Tag Archives: keraton cirebon

Hadiah Raffles untuk Sultan Cirebon, Pernah Jadi Penanda Waktu Salat



Cirebon

Tahukah kamu, Thomas Stamford Raffles pernah memberikan hadiah kepada Sultan Cirebon sebuah lonceng. Lonceng itu pernah jadi penanda waktu salat.

Menurut Pustakawan Wangsakerta Keraton Kanoman Cirebon, Farihin lonceng di atas bangunan bernama Gajah Mungkur tersebut merupakan pemberian dari Thomas Stamford Raffles kepada Kesultanan Kanoman.

Dikisahkan, saat Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda, beliau pernah mendatangi Keraton Kanoman yang pada masa itu dipimpin oleh Sultan Komaruddin I atau Sultan Kanoman ke VI.


Saat itu, Raffles datang dengan membawa tiga hadiah yaitu mesin jahit, kacip atau alat pemotong cerutu dan sebuah lonceng besar.

Oleh Sultan Komaruddin I lonceng tersebut diletakkan di atas bangunan Gajah Mungkur. Karena diletakan di bangunan Gajah Mungkur dan merupakan pemberian dari Raffles, lonceng tersebut sering dikenal sebagai lonceng Gajah Mungkur atau lonceng Raffles yang dinamai dari nama tempat dan pemberi lonceng.

Ditempatkannya lonceng tersebut di bangunan Gajah Mungkur bukan tanpa alasan. Farihin mengatakan, ditaruhnya lonceng pemberian Raffles tersebut di bangunan Gajah Mungkur menandakan Sultan Komaruddin I kurang menyukai Raffles yang notabene merupakan antek Belanda.

“Gajah itu binatang, Mungkur itu belakang. Jadi ibaratnya walaupun mukanya menghadap, tapi hatinya tidak suka,” tutur Farihin.

Gajah Mungkur jika diartikan dalam bahasa Indonesia, berarti pantatnya atau belakangnya gajah. Simbol pantat gajah ini diibaratkan meskipun Sultan mukanya menghadap Raffles, tapi tidak dengan hatinya.

Sikap Sultan Komarudin I yang seperti ini bukan tanpa alasan. Selain karena Raffles seorang penjajah, pada masa itu, oleh sebagian masyarakat, lonceng sering dikaitkan dengan kepentingan kolonial di wilayah Keraton Kanoman.

“Lonceng itukan identik dengan agama Kristen, adanya lonceng ini ditafsirkan oleh sebagian orang sebagai upaya kristenisasi di kalangan keraton,” kata Farihin.

Difungsikan Sebagai Penanda Waktu Salat

Pada saat masih berfungsi, lonceng itu sering digunakan sebagai penanda waktu sholat. Namun sejak tahun 1970 kondisi lonceng sudah mulai rusak, sehingga tidak digunakan lagi sebagai penanda waktu sholat.

Traveler yang berminat untuk melihat secara langsung lonceng Raffles atau lonceng Gajah Mungkur dapat mendatangi Keraton Kanoman yang berada di Jalan Kanoman, Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mitos yang Menyelimuti Jalan Karanggetas, Sentra Pedagang Emas di Cirebon



Cirebon

Jalan Karanggetas dikenal sebagai sentra perdagangan emas di Cirebon. Kawasan ini tenyata diselimuti mitos tersendiri. Bagaimana ceritanya?

Di Kota Cirebon, terdapat sebuah jalan yang penuh dengan cerita dan kepercayaan turun-temurun. Jalan Karanggetas diambil dari dua kata, ‘karang’ yang berarti hutan dan ‘getas’ berarti tumpul atau patah.

Sejak dahulu, jalan ini menjadi penghubung antara Keraton Cirebon dan makam Sunan Gunung Jati. Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya sejarahnya, melainkan mitos yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat hingga kini.


Jalan Karanggetas memang memiliki mitosnya tersendiri. Konon, barang siapa yang memiliki kesaktian dan berniat jahat lalu lewat jalan Karanggetas maka kesaktiannya akan mendadak hilang.

