. Di atas bukit karang itu, tepat di ujung tebing yang menghadap langsung ke laut, terdapat formasi batu yang disebut karang kursi.

Batu besar ini menyerupai singgasana. Bagi mereka yang percaya, di situlah Nyi Roro Kidul kerap “duduk” memandang cakrawala, terutama saat purnama merekah di atas laut selatan.

“Kalau yang benar-benar niat datang, kadang dapat mimpi. Katanya duduk di kursi batu itu, ngadep laut, terus tiba-tiba tahu jalan keluar dari masalahnya,” ujar Edo.

Purnama bukan hanya penanda waktu, tapi bagi sebagian orang menjadi jendela antara dunia manusia dan dunia gaib. Malam Jumat Kliwon, malam Suro, atau saat bulan penuh, kerap dianggap sebagai waktu ketika tirai antara alam terlihat dan tak terlihat menipis. Bagi mereka yang percaya, itu adalah saat yang sakral.

“Banyak yang percaya, kalau niatnya baik, datang ke sini bisa dapat petunjuk atau kemudahan. Tapi kalau sembarangan, bisa celaka,” kata Edo.

Ia mengaku pernah menyaksikan kejadian yang sulit dijelaskan. Seorang pengunjung datang tergesa-gesa, langsung naik ke atas tanpa ritual pembuka. Tak lama, orang itu jatuh tak sadarkan diri di depan karang kursi.

“Pernah ada yang kesurupan, atau tiba-tiba jatuh pingsan waktu naik ke atas bukit. Biasanya karena lupa izin atau tidak jaga sikap,” ujarnya.

Pantai Karang Hawu sendiri memang punya ciri unik. Namanya berasal dari bentuk karang besar yang menyerupai tungku atau hawu dalam bahasa Sunda. Namun bentuk dan nama itu hanya sebagian dari pesona. Yang lain adalah cerita dan keyakinan, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Edo bukanlah seorang juru kunci. Ia hanya warga biasa yang merasa terpanggil menjaga tempat ini agar tidak diabaikan begitu saja. Tidak untuk dipuja, tidak juga dijadikan tontonan.

“Saya cuma jaga. Supaya tempat ini enggak hilang, enggak dijadikan hiburan semata. Karena ini bukan tempat wisata biasa, ini tempat keramat,” ujarnya.

Dalam dunia yang makin rasional, tempat seperti Gua Karang Hawu dan karang kursinya berdiri sebagai pengingat, bahwa ada sisi lain dari tradisi yang hidup dalam diam. Tempat di mana mitos, budaya, dan keyakinan lokal bersatu, bagi mereka yang percaya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(sya/wsw)



Sumber : travel.detik.com