Tag Archives: kopi

Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan, Secangkir Kopi dan Gorengan di Taman Ayodya



Jakarta

Sore hari selepas beraktivitas seharian, duduk santai menatap pepohonan nan hijau menjadi nikmat tersendiri. Tidak perlu pergi jauh, nyamannya duduk-duduk di Taman Ayodya.

Taman Ayodya atau dikenal Taman Barito berada di Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Untuk memasukinya, traveler tak perlu mengeluarkan kocek yang besar. Cukup Rp 2.000 untuk bayar parkir dan membeli jajanan yang dijual di pinggiran taman.

Petugas keamanan Taman Ayodya, Burhanudin, mengatakan tak perlu uang besar untuk nongkrong dan bersantai-santai di taman ini. Traveler hanya cukup dengan gorengan dan segelas kopi atau minuman segar sebagai pendampingnya.


“Nongkrong di sini mah nggak perlu mahal-mahal, cukup kopi sama gorengan aja udah pas,” kata dia saat dijumpai detikTravel, Selasa (23/7/2024).

Taman yang kurang lebih luasnya 8.000 meter persegi ini di tengahnya terdapat kolam dengan air mancur yang beroperasi setiap dua jam sekali, mulai dari jam 07.00 sampai 16.00 WIB. Di pinggiran kolam juga kerap dijadikan spot untuk anak-anak memberi makan ikan.

Burhanudin juga menyampaikan perbedaan Taman Ayodia dan taman lainnya di Jakarta, jika taman yang lain ramai pengunjung saat pagi dan sore, maka Taman Ayodia akan ramai ketika sore dan malam. Walaupun sebetulnya jam operasional taman ini mulai dari jam 06.00 hingga 18.00 WIB, tapi biasanya pengunjung nongkrong hingga jam 21.00 WIB.

Hal tersebut salah satunya karena dekat dengan pusat keramaian dan tempat nongkrong anak muda. Burhanudin pun beberapa waktu ke belakang kerap memberitahu bahwa waktu berkunjung ke taman sudah usai, namun pemberitahuan itu tidak mempan.

Pada akhirnya petugas mengimbau kepada pengunjung yang ingin menikmati Taman Ayodia ini untuk tertib dan tidak melanggar aturan yang sudah tertera. Dan untungnya selama ia berjaga di sini, pengunjung yang datang ke taman hingga malam hari selalu mematuhi peraturan taman.

“Jadi pengunjung-pengunjung lama kita juga udah saling memahami gitu tertib,” ujarnya.

Banyaknya bangku-bangku juga membuat taman ini cocok dinikmati untuk bersantai-santai, adapun pengunjung yang duduk di rerumputan atau beton pinggir kolam. Cuaca sore hari yang terik mataharinya sudah redup membuat nongkrong di Taman Ayodia semakin sejuk.

Selain pengunjung anak muda, keluarga yang mengajak anaknya bermain ke Taman Ayodia pun cukup banyak. Di antaranya Puput, ia bersama suami dan anaknya memilih menikmati sore di taman ini karena suasana yang asri.

“Sering juga ke sini tapi sekarang kebetulan lagi ngajak anak main, kayak lebih seru aja buat ke taman dibanding ke tempat-tempat lain dan suasananya juga asri masih banyak pohon,” kata dia.

“Mungkin harus ditambah lagi kaya tempat bermain anak karena sekarang anak-anak yang nyari tempat bermain ke taman, bisa buat edukasi juga,” dia menambahkan.

Memang di Taman Ayodia ini tak ada wahana bermain untuk anak-anak, fasilitas yang ada di taman ini yakni beberapa alat kebugaran. Taman Ayodia juga cocok untuk olahraga sore ataupun pagi karena selain terdapat beberapa alat kebugaran juga ada track untuk jogging atau jalan santai.

Jika perut keroncongan pun tak perlu khawatir untuk mencari cemilan atau makanan berat sekaligus karena sekitaran Jalan Barito ini terkenal dengan sentra kuliner hits, ada ketan susu, nasi telur hingga sate taichan bisa jadi pilihannya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ngopi di Lebak Bulus Bisa Sambil Main Futsal-Lihat Hewan di Mini Zoo



Jakarta

Melipir dari hiruk pikuk kota yang semrawut, traveler bisa ke Lebak Bulus. Ada kafe dengan kopi enak, sambil main futsal, bahkan kasih makan hewan di Mini Zoo.

Terletak di Jalan Taman Sari 1 Nomor 77, Jakarta Selatan, kafe Bandarkopi ini cukup asri dan tenang, sehingga membuat pengunjung yang datang betah untuk berlama-lama.

detikTravel berkunjung ke kafe yang posisinya sedikit masuk ke wilayah pemukiman ini pada Rabu (31/7) siang hari. Walaupun panas menyengat ubun-ubun, ketika sampai di Bandarkopi suasana langsung berubah 180 derajat.


Teduh pepohonan yang ada di sana membuat kesejukan menemani siang ini. Biasanya coffee shop akan ramai saat sore hari. Namun di Bandarkopi, sekitar pukul 11.00 WIB, pengunjung sudah mulai ramai.

Banyak spot yang bisa dijajal pengunjung untuk berfoto di sini, baik di area dalam kafe maupun area luarnya.

Bandarkopi Lebak BulusBandarkopi Lebak Bulus Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

detikTravel memilih untuk berdiam di area luar, duduk di bawah pohon-pohon jati membuat kesan seperti tengah berada di kebun dengan ditemani segelas Green Apple Yakult yang segar dengan harga Rp 35.000.

“Di sini lumayan menampilkan sesuatu yang berbeda dari yang biasa ada di Jakarta, jadi intinya lumayan menghibur karena di Jakarta penuh sesak sama tempat yang lebih konsumtif gitu ta minim ruang terbuka,” kata Sindia dari Bandarkopi kepada detikTravel.

“Kalau di sini karena emang banyak aktivitasnya, jadi mau AC-AC tetap ada kalau panas, tapi jam-jam yang udah menuju ke sore gini kan nggak terlalu panas jadi bisa di sini (area piknik),” tambah Sindia.

Berikut Beberapa spot yang bisa dinikmati di Bandarkopi:

1. Mini Zoo

Di tempat ini juga memiliki mini zoo yang bisa didatangi oleh pengunjung, terdapat beberapa jenis unggas hingga rusa-rusa yang lucu. Untuk bisa memberi makan rusa, pengunjung akan dikenakan biaya minimum di Bandarkopi seharga Rp. 150.000.

Bandarkopi Lebak BulusLihat rusa di Mini Zoo Bandarkopi Lebak Bulus Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

2. Galeri

Semesta Gallery merupakan satu di antara yang lain fasilitas di kawasan Bandarkopi. Galeri ini juga memamerkan berbagai karya yang bisa dinikmati oleh pengunjung.

