Tag Archives: kopi luwak

Sensasi Menikmati Kopi Luwak dan Teh Aneka Aroma di Kintamani



Jakarta

Anda pernah nonton ‘The Bucket List’? Film yang pertama kali tayang pada 2007 itu dibintangi dua aktor gaek Hollywood Jack Nicholson dan Morgan Freeman.

Isinya menceritakan kehidupan kedua pria beda kasta yang bertemu di rumah sakit karena penyakit mematikan. Dari situ mereka membuat sebuah catatan kecil untuk dilakukan sebelum kematian menjemput.

Saya menduga adegan yang paling menarik bagi penonton di tanah air adalah ketika keduanya membahas cita rasa Kopi Luwak. Jack dan Morgan terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata saat tahu bahwa kopi yang disebut memiliki aroma dan cita rasa terunik di dunia itu berasal dari kotoran kucing pohon liar alias luwak.


Saya pribadi baru mencobanya pada akhir pekan lalu saat melintasi Jalan Raya Kintamani – Gianyar, Bali. Di sepanjang jalan itu berjejer perkebunan kopi menawarkan sensasi minum kopi luwak orisinal.

Menjelang jam makan siang kami singgah di ‘Cantik Agriculture Luwak Coffee’ yang memiliki kebun kopi seluas dua hektare. Tempat ini tidak memungut biaya masuk alias gratis. Area parkirnya luas. Setiap rombongan akan didampingi oleh seorang pemandu.

Selain pohon kopi Robusta dan Arabica, di area seluas itu kita juga bisa mengenali pohon salak, vanilla, cokelat, dan lainnya. Hal menarik lainnya, di tengah kebun beberapa ekor luwak tengah meringkuk di atas dahan pohon kopi. Juga ada beberapa sapi terikat di dalam kandang.

“Itu sengaja untuk kami manfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik,” kata Ni Luh Putu Juni Fira Dewi yang menjadi pemandu. Alumnus SMKN 1 Tampak Siring itu telah dua tahun bekerja di ‘Cantik Agriculture Luwak Coffee’.

Sebelumnya dia pernah bekerja di villa Tegal Alang, Ubud.

Sejumlah turis asal Australia menikmati kopi luwak di Cantik Agriculture Luwak Coffee, KintamaniSejumlah turis asal Australia menikmati kopi luwak di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani (Sudrajat / detikcom)

Di ujung kebun kami mulai mencium aroma biji kopi terpanggang. Dua perempuan paruh baya terlihat khusuk menyangrai biji kopi di atas penggorengan baja. Suluh-suluh kayu di bawahnya merah menyala menyeburkan bara. Tak jauh dari dapur, Fira menunjukkan kepada kami gumpalan kotoran Luwak. Warnanya cokelat kehitaman.

“Kotoran ini biasanya kami bersihkan, dikupas kulitnya lalu dijemur selama beberapa hari. Setelah itu disangrai selama 45 menit baru ditumbuk hingga menjadi semacam tepung. Untuk satu kilogram kopi sangrai butuh sekitar dua jam untuk menghaluskannya,” kata Fira.

Tak sampai setengah jam di kebun, pengunjung tersu berdatangan secara berkelompok. Kebanyakan para turis dari Australia dan Eropa. Semua disambut ramah dan diberi penjelasan serupa.

Tak cuma tentang kopi dan kopi luwak, para pengunjung juga diperkenalkan kepada rempah-rempah berikut khasiatnya seperti kunyit, jahe, rosela, sereh, ginseng, dan lainnya.

Di tepi kebun yang berbatasan dengan bebukitan hijau berderet kursi kayu. Para pengunjung bebas memilih tempat duduk. Para pemandu lalu menghidangkan selusin cangkir gelas mungil berisi kopi dan teh beragam aroma. Kripik singkong dan pisang goreng menjadi pelengkapnya. Semua gratis!

“Ini sudah menjadi tradisi kami untuk menghormati tamu. Kalau mau mau kopi luwak baru kena charged Rp 50 ribi per cup,” kata Fira.

Sejumlah turis asing membeli aneka oleh-oleh di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani - BaliSejumlah turis asing membeli aneka oleh-oleh di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani – Bali (Sudrajat / detikcom)

Sejumlah turis riuh berdecak kagum dan memberi applause. Penasaran, kami pun coba memesan secangkir kopi luwak.

“Kalau biasanya kita menyeruput capucino, kali ini di Kintamani Bali kita lebih suka menikmati CatPooCino alias Kopi Luwak,” seloroh seorang turis asal Australia disambut tawa rekan-rekannya.