Hingga hari ini, mitos tersebut masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Cirebon. Bahkan karena mitos tersebut, banyak orang yang mencoba membuka usaha di Jalan Karanggetas karena dianggap tempat aman dari orang yang memiliki niat buruk.

Salah satu usaha yang paling banyak ditemui di Jalan Karanggetas adalah pedagang emas. Salah satu pedagang yang membuka lapak jual beli emas di Jalan Karanggetas adalah Maerah, yang kini berusia 50 tahun.

Sudah puluhan tahun Maerah membuka lapak jual beli emas di depan emperan toko Jalan Karanggetas.

“Saya sudah jualan ada dua puluh tahun jualan emas di sini, dari tahun 2004 sudah buka usaha jual beli emas,” tutur Maerah, belum lama ini.

Bagi, Maerah dipilihnya Jalan Karanggetas sebagai tempat ia melapak bukan tanpa alasan. Selain karena dianggap aman untuk berjualan, menurut Maerah, Jalan Karanggetas juga sudah dikenal sebagai tempat untuk berjualan emas.

“Orang sewilayah tiga Cirebon, memang sudah banyak yang tahu tentang penjual emas di sini memang banyak, baik penjual maupun pembelinya juga kebanyakan orang bener,” tutur Maerah.

Disinggung mengenai mitos tentang Jalan Karanggetas. Maerah sendiri mempercayai mitos tersebut. Tetapi, Maerah mengembalikan kepercayaan mitos tersebut ke setiap orang masing-masing.

“Kalau saya yang orang Cirebon percaya, cuman balik lagi ke setiap orang masing-masing, mau percaya atau tidak. Tapi cerita tentang mitos Jalan Karanggetas memang ada,” tutur Maerah.

Maerah menceritakan, sebelum memberanikan diri membuka lapak jual beli emas, Maerah mempelajari terlebih dahulu tentang seluk beluk dunia emas selama satu tahun penuh. “Belajar dahulu lama sekitar setahun sama temen, ikut dulu sama temen sampai paham terus teliti, kalau emas tuh nggak bisa sembarangan jual-jual saja,” tutur Maerah.

Asal-usul Mitos Jalan Karanggetas

Menurut pegiat sejarah Cirebon, Putra Lingga Pamungkas, mitos Jalan Karanggetas berasal dari kisah Syekh Magelung Sakti, tokoh yang memiliki kesaktian yang tinggi dan rambut yang panjang. Konon, saking saktinya, rambut panjang Syekh Magelung Sakti sampai tidak bisa dipotong.

Hingga suatu hari, Syekh Magelung Sakti membuka sayembara berisi barangsiapa yang berani menandingi kesaktian nya, maka akan ia angkat sebagai gurunya. Tantangan tersebut didengar oleh Sunan Gunung Jati yang kala sedang menyebarkan agama Islam di Cirebon.

Akhirnya, bertemulah Sunan Gunung Jati dan Syekh Magelung Sakti di Jalan yang sekarang bernama Jalan Karanggetas. Di jalan tersebut, oleh Sunan Gunung Jati, rambut Syekh Magelung Sakti dipotong hanya dengan menggunakan dua jari. Oleh Sunan Gunung Jati, rambut tersebut dimakamkan di Karanggetas.

Menurut Lingga, pesan moral yang dapat diambil dari mitos Jalan Karanggetas adalah jangan menjadi orang yang sombong, angkuh dan memiliki niat yang buruk. Karena mitos tersebut berasal dari tokoh antagonis.

“Kisah ini berawal dari tokoh antagonis bernama Syekh Magelung Sakti, tokoh sakti yang angkuh dan sombong ketika itu. Namun, kedigdayaannya berhasil dikalahkan oleh Sunan Gunung Jati,” tutur Lingga.

Banyaknya toko emas di Jalan Karanggetas, menurut Lingga, tidak lepas dari konteks mitos Jalan Karanggetas itu sendiri.

“Kenapa banyak toko emas, karena konteksnya pengusaha yang berjualan di situ berpikir tidak ada penjahat. Ketika ada penjahat yang ingin berbuat jahat maka kejahatannya akan runtuh,” pungkas Lingga.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com