3. Memanah

Untuk bisa mencoba memanah di Bandarkopi ini pengunjung hanya bisa menjajalnya di hari Jumat hingga Minggu, dengan harga yang dibanderol sebesar Rp 35.000.

Bandarkopi Lebak BulusBisa piknik di Bandarkopi Lebak Bulus Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

4. Area Piknik

Bagi pengunjung yang datang ke Bandarkopi bersama keluarga dan teman-teman, ingin merasakan situasi yang berbeda. Bisa menikmati suasana sejuk dengan piknik di area hijau nan sejuk ini.

“Iya ini ada minimum spent-nya tadi juga baru tahu sih Rp 200.000 minimum spent-nya terus dapat free set up (untuk piknik),” jelas Sindia.

5. Lapangan Futsal

Ada pula lapangan futsal di kawasan ini yang bisa dinikmati oleh pengunjung, tak hanya digunakan untuk bermain bola. Lapangan ini juga bisa dinikmati oleh si kecil untuk bereksplorasi atau sekadar bermain.

Bandarkopi tak hanya menyuguhkan kesegaran dari minuman-minumannya, terdapat beberapa camilan hingga makanan berat yang bisa dicoba oleh pengunjung.

Jam Buka dan Harga

Bandarkopi buka dari hari Senin-Kamis mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB. Sedangkan untuk hari Jumat-Minggu, kafe ini buka dari pukul 08.00 hingga 22.00 WIB.

Rata-rata harga makanan dan minuman di Bandarkopi dibanderol mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 65.000. Traveler bisa mampir ke sini untuk menghabiskan akhir pekan.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kopi Tubing, Tempat Asyik untuk Ngopi Sambil Bersantai di Bogor


Jakarta

Bogor menjadi salah satu destinasi wisata favorit warga Jakarta. Selain jaraknya dekat, ada banyak tempat wisata hingga coffee shop kekinian di Bogor, salah satunya adalah Kopi Tubing.

Daya tarik dari Kopi Tubing adalah pemandangannya yang indah. Tak hanya sekadar menghirup secangkir kopi dan mencicipi berbagai menu makanan lezat, travelers juga bisa melakukan berbagai aktivitas seru selama di Kopi Tubing.

Lantas, apa daya tarik dari Kopi Tubing? Lalu bagaimana cara menuju ke sana? Simak ulasannya secara lengkap dalam artikel ini.


Daya Tarik Kopi Tubing

Kopi Tubing bisa menjadi pilihan terbaik bagi travelers yang ingin liburan namun tak mau jauh-jauh dari Jakarta. Sebab, ada banyak aktivitas seru yang bisa kamu lakukan selama di sana.

Tentu, daya tarik utama dari Kopi Tubing adalah pemandangan alamnya yang indah. Wajar saja, karena lokasinya berdekatan dengan Gunung Salak. Jadi, detikers bisa menyeruput secangkir kopi panas sambil merasakan udara sejuk pegunungan.

Coffee shop ini juga menjadi “pelarian” bagi sebagian warga Jakarta yang ingin healing sejenak dari rutinitas sehari-hari. Ditambah lagi ada banyak pilihan menu makanan dan minuman yang lezat serta porsinya mengenyangkan.

Eits, Kopi Tubing tak hanya sekadar coffee shop dengan pemandangan cantik, lho. Soalnya, ada berbagai aktivitas seru dan menantang yang bisa kamu coba di sini, yakni river tubing dan trekking.

Bagi kamu yang suka olahraga ekstrem, river tubing wajib dicoba. Namun jika travelers lebih ingin menikmati suasana alam pegunungan yang tenang, cobalah untuk trekking.

Di Kopi Tubing juga terdapat area playground, mini zoo, dan kolam renang yang ramah anak-anak. So, travelers nggak perlu khawatir jika membawa si kecil ke Kopi Tubing karena pasti akan betah berlama-lama.

Hewan-hewan yang ada di mini zoo Kopi Tubing juga beragam, mulai dari kelinci, domba, hingga aneka burung. Selain melihat dari dekat, si kecil juga bisa memberi makan secara langsung kepada hewan. Seru banget bukan?

Suasananya terjaga alami. Sawah, bukit, gemericik sungai, hijau daun, angin dan sejuknya udara di ketinggian 600 mdpl. Super lengkap sambari pesan kopi hangat dan kriyuk barbeque chiken wings.View Kopi Tubing (Ari Saputra/detikcom)

Suasana alam di Kopi Tubing memang bikin sejumlah pengunjung merasa betah berlama-lama. Nah, pihak Kopi Tubing telah menyediakan villa dan glamping untuk para pengunjung yang ingin menginap.

Satu lagi yang menarik dari Kopi Tubing adalah terdapat area pasir putih di tepi sungai. Jadi, travelers bisa menikmati pemandangan gunung sambil duduk santai di pasir putih.

Jika berencana ingin berkunjung ke Kopi Tubing, disarankan datang saat weekday atau sejak pagi hari ketika weekend. Sebab, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan terlebih akhir pekan. Kalau travelers ingin menikmati suasana alam yang sejuk dengan tenang, maka sebaiknya datang saat hari kerja.

Harga Tiket Masuk ke Kopi Tubing

Pengunjung yang datang ke Kopi Tubing tidak dikenakan tiket masuk alias gratis. Namun, travelers akan dikenakan biaya tambahan jika ingin bermain di sejumlah wahana.

Dilansir akun Instagram resminya @kopitubing, berikut daftar harga tiket ke sejumlah wahana dan tarif menginap di Kopi Tubing:

A Frame Villa (4 orang)

  • Hari biasa Rp 2.300.000/malam.
  • Akhir pekan Rp 2.850.000/malam.

Glamping (2 orang)

  • Hari biasa Rp 750.000/malam.
  • Akhir pekan Rp 950.000/malam.

River tubing

1. Adventure

  • Hari biasa Rp 97.000.
  • Akhir pekan Rp 107.000.

2. Fun Ride

  • Hari biasa Rp 45.000.
  • Akhir pekan Rp 45.000.

Trekking

  • Hari biasa Rp 265.000.
  • Akhir pekan Rp 275.000.

Sebagai catatan, harga river tubing dan trekking di atas hanya berlaku per orang khusus tamu yang menginap di Kopi Tubing. Pengunjung yang tidak menginap juga bisa merasakan serunya river tubing, berikut harga tiketnya:

River Tubing

  • Fun Ride: Rp 55.000/orang.
  • Adventure: Rp 127.000/orang.
  • Adventure Ride: Rp 157.000/orang.

