Tag Archives: kesultanan

Coba Tebak, Pulau Cantik Ini Terletak di Mana?



Halmahera Tengah

Indonesia kaya dengan pulau-pulau cantik yang di kelilingi dengan warna laut toska yang eksotis. Tapi, sepertinya belum banyak yang tahu soal pulau ini.

Inilah Pulau Gebe yang terletak di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Bagai untaian permata di timur Indonesia, Pulau Gebe berbatasan langsung dengan Kepulauan Raja Ampat.

Dilihat dari situs resmi Kabupaten Halmahera Tengah, Pulau Gebe memiliki luas 224 km persegi yang dihuni oleh empat desa.


Ada hal menarik dari pulau cantik ini, menurut catatan sejarah Pulau Gebe dinamai pada tahun 700 Masehi. Saat itu seorang Sultan dari Kesultanan Tidore datang untuk memperluas wilayah kerajaan sampai ke Kepulauan Raja Ampat.

Salah seorang anggota rombongan berseru dalam bahasa Tidore “Kie…!” yang berarti ada pulau. Kemudian salah seorang anggota rombongan lainnya menjawab “Bei…?” yang artinya di mana.

Anggota rombongan yang pertama kemudian membalas lagi dengan seruan “Ge…!”. Dari balas jawab inilah nama Gebe yang berarti itu pulau mulai digunakan untuk menamai Pulau Gebe.

Pulau Gebe di Halmahera TengahPulau Gebe di Halmahera Tengah Foto: (haltengkab.go.id)

Gebe masuk dalam gugusan pulau dengan Pulau Fau, Pulau Yoi, Pulau Uta dan Pulau Sain. Namun Pulau Gebe jadi yang paling dekat ke Pulau Gag di wilayah Kabupaten Raja Ampat.

Saat ini, Pulau Gebe dihuni oleh 5.000 penduduk. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan dan pengolah kopra (kelapa).

Sudah sejak lama kecantikan Pulau Gebe tersembunyi. Nampaknya banyak yang tidak tahu kalau Halmahera menyimpan potensi wisata yang sangat besar.

Pulau ini di kelilingi oleh pasir pantai yang putih bersih dan air sebening kaca. Terumbu karangnya pun sangat indah dan cocok dijadikan sebagai spot snorkeling atau diving.

Hutan mangrove di Desa Kecapi dan pantai-pantai tersembunyi masih belum terjamah oleh wisatawan. Selain itu, Pulau Gebe juga juga memiliki telaga di tengah pulau yang diisi oleh air asin.

Cara ke Pulau Gebe

Traveler yang mau liburan ke Pulau Gebe bisa menggunakan kapal fery dari Kota Weda, Maluku Utara dengan tujuan Sorong-Gebe-Patani-Weda (PP).

Jika ingin cepat, traveler bisa naik pesawat dari Ternate atau Sorong, langsung menuju Pulau Gebe. Maskapai yang beroperasi adalah Susi Air, setiap hari pukul 07.00 WITa. Waktu tempuhnya sekitar satu jam saja.

Transportasi yang ada di sini hanyalah ojek. Sediakan uang pas untuk bisa bertransaksi karena pulau ini tidak memiliki ATM atau pun bank. Selamat liburan!

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Kuno Ini Saksi Penyebaran Agama Islam di Madiun



Madiun

Di tengah pemukiman warga kelurahan Kuncen, berdiri sebuah masjid kuno yang menjadi saksi penyebaran agama Islam di Madiun.

Masjid Kuno Kuncen, yang dikenal pula sebagai Masjid Nur Hidayatullah, kerap disebut sebagai salah satu saksi perkembangan Islam di Madiun dan telah menarik perhatian warga, peneliti, serta wisatawan religi.

Meski ukurannya tak seluas masjid-masjid agung metropolitan, nilai historis dan arsitekturnya membuat tempat ini istimewa. Struktur serupa joglo, tiang saka kayu berusia, serta pagar batu bata yang menjulang menjadi ciri khas yang mudah dikenali.