Kami sepakat, cita rasa kopi luwak memang beda dari kopi lainnya. “Lebih lembut, asemnya juga lebih rendah dari kopi biasa,” ujar Meliyanti Setyorini, teman seperjalanan penulis.

Untuk teh, dia suka yang aroma coconut. “Campurannya pas buat lidah gue,” dia menambahkan.

Wartawati detik.com Meliyanti Setyorini menikmati secangkir kopi luwak dan teh aneka aroma di Cantik Agriculture Luwak CoffeeWartawati detik.com Meliyanti Setyorini menikmati secangkir kopi luwak dan teh aneka aroma di Cantik Agriculture Luwak Coffee Foto: Sudrajat / detikcom

Cantik Agriculture Luwak Coffee’ juga menyediakan toko yang menjual berbagai produk hasil olahan kopi dan minuman yang telah dicicipi selama tur. Selain kopi aneka rasa, toko ini juga menawarkan berbagai produk lain seperti sabun buah, dupa, dan arak Bali.

(jat/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menyelami Dunia Kopi di Pasar Santa



Jakarta

Pecinta kopi pasti sudah tidak asing dengan Kedai Dunia Kopi di Pasar Santa. Kedai kopi ini sederhana tapi istimewa.

Wangi kopi menyeruak dari lantai basement Pasar Santa, Jakarta Selatan. Plang kedai ‘Dunia Kopi’ tampak di tengah bangunan. Jajaran toples kopi dengan kapasitas 5 kg tertata rapi di etalase.

Pak Suradi (53), pemilik Dunia Kopi tampak sibuk menghitung pesanan. Ia pindah dari satu gerai ke gerai lain. Mungkin bagi yang tidak biasa akan bingung, karena ternyata Pak Suradi memiliki banyak gerai dalam satu lantai.


“Sekitar 40an gerai, termasuk untuk gudang,” ucap pria asal Purwodadi itu.

Dunia Kopi ada sejak tahun 2000, saat itu baru satu kios yang ia miliki. Lambat laun, usahanya menapaki tangga kepopuleran, terlihat dari banyaknya wisatawan internasional yang datang ke sana.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Malahan awal-awal itu yang datang bule-bule,” katanya.

Usahanya ini memang sudah lama ia cita-citakan dengan tujuan mengenalkan nama Indonesia lewat kopi.

“Di sini (Indonesia) banyak kopi, masa nggak bisa aku kelola dengan baik,” katanya pada detikTravel, Rabu (30/4).

Saat pertama kali berjualan, hanya dua jenis kopi yang dijual yaitu Arabika dan Robusta. Kopi arabika cenderung dengan citarasa yang kompleks, sementara robusta lebih ke rasa pahit. Kalau pohon arabika tumbuh di ketinggian 1.000-2.000 mdpl, pohon kopi robusta tumbuh di ketinggian lebih rendah, di bawah 700 mdpl.

“Dulu hanya 6 toples saja, sekarang kita buat ekosistemnya, langsung dari petani dari seluruh Indonesia. Jenisnya kita tambah jenisnya, ada robusta, arabika, liberika dan escelsa,” jawabnya.

Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi pemilik Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

Varietas kopi yang ditawarkan juga beragam, mulai dari yellow honey, black honey, sigararutang, sampai yellow bourbon. Bisa dibilang hampir lengkap, tak ayal banyak pelanggan yang hilir mudik di sana.

Di tiap kios, pegawai Dunia Kopi sibuk menimbang kopi. Pelanggan mencatat pesanan mereka dan memilih jenis kopi. Kalau ragu, mereka bisa langsung mencicip kopi di sudut basement, Pak Suradi menyiapkan kios khusus untuk mencicipi kopi. Maklum, kebanyakan pembeli adalah reseller kelas kakap.

“Semua boleh minum kopi, gratis. Ajang promosi lah begitu, bagi-bagi gratis, tidak dibatasi,” ungkap pria kelahiran Blora itu.

Untuk kopi gratis ini saja, ia bisa habis 5-10 kg per hari. Kedai kopi itu beroperasi dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan total karyawan 25 orang, penjualan sehari tak kurang dari satu ton.

Modal yang kuat sudah harus disiapkan. Selidik punya selidik, ternyata Pak Suradi menyuntik usahanya dengan dana pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai 4 kali.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Pinjaman pertama itu Rp 100 juta, pinjaman kedua Rp 200 juta, pinjaman ketiga Rp 300 juta dan terakhir lunas tahun ini Rp 500 juta,” ucapnya.