Trekking

  • Half day package (durasi 3-4 jam): Rp 295.000/orang.
  • Full day package (durasi 3-4 jam): Rp 325.000/orang.
  • Full adventure day package (durasi 4-6 jam): Rp 395.000/orang.

Sementara itu, ada berbagai aktivitas seru lainnya di Kopi Tubing yang juga dikenakan tiket masuk. Berikut daftarnya:

  • Berenang: Rp 25.000/orang
  • Playground: Rp 35.000/orang
  • Mini zoo: gratis, tapi jika ingin memberi makan wortel dikenakan biaya Rp 10.000/cup.
Suasananya terjaga alami. Sawah, bukit, gemericik sungai, hijau daun, angin dan sejuknya udara di ketinggian 600 mdpl. Super lengkap sambari pesan kopi hangat dan kriyuk barbeque chiken wings.Kopi dan makanan di Kopi Tubing (Ari Saputra/detikcom)

Kopi Tubing menyediakan berbagai menu makanan dan minuman dengan harga mulai dari Rp 15 ribuan saja. Penasaran? Simak daftar menunya di bawah ini:

Kids Meal

  1. Fish and Chip Tartar Sauce: Rp 65.000
  2. Sausage with French Fries: Rp 40.000
  3. Crunchy Chicken Burger: Rp 65.000
  4. Mini Beef Burger: Rp 40.000
  5. Dory Susi Burger: Rp 25.000

Appetizer

  1. Tahu Gejrot: Rp 30.000
  2. Load Potato: Rp 55.000
  3. Chicken Wings with BBQ Sauce: Rp 40.000
  4. Tahu Slawi: Rp 30.000
  5. Chicken Quesadillas: Rp 45.000
  6. Dimsum: Rp 30.000
  7. Nachos: Rp 30.000
  8. Roti Bakar: Rp 40.000
  9. Lumpia Curug Hordeng: Rp 40.000

Main Courses Rice & Noodle

  1. Nasi Liwet Komplit (empal): Rp 75.000
  2. Nasi Liwet Komplit (ayam): Rp 65.000
  3. Nasi Goreng Komplit: Rp 65.000
  4. Nasi Bakar Ayam: Rp 65.000
  5. Nasi Goreng Seafood: Rp 45.000
  6. Nasi Goreng Tom Yum: Rp 45.000
  7. Nasi Goreng Ayam: Rp 45.000
  8. Pecel Ayam: Rp 65.000
  9. Mie Godog: Rp 50.000
  10. Pad Thai: Rp 50.000

Main Courses Meat & Fish

  1. Sapi dalam Kelapa: Rp 85.000
  2. Ayam dalam Nanas: Rp 65.000
  3. Gurame Salad Mangga/Asam Manis/Saus Padang: Rp 85.000
  4. Sapi Lada Hitam: Rp 65.000
  5. Ayam Pandan: Rp 60.000

Seafood & Soup

  1. Baby Kailan: Rp 45.000
  2. Udang Mayonaise: Rp 60.000
  3. Cumi Mayonaise: Rp 50.000
  4. Brokoli Saus Tiram: Rp 45.000
  5. Seafood Thermidor: Rp 60.000
  6. Curry Green: Rp 50.000
  7. Tom Khai Gai: Rp 50.000
  8. Tom Yum Gung: Rp 50.000
  9. Dumpling Soup: Rp 50.000

Main Courses Aneka Soto

  1. Soto Ayam: Rp 23.000
  2. Soto Bening: Rp 37.000
  3. Soto Bogor: Rp 35.000
  4. Soto Betawi: Rp 35.000
  5. Soto Oseng Sapi: Rp 37.000
  6. Nasi Putih: Rp 5.000

Western Food

  1. Chicken Sandwich Carbonara: Rp 65.000
  2. Potato With Melted Cheese: Rp 35.000
  3. Crunchy Beef Burger Cikuluwung: Rp 50.000
  4. Tubing Sampler: Rp 45.000
  5. Spaghetti Carbonara: Rp 45.000
  6. Triple Decker: Rp 45.000
  7. Chicken Cordon Bleu: Rp 55.000
  8. Spaghetti Bolognaise: Rp 45.000
  9. Salad Tubing: Rp 45.000
  10. Double Beef Cheese Burger: Rp 65.000
  11. Grilled Chicken with Black Pepper Sauce/BBQ Sauce: Rp 55.000

Snack Tradisional Indonesia

  1. Mendoan: Rp 18.000
  2. Perkedel: Rp 5.000 (1 pcs)
  3. Lumpia: Rp 18.000
  4. Pisang Goreng: Rp 18.000
  5. Tahu Isi: Rp 18.000

Dessert

  1. Tropical Smoothies: Rp 65.000
  2. Chocolate Lava with Ice Cream: Rp 40.000
  3. Brownies with Vanilla Ice Cream: Rp 35.000
  4. Roti Korea (Garlic Bread): Rp 20.000
  5. Ice Cream Lovers (Vanilla/Chocolate/Strawberry): Rp 25.000
  6. Banana Split: Rp 35.000

Beverage

  1. Infused Water: Rp 32.000
  2. Leci Mojito: Rp 33.000
  3. Strawberry Mojito: Rp 33.000
  4. Mojito Mint: Rp 30.000
  5. Lemon Squash: Rp 30.000
  6. Leci Squash: Rp 30.000
  7. Strawberry Squash: Rp 30.000
  8. Peach Lemonade: Rp 30.000
  9. Strawberry Smoothies: Rp 35.000
  10. Banana Smoothies: Rp 35.000
  11. Milkshake (Chocolate/Vanilla/Oreo/Strawberry): Rp 32.000
  12. Juice (Orange/Avocado/Strawberry): Rp 27.000
  13. Mojito Mint Tea: Rp 30.000
  14. Lemon Grass Tea: Rp 25.000
  15. Lemon Tea: Rp 25.000
  16. Strawberry Tea: Rp 28.000
  17. Leci Tea: Rp 28.000
  18. Peach Tea: Rp 28.000
  19. Teh Manis: Rp 15.000
  20. Teh Tawar: Rp 12.000
  21. Citrus Mocktail: Rp 32.000
  22. Lychee Mocktail: Rp 32.000
  23. Coffee Latte/Hazelnut/Vanilla/Caramel: Rp 31.000
  24. Cappuccino: Rp 31.000
  25. Es Kopi Susu Tubing: Rp 32.000
  26. Kopi Tubing 500 ml: Rp 60.000
  27. Kopi Tubing 1l: Rp 105.000
  28. Americano: Rp 24.000
  29. Long Black: Rp 31.000
  30. Cube Coffee: Rp 33.000
  31. V60: Rp 30.000
  32. Vietnam Drip: Rp 28.000
  33. Cokelat: Rp 31.000
  34. Es Susu Green Tea: Rp 31.000
  35. Red Velvet: Rp 31.000

Jam Buka Kopi Tubing

Kopi Tubing buka mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB pada Senin-Jumat. Sedangkan saat weekend, tempat ini buka pukul 08.00 sampai 21.00 WIB.