Kompleks masjid ini juga letaknya berdekatan dengan sendang yang menurut tradisi setempat terkait dengan asal-usul nama kota Madiun. Air dari sendang ini juga dipercaya memiliki berkah dan sering digunakan untuk ritual jamasan (penyucian) benda-benda pusaka, terutama menjelang bulan Suro (Tahun Baru Jawa) atau saat perayaan Grebeg Maulud.

Asal-usul Masjid Kuno Kuncen

Dilansir dari laman resmi Kelurahan Kuncen, pergeseran kekuasaan besar terjadi pada tahun 1568 di Kesultanan Demak, yang dampaknya turut membentuk sejarah di Madiun.

Era baru ini dimulai setelah Mas Karebet, atau Jaka Tingkir, memenangkan perang saudara. Dengan restu para wali, ia naik tahta menggantikan mertuanya, Sultan Trenggono, dan bergelar Sultan Hadiwijaya.

Namun, Sultan Hadiwijaya menolak untuk berkedudukan di Demak dan memilih memindahkan pusat pemerintahannya ke Pajang. Sejalan dengan perubahan tersebut, putra Sultan Trenggono lainnya, Pangeran Timur, diangkat sebagai Bupati Madiun pada 18 Juli 1568.

Pengangkatan adik ipar Sultan Hadiwijaya ini dilakukan oleh Sunan Bonang yang mewakili dewan wali. Pangeran Timur, yang memerintah Madiun dari tahun 1568 hingga 1586, kemudian dikenal dengan gelar Panembahan Rama atau Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno.

Pada tahun 1575, Pangeran Timur mengambil keputusan strategis untuk memindahkan pusat pemerintahan Madiun dari wilayah utara (Kelurahan Sogaten) ke lokasi baru di selatan, yaitu di Kelurahan Kuncen (sebelumnya bernama Wonorejo).

Selain mengurus pemerintahan, Pangeran Timur juga mengemban misi dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Karena penyebaran agama erat kaitannya dengan pendirian tempat ibadah, maka diyakini bahwa Masjid Kuno Kuncen (yang kini bernama Masjid Nur Hidayatullah) didirikan di Kuncen setelah perpindahan ibu kota tersebut, yakni sekitar akhir abad ke-16.

Peninggalan Sejarah Masjid Kuncen

Peninggalan sejarah di masjid di antaranya adalah bedug (kentungan besar) kuno yang diyakini seusia dengan masjid, serta mustaka (mahkota atap) asli masjid yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Selain itu, mimbar dan beberapa elemen arsitektur di dalam masjid juga masih mempertahankan keasliannya sejak era Pangeran Timur.

Artefak terpenting di kompleks ini sesungguhnya adalah keberadaan makam-makam kuno, terutama makam Pangeran Timur (Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno), Bupati Madiun pertama.

Kompleks makam ini, yang letaknya menyatu dengan area masjid, menjadi bukti utama fungsi Kuncen sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran Islam pertama di Madiun. Nisan-nisan kuno dari para kerabat dan abdi dalem yang dimakamkan di sekitar Pangeran Timur juga menjadi peninggalan sejarah yang tak ternilai.

Karena nilai sejarah yang tinggi dan keunikan arsitekturnya, kompleks Masjid Kuno Kuncen (termasuk area makam Pangeran Timur) telah ditetapkan secara resmi oleh Pemerintah Kota Madiun sebagai Situs Cagar Budaya melalui SK Walikota pada tahun 2019.

Status ini memberikan perlindungan hukum penuh, yang berarti segala bentuk pemugaran atau penambahan fasilitas baru di kawasan tersebut harus dilakukan atas seizin dan pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

Masjid Kuno Kuncen adalah bukti konkrit yang menghubungkan masa lalu dengan keseharian warga Madiun. Perdebatan tentang tanggal pendirian atau nama pendiri menggambarkan hidupnya tradisi dan arsip, keduanya perlu disandingkan agar sejarah kawasan ini bisa ditulis lebih lengkap.

Upaya pelestarian dan pengelolaan wisata yang menghormati nilai asli akan menentukan apakah generasi mendatang masih bisa menyentuh, melihat, dan belajar dari warisan ini.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com