Selain dukungan modal, Pak Suradi juga merasa sangat terbantu dengan syarat-syarat KUR. Saking sibuknya, berkas-berkas it ditandatangani di kedainya, suatu kemudahan bagi UMKM.

Pak Suradi berkata bahwa turis yang paling banyak datang belakangan ini adalah orang Korea dan Jepang. Mereka sengaja memilih kopi sebagai oleh-oleh. Turis China, Malaysia dan Singapura juga masih daftar 5 turis yang paling banyak singgah.

“Kemarin dari Jepang beli sampai dua koper penuh. Mereka suka kopi Toraja, luwak dan gayo. Tapi paling favorit luwak,” ungkapnya.

Sepanjang usahanya, ia ingat akan satu turis asal Rusia. Turis ini beli kopi sampai dua karung, jenis kopi Bali. Satu hari beli satu karung, semua untuk oleh-oleh. Mereka datang saat weekday.

Beda lagi dengan wisatawan domestik, sukanya kopi robusta dan arabika, datangnya saat weekend. Dunia kopi terasa seperti tempat wisata di Sabtu pagi.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Mereka datang naik sepeda, ke sini ngopi gratis. Di sini tempatnya nyaman untuk ngumpul dan nggak dibatasi,” jawabnya.

Per 100 gram, kopi ini dijual dengan harga paling murah Rp 13 ribu dan yang paling mahal Rp 20 ribu yaitu excelsa ijen dan liberika Jambi.

Sukses dan tidak pelit ilmu, Pak Suradi membuka kelas barista untuk anak-anak yatim dan pesantren secara gratis. Ada pula kelas umum untuk mereka yang baru mau belajar, biayanya Rp 500 ribu sampai mahir.

Jay (35) adalah trainer dan mekanik mesin kopi di Dunia Kopi. Sejak berkarir sebagai barista di sana pada tahun 2019, ia telah melatih sekitar 300 orang, termasuk peserta disabilitas netra dan rungu.

“Bangga sih sebenarnya, apa yang selama ini diinginkan anak-anak barista tercapai, banyak bule uang suka kopi datang ke Indonesia,” jawabnya.

Pak Suradi tak merasa rugi dengan itu semua. Ia malah senang bisa menjadi perpanjangan tangan dan bermanfaat bagi sekitar. Ia berterima kasih juga pada BRI yang telah mendukungnya selama ini.

“Maju terus untuk pelayanannya, sukses untuk BRI,” katanya.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

Pariwisata Lewat Kopi

Perkembangan pariwisata kopi tak lepas dari perhatian Pengamat Ahli Pariwisata Profesor Azril Azhari. Sebagai pecinta kopi, ia bangga nama kopi Indonesia mulai dilirik oleh dunia.

“Ini sangat bagus, tapi sekali lagi sayang karena kita hanya fokus pada kopinya saja,” ungkap mantan dosen Universitas Indonesia itu.

Sejatinya, proses alami yang terjadi pada kopilah yang membuat rasanya mewah. Sebut saja kopi luwak, proses fermentasi yang terjadi di lambung luwak lah yang membuat cita rasa kopi itu jadi berbeda.

“Kopi yang bagus itu sudah difermentasi, kalau di luar negeri itu dibuat jadi tidak alami,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof Azril mengatakan bahwa sejak dipetik memang kopi Indonesia mengalami proses alami. Kopi dijemur di panas matahari sehingga kering dengan perlahan.

“Di luar negeri itu keringnya dipaksa lewat oven, di sini dijemur di jalanan,” katanya sambil tertawa.

Pada tahun 2018, Prof Azril mematenkan batik dari ampas kopi. Saat dipakai, batik akan mengeluarkan wangi semerbak layaknya kopi yang dihidangkan.

Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi bersama reseller Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Harusnya bukan cuma kopinya tapi semua aspek kopi, ampasnya dijadikan bahan untuk spa, sementara sejarah kopi di Maluku dan Sumatera dijadikan paket wisata ‘Spicy Road’, melihat kembali bagaimana VOC menguasai kita di zaman itu,” jawab Prof Azril.

Wisata jalur rempah Indonesia, itulah yang menjadi impian dari Prof Azril. Pendiri ilmu pariwisata Indonesia itu ingin agar kopi Indonesia terus maju dan mengharumkan nama bangsa.

“Indonesia itu sudah terkenal rempah-rempahnya dari dulu, ini tinggal pemerintah saja bagaimana mendukungnya,” tutupnya.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com