Disarankan datang saat pagi hari agar travelers bisa menikmati suasana sejuk alam pegunungan. Jika sudah siang dan terutama saat weekend, pengunjung yang datang sudah ramai.

Kopi Tubing berlokasi di Jalan Gunung Menir, Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Karena lokasinya dekat dengan Gunung Salak, jaraknya cukup jauh dari pusat kota Bogor.

Dari pantauan Google Maps, jarak dari kota Bogor menuju Kopi Tubing sekitar 35 kilometer atau sekitar 1,5 jam perjalanan dengan mengendarai mobil. Jika berangkat dari Jakarta, waktu tempuhnya sekitar 2-3 jam perjalanan.

Demikian ulasan mengenai Kopi Tubing, salah satu destinasi wisata favorit di Bogor. Tertarik berkunjung ke sana?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Oleh-oleh Bali Utara: Arak dan Gula Lontar



Jakarta

Traveler pecinta minuman beralkohol, bisa nih merasakan arak lokal di Bali Utara, tepatnya di Desa Les. Desa yang masuk ke dalam nominasi ADWI 2024 ini punya rumah penyulingan arak yang bisa kita datangi.

Dapoer Bali Moela di Desa Les bisa jadi pilihan traveler bila berkeliling Bali Utara. Tak hanya menyajikan masakan khas Bali nan otentik, namun di sini juga ada penyulingan arak Bali lho.

Beberapa waktu lalu detikcom bersama Kemenparekraf datang ke Desa Les dan melihat langsung bagaimana proses pembuatan arak dari buah lontar.


“Selamat datang di Dapoer Moela. Kami adalah restoran tradisional Bali yang menyajikan masakan Bali, terutama khas Desa Les. Di sini konsepnya rumahan dan apa yang didapat nelayan, itulah yang kami masak,” Sri, salah satu staf di Dapoer Molea, menyapa rombongan kami.

Sri pun mengajak kami menuju dapur pembuatan arak Bali. Terlihat beberapa tungku menyala mendidihkan arak-arak yang berada di dalam kuali besar. Kami juga melihat panci-panci besar yang tertutup rapat tersambung dengan bambu.

Penyulingan arak di Desa LesAir nira yang sudah difermentasi dididihkan Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Sri menjelaskan bahwa mereka memproduksi arak dari lontar.

“Pohon lontar ada dua, jantan dan betinanya. Nah keduanya sama-sama boleh diproses menjadi tuak manis maupun tuak wayah. Namun yang membedakan adalah prosesnya. Yang lontar jantan itu sudah enak rasanya, namun yang lontar betina itu lebih enak lagi rasanya. Tapi kami di sini pakai lontar jantan,” kata Sri.

Setelah air nira didapatkan, dilanjutkan dengan fermentasi dengan kayu kesambi dan cuka. Setelah seharian, air nira pun diangkat lalu dimasak hingga menjadi kental. Nah, ini adalah proses pembuat gula lontar.

“Bila ingin membuat arak, air niranya difermentasi dengan sabuk kelapa, lalu diletakkan di dalam bambu. Air nira didiamkan selama 24 jam, setelah itu barulah dimasak hingga mendidih,” kata Sri.

“Setelah buih-buihnya hilang, air niranya ditutup rapat sekali. Nah, dalam proses ini, uap nya inilah yang menjadi tetesan arak yang kita tampung di dalam botol,” ujar Sri kemudian menunjukkan botol kaca yang menampung arak dari bambu yang terhubung dengan panci.

Penyulingan arak di Desa LesPenyulingan arak di Desa Les (Syanti Mustika/detikcom)

Untuk memenuhi arak sebotol, butuh waktu sekitar satu jam. Serta kadar alkohol dalam tiap botol ternyata bisa berbeda-beda lho.

“Dalam 30 liter air nira yang menjadi arak hanya 4 botol saja, atau sekitar 3 liter. Nah, dalam botol pertama (sulingan awal) kadar alkoholnya yang paling tinggi, yaitu 45%-55%. Di botol kedua kadarnya akan turun 40%-45%. Hingga nanti botol keempat kadar alkoholnya Rp 20%. Nah, setelah itu kita setop,” dia menambahkan.

Penyulingan arak di Desa LesPenyulingan arak di Desa Les (Syanti Mustika/detikcom)

Sri mengatakan api dari tungku juga harus dijaga demi menjaga rasa dari arak. Butuh kesabaran dalam membuat arak yang berkualitas.

“Untuk mengetahui kadar alkohol, kita menggunakan alkohol meter. Masih manual,” ujarnya.

Bisakah arak Bali ini dibawa pulang?

Sri memaparkan bahwa arak produksi mereka juga dijual kepada tamu-tamu yang datang. Setiap turis yang datang akan diajak ke tempat penyulingan sebagai kegiatan experience.

Sebotol arak Bali ini dijual mulai Rp 150 ribu per botolnya (750 ml). Semakin tinggi kadar alkoholnya, semakin mahal.

Sedangkan gula lontar atau juruh dijual Rp 70 ribu (600 ml).

“Untuk nikmatnya, arak semakin lama di simpan, semakin enak. Simpan saja disuhu ruang. Juga bisa tambahkan es batu bila ingin minum dingin. Bila kamu tambahkan garam, rasanya nanti mirip tequila. Coba juga dicampur gula lontar, makin enak lagi,” kata Sri.

Bagi traveler yang tak minum alkohol, gula lontar bisa juga nih jadi pilihan dibawa pulang. Gula lontar bisa digunakan untuk masak dan juga pengganti gula pasir.

“Gula lontar bisa digunakan banyak hal, salah satunya bisa pengganti gula pasir. Bisa dicampur teh, kopi dan lainnya. Juga, bisa digunakan untuk pengganti MSG. Kami di sini menggunakan garam dan gula lontar saja sebagai penyedap, tak pakai MSG,” ujar Sri.

“Gula lontar itu tak hanya manis saja, namun juga ada rasa asam dan pahitnya. Jadi cocok bila dijadikan penyedap masakan,” dia menegaskan.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kapitoo, Tempat Ngopi With a View di Toraja



Rantepao

Kopi Toraja sudah terkenal di seantero Indonesia. Kalau kamu mau menikmati kopi Toraja dengan pemandangan yang spektakuler, maka tempat ini wajib dikunjungi.

Kapitoo, begitu nama kafe ini. Lokasinya berada di kampung Kalimbuang, Kapala Pitu, Toraja Utara. Untuk menuju ke sini, traveler bisa naik mobil atau motor dari Rantepao, ibu kota Toraja Utara.

Namun sebelum ke sini, pastikan kondisi mesin dan rem mobil atau motor yang traveler gunakan dalam keadaan ‘sehat’. Itu karena jalan menuju ke kafe ini berkelak-kelok dan terdiri dari tanjakan dan turunan yang cukup ekstrem.


Wajar, karena Kapitoo berdiri di atas lahan perbukitan. Dari kafe ini, traveler bisa melihat pemandangan sawah dan pepohonan nan hijau sejauh mata memandang. Dijamin mata jadi segar!

detikTravel berkunjung ke Kapitoo pada Sabtu (10/8) akhir pekan lalu. Saat berkunjung di sore hari, suasana kafe terlihat cukup lengang. Namun justru itu waktu terbaik untuk berkunjung ke sini.

Kafe dan Glamping Kapitoo di TorajaKafe dan Glamping Kapitoo di Toraja Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel

Traveler bisa menghabiskan sore hari berteman angin sepoi-sepoi sambil menyesap kopi Toraja yang nikmat langsung di tanah tempat dia tumbuh.

Kapitoo Glamping & Cafe sendiri berdiri dari tahun 2017. Pendirinya adalah Disyon Toba, orang yang sama di balik Consina, brand perlengkapan outdoor.

Berawal dari kegemarannya naik gunung, Disyon akhirnya mendirikan brand perlengkapan outdoor Consina dan juga kedai kopi sekaligus glamping bernama Kapitoo.

“Foundernya pak Disyon Toba yang juga pendiri perlengkapan outdoor, Consina. Foundernya hobi naik gunung, kebetulan sesuai dengan hobi beliau. Kapitoo konsepnya ini Glamping. Coffee and glamping. Kebetulan pak Disyon sendiri orang Toraja,” ungkap Taufan, Manajer Operasional Kapitoo kepada detikTravel.

Kafe dan Glamping Kapitoo di TorajaPemandangan dari kafe dan glamping Kapitoo di Toraja Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel

Jadi tidak heran jika Kapitoo bisa berdiri di lokasi yang sangat strategis dengan pemandangan yang sangat ‘mewah’ berupa sawah dan perbukitan nan hijau yang sedap dipandang.

Untuk menu andalannya, traveler wajib coba es kopi Solata dan juga es kopi susu gula aren. Semua menu kopi di sini terbuat dari bahan-bahan lokal.

“Kebetulan Toraja adalah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Jadi kita pakai beberapa jenis kopi terbaik sesuai dengan daerahnya. Kopi Solata, kopi Awan sama Sesehan. Nah itu semua nama-nama daerah di Toraja. Daerah tersebut adalah produsen kopi terbaik di Toraja,” terang Tantan, sapaan akrabnya.

Kafe dan Glamping Kapitoo di TorajaEs kopi Solata di Kapitoo Toraja Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel

Masalah harga, segelas kopi di Kapitoo dibanderol mulai dari Rp 20 ribuan saja. Soal rasa, wah jangan ditanya, kopi Toraja sangat sedap. Kafeinnya cukup strong dan bisa bikin mata langsung ‘melek’.

“Kita pakai kopi Arabica. Kalau karakteristiknya, kalau dari segi tekstur agak kuat, dari kafeinnya. Terus sama dia ada sedikit rasa kacang-kacangan. Para penikmat kopi pasti tahu itu,” ujar Tantan.

Wisatawan Bisa Menginap di Glamping

Selain menjual kopi, Kapitoo juga punya glamping alias Glamour Camping yang bisa disewa oleh wisatawan untuk menginap. Harga sewanya berbeda antara weekend dan weekdays.

“Kalau glamping di weekday Rp 900 ribu, untuk weekend Rp 1.200.000. Untuk kapasitas dua orang, maksimal empat orang,” kata Tantan.

Kafe dan Glamping Kapitoo di TorajaGlamping Kapitoo di Toraja Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel

Sedangkan untuk fasilitas, Kapitoo Glamping ini cukup lengkap. Namanya saja ‘kemping mewah’, di setiap tenda glamping dilengkapi dengan jacuzzi alias bak mandi air panas.

“Ada jacuzzi atau bathtube air panasnya. Itu sudah include breakfast untuk dua orang,” tutup Tantan.

—-

Artikel ini mendapatkan dukungan dari Lion Group. Temukan penawaran menarik untuk paket penerbangan dan hotel dari BookCabin di link ini.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menyicipi Kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan Instagramable



Rantepao

Kopi Toraja paling nikmat jika dinikmati langsung di Toraja. Tempat menikmatinya ada di Cafe Aras 2 yang dijamin halal, tempatnya juga Instagramable.

Toraja selama ini dikenal sebagai daerah yang memproduksi biji kopi dengan kualitas terbaik di Indonesia. Liburan ke Toraja, sudah pasti wajib minum kopi lokal yang diproduksi di sini.

Salah satu tempat terbaik untuk menikmatinya adalah Cafe Aras 2. Sesuai namanya, kafe ini merupakan cabang kedua dari Cafe Aras. Yang membedakan keduanya adalah, di Cafe Aras 2 ini dijamin kehalalan makanannya.


Sedangkan di Cafe Aras pusat, ada hidangan-hidangan yang menggunakan bahan-bahan yang tidak halal alias mengandung babi.

Namun terlepas dari halal dan tidak halalnya, kedua kafe itu sama-sama menyajikan biji kopi lokal terbaik yang sudah diolah menjadi minuman kopi yang disajikan di gelas-gelas pengunjung.

Menikmati kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan InstagramableMenikmati kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan Instagramable Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel

Sesuai dengan rekomendasi dari barista yang bertugas sore itu, pilihan jatuh kepada kopi susu hangat dengan beans lokal Toraja yang diproses sendiri oleh Cafe Aras.

Untuk versi dinginnya, traveler juga bisa memesan Caramel Macchiato yang tak kalah sedap. Kebetulan dua menu kopi ini juga direkomendasikan oleh pramusaji di Cafe Aras 2.

Menikmati kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan InstagramableMenikmati kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan Instagramable Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel

Begitu pesanan kami datang, aroma kopi sedap yang menohok hidung sudah tercium dari radius 5 meter. Ini sudah jadi pertanda kalau kopi itu bakalan nikmat.

Benar saja, begitu menyeruput kopi susu hangat itu, rasa kopi dengan notes kacang-kacangan langsung mengalir dengan mulus ke dalam tenggorokan. Duh, nikmatnya bukan main.

Selain bisa menghabiskan senja sambil menyeruput kopi, traveler juga bisa berbelanja biji kopi dan alat-alat untuk menyeduh kopi.

Ada juga pojok di kafe ini yang menjual berbagai barang perintilan seni yang bisa dibawa pulang traveler sebagai cinderamata.

Lokasi Cafe Aras 2

Cafe Aras 2 berlokasi di Jalan Andi Mappanyuki Nomor 94. Lokasinya tak terlalu jauh dari Alun-alun Kota Rantepao. Tinggal berjalan kaki selama 5 menit, traveler sudah sampai ke kafe ini.

Lokasinya sangat strategis berada di pinggir jalan raya. Bangunannya didesain bergaya khas Toraja, seperti rumah Tongkonan dengan kepala Kerbau sebagai ikonnya.

Sedikit tips, pilihlah tempat duduk di lantai 2 bangunan kafe dan nikmatilah angin sepoi-sepoi sebagai teman menyeruput kopi Toraja yang nikmat. Amboi!

Artikel ini mendapatkan dukungan dari Lion Group. Temukan penawaran menarik untuk paket penerbangan dan hotel dari BookCabin di link ini.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tempat Ngopi Baru di Taman Budaya Sentul, Instagramable buat Weekend



Sentul

Taman Budaya Sentul jadi destinasi yang cocok dikunjungi di akhir pekan. Di sana ada tempat ngopi baru yang Instagramable.

Nama tempat ngopi itu adalah Raindear Coffee and Kitchen. Dari segi bangunan, tempat ngopi ini memang lebih menonjol dibandingkan dengan sekelilingnya.

Konsep bangunan kafe ini terinspirasi dari kubah Timur Tengah dengan lengkungan-lengkungannya yang khas, sehingga membuatnya tampak unik serta berbeda.


detikTravel berkunjung ke tempat ngopi ini beberapa waktu lalu. Melangkahkan kaki ke dalam, traveler akan disambut dengan desain interior yang elegan. Nuansa hijau dari tanaman-tanaman tampak menghiasi sebagai pemanis.

Temboknya didesain dengan perpaduan warna cat biru tua dan light grey yang estetik sehingga cocok untuk menjadi background foto menarik bagi para pengunjung. Ada juga lampu-lampu yang unik.

Raindear SentulRaindear Sentul Foto: (dok. Istimewa)

Manager Area Raindear Coffee and Kitchen, Eron mengatakan kafe tempatnya bekerja mampu menampung hingga 250 orang tamu. Tak hanya anak-anak muda, kafe ini juga banyak dikunjungi keluarga, terutama saat weekend.

“Kami juga menyasar pengunjung dari keluarga, remaja sampai komunitas,” kata Eron, beberapa waktu lalu.

Untuk menu makanan, mulai dari appetizer, ada olahan makanan ala Texas-Mexico seperti nachos, singkong goreng garlic hingga kentang goreng saus mentai dengan perpaduan rumput laut dan mentai.

Raindear SentulAyam bakar Taliwang Foto: (dok. Istimewa)

Untuk menu utamanya yang jadi unggulan ada nasi ayam bakar taliwang dengan cita rasa pedas tapi mantap dan nasi goreng hitam yang memakai tinta dari cumi-cumi, tapi tidak amis. Harganya mulai dari Rp 50 hingga 70 ribuan.

Ada juga makanan-makanan western seperti pasta, pizza, cheese burger hingga wagyu steak dengan truffle oil. Rasanya sudah pasti sedap dan nikmat.

Oh iya, untuk kopinya ada bermacam-macam jenis, dari es kopi susu original hingga es kopi pandan, oatmilk hingga salted caramel. Harganya standar kafe, mulai dari Rp 30 ribuan.

Ada beragam fasilitas di tempat ini, di antaranya lahan parkir yang luas hingga mushola untuk salat. Tempat ngopi ini juga menjual beragam merchandise seperti tumbler, tote bag, hingga payung.

Pemilihan lokasi kafe yang berada di Taman Budaya Sentul ini juga sengaja agar traveler bisa ngopi sambil berwisata.

“Selain itu, pemilihan lokasinya memang berdekatan dengan tempat rekreasi atau wisata sehingga memiliki pemandangan perbukitan yang membuat suasananya semakin seru,” pungkas Eron.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cuma di Bali, Bisa Ngopi di Kedai Jadul Sambil Lihat Sawah



Badung

Ngopi sambil menikmati pemandangan sawah nan hijau lagi ngetren. Di Bali, kamu bisa menyeruput kopi di Kedai Abian Carik yang jadul ini.

Tempat ngopi bernuansa pedesaan dan jadul pun banyak bermunculan di Bali. Salah satunya kedai kopi Abian Carik.

Baru sebulan lebih dibuka, tempat ini sudah ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat sore menjelang malam. Kedai kopi ini berlokasi di tengah sawah Subak Tegan, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali.


Traveler bisa menyeruput kopi sembari menikmati hamparan sawah nan asri. Di sekitar kedai kopi itu, ada pula kebun yang ditanami aneka sayur dan tanaman bunga.

Untuk menuju lokasi, pengunjung harus masuk ke jalan subak sepanjang 200 meter ke dalam area persawahan. Kedai dengan pondokan kayu yang dipagari bambu itu akan terlihat dari pinggir jalan. Selanjutnya, pengunjung tinggal menyusuri pematang sawah untuk sampai ke lokasi.

Pemilik kedai sengaja mengusung konsep jadul yang menyatu dengan alam. Bangunannya berupa pondokan kecil berbahan papan kayu yang dihias dengan beragam umbi-umbian dan pisang.

Pondok itu dipakai pengelola untuk menaruh bahan-bahan makanan beserta kopi. Penjaga kedai juga berpenampilan jadul dengan pakaian seadanya serta capil atau topi khas petani di desa-desa.

Meski begitu, pengunjung antusias duduk lesehan beralaskan tikar daun pandan sembari menunggu barista meracik kopi di atas Vespa. Selain kopi, kedai itu juga menjajakan aneka kudapan tradisional. Mulai dari ubi goreng pedas manis, pulung ubi, jagung rebus, hingga pisang goreng. Cocok untuk menemani kopi tubruk.

Orang-orang yang datang ke Abian Carik tak hanya anak muda dari kalangan menengah di Mengwi. Mereka juga datang dari kalangan atas yang rata-rata tinggal di Kota Denpasar.

“Di rumah nggak banyak ada kafe kopi yang benar-benar ada di alam begini,” kata Yanti, salah satu pengunjung asal Denpasar, Senin (16/9).

Pengunjung lainnya, Vani, mengungkapkan tidak sedikit pengelola kedai kopi yang mengusung konsep jualan di tengah sawah. Perempuan asal Yogyakarta itu menyebut banyak kedai kopi dengan konsep serupa di luar Bali.

“Tapi dagang kopi yang jualan di Bali lebih banyaknya tampilan ala resto, mewah. Konsep ini di Bali sebetulnya lebih cocok karena alamnya mendukung,” ujar Vani.

Pemilik kedai, Anak Agung Gde Agung Krisna Semara Putra mengungkapkan konsep kedainya dirancang bagi penikmat kopi yang suka ketenangan.

“Banyak yang tidak menangkap konsep ini sebelumnya. Kedai kopi di sawah memang banyak. Tapi ngopi di tengah kebun yang kebetulan lokasinya di tengah-tengah sawah itu belum banyak,” kata dia.

Agung mengakui kedai kopinya ramai karena pengunjung suka menikmati kopi sambil bersantai. Ia mengeklaim banyak pengunjung yang sengaja datang untuk dapat suasana pedesaan.

“Jadi dari menu makanan yang ada saja kami ingin orang-orang bisa nikmati jajanan jadul. Suasananya dapat, kesannya juga harus pas. Kann sudah nggak banyak yang jual camilan jadul,” sambung Agung.

Kedai kopi Abian Carik buka setiap hari mulai pukul 16.00 Wita. Pengunjung juga bisa ngopi-ngopi asyik di tengah sawah sampai larut malam tanpa perlu khawatir karena pengelola sudah menyediakan lampu penerangan.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jelajah Rempah, Ekoturisme Keren dari Desa Sumberurip di Blitar



Blitar

Rempah lebih dikenal sebagai komoditas yang dihasilkan wilayah Indonesia bagian timur. Namun di Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar ini, traveler bisa mengenal lebih dekat beragam tanaman rempah yang melimpah, sebagai pohon kopi sebagai budidaya utama.

Berbeda dengan destinasi wisata kopi di daerah lain, kekayaan rempah yang dihamparkan desa di lereng Gunung Kawi sisi barat ini cukup mengejutkan. Pasalnya, potensi unik ini belum pernah dimunculkan sebelumnya.

Apalagi semua jenis rempah tumbuh begitu subur di dataran dengan ketinggian sekitar 700 MDPL ini, seperti Kapulaga (Elettaria cardamomum), Merica (Pepper nigrum), Pala (Myristica fragrans) dan Vanili (Vanilia planifola).


Untuk menuju ke desa ini, traveler dari luar kota bisa turun di Stasiun Kota Blitar. Kemudian bisa menyewa kendaraan online menuju ke arah Wlingi yang berjarak sekitar 22 KM ke arah timur.

Perjalanan berlanjut ke arah Utara sekitar 15 KM dengan jalanan aspal yang meliuk dan melewati hutan jati. Lanskap Gunung Kelud dan Butak tampak jelas jika cuaca cerah. Hawa sejuk mulai terasa ketika memasuki Desa Sumberurip dengan hamparan hijau dedaunan dan suara burung yang nyaring bernyanyi.

Ekotourism Desa Sumberurip BlitarEkotourism Desa Sumberurip Blitar Foto: Erliana Riady/detikcom

Dengan mengusung konsep ekoturisme, warga lokal berkomitmen tidak akan menambah atau mengubah semua yang dibentangkan semesta, sesuai dengan keasliannya.

Lokasi ini juga masuk klasifikasi wisata dengan minat khusus, bukan mass tourism dengan banyak pengunjung. Cocok banget bagi traveler yang benar-benar ingin menikmati masa libur menyatu dengan alam yang tenang.

Traveler akan menemukan banyak pengalaman empirik, seperti menyentuh dan memetik langsung beragam rempah tersebut dari pohonnya. Sesuatu benda yang selama ini hanya tampak di meja dapur, bentuk tumbuhannya akan dihadapkan langsung di depan kita!

Bahkan, traveler bisa mengetahui bagaimana proses rempah itu diolah hingga siap menjadi bumbu dapur. Apalagi, jika waktu kunjungan bertepatan dengan masa panen rempah, suasana kesibukan warga lokal akan terekam dengan indah dalam balutan tradisi gotong royong yang masih melekat kuat disini.

“Saya gak nyangka, kalau pohon Kapulaga itu ternyata buahnya di bawah semacam umbi. Selama ini saya pikir menggelantung di dahan tumbuhan seperti merica. Panili juga, ternyata pohonnya merambat dan gak tinggi. Ini pengalaman baru yang sangat menarik,” aku Mart, owner Sabatokaliwuan provider adventure dari Yogyakarta, Jumat (4/10/2024).

Menurut Mart, destinasi wisata ekoturisme seperti yang disuguhkan Desa Sumberurip ini sedang menjadi tren baru dalam dunia pariwisata. Para traveler peminat khusus, terutama wisatawan mancanegara, kerapkali membidik tujuan wisata mereka ke lokasi seperti ini agar dapat berbaur dengan warga dengan semua kearifan lokal budayanya.

Beberapa kolega Mart di Eropa mengaku tertarik begitu diperkenalkan dengan destinasi wisata kebun kopi yang terintegrasi dengan tumbuhan rempah ini.

Jelajah rempah dimulai dari titik kumpul di rumah warga. Sebagai welcome drink, traveler disuguhi beragam minuman rempah hangat sesuai pilihan dan jajanan tradisional sebagai camilan.

Perjalanan dimulai dengan treking ringan (soft trekking) menyusuri perkampungan menuju lahan kopi yang ditanam berdampingan dengan tumbuhan rempah.

Karena topografi lahan berada di wilayah perbukitan, maka hawa sejuk dan lanskap sawah terasering akan menjadi bonus pemandangan menuju lokasi lahan. Jalan tanah setapak sangat cocok untuk traveler yang merindukan suasana tenang pedesaan.

Ekotourism Desa Sumberurip BlitarEkotourism Desa Sumberurip Blitar Foto: Erliana Riady/detikcom

Roni Yudiono, pemilik lahan seluas 50 are ini siap memberikan pengalaman baru. Mulai membedakan pohon dan biji kopi Robusta, Arabika dan Liberoid. Kemudian mengenalkan beragam tumbuhan rempah yang menjadi tanaman sela lahan kopi tersebut.

“Tanaman rempah ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tapi baru massif dibudidayakan sebagai tanaman sela kopi sejak COVID-19 melanda. Banyak orang mencari alternatif pengobatan herbal dan itu mengangkat harga jual rempah. Jadi kami disini juga mulai menanam bersama-sama, karena dulu rempah itu gak punya nilai jual,” tutur pria berusia 32 tahun ini.

Menurut Roni, aktifitas di lahan makin beragam ketika musim petik rempah dilakukan warga. Untuk Merica, musim panen akan tiba sekitar bulan September-Oktober. Kapulaga, musim panen biasanya dilakukan saat musim hujan.

Vanili, musim panennya jatuh di bulan Maret-April. Sedangkan jahe dan cengkeh, panen bisa dilakukan mulai September hingga akhir tahun. Untuk Pala, bisa dipetik setiap saat asalkan cuaca normal.

Durasi dua jam, dirasa cukup untuk traking pendek. Jalan pulang akan berbeda dengan jalur yang dilalui saat berangkat. Traveler akan menjumpai aktifitas warga desa dan berbaur bersama mereka dengan segala kesederhanaan dan keramah-tamahannya.

Sampai di titik kumpul, makan siang dengan menu khas tradisional Desa Sumberurip siap menambah energi yang tersisa. Dan pulangnya, free gift dan sourvernir rempah dengan kemasan yang manis, bisa dibawa pulang sebagai buah tangan yang penuh kenangan.

“Bagi traveler yang berminat menikmati jelajah rempah di sini, registrasi kami satu pintu melalui IG@javasumbercoffe.inc. Karena potensi wisata ini terintegrasi dengan semua potensi di desa kami. Trip kami buka setiap hari dengan minimal 4 orang, kecuali Jumat libur karena jam efektifnya pendek,” pungkasnya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sensasi Menikmati Kopi Luwak dan Teh Aneka Aroma di Kintamani



Jakarta

Anda pernah nonton ‘The Bucket List’? Film yang pertama kali tayang pada 2007 itu dibintangi dua aktor gaek Hollywood Jack Nicholson dan Morgan Freeman.

Isinya menceritakan kehidupan kedua pria beda kasta yang bertemu di rumah sakit karena penyakit mematikan. Dari situ mereka membuat sebuah catatan kecil untuk dilakukan sebelum kematian menjemput.

Saya menduga adegan yang paling menarik bagi penonton di tanah air adalah ketika keduanya membahas cita rasa Kopi Luwak. Jack dan Morgan terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata saat tahu bahwa kopi yang disebut memiliki aroma dan cita rasa terunik di dunia itu berasal dari kotoran kucing pohon liar alias luwak.


Saya pribadi baru mencobanya pada akhir pekan lalu saat melintasi Jalan Raya Kintamani – Gianyar, Bali. Di sepanjang jalan itu berjejer perkebunan kopi menawarkan sensasi minum kopi luwak orisinal.

Menjelang jam makan siang kami singgah di ‘Cantik Agriculture Luwak Coffee’ yang memiliki kebun kopi seluas dua hektare. Tempat ini tidak memungut biaya masuk alias gratis. Area parkirnya luas. Setiap rombongan akan didampingi oleh seorang pemandu.

Selain pohon kopi Robusta dan Arabica, di area seluas itu kita juga bisa mengenali pohon salak, vanilla, cokelat, dan lainnya. Hal menarik lainnya, di tengah kebun beberapa ekor luwak tengah meringkuk di atas dahan pohon kopi. Juga ada beberapa sapi terikat di dalam kandang.

“Itu sengaja untuk kami manfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik,” kata Ni Luh Putu Juni Fira Dewi yang menjadi pemandu. Alumnus SMKN 1 Tampak Siring itu telah dua tahun bekerja di ‘Cantik Agriculture Luwak Coffee’.

Sebelumnya dia pernah bekerja di villa Tegal Alang, Ubud.

Sejumlah turis asal Australia menikmati kopi luwak di Cantik Agriculture Luwak Coffee, KintamaniSejumlah turis asal Australia menikmati kopi luwak di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani (Sudrajat / detikcom)

Di ujung kebun kami mulai mencium aroma biji kopi terpanggang. Dua perempuan paruh baya terlihat khusuk menyangrai biji kopi di atas penggorengan baja. Suluh-suluh kayu di bawahnya merah menyala menyeburkan bara. Tak jauh dari dapur, Fira menunjukkan kepada kami gumpalan kotoran Luwak. Warnanya cokelat kehitaman.

“Kotoran ini biasanya kami bersihkan, dikupas kulitnya lalu dijemur selama beberapa hari. Setelah itu disangrai selama 45 menit baru ditumbuk hingga menjadi semacam tepung. Untuk satu kilogram kopi sangrai butuh sekitar dua jam untuk menghaluskannya,” kata Fira.

Tak sampai setengah jam di kebun, pengunjung tersu berdatangan secara berkelompok. Kebanyakan para turis dari Australia dan Eropa. Semua disambut ramah dan diberi penjelasan serupa.

Tak cuma tentang kopi dan kopi luwak, para pengunjung juga diperkenalkan kepada rempah-rempah berikut khasiatnya seperti kunyit, jahe, rosela, sereh, ginseng, dan lainnya.

Di tepi kebun yang berbatasan dengan bebukitan hijau berderet kursi kayu. Para pengunjung bebas memilih tempat duduk. Para pemandu lalu menghidangkan selusin cangkir gelas mungil berisi kopi dan teh beragam aroma. Kripik singkong dan pisang goreng menjadi pelengkapnya. Semua gratis!

“Ini sudah menjadi tradisi kami untuk menghormati tamu. Kalau mau mau kopi luwak baru kena charged Rp 50 ribi per cup,” kata Fira.

Sejumlah turis asing membeli aneka oleh-oleh di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani - BaliSejumlah turis asing membeli aneka oleh-oleh di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani – Bali (Sudrajat / detikcom)

Sejumlah turis riuh berdecak kagum dan memberi applause. Penasaran, kami pun coba memesan secangkir kopi luwak.

“Kalau biasanya kita menyeruput capucino, kali ini di Kintamani Bali kita lebih suka menikmati CatPooCino alias Kopi Luwak,” seloroh seorang turis asal Australia disambut tawa rekan-rekannya.

Kami sepakat, cita rasa kopi luwak memang beda dari kopi lainnya. “Lebih lembut, asemnya juga lebih rendah dari kopi biasa,” ujar Meliyanti Setyorini, teman seperjalanan penulis.

Untuk teh, dia suka yang aroma coconut. “Campurannya pas buat lidah gue,” dia menambahkan.

Wartawati detik.com Meliyanti Setyorini menikmati secangkir kopi luwak dan teh aneka aroma di Cantik Agriculture Luwak CoffeeWartawati detik.com Meliyanti Setyorini menikmati secangkir kopi luwak dan teh aneka aroma di Cantik Agriculture Luwak Coffee Foto: Sudrajat / detikcom

Cantik Agriculture Luwak Coffee’ juga menyediakan toko yang menjual berbagai produk hasil olahan kopi dan minuman yang telah dicicipi selama tur. Selain kopi aneka rasa, toko ini juga menawarkan berbagai produk lain seperti sabun buah, dupa, dan arak Bali.

(jat/wsw)



Sumber : travel.detik.com